Episode 26 - Masa Lalu Sony


Meskipun matahari sudah tergelincir, tapi cahaya dan hangatnya masih bisa dirasakan. Angin yang membawa aroma musim panas terbang dengan nyaman seiring berjalannya waktu. Air sungai yang bersih memantulkan kilauan indah dan jika diperhatikan lebih baik, kau bisa melihat ikan yang berenang dengan nyaman bersama aliran sungai.

Di tepi sungai pada sore hari ini, tidak seperti biasanya yang sepi dan damai. Ada sekelompok tujuh orang yang berhadapan dengan tiga orang pemuda. Sudah jelas, tiga orang pemuda itu adalah Danny, Raku, dan Rito, sedangkan tujuh orang lainnya adalah Sony dan yang lainnya.

Kelompok Sony dan yang lainnya menatap dengan benci pada Danny. Karena dia, teman baru mereka tertangkap polisi. Memang benar mereka kenal dengan Dani hanya sebentar, akan tetapi mereka bisa merasakan apa yang Dani rasakan. Karena mereka juga pernah dalam posisi yang menyedihkan. 

Sebelum Sony mengumpulkan mereka bersama, masing-masing dari meraka hanyalah pecundang dari desa yang telah kalah oleh kejamnya kota. Namun, meskipun keadaan mereka tidak banyak berubah, tetapi setidaknya mereka memiliki satu sama lain untuk mendukung kelangsungan hidup. 

Mereka semua telah memasuki jalan yang tak mungkin bisa untuk kembali. Sebuah jalan kotor dan kejam, di mana hal baik dan buruk tidak ada bedanya. Selama mereka hidup, itulah keadilan.

“Memangnya ada yang salah dari apa yang aku lakukan?” Danny berjalan maju sambil menatap mereka, “Saat ada orang yang melakukan hal yang salah, bukannya wajar jika aku mencoba mengoreksinya. Jika hal salah terus dibiarkan, itu akan membuat orang terbiasa melakukan kesalahan, jika aku tidak maju dan memperbaikinya, lalu siapa lagi?” 

Danny menatap tajam mereka dan melanjutkan, “Orang-orang yang melakukan kesalahan akan terbiasa membuat kesalahan dan akhirnya membuat dunia semakin busuk, dan kemudian itu akan menjadi masalah untuk semua orang!” 

Tatapan Sony sedalam danau tak berujung setelah mendengar itu. Semua hal yang terjadi berputar kembali dalam ingatannya. Lalu beberapa saat kemudian dia tersadar dan langsung tertawa terbahak-bahak.

“Salah? Benar? Siapa yang memberikanmu hak untuk menentukan itu?” tatapan tajam Sony terpaku pada wajah Danny yang tenang.

Sony mengingat lagi pada saat itu, ketika dia masih pemuda naif dari desa yang bermimpi untuk sukses di kota. Berbekal uang tabungan dan hasil penjualan tanah dari mendiang orang tuanya, dia berangkat dan membeli sebidang tanah lalu mendirikan sebuah restoran di atasnya. 

Sejak kecil Sony suka memasak dan dia sangat percaya diri dengan kemampuannya itu. Setelah restorannya selesai, dia mempekerjakan dua orang mahasiswa untuk membantunya sebagai pelayan. Sedangkan Sony sendiri yang menangani masalah di dapur.

Pada awal berdirinya restoran sederhana itu, Sony mendapat cukup banyak pelanggan. Dan banyak dari mereka yang memuji enaknya makanan buatan Sony. Setalah lama berlalu restoran Sony mendapat banyak pengunjung karena omongan dari mulut ke mulut pelanggan sebelumnya.

Di waktu yang sama, restoran besar di seberang jalan menjadi semakin sepi karena semua pelanggannya telah dicuri oleh restoran Sony. Pemilik restoran, Sam, merasa marah dan akhirnya memikirkan hal licik untuk mengahancurkan bisnis Sony.

Pada suatu siang yang cerah, Sam memasuki restoran Sony. Setelah mendapatkan pesanannya, dia memasukan seekor bangkai cicak ke dalam makanan. Tapi tanpa dia sadari ternyata Sony melihat hal tersebut dari jauh.

Ketika Sam ingin mengadukan hal tersebut, Sony sudah berjalan dengan wajah gelap untuk menghampirinya.

