Episode 218 - Pergesekan



Matahari bersinar cemerlang. Teriknya terasa sampai seolah membakar permukaan kulit, bahkan menusuk ke dalam tulang-belulang. Tak satu pun gumpalan awan yang berani bermain-main di hadapan sang mentari. Musim kemarau sudah tiba, dan dengan demikian membuat kegiatan berlatih murid-murid di dalam perguruan serasa sedikit lebih berat. 

Semakin ramai murid-murid Perguruan Svarnadwipa yang berkerumun di hadapan Tugu Ampera Barat. Mungkin karena wilayah di sekitar tugu tersebut rimbun adanya. Semilir angin terasa sejuk sekali. Atau, mungkin murid-murid tersebut hendak menyaksikan sejauh mana dua dari calon Putra Mahkota yang mewakili Kadatuan Ketujuh dan Kadatuan Kesembilan tampil di dalam ruang berlatih yang memiliki halang rintang dalam bentuk lapisan demi lapisan formasi segel.

Nama Balaputera Ardhana di permukaan Tugu Ampera Barat yang tadinya berada pada urutan ke-59 tetiba menghilang. Urutan nama-nama lalu bergeser ke atas secara teratur. Yang tadinya berada di urutan ke-60 mengisi urutan ke-59. Begitu pula seterusnya ke bawah, menyesuaikan posisi masing-masing. Di saat yang sama, nama Balaputera Ardhana muncul kembali di urutan paling bawah, yaitu urutan ke-100. Namun tiada lama, perlahan-lahan nama tersebut terus merangkak naik ke atas. Perubahan ini membuat urutan nama-nama kembali menyesuaikan diri. 

Balaputera Prameswara semakin terlihat gelisah. Ia menyadari bahwa saudara sepupunya hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9 dan baru kali ini masuk ke dalam halang rintang Tugu Ampera Barat. Meski digadang-gadang sebagai ahli yang memiliki kemampuan tempur setara ahli Kasta Perak, bagaimana mungkin Balaputera Gara dapat bersaing menghadapi Balaputera Ardhana? 

Balaputera Prameswara telah terbiasa dipermalukan oleh para bangsawan-bangsawan muda dari Kadatuan lain. Meskipun demikian, tak rela ia bila saudara sepupunya yang kali ini akan dipermalukan. 

Balaputera Ardhana kini sudah berada pada urutan ke-90, dan perlahan terus menggantikan posisi nama-nama di atasnya. Beberapa orang murid terdengar bertepuk, bersorak, sementara sebagian besar hanya menyaksikan dengan seksama. Tentu Balaputera Ardhana paling tidak akan kembali mencapai urutan ke-59.

Tetiba, kedua mata Balaputera Prameswara melotot, seolah hendak copot. Nama Balaputera Gara baru saja menggantikan nama yang tadinya berada pada urutan ke-100! 

Decak kekaguman serta bisik-bisik dari kawanan murid-murid yang berkerumun mulai terdengar. 

“Lihat… lihat!”

“Penilaian Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa tiada mungkin salah. Remaja itu memang sepantasnya memiliki kemampuan tempur setara Kasta Perak.” 

“Akan tetapi, sampai pada urutan ke berapakah ia akan mampu menembus…?”

“Kemungkinan besar tak akan terlalu jauh….”

Balaputera Prameswara hanya diam. Menanti dalam cemas. Ia mengetahui bahwa saudara sepupunya memang memiliki kelebihan dalam bertarung. Dari latih tarung yang mereka jalani, Balaputera Gara bahkan berperan sebagai semacam pelatih. Kemampuan setara Kasta Perak memanglah tiada diragukan, akan tetapi Kasta Perunggu tetaplah Kasta Perunggu. Kenyataan tersebut adalah mutlak. 

“Janganlah khawatir, wahai Balaputera Prameswara.” Lagi-lagi Balaputera Vikatama yang masih belum beranjak dari sampingnya, menenangkan 

Di dalam halang rintang Tugu Ampera Barat, Balaputera Vikatama mengetahui pasti bahwa jumlah ketersediaan tenaga dalam sangatlah penting. Dengan demikian, mustika penampungan tenaga dalam Kasta Perak pastilah akan mengungguli Kasta Perunggu. Akan tetapi, ia juga mengetahui bahwa yang lebih penting lagi adalah kemampuan memanfaatkan tenaga dalam tersebut. Semakin banyak menghemat maka akan semakin jauh pula pencapaian yang dapat diraih. Ia tadi mengalahkan Balaputera Ardhana pun dengan taktik penghematan tenaga dalam.

Terlepas dari itu, Balaputera Vikatama juga penasarasan akan sosok Balaputera Gara. Rasa penasaran itu pula yang membuatnya menganjurkan agar pertikaian diselesaikan di dalam Tugu Ampera Barat. Sebagai anggota Kadatuan Kesatu, ada daya tarik khas yang selalu ditampilkan oleh para anggota keluarga Kadatuan Kesembilan. Sesuatu yang bahkan sulit bagi dirinya ungkapkan.  

