Episode 76 - Jangan Berbohong



Dia tak mengatakan yang sebenarnya. Tetapi wajahnya telah memberitahu kalau apa yang dikatakannya adalah benar.

“Terus, apa yang terjadi?”

“Ya, ini dan itu...”

“Ayolah kak, tidak perlu segan bilangnya. Kami adalah sahabat Bagas, yang artinya kami bakal mendukung apapun yang terjadi antara kalian berdua. Ya kan, Euis?”

“E-eh, i-iya...!”

Mereka lupa kalau hari itu sedang siang dan seharusnya mereka mengisi perut. Tetapi karena perbincangan semakin menarik, otak mereka mengatakan ‘nanti dulu’ kepada perut.

***

“Ya, pokoknya gitu lah1”

“Kau enggak ada bilang apa-apa tapi ngotot gak mau kasih tahu. Maumu apa sih?!”

“Harusnya aku yang bilang begitu! Kalian mau apa coba ngebongkar masa lalu orang lain. Memangnya kau siapa, Rian Kiyoshi!”

“Pftt.”

Bagas ngotot, Rian ngotot, dan Beni menahan tawa di antara mereka.

***

“Kalian menikah!”

Erina mengatakannya dengan perasaan yang sangat malu. Rini mengatakannya dengan perasaan yang menggebu-gebu. Di sisi lain Euis entah kenapa mematung.

***

“Ngg, udah puas!?”

“Itu seriusan?”

“Enggak! Seribuan!”

***

“Apa itu memang mau kalian?”

“Sebenarnya enggak sih. Tapi, kedua orang tua kami yang memaksa karena kecocokan, dan ngebet akan sesuatu.”

“Ngebet?!”

*** 

“Ngebet apaan?! Cucu?!”

“Kau!”

“E-eehh, iya-iya, ampun ! Ampun bos!”

***

“Eh, eeeehh! Tapi-tapi kan kalian...!”

Erina tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Wajahnya benar-benar merah.

“Eeeehhh!”

***

“Aduh, mak, kepalaku, pedes...”

Bagas yang tak tahan dengan perkataan Beni yang asal ceplos, langsung menghajarnya.

“Itu beneran?”

“Kau mau dihajar juga...?”

***

“Itu bagus sih...”

“Bagus!?”

“Enggak, maksudku, ya, soalnya kan kalian udah menikah. Jadi sah-sah aja kalau mau... melakukan.”

Mereka memang membicarakan itu, tetapi tetap saja perasaan malu tak bisa ditahan karena saking memalukannya untuk membicarakannya.

“Ha’ itu!”

“K-kak!? Kak Erina?!”

***

“Tapi aku bener kan!”

“Tapi enggak kau bilang begitu entengnya juga kan!”

“Adah, adadadah! Give-give up!”

“Jadi, apa kalian udah ngelakuin itu?”

“Sini kau..!”

***

Perbincangan terhenti karena seseorang membuat mereka terdiam. Itu adalah pemilik rumah yang datang menyusul untuk menemui kedua anaknya.

“Alhamdulillah. Kayanya besok kamu harus belanja lagi Mas Bagas.”

“Kalau soal belanja atau bahan makanan gak perlu dikhawatirin sih. Tapi repot juga kalau tiap hari atau tiap minggu begini.”

“Halah, kamu ini. Gak ada salahnya kan. Lagipula mereka semua udah bunda anggap seperti anak sendiri.”

Ya, mereka semua. Mereka yang duduk atau berdiri mencuci alat makan.

“Bu Risak kok gak bareng sama Bagas dan Kak Erina?”

Beni yang penasaran bertanya.

“Hm, ibu punya beberapa urusan dengan Pak Huntara. Jadi datang agak terlambat. Kalian sendiri, kenapa semua berakhir di sini. Apa kalian bertemu Bagas di jalan pulang?”

“Iya.”

“Hm, seperti yang ibu duga.”

Wajah Sang Ibu tak benar-benar terlihat menduga. Wajahnya terlihat kalau dia telah merencanakan atau mengetahui akan jadi seperti ini jadinya. Tetapi yang mengetahui hal itu hanyalah anak kandungnya seorang – yang sedang menyesal saat melihat jam tangan digitalnya.

“Hmmm...”

“Ada apa, Bun?”

Rini yang telah selesai dengan bagiannya mencuci piring bertanya.

“Melihat keadaan seperti ini, membuat Bunda merasa kalau kita sedang berada di rumah kontrakan.”

“Kenapa rumah kontrakan?”

Rian sempat berpikir kenapa tidak rumah kos, dan malah memilih kontrakan. Jawaban Sang Ibu membuat semua orang di dapur tercengang.

“Ya, soalnya kondisinya benar-benar pas. Dan ada cukup kamar untuk setiap pasangan.”

“Prrooott! Uhuk-uhuk!”

Bahkan untuk Beni yang sedang minum sambil mendengar perkataan Sang Ibu, hampir membuat nyawanya melayang.

“P-p-pasa-pasang-psanngan!”

“Iya, pasangan. Loh, apa kalian berempat tak menyadari perasaan dari masing-masing teman masa kecil kalian.”

