Episode 47 - Aftermath


-  Second Semester Arc starts here -  


Tok! Tok! Tok!

Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Dan seseorang sudah berdiri di depan pintu kamar asrama Alzen.

"Duh... siapa yang datang pagi-pagi begini sih?" keluh Alzen yang masih ngantuk. "Chan... buka pintunya dong."

“Hmm... nyem... nyem... nyem.” Chandra masih tertidur pulas dengan air liur membahasi bantalnya.

“Ahh dia lebih tidak mungkin.” Alzen mau tak mau bangun dan membuka pintu, melihat teman sekamarnya tidur dengan posisi aneh dan selimut serta bantal yang tercerai berai.

Alzen membuka pintu dengan rasa terpaksa. "Siapa sih yang datang pagi-pagi begi..."

"Hi!"

"Haa!!? LEENA!?" Alzen kaget sampai terjatuh.

"Ssst... jangan berisik bodoh!" bentak Leena dengan suara pelan sambil jari telunjuknya di tempel di depan bibirnya. "Diam-diam. Aku kesini tuh sembunyi-sembunyi. Jadi jangan berisik."

"Ta-tapi... kenapa?" Alzen bertanya dengan posisi duduk di lantai.

"Sudah tanya-tanyanya nanti saja. Kamu cepetan ambil jaketmu dan ikut aku."

"Tapi, aku bahkan belum mandi."

"Sudah... urusan mandi, nanti mandi di rumahku saja."

"Haa!?"

"Buruan, nanti ada yang lihat."

"Oke-oke." jawabnya canggung.

Alzen segera bergegas membuka lemarinya dan ikut pergi bersama Leena, melangkah secara diam-diam tanpa suara. Alzen bahkan lupa mengunci kamar dormnya.

Sementara itu Chandra,

"Hmm... nyam, nyam... Alzeenn... kamu enuak buanget sih..."

***

Turnamen telah berakhir, dan sekolah ini tahu betul. Kapan waktunya berjuang dan kapan waktunya bersenang-senang merayakan kemenangan. Kepala sekolah Vlau memberikan libur 3 hari untuk memberi mereka waktu bersukacita, sebelum akhirnya, memasuki rutinitas kelas kembali.

Sebagian besar pelajar tentu masih tinggal di asrama sekolah, karena alasan kampung halaman mereka jauh. Bukan hanya orang-orang dari 6 negara di benua Azuria yang jauh-jauh belajar disini. Yang berasal dari luar benua inipun tetap berjuang belajar disini. 

Namun sebagian lagi kembali ke rumah mereka, terutama bagi para pelajar yang berkewarganegaraan Republic of Greenhill. Kampung halaman mereka sangat dekat. Mereka pulang dan menceritakan pengalaman mereka selama 3 bulan bersekolah di sini kepada teman-teman, orang tua dan keluarganya.

Namun di hari pertama liburan ini. Seolah semua murid memiliki agendanya sendiri, yang tertunda karena sibuk mengikuti turnamen kemarin. Dan karena turnamen juga, mereka jadi saling mengenal satu sama lain. Bukan hanya secara kemampuan sihir, melainkan kepribadian.

Mereka seolah mengatakan, Seusai turnamen, aku akan... 

Seolah semua murid punya rencananya masing-masing.

***

Alzen dan Leena menyelinap keluar gedung asrama pria, Leena juga memakai baju rumahan yang casual, ia mengenakan kaus pink dan celana pendek, sangat pendek. Tidak dengan jubah putihnya yang biasa ia kenakan. Ia juga tidak membawa pedangnya yang selalu ia sarungkan di pinggang.

Mereka keluar asrama saat langit masih gelap. Gelapnya subuh yang sebentar lagi akan disinari matahari terbit. Udaranya juga terasa sangat sejuk dan segar, mengingat di sekitar dorm, di tanami banyak pohon-pohon dan pot bunga.

"Le-Leena, kita mau kemana?" tanya Alzen tanpa tahu apapun.

"Ke rumahku. kan aku ada janji sama kamu." kata Leena sambil menarik tangan Alzen.

"Janji?” Alzen bertanya. “Janji apa?"

Tanpa memalingkan muka, Leena menjawab. "Soal ayahmu...”

“Ayah?”

