Episode 19 - Bisikan Iblis (2)


Semua orang seakan terkesima dengan kehebatan pemuda tersebut yang telah berhasil membunuh Gajah sakti tumpangan Prabu Kertapati ,yang tiba-tiba menjadi gila tersebut. Mega Sari pun menundukan wajahnya berusaha menyembunyikan senyum kemenangannya setelah melihat Dharmadipa berhasil membunuh gajah tersebut. Lain halnya dengan Prabu Kertapati yang awas mata bathinnya dan memiliki ilmu hitam yang sangat tinggi itu, dia tahu kalau memang ada yang sengaja membuat kekacauan ini setelah melihat ada sesosok mahluk ghaib yang menunggangi gajah tersebut.

Setelah berhasil membunuh Liman Wadag, Dharmadipa langsung menghadap dan menghaturkan sembahnya Prabu Kertapati. “Wahai pemuda, kau telah berjasa meredakan kekacauan yang telah meminta korban nyawa ini, katakanlah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas jasamu tersebut!” ucap Prabu Kertapati.

“Ampun Gusti Prabu, sebenarnya tujuan hamba kemari adalah untuk mengabdikan diri hamba pada Negeri Mega Mendung ini,” jawab Dharmadipa.

Saat itulah Mega Sari yang telah turun dari kursi pelaminannya menghampiri ayahnya, “Ampun Rama Prabu, Kakang Dharmadipa ini adalah Kakak seperguruan hamba, ia juga adalah putra mendiang Prabu Wangsadipa dan Ratu Sekar Ningsih dari Parakan Muncang yang telah hancur oleh pasukan islam beberapa belas tahun yang lalu.”

Prabu Kertapati menatap penuh selidik pada Dharmadipa setelah mendengar keterangan Mega Sari tersebut “Benarkah itu Dharmadipa? Seingatku ada suatu benda pusaka yang diturunkan turun-temurun pada seluruh keturunan Parakan Muncang yang kelak akan menjadi pemimpin di sana, aku tidak tahu apakah benda pusaka itu masih ada atau tidak.”

Dharmadipa mafhum kalau itu adalah pertanyaan tidak langsung untuk dirinya membuktikan bahwa ia adalah benar-benar putra dari mendiang Prabu Wangsadipa, seorang pangeran bukan rakyat biasa, maka dengan sikap penuh hormat ia mengambil sesuatu dari balik bajunya, “Ampun Gusti Prabu, mungkin yang Gusti maksudkan adalah Keris Pusaka Naga Putih ini,” ia memberikan Kerisnya pada Prabu Kertapati.

Prabu Kertapati menerimanya sambil mengamatinya dengan penuh kekaguman “Benar! Ini adalah Keris Pusaka Naga Putih, Keris pusaka Parakan Muncang yang juga menjadi lambang sahnya seseorang memimpin Parakan Muncang!”

Mega Sari bersorak gembira didalam hatinya, Dharmadipa menyembunyikan raut wajahnya yang penuh kebanggaan dengan menundukan kepalanya. Prabu Kertapati pun mengembalikan Keris itu pada Dharmadipa, “Dharmadipa, ketahuilah bahwa Prabu Wangsadipa adalah sahabatku yang sudah aku anggap sebagai suadaraku sendiri, kami sama-sama menentang Demak, Cirebon, dan Banten mengobok-obok tatanan kehidupan di bumi pasundan ini! Dharmadipa, aku kabulkan keinginanmu untuk mengabdikan dirimu di Mega Mendung ini, Mega Mendung membutuhkan orang-orang sepertimu mempertahankan kedaulatannya dan menambah kebesarannya! Untuk itu aku mengangkatmu menjadi Tumenggung Kesatriaan yang bertanggung jawab melatih para prajurit dan keamanan putra mahkota Pangeran Munding Sura serta seluruh keamanan keraton Mega Mendung!”

Bukan main senangnya hati Dharmadipa ketika diterima oleh Prabu Kertapati bahkan langsung diangkat menjadi seorang Tumenggung Kesatriaan, suatu jabatan prestisius yang tidak sembaragan orang bisa mendapatkannya! Pemuda ini langsung menjura hormat, “Terima kasih atas anugerah yang Gusti Prabu berikan, saya akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya!” 

