Episode 3 - Jebak


Hikram menelusuri jalan sambil menyisiri rambut hitam panjangnya yang acak-acakan. Keributan dengan orang-orang Jaffar itu membuat suasana hatinya memburuk. Padahal tadi ia berpikir-pikir untuk melanjutkan tur minumnya ke kedai lain, tapi kini dia segera mengurungkan niat.

Hal pertama yang harus Hikram lakukan adalah segera keluar dari kotaraja, bukan malah berkeliling lagi. Kebodohannya dalam mengutarakan nama serta Gelarnya bisa membuat konflik antara pasukan reguler dan legiun meruncing, menurut pemikirannya yang kata orang memang tajam.

Angkatan militer biasa pada dasarnya membenci para legiun, tak lain karena mereka berasal dari daerah jajahan sehingga loyalitasnya patut dipertanyakan. Begitu berita bahwa seorang prajurit dari Legiun Asing menyerang mantan jawara sepertinya terdengar di telinga mereka, mereka akan langsung memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkan kredibilitas legiun di mata kaisar.

Hikram menghela napas. Ia sudah cukup muak dengan segala politik bahkan ketika masih bergabung bersama Ordo Para Jawara dulu. Oleh karena itu ia memilih untuk kabur sebelum dicekal oleh militer dan dipaksa untuk bersaksi bahwa ia benar-benar diserang, atau lebih buruk lagi, ia akan ditangkap oleh legiun dan … dihilangkan. Walau ia pegang empat Gelar, tak akan berguna kalau dia dikeroyok banyak orang yang tak ia ketahui kesaktian apa yang mereka simpan.

Tapi kemana? Ia tak punya tujuan untuk saat ini, dan koceknya benar-benar kering. Pengembara sepertinya bisa saja mengemis atau bekerja kasar secara paruh waktu di pasar, tapi ia tak boleh berlama-lama lagi, sehingga kedua hal itu bukan pilihan yang cukup baik. Sejenak ia mempertimbangkan untuk menawarkan tinjunya pada rombongan pedagang yang mencari pengamanan, seperti layaknya orang rimba persilatan biasa, sebelum mengusir pikirian itu. Hikram sendiri sebenarnya memang menganggap hal itu kurang pantas dilakukan jika tidak dalam keadaan terjepit, dan ini semua rasa-rasanya belum cukup genting. Tak layak seorang Mantan Jawara pelanglang buana rimba persilatan menawarkan jasa pukul-memukul semudah itu, jauh tidak layak ketimbang bekerja kasar atau mengemis sekalipun.

Hikram tak menyadari bahwa ada yang mengawasinya. Seorang lelaki, yang kini menaiki pedati yang ditarik sepasang lembu berhenti di dekat Hikram. Si pengembara meliriknya. Ia kemudian baru bertanya, “Kemana tujuanmu selanjutnya, Pengembara?”

Ia berhenti melangkah, sementara tangan si lelaki segera menarik tali kekang kedua hewan ternak yang menarik pedatinya hingga mereka tetap diam di tempat dan tidak gelisah.

“Menuju ke depan dan tidak menoleh ke belakang,” jawab Hikram pendek setelah mengamatinya kembali.

Si petani berpedati tertawa. Wajah mudanya tampak sangat terkesan. Hikram sepertinya pernah melihat wajahnya dalam waktu dekat ini, tapi di mana?

“Jawaban khas satria kelana,” ucap si petani kemudian dengan mata berbinar. “Apakah anda butuh tumpangan ke arah selatan? Kebetulan aku mau kembali ke desaku. Anda tak keberatan lewat gerbang selatan, bukan?”

“Ya, boleh juga,” Hikram segera menjawab. Selatan, utara, timur, barat. Mana saja boleh yang penting ia bisa pergi cepat, dan gratis. Lagipula ia juga tidak punya destinasi khusus saat ini. Tanpa sungkan ia memanjat sisi pedati untuk duduk di samping si petani.

Si petani menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, dan kemudian mengarahkan kedua lembunya untuk bergerak sekali lagi, diiringi derak roda kayu.

 “Apa yang membuatmu pulang dengan barang bawaan masih sebegini banyaknya, Nak?” Hikram bertanya demi kesopanan. Dilihatnya bagian belakang pedati masih penuh dengan sayur-mayur segar.

“Pasar sedang ditutup, mau bagaimana lagi?” si petani mengeluh layaknya seorang bangsawan yang menemukan lalat di piring makan siangnya. “Seharusnya mereka menaruh pengumuman besar di pintu gerbang agar kami tahu tentang pembaharuan pasar. Tarif masuk kotaraja tak pernah murah.”

“Ngapain membuang peluang untuk mendapatkan pajak jalan darimu?”

