Episode 216 - Menembus Segel


?Tugu Ampera. Sebuah batu besar yang merupakan sarana berlatih murid-murid Kasta Perak di Perguruan Svarnadwipa. Bilamana masuk ke dalam dimensi ruangnya dan meraih pencapaian tertentu, maka nama seorang murid akan masuk ke dalam peringkat yang tertulis di permukaan tugu. Hanya seratus nama terbaik yang akan ditampilkan.

Rupanya Guru Muda Khandra sempat mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa. Adalah sepantasnya saja bila ia menjabat sebagai Guru Muda Bidang Keterampilan Khusus Segel di Perguruan Gunung Agung. Akan tetapi, siapakah gerangan Balaputera Lintara yang bercokol di peringkat pertama…? batin Bintang Tenggara. Ma Ha Ja Ya Na Ta Na Ga Ra... Bilamana tiada keliru, maka selayaknya Balaputera Lintara ini berasal dari Kadatuan Kesembilan. Siapa lagi anggota keluarga selain yang sudah dirinya temui. Mungkinkah... 

“Hei! Tikus-tikus kotor!” hardik Balaputera Ardhana dengan nada suara tinggi. “Apa yang kalian lakukan di sini!?”

Bintang Tenggara tersadar, dan mendapati seorang remaja melangkah garang mendatangi dirinya dan Wara. Tanpa pikir panjang, Bintang Tenggara pun segera melengos pergi. Tiada berguna bagi dirinya meladeni tokoh yang tiada penting. 

Sebaliknya, Balaputera Ardhana dari Kadatuan Ketujuh mencari kambing hitam untuk melampiaskan kekesalan dirinya yang baru saja tertinggal peringkat di dalam urutan Tugu Ampera. Sasaran pun ditemukan. Ditambah kata-katanya yang tiada digubris, remaja tersebut terlihat semakin kesal. 

“Hyah!” Balaputera Ardhana melompat cepat ke arah Wara. Kepalan tinjunya di tarik ke belakang, dan segera ia lepaskan lurus ke depan! 

“Brak!” Balaputera Ardhana terpental beberapa langkah ke belakang. Untunglah reflek tubuhnya menyadari bahaya nan mengancam, sehingga pada detik-detik akhir sempat menyilangkan kedua lengan di depan ulu hati. Karena bilamana tidak, maka pastilah ia sudah terjungkal tiada berdaya.

Bintang Tenggara meneruskan langkah, seolah tiada apa yang terjadi. Padahal, baru saja tadi ia menyarangkan tiga pukulan berkecepatan tinggi ke arah lawan yang hendak meninju Wara. 

“Bangsat!” teriak Balaputera Ardhana menahan rasa sakit. Sekujur lengannya bergetar seperti menggigil kedingingan. Cukup beruntung ia karena Bintang Tenggara hanya melepaskan pukulan dengan kekuatan yang masih tergolong biasa. Karena bila menyerang dengan kekuatan penuh, bukan tak mungkin tulang lengan lawan mengalami cedera, bahkan retak. 

“Apakah yang terjadi?” seorang remaja melangkah keluar dari lorong dimensi di depan Tugu Ampera. 

Seluruh perhatian beralih ke arah remaja nan gagah lagi tampan. 

“Oh? Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara?” ia menyapa santun. “Perkenalkan... namaku adalah Balaputera Vikatama dari Kadatuan Kesatu.” 

Mendengar namanya, Bintang Tenggara segera menyadari bahwa remaja tampan tersebut merupakan lawan yang baru saja mengalahkan Balaputera Ardhana di dalam Tugu Ampera. Ia kini berada pada urutan 56, atau tiga tingkat lebih tinggi dari Balaputera Ardhana. 

“Vikatama! Ia lancang menyerang diriku meski kita berada di dalam wilayah perguruan!” hardik Balaputera Ardhana geram.

“Oh? Benarkah demikian?” Balaputera Vikatama kemudian menoleh ke arah sekumpulan murid-murid yang menunggu di depan tugu batu itu. Ia hendak mengkonfirmasi. 

