Episode 44 - Master of Three Elements


"Belum, belum... ini belum cukup. Aku sama sekali belum puas menyiksamu." kata Nicholas dengan nada tenang.

"Shadow Tail – Chain Coil !!"

Dari buku sihir Nicholas, Shadow Tail dimunculkan kembali dan kini diperintah untuk bergerak melilit Alzen mulai dari leher, lengan tangan, perut hingga kaki. Terlilit seperti dililit ular. Alzen yang sudah bisa jatuh ke kolam saat itu juga. Ditarik kembali ke arena untuk dibanting-banting dan disiksa lebih lanjut oleh Nicholas.

BRUGGHHH !!

Bantingan pertama menghantam Alzen ke lantai. Lalu dilayangkan kembali ke atas, kemudian...

BRUGGHHH !!

Alzen dibanting kembali untuk kali kedua. Dan dilayangkan kembali untuk di banting kembali...

BRUGGHHH !!

“Aku... aku sudah tidak kuat lagi. Aku tak bisa menang melawannya. Aku... kalah.”

Alzen dibanting kembali untuk ketiga kali. Dan dilayangkan kembali untuk di banting kembali...

BRUGGHHH !!

"Sial!! Dia tidak mau berhenti juga. Kalau begini caranya... aku terpaksa." Alzen dalam rasa sakit yang begitu dashyat, tak bisa menemukan cara lain untuk melepaskan diri, selain... "Melanggar peraturan."

BZZZZSSSTTT !!

"Huh!?" Nicholas mendengar bunyi sengatan listrik, tapi masih mencoba menerka-nerka darimana sumbernya.

"Lightning Stream !!"

Dari tubuh Alzen, keluar sejumlah listrik biru bertegangan tinggi, menyengat mulai dari Shadow Tail yang melilit dirinya hingga menjalar ke pusatnya yaitu Grimoire yang digenggam Nicholas secara cepat..

Melihat listrik menjalar mendekati bukunya, Nicholas langsung melepas buku itu dari genggamannya dan membuangnya langsung ke depan. Tak lama kemudian, setelah tergeletak di tanah, buku Grimoire itu ikut tersengat listrik hingga halamannya lecek, sobek sampai rusak sepenuhnya. Karena besar tegangannya.

Buku itu berperan sebagai pusat dari Shadow Tail. Sehingga bersamaan dengan hancurnya buku itu, Shadow Tail-pun lenyap perlahan, hilang perlahan menjadi abu yang terbang ke atas, diterpa angin.

“Hosh... hosh... hosh. Ohog! Ohog! Ohog!” Alzen tengkurap di lantai batu arena sambil batuk-batuk dan sesekali muntah. “Aku lepas, aku berhasil lepas. Hosh... hosh... selamat.” Selagi beregenerasi sebentar, Alzen mencoba menenangkan dirinya. Ia sangat ketakutan sekali. Dan lagi-lagi, ia berada dalam luka parah yang membuatnya berlumuran oleh darahnya sendiri.

"Kau... apa maksudnya ini? Kau gunakan elemen lain?!" tatap Nicholas, seolah meminta pertanggung jawaban. “KAU CURANG !!” bentak Nicholas.

"Aku terpaksa! Hosh... hosh..." jawab Alzen dengan nafas tersengal-sengal sambil dengan susah payah membungkuk dan perlahan-lahan berdiri. "Cukup sudah soal mengikuti aturan. Aku sadar betul, lawanku kali ini bukanlah lawan yang bisa diatasi, dengan kemampuan setengah-setengah! Hahh... hahh..."

"Hei Vlau! Bagaimana ini!" Nicholas mengadu dengan geram pada Vlaudenxius diatasnya. "Dia curang!"

"Oooowww..." 

Bentakan Nicholas mengangetkan penonton, karena sikap tidak sopannya pada kepala sekolah yang begitu dihormati orang-orang Greenhill.

"Dia... memanggil pak gubernur dengan cara seperti itu? Tidak sopan..."

"Hei anak sombong itu perlu diajarkan sopan santun!"

"Dia cerdas, pintar, tapi sikapnya tidak baik. Sungguh tidak ada tatakrama."

Namun Vlaudenxius terlihat tak masalah sama sekali dengan hal itu. Ia bukan orang yang gila hormat dan harus selalu dihormati oleh siapapun.

“Ehem, ehem, mohon maaf hadirin sekalian.” kata panitia. “Karena peserta Alzen menggunakan elemen lainnya yang tidak diperbolehkan di turnamen maka... peserta Alzen-”

"Tidak!” potong Vlaudenxius. “Untuk pertandingan puncak ini, hal semacam itu diperbolehkan."

