Episode 32 - Mengungkapan Perasaan Itu Butuh Persiapan


Tidak seperti biasanya, Coklat dan Ival berangkat kuliah dengan menaiki sepeda motor. Biasanya mereka pergi ke kampus dengan menaiki angutan umum. Keduanya menaiki sepeda motor yang sama dengan posisi Coklat yang diboncengi dan Ival yang mengendarai sepeda motornya.

“Weh, Val, liat dah bannya berputar,” teriak Coklat yang terkejut melihat sepeda ban bagian depannya berputar saat sepeda motornya melaju.

“Ah yang benar lo? Gue enggak percaya,” jawab Ival yang tidak percaya namun penasaran, akhirnya Ival pun langsung melirik ban motor. 

Tanpa diduga Ival tak memerhatikan laju sepeda motornya, hingga keduanya pun menabrak sebuah pohon.

Gubrak!

Keduanya tidak mengalami luka parah, berbeda dengan pohon yang mereka tabrak. Pohon tersebut kini dilarikan ke rumah sakit terdekat. Mereka pun melanjutkan perjalanannya ke kempus.

 Clingak-clinguk, itulah kegiatan Ival saat menunggangi sepeda motornya. Wajahnya seperti orang kebingungan. Karena Ival bingung, eh dia malah garuk-garuk kepala pakai kedua tangannya dan akhirnya mereka menabrak pohon lagi.

 Gubrak!

 “Aduh rugi gue naik motor kalau penulisnya senang banget kita ketabrak, Klat,” keluh Ival.

 “Iya, Val, seenak-enaknya dia bikin ketabrak pohon mulu.”

 *** 

 Mereka berdua yang biasanya naik angkutan umum menuju ke kampus, akhirnya kesasar. Tidak tahu arah jalan ke kampus ketika naik sepeda motor. Itu terlihat dari wajah Ival yang clingak-clinguk nmelihat jalanan seperti orang bingung. Dari tadi Ival mengendarai sepeda motor hanya berputar-putar di jalan yang sama.

 “Wah, Klat, sepertinya kita nyasar nih.”

 “Hah ke pasar, ngapain

 “Nyasar woy!” teriak Ival penuh emosi.

 “Kita ini mau ke kampus, ngapain juga ke pasar?”

 “Siapa yang bilang mau ke pasar?”

 “Ya lo lah masa gue?”

 Seketika hening …

 “Val, kayaknya kita nyasar nih?”

 “Iya tadi gue bilang begitu!”

 Berhubungan mereka kesasar dan kebetulan juga di depan mereka ada seorang polisi yang sedang berdiri di pinggir jalan. Mereka berdua pun terpikirkan untuk bertanya sama pak polisi itu.

 “Val, tuh ada pak polisi, tanya yuk,” kata Ival sambil nunjuk ke arah pak polisi.

 “Yuk.”

 Dengan niat yang tulus dari hati mereka berdua, mereka memberanikan diri untuk bertanya sama pak polisi. Mereka yang mengendarai motor itu langsung mendekati pak polisi lalu menabraknya terus habis itu kabur. Ya enggak begitulah ceritanya. Dengan sepeda motor mereka, mereka mendekati pak polisi dan berhenti di samping pak polisi.

 “Pagi, Pak polisi. Emmm anu … saya mau numpang nanya,” kata Coklat.

 “Iya ada yang bisa saya bantu?”

 “Wah banyak, kebetulan saya punya tugas kuliah terus belum dikerjain terus lagi kerjaan di rumah juga numpuk, Pak. Bapak mau bantu?” jawab Coklat.

 “Hmmm bukan itu, De.”

 “Bukan gitu, Klat. Begini, saya mau nanya kalau arah … arah kampus Cahaya Bintang di mana ya, Pak?” tanya Ival.

 “Arah kampus Cahaya Bintang itu dari sini nanti ketemu lampu merah, Anda bisa lurus terus.”