“Apakah gerangan yang sedang berlangsung…?” 

Seorang remaja bertubuh tinggi, yang diikuti oleh sekelompok murid-murid pengikutnya mendatangi kerumunan di depan Tugu Ampera Barat. Spontan, kerumunan membelah diri demi membuka jalan. 

“Ardhana dan Gara bersaing di dalam halang rintang…?” simpul remaja yang baru muncul tersebut setelah sepintas menyaksikan pergerakan urutan nama pada permukaan Tugu Ampera Barat. 

“Oh…? Ugraha…,” sapa Balaputera Vikatama ringan.

Balaputera Prameswara segera beringkut ke balik tubuh Balaputera Vikatama. Diketahui, bahwasanya Balaputera Ugraha merupakan salah satu dari enam bangsawan muda yang akan mewakili Kadatuan Kedua dalam Hajatan Akbar. Kadatuan Kedua, adalah salah satu Kadatuan yang sempat menolak keras keikutsertaan Balaputera Gara sebagai perwakilan dari Kadatuan Kesembilan. 

“Biar kutebak,” tanggap Balaputera Ugraha. “Terjadi sesuatu antara Ardhana dan Gara, lalu kau datang menengahi dan menyarankan penyelesaian melalui Tugu Ampera Barat.” 

“Haha… seperti biasa, analisamu selalu tepat, wahai Ugraha.” 

“Dan kau…,” Balaputera Ugraha mengacungkan jari telunjuk ke arah Balaputera Prameswara, “kemungkinan besar adalah penyebab perselisihan.” 

“Hahaha…,” Balaputera Vikatama tergelak lepas. Ia lalu merangkul dan menarik tubuh yang semakin rendah beringsut. “Prameswara, tiada yang perlu ditakuti dan disegani di dalam Perguruan Svarnadwipa. Kita semua adalah setara. Apalagi, dikau adalah keturunan bangsawan sebagaimana layaknya diriku dan Ugraha.” 

Perhatian Balaputera Ugraha sudah teralihkan. “Bagaimana mungkin…?” Ia berbisik pada diri sendiri di kala menyaksikan bahwa nama Balaputera Gara berpindah urutan dan naik ke posisi 90. “Tiada dapat dicerna….”

Balaputera Ugraha dari Kadatuan Kedua ini jelas terlihat sebagai jenis ahli pemikir. Ia mencoba mencermati setiap kemungkinan yang ada bagi ahli Kasta Perunggu untuk bisa bergerak leluasa di dalam halang rintang dimensi ruang Tugu Ampera Barat. Pada akhirnya, ia sampai pada kesimpulan yang hampir senada dengan Balaputera Ardhana di dalam sana. Bahwa, tokoh Balaputera Gara kemungkinan besar memiliki kemampuan raga di atas rata-rata. Hanya ini alasan yang dapat dicerna nalar.

Bisik-bisik dan ungkapan ketidakpercayaan mulai menjalar hampir ke seluruh murid yang menanti di depan Tugu Ampera Barat. Jumlah mereka sudah membengkak. Tak kurang dari 100 murid-murid yang berkerumun. Matahari berada tepat di atas ubun-ubun kepala, namun terhalang rindang pepohonan

Ketakjuban bahkan mulai menjangkiti Balaputera Vikatama yang menyarankan agar kedua Balaputera muda untuk menyelesaikan perselisihan di dalam Tugu Ampera Barat. Sejak awal, ia percaya bahwa Balaputera Gara pasti akan kalah jauh di dalam pertarungan ini. Akan tetapi, kekalahan di dalam ruang berlatih bukanlah sesuatu yang hina lagi dina. Kekalahan dapat ditebus kapan saja tanpa harus melibatkan lawan secara langsung. Dengan melangkah masuk seorang diri, seorang murid tetap dapat mengalahkan urutan siapa saja asal memiliki kemampuan yang memadai. 

“80!” Spontan seorang murid perempuan di deretan tengah memekik nyaring ke arah belakang. 

Balaputera Ugraha, Balaputera Vikatama dan Balaputera Prameswara yang berdiri berjajar spontan menoleh ke arah sumber teriakan, kemudian ketiganya mengikuti arah teriakan ditujukan. Mereka melontar pandang jauh ke arah belakang. Kepada siapakah murid perempuan itu memberi laporan?

Di depan Tugu Ampera Barat adalah sepetak lapangan berukuran sedang, dimana segerombolan murid-murid berdiri mengamati karena sejuk dinaungi pepohonan rindang. Di seberang lapangan berukuran sedang tersebut, terdapat jalan setapak yang menuju ke semacam pendopo yang berjarak sekira 100m dari posisi ketiga remaja. Di sana, sejumlah murid-murid perempuan, gadis-gadis belia, berdiri mengelilingi pendopo. Nah, di dalam pendopo tersebutlah seorang gadis belia berparas cerah berdiri mengamati. 

