Episode 1 - Pembukaan


Stepa Birma luluh lantak.

Tak ada yang tersisa dari rerumputan hijau-coklat sejauh mata memandang seperti yang sering digembar-gemborkan dalam cerita. Wilayah yang harusnya begitu permai lagi asri kini habis, ditelan oleh kejadian beberapa saat lalu. Tanah pun ikut lebur, terbolak-balik seakan dihajar tanpa ampun oleh pacul-pacul petani, dan sangat gelap karena terkena bekas amuk ganas api yang kini nyaris padam, tak meninggalkan apapun kecuali bau tetumbuhan serta daging yang terbakar. Rerumputan yang kini menjadi berjuta serpihan kecil abu beterbangan, dimainkan oleh angin yang tak hentinya bertiup. Satu-satunya suara yang ada hanya bisikan ketakutan seratus arwah milik raga yang kini gosong, yang beberapa saat lalu masih hidup, bernapas, dan berperang.

Bahkan langit pun mendukung suasana yang mencerminkan kegundahan. Memang hari masih siang, tapi mendung hitam yang bergulung menghalau cercah sinar mentari yang ingin menerobos, seolah mereka adalah bendungan yang menjaga agar tak ada air bah yang bisa lewat.

Ada seorang lelaki berdiri di tengah kehancuran itu, Sidra namanya. Kulitnya pucat sehingga terlihat seperti orang yang sakit-sakitan, tapi itu murni karena ia mengidap albino. Hal itu juga yang menyebabkan ia memiliki rambut putih panjang serta mata merah, yang kini tengah melirik-lirik, mencari-cari diantara gelapnya kehancuran.

Ia sama sekali tidak siaga. Ia santai, kedua kepalannya berada di punggung seakan tempat ini cocok untuk berdiri melepas penat dan merasakan angin segar. Tidak siaga, karena tak ada yang bisa mengancam orang sesakti dirinya.

Orang dari Nagart—kampung halamannya—terutama mereka kaum dari rimba persilatan terkenal karena kuda-kuda yang kokoh, sebagai konsekuensi dari tempat tinggal mereka yang bergunung-gunung. Namun, ia sudah lama menganggap tumpuan kaki yang kuat sebagai hal remeh-temeh yang tak perlu lagi ia perhatikan.

Lagipula, kau tak butuh tumpuan kuat atau tinju yang keras kalau kau bisa memanggil neraka ke dunia.

Suara batuk terdengar. Kecil memang, tapi jarang sekali ada yang bisa lolos dari pendengaran Sidra yang kini sudah dipertajam sekian kali lipat. Sidra sudah mendobrak batas-batas yang dipasang oleh Kahyangan pada manusia, jadi ia bisa mendengar suara tersebut seakan suara itu dibisikkan langsung ke telinganya.

“Masih hidup?” tanya Sidra lantang. Bukan pada siapa-siapa, sekaligus pada semuanya.

Ya, Sidra memutuskan ada kehidupan walau tak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia bisa mendengar tarikan napas tak teratur, berjarak setengah tombak dari arah tenggara. Salah satu yang paling tangguh diantara seratus tentara yang menghadang dirinya, mungkin satu-satunya yang mampu bertahan.

Sidra meluruskan lengan dan membunyikan buku-buku jari. Sekejap ia melangkah, nyaris tanpa ancang-ancang, dan secepat kilat bergerak, sebelum sampai di depan sang pemilik suara batuk tadi.

Sidra mengeluarkan kekeh pelan, mirip gonggongan.

Prajurit yang dihadapinya hampir telanjang. Ia kurus, dan setengah bajunya dimakan api, begitu pula setengah badannya yang kini melepuh. Wajahnya seharusnya tampan, tapi neraka memang suka menghancurkan apa saja yang baik dan patut di dunia ini.

“Berdiri, Saudara.”

Si prajurit mengeriutkan gigi sebagai pertanda geram, masih ingin terkesan mengintimidasi walau sedang terkapar dan dalam posisi yang memalukan. Sidra tahu apa yang menyebabkan ia melakukan hal itu, tak lain karena Sidra memanggilnya saudara, seolah ia sudah menyampaikan sumpah setia dan saling mengangkat satu sama lain sebagai kakak-adik selamanya, setelah dibuat mabuk berat oleh bercawan-cawan arak.

Ia marah karena Sidra pula yang membunuh rekan-rekannya, saudaranya yang sesungguhnya.

