Episode 46 - This Annual Tournament, Officially Closed


"Pemenang turnamen tahun ini adalah..."

Seluruh Penonton seketika fokus dan hening untuk mendengar hasilnya.

"NICHOLAS OBSIDUS DARI UMBRA !!"

.

.

.

.

.

"HUWOOO !! Nicholas...! Nicholas...!"

“Nicholas...! Nicholas...!"

“Nicholas...! Nicholas...!"

***

"Hee!? Apa-apaan nih? Alzen kalah!?" Chandra sulit mempercayainya, raut wajahnya betul-betul kecewa namun masih ragu akan hasilnya. "Tapi kan,"

"Hahaha... Chandra! Tak perlu kau pikirkan," Lasius menepuk pundak Chandra sambil perlahan-lahan berdiri. "Soal sepele begitu."

"Sepele gimana? Alzen kalah!? Yang benar saja." Chandra bertanya dengan ekspresi yang masih tak mau percaya.

Angguk Lasius. "Kau tidak dengar tadi? Atau sulit bagimu untuk menerimanya? Alzen kalah, Nicholas-lah yang menang."

"Haahh..." Chandra duduk dengan perasaan yang masih sama. "Jadi... Alzen, kalah?"

***

"Tak semua orang bisa seperti dia," puji Gunin dengan tersenyum. "Sudah terpojok tapi masih bisa memojokkan lawannya. Mengerikan!"

"Hee? Si rambut biru itu kalah? Masa sih?!" ucap Cefhi sambil buru-buru berlari ke depan untuk melihatnya lebih jelas. "Padahal terceburnya samaan loh. Tapi kok..."

"Tidak, mereka tidak jatuh berbarengan.” balas Fia. “Setelah Alzen tercebur. Baru selang 2 detik kemudian Nicholas menyentuh permukaan kolam. Aku lihat sendiri, 2 detik itu lama loh."

“Haa... masa sih, begitu?” Cefhi masih menolak untuk percaya.

***

Lalu sahut Bartell dengan selebrasi yang agak berlebihan. "WOOOO !! RASAIN !! RASAIN !! WAHAHAHA !! BIAR MAMPUS KAMU !!" kata-kata itu dilontarkan dari seorang berpenampilan biksu botak berbadan besar.

"Bartell kau terlalu berlebihan, malu ahh. Duduk, duduk sini." kata Eriya, instrukturnya dengan wajah merah, gesturenya seolah ingin berkata, aku tak kenal ini, tolong jangan salahkan aku.

"WAHAHAHA !! Dendam Joran, terbalaskan! WOHOO !! NICHOLAS! KAU YANG TERBAIK !!"

"Bartell... sudahlah!"

***

"Woah... benar-benar hasil akhir yang tak kusangka-sangka. " ucap Sever sambil mengibas rambut dengan elegan.

"Kyaaa! Kak Sever tampan!" sahur para penonton remaja wanita.

"Apaan sih... Orang bencis begitu diidolain!" ucap teman sekelasnya nyinyir.

"Kau iri kan? Karena dia ganteng." Sindir orang disampingnya.

"Enggak! Percuma ganteng tapi gak suka cewek."

***

"Aku suka! Aku suka! Aku suka! Yea! Yea! YEA!" kata Fhonia sambil lompat-lompat kegirangan. "Mereka berdua memang sama-sama superstarnya! Aku suka!"

"Akhirnya turnamen ini selesai juga." komentar Luiz dengan tenang, sambil melipat tangan dan menyilangkan kaki.

***

"Lihat Vel! Lihat! Nicholas menang! Wohooo!!" kata Sinus dengan kegirangan.

"Hahh..." jawab Velizar sambil menghela nafas yang lagi-lagi tanpa emosi, ia selalu tidak bersemangat seperti biasanya. "Kan sudah kubilang. Dia pasti menang. Kayak gak kenal Nicholas aja."

