Episode 42 - Battle of the Best


Kemudian Leena berlari cepat, menggoreskan pedangnya di lantai hingga menebas Lio secara vertikal, dari bawah sampai ke atas, menyabet perutnya hingga berdarah-darah.

CRASSSSHHHSSTT !!

"UAGGHHHH !!!" Teriak Lio merintih kesakitan.

"Huft..." Leena menghela nafas panjang sambil menyarungkan pedangnya kembali. "Aku sudah usahakan tidak menebasnya terlalu dalam. Semoga dia tidak terbunuh oleh serangan barusan."

Serangan Leena barusan, menimbulkan reaksi penonton yang beraneka macam.

"Ouch, kasihan dia... lawannya betul-betul tidak seimbang." ucapnya dengan perasaan khawatir.

"Waaa... bagaimana ini!? Apa dia masih hidup? Dia berdarah sampai seperti itu!" tunjuknya dengan panik.

"Seharusnya pertandingan ini tidak usah dilakukan saja," katanya sambil menepuk dahi. "Toh sudah jelas siapa pemenangnya."

Selain rasa prihatin, ada juga komentar-komentar penonton yang menyakitkan, mereka saling bersahut-sahutan hingga melebihi komentar-komentar yang lain.

"HUUU !! Payah! Yang namanya Lio itu payah!"

"Apaan nih? Cuma segitu doang?"

"Kalah dalam sekali serang? Lemah banget! Huu..."

Chandra yang terus menerus mendengar itupun, dibuat geram. "GRR... Aku tak tahan dengan komentar-komentar mereka." kemudian ia beranjak naik dengan perasaan geram.

"Hei Chan, kau mau kemana?" tanya anak ignis yang di dekatnya.

"Aku mau keluar sebentar, untuk menahan diri. kalau tidak... bakal kuhajar para penonton ini satu-satu."

"Lio..." Fia menontonnya sambil menutup matanya dengan kedua tangan. Bukan saja tidak mau melihat, ia menutupi air matanya yang sudah berlinang membasahi pipinya. Tak lama setelahnya, Fia perlahan-lahan pergi meninggalkan bangku penonton karena tak sanggup lagi melihat kondisi Lio saat ini.

"Sekarang tinggal mengakhiri pertandingan ini." Leena menepuk-nepuk tangannya lebih dulu sebelum menarik tubuh Lio untuk diceburkan ke kolam. "Tapi... Apa harus kuceburkan? dia sudah pendarahan dan terkapar begini."

Lalu sahut Leena ke panitia, "Panitia, apa masih perlu diceburkan kalau sudah begini."

"Tidak perlu, kami mengerti dan dengan serangan telak barusan sudah menjelaskan siapa pemenangnya."

Kemudian tanpa diumumkan pemenangnya dengan sahutan yang keras dari komentator. Leena meninggalkan arena dan dinyatakan sebagai pemenangnya. Dan Lio, segera ditangani para Healer saat itu juga.

"Sebagai gurunya, aku betul-betul paham yang dirasakan Lio," gumam Lasius dengan wajah serius di kursinya. "Dia dua kali berturut-berturut harus melawan seseorang yang terlalu kuat bagi dirinya saat ini. Lalu entah ada apa dengannya, dia jadi kalah semudah itu. Tapi lebih baik begini adanya, daripada ia terus memaksakan diri dan akhirnya... bisa-bisa, sesuatu yang tidak diinginkan... terjadi."

***

Lio dirawat kembali, lukanya cukup parah bahkan bisa dibilang sangat parah, tapi masih memungkinkan untuk ditangani dengan sihir penyembuhan. Meski dalam kondisi pingsan sekalipun, pikiran Lio terus menerus memunculkan kenangan lamanya. Kenangan sewaktu masih kecil, bersama seseorang bernama Mia.

"Sial... memori ini... yang sudah lama aku coba lupakan. Kenapa? Kenapa sekarang muncul kembali?" gumam Lio dalam alam bawah sadarnya.

.

.

.

.

.

"Lio... akhirnya kamu datang juga." sapa Mia dengan ramah. "Tapi, huuu-uhh... kok kamu baru datang sekarang sih?"

"Iya-iya, maaf." jawab Lio kecil sambil garuk-garuk kepala dengan malu-malu. "Sudah seminggu ya... a ku tidak kesini."

"Yasudah, gapapa. Yang penting kamu sudah disini sekarang." Mia tersenyum dan menggandeng Lio. "Sekarang kita main yuk."

Lalu angguk Lio dengan wajah berseri-seri, "Ya!"

"Kita hari ini main apa?"

"Hmm, bagaimana kalau..."

