Episode 205 - Permohonan


Bintang Tenggara melangkah cepat. Seorang diri ia berupaya menyusul Maha Tabib Banyu Alam, yang sempat dengan bodohnya mengaku sebagai murid dari Maha Maha Tabib Surgawi. Bilamana dugaan anak remaja tersebut benar, maka sosok tersebut kemungkinan besar berperan dalam meracuni Ibunda Samara. 

Di kejauhan, Bintang Tenggara menangkap keberadaan sosok berpakaian serba putih. Segera ia memacu langkah. Jangan sampai kehilangan jejaknya!

Tetiba, Maha Tabib Banyu Alam menghentikan langkah. Tokoh tersebut menoleh ke kiri dan kanan guna memantau situasi. Kemudian, ia berbelok ke sebuah gang nan sempit. Bintang Tenggara semakin curiga. Apa yang dilakukan oleh seorang Maha Tabib terkemuka sampai seolah demikian sembunyi-sembunyi?

Silek Linsang Halimun, Bentuk Pertama: Terhimpit di Atas, Terkurung di Luar! 

Bintang Tenggara memanfaatkan bayangan di gang sempit untuk membuka ruang dimensi persembunyian. Ia kemudian mengintai dalam diam. 

Seorang lelaki dewasa muda lalu muncul entah dari mana. Pakaiannya resmi dan berwibawa. Dapat diperkirakan bahwa ia berada pada jabatan yang cukup tinggi. Ia kini berdiri hadap-hadapan dengan Maha Tabib Banyu Alam. 

“Bagaimanakah kesehatan Yang Mulia Dipertuan Tengah Samara belakangan ini…?” lelaki dewasa muda itu berujar. 

“Berkat perawatan yang diriku berikan, maka kesehatannya semakin membaik.”

“Benarkah…?”

“Benar. Wajahnya semakin memerah. Memancarkan pesona kecantikan nan alami.” Maha Tabib Banyu Alam tersenyum puas. 

Dusta, batin Bintang Tenggara. Kesehatan Ibunda Samara tiada membaik. Sebaliknya, tubuh perempuan dewasa itu melemah karena racun secara berkala memasuki tubuhnya. 

“Lalu, mengapa beliau belum kunjung pulih…?” hardik lelaki dewasa muda itu. “Apakah Tuan Maha Tabib sengaja mengulur-ulur penyembuhan…?”

“Sembarangan!” hardik si Maha Tabib berang. “Diriku memegang teguh etika sebagai seorang tabib besar. ‘Kesembuhan adalah utama’, demikian pesan guruku, Maha Maha Tabib Surgawi!”

Salah! batin Bintang Tenggara yang masih mengintai. Ketiak adalah utama… 

“Lalu…?” Lelaki dewasa muda itu tak bergeming. 

“Hanya saja, beliau menghidap penyakit yang teramat langka. Setiap kali kunjunganku, seolah penyakitnya kambuh kembali. Sehingga penyembuhan harus dimulai dari awal lagi.” Ia menghela napas panjang. Wajahnya demikian khawatir. 

Sandiwara, batin Bintang Tenggara. Atau, mungkinkah ia tiada mengetahui penyebab sebenarnya penyakit Ibunda Samara…?

“Untungnya, diriku telah menemukan pola penyakit yang beliau derita. Hanya sedikit lagi waktu yang diperlukan agar beliau segera pulih seperti sedia kala.”

Lelaki dewasa muda tiada menanggapi. Ia mengeluarkan sebuah buntelan kain sebesar kepalan tangan, yang bergemerincing akan keping-keping emas. “Bilamana dalam waktu dekat Yang Mulia Dipertuan Tengah Samara belum kunjung pulih, maka Tuanku akan mencari tabib lain!”

Maha Tabib Banyu Alam meraih buntelan kain tersebut. “Akan tetapi, hari ini muncul sebuah hambatan….” 

“Hambatan seperti apa…?”

“Seorang bocah dusun menginap di Kadatuan Kesembilan. Ia lancang membuatkan ramuan bagi Yang Mulia Dipertuan Tengah Samara. Diriku khawatir bahwa tindakan ini justru akan menghambat penyembuhan yang sedang kita upayakan.” 

“Bocah dusun…?”

“Benar.”