 “Wah si Bapak mengajarkan yang sesat nih, dimana-mana tuh pak kalau lampu merah kita berhenti, nah baru lampu hijau bisa lurus terus,” celetuk Coklat.

 “Hmmm, ya maksud saya seperti itu.”

 “Bilang dong, hmmm terima kasih banyak ya, Pak,” senyum Coklat.

 “Iya, hati-hati ya kalau naik motor jangan ngebut.”

 “Lha si Bapak aneh-aneh aja, kalau naik motor itu duduk bukan ngebut, Pak,” celetuk lagi Coklat.

 “Iya itu maksud saya, De.”

 ***

 Pukul 09.59 WIB, Coklat dan Ival masuk ke kelas untuk menerima mata kuliah di jam pertama. Melihat jam sudah menunjukkan pukul tersebut, mereka bisa dikatakan terlambat 1 jam 59 menit dari 2 jam per mata kuliahnya, wah itu sih bukan terlambat emang enggak niat buat masuk tuh. Pokoknya mereka tetap masuk untuk menerima mata kuliah meski hanya semenit saja. Pak dosen yang sedang duduk di depan hanya memandangi tajam wajah mereka berdua. Wajah mereka telah menjadi daftar buron bagi dosen itu. Dosen ini paling enggak suka kalau ada mahasiswa yang enggak pernah ikut mata kuliahnya dan tiba-tiba muncul ketika UTS sama UAS tiba. Dan engga tanggung-tanggung, dosen ini memberi nilai Z. 

 “Kenapa kamu terlambat?” tanya dosen sambil melototin mereka berdua.

 “Eeee … anu … anu .…” Ival gugup.

 “Anu anu! Kenapa kalian terlambat?!”

 “Anu, kita terlambat itu gara-gara masuk enggak tepat waktu, Pak, suer pak lho beneran deng!” ucap Coklat langsung nyerocos.

 “Anak SD juga tahu kalau datang terlambat itu karena tidak tepat waktu.”

 “Lah anak SD aja tahu, masak Bapak enggak tahu,” kata Coklat.

 “Maksud saya alasan Anda bisa datang terlambat itu apa?”

 “Begini ceritanya, tadi kan kita naik motor tuh, Pak.”

 “Iya, terus?”

 “Nah pas kita naik motor itu engga sampai-sampai, Pak.”

 “Lho kok bisa?!” ucap pak dosen kaget.

 “Ya iyalah, Pak, orang motornya dinaikin enggak dikendarain.”

 “^*&#%^*&#&!”

 ***

 Ketika jam istirahat, kedua jarumnya berhenti berputar, ya namanya juga jam istirahat, mungkin dia lelah seharian jarumnya berputar terus, lha. Ya pada waktu istirahat maksudnya. Coklat mengajak Een ke kantin buat makan bersama. Seperti kata Ival kemarin, hal pertama yang dilakukan adalah selalu dekat. Keduanya duduk di bangku yang sudah disediakan.

 “Een, mau makan apa? Tinggal bilang aja sama Abang, ya nanti Abang enggak beliin deh.”

 “Aihh masa enggak dibeliin, Bang,” jawab Een dengan pipi rada merah karena malu di hadapan Coklat.

 “Becanda kok, En, ya sudah kamu pesan aja,” senyum Coklat.

 Dengan perasaan malu-malu tapi mau, Een pun memesan semangkok soto babat. Enggak berapa lama dua mangok soto babat datang, dua mangkok soto babat jalan sendiri, ya enggak lah! Kalau jalan sendiri nanti mahasiswa pada kaget.

 “Waaah ada soto babat jalan sendiri!” 

 Maksudnya itu loh, soto babatnya diantarkan sama penjualnya ke meja tempat Coklat sama Een duduk. Kalau enggak diantarkan sama penjualnya, hal yang dikhawatirkan adalah soto babatnya nanti bisa kesasar, ya ampun apa lagi ini?

