Episode 2 - Hikram


Hikram meminum lagi arak putih yang dihidangkan untuknya di meja. Ini mungkin cawannya yang kesepuluh. Atau ke sebelas. Atau kedua belas. Ia belum begitu mabuk, tapi ia jadi ragu apakah ia benar belum mabuk karena tak ingat sudah habis berapa cawan.

Kedai “Warung Pisau” menjadi pilihan pertamanya untuk berhenti sebentar di kotaraja(1) Sanfeilong ini. Memang ia akui hidangannya kelihatan cukup enak untuk ukuran kedai kelas menengah, meski ia tak jadi pesan begitu tahu harga-harganya yang Hikram yakin bakalan bikin seorang raja sekalipun bangkrut dalam sekali duduk.

Kedai tersebut kelihatan sepi, mungkin karena masih pagi atau seperti yang ia bilang, harganya. Hanya meja yang berada tepat di sebelahnya yang telah ditempati, dan kini ramai dengan suara obrolan. Bahkan mereka—yang berjumlah belasan orang harus menarik meja dan kursi tambahan. Masih banyak tempat, kenapa mereka berdesakan tepat di sebelahnya?

Hikram melirik pedang melengkung milik pria yang terbahak paling keras sampai saus satenya muncrat dari mulut. Mereka membawa-bawa senjata padahal saat akan masuk kotaraja mana pun, semua benda tajam yang berpotensi dijadikan alat untuk mengacau akan ditahan di pintu gerbang. Itu berarti mereka sudah diberi kewenangan untuk kemana-mana pamer senjata yang menempel di sabuk itu. Satu-dua malah berambut pirang dan bertato aneh, beberapa sangat pucat sementara lainnya berkulit terlalu gelap. Berbeda dengan orang Nagart kebanyakan yang berambut hitam dan berkulit putih atau coklat muda bersih.

Hikram baru sadar. mereka pasti Legiun Asing, kontingen khusus yang terdiri dari orang luar, direkrut langsung dari negeri-negeri jajahan Nagart.

Hikram tak pernah mempermasalahkan ras atau suku orang lain. Demi Kahyangan, orang boleh mengalamatkan sifat apa saja padanya kecuali rasis. Tapi, kontribusinya dalam perang dengan negeri padang pasir bertahun-tahun lalu berpotensi menimbulkan masalah. Tak ada yang menyimpan dendam kesumat kuat-kuat seperti orang-orang pucat negeri Jaffar dan sejujurnya, gelagat mereka dari tadi mencurigakan. Regulasi legiun melarang siapapun minum selama sedang bertugas, tapi nyatanya mereka duduk di sini, berkelakar di meja sampingnya ini dan asyik melahap sate pedas dan minum arak.

Apalagi, Hikram berulang kali beradu pandang dengan beberapa orang di meja sebelahnya, yang berarti bukan hanya dia yang mencuri-curi pandang.

Mereka juga melakukan hal yang sama padanya.

Mungkin saja ia sedang benar-benar parno karena minumannya sudah bereaksi, tapi tak ada salahnya bermain aman. Maka ia pun berdiri, bertanya apakah minumannya boleh dibungkus atau tidak sebelum pergi dengan kecewa. Ia harus ingat-ingat untuk membeli botol kayu saat dapat uang nanti.

Tepat ketika ia akan mencapai pintu, dua legiun berkulit pucat menghadangnya. Firasat memang tak pernah bohong.

“Salam pagi, Penduduk,” ucap salah satunya dengan satu kepalan tangan di atas dada sembari tersenyum. Kalau saja Hikram tidak menebak mereka orang luar dari tadi, Hikram pasti sekarang tahu karena logatnya masih meninggalkan kesan Jaffar yang jelas, dan bahasa Nagart-nya begitu patah-patah. Senyumnya tidak mencapai mata tajam yang menakutkan, yang masih mencerminkan ketidaksenangan.

“Salam balik,” Hikram menggumam sembari menyingkir dari depan mereka dengan sedikit sempoyongan untuk mengambil jalan lain.

“Sebentar,” si legiun yang berkulit sangat pucat dengan paksa menyalami tangannya, dan itu bukan salaman biasa. Ia menggenggam lengan Hikram, dan itu adalah salaman yang biasanya digunakan antara prajurit satu dengan prajurit lain.

“Kulihat kau tidak asing dengan sapaan ini,” katanya. Ia menggenggam kuat-kuat sampai membuat lengan Hikram menonjol urat-uratnya. “Pernah melayani Nagart sebagai tentara, rupanya? Atau jangan-jangan malah sebagai petugas berpangkat? Dimanakah kiranya Penduduk pernah bertugas?”