Murid-murid tersebut mengangguk pelan. Mungkin karena takut, atau sungkan, atau apalah terhadap Balaputera Ardhana yang merupakan calon perwaris tahta, mereka tiada menyuarakan bahwa sebenarnya remaja tersebutlah yang berniat menyerang terlebih dahulu. Mereka pun melirik ke arah Bintang Tenggara sebagai pelaku tindak kekerasan. 

“Kuyakin karena hari ini adalah hari pertama Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara masuk ke Perguruan Svarnadwipa, mereka belum sepenuhnya mengetahui peraturan perguruan.” Pembawaan Balaputera Vikatama demikian tenang.

“Omong kosong!” sergah Balaputera Ardhana. “Vikatama, menyerang sesama murid merupakan pelanggaran berat di dalam perguruan! Jangan kau berpihak dalam urusan ini!” 

“Apakah diriku berpihak? Diriku hanya menyampaikan fakta bahwa Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara baru saja memasuki Perguruan Svarnadwipa hari ini. Bahwa keduanya kemungkinan belum memahami peraturan perguruan.” 

Balaputera Ardhana terlihat semakin kesal. Roman mukanya memerah padam bak kepiting rebus. 

“Kau...”

“Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara,” sela Balaputera Vikatama sebelum Balaputera Ardhana bersuara lebih lanjut. “Kalian sepertinya melakukan kesalahan dengan menyerang Balaputera Ardhana. Ikutlah denganku. Diriku akan menjelaskan aturan Perguruan Svarnadwipa.”

“Tidak! Aku tak terima. Aku menuntut penyelesaian!” 

“Balaputera Prameswara dan Balaputera Gara, pertikaian antara murid-murid di dalam Perguruan Svarnadwipa diselesaikan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah berkompetisi di dalam Tugu Ampera,” papar Balaputera Vikatama, yang mengabaikan Balaputera Ardhana. “Di hadapan kita adalah Tugu Ampera Barat. Terdapat empat Tugu Ampera, yaitu: Barat, Utara, Timur dan Selatan. Di balik setiap satunya adalah sebuah ruang dimensi tempat murid-murid berlatih. Setiap Tugu Ampera memuat halang rintang yang berbeda jenisnya.” 

Bintang Tenggara mendengarkan dengan seksama. Balaputera Prameswara sudah terlihat khawatir sedari tadi. 

“Ardhana, apakah dikau bersedia menyelesaikan perlisihan di dalam Tugu Ampera Barat?” Balaputera Vikatama berujar ringan. 

Di saat Balaputera Vikatama menyarankan penyelesaian, ia juga menyapu pandang ke arah murid-murid yang sedari tadi berkumpul. Tidak hanya mereka, beberapa murid lain pun berdatangan ketika menyadari akan adanya peristiwa keributan. Pertanyaan Balaputera Vikatama tersebut dijawab dengan anggukan murid-murid lain petanda setuju. Kata-kata dan gelagat Balaputera Vikatama dalam menarik persetujuan khalayak, dilakukan dengan demikian halus. 

Balaputera Ardhana menyadari akan muslihat tersebut, akan tetapi tiada mungkin baginya menolak. Tentu ia tak hendak dikatakan sebagai pengecut. “Baiklah!” 

“Diriku akan mengemban tanggung jawab atas tindakan tadi.” Bintang Tenggara berujar tenang. 

“Tugu Ampera Barat merupakan rintangan raga,” papar Balaputera Vikatama cepat. “Terdapat 1.000 lapisan segel yang setiap satunya wajib ditempuh selangkah demi selangkah. Dikau hanya perlu terus melangkah dengan tujuan menembus sebanyak mungkin formasi segel. Jurus unsur kesaktian dan keterampilan khusus tiada dapat dimanfaatkan di dalam ruang dimensi tersebut. Hanya jurus persilatan saja yang diperkenankan.” 

“Apakah sudah selesai pemaparanmu wahai Vikatama...?” Balaputera Ardhana mencibir. Ia memelototi Bintang Tenggara, menelan sebutir pil, lalu membuang wajah sambil melangkah ke arah Tugu Ampera Barat. Ketika ia menempelkan telapak tangan pada permukaan tugu, sebuah lorong dimensi ruang pun membuka. 

“Terima kasih, wahai Balaputera Vikatama,” ujar Bintang Tenggara pelan. 

