Episode 49 - Princebridge, Lio in the Past


Kembali ke beberapa saat lalu, sewaktu Lio dirawat. 

Disana Lio ditemani Fia yang terus memegangi tangannya dengan perasaan khawatir. Sambil berusaha menahan tangis dan wajah sedih, Fia memandang Lio yang hanya bisa tersenyum balik padanya dalam kondisi terbaring tidur di ranjang.

"Lio... tolong jangan terlalu memaksakan dirimu," ucap Fia sambil terus menahan air mata, sekalipun pipinya sudah basah dan matanya memerah. "Kalau kau mening..."

"Psst... tenang saja," balas Lio sambil berusaha menenangkan Fia, meski ia saat ini terbaring di ranjang dengan perut dibalut perban. "Aku tak akan memaksakan diri. Karena sedari awal, aku sudah tahu. Kecil kemungkinannya atah malah, tidak ada kemungkinan sama sekali untuk menang."

"Tapi... lukamu..." ucap Fia gelisah, sambil menutup matanya dengan kedua tangan dan menyandarkan kepalanya di ranjang. "Aku tak sanggup melihatmu begini." ucapnya sambil menggelengkan kepala.

"Ohh ini... memang agak sedikit sakit sih..."

"Agak sedikit sakit katamu?!" balas Fia dengan nada tinggi.

"...!?" Lio kaget.

"Kau tidak perlu berpura-pura kuat di hadapanku." ucap Fia dengan berlinang air mata. "Kita kenal sudah sangat lama. Jadi... jadi... kamu tak usah berpura-pura kuat, dihadapanku..." kata-katanya berhenti sejenak dan kepalanya tertunduk. "Aku ingin, kamu menjadi dirimu sendiri."

Lio terdiam sebentar. Ia tak bisa berkata-kata di hadapan Fia yang terus menangis khawatir di depannya.

"Fia..." Lio bicara lembut dan tersenyum padanya, meski dalam hati sambil tatapan menoleh ke jendela dengan tirai yang bergoyang-goyang oleh angin dengan sinar matahari masuk melewatinya. "Tapi benar kok, gak sakit lagi. Healer Vheins disini hebat-hebat sekali. Tingkat penyembuhnya berada di level yang jauh berbeda."

"Kalau perlu, biar aku bantu sembuhkan." Fia langsung mengarahkan telapak tangannya ke perut Lio.

"Hee... tidak usah, tidak usah." Lio kaget dan beranjak naik, kini ia dalam posisi duduk.

"Kenapa? Kok tidak mau?"

"Healer disini sudah menyembuhkanku dengan berbagai macam sihir penyembuh sepanjang aku dirawat. Jadi... tak perlu repot-repot menyembuhkanku lagi. Karena aku, baik-baik saja kok.” kata Lio sambil mengacungkan dua jari yang membentuk V. “Beneran..." 

"Baiklah," kata Fia sambil beranjak naik dengan raut wajahnya yang berubah sebal. "Kurasa aku tak diperlukan disini."

"Hei... hei! Fia, tunggu dulu. Duduk sini lagi.” bujuknya. “Temani aku, ada yang mau aku bicarakan."

"Huh?" Fia berbalik dan duduk kembali, ia mengambil tisu dan pelan-pelan menyeka air matanya. "Soal apa?"

"Sejak melawan Nicholas, tiba-tiba aku kepikiran soal sesuatu. Suatu ingatan yang sudah lama kulupakan. Saat itu, di tengah-tengah pertandingan, tiba-tiba saja aku teringat tentang dia."

"Dia? Dia siapa?"

"Orang yang mirip sekali sama kamu."

"Hee? Siapa?" Fia terkejut.

"Mia namanya, dekat sekali namanya dengan namamu kan." kata Lio. "Mia... Fia. Wah, beda huruf depannya saja."

