Episode 211 - Ke Atas Langit



“Brak!” 

Sebuah meja kayu jati yang tadinya kokoh dan indah dihiasi pelbagai ukiran nan halus, hancur berkeping. Seorang lelaki dewasa terlihat berang bukan kepalang. 

“Saudaraku… Apakah yang terjadi pada Gelaran Akbar Pewaris Tahta? Mengapa dikau meminta agar diriku segera kembali? Bagaimana dengan rencana kita?”

Rentetan pertanyaan mengalir demikian deras. Di saat yang sama, seorang lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun bergegas memasuki sebuah ruangan khusus di dalam Kadatuan Keempat. Dari gaya berpakaian, dapat ditarik kesimpulan bahwa ia merupakan seorang saudagar.

“Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang tetiba menunda Gelaran Akbar Pewaris Tahta!”

“Apakah karena siasat kita terbongkar!?” Saudagar Senjata Malin Kumbang menganga. 

“Tidak! Menurut hematku…” sang Datu dari Kadatuan Keempat terlihat gelisah. “Beliau hendak memberi kesempatan kepada putra dari Ragrawira mempersiapkan diri.”

“Hm…?” Saudagar Senjata Malin Kumbang kebingungan. 

“Panjang ceriteranya…”

“Jadi, bagaimana dengan kelanjutan rencana kita…?”

“Gelaran Akbar Pewaris Tahta ditunda selama tiga purnama.” 

“Oh….” Saudagar Senjata Malin Kumbang duduk bersandar. Wajahnya berangsur lega. Awalnya ia mengira bahwa siasat mereka telah terbongkar. “Bila demikian, rencana kita hanya tertunda, bukan…?” 

Datu dari Kadatuan Keempat terdiam sejenak. Ia paham betul bahwa Kekuatan Ketiga hanya dapat menjalankan misi di saat hampir segenap perhatian di Kemaharajaan Cahaya Gemilang sedang terpusat pada satu titik. Demikian, Gelaran Akbar Pewaris Tahta merupakan pengalih perhatian yang sempurna.  

“Benar,” jawab sang Datu cepat. Kendatipun demikian, wajahnya tetap saja kusut. 

“Apakah ada perihal lain…?” Saudagar Senjata Malin Kumbang menangkap kecemasan lawan bicaranya. 

“Bila ada yang dapat menggagalkan rencana kita… maka ia adalah Ragrawira.” 

“Siapakah gerangan Ragrawira!?” Kecemasan Datu Kadatuan Keempat menjangkiti Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

“Balaputera Ragrawira… Putra dari pahlawan besar Balaputera Dharanindra… Kemungkinan adalah ahli paling berbakat sepanjang berdirinya Kemaharajaan Cahaya Gemilang…”

“Lebih perkasa dari Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang, Balaputera Dewa!?” Saudagar Senjata Malin Kumbang melotot, kedua bola matanya hampir copot.

“Belum… Tapi memiliki potensi teramat besar.” 

“Dimanakah ia…?”

“Tiada yang mengetahui. Sejak remaja, di kala Perang Jagat berkecamuk serta usai kepindahan Kemaharajaan Cahaya Gemilang, Balaputera Ragrawira menghilang. Hanya warta akan kepiawaiannya yang datang berhembus dari waktu ke waktu.”

“Ooh… semacam hantu…” 

“Hmph…,” dengus Datu dari Kadatuan Keempat. 

Bagi sebagian Kadatuan, nama Balaputera Ragrawira memanglah momok yang menghantui kehidupan mereka. Dan kini, tetiba putranya muncul dan ikut serta di dalam Gelaran Akbar Pewaris Tahta! Bagaimana mungkin mereka tiada menyuarakan keberatan…?

“Jadi, apakah rencana kita berikutnya…? Hanya menunggu…?”

“Kita tiada dapat berbuat gegabah. Kita akan menunggu. Akan tetapi, Saudaraku, selama tiga purnama ini, kumohon dikau dapat menyambangi saudara-saudara kita yang lain. Harapanku, adalah bagi dikau melacak keberadaan Balaputera Ragrawira.”

Saudagar Senjata Malin Kumbang mengangguk cepat. Lebih baik mencegah ancaman, sebelum ancaman itu sendiri datang bertandang. 

“Yang Mulia Datu Besar, Datu dari Kadatuan Ketujuh datang berkunjung.” Tetiba terdengar suara yang datang dari sebuah lencana.

“Bila demikian, diriku akan segera bergerak.” Saudagar Senjata Malin Kumbang melangkah keluar dari ruangan khusus tersebut. 