“Sepupu Gara...,” Balaputera Prameswara terlihat demikian khawatir. 

Bintang Tenggara menyusul ke dalam lorong dimensi ruang. Segera ia tiba di sebuah wilayah dengan hamparan terbuka. Sekira sepuluh langkah di sebelahnya, Balaputera Ardhana terlihat menanti dengan wajah garang. Di atas kepalanya terlihat melayang angka ‘1.000’ berwarna kebiruan setengah transparan. 

Bintang Tenggara mengamati ke depan. Lapisan-lapisan formasi segel terlihat seperti lapisan-lapisan kaca berwarna-warni yang terpisah jarak satu langkah. Inikah yang dimaksud Balaputera Vikatama sebagai rintangan raga? pikirnya dalam hati. 

Balaputera Ardhana mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh, lalu merangsek cepat ke depan. Ia menembus setiap formasi segel dengan mudahnya. Kemungkinan karena telah terbiasa bermain-main di dalam ruang dimensi ini, ia sudah cukup memahami cara kerjanya. Angka di atas kepala remaja lelaki itu turun dengan cepat... ‘999’, ‘998’, ‘997’, ‘996’... 

Sebaliknya Bintang Tenggara lebih berhati-hati. Ia mengambil selangkah maju dan merasakan seolah tubuhnya menempus sebuah tirai kain nan tipis. Anak remaja itu lalu mendongak, dan mendapati angka ‘999’ di atas kepalanya. Selangkah lagi... ‘998’...

Bintang Tenggara mulai berlari-lari kecil. Berlari berjingkat ala Babi Taring Hutan, untuk lebih tepatnya. Semakin lama, ia merasakan bahwa lapisan segel semakin terasa sedikit berat. Meski demikian, anak remaja tersebut masih dapat dengan leluasa berlari berjingkat.

...


“Janganlah khawatir,” sapa Balaputera Vikatama. “Tiada hal buruk yang akan terjadi di dalam Tugu Ampera Barat. Para petinggi perguruan telah menyiapkan sarana berlatih terbaik bagi murid-murid.” 

Sebaliknya, Wara terlihat semakin ciut. Sungguh ia menyesal telah mendatangi Perguruan Svarnadwipa. Baru saja tiba, hal-hal buruk yang selama ini ia hindari langsung saja terjadi tanpa banyak basa-basi. Esok, tiada ia akan datang lagi!

...


‘700’ adalah angka yang melayang tepat di atas kepala Bintang Tenggara. Setiap satu langkahnya kini terasa lebih berat. Akan tetapi, belum hendak ia mengalirkan tenaga dalam sama sekali. Sampai sejauh ini, yang ia lakukan adalah memanfaatkan kemampuan raga sahaja. Tiada sia-sia kegiatan melatih raga bersama Panglima Segantang selama ini. 

‘600’

Samar, Bintang Tenggara mendapati Balaputera Ardhana berdiri diam di hadapan. Anak remaja itu segera memahami maksud dan tujuan lawan. 

“Cih! Apa yang bisa dilakukan seorang ahli Kasta Perunggu di dalam dimensi ruang berlatih ini!?” 

Betapa ia terdengar sangat percaya diri bahwa Bintang Tenggara telah banyak membuang-buang tenaga dalam untuk sampai ke titik dimana dirinya menanti. Alangkah mudah baginya kini membungkam lawan. Atau setidaknya, demikianlah ia berpikir... 

“Buk!” Bogem mentah Bintang Tenggara menyapa tanpa hambatan ke wajah Balaputera Ardhana yang maju menyerang. Ia pun terpental ke belakang. 

Meski Balaputera Ardhana berada pada Kasta Perak Tingkat 1, di dalam ruang dimensi ini, ia tiada dapat memanfaatkan unsur kesaktian maupun formasi segel, sehingga hanya dapat mengerahkan kekuatan raga yang ditopang tenaga dalam. Ia pun sepertinya tiada menguasai jurus persilatan yang mumpuni. Terlebih lagi, yang tiada ia ketahui, lawannya bukan berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, melainkan Kasta Perunggu Tingkat 10! 

Bintang Tenggara meneruskan langkah. 