"Ini artinya kita diundang ke rumahnya buat makan-makan. Kau tahu kan, si Nico itu tajir gila. Kalau makan di rumahnya, buset! Enak-enak banget makanannya. Sesuap disana bisa kebeli makan-makanan mahal, selama seminggu disini."

"Ohh menu mana makanan kita nanti mengandung emas murni?" sindir Velizar. “Bagus deh...” lalu ia menguap kembali.

"Ahh kau ini tak bisa bercanda ya... ya aku hanya hiperbola, melebih-lebihkan saja. Gitu aja gak paham." ucap Sinus sambil merangkul Velizar. "Berarti, nanti malam atau besok. Ahh terserah, yang penting makan-makan!"

"Jadi kau senang Nicholas menang karena bisa makan-makan ya?"

"Lohh iya dong! Ma-maksudku, ya... Aku juga senang Nicholas menang. Tapi, tapi kan? Memangnya tidak boleh senang karena diundang makan-makan?"

Velizar kemudian beranjak berdiri sambil menggenggam katananya yang disarungkan. "Entah... pikir saja sendiri."

"Velizar, Sinus. Kalian lihat Hael tidak?" tanya Volric dengan gelisah.

Namun baik Sinus maupun Velizar, hanya geleng-geleng kepala.

"Tidak, aku tak lihat dia..." jawab Velizar.

"Huh! Siapa peduli anak lemah itu, paling juga lagi nangis di pojokkan nanti. Nanti kalau sudah belajar di kelas lagi, aku mau bully dia lagi ahh..." ucap Sinus sambil meninju telapak tangannya sendiri. "Tanganku sudah kangen dan gatal untuk nonjok dia."

"Sebaiknya kau berhenti saja. Apa kesenangan dari menindas yang lemah sih?"

"Ya enak aja... Di pukul gak ngelawan, di kata-katain diam saja. Tahu-tahu nangis dan nangisnya itu lucu banget. Lagian memangnya kamu pernah merasa senang? Tertawa saja tak pernah."

"Hahh... ya... ya... karena dunia ini, sangatlah membosankan." kata Velizar sambil menatap langit biru diatasnya. Sebelum akhirnya ia beranjak pergi.

Setelah Sinus dan Velizar pergi, Volric mulai memperlihatkan tanda-tanda panik yang makin jelas. "Gawat!? Anak itu!? Pergi kemana dia!?" ucapnya sambil memegangi kepala dengan kedua tangan.

"Puwah... sudah selesai ya." kata Sintra dengan senyum lega. "Leena malah yang jadi juara 3-nya. Sang juara 1 di ujian masuk menjadi juara 3, juara 3 menjadi juara 2 dan juara 2 menjadi juara 1. Roda berputar."

***

"Alzen... kau hebat!" sahut Leena sambil mengacungkan jempol ke Alzen.

Alzen yang tidur mengapung di permukaan kolam dengan bantuan sihir airnya, hanya membalas Leena dengan senyum lega.

Alzen menoleh lurus ke depan, menatap langit yang terang benderang. "Puwahh... pada akhirnya aku kalah ya. Tapi entah kenapa... aku merasa puas sekali. Hahaha..."

"PUWAH! Alzen brengsek! Berani-beraninya dia memojokkanku sampai sejauh ini!" kata Nicholas sambil berupaya berenang untuk naik. "Tapi pada akhirnya... aku tetaplah pemenangnya! Tak mungkin aku kalah dengan orang miskin sepertimu! Mau taruh dimana wajahku di hadapan ayah nanti."

"Pak Vlau, bapak tidak keberatan dengan hasilnya?" tanya Leena yang berdiri di sisi kanan Vlaudenxius.

"Tidak sama sekali," jawabnya dengan senyum tulus.

"Tapi, Nicholas yang menang pak. Anak sombong begitu."

