Episode 4 - Sidya



Hikram menyeruak rerimbunan, sementara dari arah jalanan bisa didengarnya kelotak ribut serta lenguh kerbau penarik pedati si petani yang mulai balik arah kembali ke kotaraja. Andai para prajurit tak berlama-lama, mereka mungkin bisa membantu menangkap para penjahat jika jumlah calon musuh terlalu banyak untuk diatasi seorang diri.

Hikram terus melangkah, sebisa mungkin tak hirau pada halangan macam ranting kayu yang patah atau tumbuhan berduri, walau benda-benda itu mengganggu telapak kakinya yang tanpa alas. Beberapa saat kemudian, setelah melewati susunan pohon yang makin rapat, sampailah ia pada dua jati kembar dengan batang melengkung ke kiri dan kanan, seolah menyambutnya seperti gapura. Sebenarnya jati berbentuk seperti itu tidaklah istimewa. Hikram sudah cukup lama mengembara dan pernah melihat pemandangan yang lebih spektakuler.

Tidak, yang menarik perhatian Hikram adalah sesuatu di batangnya. Matanya menyipit mengawasi goresan di dua pohon itu. Meskipun agak gelap karena tertutup kanopi hutan, matanya yang cukup awas menangkap lambang yang dibentuk menyerupai kalong serta dua buah bulan sabit di sisi kiri dan kanan, yang terukir di badan pohon jati. Ia mengenali simbol tersebut. Itu adalah lambang tak-resmi dari para brandal dan pencuri yang takluk pada Si Bandit Emas, orang bodoh yang menyatakan dirinya raja dari para orang-orang jahat dan bertempat di gurun Godi.

Hikram jadi heran. Ngapain mereka jauh-jauh beroperasi di hutan seperti ini? Bukannya mereka biasanya menyatroni kawasan ramai orang seperti kotaraja atau pasar desa?

Pertanyaan di kepalanya dihentikan oleh jeritan kecil tak jauh dari depannya. Ia segera merunduk dan merayap lebih dekat untuk melihat apa yang terjadi. Sebelum sumber suara itu mencapai jarak pandang, suara obrolan lamat-lamat mendatangi telinganya.

 “Bagaimana, Tuan Putri? Rumah kami luas, indah, dan begitu nyaman. Tentu kamu akan betah tinggal di sini untuk sementara. Duduk manis dan jangan rewel ya, sementara menunggu ayahmu mengirimkan uang tebusan. Jangan coba-coba kabur kalau tak mau sesuatu yang buruk terjadi.”

Hikram menyingkirkan tumpukan daun dan dahan kering yang menutupi pandangan, kemudian semak belukar yang dirasanya cocok sebagai tempat mengintip. Lamat-lamat ia bisa melihat dua sosok dewasa berpakaian gelap sedang duduk bersila, tepat di area bebas-pohon kurang lebih berjarak setombak dari tempatnya berada. Mereka duduk dengan nyaman beralas daun pisang, bekas api unggun berada tidak begitu jauh dari mereka, beserta benda-benda beraneka ragam seperti ransel atau panci yang ditaruh sembarangan. Sosok kecil meringkuk diantara keduanya, wajahnya tak terlihat karena ia membelakangi Hikram.

Yang jelas, lengan sosok kecil itu terikat di belakang punggung.

“Nyaman? Tempat ini lebih kotor dengan kandang babi! Kalian tak pernah membersihkan tempat sembunyi kalian, ya?” si kecil dengan suara cempreng menjawab berani.

Gumaman marah terdengar, kemudian dilanjut dengan suara kulit bertemu kulit. Sepertinya sebuah tamparan.

“Beruntung perkataanmu tadi lolos dari telingaku, jadi biar kuulangi pertanyaannya. Tempat tinggal kami nyaman, bukan?”

“Kandang babi jauh lebih bersih, kau itu tuli atau bagaimana?!”

Hikram memejamkan matanya sesaat ketika suara yang tak diragukan lagi merupakan tamparan kedua yang lebih keras terdengar olehnya. Tak ada seorangpun yang senang ketika tempat tinggal mereka dihina, lebih-lebih jika celaannya diulang seperti itu.

Hikram menggelengkan kepala, mencoba untuk berkonsentrasi mencerna kejadian di depannya. Seorang bocah perempuan yang dipanggil “Tuan Putri” sedang disiksa oleh dua orang penyamun. Menilik keadaannya, sudah tak diragukan lagi bahwa anak itu merupakan korban penculikan!

Naluri kepahlawanannya menggelegak. Tak perlulah menebak-nebak seperti seorang petugas detektif yang sering dipekerjakan oleh para raja. Ia sudah cukup yakin, jadi cukup hadapi mereka dengan cara klasik yang sering digunakan gurunya si Janda Merah; pukul dulu baru tanya kemudian.