Sidra menelengkan kepala karena tak habis pikir melihat dendam yangt kentara di wajah satu prajurit remeh-temeh ini. Hah, ikatan-ikatan dan segala hal merepotkan. Sentimen kecilmu dengan berbagai tetek bengek yang mengelilingi dirimu. Hal-hal yang ingin kau lindungi entah itu saudara, keluarga, atau tanah kandung.

Itulah yang membuat manusia lemah.

“Berdiri, Saudara,” Sidra mengulang. Tak ada nada ancaman, malahan lembut selembut sutra terbaik yang dihasilkan Ulat Agung dari kaki gunung Hanfeilong. Tapi, justru suara Sidra yang seperti itulah yang paling berbahaya, mirip madu yang bercampur dengan racun; manis tapi nyatanya sangat mematikan.

Si prajurit meludah sebagai jawaban, wajahnya yang buruk jadi tambah buruk karena amarah. Ludahnya itu terbang dan tepat mengenai sepatu Sidra yang bagus. Sidra tetap tak acuh, dan diam di tempat.

“Mereka bilang apa-apa yang ketiga adalah yang utama. Menurut para tetua begitu,” Sidra berkata, senyum tak wajar menghiasi bibirnya, “jadi akan kuulangi perintahku untuk yang ketiga kalinya, sekaligus yang terakhir. Berdiri, Saudara.”

“Semoga Kahyangan mengirimmu ke jahanam tingkat atas, Bedebah!”

Si penghancur memejamkan mata. Diucap oleh orang stepa, itu merupakan hinaan di atas hinaan.

Beri aku sepuluh ribu prajurit seperti ini, maka aku akan menguasai seluruh dunia.

Ketika Sidra membuka kelopak matanya, merah bola matanya menjadi api asli. Membakar dan nyata, benar-benar ada dan bisa diindrai seperti mendung bergulung ataupun angin yang berbisik samar.

Tak ada sedetak jantung kemudian, si prajurit pemberani mati dilalap api yang berkobar, lebih merah daripada merah api yang biasa. Tubuh itu menjadi abu, hanya gaung sebuah jeritan yang membuat bulu kuduk meremang sajalah yang menjadi pertanda bahwa dia ada di situ satu detak jantung yang lalu.

Sidra menghirup udara stepa Birma yang harusnya segar, tapi kini telah terkontaminasi oleh kelakuannya. Sebenarnya orang biasa akan terbatuk oleh hirupan itu, tapi berhubung Sidra tak butuh bernapas karena ia sudah membuang kebutuhan itu bertahun-tahun lalu, ia tetap melakukannya. Sidra melakukan itu hanya untuk memuaskan dahaganya akan jiwa-jiwa lemah yang tidak sampai sesaat lalu masih hidup dan ingin melawannya.

“Tak ada yang lebih sedap daripada sukma manusia, ya?”

Sidra berpaling. Ia sama sekali tidak merasakan kehadiran baru ini, jadi bisa ditebak kalau ilmunya tak bisa dipandang rendah, atau bisa jadi Sidra terlalu larut dalam kesenangan hingga jadi teledor.

Kehadiran baru ini tampak kusut, yang justru malah membuat Sidra tambah tertarik. Lumrahnya seorang dari rimba persilatan memang kurang mengenal artinya kebersihan. Hal yang selalu dikeluhkan Sidra pada setiap pendekar yang mau mendengarkan, sebelum ia membunuh mereka.

Orang baru ini seorang perempuan setengah baya. Rambutnya amat berantakan, tidak teratur serta mengembang, dan roman wajahnya sangat biasa. Wajah seperti itu gampang terlupakan, mungkin sering kau lihat saat sedang berpapasan dengan seseorang di pasar atau jalan raya, tak layak mendapat pandangan kedua.

“Menikmati pemandangan parasku?” ia bertanya ceria, tahu bahwa Sidra mengamatinya, dan si albino tertawa kering.

“Aaah,” Sidra mengerang seakan rasa sakit menghujam diri, “aku hanya bertanya-tanya, apakah kurangnya kebersihan memang merupakan sebuah kutukan bagi setiap kembara dari rimba persilatan?”

“Aku baru mencuci baju ini seminggu lalu,” si perempuan mengeluh sembari garuk rambut. Ia sambil lalu menarik sebuah tongkat pendek yang tersemat di sabuk yang sudah memudar warnanya. Ia menimang-nimang benda itu dengan sebelah tangan, kemudian memutar-mutarnya. Pelan, namun kian lama kian cepat sampai tak bisa diikuti mata.

“Lagipula,” si perempuan menyambung sambil mengerling sekitar, “sisa kotor yang kau buatlah yang menodai pakaianku. Jadi semuanya salahmu.”

