Episode 48 - Kildamash' Past


"Aku juga penasaran waktu itu,” kata Marrian. “Jadi aku buntutin dia secara sembunyi-sembunyi sewaktu kami masih muda dulu. Saat dia bolos, dia malah sibuk bersembunyi di ruang bawah tanah. Disana ada rak buku dari kayu yang sudah tua, yang bisa roboh kapan saja. Dengan disinari cahaya lilin yang tak seberapa. Ia habiskan waktu bolosnya untuk baca buku-buku tebal yang ia curi dari perpustakaan di tempat yang gelap dan pengap seperti itu."

"Kenapa sampai harus mencuri? Perpustakaan gratis kan?"

"Ya, gratis. Tapi kalau minjam sampai dua puluh hingga empat puluh buku lebih sekaligus. Ya mau tak mau harus dicurinya. Begitu jawabnya ketika aku tanya. Karena dia sudah ngotot sekali meminta ke pihak perpustakaan tapi tidak dikabulkan. Dan kenapa di bawah tanah? katanya supaya tidak ketahuan mencuri buku dan kenapa tidak membaca di tempat saja. Ahh dia sangat berantakan, benar-benar anak yang tidak disukai deh ayahmu itu. Dulu tampangnya juga culun. Culun sekali, entah kalau sekarang. Tapi aku yakin tidak terlalu berbeda."

"Hehe... tidak kok, ayah sekarang, keren!" jawab Alzen sambil senyum-senyum sendiri. “Dia jenius.”

"Ahh... aku tidak percaya sebelum melihatnya langsung.” Marrian menolak pendapat Alzen. “Ohh iya!? Ayahmu dulu juga bisa 5 elemen mainstream. Hebat sekali bukan? Dia satu-satunya di angkatan yang bisa menggunakan seluruh Elemen Mainstream."

‘Wah berarti sama dong, aku rasa Alzen juga satu-satunya di angkatanku yang bisa lebih dari dua elemen.” sambung Leena.

"Benarkah!? Aku jarang lihat ayah pakai sihir, apa dia bisa sihir juga?"

"Bisa dong... kalau enggak, ya dia tidak bisa sekolah di Vheins. Tapi karena dia tak hobi bertarung dan malah sibuk baca buku di tempat gelap dan sepi. Ia jadi lemah, biar bisa semua elemen mainstream sekalipun. Ia tidak bisa bertarung sama sekali, karena jarang latihan. Sampai jadi jokes buat kami waktu itu. Kelemahan Kildamash cuma dua, absen yang terlalu sedikit dan duel yang pasti kalah. Ya karena dia benar-benar tak bisa bertarung."

"Beda dengan kamu ya, Alzen." Leena menepuk pundak Alzen. "Mama! Dia juara dua turnamen loh. Dan bedanya lagi, dia populer."

"Bagus! Bagus! Kau tidak mengikuti jalan hidupnya. Karena si Kildamash itu, seratus persen lemah kalau sudah bertarung. Sampai luluspun tak pernah kulihat sekalipun dia mengambil quest yang membutuhkan bertarung."

"Terus, ayah baca buku apa kalau bukan soal sihir?"

"Dia jatuh cinta sama yang namanya Alchemy. Bukunya semua tentang itu. Sampai sekarang, dia seorang Alchemist kan?"

Angguk Alzen. "Ya, setiap hari berkutat di lab yang aku tak mengerti sedang meneliti apa."

"Kau kesal dengan sifat ayahmu yang begitu?"

"Ya, kadang-kadang." jawab Alzen. "Soalnya kalau ditanya gak jawab. Fokus sekali. Jadi rasanya sepi juga. Aku hanya tinggal dengan ayah, dan ayah sepenuhnya mengabaikanku."

"Tak usah heran, dari jaman sekolah disini dulu. Dia sudah begitu.” Marrian memaklumi. “Kalau urusan Alchemy, dia dianggap sebagai dewanya. Ranking satunya dan Ranking dua-nya sangat jauh sekali nilainya. Si Kildamash itu sempurna sekali kalau sudah masuk kelas Alchemy, Potion Making dan ilmu sejenisnya. Beberapa tahun setelah lulus. Dia terkenal jadi ilmuwan Potion kan?"

