Episode 29 - Jangan Melihat Orang dari Penampilan Luarnya Saja


 Disatu tempat di alam lain, tepatnya di kantin kampus sudah ada seseorang cewek yang pernah mengacak-ngacak muka Coklat dan kini duduk sendiri sambil melihat sepucuk surat dari seseorang. Dalam surat itu tertera bahwa seseorang itu ingin berbicara empat mata langsung dengan cewek itu.

 “Maaf, sudah lama buatmu menunggu,” ujar seseorang yang dikenal cewek itu.

 “Oh, enggak apa-apa, Dik.”

 Ya, jadi seseorang yang ingin ditemui cewek itu di kantin adalah Idik. Sudah lama Idik menyimpan perasaan sukanya sama cewek itu, bahkan sebelum keduanya lahir ke dunia ini.

 “Boleh aku duduk?”

 “Silahkan,” ujar cewek dengan senyumnya.

 Idik pun duduk di bangku dengan badannya menghadap ke arah cewek itu. Perasaan Idik kini bercampur aduk, antara senang dan deg-degan mengingat saat ini waktunya buat dia mengungkapkan perasaannya cewek itu. Ya diceritakan nanti Idik menembak cewek itu sebanyak seratus kali, namun seratus-ratusnya enggak ada satu pun yang diterima.

 “Eh penulis, ngapain gue nembak dia kalau enggak diterima?!” seru Idik kepada penulis.

 Memang seperti itu ceritanya, Anda mau apa?

 “Ya seenggaknya, kasihlah kesempatan buat gue pacaran sama dia!”

 Itu tergantung usaha Anda.

 “Lah, terus buat apa gue nembak dia sekarang kalau ujung-ujungnya ditolak?!”

 Untuk sekarang ini kita tidak tahu perasaan cewek itu ke Anda itu seperti apa, jadi siapa tahu emang benar enggak diterima.

 Setelah dibujuk seperti itu, akhirnya Idik bersedia kembali melanjutkan cerita.

 Sebelum melakukan eksekusi penembakan perasaan, sebagai cowok, Idik tak lupa untuk menghiasai meja makan yang masih kosong melompong dengan menawarkan cewek itu makanan. Padahal, Idik tidak sadar kalau saat ini dompetnya lagi kosong.

 “Kamu mau makan apa? Pesan aja,” kata Idik kepada cewek itu.

 “Ah, enggak usah, Dik, aku masih kenyang.”

 “Kamu jangan malu-malu, pesan saja sesuka kamu.”

 “Hmm ya sudah deh kalau kamu maksa,” ujar cewek itu.

 Cewek mulai beranjak dari tempat duduknya, perlahan-lahan dia berjalan ke pedagang bakso, lanjut ke pedagang siomay, ke pedagang mie ayam, ke pedagang soto, ke pedagang nasi padang, ke pedagang tahu bulat, ke pedagang… tiba-tiba scene berganti ke tempat orang-orang berkumpul di pemakaman dengan Idik menangis bercucuran air mata.

 Teman-teman kampus Idik sengaja hadir di acara pemakaman itu untuk menegarkan hati Idik yang baru saja ditinggalkan dompetnya.

 “Yang sabar, Dik, lo bisa beli dompet baru dan semoga kalau dompetnya sudah baru, isinya lebih banyak,” ujar Coklat sambil memegang pundak Idik.

 “Terima kasih, Klat.”

 “Kan kalau isinya banyak, gue bisa pinjam sama lo. Iya kan, Dik?” senyum Coklat.

 “Heh, iya,” senyum sinis Idik.

 Abis itu Idik langsung menyeret Coklat dan mengubur Coklat hidup-hidup. Orang-orang pun langsung pada kabur.

 “Hey manusia! Pada mau kemana lo?! Gue kubur hidup-hidup baru tahu rasa! Jangan kabur lo padaaaa?!”

 Uwiwiwiwiwiw, ambulan pun datang.

