Episode 207 - Balaputera ...



Sudah lebih dari satu purnama Bintang Tenggara menetap di Kadatuan Kesembilan. Kompleks istana yang tadinya kusam dan kotor sudah mulai berubah menjadi lebih bersih dan terawat. Jumlah pelayan yang bekerja pun bertambah, dimana mereka mengabdi dengan sangat gigih. Di saat yang sama, beberapa orang tukang kayu dan tukang batu terlihat sibuk memperbaiki bagian-bagian istana yang mengalami kerusakan. Di depan gerbang, sejumlah prajurit terlihat disiplin menjaga keamanan. 

Alasan atas perubahan drastis terhadap keluarga bangsawan kecil ini, tak lain karena upaya seorang anak dusun. Ia mengubah tumbuhan siluman yang merupakan gulma di lahan pertanian menjadi bahan baku yang banyak dicari-cari oleh para saudagar besar. Oleh karena itu, keluarga bangsawan miskin tersebut dapat memulai kebangkitan mereka. 

Selain itu, beberapa kali Kadatuan Kesembilan mendapat kunjungan dari Serikat Peramu. Akan tetapi, Bintang Tenggara tiada dapat terlalu meninggikan diri, karena nantinya malah akan menimbulkan kecurigaan. Kepada Ketua dan Pejabat Harian Serikat Peramu, ia berpegang pada ceritera tentang resep ramuan yang diwariskan dari kakeknya. Sang kakek mengatakan bahwa resep ramuan tersebut diberikan oleh Maha Maha Tabib pada suatu kesempatan di masa lalu. 

Terkait kemampuan meramu yang sampai ke taraf kemanjuran 99%, Bintang Tenggara mengarang ceritera bahwa dirinya telah diajari meramu Pil Cakar Bima sedari kecil. Bilamana membuat ramuan lain, ia tiada dapat mencapai taraf kemanjuran sampai sedemikian tinggi. Meski sulit mempercayai, kedua tokoh dari Serikat Peramu akhirnya menerima kemampuan Bintang Tenggara dalam meramu Pil Cakar Bima, sebagai sebuah penyimpangan atau kelainan yang serba kebetulan. 

Sang mentari baru saja terbit. Ia bersinar gemilang, berwarna keemasan dan dengan perkasa memperkaya permukaan bumi akan kehangatan tiada tertandingi. 

“Wara… Wara…” Ibunda Samara berdiri menanti menanti tepat di depan pintu kediaman anak lelakinya itu. “Kita harus segera berangkat.” 

“Ibunda, diriku tiada hendak pergi.” Terdengar suara menyahut dari dalam. Hari ini tiada dinanti, dimana sebuah gelaran hajatan akbar akan bergulir.

“Wara, adalah kewajiban kita memenuhi titah Yang Mulia Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang.”

“Sampaikan kepada beliau, bahwa tiada penerus dari Kadatuan Kesembilan!”

“Wara, kumohon keluarlah.” Seorang anak remaja tiba di sisi Ibunda Samara.

“Bintang, dikau dapat berangkat mewakili diriku. Oh… lebih baik lagi… pergilah dan katakan kepada mereka bahwa dikau bernama Wara.” 

“Wara!” Ibunda Samara meninggikan suara. “Keluar saat ini juga!”

Wara akhirnya membuka pintu. Wajahnya cemberut. Kendatipun demikian, ia telah mengenakan pakaian kebangsawanan khas Kemaharajaan Cahaya Gemilang yang dikenal sebagai ‘Aesan Gede’. Adalah bawahan celana panjang yang dipadukan dengan kemeja lengan panjang tanpa kancing. Yang paling mencolok dari pakaian tersebut, merupakan kain songket lepus sulam emas yang dikenakan melingkar di pinggang sampai sebatas lutut, serta yang menyelempang di dada. Warna yang dominan pada pakaian tersebut adalah merah muda dan emas, yang mencerminkan keagungan para bangsawan Wangsa Syailendra dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang.

Menyaksikan kekikukan Wara, Bintang Tenggara hampir kesulitan menahan tawa…

“Ananda Bintang, diriku juga telah menyiapkan pakaian untukmu…” Ibunda Samara memberi kode kepada seorang pelayan, yang kemudian menyodorkan satu paket pakaian. “Segeralah salin dengan pakaian ini.” 