Setelah itu, setiap harinya mereka habiskan dengan hanya main berdua saja. Dan di tempat-tempat yang tak dilihat orang, mereka suka bermain-main dengan kemampuan sihirnya. Lio dengan tembakan api dari tangannya dan Mia menangkisnya dengan air yang melindungi sisi depannya. Hari-hari itu, mereka habiskan dengan canda tawa dan sukaria.

"Saat-saat itu, adalah saat paling indah bagiku." kata Lio dalam alam bawah sadarnya. "Aku bisa terus bermain bersamanya dan meski masih anak-anak. Aku sudah mengerti artinya jatuh cinta. Mungkin bukan cinta sesungguhnya, melainkan hanya rasa suka saja. Namun yang aku tahu... Aku bahagia. Sangat bahagia..."

"Tapi... kenapa hal yang menyenangkan selalu berlalu begitu cepat? Genap setahun sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Mia menghilang tiba-tiba. Ia tak pernah datang lagi. Dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Sampai 3 tahun berikutnya, di usiaku yang ke 12. Aku baru tahu. Bahwa Mia... telah meninggal dunia."

Dalam kondisi tidak sadarkan diri, Lio meneteskan air mata dari mata kanannya saja.

***

Tepat di jam 12 siang. Hari ini... hari dimana babak final berlangsung.

"Hadirin sekalian!" Sapa MC dengan penuh semangat, dengan mic di depan mulut dan tangan kiri yang dihempaskan ke atas. "Pertandingan turnamen tahun ini... telah sampai di puncaknya !!"

Sambutan itu dibalas meriah oleh para penonton yang begitu membeludak untuk menonton pertandingan akhir ini.

"WOOOO !!"

"Alzen !! Alzen !! Alzen !!"

"Nicholas... !! Nicholas... !! Nicholas... !!"

Sedang kedua finalis, Alzen dan Nicholas yang sudah berdiri diatas arena. Memandang keramaian penonton dari bawah sana. Sejauh mata memandang, para pendukung saling bersahutan-sahutan dengan begitu antusias. Dan kebanyakan dari mereka, bukanlah penyihir, pelajar maupun penduduk Vheins. Melainkan penonton dari kota-kota terdekat dan bahkan sampai turis dari negara-negara lain di Azuria, ikut menonton.

"Duh... penontonnya banyak sekali. Aku jadi canggung kalau yang nonton ada sebanyak ini." kata Alzen yang tak henti-hentinya memadang ke atas, ke bangku penonton yang penuh seperti layaknya pertandingan sepak bola. "Dan lagi... aku benar-benar tak menyangka, aku berdiri disini, bisa sampai sejauh ini... di babak final yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya."

Sementara Alzen sibuk melihat antusiasme penonton, Nicholas justru tak peduli. Ia hanya tersenyum jahat sambil memandang Alzen yang terlihat begitu bodoh baginya. Ekspresinya seolah bilang, bagaimana ya... untuk menyiksa anak ini.

"Baik, sebelum pertandingan dimulai. Untuk peserta Alzen," sahut Komentator dari ruangannya. "Kamu tercatat bisa menggunakan 3 elemen. Jadi, elemen apa yang akan kau gunakan saat ini?"

"Hehe, tentu saja..." Alzen tersenyum dengan percaya diri, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan mengeluarkan kobaran api di telapak tangannya. "Api!" sahut Alzen lantang.

"Hoo... untuk seorang anak kampung, dia cukup percaya diri juga." komentar Nicholas dari sisi sebrangnya.

"Baik!" sahut Komentator. "Peserta Alzen telah memutuskan pilihannya."

Lalu langsung disambung MC. "Dan pertandingan... DIMULAI !!"

"WOOOO !!"

***

Beberapa saat berlalu, sejak pertandingan dimulai. Meski kemeriahan penonton sudah tak terbendung, kedua finalis di arena ini masih saja berdiam diri untuk satu menit lamanya. Keduanya saling menatap waspada untuk tidak memberikan serangan lebih dulu, yang kemungkinan untuk di counter-nya, sangatlah tinggi.

Meski begitu, baik tangan kanan Alzen maupun Nicholas, sama-sama telah berkobar api. Api oranye berkobar di tangan Alzen, sedang Nicholas diselimuti api hitam pekat. Yang masing-masing menyelimuti tangan mereka, berkobar-kobar sampai ke pundak.

Dari ekspresi mereka, senyum semangat untuk mengalahkan lawan terpancar jelas sekali. Antusiasme mereka untuk saling mengalahkan satu sama lain, berada di level yang setara.

Dan setelah satu menit, Nicholas baru mulai bicara, "Ohh gitu... jadi kau tidak mau menyerang lebih dulu?"