“Iya, ayahmu. Kildamash Franquille. Waktu itu aku belum sempat cerita kan?"

Alzen mencoba mengingat-ingat. Namun setelah itu, ia tak bertanya apa-apa lagi. Ia berlari selagi ditarik Leena menuju rumahnya.

***

Setibanya mereka di rumah Leena, rumah besar di salah satu komplek perumahan kelas menengah keatas di kota Vheins. Rumahnya dominan berwarna putih, dengan pilar-pilar putih dan teras yang lebih seperti kebun kecil. Dengan bunga warna-warni dan ada air mancur di dekatnya.

"Puah... akhirnya sampai juga. Hosh... hosh..." Alzen merasa lega, meski nafasnya tersengal-sengal. "Lagian kenapa kita harus lari sih."

"Apa boleh buat, Hosh... hosh..." jawab Leena dengan keadaan yang sama. "Memangnya kita boleh punya kuda di dalam lingkungan sekolah."

"Maksudku, pakai sihir gitu."

"Pakai sihir juga terlalu mencolok nantinya." jawab Leena. "Sudah kubilang aku membawamu secara diam-diam tahu. Ahh yasudah... yang penting kita sudah sampai."

"Ke rumahmu lagi? Sudah dua kali aku kesini."

"Hehe... tak seperti kebanyakan dari kita, keluargaku memang tinggal di Vheins. Jadinya ya gitu... aku jarang tinggal di dorm. Hihi..."

"Padahal untuk 3 bulan pertama, tidak dibolehkan kan?" kata Alzen yang merasa Leena agak curang.

"Hihi," senyum Leena sambil mengelak. "Biarin...” katanya dengan nada masa bodoh. “Ayo masuk, Alzen."

Di lantai pertama rumah Leena. Tempatnya masih sama seperti saat Alzen pertama kali datang dulu. Hanya saja saat ini masih subuh, suasananya masih seperti malam hari namun perlahan-lahan matahari mulai bersinar.

"Mama... aku sudah bawa orangnya nih."

"Loh!? Ibumu sudah menungguku? Untuk apa?"

"Nanti aku kasih tahu, kamu mandi dulu gih."

"Di rumahmu?!"

"Iya... memangnya mau dimana lagi?" balas Leena. “Sudah cepat sana.” katanya sambil mendorong Alzen ke arah kamar mandi.

***

Beberapa saat kemudian, Alzen telah masuk ke sebuah kamar mandi mewah. Mungkin ini adalah kamar mandi termewah yang pernah ia rasakan. Tentu dengan kecanggihan teknologi sihir Vheins. Kamar mandi modern, bisa di duplikasi dengan bantuan alat-alat sihir.

Seperti misalnya shower, mengeluarkan gelembung air yang keluar dari alat sihir ini. Lalu menurunkan tetesan hujan deras dari gelembung tersebut. Sangat mirip, hanya penerapannya banyak bergantung pada kemampuan sihir.

***

"Puah... segarnya..." Alzen keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja.

Leena sudah menunggu sedari tadi dan menatapnya tajam, sesaat Alzen keluar dari kamar mandi. "Hee? Kamu mandi lama sekali sih? Kayak cewek aja."

"Aaa... soal itu." Alzen garuk-garuk kepala, bingung harus menjawab apa. Karena sedari tadi, Alzen lebih condong mencoba berbagai macam alat yang tak pernah ia lihat atau alami sebelumnya. Jadi, ia menghabiskan dua kali lebih lama dari waktu normal dia mandi.

"Yasudah, kamu pakai bajumu yang tadi lagi sana. Soalnya disini tidak ada baju pria," kata Leena sambil perlahan berjalan menjauh, namu tiba-tiba ia menoleh kembali." Atau... kau mau pakai bajuku?"

"Haa!? Apa-apaan!?” Alzen kaget namun perlahan menjadi curiga. “Ini pertanyaan jebakan ya?" 

"Hahaha... kau sadar ternyata. Kupukul kau, kalau bilang mau."

"Benar kan..." kata Alzen dalam hati.

Kemudian Alzen bersiap-siap dan kembali ke ruang tamu mereka untuk membicarakan sesuatu. Yang Alzen masih bingung, kenapa ibu Leena ikut dalam pembahasan ini.

