Episode 24 - Kutipan favorit Danny


Siang hari setelah pulang sekolah, Raku segera berganti dengan pakaian olahraga berwarna hijau dan pergi keluar. Hari ini ia akan ikut berlatih bersama Danny dan Rito. Dengan santai, Raku berjalan sambil melihat peta sederhana yang telah digambar oleh Danny.

“Kurasa di sekitar sini...,” gumam Raku sambil menoleh ke kiri dan kanan.

“Hei, di sini!” 

Raku mendengar teriakan yang sangat familiar di telinganya, kemudian dia menoleh ke arah suara tersebut dan melihat Danny dan Rito. 

Danny memakai pakaian olahraga berwarna hitam sedangkan Rito memakai pakaian olahraga berwarna merah favoritnya.

Raku berjalan menghampiri mereka berdua, “Aku tidak terlambat, kan?”

“Haha, santai saja, kita baru saja mau mulai.” Ucap Danny.

“Baguslah kalau begitu,” ucap Raku sambil tersenyum, “Oh iya, perkenalkan, namaku Rangga Kuncoro, tapi panggil saja aku Raku.” Sambil mengulurkan tangan kanannya pada Rito.

Rito menyalami tangan Raku sambil tersenyum, “Aku Risky Tohir, tapi panggil saja aku Rito.” 

“Oke, karena kalian berdua sekarang sudah saling kenal, kita langsung ke acara utama saja.” Ucap Danny dengan semangat.

“Kita langsung latihan? Eh tunggu, ngomong-ngomong latihannya seperti apa?” tanya Raku.

Rito memutar bola matanya pada Danny, “Belum kau beri tahu?”

“Hehe, aku lupa,” Ucap Danny sambil tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalangnya, “Tidak usah terlalu dipikirkan, kau ikuti kami saja.” 

“Baiklah kalau begitu.” Balas Raku.

“Oke, kita mulai saja, kau siap, kan?” tanya Rito pada Raku.

“Siap tidak siap, aku harus siap.” Jawab Raku.

“Baiklah, kita mulai, tapi sebelum itu kita pergi ke bawah pohon itu dulu, pemanasan di sini rasanya sangat panas.” Ucap Danny sambil meringis dan berjalan menuju pohon besar di samping rumahnya.

“Hehe, tapi bukannya itu malah bagus, pemanasannya jadi dua kali lebih efektif, lagipula ini pemanasan, kan?” Balas Raku.

“Kau benar, tapi aku lebih lebih setuju dengan Ide itu.” Ucap Rito sembari berjalan mengikuti Danny.

“Yah, bukannya aku benci panas, sih, aku hanya tidak suka sendirian.” Raku berkata sambil mengikuti di belakang Rito.

Sampai di bawah pohon, Danny, Raku, dan Rito segera memulai pemanasan. Dimulai dari peregangan seluruh tubuh, seperti leher, tangan, kaki, dan pundak. Kemudian di lanjutkan dengan squat yang bertujuan untuk menghangat kaki dan diakhiri dengan jumping jack untuk meningkatkan semangat.

Dan dengan itu, pemanasan singkat mereka selesai. Meskipun tidak lama, tapi cukup untuk membuat mereka mengeluarkan banyak butiran keringat dari pori-pori tubuh, terutama Danny, yang memakai pakaian olahraga berwarna hitam, yang sangat mudah untuk menyerap panas. Faktor lain yang menyebakan itu adalah angin di siang hari ini yang bertiup membawa udara musim kemarau. Jadi, meskipun berada di bawah pohon, mereka tetap saja merasa panas.

Setelah itu, tanpa basa basi lagi, mereka segera berlari mengikuti rute yang biasa ditempuh. Irama langkah kaki mereka terdengar seirama meskipun ini adalah pertama kalinya mereka berlari bersama. Panas matahari menusuk kulit mereka bertiga dan membuat lebih banyak lagi butiran keringat yang bercucur dari seluruh pori-pori tubuh mereka. 

Saat di perjalanan, banyak gadis-gadis yang terpaku menatap mereka bertiga, khususnya pada Raku dan Rito. Wajar saja, dengan tubuh yang sangat atletis dan kulit cokelat khas pria pekerja keras, Rito terlihat seperti seorang pria yang sangat bisa diandalkan. Sedangkan untuk Raku, tidak perlu dipertanyakan lagi, itu karena wajah tampannya.

Untuk orang terkahir, yaitu Danny, orang-orang hanya melihatnya sekilas lalu mengabaikannya, dan melihat pada dua lainnya.

