Episode 16 - Lima Belas

Tautan Janji


Kereta hitam yang diatarik oleh dua ekor kuda yang berwarna hitam pula tersebut melaju dengan cepatnya melintasi hutan yang cukup lebat di bawah kaki gunung Tangkuban Perahu, keadaan tempat itu memang sangat menyeramkan, tempat itu berupa celah yang diapit oleh dua tebing yang tak seberapa tinggi namun ditutupi oleh semak belukar yang sangat lebat. 

Dahulu di tempat itu pernah terjadi peperangan antara pasukan Mega Mendung yang dipimpin oleh Prabu Kertapati melawan pasukan Padjadjaran yang dipimpin oleh Rakean Rangga Sumpena, berkat taktik yang brilliant dari Prabu Kertapati. Pasukan Padjadjaran bersama Rakeran Rangga Sumpena yang jumlahnya lebih dari tiga lipatnya pasukan Mega Mendung itu, menemui ajalnya di tempat tersebut, namun harus dibayar mahal dengan kematian seluruh pasukan Balamati sang Prabu, hingga saat ini bekas peperangan belasan tahun yang lalu itu masih tersisa di sana, senjata-senjata, roda keretakuda, sampai tengkorak-tengkorak masih berserakan di sana.

Tempat itu menjadi tempat angker yang disebut Lembah Akhirat oleh penduduk sekitar, tidak ada yang berani melewati jalan itu kecuali kereta hitam yang ditumpaki oleh Mega Sari tersebut, mereka terpaksa melewati jalan ini untuk memotong jalan agar bisa lebih cepat sampai ke Rajamandala. Kilat petir dilangit membuat tempat disekitarnya yang telah gelap akibat langit mendung menjadi terang untuk sesaat, suara gelegarnya terdengar sangat mengerikan, tak lama kemudian turunlah hujan mengguyur tempat tersebut.

Tepat ketika kereta hitam yang dikusiri oleh Ki Silah tersebut memasuki celah angker tersebut, tiba-tiba petir berkilat disusul suaranya yang menggelegar, hujan yang disertai angin deras pun turun. Ki Silah yang tahu tempat itu sangat berbahaya tetap memacu kuda-kudanya untuk membawa kereta hitam itu melewati celah yang angker itu, akan tetapi di ujung celah itu ada sebongkah pohon besar yang memblokir jalan tersebut hingga Ki Silah terpaksa menghentikan kudanya.

Orang tua berbadan tinggi kurus itu langsung turun dari kereta lalu berlari mencoba menyingkirkan pohon besar yang menghalangi jalan mereka tersebut, tetapi bagaimana pun ia mengerahkan seluruh tenaga luar dalamnya ia tidak sanggup menyingkirkannya. Saat itu Dharmadipa yang sedang berjalan seorang diri kebetulan memasuki celah itu, dia melihat Ki Silah sedang kesusahan untuk mengangkat pohon tersebut, Degghhh! Tiba-tiba jantung pemuda itu berdegup kencang melihat kereta hitam itu “Itu kan kereta Mega Sari, berarti Mega Sari ada didalamnya!” pikirnya.

Akhirnya Ki Silah menyerah, ia lalu berlari menghampiri kertea kudanya, ia mengetuk jendela kereta itu. “Ampun Gusti Putri, saya tidak sanggup untuk menyingkirkan batang pohon raksasa itu!”

Mega Sari berdecak sambil menghela nafas berat. “Coba sekali lagi Abah, jangan sampai kita kemalaman di tempat ini!”

Ki Silah pun mengangguk, “Baik Gusti,” kemudian ia kembali berlari ke tempat pohon itu.

Dharmadipa segera berlari menghampiri Ki Silah. “Kenapa Bah?” tanyanya.

Ki Silah menoleh pada Dharmadipa, ia terkejut setengah mati melihat pemuda itu. “Lho Aden kan murid padepokan Sirna Raga? Kenapa ada disini?” tanyanya keheranan.

“Ah saya hanya kebetulan lewat sini, kenapa pohon ini ada disini Bah?” sahut pemuda itu.