 Hah, cerita apalagi ini. Kita kembali ke kantin dimana Idik bersiap-siap mengungkapkan perasaannya sama Een. Suasana kantin yang tadinya dipenuhi oleh gerobak-gerobak pedagang makanan kini berubah dipenuhi oleh pohon-pohon bunga sakura. Untuk merubah latar kantin dibutuhkan waktu berpuluh-puluhan tahun, itu dikarenakan harus menggusur kantinnya terlebih dahulu, setelah digusur baru pohon bunga sakuranya ditanam, eit belum habis sampai disitu. Pohon-pohon bunga sakuranya juga harus disiram setiap hari, selain itu harus diberi pupuk agar pertumbuhannya teratur.

 “Woy, kalau gitu kapan gue tembak Eennyaaaa!” teriak Idik.

 Rupanya Idik sudah tidak sabar untuk mengungkapkan perasaannya. Baiklah, kita lupakan tentang latar belakang bunga sakura karena itu kelamaan. Mari kita siapkan eksekusinya, tapi tunggu dulu, penulisnya lagi menyari lagu-lagu romantis biar feelnya dapet. Sabar ya. Hmm kira-kira lagu apa ya yang cocok buat menggambarkan romantisnya orang yang lagi ungkapin perasaannya? Ada yang tahu enggak? Kalau enggak ada yang tahu, ya sudah enggak usah pakai lagu romantis.

 Tanpa ada makanan di atas meja mereka berdua, Idik pun langsung nembak Een.

 Kurang lebih sepuluh tahun kemudian.

 “Ahhh, akhirnya aku bebas juga,” ujar Idik sehabis keluar dari penjara.

 Kok jadi gini? Enggak ada cerita Idik bebas dari penjara, dia masih dipenjara, eh bukan deng. Ceritanya kini Idik lagi ungkapin perasaannya ke Een. Awalnya Idik malu-malu kucing, pandangannya pun hanya bisa menunduk ke bawah.

 “Een, sebenarnya aku tuh….”

 “Iya, Idik, kamu itu sebenarnya apa?” tanya cewek itu yang bernama Een.

 “Aku malu buat ungkapin perasaan aku sama kamu, En.”

 “Kamu jangan malu, Dik, aku yakin kamu bisa ungkapin perasaan kamu ke Een.”

 Setelah diberi keyakinan oleh Een, perasaan malu-malu Idik pun hilang. Kini Idik menjadi seorang yang berani tanpa malu-malu. Karena sudah kehilangan perasaan malunya, perlahan-lahan Idik membuka bajunya, kemudian melepas sepatunya serta melepas celananya. Dia berdiri di atas meja cuma pakai celana sempak doang sambil teriak aaaaaa! Seketika meja dan kursi kantin melayang ke arah dia. Ya ampun dah, kok jadi gila? Enggak ada acara Idik kayak begitu, saudara-saudara. Daripada berlama-lama, marilah kita lihat adegan Idik mengungkapkan perasaannya ke Een. Siap, mulai!

 “En, aku sudah nyaman banget sama kamu. Kamu tuh sederhana. Aku tuh pengin taarufan sama kamu?”

 Sontak saja Een langsung terdiam. Dalam hatinya, dia dilanda rasa bingung, bingung saja tiba-tiba ada seseorang yang mengajaknya untuk taarufan. Sejujurnya, Een belum siap menerima siapapun dalam hatinya, hingga dia pun memberi jawaban untuk Idik.

 “Maaf, Dik, aku tuh sudah nyaman kalau anggap kamu sebagai teman.”

 “Jadi?”

 “Kita temanan aja ya?”

 “Iya, En, enggak apa-apa kok,” ucap Idik dengan raut kecewa di wajahnya.

 Usai ditolak oleh Een, Idik beranjak dari kampusnya dengan perasaan tenang namun berbalut rasa kecewa. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Idik tak bisa menahan kecewa hingga dia melampiaskannya dengan berubah menjadi sesosok monster yang mengacak-acak seluruh kota. Untung saja, saat itu wajah Coklat dan Ival sudah benar sehingga mereka berdua mampu melumpuhkan monster Idik dengan jurus kame-kamehanya.