“Brak!” Tendangan sapuan Bintang Tenggara mendarat mulus di perut Balaputera Ardhana yang hendak membokong dari belakang. Lawan pun pun jatuh terjungkal.

Balaputera Ardhana menggeretakkan gigi. Ia sesungguhnya tiada bodoh. Segera ia mengingat bahwa Balaputera Gara digadang-gadang memiliki kemampuan setara Kasta Perak. Ia pun telah memastikan secara langsung, tentunya dengan memar di wajah dan senak di perut. Segera ia menyimpulkan bahwasanya, kelebihan dari anak remaja tersebut kemungkinan besar merupakan kemampuan raga. Terpaksa ia menelan pil pahit setelah tiga kali dipukuli, sekali di luar dan dua kali di dalam ruang dimensi. Kerbau sekali pun tiada akan terperosok ke dalam lubang yang sama sampai empat kali.

Menggeretakkan gigi, Balaputera Ardhana pun memutuskan untuk lebih fokus mengalahkan lawan dalam peringkat Tugu Ampera Barat sahaja. Keunggulan mustika penyimpanan tenaga dalam antara Kasta Perak dengan Kasta Perunggu tetap akan menjadi jurang pemisah di antara mereka. Ia akan meraih kemenangan mudah di dalam ruang dimensi ini. Setidaknya, demikianlah logika pemikiran yang wajar. 

Sebagai catatan, Bintang Tenggara telah menyadari sedari awal bahwa di dalam ruang dimensi ini, tenaga alam terasa kering. Diketahui, bahwasanya terdapat dimensi ruang yang melimpah ruah dengan tenaga alam, ada yang biasa-biasa saja, ada pula yang serta-merta kosong. Atas alasan inilah sejak awal anak remaja itu menghemat tenaga dalam, karena jurus Delapan Penjuru Mata Angin meski dikerahkan tiada akan dapat menyerap tenaga alam dari dimensi ruang ini. 

Tindakan yang diambil oleh anak remaja ini adalah sejalan dengan 99 Taktik Tempur ala Komodo Nagaradja, yaitu No. 15: Hemat Pangkal Jaya.

Bintang Tenggara berhenti pada langkah ke-500. Hanya mengerahkan kemampuan raga, tanpa bantuan mengalirkan tenaga dalam ke seluruh penjuru tubuh, ia hanya mampu menembus sampai ke titik ini. Untuk terus melangkah maju, tenaga dalam harus mulai dialirkan dari mustika di ulu hati. 

Usai mengalirkan tenaga dalam, Bintang Tenggara masih terus berlari berjingkat. Sebisa mungkin ia berupaya menghemat tenaga dalam yang tiada dapat ditambah. Balaputera Ardhana terlihat sudah berada jauh di depan. Kemungkinan ia berpikir untuk mempermalukan lawan dengan betapa jauh selisih tingkatan di dalam Tugu Ampera Barat nanti.

‘400’

‘300’

Bintang Tenggara berdiri diam. Lapisan formasi segel di hadapannya tiada dapat ditembus. Beruntung bagi anak remaja itu, ia mengamati Balaputera Ardhana yang mengoyak paksa lapisan segel. Demikian, Bintang Tenggara melapisi sekujur lengan dengan tenaga dalam dan menancapkan jemari. Ia pun mengoyak formasi segel satu lapisan ke lapisan berikutnya. 

‘200’

Mengoyak lapisan segel pun sudah tiada lagi dapat dilakukan. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari ruang penyimpanan mustika retak miliki Komodo Nagaradja. Bentuknya panjang sekali, berwarna putih bersih dengan guratan ukiran mirip jalinan tulang belakang… Tempuling Raja Naga. 

Balaputera Ardhana telah terlebih dahulu mengeluarkan sebilah pedang untuk menebas dan merobek lapisan formasi segel. Rupanya, di dalam dimensi ruang Tugu Ampera Barat ini, senjata masih dianggap sebagai perpanjangan tangan sekaligus jurus persilatan. Terlepas dari itu, lagi-lagi Balaputera Ardhana ‘mengilhami’ lawan. Bagaimana tidak, dengan ia merangsek terlebih dahulu di depan, maka lawan di belakangnya dengan mudah mencontek apa pun yang ia lakukan dalam menembus formasi segel. Sungguh kurang taktis. 