 Dua mangkok soto babat plus dua piring nasi sudah sampai di meja tujuan. 

 “Coklat, Een makan dulu ya?” ucap Een malu-malu.

 “Iya silahkan.”

 Een mengawali makan soto dengan ucapan basmallah sontak Coklat kepanasan.

 “Ahhhh tidaaak panaaas!”

 Een terlihat panik ketika Coklat berteriak kepanasan. Apakah ini disebabkan oleh lantunan basmallah dari Een? Oh ternyata bukan, Coklat kepanasan karena makan soto yang masih panas, melepuh-melepuh tuh bibir. 

 Setelah itu, Een memegang sendok dengan tangan kanannya. Dia menyendok isi soto babat dalam mangkok di atas meja. Kemudian, dia dekatkan ke mulut soto babat yang ada di sendok. Ketika sampai di mulut Een dan Een ingin melahapnya, soto babatnya berteriak.

 “Tolooooong, jangan makan akuuuu!” 

 Ya enggak lah, kalau soto babatnya bisa teriak, enggak masuk akal banget. Een pun melahap soto babatnya penuh dengan sebuah penghayatan layaknya seorang juri dalam acara masak-memasak.

 “Kamu enggak makan, Coklat?”

 “Enggak, aku tuh kalau lihat kamu makan aja sudah kenyang kok.” 

 Aiiih Coklat gombal, padahal perutnya keroncongan tuh. Wah ramai dong dalam perut Coklat ada konser acara musik keroncong. 

 Coklat teringat perkataan Ival pas dia curhat kemarin di gubuk. Secara kebetulan juga ini adalah suasana yang pas buat dia mengungkapkan perasaannya kepada Een. Awalnya Coklat gemetaran buat ungkapkan perasaannya itu, tapi semenjak dia berobat ke klinik Tong Pang, dia sudah engga lagi gemetaran. Terima kasih klinik Tong Pang, lha apa hubungannya? Ya sudah kita lihat saja bagaimana Coklat mengungkapkan perasaannya di depan Een.

 “Een, aku mau ngomong sesuatu sama kamu .…”

 “Iya kamu mau ngomong apa?”

 “Aku tuh sebenarnya ….”

 Semua mata penonton tertuju kepada Coklat, apakah Coklat mampu untuk mengungkapkan perasaannya ataukah dia akan terus menyembunyikan perasaannya di hadapan Een? Kita tunggu saja kelanjutan episode ini abad depan. Woy! Kalau tunggu satu abad itu kelamaan keburu sudah pada modar semua!

 “Aku tuh sebenarnya …,” ucap Coklat sambil garuk-garuk kepala.

 “Hah, kamu gatal?”

 “Eh bukan .…”

 “Aku tuh sebenarnya … aduh gimana ya ngomongnya?”

 “Ya sudah kamu ngomong saja.” Een tersenyum.

 “Aku ntuh .…”

 Teeeeeet teeeee teeeeeeet, bel tanda masuk kelas berbunyi dan Coklat pun gagal buat ungkapkan perasaannya ke Een. Lagian kelamaan sih buat tembak satu cewek doang. Coklat kecewa. 

 ***

 Coklat sama Een pun meninggalkan kantin. Coklat senyum-senyum sendiri ketika berjalan menuju kelasnya meninggalkan kantin. Kayaknya sih si Coklat ini senang bisa jalan berduaan dari kantin ke kelas bersama Een. Sementara di meja tempat mereka makan ada sepucuk kertas tertinggal yang kemudian dibaca sama pedagang soto.

 “Maaf ya, Mas utang lagi, kan malu ada cewek deket saya, gengsi dong ceweknya tahu kalau si cowok suka utang di sini.” Ya itulah isi pesan dalam surat yang tertinggal di meja.

 “Dasar tukang ngutang tuh anaaaak!”