 ***

 Malam selasa ini Coklat lagi iseng-iseng buka akun facebook-nya di handphone. Harap maklum, dia itu kudet, cuma punya akun facebook doang. Lagi asik-asik facebook-an, sengaja dia melihat status salah satu cewek kampus. Korbannya itu adalah Een, yang tadi siang di kampus sudah buat muka dia acak-acakan. Dalam postingan terbarunya, Een menulis seperti ini “Sebelum kau jadi politikus di hatiku, tentunya harus ada partai di hatiku, agar ada sertifikasi cinta ilegal dan akan kujadikan kau pejabat di hatiku, namun ketika kau sudah bekerja keras untuk partai, tapi partai cintaku punya orientasi lain, pada saat itulah pejabat cintaku akan mundur.” Melihat korban menulis seperti itu, ini jadi kesempatan bagi Coklat untuk membalasnya dengan gembelan. Tak butuh waktu satu menit, otak dan tangan Coklat bekerja.

 “Sesudah aku lolos verifikasi di hatimu, ijinkanlah aku mencalonkan diri sebagai presiden di hatimu selamanya dan aku tak berjanji padamu namun akan kubuktikan padamu.” Coklat mengetik kalimat tersebut di kolom komentar.

 Coklat cengengesan, berharap si Een klepek-klepek dan besoknya jadian sama dia, mustahil tong tong. 

 “Gue yakin nih cewek pasti klepek-klepek sama gombalan gue, muehehehe.”

 Bangun tong, jangan kebanyakan mimpi.

 Disini kesabaran seorang Coklat diuji, butuh waktu lama bagi dia melihat seperti apa balasan dari Een. Selama menunggu balesan dari Een, Coklat menyempatkan diri buat mondar-mondir keliling dunia. Sudah lebih dari tiga puluh juta tahun cahaya, komenan Coklat belum juga dibales, dia pun putus asa. Akhirnya, Coklat bunuh diri. Tamat. Ya enggak lah, masa karakter utamanya mati sebelum ceritanya selesai

 Selang beberapa menit, Een pun membalas komenan Coklat di statusnya. Cling, begitulah bunyi notifikasi balasan status di handphone-nya Coklat. Jantung berdegub kencang, dia takut kalau Een klepek-klepek sama komentar darinya. Demi menyiapkan mental, Coklat membaca balasannya dengan berhati-hati.

 “Tadi ada tugas dari Pak Abdul enggak? Aku enggak masuk,” ujar Coklat.

 Seusai membaca itu, Coklat langsung menundukkan kepalanya, lalu membenturkan kepalanya ke dinding kamar. Dengan kening yang berdarah-darah Coklat pun berteriak.

 “Tidaaaaak! Gue udah cape-cape gombal, dia malah nanyain tugaaaaas!”

 Bukan Coklat namanya kalau menyerah begitu saja. Gagal gombalin Een lewat facebook, dia coba gombalin lewat WA. Usaha mendapat nomor Een ternyata enggak sia-sia. Horee. Sejenak Coklat berpikir kata apa yang tepat untuk menyapa Een lewat WA. Berpikir berpikir berpikir, akhirnya ketemu juga kata yang pas buat menyapa Een.

 “Hy.” Pesan WA dari Coklat terkirim.

 Lima menit kemudian tidak ada balasan dari Een.

 “Ini orang kemana ya? Kok WA gue enggak dibalas? Ah coba lagi.”

 “Hy.” Pesan WA dari Coklat terkirim.

 Lima menit kemudian lagi tidak ada balasan dari Een. 

 “Hmmm, coba lagi ah,” ucap Coklat.

 “Hy.” Pesan WA dari Coklat terkirim.