"Loh!? Memang beritanya sampai ke Azuria? Dia tidak terkenal disinikan?"

"Memang, tapi aku teman sekelasnya. Beritanya sampai padaku. Dari dia, penemuan Coating Potion tercipta. Potion yang dilumuri ke senjata, lalu senjata itu bisa memiliki efek tertentu. Seperti misalnya bisa mengeluarkan api. Pokoknya benar-benar penemuan yang membantu umat manusia khususnya orang-orang yang menjalankan Quest berbahaya. Setelahnya, para Dungeon Explorer banyak memakai Coating Potion. Dan pastinya, para peniru bermunculan. Sampai jadi barang yang umum di toko-toko sekarang. Habis itu penemuannya apa lagi ya? Banyak deh!"

"Tapi aku dan ayah dulu tidak tinggal di benua Azuria, kami ada di benua..."

"Ya aku tahu sih, setelah lulus. Dia merantau jauh mengelilingi dunia. Prestasinya dari satu tempat, membawanya ke tempat lain yang jauh lebih hebat. Namun karena fenomenal. Beritanya sampai kesini juga. Nah saat itu aku mulai bangga, aku pernah satu sekolah dengan si Kildamash yang waktu sekolah, sangat aneh dan menyebalkan itu."

"Kalau tahu ayahku seberprestasi itu? Kenapa kamu waktu itu tiba-tiba marah?" tatap Alzen ke Leena.

"Ohh soal itu... haha. Gimana ceritanya. Sebenarnya sih, cuma salah paham saja."

"Salah paham bagaimana?" Alzen tak mengerti. “Kamu sampai mengusir aku dan Chandra dengan kejamnya.”

"Hahaha!" Marrian tertawa terbahak-bahak. "Maaf-maaf, aku selalu ceritakan tokoh Kildamash Franquille ini dari sisi buruknya. Aku tidak mengarang-ngarang. Karena dibalik prestasinya. Kildamash ini juga orang yang punya banyak hal yang menjengkelkan. Jadi aku ceritakan ke Leena dari hal-hal buruknya saja. Dia jadi seperti tokoh penjahat yang tidak boleh ditiru Leena. Hahaha."

"Iya... makanya setelah aku tahu yang sebenarnya." kata Leena. "Aku ingin bicara ini padamu. Tapi ketunda sampai selama ini... haha maaf ya."

"Setelah aku tahu kamu anaknya Kildamash dan benar adanya. Aku baru ceritakan yang sebenarnya ke Leena. Lebih tepatnya, sisi baiknya juga aku ceritakan. Karena aku tak mau kalian malah jadi musuhan terus. Dan Leena tertawa saat itu."

"Haa? Sulit dipercaya. Memangnya tante ceritakan apa saja ke Leena soal ayahku?"

"Kau pasti tidak mau dengar. Karena banyak sekali kejelekkannya."

"Satu saja. Aku perlu alasan yang masuk akal."

"Uhm... Ini true story. Si Kildamash ini tak pandai dengan yang namanya uang. Ia selalu kurang uang meski prestasinya menghasilkan banyak uang. Sampai-sampai ia menjalin kerjasama denganku dan akhirnya aku ikut bangkrut bersama dengannya. Itulah saat Kildamash, ayahmu itu, menjelma sebagai pembawa sial bagi keluarga kami. Tapi itu baru salah satunya saja. Masih banyak lagi hal merepotkan yang ia bebankan ke orang-orang yang ia kenal."

"Masuk akal sih, mengingat ayah dulu pernah punya uang banyak, tapi tak pernah bertahan lama."

"Dan dulu mama," sambung Leena. "Ceritanya seolah menggambar ayahmu ini sebagai pembawa sial. Aku percaya saja sampai aku tahu yang sebenarnya setelah kejadian itu. Maaf ya, waktu itu."

“Hahaha, jadi begitu ya. Jujur meski selalu tinggal bersama ayah. Aku tak tahu masa lalu sampai sebanyak ini.”

"Kau mau dengar yang lain? Kalau bicara kejelekkan ayahmu, aku bisa cerita sampai seharian penuh. Hahaha! Maaf, aku terlalu melebih-lebihkan."