“Itu…” Balaputera Prameswara terbata. 

“…” Balaputera Ugraha tiada peduli. 

“Hei! Vita! Kemarilah… Apa serunya menonton dari kejauhan!?” Balaputera Vikatama memanggil.

Raut wajah gadis belia nan cantik tersebut tiada berubah, bahkan tak mencerminkan ketertarikan sama sekali. Meskipun demikian, ia melompat turun dari pendopo dan melangkah mendekat. Tak lama kemudian, dan tanpa basa-basi, ia lalu berdiri tepat di sisi Balaputera Prameswara. 

Balaputera Prameswara terlihat sedikit kikuk. Ia mengenal gadis tersebut bernama Balaputera Sevita, salah satu dari enam gadis belia perwakilan dari Kadatuan Keenam. Karena ramainya murid-murid lain yang berdiri di sekitar mereka, bahu Balaputera Sevita menempel ke bahunya. Wajah tirus Balaputera Prameswara sekarang salah tingkah. Sungguh pergesekan bahu ini menimbulkan sensasi yang tiada biasa. Tubuhnya pun sontak beringsut bergeser demi menghindar ke samping kiri , sehingga berdempetan dengan bahu Balaputera Vikatama. Balaputera Vikatama terpaksa ikut bergeser dan kini bahunya mendorong bahu Balaputera Ugraha. 

“Apa-apaan kalian ini!?” hardik Balaputera Ugraha sebal. Ia melototot ke arah tiga remaja lain. “Kau lagi ‘kan penyebabnya!?” Ia kembali mengacungkan jari telunjuk ke arah Balaputera Prameswara. 

“Bu… bukan diriku…” Terjepit, Balaputera Prameswara kehabisan kata-kata. 

“70!” sergah seorang murid yang hampir melompat terkejut.

Perhatian atas urutan nama sudah sejak beberapa waktu ini tiada terpusat pada nama Balaputera Ardhana. Khalayak lebih penasaran terhadap Balaputera Gara. Sesuatu yang wajar dan beralasan. Balaputera Gara adalah sosok yang misterius. Ia diakui oleh Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera, merupakan cucu dari Balaputera Dharanindra sang pahlawan negeri, serta putra dari Balaputera Ragrawira si jenius yang menghilang. Salah satu dari kenyataan itu saja sudah cukup untuk menarik rasa ingin tahu penghuni di seantero Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Balaputera Ugraha serius mengamati perubahan pada urutan nama di permukaan Tugu Ampera Barat. Balaputera Prameswara terjepit tak nyaman. Balaputera Sevita hanya berdiri mengamati dalam diam, tak sepatah kata pun terlontar dari mulutnya. 

Balaputera Vikatama mulai mempertanyakan rencananya sendiri. Tugu Ampera Barat adalah jalan tengah yang dapat ia pikirkan untuk menyelamatkan Balaputera Gara dari hukuman berat perguruan karena memukul sesama murid. Dan di saat yang sama, tidaklah akan telalu memalukan bila Balaputera Gara kalah. Di sisi lain, meskipun menang, Balaputera Ardhana pun pastilah tak akan sembarang merisak seseorang yang tiada ragu menyarangkan pukulan bahkan di dalam perguruan. Sebuah jalan tengah yang akan berujung baik bagi semua pihak. Akan tetapi, kini, bagaimana bila Balaputera Ardhana dikalahkan!?

“Wara!” Tetiba terdengar suara nyaring menyergah dari arah belakang. 

Balaputera Prameswara segera mengenal suara ini. Sangat tak asing. Jantungnya berdebar keras, dan dahinya berkeringat jagung. Sakit takutnya, ia bahkan tiada hendak menoleh. Jangan menoleh!

Tetiba sebelah tangan menyentuh bahu kanan Balaputera Prameswara dan sebelah tangan lagi menyentuh bahu kiri Balaputera Sevita yang berdempetan. Tangan tersebut lalu memisahkan keduanya, lalu menyeruaklah seorang gadis lain di antara mereka. Ia memaksakan diri memasuki ruang yang semakin sempit. Tindakan ini mendorong Balaputera Prameswara, yang tentunya juga berimbas kepada Balaputera Vikatama dan Balaputera Ugraha. 

Empat orang remaja, dua lelaki dan dua perempuan berdempet-dempetan. Mereka mulai saling dorong. 

“Hei! Balaputera Sevita! Apa yang engkau lakukan!? Mengapa engkau berdiri berdempetan dengan Wara!?”

“Heh! Balaputera Citaseraya, diriku yang harusnya mempertanyakan tindakanmu menyerobot tempat!”

Kedua gadis terlihat melakukan pemanasan dengan kata-kata. Mereka bersiap menghunuskan cakar-cakar maut. 

“Hei! Lagi-lagi kau berbuat ulah!” Balaputera Ugraha terlihat kesal. Untuk ketiga kalinya, ia menudingkan jemari ke arah Balaputera Prameswara.