“Astaga, astaga, maafkan saya.” Sidra memegang bagian jantungnya dengan dramatis, seolah-olah ia benar merasa sakit hati. “Lantas mau apa? Menghukumku dengan tongkat pemukul dombamu itu?”

Si perempuan mengangkat kepala dengan sombong.

“Kau akan bicara lain tentang tongkatku saat kau tahu asal tongkatku dari mana.”

Sidra melirik batang kayu itu seperti sedang disuruh. Kayu itu retak, namun mulus dan berkilat-kilat seperti baru dipelitur atau dipoles. Benda itu juga mengeluarkan suara seperti siulan, acap kali saat si perempuan memutarnya. Suaranya makin lama makin terdengar seperti ribuan lebah yang marah, dan dengan satu kedip Sidra bisa menangkap tulisan “Gembala” di tongkat itu.

Sidra langsung tahu ia siapa, tak lain karena ia pernah dengar tentang perempuan hebat: seorang ahli silat kawakan yang menggunakan sebatang kayu sebagai senjata.

“Selalu sesombong inikah kau, hai Jago Toya Stepa Birma?”

“Untuk orang sepertimu? Yang sudah membunuh prajurit kroco tanpa kasihan, yang sudah melalap tanah airku dengan darah, yang sudah melawan Mandat dari Langit?” ia memutar-mutar tongkatnya lagi nyaris tanpa perhatian, menimbulkan suara nyaring lagi. “Ya. Aku akan selalu sombong.”

“Jahat sekali,” gumam Sidra pelan. Senyum percaya diri mulai terulas di bibirnya. “Tapi, Nyonya, aku masih belum paham mengapa kau harus angkat senjata untuk melawanku. Apa karena kau sudah bosan hidup?”

“Karena aku Dewa Gembala Kolong Langit, Bodoh. Aku wakil-Nya. Wangsit dari Kahyangan memberikanku isyarat untuk mencabut nyawamu yang telah bersekutu dengan Neraka, jadi bersiaplah.”

Mata coklat si perempuan bertatapan dengan mata Sidra. Keduanya saling mengamati satu sama lain. Serasa seribu tahun lamanya, walau kemudian tanpa peringatan, mereka akhirnya bergerak.

Mata manusia biasa tak akan bisa mengikuti, namun mereka yang lambat sekalipun setidaknya mampu melihat bahwa debu dan abu gelap di tanah langsung terganggu dan terbang kembali oleh aksi mereka berdua. Bumi terguncang seakan terkena gempa, seiring langkah mereka yang menjeblos tanah kian lama kian mendekatkan jarak satu sama lain.

Saat mereka bertemu, lengan keduanya langsung beradu, tangkas dan cepat. Satu detak jantung saja untuk kemudian jurus lain dilancarkan. Si perempuan menyapu ke arah kaki Sidra dengan tongkatnya, sementara Sidra melompat untuk menghindar dengan enteng, kemudian membalas dengan tendangan ke arah kepala. Si perempuan langsung undur tongkat untuk menangkis. Tak bisa luput dari perhatiannya bahwa tongkatnya tergetar hebat karena beradu dengan kaki Sidra yang dirasainya sekokoh baja.

Si perempuan ahli tongkat urung adu lama-lama, karena ia benar-benar kalah tenaga. Ia mundur cepat dengan ilmu peringan tubuh sembari menyedot udara, dan meniup ke arah Sidra yang mengejar.

Alih-alih tiup angin kecil yang tak akan mengganggunya, hantam keras layaknya badai langsung menghantam Sidra. Langah-langkah Sidra terhambat, sementara angin besar masih mengamuk dihadapannya. Ia tetap bersikeras melangkah maju, berjuang untuk mengatasi serangan itu.

“Heh, rupanya kau juga pemegang Gelar Pengendali Angin Stepa! Akan menarik!” Sidra berteriak kesenangan, tak terdengar karena serbuan udara si perempuan terlalu kencang, padahal Sidra sudah memperkeras suaranya dengan hawa murni.

Maka Sidra menarik tinju, dan memukul ke hadapan.

Api keluar dari buku-buku jarinya, namun melawan angin ganas, elemen pembakarnya kalah saing dan langsung mengecil, yang sebisanya masih bisa ia pertahankan dengan bentuk seperti tameng, dan Sidra terus melaju ke depan.