"Ya... meski begitu, mereka berdua dan semua yang ada disini adalah anak-anakku juga. Siapapun yang menang. Tidak jadi masalah." kata Vlaudenxius dengan senyum bangga yang tulus sekali. "Aku bangga dengan penyihir Vheins yang dari tahun ke tahun semakin bermunculan penyihir hebat, bahkan di usia yang masih sangat muda seperti kalian ini. Anak-anak sekarang sudah begitu hebat. Kamu, Alzen dan Nicholas adalah salah tiga contohnya."

"Lalu, kapan pengumuman pemenangnya?" tanya Leena.

"Sekarang, saat ini juga." kemudian Vlaudenxius melebarkan kedua tangannya. "Hadirin sekalian! Terima kasih telah datang dan menyaksikan turnamen tahun ini, baik yang telah menontonnya dari awal sampai akhir. Maupun yang baru menonton sekali ini saja. Selaku kepala sekolah dan gubernur kota Vheins. Sekali lagi... kuucapkan terima kasih, atas kehadiran kalian."

Kemudian seluruh penonton fokus mendengarnya. Karena Vlaudenxius adalah salah satu orang paling terkenal dan terhormat serta berpengaruh di Benua Azuria.

Sambung Lasius. "Penyerahan hadiah, akan dilakukan secara simbolis pada saat ini juga dan seperti yang kita sudah ketahui, Pemenang turnamen tahun ini, jatuh kepada Nicholas Obsidus dari Umbra. Ya... sama seperti pemenang tahun lalu, maksud kami. Dua tahun lalu yang juga berasal dari kelas yang sama."

Lalu kembali Vlaudenxius melanjutkan. "Buat kalian yang tidak memenangkan turnamen ini atau bahkan tak bisa ikut berpartisipasi. Jangan berkecil hati, karena pertarungan sesungguhnya bukan di turnamen ini. Tapi di luar sana nanti, ketika kelak kalian jadi penyihir hebat dunia. Dan kalian bisa dengan bangga, kalian pernah belajar sihir, di Vheins Magic University ini! Jadi teruslah melatih diri kalian untuk semakin pintar dan kuat nantinya, sekalipun turnamen ini sudah selesai. Dan dengan ini... Resmi! Turnamen tahun ini..."

Lalu hormat Vlaudenxius dengan lambaian tangan dan membungkukkan badan bersamaan dengan semua instruktur dari kelas masing-masing mengucapkan. "Kami tutup!"

Dan seketika, siang hari berubah jadi malam seperti saat pertama kali para pelajar Vheins disambut. Letupan kembang api raksasa muncul begitu saja dan meledak-ledak dengan warna yang begitu indah.

Bersamaan dengan kembang api itu, turnamen Vheins tahun ini.

Resmi ditutup...

***

"Hari ini, hari babak final turnamen Vheins diadakan dan telah selesai." kata Alzen yang seolah menarasikan kejadian setelahnya.

"Sesaat setelah pak Vlau menutup turnamen tahun ini. Nicholas, aku dan Leena berdiri diatas podium juara, fokus memandang teman-teman sekelas yang mendukung kami masing-masing. Meski aku dan Nicholas masih basah kuyup. Nicholas terlihat senang sekali berdiri di podium paling tinggi dan tak lupa, gaya sombongnya sampai saat itupun masih melekat padanya.”

"Tapi biar kutebak, ia senang bukan karena juara 1-nya dan hadiahnya. Tapi karena bisa memandang aku dan Leena, dengan posisi sedikit lebih tinggi, dengan kata lain. Dia bisa merendahkan kami berdua. Haha... lucu juga. Karena aku mulai sedikit demi sedikit mengenalnya lebih jauh."

"Setelah kami berdiri, kami diminta berpose untuk di foto... tapi apa itu foto? Hanya aku yang belum mengetahuinya. Yang jelas, seperti ada sebuah cahaya kilat yang tiba-tiba muncul dari benda hitam berbentuk kotak yang dibawa orang di depan kita.”

