Episode 21 - Harta Karun Alice


Di luar suasananya sangat panas. Wajar saja, saat ini matahari menggantung di langit cerah tanpa awan. Para siswa dan siswi duduk menghadap papan tulis putih, yang saat ini sudah tak lagi putih. Sudah banyak coretan rumus yang tertulis, yang meskipun tidak mereka pahami, akan tetapi tetap mereka katakan “Paham” ketika ditanya.

Waktu terus berlalu, saat ini bukan hanya suhu di luar yang panas, akan tetapi telah merambat masuk ke dalam kelas. Peluh keringat mulai membasahi seragam putih yang para siswa kenakan, membuat perasaan tidak nyaman karena hal itu menimbulkan bau tak sedap.

Bel tanda pulang berbunyi. Guru yang bertugas menyudahi pelajaran dan segera melangkah pergi, akhirnya para siswa dapat mengembuskan napas. Perasaan lega memenuhi seisi ruangan, dengan sepenuh hati mereka membereskan buku dan alat tulis, kemudian beranjak dari tempat duduk lalu pergi dari ruangan yang menyiksa ini.

Tapi, tidak untuk seseorang...

Alice duduk di kursinya dan memasang wajah cemas. Sambil membongkar isi tasnya, dia menggumamkan kata, “Di mana? Di mana? Di mana?”. Namun, hingga seluruh isi tasnya berada di atas meja, dia masih belum menemukan apa yang dia cari.

Danny masih berada di kelas, dia melihat Alice dengan saksama, lalu perlahan mendekatinya. 

“Lagi cari apa?” tanya Danny.

Mengalihkan pandangan pada Danny, Alice berkata dengan lirih, “Dompetku hilang.” 

“Hilang di mana?” tanya Danny lagi.

Sebuah pertanyaan bodoh terlontar dari mulut Danny. Sebuah pertanyaan yang umumnya dijawab dengan, “Kalau aku tahu di mana, bukan hilang namanya.”

Namun, tidak untuk Alice...

“Hilang di ... di mana ya?” balas Alice.

Tidak tahu harus berkata apa setelah pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan. Danny menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum canggung, lalu berkata, “Di mana, ya?”

“Ah, bagaimana kalau kita cari saja?” usul Danny.

“Tapi, cari di mana?” tanya Alice.

“Coba kamu ingat-ingat lagi, kapan tepatnya kamu kehilangan dompet itu?”

Alice meletakan tangan di dagunya, dan mulai berpikir. Tidak lama setelah itu dengan sedikit ragu dia berkata, “Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, aku yakin dompet itu masih ada, jadi mungkin saja saat di sekolah.”

“Lalu, saat di sekolah, tempat mana saja yang kamu kunjungi.” Tanya Danny dengan sangat antusias. Dia merasa bersemangat ketika menghadapi situasi seperti ini, sama seperti saat mencari orang yang menyebar gosip buruk tentang Rito, baginya hal seperti ini sangat keren.

Masih menempatkan tangannya di bawah dagu, Alice berkata, “Ke kantin saat jam istirahat pertama, ke perpustakaan saat jam istirahat kedua,” Alice berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Dan ke kamar mandi saat jam pelajaran ketiga.” Untuk yaang terakhir, dia mengucapkannya dengan suara yang sangat tipis.

Namun, meskipun begitu, Danny masih dapat mendengar apa yang Alice katakan. Dalam benaknya, Danny bertanya-tanya, kenapa harus malu saat mengatakan pergi ke kamar mandi? Bukankah itu normal untuk pergi ke sana?

Namun, kemudian Danny menyadari sesuatu yang agak janggal. Pada saat jam istirahat pertama, dia juga pergi ke kantin bersama Rito seperti biasanya, tapi dia tidak melihat Alice. Pada saat jam istirahat kedua, dia pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dia pinjam sebelumnya, tapi dia tidak melihat Alice juga. Dan pada saat jam pelajaran ketiga, dia izin ke kamar mandi, akan tetapi dia tidak melihat Alice, meskipun kamar mandi cowok dan cewek di pisah, tapi lokasinya masih bersebelahan. 

