Episode 41 - Not So Important Match


"Kau benar-benar berniat, menantangku?" tanya Vlaudenxius dengan tatapan serius, mengintimidasi Nicholas.

Lalu, Nicholas menjawab dengan kepala tertunduk dan wajah menyesal. "Ma-maafkan aku..."

Mendengar itu, Vlaudenxius diam sejenak, menilai kejujuran kata-kata Nicholas. Tapi tak sampai berapa detik, efek beku dari Vlaudenxius, terlepas begitu saja. Nicholas tak lagi dalam keadaan beku. Benar-benar kembali dalam kondisi kering, tanpa bajunya basah sama sekali. Esnya menguap begitu saja tanpa menyisakan air sedikitpun.

"WUOOO !! Nico! Nico! Nico!" sahut sorak-sorai penonton, bersukacita akan kemenangannya, meski tak benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di arena.

"Cih! Orang-orang bodoh ini berisik sekali." Nicholas kesal dengan sorak-sorai yang mendukung dirinya. Lalu dengan tangan terkepal erat seperti mau marah, Nicholas beranjak keluar arena dengan wajah geram.

"Hmm... anak itu," pikir Vlaudenxius dengan mengusap-usap janggut pendeknya sambil melihat Nicholas berjalan keluar. "Sama seperti kakak-kakaknya, terlalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Tapi... aku sangat mengenal keluarganya, dan paham betul darimana sifat angkuh-nya itu berasal. Dan lagi, setiap ada keluarga Obsidus belajar disini, selalu memberikan sebuah tantangan bagi kita semua."

 *** 

Sementara itu, di ruang penyembuhan, tempat Leena dirawat.

"Hosh... hosh... HEE!? Dimana aku?" Leena terbangun tiba-tiba dari ranjangnya dengan perasaan kaget hingga menyibakkan selimutnya. "Aduduh... kepalaku sakit.” Kata Leena sambil memegang kepala kanannya. “Ohh iya... aku ingat. Aku kalah dari Alzen. Gwahhh !!"

"Maaf, tolong jangan banyak bergerak dulu. Anda sedang dirawat."

"Tidak apa, aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih." Leena beranjak naik dari tempat tidurnya dan keluar dari sana.

"Hei! Tapi... tunggu." kata Healer yang menyembuhkan Leena.

"Sudah, tidak apa-apa... aku baik-baik saja.” Leena keluar begitu saja dengan pakaian rawatnya. “Terima kasih telah merawatku."

“Aaa... jadi, aku harus apa nih?” kata Healer sambil garuk-garuk kepala.

Di jalan kembali ke Arena. Leena terus kepikiran tentang kekalahannya, mengingat-ingat momen pada waktu pertandingannya dengan Alzen.

"Alzen... Alzen...” katanya. “Kau memang penuh kejutan." Leena tersenyum, sambil terus berjalan. "Apa aku pernah cerita padamu? Kalau dalam keadaan Dancing Blade Illumination, kesadaranku akan hilang untuk beberapa saat. Entah memang kau sudah mengetahuinya atau kebetulan saja. Lalu ketika aku sadar, aku sudah tenggelam di dalam air. Kau melakukan apa padaku? Hingga tiba-tiba aku tenggelam begitu? Sesampainya di Arena, aku ingin menanyakan banyak hal padamu."

***

Lalu di arena...

"Untuk para penonton, mohon bersabar..." sahut MC memberikan pengarahan. "Sebentar lagi pertandingan penentuan juara 3 akan berlangsung. Tapi karena kedua peserta masih dalam perawatan, maka pertandingan akan..."

"HUUUU !! Langsung Final saja!"

"Cepetan! Cepetan! Kami sudah tidak sabar!"

"Buat apa melakukan pertandingan yang pemenangnya sudah jelas dari awal!"

"Kami kesini untuk nonton Alzen!"

"Aku cuma mau nonton Nicholas!"

"Duh! Penontonnya." Chandra palm face, tak tahan dengan keegoisan penonton.

"Hahaha! Kau tak usah heran Chan," kata Lasius disampingnya. "Karena penontonnya makin banyak, di saat yang sama juga, para fanboy ikut bermunculan."

"Fanboy?"

"Ya... Mereka yang memuja-muja finalis idolanya setinggi langit, tanpa mau tahu sama sekali dengan finalis lainnya. Padahal, semua peserta turnamen tahun ini, bagus-bagus. Mungkin ini karena tahun lalu tidak diadakan."