"Halo tante," sapa Alzen dengan sopan sekaligus agak canggung. "Maaf menunggu lama. Habis kamar mandinya, bagus sih."

"Bukan masalah." jawab ibu Leena tersenyum. Parasnya sangat persis seperti Leena. Ia pirang, berambut panjang, hanya saja terlihat lebih tua dan mulai keriput dan rambutnya dikonde. Usianya sekitar pertengahan usia 40 tahun. "Ck,ck,ck, paras dan rambut birumu. Kamu benar-benar anaknya, kau sangat mirip dengan dia ya... si sialan itu."

"Si sialan? Maksud tante, ayahku? Memangnya kenapa dengan-"

Potong ibu Leena. "Duduk-duduk," tunjuk ibu Leena sambil mempersilahkan. "Silahkan duduk dulu. Diam dan dengarkan aku."

"Te-terima kasih." Alzen menurutinya dengan malu-malu.

"Kamu cepat mengerti. Si sialan yang kumaksud itu, ya ayahmu. Kildamash Franquille."

"Hee!!? Tante kenal ayah?" Alzen kaget bukan kepalang, sampai-sampai menggebrak meja dan langsung berdiri lagi. "Kok bisa!?"

"Ayahmu dan ibuku," sambung Leena. "Dulunya teman satu angkatan. Di Vheins ini. Dia di cap buruk oleh ibuku dan di ceritakan sebagai sosok yang kurang baik di keluarga kami."

"HAA!?" Alzen terkejut lagi.

"Kamu gimana sih?! Ayah sendiri masa gak tahu?" Leena heran.

"Ma-maaf, soalnya ayah tidak pernah cerita soal masa lalunya."

"Kau tak pernah bertanya juga?"

"Pernah... tapi selalu dialihkan dan tak berakhir dengan topik lain. Sampai-sampai aku malas sendiri jadinya."

"Kalau begitu tanya ibumu."

"Aku cuma tinggal berdua sama ayahku."

"Ahh... begitu ya," Leena berhenti bertanya dan melipat tangannya. "Kita berarti sama ya."

"Hahaha... sifatmu juga mirip sekali dengan dia." Ibu Leena tertawa keras sekali. "Kau betul-betul anaknya."

"Haha iya," tawa Alzen pelan sambil garuk-garuk kepala karena canggung. "Kan memang aku anaknya."

"Nama ibu... Marrian Leanford. Kamu... Alzen Franquille kan?"

"I-iya..."

"Melihat prestasimu di Vheins Magic University. Kau jauh berbeda dengan ayahmu, dia tidak populer. Ahh setidaknya dia lebih terkenal sebagai siswa yang seenaknya sendiri. Banyak yang tak suka padanya, termasuk ibu."

"Benarkah? Terus-terus."

"Haha... kau terlihat seperti baru pertama kali dengar ya. Memang si Kild itu orangnya tertutup sekali. Jarang mau cerita, bahkan sama anaknya sendiri. Hmm... mulai dari mana ya?"

Kemudian Alzen sibuk mendengarkan kisah ayahnya dari ibu Leena. Marrian Leanford. Tanpa ia sadari, Alzen mendengarnya dengan posisi kursi terbalik, dengan senderan kursinya menopang kedua lengan dan dagu Alzen. Agak tidak sopan memang tapi Leena dan ibunya, Marrian tidak terlalu mempedulikan.

***

"Kalau bicara soal ayahmu. Jelas kita tidak bisa lepas dari sekolah ini. Karena aku dan ayahmu adalah salah satu angkatan tua di Vheins ini, kami bersekolah disini sudah lebih dari sekitar 20 tahun lalu. Haha... Sudah lama sekali kan?"

Sambung Marrian. "Dan Vheins sekarang. Sangat-sangat jauh lebih baik, semenjak pak Vlaudenxius jadi kepala sekolahnya. Saking hebatnya orang itu. Ia tidak tergantikan. Sampai menjabat sebagai kepala sekolah sekaligus gubernur sampai puluhan tahun."

"Ohh... jadi begitu," komentar Leena. "Aku baru tahu." kemudian ia duduk juga, disamping Alzen. Mendengar nostalgia ibunya.