“Benar juga. Menyenangkan sekali tahu bahwa kami harus dicekik untuk memberi makan para bangsawan,” gumamnya berang, membuat Hikram agak terkejut. Omongannya bernuansa pemberontakan, dan Hikram tak perlu repot-repot memberitahu dia bahwa kalau ia mengatakan hal itu di depan seorang darah-biru kepalanya pasti sudah dipenggal. Pastinya si petani sudah tahu.

Hikram sebenarnya mau mewanti-wanti agar tidak mengatakan opininya yang kelewat galak itu di depan publik, tapi sepertinya Ia tak akan didengar. Lagipula, Hikram tak mau menyinggung perasaan si petani yang sudah berbaik hati memberinya tumpangan. Yang mengherankan adalah mengapa si petani sangat terbuka padanya, seolah sudah kenal lama sehingga mengutarakan hal yang seharusnya hanya disampaikan pada orang-orang dekatnya saja.

Lembu-lembu si petani membawa mereka menuju ke gerbang selatan kotaraja, seperti yang pengendaranya janjikan. Jalan keluar cukup ramai dengan kereta kuda dan pedati yang lalu-lalang, belum ditambah dengan para pejalan kaki dan hewan pembawa muatan.

Saat sudah sampai di gerbang melengkung tempat para prajurit berjaga, si petani menyapa kawannya yang baru menyerahkan beberapa sen sebagai biaya masuk.

“Pasar sedang ditutup, Kawan!” Ia setengah berteriak untuk meningkahi ramainya gerbang agar bisa terdengar.

Si petani terbahak begitu melihat temannya membelalak, sementara para penjaga gerbang terlihat tidak senang.

“Ternyata perjalananku kesini tidak sepenuhnya sia-sia, walau hanya untuk melihat wajah sebal para prajurit korup itu,” bisik si petani pada Hikram. Ia melirik lagi para prajurit yang mulai gusar menjawab pertanyaan petani dan pedagang—orang-orang kecil yang menggantungkan hidup pada pasar— yang juga mau masuk kotaraja.

Hikram pernah dengar desas-desus bahwa para prajurit penjaga gerbang Sanfeilong ini memang suka memasukkan beberapa keping uang pajak jalan ke saku mereka sendiri. Meski begitu, ia memilih untuk menjawab dengan gumaman tak jelas.

Perjalanan mereka berlangsung tanpa hambatan. Sesekali si petani bersiul, menyanyikan beberapa lagu, tapi Hikram tidak ikut bersenandung. Hikram lebih sibuk menonton pemandangan yang terpajang di kanan dan kirinya, yang lama-kelamaan mulai didominasi oleh pohon yang mulai gugur daunnya, sementara rumah-rumah mulai jarang kelihatan. Pedati bergerak semakin cepat, apalagi ketika jalanan yang mereka lalui semakin sepi, karena berbagai kendaraan yang keluar bersama mereka dari kotaraja bergerak ke arah lain, menuju desa atau kota masing-masing.

“Ada alasan khusus mengapa kau mengajak orang asing untuk menumpang pedatimu?” Hikram bertanya sembari mengawasi dua pedati lain berbelok, meninggalkan mereka untuk melewati jalur lurus yang sangat becek.

“Tak ada salahnya mengajak seseorang yang sepertinya butuh tumpangan,” si petani menjawab ringan. “Apalagi jika kau tahu dia adalah seorang mantan jawara tangguh, yang merobohkan seorang legiun dengan satu pukulan.”

Hikram menoleh padanya begitu cepat sampai lehernya berkeriut.

“Darimana—”

“Tenang, Pengembara. Aku berada di luar Warung Pisau tadi, dan melihat sedikit keributan yang kau sebabkan,” ia kembali menatap Hikram dengan ekspresi menilai. “Kalau aku yang dikelilingi oleh belasan legiun, aku akan pingsan saat itu juga.”

“Perhatikan jalan,” Hikram menunjuk ke depan. “Kau melihat aku memukul orang, tapi tetap memberiku tumpangan? Benar-benar mengundang masalah. Bagaimana kalau aku menonjokmu dan kabur dengan barang-barangmu? Aku benar-benar tidak tahu jalan pikiran petani jaman sekarang.”

Si petani mematuhi perintah Hikram, matanya kembali fokus ke jalan. Meski begitu ia meringis lebar. “Ha, aku hanya ingin perjalananku aman. Lagipula tak mungkin seorang jawara merampok petani yang tak punya apa-apa.”

“Mantan,” koreksi Hikram atas kesalahan penyebutan Gelar itu sembari memperbaiki sikap duduknya. Huh, jadi inilah sebabnya ia sangat terbuka pada Hikram. Karena ia melihat Hikram mengacau, ia mengira bahwa Hikram juga membenci pemerintah. Padahal Hikram sama sekali tidak peduli siapa yang ada di pucuk kepemimpinan selama mereka tidak mengganggunya.