"Tunggu-tunggu, itu bukannya nama panggilanmu padaku dulu?" tanya Fia mengkonfirmasi. "Waktu awal kita kenal dulu di jalanan kota Princebridge. Kau panggil aku dengan nama Mia. Tapi apa alasannya, aku tak tahu. Aku pikir kamu hanya bodoh saja. Hihi."

"Enak saja bilang begitu!" balas Lio tak terima dibilang bodoh, namun disambung dengan tawa kecil. "Hahaha, maaf aku baru cerita ini sekarang. Bukannya dari awal. Yang sebenarnya, Mia adalah teman masa kecilku yang sudah meninggal." ucap Lio sambil memandang ke langit-langit ruangan dan kembali ke posisi berbaring, mengenakan baju rawatnya.

"Ohh... aku turut berduka cita." Fia bersimpati.

"Sewaktu aku berusia 8 tahun, aku tak sengaja bertemu dengannya. Waktu itu, dia dibully 3 orang anak remaja laki-laki. Lalu aku datang dan menolongnya."

"Lio... kau heroik sekali."

"Iya heroik, kalau aku tak dipukul sampai babak belur."

"Hahaha..." Fia mentertawainya.

"Haha, kamu, nyebelin kan..." Lio ikut tertawa.

"Hahaha... maaf, maaf. Habis... katamu dulu, kamu bisa sihir sejak masih kecil? Kenapa bisa kalah oleh mereka?"

"Di kampung halamanku dulu... seseorang yang bisa sihir, dianggap berbahaya dan dikucilkan. Padahal lokasi tempat tinggalmu dan aku tidak terlalu jauh. Tapi entah kenapa, desaku sebegitu tabu terhadap orang yang bisa menggunakan sihir."

Fia mendengarkan. "Hmm..." sambil dagunya disandarkan di punggung tangannya yang bertumpu di ranjang Lio.

"Dulu... setiap aku menggunakan sihir api ini." kata Lio sambil mengeluarkan api di telapak tangannya. "Aku dipandang seperti monster yang berbahaya. Aku dijauhi karena aku bisa sihir. Padahal aku tak pernah minta atau berusaha atau apapun, untuk mampu menggunakan sihir. Ya kalau disini, ternyata penyihir itu disebutnya pengguna aura."

"Ya... aku ingat kau pernah cerita itu."

"Dulunya aku anggap ini kutukan, tapi setelah merantau menyebrangi pulau dan keluar dari desaku. Aku baru menyadari, sihir api ini adalah karunia tersembunyi. Ini kutukan pikirku dulu, tapi tak kusangka aku anggap ini anugrah sekarang."

"Karena, kamu berhasil menyelematkanku. Dan sihir apimu, adalah kekuatan bukan kutukan."

"Ya, setelah merantau ke dunia di luar sana... jauh dari desaku. Ternyata sihir adalah yang biasa-biasa saja. Malah ada orang yang habis-habisan belajar untuk mampu membangkitkan kemampuan ini, tapi tak bisa-bisa juga. Sedang aku bisa, tanpa meminta, tanpa usaha. Tapi aku malah menolaknya."

"Setelah kita pergi lebih jauh, ternyata di Vheins ini, semuanya bisa sihir. Kita menyebrangi samudra dan tiba di benua lain."

"Aku bahagia sekarang, aku kemampuanku ini berkat yang harus kusyukuri. Meskipun dulu... kemampuan ini membuat diriku susah. Bahkan orang tuaku memandangku sebagai anak terkutuk karena bisa sihir. Kadang-kadang, kalau kelepasan. Aku tak sengaja membakar seluruh sawah di dekat rumahku. Orang tua-ku yang hanya seorang petani biasa, melahirkan anak dengan kemampuan aneh. Perlahan-lahan mulai takut denganku."

"Ya, kira-kira sama seperti yang kamu lakukan ke sebagian kebun bunga ayah." Fia mengingat-ingat masa lalu.

"Ahh soal itu, murni kecelakaan, aku tak bermaksud. Aaa... uhmm..." Lio bingung harus menjelaskan seperti apa.