Mega Sari merasa lega hatinya, dengan jabatan Dharmadipa yang sekarang akan sangat mudah baginya untuk mengendalikan para prajurit ke keraton, dan dia telah selangkah lebih dekat untuk menyingkirkan Pangeran Munding Sura dari hidupnya.

Malam harinya Prabu Kertapati memanggil Mega Sari ke kamarnya, setelah Mega Sari masuk, Prabu Kertapati menatap Mega Sari dengan tatapan tajam hingga membuat hati perempuan culas ini ciut, dia terdiam hanya menundukan kepalanya. “Mega Sari, apakah kekacauan tadi siang sengaja kau buat untuk menyambut kedatangan Dharmadipa?”

Mega Sari kaget bukan kepalang mendengar pertanyaan itu, ia tidak menyangka kalau ayahnya akan mengetahui rencananya. “Apa maksud Ramanda Prabu?” tanyanya pelan.

Prabu Kertapati menyeringai penuh makna, “Mega Sari aku tahu betul kalau Liman Wadag tidak akan ujug-ujug mejadi gila lalu mengamuk tanpa sebab, aku dapat melihat ada mahluk ghaib yang menunggangi Liman Wadag, membuat hewan itu menjadi lebih buas dan lebih sakti dari biasanya! Kemudian tepat pada saat itu, Dharmadipa kakak seperguruanmu yang aslinya Pangeran dari Parakan Muncang itu muncul untuk menundukan Liman Wadag! Mega Sari, mengapa engkau melakukan semua ini? Mengapa engkau mengacaukan pesta pernikahanmu sendiri yang seharusnya menjadi hari yang bahagia untukmu?”

Air mata Mega Sari langsung meleleh, ia langsung terisak menangis. “Sebab hamba tidak akan pernah merasa bahagia Rama Prabu, hamba tidak akan pernah bahagia kalau harus hidup dengan Pangeran Durjana perusak perempuan itu!”

Prabu Kertapati menaikan sebelah alisnya, “Mengapa kau berkata demikian anakku? Ataukah kau mempunyai perasaan terhadap Dharmadipa sehingga mengatur rencana sedemikian rupa? Engkau sengaja mengatur agar Liman Wadag mengamuk dan hanya Dharmadipa saja yang sanggup meringkusnya? Putriku, aku mengangkat Dharmadipa menjadi seorang tumenggung bukan karena hanya jasanya, tetapi juga karena statusnya yang seorang pangeran putra sahabatku walaupun negerinya telah hancur belasan tahun yang lalu, engkau telah berhasil menempatkan Dharmadipa pada kedudukan yang terhormat, tapi ingatlah bahwa kau telah sah menjadi istri Pangeran Munding Sura!”

Mendengar perkataan Ayahandanya tersebut, Mega Sari menangis sesegukan sambil memeluk kaki ayahandanya, “Maafkan hamba ayah, tapi hamba tidak rela harus mengabdikan seluruh hidup hamba pada Pangeran Munding Sura, lagipula apakah Rama Prabu tega melihat Mega Mendung akan hancur kalau orang seperti Pangeran Munding Sura menjadi raja Mega Mendung? Pernikahan ini tanpa persetujuan hamba, bahkan hamba tidak diberi tahu oleh Rama kalau Rama telah menerima pinangan Prabu Karmasura! Mohon ampun Rama Prabu kalau hamba menjadi anak yang durhaka, tapi kalau tujuan Rama Prabu hendak menjadikan Pasir Wangi menjadi sekutu yang kuat, hamba dapat membuat Pasir Wangi menjadi negeri bawahan Mega Mendung tanpa harus mengorbankan hamba atau menjadikan Pangeran Munding Sura menjadi pengganti Rama kelak!”

Prabu Kertapati mulai tertarik dengan dengan apa yang diutarakan Mega Sari, “Apa maksudmu putriku?”