Beni, Rini, Euis, dan bahkan Rian, memelotot di saat yang bersamaan. Kecuali Beni dan Rini, sisanya seperti sangat meminta penjelasan lebih lanjut mengenai apa yang dikatakan Sang Ibu.

“Seperti Rini dan Beni. Kalian sudah mengetahui perasaan masing-masing. Tapi kenapa kalian masih menahan untuk memulai hubungan?”

Erina yang berdiri sendiri membelakangi tempat cucian piring, kembali berbalik karena tak tega melihat wajah tak berdaya Rini dan Beni.

Bagas sendiri, merasa sangat menyesal karena ibunya tak bisa menahan diri.

“Dan untuk Euis dan Rian. Kalian tahu kalian berdua cocok. Tapi kenapa tak ada perasaan istimewa yang muncul antara kalian berdua?”

“Bun, kemari sebentar.”

“Eh, Mas Bagas?”

Bagas tak tahan dengan kengerian ibunya, menariknya masuk ke ruang tamu untuk mencegah kalau saja kondisinya makin parah.

“Tapi kondisinya malah akan lebih parah kalau tak Bunda lanjutkan.”

“Ya, itu aku gak tau juga sih, tapi Bunda gak perlu sebegitnya. Kami udah dewasa, kami semua, mereka pasti bisa nyelesain masalah ... percintaan itu sendiri.”

“Tapi Bunda gak tahan lihatnya. Bunda juga tahu kalian bisa, tapi kalian terlalu lama dan masih terlalu naif.”

Sang Ibu ada benarnya. Bagas tak menyangkal hal itu, tetapi tetap saja...

“Gak semua orang bisa kaya Bunda, atau ... aku.”

Sulit untuknya mengakui. Bahkan dalam pikirannya, dia menjadi terlalu liar kalau sudah berhadapan dengan persoalan mengenai Erina.

“Jadi, mereka pasti bisa menyelesaikannya sendiri.”

“Hm, kalau begitu, tugas bunda sekarang sudah selesai dong?”

“Tugas?”

“Iya, tugas untuk membuat kalian sadar.”

Kalian. Kata itu sempat terhenti dan terbenak di pikiran Bagas. Kalian. Itu berarti tak hanya mereka, tetapi kalian – mereka semua.

Itu adalah poin terpenting yang diincar oleh Sang Ibu. Dan Si Anak baru tersadar setelah Sang Ibu mengatakannya.

“Bunda...”

“Neng opo, Anakku?” (Ada apa, anakku?)

Bagas tak bisa mengatakan, kalau dia tak bisa menjadi atau belum bisa menjadi sehebat Sang Ibu. 

“Mas.”

“Hm... !”

Saat dia memikirkan itu dalam kepala, Sang Ibu menarik wajahnya sedikit ke bawah dan memberikan kecupan di kening.

“Kamu bukanlah Bunda, atau mendiang Ayah. Kamu adalah kamu. Kamu yang menentukan siapa kamu sebenarnya. Mengerti?”

Rasa tak berdaya yang sebelumnya muncul, dalam sekejap hilang entah ke mana. Digantikan dengan rasa girang dalam hati dan senyum manis yang tak bisa disembunyikan.

“Makasih, Bunda.”

Sebagai ganti kecupan kening, Bagas memeluk Sang Ibu dengan perasaan yang sangat merindu. Karena sudah cukup lama semenjak dia memeluk – dekat dengan sosok ibunya sebelum saat itu – saat setelah peristiwa yang memisahkan mereka terjadi.

“~Timang-Timang Anakku Sayang~”

“Bunda.”

“Hm...”

“Malu diliatin orang.”

“Uhuhu, biarin.”

Sempat beberapa saat Sang Ibu mengelus-elus kepala anaknya yang tersayang. Satu kebahagiaannya yang dulu masih tersisa.

“Ya udah, pokoknya bunda jangan dekat-dekat dulu sama mereka... tolong jangan buat wajah merengut kaya gitu.”

Bagas melepas pelukannya dan melarang Sang Ibu untuk pergi ke belakang. Tetapi tampak ekspresi masam di wajah ibunya yang menyayangkan hal itu.

“Aku balik ke belakang dulu, mau liat keadaan...”

Bagas hendak kembali ke dapur, tetapi perasaan tak enak membuatnya menoleh ke belakang.

“Iya-iya, bunda gak bakal kembali ke belakang.”

Itu cukup untuk meyakinkannya. Jadi dia kembali lagi. Di dapur, hanya tersisa para gadis, termasuk Erina.

“Beni sama Rian mana?”

“Mereka pergi ke belakang.”

“Ke halaman belakang?”

“Ya, katanya mau menghirup udara segar.”

Di situ, hanya Erina yang berada dalam kendali dirinya sendiri. Sisanya, tak tahu apa yang mereka pikirkan. Mereka menaruh wajah mereka di atas meja, dan menutupinya dengan kedua tangan.

Erina tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali tetap menemani mereka, dan menunjukkan wajah meminta tolong pada Bagas.

“Ya udah, aku sama mereka.”