“Ibunda Samara… tapi…” Bintang Tenggara hendak menolak. 

“Dikau adalah anggota keluarga,” sela Ibunda Samara. Ia menyibak senyuman nan demikian menyejukkan. 

Walhasil, dua remaja mengenakan pakaian nan senada. Raut wajah mereka sama cemberutnya. 

Bersamaan dengan beberapa orang pengawal dan pelayan, ketiganya segera menuju gerbang Kadatuan Kesembilan. Akan tetapi, langkah mereka tetiba terhenti. Sesosok tubuh menatap gerbang dan membelakangi rombongan, seolah sudah menanti cukup lama. Umbul-umbul dan payung tertata rapi, dan dua buah kereta kuda telah menanti. Meski tiada terlalu mewah bahkan terlihat antik, kedua kereta kuda kencana tersebut membiaskan aura keagungan yang sangat mempesona.  

Sosok tersebut memutar tubuh. Seorang lelaki dewasa dengan pakaian kebangsawanan mirip Wara dan Bintang Tenggara. Postur tubuh yang tadinya tambun telah berubah tegap. Rambut acak-acakan rapi digelung ke belakang. Kumis dan janggut yang tumbuh berantakan, kini tertata rapi. Kedua mata merah telah berubah menjadi sejernih langit pagi ini. Ia menyibak senyum nan ramah. 

Meski penampilannya jauh berbeda, Bintang Tenggara segera dapat mengenali lelaki dewasa tersebut.

“Ayahanda Sulung!” teriak Wara setengah berlari mendatangi sang Datu dari Kadatuan Kesembilan. Remaja itu kemudian memeluk tubuhnya erat. Air mata berurai, isak tangis kebahagiaan tak tertahankan. 

“Dari mana sajakah Ayahanda Sulung selama ini…?”

“Hal itu tiada penting,” jawab sang Ayahanda Sulung pelan. “Yang terpenting, diriku tak akan melewatkan hari dimana kemenakanku menunjukkan kebolehannya.”

“Yang Terhormat Dipertuan Besar Datu,” tetiba Bintang Tenggara melangkah maju. “Diriku memohon maaf bila selama ini menyinggung hati…”

“Hahaha… Diriku yang seharusnya meminta maaf atas perlakuan yang kurang baik. Nak Bintang telah banyak membantu penyembukan Adinda Samara, menemani Wara berlatih, serta memperbaiki nasib Kadatuan Kesembilan. Untuk itu, sebesar-besarnya terima kasih diriku haturkan.”

Lelaki dewasa itu lalu mengibaskan lengan. Para pelayan membukakan pintu kereta kuda. Ia mempersilakan Ibunda Samara naik terlebih dahulu, sebelum menyusul naik.

“Mari. Segera kita menuju Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

Rombongan Kadatuan Kesembilan pun segera berangkat. Sebuah iring-iringan sederhana membelah jalanan ibu kota. Umbul-umbul menjulang tinggi di barisan depan dan dua kereta kuda bergerak pelan. Sejumlah pelayan dan prajurit terlihat berbaris di belakang. 

Di sepanjang jalan, khalayak yang juga berniat menuju tempat hajatan akbar menghentikan langkah. Mereka membuka jalan kepada keluarga bangsawan itu.  

“Oh… sudah lama diriku tiada menyaksikan iring-iringan dari Kadatuan Kesembilan…”

“Sepasang kereta kuda itu… Sungguh mengingatkan kepada masa lalu. Masa-masa dimana Kadatuan Kesembilan demikian digdaya.”

“Hei! Apa yang kau katakan!?” Seseorang di antara khalayak menyeletuk. “Kadatuan Kesembilan telah bangkit. Mereka akan kembali menjadi yang terbaik!” 

“Sungguh banyak dari kita yang telah durhaka. Lupakah kita pada jasa besar Yang Mulia Dipertuan Datu Tua dari Kadatuan Kesembilan!?”

“Yang Dipertuan Muda! Kami akan sepenuhnya mendukung!” 

“Yang Dipertuan Muda!” 

Yang Dipertuan Datu dan Yang Dipertuan Tengah, alias Rudra dan Samara, berada di kereta kuda terdepan. Sedangkan Wara dan Bintang Tenggara di kereta kuda kedua. 