Telinga Mega Sari yang tajam mendengar percakapan mereka, dia langsung mengintip dari jendelanya “Kakang Dharmadipa!” desisnya dengan hati senang pada Emak Inah, Emak Inah pun mengangguk sambil tersenyum.

“Pohon longsor, Den! Tapi saya curiga seperti ada yang melongsorkannya, sebab hujan ini belum begitu lama!” jawab Ki Silah.

Dharmadipa mengangguk setuju sebab walaupun hujan ini sangat lebat disertai angin kencang, tapi belum lama, firasatnya yang tajam pun mencium akan suatu bahaya yang mengintai mereka. Matanya yang tajam menangkap ada pergerakan-pergerakan halus di antara kedua tebing yang mengapit celah tersebut, dan ia tahu pasti kalau itu bukan binatang buas!

Dharmadipa lalu menoleh pada Ki SIlah. “Abah, tunggulah di kereta untuk berjaga-jaga, sepertinya kita telah menjadi tamu tak diundang di rumah orang yang tidak baik!”

Ki Silah yang juga melihat pergerakan-pergerakan aneh itu mengangguk, dia lalu kembali ke kereta yang ditumpangi Mega Sari dan Emak Inah, tangan kanannya segera memegang hulu golok saktinya yang terselip di pinggangnya.

Sesaat kemudian meluncurlah beberapa buah pisau mengarah Dharmadipa, pemuda ini segera berjumpalitan menghindari serangan-serangan pisau tersebut. Ia lalu memungut beberapa buah pisau tersebut lalu melemparnya ke semak-semak, terdengarlah jerit beberapa lelaki yang disusul oleh rubuhnya beberapa tubuh yang tak bernyawa! 

Sekonyong-konyong beberapa sosok tubuh melesat dari kedua tebing yang tertutupi oleh semak-semak rimbun itu, golok-golok di tangan mereka segera menyambar ke beberapa bagian tubuh Dharmadipa yang vital! Pemuda itu segera menyambut mereka dengan ‘mesra’! Ternyata mereka hanya begal-begal biasa, kemampuan silat mereka tidak sehebat gerombolan Macan Seta, hingga dalam waktu singkat Dharmadipa sudah berhasil melumpuhkannya.

Setelah berhasil melumpuhkan para begal itu Dharmadipa segera mengeluarkan ajian Liman Sewu, pohon besar tumbang yang memblokade jalan itu pun diangkat oleh kedua tangannya dengan mudah lalu dilemparkannya ke tempat kosong! Setelah menyingkirkan pohon itu, ia berlari menghampiri kereta kuda hitam tersebut, Mega Sari langsung membuka pintu keretanya dan mengumbar senyum manisnya pada Kakak seperguruannya itu.

“Kakang Dharmadipa, kita berjumpa lagi,” sapa Mega Sari sembari tersenyum.

“Apa kabar Mega Sari? Lama tak jumpa,” sahut Dharmadipa sambil tersenyum senang sebab akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan gadis pujaan hatinya ini.

“Kabarku baik Kakang, terimakasih Kakang sudah menolongku” ucap Mega Sari sambil tersenyum manis sambil memainkan rambutnya yang sukses membuat jantung Dharmadipa semakin berdegup kencang.

“Ah itu bukan apa-apa Mega Sari.”

Seakan baru teringat sesuatu, Mega Sari celingukan melihat kesekelilingnya “Oya mana Kang Jaka? Biasanya kan kalian selalu berdua, apa ia tidak ikut?”

Ekspresi wajah Dharmadipa berubah, dengan suara bergetar ia menjawab, “Mega Sari… Jaka sudah meninggal!”

Bagaikan disambar petir, bukan main terkejutnya Mega Sari! “Apa?! Kenapa ia bisa meninggal?! Bagaimana?!” tanyanya histeris.

Dharmadipa menjawab sambil menundukan kepalanya “Kemarin ketika kami hendak menyusulmu ke Gunung Patuha kami bertemu dengan gerombolan perampok yang menamakan diri mereka Macan Seta, ketika sedang bertarung dengan mereka, Jaka jatuh kedalam jurang” Jawab Dharmadipa berbohong.