“Kami akan menelusuri…”

Maha Tabib Banyu Alam mengangguk cepat, tak lupa menyungingkan senyum kemenangan. Mungkin ia membayangkan keberhasilan menyingkirkan si bocah dusun nan lancang dengan memanfaatkan pihak lain. “Bila demikian, izinkan diriku undur diri. Masih banyak pesakitan lain yang membutuhkan bantuan penyembuhan.”

Lelaki dewasa menanggapi dengan anggukan. 

“Oh… Sampaikan salam hormatku kepada Yang Mulia Datu Kadatuan Keenam,” ucap Maha Tabib Banyu Alam sebelum melangkah pergi


Bintang Tenggara menghitung langkah kembali ke Kadatuan Kesembilan. Pelik, pikirnya. Dari hasil pengintaian tadi, ia menyimpulkan bahwa Maha Tabib Banyu Alam memang benar betujuan menyembuhkan Ibunda Samara karena diupah oleh pihak lain. Kemampuannya sebagai tabib memanglah sangat rendah, akan tetapi bukan berarti dia yang meracuni Ibunda Samara. 

“Brak!” 

Tetiba seorang remaja lelaki jatuh terjungkal tak jauh dari Bintang Tenggara. Di saat yang sama, seorang gadis belia melangkah turun dari kereta kuda nan mewah. Sontak Bintang Tenggara memacu langkah. 

“Wara…,” gumamnya pelan. 

Benar saja. Seorang remaja lelaki berwajah tirus bangkit tertatih. Siapa lagi bila bukan Yang Dipertuan Muda Kadatuan Kesembilan. Dan di hadapannya, sejumlah remaja memajang tampang puas. 

Tanpa kata-kata, Bintang Tenggara segera menarik lengan Wara. Ia berniat membawa temannya itu secepatnya meninggalkan para perisak. 

“Hei! Bocah Dusun!” teriak seorang gadis belia berhidung mancung. Bintang tenggara mengenalinya sebagai Raya, ketua perisak. 

Bocah dusun yang dipanggil tiada peduli. Ia melengos pergi. Akan tetapi, lima remaja segera mengerubungi mereka. Kesemuanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Formasi segel berpendar dari tangan mereka ketika merapal jurus. 

“Zzzztttt…”

Tubuh kelimanya tetiba mengejang kaku untuk beberapa saat. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa Bintang Tenggara telah melempar Segel Petir. Tindakan ini memberikan cukup waktu baginya dan Wara melintas cepat melewati mereka. 

“Hm…?” Raya menyadari keanehan. Segera ia melompat dan menghadang langkah Bintang Tenggara dan Wara. 

“Hei! Bocah Dusun! Kau tadi merapal segel!” bentaknya garang. 

Bintang Tenggara tiada menjawab. Sedangkan Wara yang melangkah tertatih tanpa sengaja menabrak tubuh tubuh gadis belia itu. Keduanya hampir jatuh terhuyung, untunglah Bintang Tenggara sigap menarik tubuh Wara. 

Raya terdiam di tempat. Wajahnya memerah padam. Akan tetapi, ia tak berbuat apa-apa. Padahal, Bintang Tenggara tiada melempar Segel Petir. 

“Apakah yang dikau lakukan…?” aju Bintang Tenggara di kala sudah mendekati wilayah Kadatuan Kesembilan. 

“Diriku khawatir terjadi sesuatu terhadap dikau…” Wara terlihat serba salah. 

“Bukan itu….,” sahut Bintang Tenggara. “Maksudku, mengapa tadi dikau menyentuh payudara gadis itu…?”

“Diriku… tiada sengaja…” Raut wajah Wara terlihat demikian gelisah, sekaligus bersalah.

… 


Lebih dari sepekan waktu berlalu. Bintang Tenggara masih menetap di Kadatuan Kesembilan. Setiap hari ia membuatkan ramuan bagi penyembuhan Ibunda Samara. 

“Bintang…,” Ibunda Samara menegur ringan. “Terima kasih atas kesediaanmu membuatkan ramuan setiap hari. Keadaan tubuh ini sudah semakin membaik. Selama belasan tahun, baru saat ini diriku merasa sesehat ini.”

Bintang Tenggara hanya diam. Wajahnya terlihat kusut. Menurut perkiraannya, kesehatan Ibunda Samara seharusnya dapat pulih jauh lebih baik dari sekarang. Dirinya menyadari bahwa sampai saat ini, racun masih saja memasuki tubuh perempuan dewasa itu secara berkala. Maha Tabib Banyu Alam tiada lagi menjadi tersangka, karena sesuai kata-katanya, ia tiada akan kembali ke Kadatuan Kesembilan selama Bintang Tenggara masih berada di istana ini.