Danny memikirkan semua ini dan tidak bisa tidak bingung, kenapa Alice berada di tempat yang sama dengan dia pada waktu yanng sama juga, akan tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya. Dia ingin bertanya tentang ini, akan tetapi dia urungkan niat tersebut. Dia berpikir, mungkin ini hanya kebetulan.

“Selain itu?” tanya Danny lagi.

“Selain itu ... di kelas ini.” Jawab Alice.

“Baiklah, kalau begitu ayo kita cari sama-sama.” Ucap Danny sembari tersenyum pada Alice.

Alice membalas senyum Danny lalu berkata, “Makasih Danny.” 

Danny dan Alice mulai mencari dompet itu, di mulai dari kelas. Namun, meskipun mereka telah mencarinya sampai ke sudut kelas, tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya mereka pergi ke lokasi selanjutnya, yaitu kantin. Menelusuri lorong yang panjang, suara langkah kaki mereka menggema dalam sekolah yang sudah sepi. Tidak banyak orang yang betah untuk berada di sana, kecuali orang yang mengikuti ekskul.

Ada banyak ekskul di sekolah ini, seperti sepak bola, basket, pramuka, dan banyak lainnya. Namun, yang paling populer adalah ekskul bela diri. Karena saat ini, bela diri adalah sesuatu yang paling di gemari oleh masyarakat. Tidak jarang turnamen bela diri akan di selenggarakan oleh piihak tertentu, dan biasanya sampai di siarkan oleh pihak televisi, meskipun pada jam malam.

Hadiah yang diberikan juga tidak tanggung-tanggung, bahkan yang paling sedikit sudah cukup untuk membeli sebuah mobil. Oleh karena itu, banyak pemuda berdarah panas yang tertarik untuk mengikutinya. Turnamen ini juga bersifat umum, jadi semua orang berhak untuk mendaftarkan diri. Karena ini pula jumlah preman di jalanan berkurang, karena mereka telah memiliki tempat untuk menyalurkan bakat berkelahinya.

Tapi, tidak untuk Danny. Dia tidak pernah mengikutinya, bukan karena dia takut berkelahi, akan tetapi karena larangan dari ibunya, ibunya khawatir akan terjadi sesuatu pada diriinya, dan berkata agar Danny fokus untuk mengejar impiannya menjadi seorang tentara saja.

Tapi, karena Danny tidak jauh berbeda dari anak pada umumnya, kecuali kesukaannya yang berlebihan pada hal yang berbau militer, juga adanya Dan sang Goh, plesetan dari kata roh, yang berada dalam dirinya. Dia juga menyukai bela diri, meskipun tidak bisa masuk ke dalam dunia tersebut, setidaknya dia bisa menjadi penonton dan menyaksikan para pejuang bertarung.

Setelah lima menit berjalan, Danny dan Alice akhirnya sampai di kantin. Mereka berdua mencari dompet Alice yang hilang ke seluruh penjuru kantin, tapi tidak ketemu juga. Karena perpustakaan telah di tutup, mereka tidak bisa mencarinya di sana. Jadi, tempat terakhir adalah kamar mandi.

“Ayo kita cari ke tempat selanjutnya.” Ucap Alice sembari menyeka butiran keringat di dahinya. 

“Oke.” Balas Danny.

Alice dan Danny berjalan menuju kamar mandi. Pada siang yang cerah ini, mereka berdua berjalan berdampingan, suasana di antara mereka terasa sangat panas, dalam artian yang sebenarnya. 

“Alice, memangnya ada apa saja di dompet kamu?” setelah melihat wajah Alice yang sangat tertekan karena kehilangan dompetnya, Danny tidak bisa tidak penasaran dengan apa isi dari dompet Alice.

“Hmm ... ada harta karunku.” Jawab Alice dengan lirih.

“Harta karun?” Danny merasa terkejut sekaligus bingung. Kira-kira harta karun macam apa yang bisa di masukan ke dalam dompet. Danny berpikir sebentar dan tiba-tiba saja dia memikirkan itu.

“Apakah maksudmu kartu kredit?” tanya Danny.

“Bukan, tapi sesuatu yang lebih berharga dari itu.” Jawab Alice lagi.

Danny kembali berpikir, kira-kira benda apa yang lebih berharga dari kartu kredit. Namun, dia tidak bisa memikirkan hal lainnya.