Demikian, seorang lamafa muda menusukkan senjata andalannya, dan merobek lapisan formasi segel

‘150’

Bahkan Tempuling Raja Naga tiada lagi dapat menembus lapisan formasi segel berikutnya. Rasanya seperti menikam batu karang nan kokoh, bahkan telapak tangannya melecet karena berkali-kali menikamkan tempuling. Tak kunjung tembus jua. 

Kini, yang dapat Bintang Tenggara lakukan adalah berkomat-kamit seolah sedang merapal sesuatu. Telapak tangannya memegang sesuatu yang mirip dengan sebuah cangkir bertutup. Akan tetapi, setelah selesai merapal puisi pemanggilan dan setengah berharap, tiada lorong dimensi yang membuka, dan tiada seorang perempuan dewasa nan menyeramkan yang merangkak keluar. Sepertinya ruang dimensi ini memiliki aturan khusus agar para peserta di dalamnya tiada dapat ‘mengundang’ sesuatu dari luar…

Andai saja dapat menebaskan golok Mustika Pencuri Gesit, maka Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa dirinya dapat melenggang lebih jauh lagi. Bahkan, kemungkinan menebas puluhan lapisan segel di saat yang bersamaan.

Balaputera Ardhana sudah berada berada pada titik 100, atau dengan kata lain telah menempuh 900 langkah. Ia beristirahat sejenak. Pencapaian terbaiknya adalah urutan ke-59. Selain mempermalukan Balaputera Gara, siapa tahu dalam kesempatan ini ia dapat melangkahi Balaputera Vikatama yang berada di urutan ke-56. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. 

“DUAR!” 

Tetiba sebuah suara ledakan memekak telinga memecah lamunan Balaputera Ardhana. Sakin terkejutnya, ia dibuat jatuh terjerembab. 

Suara menggelegar dan membahana memanglah tak dapat dihilangkan, karena merupakan dampak samping dari jurus nan maha digdaya. Hanya dalam satu kelebat mata, sederetan formasi segel tercabik-cabik. Luas cakupan kekuatan jurus sekira seluas sepuluh kali sepuluh langkah. Dampak yang dihasilkan ibarat seekor harimau raksasa yang baru usai mencabikkan cakar-cakar nan tajam perkasa! 

Bintang Tenggara baru saja melepas melepas lima tinju beruntun sebanyak dua kali. Runtutan pertama menciptakan gelombang kejut, akan tetapi sebelum gelombang kejut tersebut meledak, gelombang kejut kedua bergerak menyapu ke depan. Tinju Super Sakti, Gerakan Kedua: Harimau! Walau dampak dari jurus hanya seluas sepuluh kali sepuluh langkah, gelombang kejut yang tercipta di dalam ruang dimensi ini terus merambat. Pada akhirnya, jurus persilatan tersebut sampai merobek paksa 30 lapis formasi segel dalam satu gerakan melibas!

“DUAR!” 

Jurus persilatan yang sama kembali merobek 20 lapisan segel formasi segel. Tak berselang lama, Bintang Tenggara telah tiba pada lapisan formasi segel yang sama dengan Balaputera Ardhana. Keduanya berdiri sejajar, terpisah jarak sekira sepuluh langkah. Angka ‘100’ pun berpendar ringan di atas kepala Balaputera Gara. 



Catatan:

Tahukah wahai ahli baca nan budiman, bahwa di dunia lain yaitu di sebuah kota bernama Palembang, terdapat sebuah tugu bernama Tugu Parameswara? 

Aha! Apakah ini sebuah kebetulan?


Cuap-cuap: 

Dengan berat hati ahli karang idaman terpaksa mengambil keputusan sulit sekaligus egois. Dalam beberapa waktu ke belakang, sekian banyak bacaan yang menumpuk dan belum sempat diselesaikan. Oleh karena itu, demi kesempatan mengkaji lebih dalam, Legenda Lamafa akan berlibur selama dua pekan dan kembali pada Senin, 4 Juni 2018 pukul 03.00 WIB. 

Tabik.