“Mengapakah mereka mendukungku…?” Wara terlihat tak nyaman dan menjauh dari jendela kereta kuda. “Diriku ini hanya akan mengecewakan…”

Bintang Tenggara menyadari kegugupan remaja yang duduk di hadapannya. Dan kini, dia bahkan sudah kehilangan rasa percaya diri. “Apakah yang akan terjadi apabila dikau gagal…?” 

“Tiada apa… Gagal saja… Sudah biasa… Sedikit malu pastinya…” Wara bergumam sepatah-sepatah. Tak jelas apa yang hendak ia sampaikan. 

“Diriku pernah membaca di dalam sebuah kitab,” ujar Bintang Tenggara. “Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu… adalah sikapmu sendiri." (1)

Wara terdiam. Ia melontar pandang ke luar jendela.


Iring-iringan Kadatuan Kesembilan tiba di tengah Ibukota Minangga Tamwan. Uniknya, banyak warga yang mengekor panjang sekali di belakang. Tak kurang dari seribu mungkin jumlah mereka. Sesuatu yang sangat langka terjadi bagi sebuah Kadatuan yang terpuruk secara baik secara martabat maupun ekonomi. 

Sebuah bangunan besar berdiri megah. Ia adalah Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sang Datu dari Kadatuan Kesembilan melangkah paling depan. Di sampingnya, Ibunda Samara melangkah gemulai. 

“Ibunda, apakah tubuhmu benar-benar sudah cukup kuat…?” Wara terdengar ragu. 

“Ananda, apakah dikau mempertanyakan keampuhan pengobatan kawanmu…?”

Wara menoleh ke arah Bintang Tenggara yang melangkah sedikit di belakang. “Terima kasih,” ucapnya pelan, sedikit lagi air mata akan kembali berlinang.

Bintang Tenggara hanya menjawab dengan anggukan. Perhatiannya tersita pada pemandangan di hadapan. Umbul-umbul berjajar panjang dan menjulang tinggi, dengan gambar berkas cahaya mentari yang bersinar perkasa. Inilah lambang Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Di balik deretan umbul-umbul, berbaris rapi para prajurit, yang jumlahnya seolah tiada terhingga. Mereka terbagi dalam kompi-kompi. Pakaian yang dikenakan antara satu kompi dengan yang lainnya menjadi pembeda.

Gelanggang Utama Kemaharajaan Cahaya Gemilang, berbentuk lonjong dan sangatlah luas adanya. Tribun khalayak menampung tak kurang dari lima puluh ribu tempat duduk. Di bagian tengah, sebuah panggung besar berdiri megah. Di antara tribun khalayak dan panggung tengah, terlihat deretan sembilan tribun kehormatan. 

“Yang Dipertuan Besar Datu Kadatuan Kesembilan,” tetiba seorang lelaki dewasa menegur. Ia bangkit berdiri dari tempat duduknya yang terletak di salah satu tribun kehormatan. Di saat yang sama, tak kurang dari tiga puluh tokoh lain mengikuti. 

“Yang Dipertuan Besar Datu Kadatuan Kesatu,” tanggap Ayahanda Sulung Rudra. “Salam hormat kepada Yang Dipertuan Besar Datu Tua dari Kadatuan Kesatu.” Ia menundukkan tubuh ke arah belakang lelaki dewasa. 

Seorang lelaki tua, yang berdiri di sebelah Datu Kadatuan Kesatu menganggukkan kepala. Dapat disimpulkan bahwa ia adalah ayahanda dari Datu Kadatuan Kesatu, atau Datu sebelumnya.

Datu Kadatuan Kesatu dan Datu Kadatuan Kesembilan berjabat erat. 

“Sahabatku, mengapakah dikau menolak undangan bagi kemenakan kita melanjutkan pendidikan di Perguruan Svarnadwipa…?” Ia melirik kepada Wara. 

Wara kelihatan salah tingkah. Ia mengingat bahwa dirinyalah yang bersikeras untuk tak masuk ke perguruan. Saat itu, atas alasan hendak menjaga Ibunda Samara yang kurang sehat dan sangat lemah. Walau, alasan sebenarnya adalah menghindar dari bertemu dengan bangsawan-bangsawan muda lain. 

“Oh… Maafkanlah kelalaian kami. Sesungguhnya ia masih belum siap. Mungkin tahun ini,” tanggap Ayahanda Sulung Rudra. 