Di Balai Utama Kadatuan Keempat, seorang lelaki dewasa berpostur tubuh tinggi dan berwajah garang menanti dengan gelisah. Kakinya menghentak-hentak lantai, padahal tiada musik yang mengalun rancak. Jemarinya bergerak-gerak cepat ke kiri dan kanan, meski hanya meraba pegangan kursi. 

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Ketujuh, sahabat dan saudaraku, angin apakah yang membawa dikau tiba di Kadatuan Keempat…?”

“Yang Terhormat Datu Besar Kadatuan Keempat,” Ia bangkit berdiri. “Kumohon tiada berbasa-basi. Masalah besar muncul di hadapan kita!” 

“Apakah ini perihal putra dari Ragrawira…?”

“Tentu saja!” 

“Kurasa tiada yang perlu dicemaskan…”

“Maksudmu!?”

“Apakah dikau melihat formasi segel yang bocah itu gunakan saat melangkah ke atas panggung? Simbol-simbol yang ia rapal hanyalah simbol-simbol kebanyakan ahli dari Negeri Dua Samudera…”

“Maksudmu, ia tiada dididik oleh Ragrawira?”

“Kemungkinan ia tumbuh bersama ibunya. Selama ini mereka mengasingkan diri dari pengetahuan kita…”

“Tapi… Tapi ia akan memiliki waktu selama tiga purnama. Rudra akan memanfaatkan waktu tersebut untuk melatihnya.” Datu dari Kadatuan Ketujuh berhenti sejenak, wajahnya berubah berang. “Cuih! Rudra! Selama ini si bangsat itu menyegel mustika tenaga dalamnya sendiri dan berpura-pura sebagai pemabuk!” 

“Waktu tiga purnama tiada akan memadai untuk memupuk kemampuan yang mumpuni…” 

Berbeda dengan kala berbicara kepada Saudagar Senjata Malin Kumbang, Datu dari Kadatuan Keempat kini jauh terlihat lebih tenang. Ia menekan kecemasan di hati. Terkait kecemasan itu sendiri, pada dasarnya di antara kedua pihak ini terdapat perbedaan yang mendasar. Bilamana beberapa Kadatuan khawatir akan persaingan meraih tahta yang disebabkan oleh kehadiran Balaputera Gara, maka Kadatuan Keempat lebih mencemaskan keberadaan ayah dari bocah tersebut. Atas alasan yang belum jelas, rencana mereka membebaskan salah satu Raja Angkara dapat dihambat oleh Balaputera Ragrawira. 

Singkat kata, Kadatuan Keempat memiliki tujuan berbeda dengan Kadatuan-Kadatuan yang sekedar mengincar tahta. Kekuatan Ketiga memiliki misi yang jauh lebih besar! 

“Yang Terhormat Datu Kadatuan Keempat… keadaan ini mewajibkan kita untuk membangun persekutuan.” Tetiba Datu dari Kadatuan Ketujuh berujar, wajahnya terlihat sangatlah serius. 


===


Di Balai Utama Kadatuan Kesembilan, empat ahli duduk dalam diam. Koreksi, salah satu dari mereka sesegukan berupaya menahan tangis. Entah remaja itu menangis karena apa, teramat sedih ataukah terlampau bahagia…? Kurang jelas.

“Ananda Gara, maafkanlah kami yang tiada memberi tahu bahwa… sesungguhnya kami telah mengetahui tentang jati dirimu.” Ayahanda Sulung Rudra berujar pelan. 

Bintang Tenggara hanya diam menatap. 

“Awalnya, diriku hendak menghargai keputusan Adinda Mayang… yang telah mengasingkan diri dari dunia keahlian agar putranya tiada terlibat di dalam hiruk-pikuk politik Kemaharajaan Cahaya Gemilang,” sambung sang Datu dari Kadatuan Kesembilan itu. “Akan tetapi, sepertinya takdir berkehendak lain….”

“Ananda Bintang, bagaimanakah khabar Adinda Mayang?” Ibunda Samara mengalihkan pembicaraan. 

“Hiks…” Balaputera Prameswara masih saja sesegukan. 

“Terima kasih atas keramahtamahan Ayahanda Sulung Rudra dan Ibunda Tengah Samara. Diriku memahami bahwa rangkaian kejadian sejauh ini merupakan kehendak takdir. Takdir mempertemukan diriku dengan Wara, takdir pulalah yang kemudian melanjutkan kepada kejadian hari ini.” 

Ayahanda Sulung Rudra menganggukkan kepala. Ibunda Tengah Samara tersenyum teduh. 

