Episode 15 - LIma Belas



Keesokan harinya, seorang penjaga regol melaporkan bahwa ada sejumlah orang berkuda sedang berusaha menemui Ken Banawa dan Ki Demang.

“Apakah dia menyebut nama?” tanya Ki Demang pada penjaga itu.

“Tidak, Ki Demang. Mereka semua berpakaian seperti Ki Banawa dan ada satu orang yang masih muda dengan sebuah ikat kepala dan sebatang keris terlihat di balik punggungnya,” jawab si penjaga.

“Apakah mereka menyebut keperluannya?”

“Dia hanya berkata ingin bertemu dengan Ki Demang dan Ki Banawa.”

“Baiklah. Segera kembalilah ke gardu depan. Tingkatkan kewaspadaan,” perintah Ki Demang.

“Aku yang akan menjemput mereka, Ki Demang,” kata Ken Banawa yang baru saja menaiki tangga pendapa.

“Oh baiklah jika begitu, Ki Banawa,” ujar Ki Demang dengan ramah.

Dan tampaklah dari pendapa itu serombongan orang yang berkuda dengan perlahan.

“Ki Demang Sumur Welut,” desis Ki Demang Wringin Anom.

“Hmm, baiklah. Ki Demang Sumur Welut telah datang. Segera aku akan menjemput Ra Caksana dan Bondan agar kita bisa bergegas memulai pembicaraan,” kata Ken Banawa sambil berpamitan kepada Ki Demang.

“Silahkan senapati.”

Untuk kemudian di pendapa telah duduk sejumlah orang. Diantaranya adalah Ki Demang Wringin Anom beserta para bebahu, Ki Demang Sumur Welut dan para bebahu, Ken Banawa dan Bondan yang ditemani dua orang pemimpin kelompok prajurit.

“Apakah apa yang aku lihat di Bulak Banteng itu boleh disampaikan di depan orang banyak, paman?” Bondan berbisik pada Ken Banawa yang duduk di sebelahnya.

“Silahkan, Bondan. Agar semua menjadi jelas.”

Kata Bondan kemudian setelah menyampaikan salam hormat,”aku melihat sejumlah pasukan sehamparan tebasan parang dan beberapa ekor gajah. Menurut Ra Caksana, pasukan yang kini sedang berlatih di Bulak Banteng akan mampu melibas tiga atau empat kademangan sekaligus. Terutama kekuatan gajah yang cukup banyak.”

Ra Caksana pun menambahkan keterangan yang didapatkan Bondan dari seorang wanita di pategalan.

“Siapakah mereka, Ki Banawa?”

“Kami belum mengetahui secara pasti siapa dan apa kemauan mereka itu, Ki Demang. Sumur Welut nampaknya harus segera mempersiapkan diri. Dan mungkin aku akan memutuskan Sumur Welut sebagai garis pertahanan yang utama jika Ki Demang berkenan,” Ken Banawa pun menjabarkan rencananya kepada semua orang yang hadir di pendapa. Dia sengaja berbuat seperti itu untuk mengetahui apakah ada diantara orang-orang yang hadir itu menyamar sebagai telik sandi atau mungkin juga orang yang berlalu lalang di sekitar pendapa.

Matahari telah berada sedikit diatas cakrawala, ketika Ken Banawa memerintahkan Ra Caksana untuk mengambil alih tugas-tugasnya. Ken Banawa memandang perlu untuk pergi ke kotaraja agar dapat membicarakan situasi Bulak Banteng lebih mendalam dengan Rakryan Patih Mpu Nambi. 

Sesampainya di istana kepatihan, Ken Banawa diperkenankan menghadap Mpu Nambi di serambi depan.

“Aku mendapatkan laporan dari petugas sandi yang berusaha menelusuri jejak Ki Cendhala Geni. Ia melihat gelar pasukan sehamparan tebasan parang di sekitar Bulak Banteng, Ki Patih.”