"Peserta tahun ini bagus-bagus? Memangnya angkatan tahun-tahun sebelumnya tidak ya?" tanya Chandra.

"Ya... begitulah, tak semeriah tahun ini.” kata Lasius. “Gap antara peserta di tahun-tahun sebelumnya terlalu jauh. Berbeda dengan tahun ini yang semuanya berjuangan keras dengan kekuatan yang setara."

"Benarkah!?"

"Entah apa yang memotivasi kalian. Angkatan tahun ini semuanya bertarung habis-habisan. Semua pertandingan selalu berakhir dengan darah dan luka. Terutama ketika makin mendekati Final. Semuanya mengerahkan seluruh kemampuan masing-masing hingga ke titik akhir."

"Loh? Iya dong," jawab Chandra dengan yakin. "Kami semua ingin menang. Makanya kami mencoba hingga ke batas paling akhir kami."

"Hahaha! Itu dia," tawa Lasius mendengar jawaban Chandra. "Tahun-tahun sebelumnya, turnamen tidak sampai seintens ini. Angkatan inilah yang terbaik."

***

Di kamar tempat Lio di rawat, Lio merenung sebentar, menutup matanya dengan lengan kanannya di ranjang. Ia membayang-bayangkan masa lalunya di sawah waktu itu.

"Sewaktu melawan Nicholas, kenapa tiba-tiba aku jadi teringat kejadian itu lagi? Padahal itu sudah berlalu lama sekali." pikir Lio, mengenang masa-masa itu, ia berbaring di ranjangnya, menutup kedua matanya dengan lengan dan mengingat-ingat. "Cewek yang waktu itu... siapa ya? Kok aku kesulitan mengingatnya?"

.

.

.

.

.

"Aku Lio... kamu?"

"Kenalin aku... Mia." kata anak berambut biru muda itu.


“Mia ya... namanya Mia.” renung Lio. “Tiba-tiba aku bisa mengingatnya.”


"Mia? Senang berkenalan denganmu. Hehe..." Lio tersenyum dalam kondisi babak belur, sambil perlahan-lahan bangkit dengan susah payah. "Ouch! Adududuh..."

"Sudah-sudah, jangan dipaksakan." rangkul Mia dengan rasa khawatir. “Sini biar aku bantu.

"Tidak apa, yang begini sih... belum apa-apa." ucap Lio yang berlagak sok kuat. Ia kini sudah berdiri, meski posisinya agak pincang. Karena ia dipukuli tiga orang yang lebih besar darinya, mulai dari kepala hingga kaki.

"Huu... bergaya kamu, padahal aku tahu pasti sangat sakit kan?"

"E-enggak kok." sangkal Lio dengan canggung. "Ahh, uhm... aku pulang dulu ya. Kapan-kapan kita main kesini lagi."

"Hei, tunggu Lio," cegah Mia sambil menarik tangannya yang hendak pergi menjauh. "Kalau kamu pulang sekarang, orang tuamu pasti bakal marah-marahin kamu, kalau sampai lihat kamu babak belur begitu."

"Be-benar juga sih..." pikir Lio sejenak. "Tapi, tidak apa-apa kok. Sudah ya... Bye!"

"Huuu...uuu..." keluh Mia dengan mulut menggembung. "Kalau begini, apa boleh buat." pikirnya.

“Lio tolong berbalik sebentar. Lihat ke arahku.” pinta Mia.

“Huh?” meski tidak mengerti, Lio bersedia melakukannya.

Mia mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan, lalu air bersih di dekatnya bergerak menempel di tangan Mia, Kemudian...

"Heal !!"

"...!?" Lio terkejut, seketika luka-lukanya sembuh sedikit demi sedikit dan rasa nyerinya hilang dalam waktu singkat. "Ka-kamu!?"

"Iya... sama sepertimu, aku juga bisa sihir," jawab Mia dengan ragu-ragu. "Ta-Tapi, ini raha..."

"WAAA !!?" teriak Lio dengan wajah berseri-seri, suaranya keras sekali.

"Hee!? Ke-kenapa? Sssstt..." Mia dibuat ketakutan. “Tolong jangan keras-keras. Nanti orang lain tahu.”

"Untuk pertama kali dalam hidupku," Lio menepuk pundak Mia dan bicara tepat di depannya dengan wajah berbinar-binar. "Aku melihat ada orang yang bisa sihir juga! Wow... aku pikir, cuma aku saja yang aneh disini."