Tapi mereka bertiga, yang menjadi pusat perhatian sama sekali tidak menyadari hal ini, jika mereka tahu, terlebih untuk Danny, dia tidak akan tahu harus tertawa atau menangis. Situasi ini benar-benar tragis.

Mereka bertiga terus berlari dengan irama kaki yang sama. Setelah berlari cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat istirahat pertama. Yaitu sebuah pertigaan, tempat berjualan para penjual kaki lima, mulai dari penjual gorengan, cendol, es kela-tidak penting. Yang lebih penting, kemana mereka semua? 

Setelah sampai di sana, Danny dan Rito melihat ke sekeliling, tapi tidak menemukan semua penjual kaki lima yang biasa berdagang di sana. Memperhatikan mereka berdua, Raku tidak bisa tidak bingung dengan ekspresi wajah dari Danny dan Rito.

“Ada apa?” tanya Raku dengan bingung.

“Tidak apa-apa.” Danny berkata dengan pelan.

“Baiklah, ayo kita lari lagi, tempat tujuan kita masih jauh!” Rito berkata dengan semangat.

Dengan begitu mereka bertiga kembali berlari lagi. Semakin jauh mereka berlari, semakin sepi pemukiman warga di jalan sekitar. Setelah lama berlari, akhirnya mereka sampai di tepi sungai yang sepi.

Saat ini, matahari sudah mulai tergelincir, tapi masih jauh dari senja. Danny, Raku, dan Rito terengah-engah setelah berlari sekian lama. Baju olahraga yang mereka pakai basah total oleh keringat masing-masing. Yah, tentu saja, mana mungkin keringat tetangga.

“Hah ... hah ... hah ... lalu, selanjutnya apa?” masih terengah-engah, Raku memutar bola matanya dan bertanya pada Danny.

“Hah ... hah ... hah ... tunggu sebentar, aku mau ambil nafas dulu.” Jawab Danny. 

Di samping Danny, Rito yang yang telah mengatur nafasnya berkata, “Selanjutnya kita akan berenang.”

“Berenang?”

“Benar, tapi tidak akan seru jika hanya seperti itu, biasanya kami berdua akan bertaruh, siapapun yang kalah harus mentraktir makan yang menang, kau tertarik?” Rito berkata dengan senyum penuh arti pada wajahnya.

“Sepertinya menarik, baiklah, aku ikut.” Jawab Raku. Lalu tanpa sadar dia menoleh dan melihat Danny yang masih mencoba untuk mengatur nafasnya.

Setelah melihat kondisi fisik dari Danny dan Rito, Raku tidak bisa tidak bersimpati pada yang pertama. Menurut Raku, dengan tubuh atletis yang Rito miliki, tentu dia akan selalu menang dari Danny, dengan begitu, berarti Danny bisa dibilang seperti dompet berjalan untuk Rito.

“Oke, aku siap, ayo kita mulai!” Danny telah selesai mengatur nafasnya. Dia berdiri lalu memandang Raku dan Rito yang sedang duduk sambil mengistiirahatkan tubuh masing-masing.

Raku berdiri dan memandang Danny yang terlihat sangat bersemangat, “Kenapa kau terlihat sangat bersemangat?”

“Haha, tentu saja aku sangat bersemangat, karena besok aku bisa makan sate bukan hanya satu porsi, tapi dua porsi.” Jawab Danny dengan senyum yang cerah.

“Maksudmu, kau pikir bisa mengalahkan aku dan Rito?” tanya Raku dengan mata yang terbelalak. Dia bertanya-tanya, darimana asal rasa percaya dirinya itu?

“Tentu saja!” balas Danny dengan cepat.

“....”

Raku tidak bisa berkata-kata.

“Haha, sebaiknya kau jangan meremehkan dia, dalam pertandingan kami, dia menang lebih banyak dari aku.” Ucap Rito yang kini ikut berdiri.

“Uh ... apa? Kau tidak bercanda, kan?” untuk beberapa alasan, Raku berpikir bahwa apa yang Rito katakan sangat tidak masuk akal. Rito memiliki tubuh yang sangat atletis, sedangkan Danny memiliki tubuh yang sangat normal, bahkan bisa dibilang sedikit lebih rendah dari pria pada usianya. Tapi, untuk berpikir bahwa yang terakhiir bisa menang lebih banyak, ini sangat tidak masuk akal. 