"Brengsek! Apa-apaan ini, Vlau?!" Nicholas tak terima dengan jawaban yang ia dengar barusan.

"Boleh!?" tanya Alzen, memastikan apa yang ia dengar barusan, bukan salah dengar. "Pak! Aku boleh gunakan semua elemenku?"

"Ya... kerahkan seluruh kemampuan kalian. Tanpa tanggung-tanggung." balas Vlaudenxius dari atas. “Lagipula, ini final kan?”

"Ahh... kalau begitu, kenapa tidak bilang daritadi." Alzen tanpa berlama-lama lagi, langsung mengeluarkan ketiga elemennya sekaligus, yaitu Api, Air dan Petir. Bergerak mengelilinginya secara bersamaan dengan sangat indah.

Alzen seperti menantikan kesempatan ini sejak lama dan sangat terkekang sekali dengan aturan turnamen selama ini. Alzen merasa seperti sudah bebas dari rantai besi latihan yang membelengunya sejak awal pertandingan. Dan kini... semua itu dilepaskannya, seluruh kemampuannya, dapat dikerahkan saat ini juga.

"Tapi pak!" Nicholas masih tak terima. “Kau benar-benar keterlaluan! Kau memihak padanya!”

"Aku memihak pada keduanya, kalian berdua adalah penyihir muda yang sangat hebat.” jawab Vladenxius. “Jadi biarku tanya balik. Apa kamu mau menang dengan cara Alzen di diskualifikasi karena melanggar aturan elemen? Apa kau mau menang dengan cara seperti itu?"

"Cih... pak tua ini," ucap Nicholas dengan suara kecil dan kesal atas jawaban yang ia terima. "Benar-benar pandai sekali bicara."

"Oke Nicholas!" sahut Alzen, sambil menghampiri Nicholas dengan ketiga elemen yang mengitari dirinya. "Entah aku dapat aura darimana, tapi aku begitu semangat sekarang! Waktunya serius!"

Alzen langsung bergerak cepat dengan dorongan elemen apinya yang membantunya bergerak cepat, seperti roket.

Nicholas yang masih terganggu dengan perubahan aturan ini, tak fokus dan menangkis dengan reflek, tidak dengan Barrier seperti biasanya. Namun...

"Elemental Eater !!"

Ucapnya dengan tergesa-gesa. Hingga kemudian sebuah barricade gas hitam, melindungi sisi depannya.

"HYAAAA !!" Alzen bergegas menyerang dengan tembakan bola apinya dari jarak dekat. Akan tetapi...

Pushh...

"Hmm!?" suara hembusan api yang Nicholas dengar, terdengar begitu pelan. Suaranya tak lebih keras dari sekadar letupan api biasa.

"Hehe..." senyum Alzen, merasa rencananya tepat sasaran. "Kena kau!"

Alzen mengibas tangannya dari depan ke belakang. Dan tiba-tiba datang sebuah hempasan air dari belakang Nicholas.

BYUURR !!

Nicholas terguyur gumpalan air dari sisi belakangnya. Hingga membasahi seluruh tubuhnya.

"Brengsek! Tak pernah aku dihina sampai seperti ini!" geram Nicholas, sifat tenang dan tanpa emosinya tadi. Seolah sudah dipatahkan ketika Alzen melanggar aturan elemen. Ia kembali menjadi Nicholas seperti biasa sejak saat itu.

Di tengah-tengah emosi marahnya, Nicholas tetap berusaha fokus dan memprediksi gerak-gerak lawan. Mengetahui dirinya telah basah kuyup dan Alzen yang seketika langsung meng-cast sihir Petir saat itu juga. Nicholas tahu apa yang akan dilakukan Alzen selanjutnya.

"Thunder Strike !!"

Dalam jeda beberapa detik saja, Alzen langsung menyambung sihir air tadi dengan sihir petir. Seperti yang telah diketahui banyak penyihir elemen. Air dan Petir adalah salah satu kombinasi maut. Petir yang sudah sangat menyakitkan, akan lebih menyakitkan lagi jika musuh dalam keadaan basah.

"Absorption Barricade !!"

Sebuah dinding gas hitam yang lebarnya kurang lebih sama seperti sebuah pillar. Kini di cast oleh Nicholas hingga lebarnya mencapai 5 meter dengan bentuk lengkung. Yang pasti, sihir apapun yang datang dari sisi depan Nicholas, tak mungkin bisa lolos dari dinding pertahanan ini.