Mega Sari menatap wajah ayahnya dengan mata berlinang, “Rama saya berani menjamin kalau dengan rencana saya ini rama akan dapat menjadikan PAsir Wangi menjadi negeri bawahan kita sekaligus menundukan Negeri Bojanegara dengan mudah, tapi hamba minta satu hal… Hamba tahu ini adalah kurang ajar, tapi hamba minta kalau rencana hamba berhasil hamba minta diizinkan untuk menikah dengan Kakang Dharmadipa, toh Kakang Dharmadipa juga secara garis keturunan adalah seorang Pangeran jadi ia berhak untuk menjadi pendamping hamba.”

Prabu Kertapati berpikir sejenak, ia tertarik pada ucapan putrinya yang cerdas dan culas itu, ia juga sependapat kalau Mundingsura tidak pantas untuk menjadi penggantinya mengingat kelakuannya yang buruk itu, “Baiklah Putriku, katakanlah!”

Mega Sari mengangguk, “Rama Prabu, kalau kita bisa menyingkirkan Pangeran Munding Sura dan Prabu Karmasura secara berbarengan kita bisa mengklaim bahwa Pasir Wangi telah disatukan kedalam wilayah Mega Mendung sebab hamba adalah istrinya yang sah! Saya akan menyingkirkan Prabu Karmasura sebelum saat penyerangan kita ke Bojanegara dengan bantuan eyang guru Nyai Lakbok, lalu kita akan membunuh Mundingsura dalam penyerangan ke Bojanegara, maka kita bisa beralasan Mundingsura telah gugur dalam penyerangan ke Bojanegara, maka seluruh pasukan dan rakyat Pasirwangi mau tidak mau harus mengakui bahwa hambalah yang paling berhak menjadi pewaris tahta mereka, hamba akan memerintahkan seluruh Pasir Wangi untuk ikut masuk kedalam negeri Mega Mendung, maka Rama Prabu selain menundukan Bojanegara juga dapat menguasai Pasir Wangi dengan cuma-cuma!”

Prabu Kertapati mengangguk-ngangguk, ia sangat mengagumi rencana putrinya yang cerdas dan culas itu, “Putriku engkau memang cerdas! Baiklah kita akan lakukan rencanamu itu, tapi berhati-hatilah, bagaimanapun Prabu Karmasura dan Pangeran Munding sura bukan orang semabarangan! Nah kembalilah ke kamarmu, lakukan rencanamu itu!”

Bukan main girangnya Mega Sari mendapati persetujuan dari ayahnya tersebut, “Baik Rama Prabu, hamba permisi.”

Seperginya Mega Sari, Prabu Kertapati berbaring kesebelah istrinya Dewi Nawang Kasih. “Beruntung kita mempunyai seorang putri yang cerdas seperti Mega Sari istriku, dia bisa memperhitungkan segalanya untuk mencapai tujuannya!” ucap Prabu Kertapati yang menyiratkan kebanggaan.

Sekembalinya ke kamarnya Pangeran Munding Sura menanyakan ada perihal apa Prabu Kertapati memanggil Mega Sari malam itu apalagi mengingat malam ini adalah malam pertama mereka, tentu ada sesuatu hal yang sangat penting, Mega Sari mengatakan tidak ada apa-apa, ayahnya hanya memberikan wejangan agar ia jangan terlarut dalam kesedihan setelah kejadian tadi siang yang mengacaukan pesta perkawinannya. Setelah itu Mundingsura mengajak Mega Sari untuk melayaninya, tapi alangkah kecewanya hati Mundingsura ketika Mega Sari berkata ia sedang berhalangan untuk dapat melayani suaminya itu, terpaksalah Mundingsura menahan hasratnya yang sudah begitu menggelora untuk menikmati tubuh Mega Sari selama beberapa malam kedepan.


 ***


Keesokan tengah malam harinya, cuaca malam itu sangat dingin mencucuk tulang, angin bertiup kencang berseoran menimbulkan suara yang menggidikan bagaikan menggetarkan rumah-rumah penduduk di sekitar Kutaraja Rajamandala, bulan purnama bersinar kelabu tidak putih seperti biasanya, cahanya sangat pucat sehingga nampak kelabu, bintang-bintang seakan enggan bersinar, hewan-hewan malam enggan bersuara, yang terdengar hanya lolongan anjing srigala dan kaokan burung-burung gagak hitam yang sekonyong-konyong berterbangan diatas keraton Mega Mendung.