“Ooohhh… Kang Jaka…,” ratap Mega Sari, bahunya berguncang-guncang, air matanya mengalir deras, badannya lemas, kepalanya langsung terasa pusing, untunglah ada Emak Inah yang memegangi tubuhnya. Dharmadipa yang melihat begitu sedihnya Mega Sari yang mendengar kabar kematian Jaka menjadi cemburu tapi ia berusaha menahannya dan menunggu Mega Sari berucap lagi. Setelah menangis beberapa saat akhirnya Mega Sari mengusap air matanya, ia kembali melempar senyum manisnya, aneh sekali memang, entah apa yang ada dalam benak gadis ini.

“Oya tadi aku dengar Kakang hendak menuju ke gunung Patuha, Kakang mau apa kesana?” tanyanya yang tiba-tiba memasang senyum manis lagi yang membuat hati Dharmadipa kembali senang.

“Aku hendak menyusulmu Mega Sari, aku sangat ingin menemuimu!” jawab Dharmadipa terus terang.

Mega Sari tertawa manis sekali sambil memainkan rambutnya, “Hahaha… Sekarang Kakang tidak usah kesana lagi, aku hendak pulang ke Rajamandala untuk menghadap Rama Prabu, bagaimana kalau Kakang menyusul saja ke Rajamandala dan mengabdi pada Rama Prabu?”

Dharmadipa mengangguk sambil tersenyum. “Baik, aku akan menyusulmu ke Rajamandala dan akan mengabdi pada Prabu Kertapati tapi dengan syarat!”

Mega Sari menaikan sebelah alisnya yang tebal bagus itu. “Ah pengabdianmu pada Negara memakai syarat Kakang”.

Dharmadipa tersenyum dengan perasaan tidak menentu, “Aku Hanya memintamu untuk menjawab beberapa pertanyaan Mega Sari.”

Mega Sari tersenyum sambil melenggak-lenggokan kepalanya. “Tapi tetap itu adalah syarat bukan? Artinya Kakang mempunyai pamrih!”

Dharmadipa mengangguk tegas. “Iya, dan pamrihnya adalah kau!” senyumnya diiringi tatapan tajam ke mata Mega Sari.

Mega Sari tertawa malu-malu, dengan senyum menggoda ia kembali memainkan ujung rambutnya yang indah itu. “Artinya aku tidak punya pilihan lain bukan? Apa pertanyaanmu?”

Dharmadipa terdiam sejenak, ia mengumpulkan keberanian dirinya untuk mengungkapkan perasaannya pada Mega Sari “Pertama apakah boleh aku mengagumi kecantikanmu? Kedua sejak kita bertemu dulu di padepokan, pernahkah engkau memimpikan diriku? Dan yang terakhir… Maukah kau menjadi istriku?”

Mega Sari tertawa perlahan, gayanya semakin genit tapi tetap manis mendengar pertanyaan tersebut “Kakang terlalu berlebihan memuji diriku, itu jawaban aku yang pertama.”

Dharmadipa menggelengkan kepalanya. “Tidak Mega Sari, aku mengatakan yang sejujur-jujurnya!”

Mega Sari mengangguk tersipu. “Baiklah Kakang boleh menganggumi saya, tapi Kakang tidak boleh tergila-gila padaku, sebab Kakang belum terlalu tahu siapa aku walaupun kita adalah saudara satu seperguruan!”

“Aku tidak perduli, aku sangat mengenalmu dalam mimpi-mimpiku,” sergah Dharmadipa dengan halus.

“Jawaban yang kedua… Pernah… Terus terang Aku pernah 2 kali memimpikan Kakang, bertemu dengan Kakang” ucap Mega Sari dengan gaya malu-malunya yang membuat perasaan Dharmadipa semakin tidak menentu, apalagi ketika ia mendengar bahwa Mega Sari pernah mempimpikan dirinya 

“Mimpi apakah itu, Mega Sari?”

“Aneh sekali memang, aku mengatakan bahwa aku menagih janji darimu Kakang, seolah Kakang pernah berjanji kepada saya entah dimana, mungkin di suatu tempat yang paling jauh, barangkali di alam halus, dibalik kehidupan kasar ini, Kakang berjanji mau menikahiku,” jawab Mega Sari malu-malu.