"Ini sudah final, kesalahan kecil bisa merubah segalanya." jawab Alzen dengan tatapan percaya diri.

Prok! ... Prok! ... Prok!

Nicholas memberikan tepuk tangan yang pelan pada Alzen sambil menganggukkan kepalanya, "Nah... aku tahu, aku tahu. Kau berada di level yang berbeda dengan si sampah yang sebelumnya itu. Namun..."

"Fire Pierce !!"

Syuuu... BOOM !!

Sebuah tikaman lembing api langsung menyambar Nicholas, namun lagi-lagi... Barrier hitam melindunginya.

"Lio... Bukanlah sampah!" ucap Alzen tegas tapi mulutnya tetap tersenyum menantang.

"Brengsek! Terserah apa katamu... meski kau memang jauh lebih kuat dari si sampah itu. Tapi tetap saja,” Nicholas mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya ke depan. “Aku lebih kuat darimu."

"Dark Force !!"

Sebuah tekanan elemen kegelapan mendorong Alzen ke belakang, tapi Alzen sudah siap. Kapanpun Nicholas meng-cast sihir kegelapan paling dasar ini. Alzen sudah menyiapkan tindakan reflek untuk meng-counternya.

Alzen mundur selangkah untuk mengikuti arus tekanan dari Dark Force, ia mengibas tangannya ke kanan dan ke kiri bersamaan, lalu meng-cast sihir apinya.

"Reverse Fire Wall !!"

Kobaran api muncul di sisi depan Alzen selebar jarak diantara kedua tangannya, tekanan Dark Force dihalau dan di belokkan ke sisi kirinya. Mengambil celah ini, setelah pusaran tekanannya di belokkan, Alzen langsung meninju ke arah depan dengan kedua tangannya.

"Great Fireball !!"

Alzen menembakkan dua bola api berdiameter sebesar 6 meter, masing –masing dari gerakkan tinjunya. Dan sesaat setelahnya, Alzen mendengar bunyi... 

Krek! 

Dari tangannya, hingga seketika merasakan sakit yang luar biasa. "AGHHH !!" teriak Alzen merintih kesakitan. 

"Black Barrier !!"

Nicholas langsung melindungi sisi depannya lagi dengan Barrier yang sudah diperbaharui. Dengan ketebalan berlapis di sisi depan sehingga mengosongkan sisi lainnya. Namun...

TRANGG !!

Black Barrier Nicholas yang seperti kaca hitam itu pecah. Suaranya keras sekali. Nicholas juga dibuat shock. Pupil matanya mengecil dan pipinya berkeringat. Benar-benar tak menyangka Black Barrier yang selama turnamen ini melindunginya secara penuh, hancur di lawan terakhirnya ini.

Di satu sisi, Alzen-pun telah memprediksi hal ini. Ia hafal betul metode bertahan yang sering dilakukan Nicholas selama turnamen. “Adududuh, ternyata bisa pecah ya.” Meski tangannya terasa nyeri, ia harus bisa menggerakan tangannya untuk mengontrol sihirnya.

“Cih, ayah selalu menekankan ini padaku sejak masih kecil.” pikir Nicholas. “Di dalam perang. Selain adu kekuatan. Mental Moral lawan juga memiliki peranan penting. Jika lawan melihat banyak serangannya yang berhasil dan tumbuh harapan untuk bisa menang. Lawan yang lemah sekalipun, yang percaya dirinya bisa menang akan mampu menumbangkan musuhnya yang kuat namun tidak siap. Aku tak boleh membiarkan Barrier ini hancur lagi, karena akan membuat lawan percaya. Pertahananku bisa ditembus.” 

Nicholas mengulurkan tangannya ke depan. Lurus seperti menunjuk ke depan dengan telapak tangannya.

"Black Barrier !!"

Dari pusatnya yang berada di telapak tangan Nicholas, Black Barriernya di munculkan kembali.

“Lagi-lagi... baiklah! Harus coba sekali lagi.” Alzen meng-cast sihir yang sama seperti sebelumnya. Ia menyelimuti tangannya dengan kobaran api.

“Huh! Seperti aku akan diam saja.” Nicholas membuka buku grimoire-nya, lalu dari lantai tempat ia berpijak mengeluarkan api hitam yang mengelilinginya dalam bentuk lingkaran.

"Great...” 

Alzen berancang-ancang.

“Crescent Void !!”

Api hitam di sekeliling Nicholas menjulang ke atas melewati tinggi Barriernya. Dan perlahan berubah menjadi bentuk bulan sabit kecil-kecil yang mampu menyayat-nyayat Alzen secara beruntun.

Cyu! Cyu! Cyu!