"Hah!? Hosh... hosh..." Alzen yang jadi sangat kelelahan karena terlalu banyak menggunakan Aura. Kini melihat usahanya tak membuahkan hasil juga. Ia jatuh dalam posisi berlutut dan batuk-batuk. "Ohogg... Ohogg... Lawanku yang satu ini, benar-benar berada di level yang berbeda." ucapnya dengan wajah kelelahan dan mata tertutup satu, sambil memegangi pundaknya yang terasa nyeri.

Padahal kalau diingat-ingat, dengan sihir combo barusan. Alzen bisa menumbangkan manusia besar seperti Joran, sebelumnya.

Namun hanya untuk 3 detik saja, Absorpstion bertahan. Setelah menyerap petirnya hingga tuntas. Nicholas langsung membatalkan sihirnya. Alzen mendapati Nicholas juga mengalami kondisi yang sama buruknya dengan dia sekarang.

"Ohogg... ohogg!" Nicholas batuk-batuk dan terlihat kelelahan sekali. Ia bahkan tak membalikkan serangan Alzen seperti yang biasa ia lakukan. "Hosh... hosh... Brengsek aku terlambat melakukan Repel. Ohog! Penggunaan Aura tipe Eater sebesar itu, terlalu memberi beban untuk tubuh dan Aura-ku. Aku pikir aku akan menang dengan mudah, tapi dia... Dengan ketiga elemen miliknya sekarang..." lalu Nicholas beralih menatap Vlaudenxius dengan kesal, karena mengizinkan Alzen begitu saja untuk memakai ketiga elemennya.

"Hosh... hosh... padahal dulu... kalau dingat-ingat," ucap Alzen sambil terus menghela nafas. "Sebelum sekolah disini, aku hanya bisa sekali dalam sehari, meng-cast sihir kuat seperti hari ini. Tapi ajaran pak Lasius tentang stamina yang melelahkan itu. Ternyata kini kulihat sendiri hasilnya. Ohog! Ohog! Aku bisa tetap sadar dan tidak pingsan seperti yang dulu-dulu, sekalipun sudah menggunakan Aura sebanyak hari ini. Hosh..." kemudian Alzen menatap ke atas, ke bangku penonton Ignis. "Pak Lasius... aku bersyukur kau adalah guruku."

"Alzen Franquille ya... hosh... hosh..." ucap Nicholas dengan nafas yang lelah. "Sekarang kuakui, selain Leena, kau orang yang kedua yang sebaya denganku. Yang mampu memojokkanku sampai seperti ini. Tidak... harus kuakui, kau bahkan lebih buruk dari Leena. Kaulah yang terburuk."

"Leena!? Memangnya kau ada hubungan apa dengan Leena?" tanya Alzen yang masih belum mengetahuinya sampai saat ini.

"Kami rival! Rival abadi... sejak kecil, di Vheins ini... kami terus bersaing menjadi yang nomor 1. Tapi kini... ada orang baru yang mampu menandingi kita berdua. Kami yang lahir dengan bakat dan mau belajar dengan tekun. Kini harus menghadapi fakta, bahwa ada orang dari kaum kelas bawah. Mampu mengungguli kami."

"Kau bicara ngelantur apa lagi sih?" protes Alzen yang tak paham apa yang dimaksudkan Nicholas. "Kenapa kau selalu bawa-bawa masalah derajat sosial ke dalam pertandingan? Siapa juga yang mengguli? Aku kan cum-"

"Cukup!" sahut Nicholas sambil menghempas tangan kanannya. "Percuma aku jelaskan padamu! Dalam Duel, hanya pemenang yang punya kuasa atas yang kalah. Siapa yang menang, dialah kebenaran!"

"Hee!? Kenapa kau jadi marah-marah begitu sekarang?" balas Alzen. “Kamu ini... aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu. Apa yang ada di otakmu hanya merendahkan orang lain saja! Hah?!”

***

Sementara itu, Leena di bangku penonton, duduk di samping kanan Vlaudenxius.

"Ohh... Nico... Nico..." lalu, ucap Leena dalam hati. "Tak perlu juga kan, kau mengungkapkan persaingan kita di pertandingan ini. Aku kenal kamu sejak lama... selain sifatmu yang kekal sombong itu. Tidak bisa menerima kekalahan juga adalah sifat burukmu yang lain. Kau kewalahan kalau harus menerima, lawan yang kau anggap enteng. Ternyata lebih kuat darimu. Memang kau selalu berkata, kau tak pernah meremehkan musuh. Tapi sifatmu yang selalu merendahkan orang lain saja... sudah bentuk dari meremehkan musuh. Kau akan belajar sesuatu dari pertandingan ini, dari Alzen yang kau pandang sebelah mata itu. Kau akan kalah!"