"Hihi, sudahlah. Itu sudah berlalu dan terselaikan. Jadi terus-terus?"

"Uhm... pada waktu itu, orang pertama yang aku tahu bisa sihir selain diriku adalah Mia. Anak perempuan seumurku yang tak sengaja kutolong itu. Setelah saling mengenal, dia akhirnya menunjukkan padaku, bahwa ia pengguna elemen air. Lagi-lagi sama kayak kamu. Dan dengan kata lain, dia penyihir juga. Satu-satunya orang yang mengalami hal yang sama denganku pada saat itu."

"Benarkah? Sudah namanya mirip, elemennya pun juga sama. Jangan-jangan..."

"Ya, rambut Mia juga biru, sama kayak kamu."

"Haa!?" Fia kaget. "Jangan bilang wa..."

"Tidak-tidak, wajah kalian tidak mirip kok. Gaya rambutnya juga beda. Mia menggunakan Pita merah untuk menguncir rambutnya, ia selalu seperti itu. Kalau kamu kan dibiarkan panjang bebas begitu saja. Lagipula..." raut wajah Lio berubah sedih. "Dibanding kau, Fia... ekspresi Mia cenderung lebih pemurung. Dan sifat kalian juga berbeda. Kau jauh lebih ceria darinya, meskipun Mia..." Lio jeda sejenak. "Tidak sepemalu kamu."

"Hee? Jadi mana yang lebih baik? Aku atau Mia?"

"Tak usah ditanya. Jawabannya, ya jelas kamu lah..." kata Lio dengan ekspresi muram sambil memandang ke jendela yang berlawan arah dengan tempat Fia duduk. "Mia sudah meninggal. 4 tahun setelah aku bertemu dengannya." Katanya sambil tatapan mengarah ke atas, dengan maksud untuk menahan air matanya keluar.

"Jadi itu alasannya kau memanggilku dengan nama Mia dulu..." kata Fia dengan kepala tertunduk.

"Aku kenal dan akrab dengannya... hanya untuk berpisah tanpa aku bisa ingat kenapa."

.

.

.

3 tahun lalu, sewaktu Lio pertama kali bertemu Fia. Di sebuah negara kecil yang berada di luar benua Azuria. Terdapat kota kecil bernama Princebridge, yang Lio singgahi waktu itu, dalam perantauannya di usia 15 tahun. Kala itu, Lio baru seminggu melakukan perantauan. Singgah ke satu tempat ke tempat lain.

Dan di kota itu...

***

"Mia!? Syukurlah... ternyata kau masih hidup!" sahut Lio yang begitu bersemangat sambil memegangi pundak Fia yang memegangi satu keranjang bunga di pelukannya.

"Hee!? Kakak siapa? Namaku Fia, bukan Mia. Kakak salah orang." kata Fia yang waktu itu, berusia 12 tahun. Masih bertubuh anak kecil yang persis seperti ingatan Lio tentang Mia. Saat itu, Mia menggunakan daster putih.

"Ahh... jangan bohong. Masa kau tidak ingat aku. Ini aku loh... Lio, ingat kan?" kata Lio sambil terus meyakinkan diri bahwa ia tidak salah orang.

"Li-Li-Lio?" Fia berpikir sejenak. "Lio siapa? Aku tak kenal kakak. Aku belum pernah lihat kakak, atau kenal dengan orang yang namanya Lio."

"Sudah jangan berlagak tidak kenal lah. Kau Mia kan? Kita pernah bermain bersama sepanjang tahun. Tapi tiba-tiba kamu kok hilang dan aku dapat kabar kalau..." kata-kata Lio terhenti sejenak, tiba-tiba ia kaku dan hatinya seperti tertusuk benda tajam. "Ka-kalau kau... ahh sudahlah! Maaf, aku salah orang."

Kemudian Lio beranjak pergi dengan tubuh membungkuk, membawa ransel besar, tempat barang-barangnya selama perantauan dibawa. Hilang di tengah kerumunan orang-orang kota yang berjalan lalu lalang.