“Apa-apaan ini? Kenapa ada bangkai cicak di pesananku?” Sam berkata dengan keras agar dapat di dengar oleh pelanggan lainnya.

Pelanggan yang lainnya langsung tertarik ke arah suara itu, terutama seorang wanita di meja samping pemilik restoran. Yang tak lain adalah suruhan dari Sam. Wanita itu langsung mendekat dan melihat bangkai cicak, lalu dengan marah dia berkata, “Sialan! Restoran ini benar-benar menyajikan bangkai cicak di atas makanan, benar-benar tak tahu malu, aku ingin uangku di kembalikan!”

“Benar-benar ada bangkai cicak?” tanya pelanggan yang lain.

“Iya, jika kau tidak percaya maka silakan lihat sendiri.” Kata wanita itu dengan jijik.

“Sialan! Restoran ini begitu kotor, aku ingin uangku di kembalikan!”

“Aku juga!”

Para pelanggan dengan marah meminta pengambalian uang.

“Ini tidak cukup, kita juga harus minta kompensasi!” kata Sam. 

Sam tidak hanya ingin merusak nama baik restoran Sony, tapi juga untuk membuatnya bankrut, agar dia tidak akan menjadi masalah di masa depan.

“Benar, aku ingin kompensasi!”

“Setuju, aku juga!”

Banyak pelanggan lainnya menyatakan setuju untuk mendapatkan uang kompensasi.

Semuanya terjadi bergitu cepat, hingga Sony tidak bisa mengantisipasinya. Wajah Sony sangat gelap setelah melihat semua itu, dan tiba-tiba saja mereka juga ingin meminta uang kompensasi. Dia dengan marah berjalan dan menarik kerah sang pemilik restoran.

“Hei, apa maumu?” tanya Sam dengan takut.

Ledakan emosi Sony tidak lagi terbendung, dengan cepat dia mengangkat kepalan tangannya dan menghantamkannya ke wajah Sam. Sam terpental sejauh dua meter dan menghantam salah satu meja. Darah manis mengalir dari ujung bibir Sam, dia dengan cepat bangkit untuk membalas, tetapi dengan sangat cepat Sony menghantamkan kepalan tangannya ke perut Sam. 

Setelah menerima pukulan itu, Sam tergeletak di lantai seperti seekor udang sambil mengeram kesakitan. Tapi Sony masih tidak puas, dia dengan cepat maju dan duduk di atas tubuh Sam dan menghancurkan wajah Sam dengan tinjunya hingga tidak mungkin lagi orang lain dapat mengenalinya.

Para pelanggan lainnya tercengang dengan kejadian itu, mereka tidak mau terlibat dan akhirnya berlari keluar dari restoran.

“Karena kau ingin menghancurkan restoranku, maka biarkan aku menghancurkanmu terlebih dahulu!” teriak Sony. 

Pada saat ini, dia masih seorang pemuda naif dan impulsif. Setelah puas, Sony berdiri lalu memandang wanita yang pertama kali mendukung Sam tadi. 

“Bawa dia pergi dan jangan pernah menampakan diri di restoranku!”

Wanita itu dengan cepat membantu Sam berdiri dan berjalan pergi. 

“Hahaha ... ingat, ini belum berakhir, aku pasti akan menghancurkanmu!” teriak Sam dengan gila sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.

Setelah Sam pergi, Sony memerintahkan pegawainya untuk pulang, karena mungkin tidak akan ada pelanggan lain yang datang untuk hari ini. Sony sendiri di restorannya sambil membuat banyak makanan lalu dia bungkus dan dia taruh di dalam kantung plastik besar. Dia akan memberikan makanan itu ke panti asuhan. 

Sedangkan itu, pada waktu yang sama, Sam mengerang kesakitan sambil berbaring saat seorang wanita sedang mengobati luka-luka yang ia derita akibat Sony. Sam awalnya ingin melaporkan ke polisi atas apa yang Sony lakukan padanya, tapi dia berubah pikiran, dia merasa itu belum cukup untuk meredakan dendamnya, dia hanya akan merasa puas saat membuat Sony hancur, dengan kedua tangannya sendiri.

Setelah memberikan makanan ke panti asuhan, Sony pulang ke rumahnya. Meskipun tidak besar, tapi rumah itu sudah cukup untuk Sony. Letak rumah itu cukup terpencil dan jauh dari pemukiman, karena dia tidak mampu untuk membeli rumah di tengah kota karena harganya yang sangat mahal, jadi dia terpaksa membeli rumah ini.