Ia buru-buru merancang kata-kata tantangan yang menurutnya pantas selama beberapa detak jantung, kemudian bersegera maju untuk mengumumkan kedatangan.

 Celakanya, ia tak tahu bahwa tepat setelah semak tempatnya bersembunyi terdapat genangan lumpur. Ia langsung terpeleset begitu melangkahkan kaki.

“Berhenti menyiksa atas nama—aduh!”

Kedua penculik menoleh, berganti fokus dari si bocah ke arah suara keras yang dihasilkan oleh jatuhnya Hikram. Si pesilat dengan hati-hati mencoba berdiri ditopang dengan tangannya namun terpeleset lagi, pakaian dan celananya yang sudah kotor jadi makin kotor oleh lumpur.

“Aduh? Siapa Aduh itu?”

“Bukan—wah!” Hikram mencium tanah sekali lagi. Kenapa pijakannya begitu kendor? Bukankah dia sudah melatih kuda-kuda selama puluhan tahun? Kenapa lumpur yang ia pijak ini benar-benar licin, tak seperti lumpur biasa?

“Dia kenapa, sih?” tanya salah satu pria berbaju hitam yang sepertinya lebih muda sembari menunjuk dengan golok di tangannya. Ia mendekati Hikram untuk melihat lebih jelas, kelihatannya benar-benar heran.

“Jebakan yang kupasang sudah membuahkan hasil,” ucap penculik satunya yang berjenggot tebal. Berbanding terbalik dengan kawannya, dia masih duduk santai seolah tak ada satria kelana yang memergoki tempat persembunyiannya. “Tenang, aku sudah tahu kalau ada orang yang menuju ke sini. Kau pasti tidak menyadari pendeteksi diantara dua jati melengkung, kan, Orang Asing?”

“Tunggu, kenapa kau tidak memberitahuku soal jebakan ini?! Kukira obrolan tadi hanya latihan akting saja!”

“Karena aku tahu, Seto, jika kau kuberitahu bahwa tadi bukan sesi latihan kau akan langsung berkeringat dingin dan lupa dialogmu. Sudah, siapkan saja tali. Toh si gondrong itu nanti bakalan capek. Kita ringkus dia setelah dia lelah terpeleset berulangkali.”

“Ringkus? Apakah Putri Sidya sudah memutuskan bahwa—”

Si jenggot membelalakkan mata pada kawannya sembari menaruh jari telunjuk ke mulut.

“Sssstttt! Kita ini penyamun, ingat?” katanya mengutarakan hal yang sudah jelas, “dan aku ingin dia disandera karena dia menguping, ditambah sudah tahu tempat rahasia kita. Siapkan saja talinya dan jangan bicara lagi!”

Dahi si penculik muda mengerut, tapi akhirnya dia menurut juga. Sembari menggerundel pelan tentang ‘bagaimana kalau aku yang terpeleset’ dan ‘mentang-mentang senior’ dia mengobrak-abrik tumpukan barang untuk sejenak kemudian menarik seutas tambang yang terlihat masih baru.

“Sebentar!” dengan susah-payah akhirnya Hikram berhasil menyeimbangkan kedua kakinya untuk menopang tubuh. Meski tungkainya tak stabil, ia berhasil berdiri dengan kuda-kuda yang begitu lebar hingga celananya terancam sobek. ”Aku belum selesai! Atas nama Hikram Sathar sang pendekar budiman, hentikan perbuatan busuk kalian dan lepaskan dia!”

Kedua penculik bertukar pandang. Hikram—walau masih dengan kaki gemetar— langsung tepuk dada, mengira mereka terpukau dengan nama besarnya yang seharusnya memang sudah terkenal sampai delapan penjuru mata angin. “Ya, tak lain dan tak bukan Sang Hikram Sathar sendiri yang kini berdiri di hadapan kalian. Akulah pembawa celaka bagi para penjahat kelas teri maupun kakap! Tenang, tak usah memohon ampun, bebaskan sandera kalian, maka nyawa saudara-saudara penculik sekalian akan terselamatkan. Karena suasana hatiku saat ini sedang enak, aku akan biarkan kalian pergi begitu saja. Bagaimana?!”

Si penculik muda yang dipanggil Seto menggaruk kepalanya bingung sembari menelengkan kepala pada Hikram.

“Si-Siapa namamu tadi?”

“Hi-kram Sa-thar!”

“Nama yang susah diingat, dan aku belum pernah dengar sama sekali.”

“Pasti kau pernah dengar tentang Dewa Arak Kolong Langit! Ya, terperanjatlah!”

“Belum pernah dengar.”

“Penyembur Api dari Hanfeilong?”

“Siapa itu?”

“Serius? Kalau begitu bagaimana dengan Pagar Betis Satu Orang?”