Kebingungan, Bintang Tenggara melangkah di pusat Ibukota Minangga Tamwan. Saat melintas di pasar, ia melihat kakek tua penjaga Balai Ramuan di Kadatuan Kesembilan. Si kakek baru saja keluar dari sebuah gerai ramuan yang pernah Bintang Tenggara kunjungi. Mungkin sedang menambah perbekalan. Bintang Tenggara menyadari bahwa dirinya cukup banyak memakai bahan-bahan dari Balai Ramuan.

Waktu beranjak petang ketika Bintang Tenggara kembali di Kadatuan Kesembilan.

“Tidak!” terdengar seorang lelaki membentak berang. 

Bintang Tenggara mengintip ke Balai Utama Kadatuan Kesembilan. Kedua matanya mendapati Ayahanda Sulung Rudra, Ibunda Samara, serta Wara. Wara terlihat tak senang. 

“Mengapakah Ayahanda Sulung bersikeras untuk tidak menjual Pakis Kadal Hijau!?” ujar Wara. “Tumbuhan tersebut hanyalah gulma, dan kini kita memperoleh kesempatan besar dengan menjual gulma itu. Sudah banyak saudagar yang berdatangan hendak membeli.” 

“Tidak, kataku!” Sang Datu atau kepala keluarga dari Kadatuan Kesembilan itu terlihat berang.

“Dengan menjual Pakis Kadal Hijau, maka kita dapat memperbaiki keterpurukan Kadatuan Kesembilan.” Wara berupaya meyakinkan. 

“Pokoknya, tidak!” Ia menenggak tuak. 

Apakah gerangan yang dipikirkan kepala keluarga bangsawan tiada berguna itu? batin Bintang Tenggara. Apakah ia tak hendak bangkit dari keterpurukan? Pastilah saat ini ia sedang mabuk berat. 

“Kita dapat membeli persediaan tuak lebih banyak!” Wara masih membujuk.

“Ini bukan permasalahan tuak!” Ironisnya, ia menenggak lagi isi kendi yang ada di tangan. “Anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa!”

“Kakak Sulung…,” akhirnya Ibunda Samara angkat bicara. “Kapankah terakhir kali kita melihat Wara demikian berkehendak? Kumohon, kabulkanlah permintaannya…”

Datu dari Kadatuan Kesembilan duduk terdiam. Ia seolah masih enggan menanggapi permintaan kemenakannya, serta nasehat adik perempuannya. Kedua matanya menatap dalam ke arah Wara. 

“Kakak Sulung…” Ibunda Samara hendak kembali membujuk. 

“Sebahagian saja!” tetiba hatinya luluh. 

“Baik, Ayahanda Sulung,” tanggap Wara cepat. 

“Jual sebahagian kecil saja!” Lelaki dewasa itu bangkit dari tempat duduknya. Ia lalu melangkah keluar dari ruangan, bersama dengan kendi tuak di tangan. 

Di saat keluar, sang Datu mendapati keberadaan Bintang Tenggara yang mencuri dengar pembahasan mereka. Anak remaja itu membalas tatapan mata si lelaki dewasa. Keduanya terlihat sebal. Sama-sama kesal. 

Mata merah sang Datu melotot. Namun akhirnya ia melengos pergi. 


Subuh hari, Bintang Tenggara sudah berada di balik sebuah meja tua di dalam Balai Ramuan milik Kadatuan Kesembilan. Ia memeriksa persediaan bahan dasar ramuan. Semua yang ia butuhkan untuk meramu telah tersedia. Sungguh sang kakek cukup cekatan dalam menjaga jumlah persediaan. 

Kehadiran Bintang Tenggara di Balai Ramuan ini sesungguhnya karena belakangan ia susah tidur. Satu hal yang masih mengganjal di dalam benaknya. Bagaimanakah caranya racun kembali masuk ke tubuh Ibunda Samara…?

Pintu Balai Ramuan terbuka. Seorang lelaki dewasa bertubuh tambun melangkah masuk. Matanya merah. Sepertinya ia tersesat di kala hendak mengambil kendi tuak. 

Ayahanda Sulung Rudra kemudian mengambil kursi dan duduk berseberangan dengan Bintang Tenggara. Tak sepatah kata pun terucap dari kedua tokoh tersebut. Suasana hening.