“Hehe, bukan bermaksud sombong, tapi dalam hal berenang, bahkan Rito bukan lawanku. Dari kecil aku sudah sangat sering berenang. Pernah suatu saat aku ingin menyelamatkan seorang gadis yang sedang di ganggu di seberang sungai, karena aku tidak melihat jembatan, jadi aku langsung berenang untuk membantunya.” Jelas Danny.

“Hehe, padahal ada jembatan tidak jauh dari sana.” Ucap Rito.

“Kan sudah aku bilang, aku tidak melihatnya,” ucap Danny sambil melirik Rito yang sedang tersenyum lebar, “Lalu aku juga sering dikejar oleh anjing, karena tidak punya pilihan lain, aku lompat ke sungai, dan ada juga saat-“

“Baiklah, berhenti menyemburkan omong kosong, ayo kita mulai saja.” Sela Rito.

“Oke.” Danny dan Raku berkata serempak.

Namun, tiba-tiba saja dari arah belakang terdengar banyak langkah kaki yang mendekat menghampiri mereke. Danny, Raku, dan Rito menoleh untuk melihat. Dan, yang masuk dalam pandangan mereka bertiga adalah tujuh orang dewasa yang dipimpin oleh seorang pria botak.

“Yang mana?” tanya Sony pada Rudi.

“Yang memakai pakaian berwarna hitam.” Rudi menjawab sambil memandang Danny dengan tajam. Andai saja dengan pandangan bisa membunuh, Danny pasti telah terbunuh berkali-kali.

Rito maju selangkah dan berkata, “Siapa kalian?”

“Tidak penting siapa kami, yang pasti kami pasti akan menghajar kalian bertiga, terutama kau!” ucap Sonny sambil menunjuk Danny dengan jari telunjuknya.

Danny melihat ke arah yang di tunjuk oleh Sonny dan menoleh ke kiri lalu ke kanan dan berkata, “Maksudmu aku?”

“Benar!”

“Hei, memangnya aku salah apa?” tanya Danny dengan bingung. Dia tidak tahu harus tertawa atau menangis, tiba-tiba saja segerombol pria datang dan berkata ingin menghajarnya tanpa tahu apa salahnya.

“Jangan berlagak tidak tahu! Aku masih ingat dengan jelas, kaulah orangnya!” teriak Rudi sambil mengingat kejadian waktu itu, ketika aksi mencopetnya digagalkan oleh Danny.

Dalam pikiran Danny tiba-tiba saja Dan berkata, “Dia pencopet tempo hari.”

“Apa?” ucap Danny. 

“Ada apa Danny?” tanya Raku penasaran karena Danny yang tiba-tiba saja terkejut.

“Ah ... bukan apa-apa, hanya saja aku tiba-tiba ingat, mereka adalah pencopet.” Ucap Danny.

“Pencopet? Jangan bilang pencopet waktu itu?” tanya Rito.

“Benar.” Balas Danny.

“Baguslah kalau kau masih ingat, jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan.” Ucap Sonny dengan suara berat.

“Lalu, apa mau kalian?” tanya Danny.

“Bukannya sudah aku katakan, kami akan menghajar kalian dan membalaskan dendam teman kami, Dani!” teriak Sonny dengan marah.

“Danny?” ucap Raku dan Rito serempak lalu melirik ke arah Danny dengan ekspresi aneh.

“Eh? Aku?” ucap Danny dengan bingung.

“Eh?” mereka bertujuh bingung dengan reaksi mereka bertiga.

Danny dengan ragu berjalan dan berkata, “Begini, namaku Danny.”

“...”

“...’

Tiba-tiba saja suasana yang mencekam tadi langsung cair dan menjadi sangat canggung. 

“Sialan! Siapa yang peduli siapa namamu, yang pasti hari ini kau akan kami hajar!” teriak Sonny memecah suasana.

“Memangnya ada yang salah dari apa yang aku lakukan?” Danny berjalan maju sambil menatap mereka, “Saat ada orang yang melakukan hal yang salah, bukannya wajar jika aku mencoba mengoreksinya. Jika hal salah terus dibiarkan, itu akan membuat orang terbiasa melakukan kesalahan, jika aku tidak maju dan memperbaikinya, lalu siapa lagi?” Danny menatap tajam mereka dan melanjutkan, “Orang-orang yang melakukan kesalahan akan terbiasa membuat kesalahan dan akhirnya membuat dunia semakin busuk, dan kemudian itu akan menjadi masalah untuk semua orang!” 

Tanpa sadar, Danny mengucapkan kutipan favorit dari novel kesukaannya.