"Hee!? Kakak yang aneh..." ucap Fia dengan wajah bingung, lalu bergegas melanjutkan jalannya kembali.

***

Namun... 1 bulan sudah Lio merantau, uang yang dibawanya sudah tidak cukup lagi. Ia bekerja serabutan dalam perjalanan yang tak tentu arah. Ia tak tahu mau kemana atau memiliki tujuan apa. Di usia awal remajanya ini. Ia tak memiliki impian apa-apa. Semata hanya untuk pergi dari kampung halamannya, melupakan segala hal buruk yang ia alami di masa kanak-kanaknya. Sambil terus melihat hal-hal baru di sekitarnya.

Di negara tempat Lio tinggal, adalah sebuah wilayah kecil yang hanya terdiri dari dua pulau besar dengan pulau-pulau kecil di sekitar pulau yang besar. Kedua pulau itu berada di barat dan timur. Pulau sebelah barat, luasnya tiga kali lebih besar dari pulau sebelah timur secara panjang maupun lebar. 

Jadi satu pulau tempat desa Lio berada. Di sebelahnya terdapat pulau yang besarnya sampai sembilan kali pulau tempat desa Lio berada.

Kampung halaman Lio berada di desa yang mencakup salah satu pulau kecil sebelah timur itu sepenuhnya. Tanpa menggunakan kapal feri, perantauan Lio tak lebih dari mengitari pulau sebelah timur itu saja. Yang pada akhirnya membuat dirinya harus mengumpulkan uang untuk bisa pergi ke luar pulau kecil ini.

Karena jarak kedua pulau itu cukup dekat. Hanya terpisah oleh selat yang tak seberapa jauh. Lio secara illegal menyebrangi selat itu dengan perahu dayung buatannya sendiri. Semata untuk menghindari ongkos transport yang bisa dihematnya. Tapi yang dia dapat malah lebih buruk dari itu, dia terdampar dan harus bertahan diri untuk sampai ke pulau sebrang.

Setelah tiga bulan. Tanpa pernah melihat peta, Lio berakhir di kota tempat pertama kali ia datang, Princebridge. Saat itu ia baru menyadari, dirinya telah mengelilingi pulau barat sepenuhnya. Dan sejak saat itu, ia memutuskan mencari kerja dan mulai menabung untuk sebuah tiket kapal yang mampu mengarungi samudra.

Lio yang haus akan hal baru, mencoba pekerjaan yang ia belum pernah lakukan sebelumnya. Karena segala pekerjaan kasar telah ia lalui selama tiga bulan ini. Ia mencari pekerjaan yang mudah namun dibayar tinggi. Memang sulit mencari yang seperti itu, tapi nyatanya ada.

Setelah mencari-cari di kertas selebaran yang ditempel di papan kayu tengah kota. Mirip semacam Questboard yang sering digunakan di Azuria. Lio akhirnya memutuskan bekerja di sebuah taman bunga dengan bayaran 15.000 Rez per minggunya.

"Ahh ini saja, kerja di taman bunga doang tapi bayarannya lumayan." katanya sambil mencabut kertas itu dari papan dengan rasa gembira. "Kalau bayarannya sebanyak ini, cukup satu sampai dua tahun saja. Aku bisa tinggal di negeri orang."

Dari selebaran itu, ia diminta pergi menemui sang pemberi kerja yang tinggal di sebuah bukit dekat kota Princebridge itu. Untuk melamar kerja.

***

Tok! Tok! Tok!

"Permisi!" Sahut Lio sambil mengetuk pintu sebuah rumah putih besar di atas bukit dengan taman bunga luas, mengelilingi rumah itu.

"Papa! Ada orang yang datang." Sahut suara anak perempuan dari rumah itu.

"Kamu saja yang bukakan pintu, papa lagi ada urusan." balas ayahnya dari lantai 2 rumahnya.

Kemudian pintu terbuka.