Didalam kamar tamu kehormatan keraton Mega Mendung, Prabu Karmasura terbangun dari tidurnya. Tubuh pria paruh baya tersebut bermandikan keringat, sungguh aneh di tengah malam yang dinginnya sangat hebat hingga menusuk sumsum itu sang Prabu malah kegerahan, istrinya sendiri Permaisuri Wahyusih tidur dengan dilapisi beberapa selimut untuk menangkal dinginnya hawa malam itu. Sang Prabu sendiri merasa sangat aneh karena ketika dilihatnya semua orang di keraton seperti yang kedinginan.

Prabu Karmasura lalu membuka pakaiannya yang telah basah oleh keringatnya, kemudian dengan hanya memakai kain samping dan celana komprang ia berjalan keluar dari kamarnya untuk mencari angin di taman istana. Prabu Karmasura terus berjalan menuju ke air mancur di taman istana, ia lalu duduk di tepi kolam itu, saat itulah tiba-tiba angin yang terasa sangat panas namun pengap bertiup kencang menerbangkan debu-debu di sekitar taman itu. Ketika angin panas itu berhenti ia melihat ada sesosok mahluk yang sangat menyeramkan berdiri di bawah pohon besar yang ada di taman itu.

Bukan main kagetnya Prabu Karmasura melihat mahluk ghaib menyeramkan berbadan hijau tinggi besar yang wajahnya sangat buruk itu. Tampang mahluk ghaib berwarna hijau itu memang sangat menakutkan, saking menakutkannya hingga membuat Prabu Karmasura tidak bisa menggerakan tubuhnya! Mahluk itu menyeringai sambil menatap tajam pada Prabu karmasura yang tidak dapat bergerak itu dengan matanya yang merah menyala bagaikan kobaran api, lalu meledaklah tawanya yang seolah menggetarkan seluruh keraton Mega Mendung!

Setelah puas tertawa, mahluk ghaib itu pun menghilang bagaikan kabut pagi yang dihalau mentari pagi. Prabu Karmasura pun dapat menggerakan tubuhnya kembali, ia lalu lari terbirit-birit dengan sangat ketakutan menuju kekamarnya. Tepat ketika ia membuka pintu kamarnya, ia merasa perutnya sangat mual, ia pun muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah beserta bunga tujuh rupa, kemenyan, paku hitam, dan ulat-ulat bulu! Kontan seisi istana Mega Mendung pun menjadi gempar oleh sebab kejadian tersebut. Berbagai dukun, tabib, serta orang-orang sakti dari Mega Mendung, Pasir Wangi dan seluruh pelosok wilayah Pasundan dipanggil untuk mengobati penyakit Prabu Karmasura yang aneh itu.

Dua hari kemudian, ketika matahari tenggelam, Prabu Karmasura yang tertidur dari tadi siang karena kelelahan menahan sakit, terbangun dari tidurnya, dia lalu berteriak-teriak tidak jelas, dan mengamuk sejadi-jadinya, merusak apa saja yang berada di hadapannya, kacau balaulah kamar tamu kehormatan di Keraton Mega Mendung itu, seisi keraton gempar.

Mega Sari dan Prabu Kertapati berpura-pura panik mendapati kesurupannya Prabu Karmasura itu, seorang dukun dari Gunung Ceremai segera turun tangan, dengan disiram air mantra kembang tujuh rupa, Prabu Karmasura pun jatuh pingsan, beberapa prajurit segera menggotong tubuh Prabu Karmasura kembali ke kamarnya.

Keesokan tengah malamnya, kembali terjadi keanehan di keraton Mega Mendung. Hawa di keraton itu mendadak menjadi sangat panas dan gerah, padahal Kutaraja Rajamandala yang terletak di kaki Gunung gede adalah kota yang mempunyai curah hujan yang sangat tinggi, maka udara di kota ini biasanya terasa dingin apalagi saat malam hari, dinginnya sampai mencucuk ke tulang sumsum, tetapi setiap malam udaranya menjadi panas gerah bahkan jauh lebih panas daripada siang hari!