“Benar. Aku juga mendapatkan laporan tentang itu. Kita akan sulit menghadapi mereka jika tidak disertai rencana yang benar-benar cermat dan matang, senapati.” Mpu Nambi turun dari kursinya kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya,”ada satu persoalan yang sebenarnya aku sesalkan, Ki Banawa.” Ki Patih Mpu Nambi terdiam untuk beberapa lama. Seperti memikirkan tentang sesuatu yang sulit diungkapkan di depan Ki Banawa, lalu ia berkata lagi,”baiklah untuk sementara ini aku tunda dulu apa yang ingin aku katakan kepadamu.” Ia membalikkan badannya lalu,”Ki Rangga! Mengenai pasukan besar yang ada di Bulak Banteng, apakah kau sudah mempunyai gambaran tentang kekuatan yang ada pada mereka?”

“Ki Patih, petugas sandi mengatakan jika ia juga melihat sejumlah gajah telah turut serta dalam rencana penyerangan,” kata Ken Banawa kemudian,”jika demikian, apakah Ki Patih memberi ijin untuk membangun pertahanan di Sumur Welut?”

“Sebaiknya begitu, senapati. Tetapi sebelumnya pastikan terlebih dahulu dengan para petugas sandi yang benar-benar mampu mendekati pemukiman mereka. Dan untukmu Bondan, aku tahu permasalahanmu dengan Ki Cendhala Geni. Sebaiknya engkau mengambil sikap waspada dan selalu ingat tujuan pertempuran ini,” kata Ki Patih. Dengan mengatupkan dua telunjuk di depan bibirnya yang terkatup rapat, mata Ki Patih Mpu Nambi menerawang dinding yang tegak di depannya. Lalu ia berkata,” secepatnya kau selesaikan pertempuran itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada di sekitarmu. Aku tidak dapat mengirimkan bantuan seperti biasa.”

“ Apakah Ki Nagapati sudah membawa ketegangan di kotaraja?” Ken Banawa seakan dapat mengetahui alasan Mpu Nambi yang tidak dapat mengirim bantuan pasukan.

Setelah menghela nafas panjang, Mpu Nambi pun melanjutkan,” Tidak. Mereka belum memperlihatkan tanda-tanda akan melakukan serangan. Ki Nagapati masih berusaha mengajak Sri Jayanegara untuk berbicara lebih dalam,” Mpu Nambi diam beberapa saat. Kemudian,” agaknya Sri Jayanegara sudah tidak dapat dipengaruhi dengan jasa-jasa kakang Lembu Sora dan Gajah Biru. Ia tetap pada pendiriannya semula. Ah sudahlah, kita bicarakan lagi jika ada kesempatan. Sementara ini ajak serta Gumilang, Ki Banawa. Bagaimanapun juga Gumilang mempunyai kemampuan yang akan dapat membantu kekuatan yang ada di dalam pasukan kita,” perintah Patih Nambi kepada Ken Banawa. Agaknya Ken Banawa memang akan mengajak Gumilang untuk turut menyertai Bondan, selain Ken Banawa telah mengetahui tingkat kemampuan Gumilang juga pasukan berkuda yang dibawah kepemimpinannya adalah kumpulan orang-orang terpilih dan mahir menggunakan berbagai senjata.

Bondan pun mendengarkan petuah Ki Patih Nambi dengan seksama. Dikenangnya beberapa pertarungan dengan Ki Cendhala Geni yang nyaris selalu berakibat maut bagi dirinya.

“Baik, Ki Patih. Kami berdua mohon diri.”

Ki Patih Mpu Nambi pun mempersilahkan Ken Banawa dan Bondan untuk kembali ke Wringin Anom. Tak lupa juga ki patih mengusulkan beberapa rencana pertempuran.

Dalam beberapa kali pertemuan dengan Ki Sentot, Ki Cendhala Geni yang sebenarnya mempunyai banyak pertanyaan akhirnya hanya dapat mengumpat dirinya sendiri.

