Episode 45 - And the Winner Is!


“Dasar, tidak berguna!”

Selang beberapa detik, Alzen jatuh tersungkur dengan ditopang kedua telapak tangan dan dengkulnya. Ia seperti mau muntah, karena bau busuk bangkai manusia tercium di hidungnya. Wajah Alzen pucat dan seperti semangat hidupnya diserap habis-habisan.

“Aku... aku tak mau lagi berada disini, aku aku...”

BRUGGGH !!

Alzen tumbang dan tergeletak di tanah dan tak tahan lagi hingga akhirnya... "HOEEKKK !!" Ia memuntahkan makanan yang ia makan tadi pagi saat itu juga. Seketika tubuhnya menjadi lemas, tapi suasana angker ini makin menyelimuti dirinya. Tubuh Alzen dingin dan ia gemetar ketakutan.

Seketika reaksi penonton,

"HIII...!!"

"Kenapa Alzen muntah, dia segitu kelelahannya kah?"

"Tapi masa ia tiba-tiba muntah? Entahlah, musuhnya pasti melakukan Sesuatu padanya."

"Alzen, berjuanglah!"

“Alzen! Alzen! Alzen!”

Sementara Nicholas masih berdiri, dengan tangannya di tempelkan di dadanya. Tangannya berselimut gas hitam yang berkobar-kobar seperti api. Wajahnya tersenyum melihat lawannya tersiksa. Meski para penonton yang tak bisa sihir, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di atas arena.

"Jangan-jangan, dia!?" Vlaudenxius curiga melihat Alzen yang tiba-tiba muntah, ia segera mengeceknya dengan mata yang di perkuat dengan Aura. Dan Vlaudenxius mendapati gambaran yang berbeda, Alzen kini dicekam dalam ilusi yang begitu menyeramkan baginya. Dari siang hari yang terang benderang menjadi gelap malam yang begitu horor. Dimana mayat-mayat manusia berserakan dan bau bangkainya sangat terasa, juga dikelilingi roh-roh halus yang berputar-putar di sekitar Alzen.

“Karena pak tua sialan itu. Dream Catcher-ku di banned dan tak boleh digunakan disini.” pikir Nicholas. “Sedang lawanku malah diberi keleluasaan memakai semua elemennya. Tapi akulah yang terbaik, jelas aku masih punya sihir lain untuk menyiksa lawan. Field of Death adalah sihir ilusi yang mempengaruhi pikiran lawan, seolah-seolah sedang berada di tempat paling angker dan mengerikan yang bisa ia bayangkan. Meski semua ini tak betul-betul nyata. Tapi dari indra penciuman, penglihatan, pendengaran hingga perangsang. Orang yang terkena sihir ini, akan merasa semua yang dirasakannya seolah hal yang betul-betul nyata. Permainanku adalah tentang mental... Alzen. Apa kau pernah mengalami ini sebelumnya? Hah! Aku ragu..."

"HUWAAA !! Pergi! Pergi!" Alzen mengibas-ngibas tangannya sambil menembakkan elemen secara acak, semata untuk mengusir ektoplasma yang mendekati dirinya.

Orang yang bisa melihat ini hanya Alzen, Nicholas dan Vlaudenxius. Bahkan para instruktur Vheins juga tak mampu melihatnya. Karena tanpa mata seorang Aura Tipe Unique berkemampuan Detector. Nyaris mustahil melihat ini.

Sekalipun Vlaudenxius sendiri bukanlah pemilik Aura Detector, Namun manupulasi sihir yang ia kuasai, bisa mendekati hasil yang sama. Orang yang tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, menganggap Alzen jadi gila secara tiba-tiba atau terlihat karena kelelehan.

"Nicholas, kau terlalu berlebihan, menyiksa teman seangkatanmu sampai sejauh ini." pikir Vlaudenxius dengan cemas.

"Hahaha! Ini final bung!” Nicholas begitu bersemangat bicara dalam hatinya. “Pak Vlau itu mungkin memberikan pengecualian buat Alzen. Namun hal yang sama juga berlaku bagiku. Dia tidak akan turun dan mengacau kesenanganku seperti yang dilakukannya padaku sewaktu melawan Lio barusan. Aku mau lihat, perlu berapa detik untuk membuatmu jadi tidak waras..." lalu sambungnya dengan teriakan penuh semangat. "AAALZEEEEEN !!" sahutnya.

Lalu teriak Alzen, bukan seperti orang kesakitan. Namun ketakutan seperti melihat setan. "HUWAAAAAAA !!" bentak Alzen sambil mengibas-ngibas tangannya seperti mengusir lalat-lalat yang mengkerumuninya. "Pergi! Pergi dariku! Pergi!" Ia mencoba mengusir roh-roh halus berbentuk ekstoplasma yang mondar-mandir menembus dirinya. Setiap kali roh itu menembus tubuh Alzen, tubuhnya langsung terasa dingin dan sesak nafasnya. "Enyahlah! Enyah dari hadapanku... Ugh!!? HOEKKK !!" Alzen sekali lagi muntah, namun hanya air liurnya yang tersisa. Lebih dari itu muka Alzen telah membiru.