Saat itu terdengar lolongan anjing srigala yang saling bersahutan dengan kaokan Gagak hitam dan suara burung hantu yang menegangkan bulu roma bagi siapa saja yang mendengarnya, kuda-kuda serta hewan-hewan lain di keraton nampak gelisah dan saling meringkik. 

Dharmadipa yang bathinnya cukup awas ini menjadi gelisah, sejak kejadian beberapa malam yang lalu saat Prabu Karmasura mulai mengalami sakit yang aneh, suasana di keraton bagian kestariaan tempat kamar tamu agung Prabu Karmasura menginap menjadi aneh, suasananya selalu mencekam terutama saat matahri mulai terbenam, hawa panas dan pengap pun kerap terjadi di keraton kesatriaan ini.

“Hmm… Sepertinya ada yang tidak beres!” pikirnya, dengan penuh penasaran ia pun turun dari tempat tidurnya dan mengambil Keris Pusakanya, kemudian ia keluar dari kamarnya. Pemuda ini memperhatikan keadaan disekitar kesatriaan, ketika dilihatnya ketas langit, kawanan burung gagak hitam berterbangan mengitari kesatriaan. “Apakah ini teluh? Menurut cerita guru, teluh itu ada bermacam-macam dan bisa berwujud apa saja, kadang-kadang bisa berwujud gagak hitam seperti itu atau bisa langsung mewujud mahluk ghaib yang tak kasat mata” pikirnya.

Pada saat itu datanglah Pangeran Munding Sura menghampiri Dharmadipa, Dharmadipa pun segera menjura hormat pada ’saingannya’ itu, “Adi Tumenggung, apakah adi merasakan keanehan ini?” tanyanya.

“Iya saya dapat merasakannya raden” jawab Dharmadipa. “Saya yakin ini adalah teluh yang sangat ampuh raden,” lanjutnya. 

“Hmm… Padahal kami sudah menyewa Ki Tunggulaya dari Ceremai dan ia sudah memagari keraton ini dengan manteranya,” ujar Mundingsura.

“Maaf Raden, tapi bagaimana dengan suasana ini? Dan saya sangat curiga dengan kawanan gagak hitam yang terbang diatas itu” tunjuk Dharmadipa keatas.

Pangeran Mundingsura pun memandang keatas kearah kawanan burung gagak hitam itu, “Raden, manusia terlalu dipengaruhi oleh keadaan akal dan pikiran, sehingga perasaannya selalu majal, untuk dapat menangkap sesuatu yang halus sifatnya.” jelas Dharmadipa. 

Pangeran Mundingsura mengangguk-ngangguk. “Aku setuju Adi Tumenggung, tapi siapakah pelakunya? Di Pasir Wangi tidak ada yang berani melawan kami… Mungkinkah ini teluh yang dikirim oleh Prabu Bojakerti dari Bojanegara karena ia tahu kita akan menyerbu negerinya?”

Saat itu, pembicaraan mereka terhenti ketika diatas langit mereka melihat ada bola api yang sangat terang melesat kearah atap kamar tamu yang ditempati Prabu karmasura, bola api itu masuk kedalam genteng kamar tersebut. Berbarengan dengan itu terdengarlah suara Prabu Karmasura yang menjerit-jerit! Pangeran Mundingsura dan Dharmadipa segera berlari memasuki kamar itu. “Aneh kenapa tidak ada prajurit yang melihatnya?” tanya Mundingsura.

“Maaf Raden, yang bisa melihatnya hanya mereka yang waskita, yang mempunyai kemampuan lebih!” jawab Dharmadipa sambil membuka pintu kamarPrabu Karmasura.