 Keesokan harinya tuh tukang soto berhenti jualan lagi di kantin kampus.

 ***

 Sore harinya, Coklat curhat lagi sama Ival di gubuk. Kayaknya tuh bocah suka banget nongkrong di gubuk, tapi enggak apa-apa lah daripada si Coklat curhatnya di wc, kan enggak etis banget. Misalnya kayak gini.

 “Gue tadi itu mau nembak dia,” Lalu terdengar pret pret brebet brebet brebet.

 “Oh jadi itu tadi suara tembakan pas lo nembak dia?”

 “Bukaaaan! Itu suara kentut gue.”

 “Bau tau!”

 Ok, kembali ke masalah curhat mereka di gubuk, nah yang tadi pas curhat di wc enggak perlulah kalian contoh di rumah. Coklat langsung to the point saja sama Ival.

 “Val, gue suka sama lo.”

 Woy to the point curhat sama Ival, bukan to the point tembak dia! Ok sekarang mulai nih, enggak ada lagi cerita yang aneh-aneh dari mereka berdua.

 “Val, tadi gue tuh pengin nembak dia tapi .…”

 “Kenapa? Lo ditolak?”

 “Bukan itu mana mungkin sih gue ditolak … gue itu susah banget mau mulai kata-katanya darimana, gue takut banget ungkapin perasaan gue itu, rasanya itu seperti mengharapkan hujan di musim kemarau atau mengharapakan panas di musim hujan, sungguh gue enggak bisa.”

 “Bahasa lo ketinggian, bilang aja lo susah ungkapin enggak usah kayak gitu, lebay.”

 “Ya kayak gitu, gimana menurut lo? Apa gue terlalu cepat buat ungkapin perasaan gue ini?”

 “Ya, soalnya lo belum menjalankan saran gue yang nomor dua.”

 Memang benar, Coklat belum pernah membelikan hadiah atau kejutan buat Een. Kenapa ya kayak gitu? Karena dia itu medit bin pelit. Selama Coklat hidup belum pernah kasih hadiah ke cewek-cewek yang ada di dekatnya soalnya emang enggak ada cewek yang mau dekat sama dia.

 “Jadi, gue harus kasih kejutan sama dia?”

 “Iya, betul!”

 “Jadi, gue datang ke rumahnya malam-malam pakai kostum setan, terus kejutin dia taraaaa dan dia pingsan, begitu?”

 “Hadeh, bukan gitu. Maksud gue itu lo enggak usah pakai kostum setan, lo tetap begini nah habis itu lo kejutin dia taraaa dan dia pasti pingsan, soalnya muka lo lebih seram daripada setan! Puas lo!”

 Coklat enggak percaya ucapan dari Ival, kebetulan dia bawa cermin sendiri. Dia ambil cermin dari saku celananya, terus bercermin deh.

 “Ah gue ganteng kayak gini juga, Val,” ujar Coklat sambil merapihkan rambut pakai tangan.

 Cuma dia sendiri yang bilang kalau dia itu ganteng, dari jaman sekolah emang kayak gitu, padahal mah orang-orang enggak setuju lho kalau dia ganteng. Kembali ke masalah kejutan.

 “Kejutan yang gue maksud itu kan hadiah, bukan kejutan bikin kaget.”

 “Iya iya gue tahu itu.”

 “Nah, jadi lo mau ngasih hadiah apa buat dia?”

 “Kayaknya sih rumah sama mobil mewah, itu cukup buat dia senang enggak ya?” kata Coklat sambil merasa enggak berdosa menatap langit.

 Nah ini, laganya itu te ete eng nge i ngil tengil. Sombong mau kasih mobil sama rumah, padahal dalam kehidupan nyatanya boro-boro punya mobil.

 “Ya sudah terserah lo, lo mau kasih dia mobil, mau kasih rumah, mau kasih berlian. Bodo amat!” Ival seketika pergi.

