Episode 28 - Sifat Dunia Persilatan



Brak!

“Bangsat! Orang-orang Kelompok Daun Biru itu sudah kebanyakan nyali rupanya. Beraninya mereka membunuhi empat orang anggota kita!”

Santoso menggebrak meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati dihadapannya. Begitu kuat gebrakan tangan itu hingga meninggalkan bekas telapak tangan di atas meja serta retakan-retakan yang menjalar hingga tepi meja. Kemungkinan besar meja kerja itu tidak akan bisa digunakan lagi setelah ini.

Sesaat sebelumnya, dia baru saja menerima telepon yang mengabarkan kematian empat anggota Perserikatan Tiga Racun oleh Kelompok Daun Biru dalam tugas mereka. Tentu saja berita itu membuat emosinya meledak, bagaimanapun kehilangan empat orang sekaligus -dua diantaranya pendekar tahap penyerapan energi tingkat keempat- jelas merupakan sebuah kehilangan besar. 

“Kelompok Daun Biru hanya kelompok kecil, setahuku tidak ada pendekar tingkat pemusatan energi disana. Bahkan Yanuar, ketua Kelompok Daun Biru itu, tingkat kesaktiannya hanya sampai tahap Pembentukan Dasar. Tak usah terlalu dibesar-besarkan,” ujar lelaki yang duduk di depan meja kerja Santoso dengan santai. Tampaknya dia sama sekali tidak terpengaruh oleh ledakan amarah Santoso di hadapannya. 

Santoso tampak segera berhasil mengendalikan emosinya, dia kembali duduk bersandar di kursi kerjanya sambil mengerutkan keningnya, “Tapi kita tetap tak bisa membiarkan mereka berbuat seenaknya tanpa konsekuensi apapun.”

“Tentu saja, tentu saja… Mereka harus menerima akibat dari tindakan membunuhi anggota kelompok kita,” jawab laki-laki itu lagi. 

“Lalu, bagaimana hasil penyelidikan hilangnya Sarwo?” 

Seorang laki-laki lain duduk di sofa agak jauh dari meja kerja Santoso sambil menyeruput kopinya perlahan. 

“Kami belum menemukan petunjuk apapun…” Santoso tampak agak enggan menjawab pertanyaan tersebut, “Tapi kami sempat melihat Kinasih, Putri Teratai Salju, sempat terlihat di daerah sekitar situ pada waktu-waktu menghilangnya Sarwo.”

Santoso tak melepas tatapannya dari laki-laki yang tengah menyeruput kopi di sofa saat dirinya menyinggung soal Kinasih. Tapi sama sekali tak ada perubahan ekspresi pada wajah lelaki tersebut, dia tampak tenang meneruskan seruputan kopinya. 

“Teruskan penyelidikan kalian, dan segera kabari kami begitu kalian mendapatkan petunjuk terbaru.”

Akhirnya lelaki itu bangkit dari sofa setelah menghabiskan kopi dalam cangkirnya kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan kerja. Santoso dan orang yang duduk dihadapannya hanya segera berdiri mengiringi kepergian orang itu. 

“Sekte Pulau Arwah sudah hancur berbulan-bulan yang lalu, sudah ribuan orang jadi korban, kenapa Lembah Racun Akhirat masih mondar-mandir di Jakarta?” Lelaki yang duduk di hadapan Santoso kembali bicara.

Santoso sempat terdiam mendengar pertanyaan tersebut, tapi setelah memanyunkan mulutnya, dia membuka mulutnya, “Desas-desus yang kudengar, Sadewo membawa kabur pusaka Sekte Pulau Arwah, Pisau Penghalau Sukma, ke Jakarta.”

“Pisau Penghalau Sukma? Menurutmu Lembah Racun Akhirat mengincar pisau itu?”

“Entahlah… sejujurnya aku sendiri juga tidak yakin.”

“Ya sudahlah, sepanjang kita bisa menjalankan tugas yang diberikan Lembah Racun Akhirat pada kita. Lagipula, ini adalah kesempatan besar untuk Perserikatan Tiga Racun. Kita bisa memanfaatkan tugas Lembah Racun Akhirat untuk sekaligus memperluas pengaruh kita di Jakarta.”

Santoso mengangguk setuju, “Tapi ingat, jangan melampaui batas. Biar bagaimanapun Jakarta adalah ibukota negara, kita tetap harus mewaspadai Pasukan Nagapasa.” 

