Episode 22 - Pertemuan Pertama



“Selamat datang, mau pesan apa?” tanya penjual es krim.

“Hmmm ... apa ya?” ucap Alice dengan ragu. Wajar saja, di samping kedai terdapat papan yang berisi daftar es krim yang tersedia, dan jumlahnya cukup banyak.

“Oh, iya, sekarang kami sedang menjual paket spesial es krim khusus untuk pasangan, mau coba?” ucap penjual es krim dengan senyum ramah.

“Eh...” Alice terkejut dengan apa yang dikatakan penjual es krim.

“Kami bukan pas-“

Belum selesai Danny bicara, perutnya disikut oleh Alice.

“Baiklah, kami pesan itu.” Alice berkata dengan senyum yang mengembang pada wajahnya.

Dalam hatinya, Danny bertanya-tanya, apakah mereka memang terlihat seperti pasangan?

Sambil menunggu, Danny dan Alice duduk di kursi yang telah kedai itu siapkan. Selain mereka, juga banyak pasangan lain yang bersantai sambil menikmati es krim sembari mengobrol dan bercanda. 

“Kamu kok beli yang paket untuk pasangan? Kita, kan, bukan pasangan?” tanya Danny.

“Aku cuma lagi pengin aja, memangnya gak boleh?” ucap Alice dengan pelan, kemudian dia menatap mata Danny, “Atau, kamu gak mau dikira pasangan sama aku? Kalau gitu, biar aku ganti pesanannya saja.” 

Alice berdiri dan hendak berjalan, tapi tiba-tiba dari arah belakang Danny menghentikan Alice dengan memegang tangannya.

“Gak apa-apa, kok. Aku Cuma penasaran aja.” Ucap Danny.

“Yakin?” tanya Alice.

“Iya.” Jawab Danny sambil menganggukan kepalanya.

Wajah Alice memerah, dia menatap tangannya yang dipegang oleh Danny sedari tadi, “Tanganmu.”

Danny segera melepas tangan Alice, “Ma-maaf.”

Alice kembali duduk di kursinya. Angin sepoi berembus membawa aroma khas dari sungai. Suasana dari pasangan yang sedang bersantai di sekitar Danny dan Alice terasa hangat. Tapi, entah kenapa, suasana di sekitar mereka berdua terasa canggung.

“Tempat ini sekarang sudah beda banget, ya.” Ucap Alice mencoba mencairkan suasana.

“Ah ... iya, padahal dulu aku sering main di sini, loh.” Balas Danny.

“Haha, sama, aku juga dulu sering ke sini.”

“Oh, iya, kalau tidak salah, aku juga pernah berantem sama preman di sini.”

“Berantem?” tanya Alice, dia sangat tertarik dengan apa yang barusan Danny katakan.

“Iya, kalau tidak salah, waktu itu ada preman yang mau mengambil kamera dengan paksa dari seorang gadis, tapi untung saja ada aku dan Rito.” Ucap Danny.

“Lalu, gadis itu bagaimana?” tanya Alice lagi.

“Gadis itu baik-baik saja.” Jawab Danny.

Di tengah obrolan mereka berdua, tiba-tiba datang seorang pelayan membawa sebuah mangkuk es krim berukuran sedang, berbentuk hati, dan berwarna putih. Di dalamnya terdapat tiga rasa es krim yang berbeda. Di bagian kanan adalah rasa vanila, di bagian kiri adalah rasa cokelat, dan di bagian tengah adalah rasa stroberi.

Bukan hanya itu, di atasnya juga dihiasi banyak Topping yang beraneka ragam dan dua buah sendok berwarna merah muda yang menancap di masing-masing sudut mangkuk. Satu kata yang dapat mewakili paket spesial untuk pasangan ini, “Meriah.”

“Silakan.” Ucap pelayan dengan ramah.

“Terima kasih.” Balas Alice dan Danny.

Alice mengambil salah satu sendok yang menancap pada mangkuk es krim tersebut. Menggunakan sendoknya, dia menyuapkan es krim rasa cokelat yang sangat lembut menuju mulutnya. Dingin dari es krim itu merambat hingga kepala Alice, kemudian dia tersenyum pada Danny, “Enak banget. Ayo, kamu makan juga.”

“Iya.” Jawab Danny. Dia mengambil sendok lainnya dan mulai menyuapkan es krim vanila pada mulutnya.

“Gimana? Enak, kan?” tanya Alice dengan antusias.

“Iya.” Jawab Danny.

Mereka berdua secara bergantian menyantapnya. sambil menikmati manisnya es krim dan momen tersebut, Alice mengingat kejadian itu, saat pertama kali ia bertemu dengan Danny.

ENAM TAHUN YANG LALU.

Pada saat itu Alice tepat menginjak usia sepuluh tahun. Di hari ulang tahunnya, dia mendapatkan hadiah kamera yang telah dia idam-idamkan sejak lama. Keesokan harinya, setelah mendapatkan hadiah dari ayahnya, dia ingin langsung mencoba kamera tersebut.