“Di manapun yang penting membuatku senang. Di sini senang, di sana senang, dimana-mana diriku senang,” ujar Hikram setengah menyanyi setengah menghindar. Senyum tipisnya membayang. Menilik tangan Hikram yang masih digenggam erat oleh si Jaffar pucat, tentu orang asing ini sama sekali tak terhibur oleh racau mabuknya. “Tolong biarkan pengembara mabuk ini menuju jalannya sekali lagi, Tuan-Tuan,” Hikram buru-buru menambahkan, takut kalau mereka salah tanggap atas gurauannya.

“Sepertinya aku tahu di mana kau pernah melayani Nagart,” satunya yang meyedekapkan tangan menyalak galak, “Mari cepat kita selesaikan ini. Protektorat Barat dekat kampung halamanku. Kenal baik almarhum Ariffin Denari, he?”

Seperti ada yang membunyikan lonceng di telinga Hikram. Ah, semuanya jadi lebih jelas. Ia lebih dari kenal, sebenarnya. Hikramlah yang menohok perut Ariffin Denari—salah satu letnan Jaffar— dengan tongkat bambu, tulang rusuknya hampir patah menjadi dua bagian. Dulu Hikram dengar ia sekarat, tapi sepertinya sekarang dia sudah benar-benar pergi menuju pengadilan Hakim Barzah.

Hikram menghela napasnya perlahan, bisa menebak kemana arah percakapan. “Aku turut berduka cita, tapi itu sudah terjadi lima tahun lalu. Kalian anggota Legiun Asing sekarang. Jangan membuat kekacauan kalau tidak mau memancing amarah kaisar.”

“Urusan pribadi tak ada sangkut-pautnya dengan kaisar! Tak salah lagi, dia pasti si Hikram itu, Kak!”

Si Jaffar pucat mengangguk kaku. Ia tak melepaskan pandangannya yang dingin. Tangannya menggenggam lengan Hikram lebih kuat lagi sampai buku-buku jarinya memutih, “Legenda hidup pemblokir salah satu jalan benteng Protektorat, Hikram Sathar. Dia yang mampu membeli waktu agar para Ksatria Flamboyan bisa mengobrak-abrik semua. Aku sebenarnya ingin—”

Ia tak dapat menyelesaikan kata-katanya. Lengan kiri Hikram keburu melesat untuk menonjok keras ulu hatinya. Si Jaffar melotot saat hantaman mendarat dengan suara keras. Ia mengejang sedikit untuk kemudian langsung roboh tertelungkup, tangan yang menahan Hikram lepas dengan sendirinya, sementara orang Jaffar satunya mundur beberapa langkah. Di wajahnya tersirat ketidapercayaan yang sangat kelihatan melihat orang yang ia panggil “kakak” roboh semudah itu.

Hikram tanpa rasa bersalah sedikitpun merapikan lengan bajunya yang berantakan akibat gerakannya dalam memukul. Ia berucap pada Si anggota Legiun Asing yang pingsan dengan tak sabaran sembari mengelus-elus tangan kanannya, “Permisi dan maaf ya, tapi kau menghancurkan lenganku, Bedebah.”

Suara belasan senjata dicabut dari sarungnya menggema. Semua anggota legiun yang hadir, baik yang berdiri maupun yang masih berada di sekitar meja segera berdatangan untuk mengitari Hikram, senjata ditodongkan ke arah bagian-bagian tubuhnya yang paling vital. Si pemilik kedai mendatangi mereka dengan panik, menyesali bahwa pagi-pagi sudah ada pertengkaran di kedainya. Sementara itu Hikram melirik para legiun yang mengelilinginya, terlihat sama sekali tidak terkesan.

“Maaf, kalau Tuan-Tuan mau berkelahi lebih baik diluar saja!”

“Ada alasan khusus untuk melakukan hal itu, Orang Kumal?” tanya seorang berkulit hitam pekat bersuara dalam pada Hikram yang memang pakaiannya belum diganti selama beberapa minggu. Si penanya tak menghiraukan pemilik kedai sama sekali.

Hikram mengamati pria berkulit gelap yang menanyainya. Mungkin bekas budak yang kabur dari negara barat menilik dari tato yang diukirkan di pipi. Si pria gelap mengalihkan pandang pada kawannya sesama legiun yang kini tak sadarkan diri, sementara pisaunya mengacung dekat sekali dengan wajah Hikram.

“Tak perlulah keributan ini,” Hikram menyingkirkan pisau yang berpotensi melukai wajahnya sampai ke jarak aman dengan cara menampik sisinya. “hanya sedikit salah paham tentang masa lalu.”

“Dia membunuh saudara kami!” tunjuk si Jaffar yang agresif pada Hikram yang malah mengangkat sebelah alisnya akibat tuduhan yang menurutnya tak berdasar itu. Seingatnya ia hanya membuat Ariffin Denari sekarat saja, bukan membunuhnya.

“Dia pingsan, Fathur,” ujar salah satu legiun bercodet yang kini berlutut dengan ragu, ia mengecek nadi si Jaffar yang pingsan untuk memastikan. “Mana mungkin satu pukulan saja mampu membunuhnya?”