“Diriku saat ini tiada mengetahui dimana keberadaan Ibunda Mayang. Akan tetapi, terdapat banyak hal yang hendak diriku ketahui tentang Ayahanda Balaputera….” Bintang Tenggara berhenti sejenak. “Ayahanda Balaputera Ragrawira.”

“Diriku akan mengungkapkan segala yang kuketahui tentang adik bungsuku tersebut.” Ayahanda Sulung Rudra berujar pelan. “Akan tetapi, terdapat sejumlah misteri yang bahkan sebagai seorang kakak, diriku tiada memahami.” 


Keesokan harinya, Ayahanda Sulung Rudra membawa dua kemenakannya, Bintang Tenggara, alias Balaputera Gara, serta Balaputera Prameswara, disingkat Wara, mendaki bukit. Tujuan mereka adalah deretan candi yang berfungsi sebagai gerbang keluar masuk Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Sebagai tambahan informasi, kesembilan candi di dunia luar dikenal sebagai Rimba Candi. Akan tetapi, bila berada di dalam ruang dimensi Minangga Tamwan, deretan candi di atas bukit dikenal dengan nama Kedukan Bukit. (1)

Ketiganya berhenti tepat di depan kaki Kedukan Bukit. Ayahanda Sulung Rudra terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia melangkah pelan. 

“Adalah pengetahuan umum bahwasanya Kemaharajaan Cahaya Gemilang mengungsi pindah ke Minangga Tamwan di saat Perang Jagat mencapai puncaknya. Hal ini menyebabkan Yang Dipertuan Agung Laksamana Hang Tuah terpaksa berjuang seorang diri menjaga Pulau Barisan Barat.” 

Bintang Tenggara telah mendengar ceritera ini dari Lahat Komering, sesama Anggota Pasukan Telik Sandi, yang juga merupakan kepala prajurit di Kadatuan Keenam. Meski, ia masih belum mengetahui atas alasan apa Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang membawa rakyatnya hijrah.

“Tiada yang mengetahui atas alasan apa Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang mengambil keputusan tersebut. Akan tetapi, sebagai bangsawan penopang Kemaharajaan, kita tiada mempertanyakan titah.” 

Sang Datu dari Kadatuan kesembilan lalu melanjutkan, bahwanya upaya memindahkan ratusan ribu rakyat ke dalam ruang dimensi bukanlah perkara mudah. Walhasil, setiap Kadatuan diperintahkan untuk membangun sebuah candi yang akan menjadi gerbang masuk menuju lokasi baru Kemaharajaan. Demikian, adalah cikal bakal kesembilan candi berjajar yang dinamakan sebagai Rimba Candi. 

Akan tetapi, rencana tersebut tiada mudah dicapai. Pembangunan kesembilan candi membutuhkan waktu, sedangkan kaum siluman sudah mengendus niatan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Di kala Rimba Candi baru saja rampung, kaum siluman pun sudah tiba di hadapan mata. Mereka datang menerjang bak air bah yang melibas deras, padahal baru sebagian kecil rakyat yang berhasil diungsikan. 

“Di kala itulah, Kadatuan terbesar bergerak. Balaputera Dharanindra, ayahandaku, kakek kalian… yang saat itu menjabat sebagai Datu, memimpin saudara-saudara kita. Dengan gagah berani mereka membentengi Rimba Candi dari gempuran kaum siluman!” 

“Hiks….” Wara kembali cegukan. Jangan dipertanyakan, karena memang gampang sekali ia terbuai lara. 

“Bagaimana dengan Kadatuan lain…?” Bintang Tenggara penasaran. 

“Para Datu dari Kadatuan Kesatu, Kadatuan Ketiga, Kadatuan Keenam dan Kadatuan Kedelapan beserta anggota keluarga mereka kemudian bersama-sama menahan gempuran. Selama tujuh hari dan tujuh malam pertarungan berlangsung demi melindungi rakyat yang berbondong-bondong masuk ke dalam Rimba Candi.”

Air mata berlinang di pipi Wara. Tentu ia sudah pernah mendengar kisah tragis ini. 

“Pada hari terakhir, Balaputera Dharanindra meminta agar Kadatuan-Kadatuan yang bertarung bersamanya untuk segera menyusul masuk ke dalam Rimba Candi.” 

“Lalu…?”

“Tiada dinyana, bala bantuan kaum siluman tiba…” Ayahanda Sulung Rudra berhenti sejenak. Raut wajahnya pilu bagai diiris sembilu. “Hari itu, Balaputera Dharanindra, bersama 108 anggota keluarga Kadatuan Kesembilan meregang nyawa. Keluarga bangsawan yang tadinya besar dan bermartabat hanya menyisakan tiga anggota… diriku, Samara, dan ayahandamu Ragrawira.”