“Itu nama Gelar? Kedengaran seperti posisi bertahan pemain bola sepak bagiku.”

Hikram menggelembung seperti ikan gembung yang ingin mempertahankan diri, wajahnya mulai memerah. “Ayolah! Kalian pasti pernah membaca atau mendengar tentangku di suatu tempat! Aku begitu terkenal di seantero Nagart, adalah mustahil kalau tak pernah dengar tentangku! Hanya sedikit pendekar yang memiliki empat Gelar sepertiku!”

Kedua penculik saling mendekat kemudian berbisik-bisik dengan balik tangan menutupi mulut, masih mengawasi Hikram. Mungkin mereka mendiskusikan apakah mereka pernah dengar nama orang di depan mereka ini di suatu tempat. Kemudian yang paling muda sendiri mengangguk-angguk sok paham.

“Ya, aku pernah dengar sebuah cerita tentangmu!” si Gilda Maling muda mulai tergelak, sementara wajah Hikram makin masam. “Kau pasti mantan jawara konyol yang adu seruduk dengan seekor kambing di Front Barat!”

Wajah Hikram makin memerah. Ia tidak berharap aibnya tahunan lalu itu terkuak, sementara kedua penculik yang diincarnya ketawa senang.

 “Bukan seperti yang kalian duga! Mereka memaksaku untuk—”

Hikram tak bisa meneruskan kata-kata penyangkalannya. Kedua anggota Gilda Maling terbahak makin keras sampai menepuk-nepuk lutut dan memegangi pinggang.

Hikram menggeram, ia mau menerjang, tapi malah akhirnya sukses mencium tanah untuk yang kesekian kalinya seharian ini dengan ‘gedebuk’ yang cukup keras.

Kedua penculik tertawa histeris. Mungkin saja mereka akan terus begitu sampai Hakim Barzah sendiri datang dan menyumpal mulut mereka, kalau saja sosok kecil yang sejak tadi meringkuk tidak berdiri dan berbalik menghadap ketiga orang dewasa yang bersikap kekanak-kanakan itu.

Tawa langsung berhenti begitu wajah si bocah cempreng kelihatan. Ternyata anak perempuan, yang akan kelihatan manis dan lucu kalau saja ia tidak memicingkan mata dan mendongak pongah seperti yang dilakukannya saat ini.

“Sudah cukup bercandanya?”

“Tuan Putri, sabar….”

“Terlalu lama. Lepaskan pengikatku.”

Suaranya sedingin es batu dan bernada final betul. Kedua penculik menelan ludah, kemudian bergegas mendekati si bocah dan melepas tali yang membelenggu lengannya. Setelah ikatan benar-benar lepas, si bocah mengelus lengannya yang terlihat memerah. Hikram benar-benar kaget. Ngapain dua penculik ini melakukan perintah si bocah?

“Cambuk punggungmu sendiri lima kali karena mengikat lenganku terlalu ketat,” si bocah menunjuk si penculik muda, yang segera berlutut dengan wajah dipenuhi rasa takut. Setelah itu, tanpa ragu si Gilda Maling meraih cambuk dari tumpukan barang terdekat, yang baru disadari Hikram juga ada benda-benda aneh di situ baik dari mulai paku berukuran besar sampai kapak bermata ganda, dan mulai menghukum dirinya sendiri diiringi jerit kesakitan.

Hikram ternganga, ia tak habis pikir mengapa si penculik mau-maunya menyiksa dirinya sendiri. Siapa sebetulnya bocah ini?

“Potong jenggotmu karena tertawa terlalu keras, sehingga mengganggu pendengaranku,” si bocah menuding penculik satunya yang kemudian bergegas sujud berkali-kali dan meminta ampunan layaknya dijatuhi hukuman oleh seorang dewa. Si anak kecil tetap diam dan menunggunya, bahkan tak peduli pada keluhan tertahan dari si penculik muda yang sedang dalam proses pencambukannya yang ketiga.

Sadar bahwa permohonannya tak diterima, si penculik meraih golok yang tergeletak dan mulai memotong rambut yang tumbuh di janggutnya itu pelan-pelan. Wajahnya dibumbui penyesalan, namun hukuman tetap ia jalankan.

Si bocah mengangguk tanda menghargai. Matanya beralih pada Hikram yang sejak tadi hanya mengawasi kejadian di depannya, sampai lupa bahwa ia tengkurap dan berkubang di dalam lumpur yang mulai menembus, bagian-bagian tubuhnya terasa basah. Sadar sedang menjadi pusat perhatian si bocah, mata Hikram melebar.

“Kau,” si bocah tak repot-repot menunjuk untuk memberitahu siapa yang ia ajak bicara kali ini, “Hajar dua penculik ini. Dengan kewenangan yang diberikan pada namaku, Sidya, jalankan perintahku.”

---