"Nicholas! Kau harus kalahkan si bajingan itu! Apapun caranya! Kau harus menang!" sahut Bartell dengan kepala berurat dari bangku penonton. Ia meneriakinya sambil berdiri.

"Bartell... sudahlah." kata Eriya sambil memegangi pundaknya, untuk secara tak langsung memintanya duduk kembali. "Kau terlalu membuat kekalahan Joran begitu personal."

"Tentu saja ini personal! Joran bahkan belum siuman sampai sekarang. Sedangkan dia... GRR! Kalahkan dia Nicholas!"

"Alzen! Alzen! Alzen!" sorak sorai dukungan pada Alzen, membuat telinga Bartell panas.

"GRRR..." lalu Bartell membalikkan badannya dan berteriak. "BERISIK !!"

"Hei Bartell!? Kau!" Eriya malu melihat sikap Bartell. “Tolong berhenti, duduk dan diam saja. Kau membuat kita malu tahu.”

"Vel, Velizar! Li-lihat tuh..." tunjuk Sinus dengan panik. "Nicholas bisa-bisa kalah nih!"

"Halah..." balas Velizar dengan nada lemas dan ekspresi tak bersemangat meski di pertandingan seperti ini. Bahkan pertarungan final tak kunjung membuatnya bergairah. "Kau kayak gak kenal Nicholas aja... pada akhirnya, Nicholas lah yang akan menang. Percaya saja."

"Tapi lihat dong! Lawannya itu... lawannya..." tunjuk Sinus dengan heboh. "Si rambut biru sialan yang nyetrum aku dulu itu. Ternyata dia orang yang hebat. Nicholas saja bisa ditandingi olehnya."

"Iya-iya deh... biar cepet. Hoaaahhmm..." ucap Velizar sambil menguap, memeluk pedangnya. “Sudah kubilangkan, Nicholas yang akan menang.”

"Sial! Sayang banget," kata Chandra. "Lagi seru-serunya. Ranni dan Lio malah tidak bisa menonton. Apa tak ada alat untuk melihat pertandingan ini lagi di kemudian hari, tanpa harus menonton saat ini juga. Hah... aku harap ada alat seperti itu di masa depan."

"Hahaha! Idemu bagus juga, tapi tak ada alat semacam itu." balas Lasius. "Lagipula kesehatan mereka lebih penting kan. Nanti kau tinggal ceritakan saja pertarungan babak final ini pada mereka."

"Ya... akan kuingat terus setiap detail pertarungan ini dan nanti akan kuceritakan pada mereka." jawab Chandra bersemangat. "Alzen kau harus menang! Jadi nanti aku nanti ceritanya enak! Alzen berjuanglah!"

"Aku tidak terlalu peduli tentang siapa yang menang. Kalian semua adalah benih-benih berkualitas untuk penyihir masa depan nanti. Selama kalian bisa terus hidup. Aku yakin, angkatan ini bisa jadi salah satu angkatan yang terbaik ketika sudah di luar sana. Dua sampai lima tahun lagi. Aku yakin itu."

"Ahh guru," Chandra tersipu malu dengan lidah menjulur ke depan. "Kau terlalu memandang tinggi kami. Haha..."

"Dia orang yang bisa mengalahkan Leena." komentar Sintra. "Tak heran jika ia bisa menandingi Nicholas juga. Aku yakin anak rambut biru itulah yang bakal menang. Lebih-lebih karena aku tak suka dengan si Nico itu... Dia terlalu sombong dan suka merendahkan orang lain di kelas!"

"Nico! Wakili aku mengalahkan Alzen! Kau jauh lebih kuat darinya!" Sahut Luxis dengan semangat. "Sesampainya di kelas, biar kami sambut kemenanganmu dengan penuh sukacita!"

"Benar-benar pertarungan yang indah." ucap Sever sambil mengibas rambutnya.

"Hihi... menyenangkan! Sangat menyenangkan!" komentar Fhonia sambil lompat-lompat kegirangan sendiri. "Superstar melawan superstar! Menghasilkan pertandingan yang hebat sekali! Wohooo! Go! Go! Kak Alzen dan Kak Nicholas!"

"Alzen bukanlah Jack of All Trades," komentar Gunin dengan tatapan serius. "Dia lebih tepat disebut, Master of All! Tingkat kemahiran ketiga elemen yang ia miliki, dikuasainya dengan begitu seimbang dan saling bersinergi. Seusai turnamen. Aku harus bertemu langsung dengannya. Aku pastikan itu!"

"Aku sih kalau disitu, cuma bisa gemetar ketakutan saja." komentar Cefhi sambil memeluk tongkat sihirnya. “Aku tak bisa apa-apa.”