 Lima menit kemudian tetap tidak ada balasan dari Een. Coklat kecewa, dia pun curhat sama tiang listrik yang ada di belakang rumahnya sambil menangis-nangis. Orang-orang yang melihat tingkah aneh Coklat merasa kasihan dengannya, lalu orang-orang itu pun ikut menangis di depan tiang listrik. Jadilah menangis di depan tiang listrik berjamaah. Si tiang listrik merasa aneh dengan orang-orang yang tiba nangis di hadapannya, kemudian si tiang listrik itu mulai meluapkan perasaannya.

 “Sudah atuh jangan menangis, kalau kalian menangis aku ikut sedih.”

 Orang-orang termasuk Coklat di dalamnya merasa aneh dengan tiang listrik yang bisa bicara, mulai saat itu tiang listrik yang bisa bicara di belakang rumah Coklat menjadi artis dadakan. Banyak orang-orang yang sekedar foto bareng sama tiang listrik buat diupload di media sosial. Setahun kemudian, si tiang listrik resmi jadi selebritis tanah air ini dan bahkan sudah go internasional. Karena sudah jadi artis internasional, saya selaku penulis pun susah untuk menghubungi si tiang listrik ini. Dan itu artinya, saya tidak bisa bercerita banyak tentang tiang listrik ini, maafkan saya untuk para fans tiang listrik dimana pun kalian berada. 

 Kembali ke cerita yang benar, dimana Coklat sudah mulai pasrah dengan balasan WA dari Een. Dia sudah tak peduli mau dengan usahanya kini. Seusai menangis-nangis ke tiang listrik, Coklat coba untuk memejamkan matanya di atas kasur. Belum sempat memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara getaran dari handphone-nya. Penasaran apa yang terjadi barusan, Coklat pun diam-diam melihat handphone-nya sendiri. Alangkah terkejutnya, ketika dia melihat ada balasan WA dari seseorang.

 “Een, uh uh uh. Aku enggak nyangka loh kalau kamu mau bales WA dari aku,” ujar Coklat dengan mata berkaca-kaca, “aku senang loh walau kamu cuma balas hy juga ke aku. Menurut aku, hy juga itu lebih panjang dari WA aku yang isinya cuma kata hy,” lanjut Coklat.

 Engga mau menyia-nyiakan balasan dari Een, Coklat segera membalasnya kembali. Berikut ini isi WA antara Coklat dan Een.

 Coklat : Hy Een, lagi apa nih sekarang?

 Een : Maaf ini siapa ya? Kok tahu nama aku?

 Coklat : Ini aku loh, abang Coklat.

 Een : Oh.

 Coklat : Neng, mau enggak jadi pacar abang?

 Een : Maaf, Bang, aku tuh enggak mau pacaran. Aku maunya cari suami.

 Coklat : Oh gitu ya? Ya sudah deh. Hmm, kenalin nih abang, suaminya kamu.

 Setelah itu, engga ada balasan lagi dari Een, mungkin dia trauma. Dan Een benar-benar trauma sampai isi WA Coklat terbawa-bawa ke dalam tidurnya.

 “Tidaaaak, jangaaan, aku enggak mau jadi istri kamu, Baaaang! Ampuuuun!” teriak Een pas lagi tidur.

 Seketika Een terbangun dari tidurnya, nafasnya terus terengah-engah.

 “Astagfirullah, aku mimpi buruk.”

 ***

 Pagi ini, Coklat ada kelas di kampus. Meskipun begitu, ada rasa enggan di dalam hati Coklat buat ke kampus, ya pasti tahu lah. Di depan cermin dalam kamarnya, Coklat lagi ngaca membayangkan kemungkinan yang akan terjadi jika dia ke kampus.

 “Ke kampus engga ya? Hmmm, kalau ke kampus gue bakalan habis nih sama Een. Kemarin aja muka gue hancur babak belur, apalagi sekarang bisa-bisa dimutilasi nih. Aduh nyesal dah godain dia,” keluh Coklat, “kalau enggak ke kampus, bisa-bisa para mahasiswi di sana bakalan kangen sama gue. Aduh, Coklat kemana nih, aku jadi enggak semangat kuliah deh kalau dia enggak ada,” lanjutnya.