Di malam hari, Sony kembali mempraktikan pencak silat yang kakeknya dulu ajarkan. Meskipun tidak sangat mahir, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Setelah berlatih setengah jam, dia segera mandi dan membuat hidangan untuk makan malam.

Tapi, ketika dia hendak pergi ke dapur, dia mendengar suara dering dari teleponnya. Jadi dia mengangkatnya.

“Kebakaran bos!”

Suara dari ujung telopon lainnya.

“Apa yang kebakaran?”

Sony merasa tiba-tiba saja mendapatkan firasat buruk.

“Restorannya kebakaran!”

Setelah mendengar itu, Sony dengan reflek menjatuhkan teleponnya dan berlari keluar menuju resorannya. Detak jantungnya tidak karuan, entah karena kehabisan napas akibat berlari sangat kencang, atau karena marah dan cemas yang berkecamuk dalam dirinya.

Setelah berlari cukup lama, akhirnya Sony sampai ke depan restorannya yang kini hanyalah abu dan serpihan saja. Sony terjatuh sambil melihat dengan tidak percaya apa yang dia lihat. Semua hasil kerja kerasnya selama ini, semua yang telah dititipkan orang tuanya yang telah meninggal, semuanya telah tiada.

Sony membuka mulutnya lebar sambil berteriak, tapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar. Meskipun dia menutup matanya rapat-rapat, tapi tetap tidak bisa menahan air mata yang keluar. Jalan terang dan penuh harapan yang pernah dia khayalkan, tiba-tiba saja menghilang dan berubah menjadi jalan yang gelap dan suram.

Sony membuka matanya, dan tiba-tiba saja seorang pria babak belur masuk dalam pandangannya. ‘Benar, pasti dia pelakunya.’, pikir Sony. Dengan cepat Sony berlari menuju Sam yang sedang tersenyum sambil melihat restoran yang kini hanya abu saja.

Tapi, dengan segera senyum Sam hilang, karena tiba-tiba saja Sony mendorongnya jatuh dan mulai memukulinya seperti siang tadi. 

Kejadian itu tidak berlangsung lama, karena polisi datang dan melerai mereka. Melihat kehadiran polisi, Sam langsung memikirkan sesuatu dan mengatakan dia tidak terima dengan apa yang telah Sony lakukan dan akan menuntutnya. Dan akhirnya Sony dijatuhi hukuman penjara karena penyerangan kepada warga sipil.

Sony tidak hanya berpangku tangan, dia juga menuntut Sam atas terbakarnya restoran miliknya, tapi, tanpa bukti, kebenaran tidak pernah menjadi kebenaran.

Setelah lama di penjara, akhirnya Sony bebas. Dia berjalan tanpa arah dan akhirnya bertemu dengan Rudi yang sedang duduk sendirian di sebuah gang sepi. Sony datang dan menghampirinya, lalu mengajaknya pergi ke rumahnya yang telah lama tanpa penghuni.

Dan begitulah, hingga akhirnya dia bertemu dengan orang-orang yang kalah oleh kejamnya kota. Dan mulai tinggal bersama, sambil melakukan kejahatan bersama. Karena mereka tidak bisa mengalahkan kejamnya kota, maka mereka memutuskan untuk menjadi kejam bersama kota.

Sony kembali sadar dari lamunannya dan ingin segera melupakan masa lalunya. Tapi, kau tidak bisa menolak masa lalu, karena itu adalah sebagaian alasan dirimu dimasa depan.

“Kebenaran dan kesalahan hanyalah apa yang manusia putuskan. Tidak semua kebenaran adalah kebenaran, dan tidak semua kesalahan adalah kesalahan. Apa yang terpenting bukan itu, tapi apa yang terjadi setelahnya. Tidak ada yang peduli jika seorang akan merasa bahagia meskipun yang dia lakukan adalah kesalahan, karena kebenaran kadang bisa mengkhianati dan menikammu dari belakang!” ucap Sony sambil mengepalkan tinjunya.

Kemudian, sorot mata Sony yang tajam segera tertuju pada Danny. Lalu dengan cepat dia berlari ke arah Danny, diikuti oleh teman-temannya di belakang.