Datu Kadatuan Kesatu mengangguk. “Sesuai kabar berita yang beredar, kesehatan Yang Dipertuan Tengah sudah membaik…” 

Ibunda Samara hanya menanggapi dengan senyum. 

“Andai saja Yang Dipertuan Bungsu dapat hadir hari ini, diriku dapat bernostalgia pada kenangan masa muda.”

Siapakah yang dimaksud dengan Yang Dipertuan Bungsu…? pikir Bintang Tenggara. Selama ini ia kurang memperhatikan, bahwasanya Ibunda Samara bergelar Yang Dipertuan Tengah. Bila demikian, maka pastilah ada satu lagi adik dari mereka. 

Rombongan Kadatuan Kesembilan melanjutkan langkah. Mereka melewati tribun kehormatan Kadatuan Kedua. Tribun kali ini penuh sesak. Akan tetapi, tak seorang pun dari mereka menyapa. Ayahanda Sulung Rudra pun melengos saja.

Di depan tribun kehormatan Kadatuan Ketiga, Ayahanda Sulung Rudra berhenti sejenak, lalu memberi hormat. Tindakan tersebut disambut dengan berdirinya Datu dari Kadatuan Ketiga, beserta seluruh anggota keluarganya. 

Sampai tahap ini, suara segenap khalayak di tribun jauh yang mengelilingi tribun kehormatan dan panggung besar terdengar riuh rendah. Mereka menyuarakan dukungan kepada Kadatuan yang disenangi, atau mencomooh Kadatuan yang dibenci. Karena ramainya jumlah dan keranya suara, tiada jelas pihak mana yang didukung atau dicaci.

Rombongan meneruskan. Mereka melewati Kadatuan Keempat dan Kadatuan Kelima tanpa bertegur sapa, sebagaimana halnya pada Kadatuan Kedua. Oh… sebagai catatan, di kala melintas di depan Kadatuan Keempat, Wara terlihat salah tingkah. Di antara salah satu anggota keluarga tersebut, seorang gadis belia terlihat berang, dapat diketahui dari wajahnya yang memerah padam. 

Datu dari Kadatuan Keenam bangkit berdiri, begitu pula seluruh anggota keluarganya. Akan tetapi, tatapan mata sang Datu tiada bertemu pandang dengan Ayahanda Sulung Rudra. Beliau menatap dan tersenyum hanya kepada Ibunda Samara. 

Lahat Komering, yang berdiri di dalam jajaran prajurit Kadatuan Keenam, mengangguk pelan ke arah rombongan Kadatuan Kesembilan. Bintang Tenggara pun membalas dengan anggukan. Dari anggota Pasukan Telik Sandi tersebut, Bintang Tenggara juga sempat memperoleh gambaran umum terkait peta kekuatan para Kadatuan. 

Kadatuan Pertama, Kadatuan Kedua, dan Kadatuan Kedelapan merupakan yang terkuat. Penilaian ini didasarkan pada tingkat keahlian anggota dan kemandirian ekonomi mereka. Kadatuan lain berada satu tingkat di bawah, dengan catatan Kadatuan Kesembilan yang tiada dimasukkan ke dalam hitungan. 

“Berani sekali mereka menunjukkan batang hidung…” Tetiba terdengar cemooh yang datang dari anggota keluarga Kadatuan Ketujuh. 

“Kemungkinan, hari ini adalah kali terakhir mereka tampil di kegiatan resmi kemaharajaan. Selanjutnya, mereka akan punah dimakan waktu.” 

“Demikianlah nasib Kadatuan yang terdiri dari pemabuk dan pesakitan…” 

“Dan pelarian…,” sambung suara lain lagi. 

“Hahaha…”

Ayahanda Sulung Rudra, bahkan tiada menoleh. Langkah kakinya tegap, pembawaannya tegar.

“Hei!” tetiba suara menyergah datang dari Kadatuan Kedelapan. Seorang lelaki dewasa bertubuh besar melangkah cepat ke arah Ayahanda Sulung Rudra. Penampilan dirinya, serta seluruh anggota keluarganya, sangat berbeda dengan anggota Kadatuan lain. Mereka berpakaian ala pendekar, bahkan mirip kaum barbar. Tiada kesan resmi sama sekali. 

“Mengapa terlambat sekali kau datang!?”