"Hush! Mama..." Leena memperingatkan supaya Alzen tak tersinggung.

"Aku rasa sudah cukup, aku jadi tahu banyak soal ayahku. Bukan dari mulutnya sendiri, melainkan teman lamanya yang mengejutkannya adalah ibu dari teman seangkatanku. Terima kasih tante. Habis ini aku mau kembali dan bertanya padanya langsung."

"Hahaha! Ceritakan saja semuanya. Dia pasti ingat aku. Mungkin ayahmu punya banyak kekurangan, tapi kejeniusannya. Luar biasa! Kau harus bangga padanya. Tapi jangan meniru yang jelek-jelek darinya."

"Ya!" angguk Alzen.

"Alzen..." Leena memandangi Alzen yang tersenyum senang.

“Hah... nostalgia,” kata Marrian dalam hati. “Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan pada anaknya ini.”

***

Setelah Marrian cerita panjang, di pagi harinya...

Di kelas Stellar. Anak-anak Umbra, Terra dan para pendukung Nicholas masih melanjutkan perayaannya lagi setelah melewati jeda yang bernama tidur malam. Sesudah mereka beristirahat mereka kembali dan memuja-muja Nicholas sekali lagi, seolah perayaan semalam itu belum cukup.

"Nico! Nico! Nico!"

"Oy! Kapan kita makan-makan!" sahut anak kelas Stellar yang mendalami ilmu sihir Darkness.

"1 juta Rez nie...! Traktir dong!"

"Tenang-tenang semuanya." sahut Nicholas yang berdiri di belakang meja guru, menatapa seluruh teman sekelasnya yang duduk di bangku kelas. "Nanti malam, kalian aku undang untuk makan sampai puas. Semahal apapaun, semuanya! Aku yang bayar!"

"Woeey... Nico! ... Nico! ... Nico!"

"Tapi ingat, mentang-mentang gratis. Tahu diri!"

"Wahahaha!" seisi kelas tertawa.

Lalu Sinus menyenggol Velizar di sebelahnya. "Tuh bener kan? Makan-makan kita!"

"Haaaah... kau ini," Velizar menghela nafas. "Kau tidak merasakan ada yang aneh?"

"Apa? Apa yang aneh?"

"Anak yang sering kau bully itu mana?" tanya Velizar. “Daritadi tidak kelihatan.” 

"Ahh paling dia nangis di kamar. Kalau kesini juga dia mau apa. Sudahlah, nanti di kelas juga muncul tuh anak."

“Hahh... kau terlalu menggampangkan.”

BRUGGHHH !!

Terdengar suara orang membuka pintu dengan hentakan keras. Dan semuanya berpaling menatapnya.

"Hosh... hosh... kucari daritadi ternyata disini kau rupanya." kata Lio dengan nafas lelah dan masih dibalut perban, ia baru saja keluar dari ruang rawatnya. "Aku perlu bicara dengan Nicholas."

"Haa? Si sampah ini? Mau bicara denganku?" sindir Nicholas dengan tatapan merendahkan. “Si juara empat tapi tidak bisa apa-apa melawanku dan Leena. Dasar... le...mah.”

"Wahahahaha!" seisi kelas menertawainya. Ada lebih dari dua ratus orang disana. Ramai sekali.

"Dia tuh yang kemarin dihajar habis-habisan dengan sihirnya Nicholas."

“Dan ditebas dengan pedang Leena.”

"Anak Ignis yang payah itu. Dia disini... Buahahaha!"

"Kau ngapain kesini, mau balas dendam sama Nicholas? Kamu tidak akan menang! Hahaha!"

"Woy! Turnamen sudah selesai bodoh! Ngapain masih kesini!"

"DIAM !! BRENGSEK !!" teriak Lio dengan marah hingga merah wajahnya dan keluar urat kepalanya sambil tangannya menghentakkan api ke pintu. "Aku tak punya urusan dengan kalian! Aku kesini untukmu, Nicholas! Aku perlu bicara denganmu sekarang. Ini bukan soal turnamen atau dendam atau apalah!" ucap Lio dengan menghempas tangan kanannya. "Ini soal lain, hal yang hanya kamu saja yang bisa lakukan."