“Mengapakah Ayahandaku meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” Bintang Tenggara sudah dapat menebak kelanjutan dari ceritera tersebut. Bahwasanya, Ayahanda Sulung Rudra terpaksa mengambil alih peran sebagai sang Datu di usia muda. Sedangkan, Balaputera Ragrawira kemudian meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Mengapakah hal tersebut dilakukan di kala Kadatuan Kesembilan sedang berada pada titik terendah…?

Tiada terasa, ketiga ahli telah tiba tepat di depan candi kesembilan. Seorang kakek tua melangkah keluar, lalu menyambut dengan membungkukkan tubuh dalam-dalam. Sungguh aura yang ia pancarkan teramat berbeda. 

“Wahai Yang Terhormat Juru Kunci,” Ayahanda Sulung berujar. “Kumohon, antarkan kami ke atas.”

Kakek tua yang diketahui tuna wicara itu mengangguk. Dengan kibasan ringan sebelah tangan, formasi segel berpendar dari candi kesembilan di Kedukan Bukit. Mirip lorong dimensi ruang, akan tetapi sangat berbeda adanya. Tetiba, formasi segel berubah menjadi semacam pilar bercahaya setengah transparan yang membumbung tinggi ke angkasa. Ujungnya tiada dapat ditakar. 

Ayahanda Sulung Rudra melangkah masuk ke dalam pilar, diikuti oleh Prameswara dan Bintang Tenggara. Bintang Tenggara segera meyadari bahwa pilar bercahaya tersebut bukanlah menghubungkan dimensi ruang menuju Rimba Candi. Tubuh ketiganya kemudian terlihat mengabur, sebelum akhirnya menghilang. Teleportasi jarak jauh! 

Napas Bintang Tenggara tercekat. Udara demikian tipis. Perlu beberapa waktu bagi dirinya untuk dapat menyesuaikan tarikan dan hembusan napas. Akan tetapi, bukan hal ini yang membuat ia terkesima. 

Setelah melesat melakukan teleportasi jarak jauh, ketiganya tiba di atas sebongkah batu raksasa. Di hadapan, terbentang luas, adalah hamparan puing-puing batu berwarna hitam kelam sejauh mata memandang. Berbagai ukuran. Besar dan kecil. Luar biasanya lagi, setiap puing melayang dan bergerak perlahan. (2)

“Tempat apakah ini…?” 

Bintang Tenggara demikian terkesima. Pemandangan yang ia saksikan lebih menakjubkan daripada Ibu Kota Rajyakarta yang melayang tinggi. Ia pun melangkah, kemudian melongok ke bawah, jauh ke bawah. Samar, anak remaja itu mendapati keberadaan sebuah kota yang merupakan pertemuan dua sungai. Tata letak kota tersebut terlihat persis layaknya sebuah formasi segel nan rumit. 

“Di bawah sana adalah Ibukota Minangga Tamwan…,” ujar Wara melihat Bintang Tenggara nan masih terpana. Sepertinya, ini bukanlah kali pertama ia mendatangi tempat ini.

Bintang Tenggara kembali mengamati sekeliling. Bebatuan besar dan kecil, serta puing-puing bangunan. Dirinya mulai mengamati dengan lebih seksama, sejumlah puing-puing bangunan terlihat berbentuk arca, atau setidaknya dulu, karena kini telah rusak bahkan hancur berantakan. Ada pula puing-puing yang memiliki ukiran nan teramat halus dan indah menarik perhatian, karena seolah mengisahkan sesuatu peristiwa. 

Bintang Tenggara teringat. Pantas saja dirinya merasakan keanehan saat pertama kali tiba dan menyaksikan langit di atas Ibukota Minangga Tamwan. Rupanya, di angkasa di atas ibukota itu terdapat sebuah lapisan ruang yang teramat sangat luas ini. 

“Jauh sebelum Negeri Dua Samudera berdiri, sebuah perang maha dahsyat, berkali-kali lebih besar dari Perang Jagat… berkecamuk di tempat ini.” Ayahanda Sulung Rudra akhirnya berujar. 

“Perang apakah gerangan…?” aju Bintang Tenggara penasaran. 

“Kemungkinan, hanyalah Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang yang mengetahui sejarah akan tempat ini. Selain itu, diketahui bahwa tiada satu binatang siluman dari Negeri Dua Samudera yang berani memasuki ruang dimensi Minangga Tamwan, pun disebabkan oleh keberadaan tempat ini.”