"Lalu setelahnya, pak Vlau memberikan plang hadiah bertuliskan nominal dan juaranya. Aku mendapat 500.000 Rez, angka yang fantastis bagi anak tak punya sepertiku. Nicholas plangnya berwarna emas, dan angkanya bertuliskan 1.000.000 Rez. Sedangkan Leena, mendapat 250.000 Rez. Tapi aku yakin, uang segitu bukan nominal yang berarti bagi mereka berdua."

"Setelah penyerahan hadiah, kami disoraki kemeriahan penonton yang mengaku sebagai fans masing-masing dari kami. Tak kusangka, banyak juga yang bersahut-sahutan menyebut namaku."

"Dan kemudian, Turnamen berakhir dan semuanya bubar satu persatu. Aku tak mengerti, tiba-tiba ada yang meminta aku menandatangani baju mereka, dan papan yang mereka bawa sendiri, memangnya aku sepopuler itu sekarang? Tapi tentu, tidak hanya aku saja. Nico dan Leena-pun mengalami hal yang sama."

"Yang paling berkesan buatku, ada seorang anak kecil yang kagum pada pertandinganku dan menyatakan diri, ingin jadi penyihir sepertiku juga. Wah... hal yang tak pernah aku bayangkan bisa terjadi padaku. Tapi aku tidak sedang bermimpi kan? Aku bahkan mengetesnya dengan mencubit pipiku keras-keras. Ehh... tidak-tidak, aku tak perlu mencubit pipiku sendiri, sudah banyak orang yang mencubitku hingga aku kesakitan. Kenapa sih mereka itu?"

"Malam harinya, kami merayakan di kelas masing-masing. Seolah terpecah 3 kubu. Kami merayakannya di tempat yang agak berjarak, meski semuanya sama-sama merayakan di kelas."

"Meski aku tak mendapat juara pertama, tapi aku tak berhak merasa sedih sedikitpun. Melihat teman-temanku di Ignis, menyambutku bagai pahlawan kelas. Ya setidaknya itu gambaran yang aku simpulkan sendiri. Meski kenyataannya tidak sampai seperti itu."

"Mereka mengangkatku ramai-ramai dan bersorak-sorai penuh sukacita. Pak Lasius lagi-lagi mentraktir kami semua makanan-makanan enak, mulai dari snack sampai makanan berat. Guru yang baik ya... dia tidak meminta traktiran dari aku yang tiba-tiba dapat banyak uang.”

"Tapi aku masih ragu sih, mungkin setelah uang hadiahnya cair. Dia meminta tagihan hari ini untuk dibebankan padaku. Setidaknya itu yang Chandra bilang. Ya... meski begitu-pun, aku tidak masalah. Aku tak pernah tertarik dengan yang namanya uang. Cintaku hanya untuk sihir seorang."

"Hari itu, adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku. Semua tertawa, semua bahagia. Aku akan ingat terus hari ini sampai kapanpun. Tapi sekali lagi, kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Setidaknya itu adalah kata-kata yang tertulis dari buku-buku yang pernah aku baca di rumah menara ayah. Aku yang cuma juara 2 ini, tak serta merta bisa membuat semuanya senang."

"Sebagian kecil teman-temanku malah menyindirku langsung di depan mataku sambil berkata, bahwa mereka kecewa aku tak menyabet gelar juara 1. Padahal, bagiku sendiri. Bisa sampai juara 2 saja, bisa mengalahkan Leena dan hampir-hampir mengalahkan Nicholas. Sudah merupakan keajaiban yang tak pernah aku sangka-sangka. Aku mensyukurinya lebih dari kekecewaan mereka padaku."