Si petani meraih bungkusan dari samping kaki. Dengan cepat dilemparkannya benda itu ke arah Hikram, yang menangkap bungkusan kain dengan tangkas. Hikram agak merengut, baru sadar dan tahu kalau si petani mengetes refleknya, terlihat dari senyuman si petani yang sangat berpuas diri. Hikram mengguncang untuk mengira-ngira isinya.

“Makanan,” kata si petani sebelum Hikram bertanya. Hikram membuka bungkusan itu, yang memang benar berisikan beberapa apel yang masih hijau. Dia menggigit salah satunya dengan rakus karena belum makan apapun dan hanya minum arak sepagian ini.

Pedati masih bergerak, dan kali ini dengan kecepatan maksimal demi persiapan untuk melewati bukit. Lembu-lembu penarik pedati melenguh, berjuang menggerakkan kaki-kaki mereka untuk melewati tanjakan yang kian lama kian bertambah curam.

“Anda mungkin tak tahu kalau jalanan menuju ke selatan makin berbahaya, Pengembara. Anda tidak mendengar tentang adanya perampok yang sering mencegat dengan batang pohon?” tanya si petani, yang melayangkan pandang ke arah Hikram sekali lagi.

Si mantan jawara mengunyah apelnya sambil berpikir. Rampok makin berani padahal mereka begitu dekat dengan kotaraja? Benar-benar berita baru. Apa sih yang dikerjakan para prajurit itu hingga penjahat bisa membuat sarang sebegitu dekatnya dengan pusat provinsi?

Hikram baru saja mau melontarkan kalimat yang pasti akan membuat para prajurit penjaga gerbang memukulnya kalau saja mereka dengar, tapi ia mengurungkan niat. Tak lain karena ia melihat sesuatu yang sangat menarik, yang menunggu mereka setelah jalan bukit melandai dengan hutan yang makin lebat saja di kiri dan kanannya.

“Apa para perampok menggunakan tunggul kayu besar semacam itu?” tunjuknya.

Si petani muda kembali menatap ke depan, kemudian menarik tali kekangnya, menghentikan pedati. Wajahnya berubah gusar melihat jalanan benar-benar diblokir oleh batang pohon. Terlalu besar untuk dilompati bahkan jika yang menarik gerobaknya dua atau empat ekor kuda sekalipun. Si petani menengok ke kiri dan kanan, memastikan bahwa tak ada yang mengincar pedatinya dari balik pepohonan.

“Makanya fokuslah ke jalan,” Hikram menasehatinya.

 “Bagaimana kalau kita singkirkan penghalang itu?”

“Kusarankan jangan. Para penyamun biasanya memasang kayu sebagai jebakan agar mereka bisa menyergap begitu mendengar suara kita saat memindahkan batang pohon. Aku mau mengejutkan mereka saja, pasti seru,” Hikram menunjuk ke arah sesemakan. Si petani belum paham, tapi lama-kelamaan ia sadar belukar tersebut pasti pernah dilewati oleh satu atau segerombol orang, melihat betapa batang-batang pohon muda disekitar situ sudah dipatahkan untuk memudahkan mereka lewat.

“Ah, ternyata Anda tidak omong besar. Jeli, dan kuat, anda pasti benar-benar seorang satria kelana! Mana mungkin ada orang yang mau mengejutkan penyamun dan berkata bahwa itu hal yang “seru” kecuali dari kalangan putih?”

Dada Hikram membusung bangga. Dari dahulu para rakyat biasa—golongan si petani yang kisaran dunianya cuma pagar depan rumah mereka— selalu kagum dengan cerita para pahlawan pembela rakyat. Satria kelana, pendekar budiman, atau pesilat kalangan putih hanyalah satu diantara sekian banyak nama. Hikram merasa bangga jikalau dianggap bahwa dia salah satu diantara mereka, dan bukan orang-orang rimba persilatan yang lebih mirip gerombolan orang-orang aneh yang tidak tahu tata krama.

“Sudahlah,” Hikram berkata sambil berkacak pinggang, berusaha dan gagal untuk menyembunyikan rasa berpuas dirinya. “Kau kembali saja ke kotaraja dan beritahu para prajurit agar mereka nanti punya kerjaan. Sementara itu, aku akan membereskan mereka untukmu. Selamat tinggal, terimakasih tumpangannya!”

Sebelum si petani yang sangat kagum itu mampu menjawab, Hikram sudah melompat turun dari tempatnya dan menghilang di antara rerimbunan, menyusul bahaya yang sepatutnya diabaikan oleh mereka yang masih memiliki pikiran yang waras.