  Bagi yang mau muntah, gantung diri, atau jedotin pala ke aspal gara-gara ucapannya Coklat, silahkan.

 Coklat masih dihantui kebimbangan untuk pergi ke kampus apa engga pagi ini. Di tengah-tengah rasa bimbangnya, tiba-tiba cermin yang menjadi tempat Coklet bercermin bisa berbicara.

 “Hy Coklat,” kata cermin.

 “Hy juga cermin, kok kamu bisa ngomong.”

 “Iya dong, aku kan enggak mau kalah sama tiang listrik. Aku tahu kamu lagi bingung mau kuliah apa enggak. Aku punya cara loh supaya kamu engga terlihat sama Een di kampus.”

 “Gimana?”

 “Kamu telanjang aja ke kampus, dengan begitu aku yakin Een enggak bakal ngeliat kamu.”

 “Waaah, ide bagus tuh. Emang kalau telanjang gitu, aku baka hilang ya?”

 “Enggak, dia kan tutupin matanya gara-gara malu punya teman kayak kamu.”

 Habis itu, cermin di dalam kamar Coklat hanya sebuah sejarah yang tertulis damai dalam bukunya.

 ***

 Selasa paginya, secara memang tidak ada namanya kebetulan di dunia ini, karena semua yang ada di dunia ini sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Yap, Selasa pagi ini seorang Een berangkat ke kampus karena ada kelas, namanya juga kampus pasti ada kelas lah, kalau enggak ada mahasiswanya nanti belajar di mana? Di kebun? Di sawah? Pikir coba.

 Sebelum jam delapan tiba, terlebih dahulu ada jam tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, dan satu. Eh, bukan itu. Sebelum Een masuk kelas untuk menerima mata kuliah di jam pertama, dia terlebih dahulu menyempatkan untuk curhat tentang perasaannya kepada Ival di kantin kampus. Bagi dia yang baru pertama digombal oleh seorang cowok membuat perasaan Een dilema, dia tak tahu harus senang apa harus kesal. Namun menurut perhitungan suara yang sudah Een lakukan dalam hatinya sendiri 55% menyatakan dia senang dan sisanya 45% menyatakan 100% dikurangi 45%. 

 Dengan modal meja kosong tanpa makanan, Een memulai pembicaraannya dengan Ival.

 “Kamu tahu enggak, Val, semalem Coklat WA aku loh.”

 “WA gimana?”

 “Ya, dia itu gombalin aku, lucu tahu. Masa dia WA kayak gini, Neng mau enggak jadi pacar abang? Terus aku jawab, maaf bang aku penginnya cari suami. Eh dia balas, kenalin nih abang, suaminya kamu.”

 “Tapi kamu senang enggak?”

 “Eee….”

 “Walau pun dia kayak gitu, sebenarnya dia pintar loh. Aku sudah kenal dia sejak SMA.”

 “Masa?”

 Een seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan Ival barusan. Ya, Een yang baru menginjak semester pertama memang belum mengenal dekat siapa Coklat, terlebih lagi Coklat yang dia kenal selama ini selalu berbuat onar. Misalnya saja, Coklat pernah mencorat-coret patung lima hokage di Desa Konoha. Hal inilah yang membuat dia bingung, bingung karena wajah, penampilan serta sikap konyolnya berbanding terbalik dengan otaknya? Bukan, tapi bingung sejak kapan Coklat bisa masuk ke dunia anime?

 “Kamu kaget ya? Makanya jangan menilai orang dari luarnya saja, dibalik itu semua pasti punya kelebihan. Dan enggak semua yang baik itu buruk maupun sebaliknya. Buktinya aja banyak pedagang di kantin kampus yang dikibulin sama dia, ujung-ujungnya dia bisa makan gratis.”

 “Tapi tetap saja dia itu rese, Val. Masa ya, kemarin itu dia enak banget minta nomor telepon aku, aku dibodohin sama dia, aduh.”

 “Hahaha.”

 Dan bagi Een, Coklat adalah orang yang menarik.