"Hahaha! Betul-betul pemandangan yang sangat menghibur." ucap Nicholas bersuara kecil, dibarengi senyum jahat yang terlihat jelas sekali. "Alzen... kau lumayan juga. 20 detik berlalu sudah dan rata-rata orang biasa akan menjadi gila sepenuhnya dalam 2 menit saja. Otak mereka akan menganggap ilusi yang dilihatnya, seolah-olah adalah pengalaman yang betul-betul nyata."

Kemudian Nicholas melirik ke atas sebentar tanpa menolehkan kepala. Memastikan Vlaudenxius tak akan turun dan menganggunya. "Meski pandangannya terfokus padaku terus. Tapi sudah kupastikan... Aman. Vlau tak akan mengangguku."

Kemudian pandangannya kembali fokus pada Alzen. Namun...

WUSSHHH !!

"Huh...!!?" Nicholas tak siap, tiba-tiba saja semburan api besar datang ke hadapannya.

Akan tetapi, barrier yang sedari tadi melindungi sisi depannya. Otomatis melindunginya.

"Phew... hampir saja, serangan tadi membuat konsentrasi goyah." kata Nicholas dengan nafas tersengal-sengal karena kaget. "Beruntung, aku mengusai teknik pertahanan dengan sangat baik dan barrierku, tidak dapat ditembus dengan sihir lemah begitu."

"HWARRAAA !! PERGI !!" teriak Alzen meraung-raung seperti seseorang yang dikerumuni koloni lebah, yang jauh lebih besar, seram dan tembus pandang tentunya. "Menyingkir dariku!" kemudian Alzen menembakkan sihir elemen secara sembarang. Semburan api tadi, adalah yang kebetulan mengarah tepat ke tempat Nicholas berdiri.

***

"Pak Lasius, Alzen kenapa? Dia kok tiba-tiba jadi asal-asalan menggunakan sihir begitu." tanya Chandra yang khawatir pada Alzen.

"Cih! Anak itu!" tatap Lasius geram. Tapi ia menyadari, bahwa ia juga tak bisa serta merta turun dan menolong Alzen. "Aku tak tahu konkritnya. Tapi melihat reaksi Alzen seperti itu. Dia terkena sihir ilusi."

"Sihir ilusi?"

"Mirip seperti Dreamcatcher yang ia cast pada Ranni sebelumnya. Tak kusangka, ia punya sihir lain yang sama buruknya. Jarang ada pelajar tingkat 1 Vheins yang bisa sihir sesulit itu. Tapi melihat dia adalah anak keluarga Obsidus. Tak heran... tapi juga tak pantas ia gunakan di turnamen. Seolah dia ingin membuat Alzen, jadi gila sepenuhnya!"

***

"Aku... aku... aku benar-benar tak mengerti," kata Alzen dalam ilusinya. "Nicholas tiba-tiba menghilang. Dan arena ini, sekejap berubah jadi kuburan seram nan gelap seperti ini. Roh-roh gentayangan yang susah payah kuusir dengan segala macam sihir, tak kunjung enyah dari hadapanku juga. Aku harus bagaimana? Apa yang sebenarnya Nicholas lakukan padaku? Apa aku diteleportasi ke suatu tempat? Atau apa? Aku benar-benar tak mengerti! Apa ini sihirnya? Atau apa? Apa yang terjadi, aku benar-benar tidak mengerti."

"Hehehe... 1 menit sudah, tinggal 1 menit lagi untuk membuatmu gila sepenuhnya." ucap Nicholas dengan tatapan keji. "Tapi, aku juga tak boleh lengah. Mengingat ini sihir yang menggunakan konsumsi aura yang rendah namun berefek sangat mematikan. Tentu memiliki kelemahan fatal di dalamnya." sambung Nicholas. "Kalau musuh mengerti cara kerja sihir ini. Dia hanya tinggal fokus mencari letak penggunanya yang tidak terlihat namun statis berdiri di suatu tempat dan mampu mengabaikan semua yang ia lihat sebagai sesuatu yang tidak nyata. Lalu mengagalkan suplai aura penggunanya secepat mungkin. Karena, sedetik saja tanganku tidak menempel di dada. Semua ilusi ini akan lenyap, dan sihirku tak bisa digunakan lagi karena memasuki waktu *cooldown yang tidak sebentar. Tidak efektif untuk melawan orang yang berpengalaman atau jika lawannya lebih dari satu orang. Dan bila saja aku bisa berpindah tempat atau melakukan sihir jarak jauh di saat yang sama. Ketika musuh dalam kondisi tak berdaya seperti ini. Aku bisa menang dengan mudah."

"Hosh... hosh... aku... harus... bagai... mana..." Alzen kini terlihat kelelahan sekali, wajahnya pucat dan matanya hanya terbuka separuh saja. Ia terus menerus menarik nafas dengan cepat dan tubuhnya agak membungkuk karena saking lelahnya. Kedua tangannya juga terus mememangi perutnya, berupaya agar ekstoplasma itu tak menembus perutnya lagi dan lagi. Tapi... Tentu upaya Alzen tak membuahkan hasil.