Pada pagi hari, sekitar pukul enam pagi. Membawa kamera, Alice berlari ke ruang tamu, di sana ia melihat ibunya sedang asyik membaca majalah.

“Bu, aku pergi dulu ya, mau coba kamera ini.” Alice berkata dengan riang sambil menunjukan kamera di tangannya.

Ibu Alice meletakan majalah yang sedang ia baca, “Boleh, tapi tunggu dulu, ibu ambilkan sesuatu.”

Ibu Alice berjalan pergi, lalu tidak lama kemudian dia kembali dengan berbagai macam benda, seperti sarung tangan, jaket, dan masker.

“Pakai ini, sekarang lagi musim hujan, cuacanya dingin, kalau tidak nanti kamu bisa sakit.”

“Siap Buk.” Balas Alice sambil memberi hormat dan tersenyum.

Setelah Alice selesai memakai semuanya, Ibu Alice memberitahu banyak hal, seperti ketika menyeberang harus tengok kanan-kiri terlebih dahulu, jangan mau pergi dengan orang asing, dan banyak lainnya. 

Setelah selesai mendengarkan ceramah panjang ibunya, Alice segera pergi ke luar untuk mencoba kamera barunya. Dia berjalan santai sambil melihat sekeliling, mencari sesuatu yang menarik untuk diabadikan dengan kameranya. Sampai di persimpangan jalan, dia melihat induk kucing berwarna kuning sedang berjalan, diikuti oleh tiga anaknya. Segera, Alice menangkap momen hangat itu. Kemudian dia melanjutkan perjalanan. Banyak momen lainnya yang dia potret, seperti sarang laba-laba yang masih tertutup embun, dan sebuah bangunan tua yang lama tidak dihuni.

Kini Alice sedang berjalan santai di pinggir sungai. Salah satu ciri khas kota ini adalah banyaknya aliran sungai yang membuat penduduk tidak pernah merasakan kekurangan air. 

“Hei, gadis kecil, pinjam kameranya.” 

Suara berat terdengar dari arah belakang Alice, dia menoleh dan melihat seorang pria kekar bertato dan memiliki sebuah anting di telinga kirinya. Alice merasa takut, dia berjalan mundur sambil memeluk erat kameranya.

“Haha, jangan takut, om cuma mau pinjam kameranya.” Ucap preman itu sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kamera di dekapan Alice.

“Tidak! Jangan! tolong!” Alice menjerit ketakutan.

“Lepaskan!” bentak preman, kemudian ia dengan paksa merebut kamera itu dan mendorong Alice hingga terjatuh.

“Tidak, hiks ... hiks ... kembalikan!” ucap Alice sambil terisak.

“Hei, hentikan.”

Suara teriakan terdengar, Alice dan preman itu segera menoleh, ternyata itu adalah suara bocah laki-laki dari seberang sungai. Dia bersama temannya berdiri sambil memegang katapel, salah satunya berkulit putih dan yang lainnya berkulit cokelat.

“Cepat kembalikan, kalau tidak, kau akan aku tembak!” teriak bocah berkulit putih itu sambil menodongkan katapelnya. 

“Haha, coba saja kalau bisa.” Tantang preman itu.

Tanpa ragu, bocah berkulit putih menembakan katapelnya, batu kerikil meluncur cepat, tapi meleset jauh dari sasaran. 

“Hahaha!” preman itu tertawa terbahak-bahak setelah melihat itu. Pada saat yang sama, bocah berkulit cokelat mengambil sebuah kerikil dan menempatkannya pada katapel. Lalu membidik preman di seberang sungai.

“Kejar dia!” perintah bocah yang sedang membidik preman itu. Mendengar perintahnnya, bocah laki-laki berkulit putih segera melompat ke sungai dan berenang sekuat tenaga pada sungai selebar sepuluh meter tersebut.

“Haha, coba saja jika kau bisa.” Tantang preman itu sambil berdiri dengan angkuh menghadap seberang sungai. Dia merasa percaya diri setelah melihat lawannya hanya bocah. Dia tidak merasa takut, bahkan jika bocah yang sedang berenang mendekatinya itu sampai ke sisi sungai lainnya, dia yakin bisa mengalahkannya dengan sekali pukul.

Aliran sungai di pagi hari ini tidak deras, jadi bocah berkulit putih itu dapat berenang dengan leluasa. Di lain tempat, bocah berkulit cokelat yang sedang membidik preman dengan katapelnya segera melepaskan tembakan. Batu kerikil meluncur cepat menuju kepala preman, tidak sempat menghindar, kerikil itu tepat mengenai dahinya.

“Yeah!” teriak bocah berkulit cokelat.