“Ternyata aku selama ini sangatlah dungu. Mengapa tak terpikirkan bahwa Mantri Rukmasara mengatur sejumlah pencurian dan perampokan itu sebenarnya digunakan untuk rencana besar ini. Dan ternyata mereka benar-benar melakukannya secara rahasia bahkan aku sendiri tidak tahu,” gumam Ki Cendhala Geni dalam hati ketika dia melihat beberapa kelompok pasukan menggelar latihan. Ki Cendhala Geni telah berkeyakinan bahwa Sumur Welut akan jatuh di tangan mereka. Bergabungnya Ki Gede Pulasari dan beberapa ekor gajah yang turut hadir dalam pasukan mereka semakin melambungkan harapan Ki Cendhala Geni yang bertekad besar merusak bangunan yang telah didirikan Ra Dyan Wijaya.

Saat matahari sudah mencapai setinggi tombak, sejumlah pasukan di Bulak Banteng melakukan latihan bersama. Di bawah pengawasan Ki Sentot Tohjaya nampak semangat yang tinggi di setiap raut muka prajurit yang mengikuti gelar bersama itu.  

Di Kademangan Sumur Welut tampak beberapa pengawal kademangan sedang mempersiapkan berbagai senjata. Di bawah petunjuk Ra Caksana, sejumlah orang membuat puluhan pagar bambu yang diikat dengan berbagai tanaman yang berduri. Ra Caksana membawa beberapa kelompok pasukan berkuda bergegas berangkat menuju Sumur Welut setelah mendapatkan perintah dari Rakryan Patih Nambi. Sedangkan beberapa orang lainnya sibuk mengurusi perbekalan untuk pasukan sehamparan tebasan parang yang akan tiba dari Wringin Anom. Ki Demang Sumur Welut yang awal mulanya dirambati keraguan akhirnya memutuskan untuk memperkenankan Sumur Welut sebagai garis pertahanan terdepan.

“Meskipun aku dapat menolak tetapi kademangan ini akan tetap tergilas oleh pasukan Ki Sentot. Sebenarnya aku tidak memikirkan apakah nantinya harus tunduk pada wangsa Kertarajasa atau wangsa Ken Arok, namun tetap saja untuk beberapa waktu kemudian, rakyatku akan mengalami penderitaan. Sebuah penderitaan yang tidak dapat diketahui batas akhirnya,” gumam Ki Demang Sumur Welut dalam hati,”bila demikian maka mempertahankan tanah air adalah satu kepastian.”

Tekad Ki Demang Sumur Welut semakin membaja ketika mendengar berita yang dikirimkan Ken Banawa melalui seorang utusan. Bahwa diantara pasukan Ki Sentot telah turut bergabung beberapa padepokan dan gerombolan orang yang tidak mempunyai tujuan. 

Ketika matahari mulai menyilaukan mata dari sebelah barat, Ki Demang Sumur Welut dan Ki Demang Wringin Anom berada di pendapa untuk menerima beberapa laporan tentang persiapan yang mereka lakukan. Selain itu, kedua demang ini sedang mencoba menghitung kekuatan dipihaknya yang juga meliputi bala prajurit Majapahit. Keduanya sepakat bahwa perhitungan yang tepat dan disertai rencana yang jitu tetap harus disertai kemungkinan yang tidak terduga. Oleh karenanya kedua demang ini pun tidak dapat meremehkan kekuatan Ki Sentot Tohjaya.

Dalam jumlah, laskar dari kedua demang ini juga belum tentu seimbang dengan jumlah pasukan Ki Sentot. Apalagi jika dibandingkan kemampuan setiap orang maka tentu saja kedua demang ini sama sekali tidak mengetahui kemampuan tiap orang yang bergabung dengan Ki Sentot. 

Tetapi keduanya meyakini bahwa kematangan Ken Banawa dalam mengatur siasat akan dapat membantu kedua kademangan ini setidaknya sekedar mempertahankan diri hingga penghabisan.

Di sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian orang yang mempersiapkan diri, Bondan sedang berusaha untuk melatih dirinya setelah terluka pada pundaknya. Tangan kirinya mencoba memutar-mutar ikat kepalanya yang tadinya terjuntai, lantas mengayun perlahan. Gerakan Bondan yang bertenaga dan terlihat lambat semakin lama semakin cepat hingga setiap lecutan udengnya terdengar meledak berkali-kali. 