"Oke, 90 detik sudah. 2 detik terakhir, biar aku hentikan sihir ini. Jika Alzen betul-betul jadi gila. Bisa repot aku jadinya. Meski jika diperbolehkan aku jelas akan melakukannya." ucap Nicholas dalam hati. "Lagipula sekuat apapun lawannya, kalau sudah kehabisan tenaga. Hanya tak lebih dari binatang buas yang sedang sakit-sakitan. Aku bisa menghempaskannya ke kolam dengan dark force paling lemah sekalipun. Alzen, sungguh... Kau masih jauh dari ekspektasiku, kau tak sekuat yang kukira. Kau lemah."

"Apa sihir ini pernah tertulis di buku yang pernah aku baca? Aku... aku tak bisa mengingatnya. Apa sebenarnya sihir ini? Apa namanya? Apa efeknya? Dan paling penting, bagaimana cara melawannya?!"

TEEENGGG...

Alzen tiba-tiba mendengar dengungan di telinganya.

"Aku ingat! Aku ingat! Aku pernah baca sihir ini, rak ketiga dari bawah, sampulnya berwarna ungu, judul bukunya Countering Dark Arts. Halaman 164, bagian 8 tentang Illussion Magic. Disana tertulis sihir seperti ini. Tapi namanya... namanya...? Field of Death! Ya... Field of Death! Lalu... lalu kelemahannya... di buku itu... ditulis..."

"Oke, 115, 116, 117, 118." Lalu Nicholas melepas tangan kanannya dari dadanya. Dan seketika, semua illusi itu lenyap bagaikan hempasan gas. Barrier yang melindungi sisi depannya pun telah ia non-aktifkan bersamaan dengan berhentinya sihir Field of Death.

Syushhh... 

Dalam hitungan detik, semuanya kembali normal.

"Hee? Kenapa tiba-tiba... terang lagi!?" Alzen terheran-heran. Seolah ada pergantian malam ke siang yang begitu cepat.

Lalu sahut Nicholas dengan penuh percaya diri, sambil mengarahkan tangan kanannya lurus ke depan. "Kau kalah Alzen!"

"Dark Force !!"

Alzen betul-betul tak siap, ia lengah dan kehabisan tenaga juga. Hempasan Dark Force dari Nicholas sudah mampu mendorongnya jauh hingga ke ujung arena. "Hahaha! Akhirnya!"

Namun Alzen tidak terhempas tanpa berbuat apa-apa. Diam-diam ia menembakkan sihir air yang digerakkanya dari kolam kedua sisi kolam ke arah Nicholas, meski dalam kondisi seterdesak itu.

"Huh!?" Nicholas tak pernah menyangka, ada gumpalan air yang cukup besar dan lebar menuju ke arahnya secara tiba-tiba. "UGHH !!?"

Meski hanya segumpal air dari kedua sisi berlawanan. Tapi daya dorong dan tekanannya sudah sanggup membuat Nicholas yang tanpa pertahanan itu, ikut terpukul mundur.

"Alzen brengsek!" kata Nicholas dalam kondisi terhempas tekanan air itu. Wajahnya terlihat benci sekali, karena dirinya kini, dibuat dalam kondisi yang sama dengan Alzen, sama-sama akan jatuh ke kolam. "Shadow... Ahh... bukuku!? Sudah dirusaknya! BRENGSEK!"

Sementara Alzen yang sudah terhempas jauh, mencoba menggapai pinggir arena. Namun ketika sudah hampir digapainya, Krek!

"AGHH! Kenapa disaat seperti ini!?" Meski Alzen mampu menggapainya, tapi ia tak lagi mampu menahan berat dirinya dan terpaksa melepas tangannya dan kembali terjatuh...

BYUURRR !!

Alzen tercebur di kolam.

"Sialan kau!" teriak Nicholas sambil tubuhnya perlahan ikut jatuh ke kolam yang berseberangan dengan Alzen.

BYUURRR !!

Nicholas juga ikut tercebur di kolam.

.

.

.

"HAAAA !!?" reaksi komentator.

Setelah kedua peserta tak ada lagi yang berdiri diatas arena. Momen-momen hening para penonton dengan mulut ternganga membuat kemeriahan arena, sesaat jadi seperti kuburan sepi... Mereka perlu waktu untuk berpikir siapakah pemenangnya. Karena kejadian barusan, terjadi begitu cepat.

"Kedua peserta sama-sama tercebur di kolam, akan tetapi. Siapa yang tercebur lebih dululah yang dinyatakan kalah. Kami telah melihat hasilnya dengan teliti, apapun hasilnya. Sudah diputuskan dan tak dapat diganggu gugat..."

.

.

.

.

.

.

.

"Pemenang turnamen tahun ini adalah..."

Seluruh Penonton seketika fokus dan hening untuk mendengar hasilnya.

.

.

.

.

.

.

.

"NICHOLAS OBSIDUS DARI UMBRA !!"

***