 “Kemana, Val?”

 “Balik!”

 ***

 Keesokan paginya, karena enggak mau terlambat lagi Coklat dan Ival berangkat pagi-pagi. Mereka sampai di kampus jam empat pagi. Suasana kampus masih sepi kayak kuburan. Mereka berdua rajin ya, bahkan rajin sekali jam segitu sudah sampai kampus. Mereka berdua lagi berdiri aja di halaman parkir kampus.

 “Kita kepagian ya, Klat?” tanya Ival.

 “Enggak kok cuma mataharinya aja yang telat nongol.”

 “Iya, gue rasa tuh matahari bakal di hukum sama dosen gara-gara terlambat bangun.”

 “Gue rasa lo kehabisan obat ya?”

 “Hah maksud lo?”

 “Mana ada, Val, matahari dihukum sama dosen.”

 Gitu tuh orang merasa enggak punya dosa, enteng banget. 

 Enggak terasa tiga jam berlalu, sebentar lagi tepat jam tujuh. Dari parkiran tempat Coklat dan Ival berdiri, mereka melihat Een berangkat ke kampus dengan diantarkan oleh seorang cowok menggunakan motor ninja. Melihat kejadian itu, apakah Coklat akan cemburu? Apakah dia galau? Enggak mungkin, manusia rese kayak dia enggak bakal galau.

 Enggak sanggup melihat kejadian di depan matanya, Coklat pun melambai-lambaikan kedua tangannya.

 “Hallow semuaaa,”

 Tuhkan benar, orang macam apa dia disuruh galaunya susah banget?

 Coklat enggak sanggup melihat Een yang turun dari motor sama seorang laki-laki. Coklat pun langsung berbalik arah sambil menahan derai air matanya. Pletuk! Enggak sadar pas Coklat berbalik arah, dia terpentok tiang. Alhasil, tiangnya pingsan, habis itu seluruh mahasiswa membawa tiang ke ruang pengobatan di kampus ini untuk diobati lebih lanjut, woy kebalik! Seharusnya si Coklat yang dibawa bukan tiangnya.

 Coklat dibawa ke ruang pengobatan. Dia pingsan seketika, selama dia pingsan, dia tidak sadarkan diri. Coklat hanya pasrah berbaring di atas ranjang. Semua teman-temannya dari SD sampai kuliah, menjenguk dia tapi karena kebanyakan dan enggak muat tempatnya terpaksa enggak jadi.

 Di dalam ruang pengobatan terlihat hanya ada Ival dan Arul yang setia duduk menemani Coklat disaat dia berbaring tak berdaya.

 “Jadi ceritanya gimana? Dia bisa sampai pingsan kayak gini?” tanya Arul.

 “Kalau gue cerita dari dia lahir sampai pingsan kayak gini, panjang banget.”

 “Ya sudahlah enggak usah, gue pengin dengar ceritanya aja enggak boleh.”

 “Oke, kalau itu mau lo, gue sih enggak berharap lo bisa betah dengar dongeng gue. Pertama dimulai ketika nyokapnya Coklat beranak dan melahirkan Coklat, terus .…”

 “Enggak usah! Lagian kepanjangan.”

 “Ya sudah.”

 Enggak berapa lama kemudian, Een tiba-tiba datang memasuki ruang pengobatan ini. seketika pintu terbuka, alangkah terkejutnya dia ketika melihat…

 “Haduh, aku salah ruangan.”

 Melihat dia salah ruangan, maklumlah ruang pengobatan di sini enggak cuma satu, jadi wajar kalau ada yang kesasar. Setelah tadi Een salah masuk ruangan, sekarang dia baru benar masuk ruangan yang ada Coklatnya. Ketika pintu dia buka Ival dan Arul terkejut akan kedatangannya.

 “Een?” serentak Ival dan Arul.

 Een berjalan langkah demi langkah mendekati mereka berdua.