Alangkah terkejutnya Dharmadipa ketika melihat sesosok mahluk ghaib bertubuh tinggi besar berwarna hijau, bertaring, bertanduk, berwajah buruk, dengan bola mata merah yang menyala-nyala bagaikan bola api sedang mencekik-cekik Prabu karmasura! Nampaknya hanya ia sendiri yang berada di ruangan itu yang dapat melihat mahluk ghaib yang menyeramkan itu, maka ia pun membantu Pangeran Mundingsura dengan membacakan mantera ajian agar dapat melihat mahluk ghaib itu. Saat ia hendak bertindak, Ki Tunggulaya sang Dukun dari Gunung Ceremai segera menahannya, Sang Dukun langsung duduk bersila, bertafakur sambil mulutnya berkomat-kamit membaca mantera.

Aneh bin ajaib! Ruh Ki Dukun Tunggulaya berpisah dari tubuh kasarnya dan segera menyerang mahluk ghaib tersebut. Mahluk ghaib itu melepaskan cekikannya pada Prabu Karmasura lalu bertarung dengan Ki Tunggulaya, tapi pertarungan itu hanya terjadi sebentar saja, mahluk ghaib itu nampaknya jauh lebih sakti daripada Ki Dukun Tunggulaya, Dharmadipa melihat mahluk itu merobek dada dan mengorek jantung Ki Tunggulaya, seketika itu pula tubuh kasar Ki Tunggulaya yang sedang duduk bersemedi, muntah darah lalu jatuh tidak berkutik lag dengan mata melototi!

Dharmadipa segera mencabut Keris Pusaka Naga Putihnya, mahluk ghaib itu menatap Dharmadipa dengan mata yang menyala bagaikan kobaran api, mahluk itu lalu tertawa terbahak yang suara tawanya menggetarkan tempat itu, ia lalu menghilang lenyap entah ke mana! 

“Adi Tumenggung, sebagai penanggung jawab keamanan keraton, aku perintahkan kamu untuk mengejar dan memusnahkan mahluk itu!” perintah Pangeran Mundingsura yang percaya akan kemampuan Dharmadipa setelah melihatnya mengalahkan Liman Wadag yang mengamuk saat hari pernikahannya.

“Baik Raden!” jawab Dharmadipa, dia pun mengacungkan Keris Pusakanya dan memakainya sebagai ‘radar’ untuk mencari keberadaan mahluk itu.

Sementara Prabu Karmasura terbangun dan langsung muntah darah yang disertai kembang tujuh rupa, belasan paku hitam, dan puluhan ulat-ulat bulu! “Rama Prabu! Rama tidak apa-apa?” Tanya Mundingsura.

“Tadi aku bermimpi ruang pusaka keraton Pasir Wangi diobrak-abrik dan dibakar oleh mahluk-mahluk ghaib yang mengerikan, mereka lalu mencekikku dengan rantai dan menyeretku mengelilingi keraton yang telah dilahap api!” jawab Prabu Karmasura dengan nafas terengah-engah.

“Sebaiknya Kakang Prabu tidak usah terlalu memikirkannya, itu hanya mimpi buruk!” ujar Dewi Wahyusih membesarkan hati suaminya 

“Tidak bisa istriku, kalau hanya mimpi bagaimana dengan sakitku yang aneh ini? Aku mendapat firasat bahwa Wahyu Keprabuan Pasir Wangi telah lenyap…” keluh Prabu Karmasura.

Sementara itu, Dharmadipa terus berjalan mengikuti petunjuk dari Keris pusakanya hingga keluar dari keraton, terus hingga keluar dari kutaraja, ia terus berjalan ke arah barat hingga akhirnya ia sampai di gubug reyot yang berada di hutan luar Kutaraja tempat ia bertemu dengan Mega Sari tempo hari. “Aneh mengapa aku bisa sampai disini?” tanyanya pada diri sendiri, ia terdiam sesaat, lalu ia memutuskan untuk masuk kedalam gubug.

Betapa terkejutnya ia ketika melihat Mega Sari dan seorang nenek bertampang menyeramkan yang ada didalam gubug itu yang sedang melakukan semacam ritual perdukunan “Mega Sari?!” desisnya tak percaya.

Mega Sari membalikan tubuhnya dan langsung melemparkan senyumnya pada Dharmadipa. “Kakang!” sahutnya.