Bondan pun berlatih mengulang gerakan-gerakan dasar sebagaimana yang diajarkan Resi Gajahyana kepada dirinya. Gerakan yang rumit dan sulit dilakukan pun mulai dilakukan Bondan. Ketika matahari bergerak semakin tinggi, Bondan lantas mencabut keris dan mengayun ikat kepalanya. Kedua benda ini menjadi senjata berpasangan yang sama-sama hebatnya. Keringat pun membasahi pakaiannya dan tak lama kemudian Bondan menutup latihan dengan bersila di atas rumput kering. Sejenak kemudian dia melangkah menuju padukuhan induk untuk bergabung dengan yang lain mempersiapkan diri guna menghadapi pertempuran yang belum diketahui kapan dimulainya.

Siang itu Sumur Welut kedatangan ratusan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Gumilang. Kedatangan bala bantuan ini sedikit banyak memberi kekuatan batiniah pada rakyat Sumur Welut, terutama Ki Demang yang sama sekali tidak menyangka akan dibantu oleh pasukan Jala Bhirawa. 

Pada malam harinya, Ki Sentot mengumpulkan sejumlah senapati yang terpilih untuk membincangkan beberapa taktik pertempuran.

“Ki Cendhala Geni, aku meminta kesediaanmu mendampingi seorang senapati untuk mengisi sayap bagian kiri. Dan Ubandhana akan mendampingi aku memimpin pasukan induk,” kata Ki Sentot Tohjaya pada pertemuan terakhir.

“Dan untuk Ki Gede Pulasari, sebaiknya berada di belakang Ki Cendhala Geni sebagai kekuatan yang tidak diperhitungkan oleh Majapahit. Dengan begitu, setiap kemunduran pasukan kita akan segera tergantikan dengan tenaga baru dari kelompok yang berada di belakangnya. Aku harap rencana ini benar-benar terselenggara dengan baik,” kata Ki Sentot di depan sejumlah perwira Majapahit yang membelot.

Ketika beberapa orang sudah meninggalkan rumah Ki Sentot, maka Ki Cendhala Geni mendapatkan kesempatan untuk bicara lebih bebas.

“Ki Sentot. Leluhur Sri Baginda Jayakatwang sudah sepantasnya diagungkan kembali nama-nama mereka. Apa yang dilakukan Ra Dyan Wijaya telah menorehkan luka yang tidak kunjung sembuh. Dengan begitu aku akan membabat habis pasukan Majapahit sekalipun jumlahnya sehamparan tebasan parang,” sahut Ki Cendhala Geni.

“Begitukah, Ki Cendhala Geni?”

“Begitulah. Selama ini aku merusak ketenangan dan kejayaan Majapahit adalah karena aku tak ingin keturunan Sri Rajasa menjadi abadi dalam ketenangan. Sejauh ini langkahku telah berhasil sekalipun di saat terakhir ini cukup terganggu dengan kehadiran seorang anak muda bernama Bondan,” Ki Cendhala Geni mengungkapkan isi hatinya di depan Ki Sentot dan Ki Gede Pulasari.  

“Tapi aku punya keyakinan kalau nantinya Ki Cendhala Geni akan mampu mengatasi anak itu jika bertemu di medan laga,” kata Ki Sentot.

“Ya, aku juga mempunyai keyakinan yang sama dengan Ki Sentot,” Ki Gede Pulasari menimpali sambil tersenyum lebar.

Ketiga orang setengah baya ini pun lantas bangkit lalu berjalan menuju dermaga kecil di tepi pantai. Puluhan kapal telah disiapkan untuk membawa pasukan sehamparan tebasan parang dan beberapa ekor gajah. Persiapan akhir terlihat jelas sedang dilakukan oleh Ki Sentot dan beberapa senapatinya. 

“Besok setelah turun senja, kita akan berangkat menuju perbukitan Gunungsari. Kapal-kapal akan kita belokkan ke utara memasuki sungai kecil dan kita tambatkan lebih ke dalam. Kita berkemah di perbukitan Gunungsari,” begitu perintah terakhir Ki Sentot Tohjaya kepada para senapati dan perwira yang mengikutinya.

Di malam yang sama, Bondan dan Gumilang bergerak mendekati Bulak Banteng. 