“Aku mengerti…”

“Bagus kalau begitu, lanjutkan rencana kita seperti semula. Oh iya, sekalian urus perhitungan dengan Kelompok Daun Biru. Pastikan mereka membayar perbuatan tololnya,” Santoso mengisyaratkan dengan tangannya pada lelaki dihadapannya agar pergi meninggalkan ruangan kantor. 

“Baik.”

Lelaki itu segera bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan kantor Santoso. 


***


Setelah memastikan perawatan Shinta tidak mengalami kendala apapun, Arman mengajakku meninggalkan rumah sakit. Kami berkendara menyusuri jalan Jakarta padat dan kotor oleh debu pembangunan jalan dengan menggunakan SUV yang sebelumnya digunakan membawa Shinta ke rumah sakit. Sedangkan perempuan yang tadinya ikut bersama kami tetap tinggal di rumah sakit untuk menjaga Shinta. 

“Masih jauh?” Sudah cukup lama kami berkendara tapi tampaknya masih belum ada tanda-tanda perjalanan kami akan segera sampai. 

“Lumayan.” Arman menjawab pertanyaanku tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. 

“Berapa lama kira-kira sampai aku bisa kembali pulang bertemu keluargaku?” 

Setelah memikirkannya masak-masak, akhirnya aku memutuskan mengikuti saran Arman agar ikut dengannya menuju Kelompok Daun Biru. Satu orang anggota Perserikatan Tiga Racun yang berhasil melarikan diri sempat melihat wajahku ketika kubokong, apa jadinya jika mereka mengetahui aku tak memiliki backing sama sekali? Jadi berlindung pada Kelompok Daun Biru adalah pilihan yang cukup masuk akal buatku. 

“Aku juga tidak bisa memastikannya, setidaknya sampai situasi menjadi lebih tenang.”

“Oke…”

Kami kembali melanjutkan perjalanan tanpa banyak bercakap-cakap. Perlahan, lampu-lampu jalan berwarna kuning temaram menyala seiring dengan semakin redupnya cahaya matahari senja. 

“Ngomong-ngomong, bisakah kau ceritakan padaku tentang Kelompok Daun Biru?”

“Kelompok Daun Biru...” Arman tampak merenung sejenak, kemudian melanjutkan penuturannya, “Dalam dunia persilatan, Kelompok Daun Biru termasuk dalam kelompok kecil. Anggotanya hingga saat ini masih terdiri dari beberapa puluh pendekar saja. Tapi kami membawahi tiga perguruan, Perguruan Lembu Ireng, Perguruan Gagak Putih, dan Perguruan Kelelawar Merah. Sedangkan untuk unit usaha, Kelompok Daun Biru berfokus pada perdagangan sayur-mayur. Itu sebabnya ketua Yanuar memberi nama Daun Biru pada kelompok kami.”

“Agak mirip dengan organisasi mafia, ya…”

Arman tersenyum tipis mendengar penilaianku terhadap Kelompok Daun Biru, “Kurang lebih begitu,” imbuhnya kemudian. 

“Oh… Apa saja yang selama ini kalian kerjakan?”

“Cukup banyak… biasanya setiap kelompok dunia persilatan seringkali mendapat misi dari berbagai pihak, dan jika kita berhasil mejalankan misi tersebut, imbalannya lumayan besar.” 

“Apakah misi itu termasuk melakukan tindakan kejahatan?”

“Tindakan kejahatan seperti apa yang kau maksud?”

“Yaa… seperti membunuh, merampok, atau menculik orang, atau mungkin yang lainnya.”

Arman tampak mengangguk-ngangguk mendengar penuturanku, “Itu tindakan kejahatan di mata orang awam… bukankah kau juga baru membunuh empat orang sekaligus?” katanya dengan wajah sedikit mencemooh.

“Eh!” Aku sama sekali tidak menyangka jawaban Arman akan seperti itu. Seketika itu juga aku menyadari betapa naifnya pandanganku sebagai seorang pendekar yang masih memakai kacamata hitam dan putih. Aku langsung mengingat bagaimana reaksi Kinasih yang tampak kikuk ketika kutanyakan apakah Jurus Iblis Sesat adalah jurus golongan hitam. 

“Nilai-nilai yang dianut oleh orang dunia persilatan berbeda dengan nilai yang dianut oleh orang dunia awam.” Arman melanjutkan penjelasannya.

“Apakah di dunia persilatan, ada golongan hitam dan putih?”