Angin mendadak terhenti, tak lain karena si perempuan harus berkelit jauh ke samping saat api mau memakan tubuhnya. Ia melompat menjauh sekian jarak untuk cari tempat mengatur napas, dan tubuhnya yang mulai lelah sudah terkuras hawa murninya sehingga harus oleng atau jatuh kalau saja ia tak punya pinjaman tenaga dari Gelar yang dianugerahkan padanya oleh Kahyangan.

“Siapa?!” ia bertanya terengah, tak ada rasa pongah yang ditunjukkannya sesaat lalu. Matanya kini memancarkan ketakutan dan ketidakpercayaan yang luar biasa. “Siapa yang mampu menahan Angin Penyayat Rerumputan semudah itu? Siapa Gelarmu?!”

“Gelar?” Sidra bertanya datar, tinju kirinya kini dipenuhi api yang membara sekali lagi, “aku punya banyak Gelar.”

Sidra mengangkat tangannya yang dibalut api, dan si perempuan jago tongkat harus mengangkat senjatanya yang gemetar, karena takut akan dihadapkan pada sikap serang si kulit pucat. “Untuk sementara Nyisanak boleh memanggilku Si Tanpa Tanding di Kolong Langit.”

Sidra menghantamkan tangannya yang berisi api yang menjilat-jilat ke bawah, dan Neraka sekali lagi terpanggil ke dunia.

Bencana seolah muncul dari berbagai retakan tanah, api memakan semua yang ada, termasuk si jago tongkat yang malang. SI perempuan menggeliat di tempat, ingin lari tapi roboh lagi dan lagi. Ia menjerit-jerit tersiksa, sejenak terdengar seperti suara rengekan hewan ternak kala menghadapi pisau jagal. Tak lama kemudian suaranya mengecil seiring hancurnya tubuh, sebelum akhirnya benar-benar diam.

“Kau juga perlu tahu gelarku yang lain, yang jumlahnya ada sembilan. Sayang kau sudah terlanjur mampus jadi tak bisa dengar.” Sidra bicara keras pada mayat yang perlahan habis dilumat api. Tongkat yang katanya sakti itupun akhirnya pecah, tak lain karena Neraka tidak pernah memilih-milih mangsanya.

Sidra mendongak ke angkasa, nampak sama sekali tak terganggu oleh kehancuran yang kini mengamuk sekali lagi, melebar dan terus membesar kemana-mana.

Dia memprediksi bahwa Kahyangan tak akan setuju, karena kesombongan untuk membunuh seorang Awatara seperti itu harus dihukum.

Seperti yang Sidra duga, mendung yang sejak tadi mengancam langsung mencurahkan hujan, yang mendadak datang dan menimpa kebakaran. Datangnya cepat, seolah Sang Kaisar Atas Langit sendiri yang memerintahkan pemadaman.

Sidra melebarkan lengan pada langit. Ia berteriak lantang, sesekali diselingi tawa gila-gilaan.

“Ayo, ayo! Bunuh aku, Langit! Aku menghabisi salah satu Awatara kalian! Aku adalah calon dari Si Tanpa Tanding di Langit dan Bumi! Ayo, Kensa! Turun gelanggang dan lawan aku! Panglima Langit masak diam saat aku memberontak?!”

Langit bergemuruh murka, namun Sidra masih tertawa-tawa saat geledek itu terdengar.

Sidra masih tertawa-tawa saat petir tiga kali menyambar tempatnya berdiri.

Dan Sidra masih tertawa-tawa, saat Kahyangan akhirnya menyerah dan berhenti menurunkan hujan.

Sidra kemudian berpaling pada tembok kota terdekat yang bisa ia lihat dengan matanya yang super-tajam, segera setelah ia menikmati tetes-tetes air terakhir yang segera berubah menjadi uap saat bertemu raganya. Tembok itu milik sebuah kota pangkalan dagang yang cukup besar dan sepertinya pantas untuk ia jatuhkan. Kota tersebut juga yang mengerahkan seratus prajurit, dan pastinya tempat dimana satu awatara yang telah dihabisinya bernaung.

Saatnya membuktikan, apakah balas dendam memang manis seperti yang dikata orang-orang?

Sidra berbisik, dan tanpa diiringi hawa murni sekalipun suaranya terdengar ke delapan penjuru,“Untuk menguasai langit, aku harus terlebih dahulu menguasai bumi. Nagart, tunggu aku. Kakak, tunggu aku. Sidra akan datang, dan segera.”

Sidra merangsek secepat kilat ke arah tembok, dan Sidra yakin bahwa seluruh manusia yang tinggal di stepa akan bertekuk lutut dan menyembahnya pula pada akhirnya.

--