"Aku yang hanya seorang kutu buku ini, bisa mencapai prestasi begitu tinggi di sekolah bergengsi ini. Tapi lantas apakah semua itu membuatku puas? Ya... jujur saja aku puas. Tapi, kecintaanku pada sihir, tak akan membuatku berhenti sampai disini saja. Seperti kata-kata pak Vlau tadi, pertarungan sebenarnya... adalah yang diluar sana nanti."

"Di tengah malam, sekitar jam 12. Kami harusnya sudah tidur, tapi kami malah diminta ke Student Hall saat itu. Disana, sesuai janji pak Lasius dulu, sewaktu kita baru masuk ke kelasnya. Bagi yang memiliki kemampuan lebih dari satu elemen seperti Aku dan Chandra. Kami boleh belajar elemen lain, di kelas lain sesuai kebutuhan dan ketertarikan kita. Hal itu disampaikan langsung sebagai pidato penutup yang disaksikan para pelajar tingkat 1 Vheins saja. Tak ada para penonton turnamen, tak ada anak tingkat 2. Hanya kami saja."

"Disana pak Vlau bilang..."

"Apa kunci pendidikan yang sukses?" tanya pak Vlau, mengetes kami semua. "Ada yang mau memberikan pendapatnya?"

"Gurunya harus bagus pak!" jawab salah seorang murid.

"Sekolahnya harus bagus juga pak!"

"Kurikulumnya harus benar!"

"Mentri pendidikannya harus mengerti para pelajar pak!"

"Boleh... boleh..." angguk Vlaudenxius. "Tapi Vheins yang dulu, juga seperti itu. Guru kami dibayar begitu tinggi dan berasal dari master di elemen yang ia kuasai. Sekolah? Jangan tanya, seluruh kota Vheins adalah sekolah itu sendiri. Kurikulum harus benar? Ya... memang harus benar. Tapi apa itu mendorong kalian mau belajar? Lalu Mentri? Asal kalian tahu saja ya... Politik dan pemerintahan tak terlalu peduli sama kalian. Makanya aku mengambil alih jabatan pemerintahan dan berhasil merubah Vheins seperti sekarang."

Sambung Vlaudenxius. "Sampai akhirnya aku menemukan, bahwa untuk kalian mau belajar tanpa disuruh dan tetap bisa merasa senang ketika belajar. Kalian harus belajar apa yang kalian mau dan sukai. Tapi bukan hanya itu, kalian juga harus punya rasa penasaran yang sejati, rasa ingin tahu yang datangnya bukan dari disuruh orang lain atau orang tua kalian. Tapi karena diri kalian, menyukainya. Tak ada motivasi belajar, lebih besar dari rasa penasaran yang nyata."

Seisi ruangan tertegun dan fokus mendengarnya.

"Maka dari itu, Turnamen ini diselenggarakan untuk memberi kalian gambaran, bahwa sihir itu hebat. Sehebat yang teman-teman kalian sudah tunjukkan selama turnamen berlangsung. Ya... sekaligus tak bisa dipungkuri, turnamen Vheins, selalu jadi hiburan publik yang paling diminati. Menyenangkan bukan?"

"YA !!" sahut mereka serentak

"Jadi setelah turnamen ini, kalian silahkan nikmati kemenangan kalian dan bersenang-senang dulu. Kalian kami beri waktu libur 3 hari. Sebelum akhirnya, kalian bisa bersenang-senang kembali, belajar sihir yang kalian sukai di Vheins. Tapi ingat... Kalau kalian tertarik akan sesuatu. Belajarnya juga harus sungguh-sungguh! Tapi aku tak perlu ingatkan ini, karena jika kalian betul-betul cinta pada sihir. Segala cara dan upaya, akan dilakukan. Dan selamat malam."

"WOOO !!!"

.

.

"Malam penutup itu... Seolah memberitahu padaku, bahwa... ini bukan akhir melainkan awal. Awal dari sesuatu yang baru... yang menanti kami."







~ Tournament Arc End's Here ~ 

   ***