“Hmmm…” Arman kembali merenung sebentar, “Ada golongan putih yang berbuat keji, dan ada golongan hitam yang berbuat baik. Setiap orang memiliki standar yang berbeda soal hitam dan putih.”

Kali ini, aku diam tak mengucapkan sepatah katapun. Dari penjelasan Arman, aku mendapat gambaran lebih jelas tentang dunia persilatan. Ini bukan kisah-kisah novel silat dimana golongan putih selalu bersih suci sekalipun dia membunuhi orang dan mengintipi perempuan bugil setiap hari, dan golongan hitam selalu kotor penuh dosa tanpa memandang apapun alasan perbuatannya serta tanpa ada kesempatan bertobat sama sekali.

Kembali kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Untuk mengusir sepi, akumembuka smartphone baruku, selain mengecek pesan tak penting dalam grup kawan-kawan sekolah, aku juga mengecek beberapa akun social media milikku. Tanpa sadar, tanganku membuka situs informasi ringan yang seringkali beriklan di media social. Aku tenggelam dalam kesibukan dengan smartphoneku hingga lupa berapa lama waktu telah terlewati hingga suara Arman menyadarkanku.

“Kita sudah sampai.” Arman menepikan kendaraan menuju sebuah rumah mewah dan besar yang tampak seperti istana. Dia segera memarkirkan kendaraan di dalam garasi rumah tersebut dan langsung turun dari kendaraan. Tanpa menunggu instruksi darinya, aku segera ikut turun dari kendaraan, kemudian mengikutinya memasuki rumah mewah itu. 

Ternyata interior didalam rumah itu juga seperti istana, tak hanya luas, tapi juga dihisasi oleh perabotan mewah nan mahal. Baru pertama kalinya aku menapakkan kaki ke dalam rumah semewah ini. 

“Selamat datang, Rik.”

Sebuah suara menyapaku saat aku tengah asyik mengagumi suasana di dalam rumah. Aku segera menengok ke arah sumber suara tersebut dan kutemukan Yanuar disana, dia berjalan cepat menuju ke arahku sambil tersenyum tipis. Aku segera menganggukkan kepala membalas sapaannya. 

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sambil memandangi dada kananku yang terbalut perban. 

“Baik,” jawabku singkat.

Yanuar mengangguk-nganggukkan kepalanya, kemudian berjalan menuju sofa di ruang tamu.

“Silahkan duduk, Rik.”

Aku segera menuju sofa dan ikut duduk di hadapan Yanuar, begitu juga dengan Arman yang tanpa diminta ikut duduk disebelahku. 

“Bisakah kau ceritakan kejadian pertarungan dengan Perserikatan Tiga Racun secara detil?” tanya Yanuar begitu pantatku menyentuh sofa empuk. 

Aku segera menceritakan kejadian semenjak kulihat Shinta didalam mall hingga pertarungan dengan para anggota Perserikatan Tiga Racun sedetil mungkin. Yah, kurasa memang sudah seharusnya aku menceritakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, mengingat merekalah yang akan menerima dampak paling besar dari perbuatanku membunuhi anggota Perserikatan Tiga Racun. Meskipun disisi lain aku juga punya sedikit kekhawatiran mereka menjadikanku kambing hitam. Tapi aku memutuskan untuk mempertaruhkan kepercayaanku pada orang-orang Kelompok Daun Biru. 

Ceritaku mengenai kejadian itu cukup panjang, dan selama itu pula Yanuar dan yang lain hanya mendengarkan saja tanpa menjeda ceritaku sedikitpun. Baru setelah aku selesai bercerita, Yanuar menarik nafas panjang kemudian meletakkan telapak tangan kanan di mulutnya. 

“Pertama, aku atas nama Kelompok Daun Biru mengucapkan banyak terima kasih karena telah menyelamatkan Shinta,” ucap Yanuar beberapa saat kemudian. 

“Saya hanya menolong Shinta sesuai sumpah sebagai murid Perguruan Gagak Putih,” jawabku segera, meskipun pada kenyataannya aku sendiri masih belum mengerti benar alasanku menolong Shinta, semua terjadi begitu saja.

Yanuar mengangguk mendengar jawabanku, “Sekarang, kita perlu membicarakan persiapan menghadapi pembalasan dari Perserikatan Tiga Racun.”

“Aku bersedia menjadi utusan untuk bernegosiasi dengan mereka,” ucap Arman disebelahku.