"Permisi, maaf mengganggu." ucap Lio langsung ketika pintu terbuka. "Aku baca dari selebaran ini, kalau-"

"Hee!?" Anak itu kaget sejenak sambil menerka-nerka.

"-Tuan..."

"HEEEE!!?"

"HEEEE!!?"

Mereka terkejut di secara bersamaan.

"Kamu kan yang waktu itu!"

"Kakak kan yang waktu itu!"

ucapnya bersamaan sambil saling tunjuk satu sama lain dan mengucapkan kalimat yang sama.

"Kamu... Mia kan?"

"Fia! Aku Fia... namaku Fia! Bukan Mia."

"Oke-oke... Fia..." Lio berusaha menenangkan. "Kenapa kau ada disini?"

"Loh!? Ini kan rumahku! Justru kenapa kakak yang ada disini?"

"Apa!? Jadi kau... anak-"

***

Singkat cerita, Lio bekerja pada ayah Fia. Seorang pria besar berkumis biru muda yang tinggal bersama Fia disini. Sedang istrinya, sibuk bekerja di Princebridge, menjual karangan bunga untuk orang-orang kota.

"Ohh... akhirnya ada juga orang yang mau apply bekerja disini." kata Ayah Fia sewaktu pertama kali menyambut Lio, sambil membawanya berjalan ke ladang bunga. "Kamu sudah bisa mulai bekerja saat ini. Jadi sekarang, cabut semua bunga ini."

"Apa!? Semua ini!?" Lio tak menyanggupi.

Ayah Fia mengangguk sambil tersenyum. "Yap, betul!"

"Tapi luas tanah ini, bisa sampai Sehektar!!?"

"Sudah, jangan mengeluh." katanya sambil menepuk Lio. "Ayo kerja!" ucapnya menyemangati.

"Pantesan bayarannya tinggi." pikir Lio.

"Ingat, cabutnya hati-hati, jangan sampai rusak bunganya."

"Ohh sial! Apa boleh buat..." pikir Lio. "Aku tak bisa melarikan diri lagi."

***

Meski awalnya berat, atau bisa dibilang sangat berat. Lio terus menghibur diri dengan membayangkan dirinya bisa segera keluar dari pulau ini dan pergi jauh-jauh dari negara tanpa masa depan ini. Setidaknya, itu yang ada dipikirannya.

Lio tetap bekerja dengan giat sekalipun terpaksa, karena jika tidak disini, mau kemana lagi ia pergi?

Ia juga sering dihibur dengan kehadiran Fia yang selalu menemaninya dikala sibuk bekerja. Di awal-awal, Lio masih terus memanggil Fia dengan nama Mia dan tentu hal itu membuat Fia jengkel dengan terus mengkoreksi namanya sesaat setelah nama Mia disebut.

Namun tak perlu waktu lama, Lio yang setiap hari bertemu dengan Fia, baik di taman buang maupun di rumanya. Lama-kelamaan bisa merasakan perbedaan sifat antara dua orang yang serupa itu.

Lagipula, ia masih ingat betul, bahwa Mia telah meninggal dunia, meski tak sekalipun diungkapkannya. Lio tahu bahwa Mia tidak akan hidup lagi dan tak akan berubah jadi orang lain. Pelan-pelan ia mulai belajar melupakannya dan menerima Fia sebagai orang yang berbeda dari bayang-bayang teman lamanya.

Hari-hari bekerja yang begitu berat di awalnya, pada saat ini, hubungan Lio dan Fia masih seperti pekerja muda dengan anak majikan kaya. Tapi lama-kelamaan, jelas membuat Lio terbiasa. Bekerja sebagai tukang kebun pencabut bunga yang nantinya di-distribusikan ke toko yang dikelola ibu Fia di kota. Untuk dirangkai dan dijual disana. Pekerjaan itu dilalui Lio sebagai rutinitas biasa.

Dua hal yang menjadi penyemangatnya. Impiannya untuk menyebrangi samudra dan membuat anak majikan yang selalu melihatnya saat bekerja ini... tersenyum.

Lalu... setahun berlalu.

***