Secara masif bulan sabit hitam dalam jumlah besar menerjang menuju tempat Alzen berdiri.

Saat sudah mendekat dan sedikit lagi mengenai Alzen. Alzen meninju lantai tempat ia berpijak dengan sihir api di tangan kanannya dan mendorongnya ke atas hingga ia melayang di udara. 

“Huh!?” Nicholas tak habis pikir. Ia dibua geramt, namun kembali berkosentrasi untuk mengubah jalur terjang Crescent Void untuk berbalik arah seperti boomerang dan menargetkan Alzen kembali yang melayang di udara.

Mendengar suara kerumunan di belakangnya. Alzen menyatukan tangannya hingga terkepal seluruh apinya di tangan yang telah menyatu lalu bergerak memutar diudara untuk menepis sabit-sabit kecil dari Crescent Void 

“Flame Whirldwind !!"

Wuz! Wuz!

Alzen memutar dirinya dua kali. Crescent Void yang mendekati Alzen itu seketika terbakar dan lenyap menjadi serpihan gas kecil lalu hilang sepenuhnya. Dan di putarannya yang ketiga, Alzen kembali mendarat dan menghentakkan sejumlah api berukuran besar dan menjalar cepat ke arah Nicholas.

“Brengsek! Apa-apan dia ini!?” Nicholas dibuat terdesak. Menyadari serangan api yang menghancurkan Barriernya tadi datang menyerangnya kembali. Nicholas membuat Barriernya lebih fokus lagi, membuatnya mengeras namun hanya aktif di sisi depan. “Huh! Hanya jenius sepertiku yang bisa menfokus Barrier sesempurna ini.”

“Aku sudah tahu! Sama seperti yang waktu itu.” Alzen menyilangkan tangannya hingga membentuk X di bawah dagunya. Namun dengan cepat ia hempaskan ke kanan dan ke kiri.

"Split !!"

Fireball yang bergerak lurus, setelah beberapa meter lagi menabrak dinding barrier Nicholas yang telah di perkuat. Tiba-tiba, bergerak saling berjauhan ke arah yang berlawanan yang satu ke kiri dan yang satu lagi ke kanan. Dengan timing yang tepat, Alzen membuat api itu kembali pada jalurnya yaitu menuju ke depan, namun menghindari bentrokan langsung dengan Barrier Nicholas..

"Apa!? Dibelokkan!!?" Nicholas tak menyangka Alzen bisa mengontrol sihirnya sampai sejauh itu, lalu dengan cepat ia merubah barriernya menjadi bentuk setengah bola yang mampu melindungi seluruh sisinya.

Mengira dirinya akan diserang dari kedua sisi, namun tidak dua bola api yang berlawanan arah itu tetap melesat melewati Nicholas begitu.

“Hah!? Kenapa?” Nicholas terheran-heran. Padahal ia sudah siap menangkis serangan itu.

“Ohogg! Ohogg!” Alzen tersungkur jatuh karena kelelahan dan tangannya sakit.

“Haha... dia kelelahan rupanya. Dasar anak mis-“

Syusshh...

“Huh!?” Nicholas menoleh ke belakang untuk sesaat.

DUARRRR !! DUARRRR !! 


“UAGGGHH !!” punggung Nicholas terhantam bola api yang datang dari belakangnya. Nicholas buru-buru membuka bukunya dan meng-cast sihir hitam.

“Elemental Eater !!”

Gas hitam keluar dari tubuh Nicholas dan melahap api yang menyisa dan membakar tubuhnya hingga lenyap dimakan gas hitam itu. Kondisi Nicholas kini tidak tanpa luka lagi. Rambutnya dibuat acak-acakan dan kacamatanya terlihat retak.

“Kenapa? Kenapa bisa? Apa dia mengendalikannya sampai. Ahh... dia meniru Crescent Void-ku barusan. Arahnya diubah seratus delapan puluh derajat. Jadi begitu rupanya.”

“Hosh! Hosh! Ini benar-benar gawat.” Alzen tersungkur di tanah dengan kedua tangan dan lutut menopangnya. “Tangan dan tubuhku sakit sekali. Aku belum sembuh total. Dan lagi Aura dan Staminaku yang lemah ini. Sudah terlalu banyak kugunakan di awal-awal pertandingan.”

Nicholas bangkit kembali, kini dirinya tidak terlindungi Barrier. Wajahnya terlhat murka tapi juga kosong. Seperti baru kali ini ia memasuki mode serius. Buku Grimoire-nya ia buka lebar-lebar dan sepertinya ia sudah memilih salah satu sihir kuat yang akan menyiksa Alzen ke depan.

“Setelah ini, kau akan benar-benar hancur.” kata Nicholas dengan tatapan serius.

***