“Oh… atas alasan itukah kepindahan Kemaharajaan Cahaya Gemilang… untuk mencari tempat nan tak tersentuh dari serangan kaum siluman?” 

“Mungkin saja…”

“Apakah nama tempat ini…?” Kedua mata Bintang Tenggara masih mengamati puing-puing dan bebatuan yang mengambang dan berarak pelan. Terkadang saling berbenturan. 

“Beledar!” 

Langit membelah merekah di saat sebuah halilintar berwarna merah bergelegar. Wara melompat dan menutup telinganya. Bintang Tenggara terlambat bereaksi, sehingga jantungnya seolah berhenti berdetak dan darah bak menggelegak. Meskipun demikian, jauh tinggi di angkasa dan melewati lapisan ruang dimana mereka berada, karena kilat yang berkelebat, anak remaja itu menangkap bayangan sesuatu. Dan seketika itu juga, ia merasakan hawa membunuh yang demikian digdaya! 

Tadi itu bukanlah halilintar biasa… Sampai setakat ini, Bintang Tenggara dapat memahami. Ia menunggu penjelasan dari Ayahanda Sulung Rudra. 

“Cukup sekian untuk hari ini…,” tanggap lelaki dewasa itu. Mereka pun melangkah ke pilar cahaya untuk kembali di Kedukan Bukit. 


Pagi hari berikutnya, Ayahanda Sulung Rudra kembali membawa Bintang Tenggara dan Wara ke lapisan langit di atas Minangga Tamwan. 

“Ayahanda Sulung… mengapakah selama ini Ayahanda Sulung bersandiwara sebagai pemabuk dan menyegel mustika di ulu hati…?” aju Bintang Tenggara. 

Wara mengangguk, petanda ia pun hendak mengetahui alasan. 

“Seusai meninggalnya sedemikian banyak anggota keluarga, diriku berlatih siang dan malam demi satu tujuan… yaitu mengembalikan Kadatuan Kesembilan pada harkatnya sedia kala.” Ia kemudian menatap ke arah Wara, lalu Bintang Tenggara. Tatapan matanya demikian jernih. 

“Akan tetapi, tekanan datang dari sejumlah Kadatuan lain. Pada akhirnya, diriku menyadari bahwa ada pihak-pihak yang tiada akan membiarkan Kadatuan Kesembilan kembali berjaya, bahkan bersedia menjegal. Lama-kelamaan, apa pun upaya yang diriku tempuh, tekanan yang datang semakin mencemaskan. Oleh karena itu, diriku bersandiwara sebagai pemabuk tiada berguna. Diriku menanti… menanti saat yang tepat.”

Bintang Tenggara segera dapat memahami keadaan. Ayahanda Sulung Rudra terpaksa mengemban beban berat sejak usia muda. Apa pun yang terjadi, beliau hanya memiliki satu tujuan, yaitu menjaga kelangsungan Kadatuan Kesembilan. Harga yang harus ditebus demikian mahal, karena terpaksa merendahkan martabat menjadi ahli payah dari Kadatuan nan lemah. Hal ini perlu dilakukan untuk mengelabui lawan agar mereka tiada bertindak, karena merasa Kadatuan Kesembilan bukan lagi sebuah ancaman.

“Apakah gerangan alasan Ayahanda Sulung membawa kami ke tempat ini…?”

“Diriku berharap kalian dapat menetaskan misteri di balik hamparan puing dan bebatuan…”


 


Catatan:

(1) Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tahun 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Palembang, Sumatera Selatan. Kampung kecil ini berada di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke arah Sungai Musi. Prasasti ini ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuna dengan huruf Pallawa.

Pada batu besar yang bentuknya seperti telur ini, memuat tiga peristiwa penting dalam sejarah Sriwijaya. Nama Dapunta Hyang disebutkan dalam prasasti ini. Peristiwa pertama pada saat Dapunta Hyang naik perahu ke kuil. Sebulan kemudian, Dapunta Hyang naik perahu dengan membawa pasukan 20.000 tentara dan perbekalan. Setelah itu Dapunta Hyang mendirikan perkampungan bernama Sriwijaya. 

Sumber: http://bobo.grid.id/Sejarah-Dan-Budaya/Sejarah/Prasasti-Kedukan-Bukit-Bagian-Penting-Dari-Sejarah-Sriwijaya

(2) Bayangkan sabuk asteroid di luar angkasa. 


Cuap-cuap:

Bagi yang tertinggal Episode Bayangan Sabtu lalu (yang bukan jomblo atau mungkin terlalu ngenes), silakan mundur sejenak ke Episode 210).