“Itulah pertanyaanku yang ketiga,” sambung Dharmadipa

“Emh… Aku sarankan Kakang jangan terlalu grasa-grusu, sekali lagi, Kakang belum terlalu kenal siapa aku, dan aku pun belum terlalu mengenal siapa Kakang” ujar Mega Sari.

Dhamadipa menggelengkan kepalanya. “Jawablah pertanyaan itu Mega Sari! Aku perlu ketentraman jiwa!”

Mega Sari mengangguk perlahan, “Baiklah… Bagaimana kalau misalnya aku tidak bersedia? Kakang tahu kan siapa aku dan bagaimana keadaanku?”

Kepala Dharmadipa terkulai lemas mendengarnya, tapi kembali Mega Sari mengumbar tawa dan senyum manisnya. “Jangan terlalu sedih dulu, aku kan baru bilang misalnya”

Dharmadipa kembali mengangkat kepalanya dengan penuh harap, “Jadi?”

Sepasang mata bulat tajam Mega Sari menatap tajam mata Dharmadipa “Bodohlah wanita yang tidak mau menjadi istri Kakang, Kakang seorang laki-laki perkasa, Kakang adalah lambang kepuasan yang didambakan setiap wanita, Kakang Dharmadipa saya bersedia menjadi istri Kakang, tapi tentu ada syaratnya.”

“Apa itu!?” tanya Dharmadipa bersemangat.

“Tidak bisa aku katakan sekarang, Kakang kita pasti akan bertemu lagi, datanglah ke Rajamandala! Di sanalah aku akan mengatakan persyaratan untuk dapat menikahi aku” jawab Mega Sari yang membuat Dharmadipa termenung.

“Maaf aku tidak bisa lama-lama mengobrol di sini, aku harus segera pulang ke Rajamandala, kalau boleh aku hendak permisi Kakang” pamit Mega Sari.

“Baiklah, aku pasti akan segera menyusulmu ke Rajamandala dan mengabdi pada Gusti Prabu Kertapati” sahut Dharmadipa, Mega Sari pun menutup pintu keretanya, kereta hitam itu segera menluncur meninggalkan Dharmadipa yang masih berdiri termenung di tempat itu.

Di dalam kereta tiba-tiba tangis Mega Sari kembali meledak, ia teringat pada Jaka “Ooohhh… Kang Jaka… Kenapa engkau begitu cepat meninggalkan aku?” ratapnya.

Emak Inah segera menenangkannya. “Lho bukannya Gusti tadi telah memberikan harapan pada Dharmadipa?”

Mega Sari menatap Emak Inah dengan mata berlinang memerah “Benar, tadi aku harus bertindak cepat agar Kakang Dharmadipa tidak putus asa mengejarku, bagaimanapun aku membutuhkan seorang pelindung yang kuta yang bisa aku kendalikan!”

“Bukankah Gusti juga mencintai Dharmadipa? Gusti pasti akan senang bila dapat membuat orang yang Gusti cintai menjadi pelindung sekaligus teman hidup Gusti,” tanya Emak Inah lagi.

“Emak benar, saya memang mencintai Kakang Dharmadipa, dan bisa lebih saya kendalikan sebagai pelindung saya, akan tetapi perasaan saya terhadap Kang Jaka lebih besar, saya masih belum bisa melupakannya!” sahut Mega Sari.

“Akan tetapi Jaka sudah pergi, Emak setuju dengan Gusti yang bertindak cepat untuk membuat Dharmadipa bisa menjadi pelindung sekaligus calon teman hidup Gusti, daripada gusti harus bersanding dengan Pangeran dari Pasir Wangi itu,” ucap Emak Inah sambil membelai punggung Mega Sari.

“Emak benar! Saya harus bisa menyingkirkan Pangeran Munding Sura dari hidup saya, untuk itu saya membutuhkan Kakang Dharmadipa!” jawab Mega Sari dengan nada marah sekali. “Munding Sura… Tunggu saja aku akan mengakhiri hidupmu sekalian bersama ayahmu! Itulah hukumannya bagi siapa saja yang berani menganggu hidupku!” geramnya dalam jiwa, matanya indah itu memancarkan api dendam yang menakutkan!