"Tunggu dulu, pertanyaannya?" jawab Nicholas sinis. "Apa peduliku?"

"ADA!!" jawab Lio dengan nada tinggi. "Kita bicarakan ini saja lebih dulu! Tapi tentu tidak disini."

"Aku menolak." Nicholas tak peduli dengan urusan Lio. "Kau hanyalah sampah. Tak penting buatku. Masalahmu, silahkan urus sendiri."

Lalu Lio bergegas maju mendekatinya. Hingga menarik tangan Nicholas dan memaksanya keluar.

"Hei! Apa-apaan ini?" Nicholas tak terima, ditarik paksa seperti itu.

"HUUUUUU !!"

"Woeeeey! Gak bisa gitu dong! Kita lagi merayakan kemenangan saat ini!"

"Dia sudah kalah, mau ngapain lagi sih?" tanya Sinus.

"..." Velizar hanya diam dengan tangan terlipat, memeluk pedangnya.

Tak peduli dengan riuh keluh di kelas. Lio membisikkan sesuatu ke telinga Nicholas.

"Haa!? Untuk apa?"

"Biar kujelaskan nanti,” lalu bisik Lio sekali lagi.

"Setelah aku kalahkan? Kau jadi kurang waras ya?"

"Ahh susah jelasinnya. Ikuti aku dulu saja. Tolonglah... bantu aku."

"Baiklah, kalau kau sebegitu ingin disiksa." Lalu sahut Nicholas ke para pendukungnya. "Teman-teman, aku ada urusan sebentar dengan si sampah ini. Kalian silahkan bubar saja dan nanti ketemu lagi di restoran di distrik Emerald malam ini. Kita akan makan di restoran All You Can Eat disana. Oke!"

“YAAAA !!” Sahut ratusan orang yang mendukung Nicholas.

"Terima kasih Nico." kata Lio.

"Awas kau kalau menipuku!" bentaknya ke Lio.

"Tidak... Tenang saja."

***

Selagi keluar, Lio membisikkan ini pada Nicholas. Dan cukup menganggu pikirannya selagi berjalan mengikuti Lio. "Aku dengar dari Ranni soal Dreamcatchermu. Dan aku ingin kau meng-cast sihir itu padaku. Jelas kau tidak boleh melakukannya disini. Jadi tolong ikut aku."

"Haa!? Untuk apa?"

"Biar kujelaskan nanti,” lalu bisik Lio sekali lagi. “Meski sihir itu di banned. Kau ingin menggunakannya kan? Jadi kita pergi ke luar Vheins dan diam-diam kau cast sihir itu padaku. Kau mau?"

***

Di jam 8 pagi, mereka sampai di sebuah padang rumput luas, tempat Leena dan Nicholas kemarin, sewaktu melawan Alpha Wolf. Yang bangkainya saat ini masih tergeletak tak terurus saking besarnya, dan lalat. Sudah mengerubunginya. Daging dan tulangnya sudah terkoyak dan kelihatannya seperti bangkai monster raksasa.

"Ihh... bangkai apa itu?" Lio tak tahan dengan baunya.

"Monster lemah," jawab Nicholas. "Abaikan saja."

"Bau sekali! Mau diabaikan gimana?" ucapnya sambil menutup hidung dan mengibas-ngibas tangan.

"Manja banget sih! Yasudah agak ketepi sedikit, kalau keliatan orang lain. Bisa kena lapor pak tua itu dan Ayah akan membuat segalanya menjadi sulit. Sekali lagi kupastikan. kau tidak menipuku kan?"

"Tidak... Aku kesini karena kudengar dari Ranni soal efek lain dari Dreamcatcher. Dan aku membutuhkan itu."

"Jadi? Kau berniat disiksa oleh sihirku?"

"Benar separuh, tapi aku butuh efek lain dari sihir. Jadi, aku siap. Cast sihir itu padaku..." Lio membuka kedua tangannya lebar-lebar seolah pasrah dan memberi diri untuk dikenai sihir itu. "Sekarang."

“Hah! Kau benar-benar bodoh! Kau sendiri yang memintanya...”

 “DREAMCATCHER !!”

“HWAAAAAAA !!”