"I-iya... tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Aku tidak mau dikucilkan begitu teman-temanku tahu, aku bisa sihir." kata Mia dengan gugup dan kepala tertunduk.

"Tidak-tidak, tidak akan!" jawab Lio dengan yakin. "Aku paham betul rasanya dikucilkan karena kemampuan sihir ini. Aku dipandang seperti monster yang sewaktu-waktu bisa menyembur api, padahal kan..."

"Hihi, terima kasih Lio." senyum Mia lega padanya.

"Ahh..." wajah Lio memerah, melihat senyum tulus Mia. "I-iya... sama-sama."

.

.

.

.

.

"Mia ya..." gumam Lio diatas ranjang. "Ahh... aku jadi ingat dia lagi, orang yang mati-matian aku lupakan. Kembali lagi dalam ingatanku."

Lalu seseorang masuk ke dalam kamar rawat Lio.

"Permisi, tuan Lio. Bagaimana kondisi kesehatanmu?" tanya perawat yang masuk mengunjunginya.

"Ya... aku baik-baik saja."

"Pertandinganmu akan segera dimulai, kau sudah siap?"

"Ya!" jawab Lio sambil segera bangun dari ranjangnya. "Aku akan kesana sekarang."

***

Di bangku para finalis, Leena datang menyalami Alzen. "Alzen, selamat ya... tak kusangka, aku dikalahkan kamu."

Alzen terkejut dengan reaksi Leena yang begitu bersahabat. "Hee!? Kamu tidak marah padaku?"

"Loh? Kenapa harus marah? Kalah menang kan wajar dalam kompetisi." setelah menyelesaikan kata-katanya, Leena duduk di atas kursinya. "Ngapain berdiri terus? Sini-sini, duduk saja."

"O-oke..." Alzen canggung, bicara dengan wanita yang mulai ia taksir.

"Selagi menunggu, aku ingin tanya-tanya sama kamu. Boleh ya?"

"Boleh... boleh..." angguk Alzen. "Tanyakan saja."

"Kamu tahu darimana, ketika aku dalam kondisi Dancing Blade Illumination, kesadaranku hilang? Memangnya aku pernah kasih tahu?" tanya Leena penasaran sambil mendekati wajahnya ke Alzen.

"Dari melihat langsung," jawab Alzen dengan yakin. "Aku sudah melihat sihirmu itu dua kali. Setelah kupikir-pikir lagi, dalam durasi singkat, kamu terlihat seperti lepas kontrol dan hanya fokus menyerang musuh selama sihirmu aktif dalam beberapa detik saja."

"Woooow..." Leena terkagum-kagum dengan kemampuan analisa Alzen. "Kau bisa tahu hal detail begitu dari melihat dua kali saja? Hebat!” pujinya. “Terus-terus... waktu aku sadar, aku sudah tenggelam dalam air, kamu serang aku dengan sihir apa sewaktu aku dalam kondisi tak sadarkan diri?"

"Hee!? Kamu tidak tahu kau diserang dengan sihir apa?"

Leena geleng-geleng kepala. "Tidak... aku betul-betul tidak tahu."

"Ahh... bagaimana jawabnya ya..." Alzen garuk-garuk kepala, berpikir bahwa jawabannya akan tidak realistis untuk dipercaya.

“Alzen? Caranya...?”

“Aaa... itu...”

"BAIK !! Peserta Lio sudah kembali ke arena," sahut MC segera, setelah melihat Lio memasuki arena. "Pertandingan penentuan juara 3 akan segera dimulai! Silahkan kedua finalis memasuki Arena."

"Ahh! sudah dimulai ya." keluh Leena. "Kita lanjut setelah ini ya..." tepuk Leena ke pundak Alzen. “Oke?”

Leena beranjak pergi dan segera turun memasuki arena. Dimana Lio, sudah berdiri menunggunya.

"Haduh... aku tak tahu harus senang atau sedih." ucap Lio sambil menghela nafas. "Karena bisa sampai di Semi-Final yang menyisakan tiga orang terbaik di angkatan tahun ini."

"Begitu ya? Jadi, Alzen akan melawan Nico di Final." pikir Leena, tanpa membalas kata-kata Lio. Melainkan melayangkan senyum sindir ke Nicholas.

"Cih! Wajahnya itu...”  kesal Nicholas dalam hatinya. “Dia tak terlihat merasa kehilangan sama sekali, karena kalah dengan anak kampung yang katanya bisa tiga elemen itu. Dia sepertinya sengaja kalah atau apa sih? Leena yang kukenal, adalah wanita yang nyaris tidak terkalahkan."