"Iya, dahulu Vheins tidak sebagus sekarang. Dulu kami sekolah 4 tahun untuk bisa lulus. Kami belajar semua sihir elemen yang bahkan kami tidak bisa cast. Banyak pelajar kala itu yang mengeluhkan hal ini. Tapi pihak sekolah, seolah tutup telinga dan beralasan supaya anak-anak mengerti kelebihan dan kelemahan setiap elemen atau semata untuk mengikuti sistem yang sudah ada. Padahal, kami bisa mengerti sendiri kalau sudah berhadapan langsung, bahwa cara belajar seperti saat itu. Salah."

"Hari-hari sekolah juga diisi dengan teori-teori dalam buku sihir. Setiap elemen harus kami hafal dan mengerti. Karena jika tidak, ujian tertulis kita akan dalam masalah. Praktek hanya ada seminggu sekali dan juga sebentar sekali. Yang akhirnya pandai bertarung setelah lulus, itu juga karena mereka sibuk mengambil Quest sewaktu masa sekolah dulu. Pokoknya Vheins dulu benar-benar payah. Dan sialnya aku ada di angkatan itu. Hahaha! Kalian beruntung loh. Bisa merasakan Vheins yang sekarang dipegang pak tua itu."

"Saat itu? Vheins sudah jadi sekolah sihir terbaik?" tanya Alzen.

"Tentu saja tidak... Vheins dulu sangat tidak bernilai. Sekolahnya saja yang besar. Tapi sistem pendidikannya membosankan. Padahal sudah ada sejak tahun 1800 loh... tapi begitu... 80 tahun berdiri,sistem pendidikannya tidak menyesuaikan sama sekali. Ya apapun yang diurus pemerintah, lebih sering tidak beresnya. Entah dananya lari kemana. Karena kualitas dan biayanya tak berbanding lurus.”

"Tapi lain cerita ketika pak Vlau yang menjabat dan menjadi kepala sekolah disini. Dia sangat keras dan orang juga segan melawannya. Kalian tahu? Dia bisa 7 elemen loh... siapa yang berani menantangnya? Satu lawan saut dengannya adalah hal yang mutlak. Bahwa Gubernur Vlaudenxius yang menang."

"Sebentar-sebentar, aku jujur saja penasaran." tanya Leena. "7 elemen yang dimilikinya itu, apa saja ma?"

"Aku cuma tahu 6, Api, Angin, Air, Tanah, Petir dan satu lagi Es. Yang terakhir aku tak tahu. Ia tak pernah menunjukkannya."

"Haa!? Pak Vlaudenxius bisa kelima elemen mainstream itu!? Bagaimana caranya?"

"Mana kutahu! Hanya dia yang bisa. Aku saja seumur hidup hanya bisa satu elemen cahaya saja." balas Marrian. "Entahlah, pak Vlau memang orang jenius sih. Nah... setelah Vheins dipegang dia. Semuanya berubah, memang tak instan. Prosesnya butuh 10 tahun kemudian, setelah ia berjuang menentang dan melawan banyak pejabat pemerintah di ibukota Letshera hingga penuh kontroversi. Dan pada akhirnya, angkatan kalian lah yang menikmati buah kerja kerasnya. Vheins jadi sekolah sihir terfavorit se-Azuria bahkan menarik siswa dari negara-negara lain. Dan kalian rasakan sendiri kan? Kalian bisa fokus ke elemen yang kalian kuasai dan kalian belajar dengan rasa senang. Wah enaknya... kalau bisa, aku ingin sekolah lagi deh. Hahaha!"

"Wah... menarik sekali." Alzen tersenyum senang, ia mendengarnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

"Ehemm... ya tadi sedikit soal Vheins di masa lalu. Dengan kondisi belajar seperti itu. Ayahmu. Si Kildamash itu, kerjanya bolos terus. Dia buruk sekali."

"Bolos!? Ayahku sering bolos!? Apa benar begitu." Alzen meragukannya.

"Iya... tapi nyebelinnya, nilai si Kildamash ini bagus terus."

"Kok bisa? Ayah curang kah? Nyontek?" tanya Alzen.

"Aku juga penasaran waktu itu, jadi aku buntutin dia secara sembunyi-sembunyi sewaktu kami masih muda dulu.”