"Cefhi... kau tak perlu minder begitu," elus Andini, Instruktur Liquidum dengan lembut seolah seperti ibunya. "Setiap orang berbeda-beda, kau tak perlu merasa rendah diri begitu ya."

"Makasih bu...” Cefhi dibuat tenang olehnya. “Ohh iya!? Fia kemana? Kok aku baru sadar, dia tidak duduk disini?"

"Jangan khawatir," jawab Andini dengan senyum manis. "Dia bilang mau turun sebentar tadi. Fia tidak sanggup lagi melihat lebih jauh."

***

Sekitar 2 menit mereka berdiri sambil mengumpulkan tenaga kembali. Sampai nafas mereka tak lagi sesak rasanya. Alzen dan Nicholas tak saling serang, tapi fokus mereka satu sama lain. Tak berjeda sedikitpun. Sorak-sorai penonton nyaris tak lagi mereka dengar. Karena seluruh jiwa dan raga mereka. Terpaku pada pertandingan ini.

"Kau sudah pulih kembali? Si miskin sialan!" kata Nicholas sambil menatap Alzen, tajam.

"Ya... hosh... hosh. Aku siap!" jawab Alzen. "Dan akan selalu siap!"

"Semua serangan yang kau lontarkan padaku, tak satupun kena telak padaku. Air? Basah? Hah! Kau pikir kombinasi amatir begitu, bisa mengalahkan jenius sepertiku?!"

"Padahal kombo itu, mampu menumbangkan Joran loh." balas Alzen.

"Hah! Sudah kubilang, aku ini jenius! Jangan samakan dengan makhluk berotak udang seperti Joran! Wanita yang otaknya hanya di otot itu!"

“Bicara seenaknya! Kau tak tahu betapa susahnya diriku sewaktu melawan Joran waktu itu."

Jika saja kata-kata Nicholas barusan, terdengar jelas sampai ke telinga anak-anak Terra. Mungkin dalam sekejap, mereka langsung berbalik mendukung Alzen atau malah bersikap Netral, tak mendukung siapapun. Untungnya suara sorak-sorai penonton yang begitu berisik, menyamarkan ucapannya itu. Dan Bartell, masih mati-matian mendukung Nicholas sampai saat ini.

"Alzen, kau pasti pernah melihat sihir semacam ini kan?" tanya Nicholas dengan senyum jahat.

"Huh?!" perasaan Alzen tiba-tiba tidak enak, seolah kegelapan pekat menyelimuti dirinya.

"Aku tahu ini!? Ini adalah sihir pengubah area tanding. Sebuah sihir tingkat tinggi, temanku Luxis. Juga bisa melakukan yang seperti ini." Lalu Nicholas meng-cast sihirnya sambil menggenggam tangannya keras-keras. "Field of Death..."

Tiba-tiba, seusai Nicholas meng-cast sihirnya. Arena pertandingan berubah jadi gelap, warnanya keungungan dan latar di sekitar, memunculkan kuburan dan pohon-pohon tandus di sekitarnya. Bahkan, air di pinggir arena, mendadak jadi keruh dan kotor, seperti air di selokan.

Alzen merasakan perasaan mencekam, gelisah dan takut. Ia langsung merasa tidak enak ketika sihir Nicholas mulai mengubah suasana arena. Alzen meski terus mencoba fokus, ia dibuat begitu kesulitan. Alzen merinding takut bagaikan dikelilingi setan-setan di dekatnya. Yang membuat tubuhnya gemetar tanpa henti. Roh-roh putih ektoplasma bergerak mengelilinginya dan secara bergantian menembus tubuhnya. Suasana Arena yang terang menderang, berubah menjadi gelap malam yang angker.

"Hah! Hah! Perasaan apa ini. Tak akan kubiarkan kau! Meng-cast sihir ini sampai selesai!" 

Alzen meng-cast sihir petir dan menembakkannya langsung ke Nicholas.

"Thunder Strike !!"

BZZZZZSSSSTTT !!

Namun serangan yang mudah ditebak begitu, dengan mudah ditangkis Barrier milik Nicholas.

“Dasar, tidak berguna!”

Selang beberapa detik, Alzen jatuh tersungkur dengan ditopang kedua telapak tangan dan dengkulnya. Ia seperti mau muntah, karena bau busuk bangkai manusia tercium di hidungnya. Wajah Alzen pucat dan seperti semangat hidupnya diserap habis-habisan.

“Aku... aku tak mau lagi berada disini, aku aku...”

BRUGGGH !!

Alzen tumbang dan tergeletak di tanah.

***