 “Bagaimana keadaan dia?”

 “Dia masih belum sadarkan diri,” jawab Ival.

 Wajah Een lalu bersedih, seakan dia takut terjadi apa-apa dengan Coklat. Een teringat beberapa kisahnya bersama Coklat di kampus ini, walau Coklat ngeselin tapi dia itu bikin kangen, bukan begitu? Bukaaaan. Ketika itu hendak pulang dari kampus, hujan turun begitu derasnya. Een hanya bisa memandangi air-air yang turun dari atas langit sambil merasakan dinginnya suasana hujan. Lalu tiba-tiba dari belakang muncul Coklat, untung saja Een enggak pingsan coba kalau pingsan, bahaya. Ya bahayalah kalau cewek cantik yang pingsan, bisa-bisa para laki-laki gatal bibirnya.

 “Hujan ya, En?” tanya Coklat yang tiba-tiba ada di sampingnya.

 “Iya nih, besar ya ujannya?”

 “Hmmm kecil, En, kalau hujannya besar itu bentuknya pasti kayak batu bata.”

 “Hehehe, maksud aku tuh banyak.”

 “Tapi sedikit kok hujannya enggak sebanyak cinta aku ke kamu, hehehe.”

 “Hmmmm gombal.”

 Adalagi ketika Coklat di dalam kelas bersama Een duduk di depan, ya tepatnya duduk di samping Een. Een bertanya-tanya kenapa Coklat duduk di depan, biasanyakan duduk di belakang.

 “Kamu kenapa kok tumben duduk di depan?”

 “Aku duduk di depan itu supaya bisa melihat pemandangan yang indah.”

 “Hmmm emang disini ada pemandangan ya?”

 “Iya, kamu pemandangannya, hehehe.”

 “Hmmm gombal, kamu kok duduk di samping aku?”

 “Aku pengen membiasakan diri aja duduk di samping kamu supaya nanti duduk di samping kamu pas pelaminan enggak gugup lagi.”

 “Hmmmm, gombal mulu kamu.”

 Ada lagi nih cerita dia, hmmm tapi enggak usah diceritakan deh. Gombal mulu orangnya, tahu sendiri kan, kasian sama penontonnya lama-lama jadi eneg.

 ***

 Sudah tiga hari tiga malam, Coklat pingsan tapi belum bangun-bangun. Wah bohong banget tuh. Ya ya ya, enggak sampai tiga hari tiga malam, tapi cukuplah satu jam saja dia pingsannya. Coklat pun tersadar, ketika sadar matanya pun terbuka. Dia terkejut ketika melihat sosok Een yang duduk di sampingnya, karena terkejut dia pingsan lagi. Yah capek deh, pingsan mulu. Enggak begitu juga lagi ceritanya.

 “Kamu kok ada di sini? Mau apa?” tanya Coklat.

 “Aku tuh ada di sini karena khawatir kamu pingsan.”

 “Hmmmm kenapa engga kamu cium saja, biar aku enggak lama-lama pingsannya, hehe.”

 “Bukan muhrim tahu!”

 Di dalam hati Coklat, inilah kesempatan bagi dia untuk mengungkapkan segala perasaan yang dia miliki untuk Een, tapi Coklat enggak bisa. Coklat masih dirasuki oleh perasaan cemburu.

 “Siapa orang tadi?” tanya Coklat dengan ekspresi wajah yang masih cemburu.

 “Dia itu Anaknya pamanku.”

 Coklat pun lega mendengar pernyataan yang terucap dari mulut Een.

 “En, aku .…”

 Ini kayaknya Coklat mau mengungkapkan perasannya ke Een nih. Kita lihat apakah Coklat akan mampu meneruskan kata-katanya kepada Een?

 “Maaf, Coklat, aku mau masuk ke kelas dulu, jam pertama udah dimulai, maaf yah.”

 Yaaaah, Eennya pergi. Coklat pun kecewa.