“Mengherankan. Ada yang janggal di tempat ini,” kata Bondan ketika mereka mulai mendekati padukuhan terluar. Keadaan begitu sepi dan gelap gulita. Pendengaran Bondan yang tajam secara samar-samar mendengar suara riuh dari kejauhan. 

“Marilah, kita bergeser ke sana. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita dapatkan,” kata Bondan sambil menunjuk sumber suara yang didengarnya. Kemudian mereka berdua berjalan sambil merunduk melintasi pategalan yang ditumbuhi tanaman jagung yang belum begitu tinggi.

Puluhan kapal yang dihiasi ratusan pelita segera terlihat oleh Bondan beserta kawannya.

“Rupanya mereka menempuh perjalanan dengan kapal,” bisik Gumilang kepada Bondan. Keduanya semakin mendekati dermaga. Dalam jarak selemparan anak panah, mereka pun merayap bergeser maju untuk melihat semakin dekat. 

“Tunggulah disini. Aku akan maju lebih dekat lagi,” kata Bondan.

“Berhati-hatilah.”

Bondan pun merunduk maju dan secepat anak panah tubuhnya melayang dan hinggap di sebuah dahan pohon sengon yang cukup besar. Terlihat olehnya seseorang membawa kapak besar sedang berbincang dengan beberapa orang. Setelah meyakini apa yang telah dilihatnya, Bondan pun beringsut kembali ke tempatnya semula.

“Mari kita tinggalkan tempat ini,” ajak Bondan.

“Apakah kita sudah cukup memperoleh pengamatan?”

“Aku kira sudah cukup dan segera kita laporkan kepada paman,” jawab Bondan.

Sejenak kemudian keduanya pun meninggalkan tempat itu dengan sesekali menengok ke belakang untuk mengawasi jika ada orang yang berhasil memergoki mereka.

“Mungkinkah kita akan melepaskan panah api ketika mereka memasuki muara Kalimas, Bondan?” tanya Gumilang ketika mereka menghentak kuda sedikit lebih cepat.

“Aku yakin dengan kemampuanmu. Akan tetapi kita juga harus menyesuaikan diri dengan rencana paman, Gumilang,” jawab Bondan sambil memberi tanda untuk lebih berhati-hati dalam perjalanan menembus malam. Meskipun bulan belum bulat sepenuhnya tetapi agaknya sedikit membantu perjalanan mereka dalam kepekatan malam.

Malam semakin larut dan setiap kepekatan telah melebur dalam gelapnya malam. Bondan dan Gumilang akhirnya tiba di depan gapura kademangan. Bondan memperingatkan para petugas yang sedang berjaga untuk semakin waspada lalu dia beranjak melaporkan perkembangan di Bulak Banteng kepada Ken Banawa. Rupanya waktu yang mereka miliki semakin sedikit sehingga semua senjata harus dipersiapkan. Senjata jarak jauh dan aral penghalang berduri. Dan setiap orang harus dibekali berbagai pesan untuk menjaga moral. 

“Paman, aku melihat Ki Cendhala Geni berada diantara sejumlah orang yang tampaknya adalah para pemimpin pasukan Ki Sentot,” Bondan mengawali hasil pengamatannya kepada Ken Banawa.

“Jika demikian itu berarti ada Ubandhana di dalam pasukan mereka. Mungkin juga orang-orang yang kau lihat itu termasuk orang berilmu tinggi. Agaknya kita akan menghadapi sebuah pasukan yang benar-benar kuat dan siap.”

“Aku juga melihat beberapa gajah mulai ditempatkan disekitar kapal.”

“Kapal?”

“Ya paman. Aku melihat banyak kapal, mungkin jumlahnya mencapai puluhan.”

“Hmmm, ini berarti mereka akan memasuki muara Kalimas dan sudah pasti mereka tidak berangkat dengan bersamaan. Ini jelas menyulitkan kita karena tidak mungkin kita memeriksa satu per satu kapal yang lewat. Bila kita memaksa untuk memeriksa setiap kapal, bukan tidak mungkin akhirnya mereka membatalkan penyerangan ke Sumur Welut.”