“Kalau boleh tahu, apa itu?” tanya Danny, “Tapi tentu saja, tidak apa-apa jika tidak beritahu.” Lanjut Danny. Karena ini adalah benda yang dianggap harta karun oleh Alice, jadi mungkin saja Alice tidak akan memberitahukannya ke sembarang orang.

“Hehe ... enggap apa-apa kok, sebenarnya cuma foto, tapi foto itu sangat berharga buat aku.” Jawab Alice sambil tersenyum tipis.

Untuk sesaat, Danny merasa terpukau setelah melihat senyum dari Alice. “Baiklah, kita pasti akan menemukan dompet itu.” 

Akhirnya mereka sampai di depan kamar mandi. Berdiri terkaku, Danny akhirnya ingat, karena itu Alice, pasti dia pergi ke kamar mandi cewek. Dan, tentu saja, Danny tidak pernah memasukinya, berpikir dia harus masuk ke dalam sana untuk mencari dompet Alice, jantung Danny berdebar lebih cepat.

“Kamu tunggu di sini, aku saja yang mencarinya di dalam.” Ucap Alice lalu melangkah masuk kamar mandi.

Seperti di siram oleh air dingin, Danny tersentak dan menjadi lebih tenang. Semua pikirannya hanyut bersama aliran air. 

“Ah .. iya, hati-hati.”

“Hehe ... kan, Cuma nyari dompet, gak perlu hati-hati.” Jawab Alice sembari menoleh ke belakang. 

“Eh ... iya juga.” Ucap Danny sembari menggaruk belakang kepalanya, meskipun tidak ada rasa gatal di sana.

Setelah beberapa saat, akhirnya Alice keluar dari kamar mandi. Dia tidak tampak murung lagi, pada wajahnya kini terlukis senyum yang manis.

“Ketemu.” Ucap Alice dengan riang sambil menunjukan dompet berwarna putih.

“Syukurlah kalau begitu.” Balas Danny sambil mengangkat kedua ujung bibirnya. Dia ikut bahagia setelah melihat Alice bahagia.

“Hehe, aku ceroboh banget ya.” Alice berkata dengan malu-malu.

“Haha, nggak juga kok, aku juga biasa gitu.” Balas Danny sembari mengibaskan tanngannnya.

“Masa sih?” Tanya Alice dengan tampang penasaran.

“Iya, pernah suatu kali, aku bingung di mana pulpenku, padahal pulpen itu aku selipkan di telinga.” Ucap Danny sambil mengingat kejadian itu.

“Haha, namanya juga manusia, kan?”

“Benar.”

Sambil terus berbicara, Danny dan Alice berjalan meninggalkan sekolah. Sesampainya mereka di pintu gerbang, Alice berhenti dan berkata, “Sebagai ucapan terima kasih, aku traktir es krim, ya.”

“Haha, gak perlu, gak usah repot-repot.” Jawab Danny.

“Tidak, pokoknya harus, oke?” ucap Alice sambil memasang wajah serius.

Entah kenapa, tanpa Danny sadari, dia membalas, “O-oke.”

Mungkin ini adalah kekuatan dari Alice sang dewi sekolah, sangat menakutkan, pikir Danny.

Alice dan Danny berjalan berdampingan menuju kedai es krim yang berada di tepian sungai, tidak jauh dari sekolahnya. Sekitar lima menit, akhirnya mereka sampai. 

Kedai itu tidak terlalu besar, tapi selalu ramai dengan pengunjung, terutama wanita. Lokasinya yang berada di tepi sungai juga sangat cocok untuk bersantai sambil menyaksikan aliran sungai yang memantulkan kilau indah matahari sore.

“Selamat datang, mau pesan apa?” tanya penjual es krim.

“Hmmm ... apa ya?” ucap Alice dengan ragu.

“Oh, iya, sekarang kami sedang menjual paket spesial es krim khusus untuk pasangan, mau coba?” ucap penjual es kriim.

“Eh...” Alice terkejut dengan apa yang dikatakan penjual es krim.

“Kami bukan pas-“

Belum selesai Danny bicara, perutnya di sikut oleh Alice.

“Baiklah, kami pesan itu.” Alice berkata dengan senyum yang mengembang pada wajahnya.

Dalam hatinya, Danny bertanya-tanya, apakah mereka memang terlihat seperti pasangan?