“Bukan Thaif, Tolol! Dia membunuh saudaraku yang lain saat perang di Protektorat! Mana mungkin aku akan melepaskan dia begitu saja?!”

“Jadi itu alasanmu mengajak kami ke kedai ini? Kukira dia adalah seorang kriminal, ternyata kau cuma mau balas dendam. Dengar, aku tak mau urusan seorang Jaffar mengganggu aliran emas Nagart masuk ke kantongku,” salah satu legiun bertampang liar menyarungkan senjata, matanya terpaku pada Jaffar pucat yang dibalas dengan tatapan mendelik. “Urus saja urusanmu sendiri, aku berjanji tak akan ikut campur. Nagart sudah berbaik hati untuk tidak menghancurkan tanah airku sampai rata dengan tanah, dan aku tidak berencana untuk merubah pikiran sang kaisar tentang hal itu. Dia bakal marah kalau mendengar kita mengganggu penduduk asli.”

Legiun lainnya bergumam setuju, bahkan beberapa ikut menyimpan senjata dan mulai berdiskusi satu sama lain tentang apakah mereka harus memindahkan Thaif yang pingsan ke tempat yang lebih nyaman daripada lantai kedai atau tidak.

Fathur gemetar saking marahnya. Ia sekali lagi mengedar pandang pada kawan-kawannya sesama legiun, tapi beberapa gelengan kepala sudah ia anggap sebagai penolakan untuk terlibat lebih jauh.

Ia sedikit gentar melihat Hikram masih santai-santai saja. Kalau kakaknya saja roboh dengan mudah … Ah, tidak. Mau bagaimana lagi, sudah kepalang tanggung, maka ia tetap mengacungkan pedang bengkoknya yang entah mengapa terasa lebih berat daripada biasa.

“Baik, satu lawan satu! Aku sudah tak peduli lagi! Bersiaplah wahai—” suaranya digantikan jeritan tertahan. Secepat kilat Hikram sudah menyingkirkan senjata yang menghalangi kemudian menghantamkan lutut tepat ke arah perutnya hingga ia terlempar belasan depa. Pedang bengkoknya terlempar lepas dari tangan dan jatuh berkelotakan di lantai kayu.

“Aku menang,” ujar Hikram gamblang setelah si Jaffar mendarat dengan bunyi gedebuk. “terima kasih atas pengertiannya, Legiun Asing. Senang bertemu kalian. Maaf juga atas keributan kecil ini, Pemilik Kedai.” Dengan ucapan itu Hikram yang mulai sedikit dongkol melangkahi Fathur yang masih bersusah payah untuk bernapas. Hikram sudah ingin sekali segera keluar dari kedai sial ini dan pergi ke tempat lain.

“Tunggu, Pengembara!” salah satu legiun melambaikan tangan memanggilnya. Si pengembara menoleh cepat, mengira akan ditahan-tahan dengan upaya fisik lagi.

“Siapa nama orang yang mampu menjatuhkan anggota legiun yang sudah dilatih sedemikian rupa? Aku perlu tahu.”

“Butuh nama untuk melaporkanku pada atasanmu? Baik, ingat-ingatlah, karena aku hanya akan mengatakan namaku sekali. Aku Hikram Sathar, Mantan Jawara Prathama. Beruntung aku tidak menghajar teman kalian sampai sekarat seperti saudaranya dulu. Selamat tinggal.”

“Tunggu, Pengembara!”

Hikram berbalik, wajahnya mulai memerah. “Apa lagi?! Aku tahu bahwa aku ini sangat terkenal, dan aku maklum kalian baru mengenaliku, tapi maaf, aku tak bisa menandatangani apapun untuk sementara ini. Kaligrafi buatanku jadi buruk bentuknya kalau aku memaksa untuk membuat hal itu saat sedang sumpek.”

“Uh,” pemilik kedai yang memanggilnya bergerak tidak nyaman, “bukan, tapi kau lupa untuk membayar tagihanmu.”

Hikram mengerjap.

“Oh, bilang dong. Berapa?”

“Delapan sen.”

Hikram merogoh koceknya. Sial, uangnya pas. Ia menyerahkan semuanya pada si manajer sekaligus bertanya, “yakin kau tak mau tanda tanganku? Hanya dua sen saja—”

Si manajer cepat-cepat menggeleng.

“Baiklah, sampai jumpa. Ingat, aku Hikram Sathar, yang terbaik dan satu-satunya,” dan dengan ucapan itu Hikram pergi sambil melindungi wajahnya dari matahari musim gugur Nagart yang menyengat, menyeruak kerumunan penonton yang ia baru tahu berkumpul di dekat pintu masuk kedai.

Hikram tak menghiraukan beberapa orang yang menepuk pundaknya dengan penuh antusias. Mungkin mereka baru saja menang taruhan, menilik dari uang koin yang mereka genggam.

Itu bukan urusannya, dan ia tak bisa lebih tidak peduli lagi.

---


(1). Kotaraja setingkat dengan ibukota provinsi.