“Yang Terhormat Datu Kadatuan Kedelapan….” Belum sempat Ayahanda Sulung Rudra memberi salam, lelaki dewasa itu memeluk erat tubuhnya. 

“Kadatuan Kedelapan terdiri dari para pemburu, penjelajah reruntuhan, pencari harta karun, bahkan serdadu bayaran. Jalan hidup mereka berbeda,” bisik Wara pelan.  

Panjang sekali perjalanan yang harus ditempuh di dalam gelanggang ini, keluh Bintang Tenggara dalam hati. Secara umum, ia sudah menyadari bahwa rombongan mereka sedikit terlambat. Tentunya hal ini disebabkan oleh si Wara yang sengaja mengulur waktu keluar dari kamarnya.

Rombongan Kadatuan Kesembilan menempati tribun kehormatan mereka. Satu hal yang mencolok, jumlah anggota keluarga bangsawan ini adalah yang paling sedikit. Pelayan dan prajurit yang dibawa pun tiada banyak. Lebih dari setengah bangku yang disediakan di tribun kehormatan terlihat kosong. 

Ayahanda Sulung Rudra dan Ibunda Samara mengambil tempat duduk paling depan. Wara bergerak ke deretan belakang, namun dicegah oleh Bintang Tenggara. Keduanya menempati bangku deretan ketiga. Selang beberapa baris bangku kosong, para pelayan dan prajurit menempati dua baris bangku paling belakang. 

“Hadirin sekalian!” tetiba suara menggema di dalam gelanggang nan maha besar itu. Seorang lelaki dewasa berdiri di sudut panggung. “Selamat datang!”

“Hari ini, adalah hari yang dinanti oleh seluruh penghuni Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

Sambutan dari khalayak terdengar membahana. Mereka berdiri. Melompat. Berteriak tiada terkendali. Bintang Tenggara berupaya menahan diri untuk tak menutup telinga. Seumur hidupnya, baru kali ini ia melihat demikian banyak ahli berkumpul di satu tempat.

“Sebagaimana yang kita ketahui…,” lanjut pembawa acara. “Rangkaian kegiatan di dalam Hajatan Akbar Kemaharajaan Cahaya Gemilang adalah dalam rangka menentukan… Yuvaraja! Pratiyuvaraja! Rajakumara!” 

Khalayak kembali bergelora. 

“Hm…?”Bintang Tenggara terlihat kebingungan. Istilah-istilah tersebut sangatlah asing di telinganya. “Apakah…?” Ia menoleh ke arah Wara, yang terlihat kaku sehingga bernapas pun kesulitan, lalu mengguncang tubuh remaja itu. 

“Yuvaraja adalah Putra Mahkota Pertama, Pratiyuvaraja merupakan Putra Mahkota Kedua, serta Rajakumara merupakan Putra Mahkota Ketiga sampai Kelima,” bisik Wara pelan. Kegugupannya sedikit mereda di kala menanggapi.

“Untuk tak memperpanjang waktu…” Si pembawa acara melanjutkan.

“Srash!” Tetiba sebuah formasi segel berpendar di tengah panggung nan besar. Perlahan, formasi segel tersebut merangkai dan mengambil bentuk menjadi sebuah kursi singasana nan megah lagi agung!

“Dengan segenap rasa hormat, sujud sembah kami haturkan…” 

Di depan formasi segel berbentuk kursi singasana, tetiba sesosok tubuh mengemuka. Seorang lelaki setengah baya, berdiri gagah dengan menampilkan postur tubuh yang tegap. Aura yang dipancarkan mencerminkan keagungan yang menyilaukan pandangan mata. 

Seluruh khalayak di tribun membisu. Bilamana saat ini seekor jangkrik berderik, maka suaranya akan terdengar membaha. 

“Kepada junjungan nan mulia… Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang…”

Suara si pembawa acara tertahan, dengan tujuan untuk memberi kesempatan kepada seluruh khalayak di tribun luar bersimpuh sujud. Tak satu pun rakyat yang terlihat masih berdiri maupun duduk. Para bangsawan dari kesembilan Kadatuan telah bangkit berdiri, begitu pula Bintang Tenggara mengikuti. 

Pembawa acara kemudian berteriak nyaring membahana tatkala menyebutkan gelar dan nama lengkap sang penguasa negeri… 

“Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang… BALAPUTERA DEWA!” 


Catatan:

(1) Kutipan dari R.A. Kartini.