Tidak lama kemudian bocah yang melompat ke sungai tadi akhirnya sampai ke seberang sungai, dia dengan cepat berlari menuju preman yang sedikit goyah karena terkena tembakan dari katapel. Preman itu segera mengepalkan tangan dan meninjukannya ke arah bocah berkulit putih, akan tetapi dengan sangat mudah bocah itu berhasil menghindari pukulan yang goyah itu lalu dengan cepat menendangkan kakinya menuju arah selangkangan.

“Agggrrhhh!” preman itu menjerit dan terjatuh karena tendangan yang tepat mengenai titik kelemahannya. 

Bocah itu segera mengambil kamera dari preman, lalu memberikannya pada Alice. kemudian bocah itu menggenggam tangannya, “Ayo, lari!”

Mereka berdua segera berlari meninggalkan preman yang terbaring sembari memegang selangkangannya. setelah berlari cukup jauh, mereka berhenti. 

“Hah ... hah ... hah ... terima kasih.” Ucap Alice yang masih terengah-engah.

“Hehe, tidak apa-apa.” Balas bocah berkulit putih sembari menggosok bawah hidungnya dengan jari telunjuk.

“Akhirnya terkejar juga!” ucap bocah berkulit cokelat.

“Eh? Kok, gak basah?” tanya bocah berkulit putih.

“Aku lewat jembatan.” 

“Ada jembatan?”

“Ada, aku malah bingung, kenapa kau berenang? Padahal jembatannya gak terlalu jauh.” Ucap bocah berkulit cokelat.

“Hahahaha....” Alice tidak bisa tidak tertawa setelah mendengar percakapan dua bocah itu, “Maaf, tapi kamu benar-benar lucu.” 

“Hehe, tidak apa-apa.” Jawab bocah berkulit putih.

“Haha, bukan lucu, tapi bodoh.” Ucap bocah berkulit cokelat.

“Hei, tadi aku hanya panik saja.” Bocah berkulit berkata dengan ketus, “Ya sudah, pulang yuk, aku kedinginan.”

“Oke.” 

“Hmm ... boleh aku minta foto kalian, gak?” ucap Alice.

“Eh? Tentu saja.” Jawab bocah berkulit putih lalu merangkul pundak bocah berkulit cokelat sambil tersenyum lebar.

“Hei, dingin tahu!” gerutu bocah berkulit cokelat sambil mencoba melepas rangkulan bocah berkulit putih.

Cekrek

Pertemuan pertama yang sangat berkesan bagi Alice diabadikan.

**

Mangkuk es krim yang sebelumnya penuh, kini telah bersih setelah disantap oleh Alice dan Danny. Tiba-tiba pelayan datang menghampiri mereka berdua sambil membawa sebuah kamera. 

“Permisi.”

“Iya, ada apa?” tanya Danny.

“Karena kalian membeli paket pasangan, maka kami ingin meminta foto kalian berdua, untuk dipajang di papan promosi.” Ucap Pelayan dengan ramah.

“Eh?”

“Foto?”

Alice dan Danny tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Jika kalian tidak mau juga tidak apa-apa, tapi lebih baik jika mau, sih.” Ucap pelayan dengan bercanda.

“Gimana?” tanya Danny sambil menatap Alice.

“Hmm ... aku tidak keberatan, sih, kalau kamu bagaimana?” Jawab Alice.

“Yah, aku tidak keberatan juga, tapi, kamu beneran gak masalah foto bareng aku?” tanya Danny dengan ragu. 

Karena menurut Danny, mungkin dengan foto ini, akan banyak orang yang salah mengartikan hubungan antara mereka, dan membuat Alice merasa kesusahan. Sedangkan untuk dirinya, dia sama sekali tidak peduli. Dia sudah sering dijauhi karena sering berbicara sendiri.

“Aku ... gak apa-apa.” Jawab Alice sambil menuduk untuk menyembunyikan wajahnya.

Setelah itu, dengan menggunakan kamera yang ia bawa, pelayan itu mengambil foto dari Danny dan Alice. Duduk bersebelahan dengan senyum yang mengembang, sebuah momen hangat terabadikan.

Setelah di foto, Alice dan Danny langsung pergi. Berjalan bersebelahan di bawah langit yang mulai berwarna oranye, suasana di antara mereka tampak hangat bagi orang-orang yang melihatnya.

Alice membuka dompetnya, kemudian mengintip secarik foto lama yang telah ia simpan sejak dulu, di dalamnya terdapat gambar dua anak kecil, “Ternyata dia masih ingat,” gumam Alice.

“Eh? Kamu bilang sesuatu?” tanya Danny.

“Ah, tidak apa-apa,” ucap Alice dengan gugup sambil menutup dompetnya, “Oh iya, aku mau ke kedai es krim itu lagi, aku melupakan sesuatu.”

Alice berlari meninggalkan Danny yang tampak bingung.

Dengan senyum yang mengembang, Alice terburu-buru kembali ke kedai itu lagi, karena ada sesuatu yang dia lupakan.

Dia lupa meminta file foto tadi.