“Bukankah itu menjadi lebih baik, paman?”

“Justru itu yang aku khawatirkan, Bondan. Karena mereka pasti mengetahuinya. Ki Sentot adalah bekas senapati tangguh dalam pasukan Jayakatwang. Pasukannya berhasil memukul mundur dua pasukan yang dipimpin oleh Juru Demung dan Lembu Sora. Kedua orang ini adalah senapati pilihan kepercayaan Ra Dyan Wijaya. Setiap kapal yang aku periksa akan mengubah alur Ki Sentot untuk langsung mendekati kotaraja.”

“Bagaimana jika kita bakar kapal mereka dengan panah api? Aku kira itu akan memberi pukulan berarti bagi mereka,” kata Gumilang penuh semangat.

“Tidak, Gumilang. Membakar atau menyerbu kapal mereka sebelum memasuki muara itu akan berakibat seperti yang paman katakan tadi. Selain itu juga, hilir mudik kapal para saudagar akan terganggu dan mereka mungkin akan menghentikan kegiatan. Nah, dengan begitu maka yang mengalami kerugian adalah rakyat kita sendiri,” Ken Banawa menjelaskan. Kemudian dia melanjutkan,” baiklah, Bondan dan Gumilang. Kita beristirahat malam ini. Kita akan bekerja lebih keras esok hari.”

“Silahkan, paman.”

Ketiganya pun bangkit dan beranjak menuju bilik masing-masing.

Bagi rakyat di Kademangan Sumur Welut, waktu berjalan seperti merambat pelan. Dalam kegelisahan tentang bayangan masa depan apabila tanah mereka tidak dapat dipertahankan lagi, Mereka sama sekali tidak mengetahui apakah hidupnya akan menjadi lebih baik atau menjadi suram, mereka tidak mengetahui apakah akan menemui kematian atau masih dapat melanjutkan hidupnya. Bagi kebanyakan rakyat Sumur Welut, satu-satunya alasan mempertahankan hak mereka adalah sebuah harga diri. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan alasan yang berbeda yaitu hilangnya sebuah kebebasan. Kebebasan untuk mengolah sawah dan ladang mereka, kebebasan untuk bertemu dengan sanak kadang yang pastinya akan menemui kematian ketika perang telah pecah.

Alasan yang sama pun juga dimiliki oleh rakyat Kademangan Wringin Anom. Sebagian anak muda Wringin Anom yang turut membantu di Sumur Welut bahkan beranggapan bahwa perang ini adalah sebuah pintu tentang harapan. Artinya harapan akan segera pupus jika mereka mengalami kekalahan di Sumur Welut. Kekalahan Sumur Welut akan menjadi awal kehancuran Wringin Anom. Oleh sebab itu, mereka menjadikan Sumur Welut sebagai benteng pertama dan terakhir. Mereka akan bertempur hingga penghabisan atau matahari tidak akan pernah bersinar lagi.

Kapal-kapal pasukan Ki Sentot pun bergerak meninggalkan dermaga dalam kelompok-kelompok kecil. Jarak keberangkatan antar kelompok telah diatur sedemikian rupa hingga benar-benar luput dari pengawasan para penjaga perairan Majapahit. Bentuk kapal pun telah disamarkan hingga seperti kapal para saudagar yang biasa melintasi muara Kalimas.

Beberapa lama kemudian kelompok pertama dari kapal-kapal yang berisi pasukan Ki Sentot itu berbelok ke utara memasuki perbukitan Gunungsari melalui sebuah sungai kecil. Iring-iringan ini berhenti di tepi sebuah hutan kecil yang berjarak beberapa tombak dari bibir sungai.. Sejumlah orang bergegas turun dan menyebar cepat untuk mengamati lingkungan perbukitan. Rombongan yang kedua pun akhirnya berhenti tak seberapa jauh dari yang pertama. Lalu mereka mendirikan perkemahan sesuai petunjuk dari orang-orang yang turun dari rombongan pertama. Hampir semalaman pasukan Ki Sentot merayap memenuhi perbukitan Gunungsari dengan perkemahan yang bertebaran di lereng-lereng bukit kecil.