"Baik! Kedua peserta babak ini sudah memasuki Arena. Kita langsung mulai saja!" sahut komentator.

"Leena !! Leena !! Leena !!"

"Ya sudahlah..." kata Lio mengangkat bahu. "Masalah popularitas aku nyerah deh..."

"Lio !! Lio !! Lio !!"

"Haaa!?" Lio berbalik, begitu mendengar ada juga orang yang mendukungnya. "Ahh... dari teman-teman sekelas rupanya. Lagi-lagi kalian." ucapnya dengan tersenyum.

Meski begitu, Lio tak keberatan. Hanya anak-anak Ignis yang bersuara untuknya. Lio membalasnya dengan senyum dan melambaikan tangan.

"Pertandingan ketiga hari ini! Yang menjadi babak penentuan juara ketiga. Akan segera dimulai!" sahut Komentator. "Leena dari Lumen Vs Lio dari Ignis !!"

Tanpa basa-basi, Leena langsung menarik pedangnya dan meng-cast sihirnya.

"Speedy Flash Move !!"

Syussshhh...

"Cepet banget!?" Lio langsung reflek menyilangkan tangan untuk menangkis, tak lupa. Kedua tangannya ia bungkus dengan api yang padat hingga menirukan tangan magma.

DZINGGG !!

Sabetan pedang Leena tertahan di tengah-tengah persilangan tangan Lio.

"Ingat! Ini baru awal." Leena segera menarik pedangnya, lalu berputar 360 derajat dan melancarkan tebasan memutarnya dalam jeda yang sangat pendek dari serangan sebelumnya.

"Dia!?" Lio sadar akan apa yang diincar lawannya. Leena menargetkan bagian tubuh yang lain seperti perut dan kaki atau bagian belakang yang tidak terlindungi. Mengetahui itu, Lio langsung melompat mundur untuk menghindar, memberi ruang jarak pada lawannya.

"Lumayan..." ucap Leena dengan senyum. Lalu sambung Leena ke serangan berikutnya dengan jeda yang begitu pendek, Leena menusuk lurus ke depan, menargetkan perut Lio, dengan pedangnya yang berselimut cahaya putih.

"Celaka!?" tak tahu harus menghindar seperti apa lagi. Lio menggenggam langsung pedang Leena yang tajam. Hingga tangannya berlumuran darah.

"Waaaw... anak Ignis itu, hebat-hebat ya..." puji Leena, dengan senyum yang terkesan meremehkan.

“Ka-kamu cepat sekali.” kata Lio yang gugup dan masih harus menahan pedang Leena dengan tangannya.

Namun dengan tarikan yang sangat cepat ke belakang. Leena dengan mudah menarik pedangnya kembali.

Tak lagi menghindar, Lio kini bergerak duluan. Ia berlari maju untuk memukul Leena dengan tangannya yang berkobar api itu. "HYAA !!"

"Lambat..." Leena dengan mudahnya membungkukkan badan dan menendang kaki Lio hingga keseimbangannya jatuh.

BRUGGH !!

Setelah Lio yang terkapar di lantai, Leena dengan cantiknya mengayun-ayunkan pedangnya bagai pemain anggar yang sangat mahir. 

Tak lama setelah itu, Lio segera bergegas naik dan menyerang kembali. Namun Leena mampu menghindar dengan sangat mudah. Setelah menghindar. Leena mampu menendang perut Lio keras-keras tanpa banyak usaha.

"Ohogg !! Ohogg !! Ohogg !!"

"Kau sudah selesai?" tanya Leena dengan pandangan yang meremehkan.

"Tak mungkin! Tak mungkin bisa menang melawan musuh secepat dia." pikir Lio yang merasa sudah sangat dipojokkan dan kepercayaan dirinya untuk menang, dijatuhkan di menit-menit awal pertandingan. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan, pikirannya kacau dan keringat dingin sangat terasa di kulitnya.

"Bagus! Mental musuh sudah dijatuhkan, sekarang segalanya akan jauh lebih mudah." pikir Leena dengan tersenyum, sedang tangan kanannya sudah menghunuskan pedang tajam untuk menebas.

Kemudian Leena berlari cepat, menggoreskan pedangnya di lantai hingga menebas Lio secara vertikal, dari bawah sampai ke atas, menyabet perutnya hingga berdarah-darah.

CRASSSSHHHSSTT !!

***