Bagas tak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi yang pasti, dia harus memastikan keadaan kedua sahabat laki-lakinya.

Dia pergi ke halaman belakang. Halaman yang menunjukkan pemandangan luasnya sawah padi yang mulai membesar. Di sekitar halaman tumbuh rumput hijau yang menutupi tanah.

Lalu di sana, perbatasan antara persawahan dan tanah tinggi pedesaan, duduk di bawah pohon yang tumbuh di antara perbatasan, sahabat gorilanya.

“Beni man...”

Dia sampai di sebelah Rian, menanyai Beni, Beni ada di bawah. Di turunan bukit tergeletak. Wajahnya menghadap ke tanah, jadi Bagas tak tahu apa yang sedang dirasakan.

Di sisi lain, Rian sama sekali tak menyembunyikan wajah bodohnya. Tatapannya lurus ke depan, tetapi entah bagaimana, kedua matanya malah menyatu di tengah.

“Kau kesurupan setan apa?”

“Aing...”

“Maung? Macan? Orang utan?”

“Bukannya maung sama macan itu sama. Cuma beda bahasa aja.”

“Kalau gak salah ‘maung’ itu harimau deh.”

“Oh.”

Rian duduk. Beni tergeletak. Bagas naik di atas ayunan yang terbuat dari goni.

“Gak nyangka, masih kuat aja nih ayunan.”

“Hm.”

“Oh iya, musim panen sebentar lagi datang.”

“Hm.”

“Festivalnya pasti bakal lebih rame tahun ini ya.”

“Hm.”

Rian tak melakukan apapun yang bisa membuatnya terkena pukulan. Tetapi Bagas benar-benar ingin memukulnya saat itu juga.

Jawaban singkatnya benar-benar membuat orang lain – Bagas sangat kesal. 

“Apa kau kaget, dengan fakta yang dibilang bunda?”

Rian tak menjawab, itu artinya ya.

“Itu berarti kau gak menolak kalau kalian itu cocok.”

Rian tak menjawab, itu artinya entahlah.

“Tapi, aku ngedukung apa kata bunda loh. Soalnya, ya, kalian itu memang cocok. Apalagi aku gak yakin bakal ada yang mau sama kau selain Euis.”

“Kalau soal itu, selama masuk SMK Rian dapetin 5 surat cinta kalau gak salah.”

Bagas terjatuh dari ayunan ke bawah. Hampir tercebur ke parit.

“Buset dah. Aku enggak nyangka soal yang satu itu. Tapi ya, kenapa enggak sih...”

“Tapi...”

Rian merespon, Bagas kembali duduk dan memperhatikan. Bahkan Beni memiringkan kepalanya untuk mendengar lebih baik.

“Dia bilang kalau udah punya cowok yang dia taksir.”

“Hmm...”

“Hmmm...”

Itu juga tak disangka. 

“Apa dia udah kasih tahu siapa orangnya?”

Rian menggeleng, hal itu membuat kondisinya agak lebih rumit.

“Walaupun gitu, aku gak yakin Euis bisa sebahagia sewaktu bersamamu.”

“Aku juga ... setuju sama kata Bagas. Soalnya, udah 13 tahun berlalu semenjak persahabatan kita. Atau lebih karena kalian tetanggaan. Sama kaya aku dan Rini.”

Tak disangka, Beni bangkit dari posisi bodohnya dan posisinya berbalik, di mana dia bisa melihat langit dengan jelas.

“Kalau gitu, kau gak menyangkal kalau kalian punya perasaan cinta gitu.”

“Yah, hahaha, aku gak bisa bilang iya sih. Tapi aku gak ada rencana buat hidup sama orang lain selain sama dia.”

Beni tak menyangkal, dan malahan dia merasa bangga – sedikit malu – dengan kenyataan kalau mereka berdua itu cocok.

“Iya juga sih, soalnya, kau tinggi, dan dia pendek. Bukannya itu ciri-ciri pasangan yang cocok..”

“Wah, lek, dari mana kau belajar gitu..?”

“Hah hah hah, pasti dari satu blog kan. Soalnya dari mana lagi dia tahu begituan.”

Topik sebelumnya berganti menjadi Beni dan Rini. Beni memang tak merasa keberatan atau merasa harus menghentikan arah pembicaraan itu, hanya saja ketika dia mengingat kembali masalah dengan satu perempuan sewaktu festival sekolah kemarin, semangatnya menjadi turun drastis.

“Lah, kenapa kuwe(kau) cuk?”

“Ha, eh, enggak...!”

Beni sama sekali tak bisa menyembunyikan wajah kesusahannya.

“Enggak tahu mau gimana maksudnya. Hahaha!”

“Apaan dah, gak jelas.”

“Muahaha, ya udah gak usah dibahas kalau gitu.”

“Meh.”

Pembicaraan mereka habis. Seperti tak ada lagi yang mau atau bisa dibicarakan. Hati mereka masih merasa tertekan dengan tekanan yang sebelumnya diberikan oleh Ibunda Bagas.

Namun tak ada yang bisa dilakukan dengan hal itu, selain menerima dan menerimanya.