Tak berselang lama, pintu kembali terbuka. Kakek tua penjaga Balai Ramuan melangkah masuk. Ia terlihat kaget, langkahnya pun terhenti sejenak. Setelah membungkukkan tubuh petanda hormat kepada sang Datu, ia mengambil persediaan biji-bijian. 

“Persediaan biji-bijian…,” gumam Bintang Tenggara. 

“Apakah Nak Bintang belum menyadari…?” Tetiba Ginseng Perkasa berujar. 

Bintang Tenggara segera mengingat akan keanehan sehari sebelumnya. Si kakek tua itu berbelanja di sebuah gerai ramuan. Padahal, gerai ramuan yang sama pernah menolak menjual Kembang Tujuh Rupa kepada dirinya dan Wara. Bukankah gerai tersebut tiada bersedia berjualan kepada anggota Kadatuan Kesembilan? Mengapakah si kakek dapat berbelanja di sana…?

“Kakek tua…,” sapa Bintang Tenggara. 

Ayahanda Sulung Rudra melirik. Si kakek tua menghentikan langkah, namun tiada memutar tubuh. 

“Apakah biji-bijian tersebut hendak digunakan dalam meramu risin…?” aju Bintang Tenggara santai. 

Secara alami, kadar racun risin yang sangat rendah dapat ditemukan di dalam beberapa jenis biji-bijian tertentu, salah satunya biji jarak. Sementara itu, mengkonsumsi risin dalam kadar yang rendah dalam jangka waktu yang panjang, dapat menyebabkan penurunan fungsi tubuh. Kondisi inilah yang sesungguhnya mendera Ibunda Samara. 

Kakek tua itu masih berdiam diri di tempat. Akan tetapi, kedua kakinya bergetar tiada terkendali. 

“Bangsat!” tetiba Ayahanda Sulung Rudra bangkit berdiri. Wajahnya berang bukan kepalang. Aura keahlian menyibak perkasa! “Engkau rupanya yang selama ini mencelakai adikku!” 

Si Kakek memutar tubuh. Ia lalu bersimpuh sujud. “Ampun beribu-ribu ampun wahai Yang Dipertuan Besar Datu, hamba tiada berani mencelakai Yang Dipertuan Tengah.” 

Tubuh sang kakek bergetar. Ia lalu terisak-isak. Tiada kuasa menahan tangis. 

“Lalu, apa yang engkau lakukan!?” hardik Yang Dipertuan Besar Datu. “Sudah sekian lama engkau mengabdi di Kadatuan Kesembilan. Kami menaruh kepercayaan besar padamu! Perlakuan kami pun sangat adil!”

Si kakek tua mengangkat wajahnya. Air mata bercucuran membasahi pipi. “Hamba berterima kasih atas perlakuan baik Kadatuan Kesembilan selama ini…. Hamba terpaksa… anak cucu hamba disandera di tempat mereka bekerja…”  

“Jadi, apa yang engkau perbuat selama ini!?” 

“Hamba hanya menakarkan sedikit saja racun risin di dalam makanan pagi agar tubuh Yang Dipertuan Tengah melemah. Hanya itu…” 

“Selama belasan tahun!?” 

Sang kakek tua kini meraung-raung melepas tangis pilu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tiada lagi dapat dipahami. Ayahanda Sulung Rudra melangkah maju. Usia kakek tua itu hanya tinggal selangkah saja. 

“Yang Dipertuan Besar Datu…” Tetiba Bintang Tenggara menyela. “Adalah benar bahwa kakek tua ini tiada menakarkan racun dalam jumlah banyak. Karena bila banyak jumlahnya, maka Ibunda Samara pasti telah lama menghembuskan napas terakhir.”

“Bukan urusanmu!” Hardik Rudra, Yang Dipertuan Besar Datu. “Kau sudah terlalu banyak mencampuri urusan Kadatuan Kesembilan. Segera tinggalkan tempat ini bilamana hendak berumur panjang!” 

Pintu Balai Ramuan tetiba terbuka. Hari telah beranjak pagi, terlihat dari sinar mentari yang merangsek keemasan. Wara melangkah masuk. Wajahnya terlihat kebingungan. Meski demikian, kehadiran Yang Dipertuan Muda tersebut menghambat niat Yang Dipertuan Besar Datu untuk menghabisi nyawa sang kakek tua. 

“Wara, bawa dia!” perintah lelaki dewasa yang berupaya menahan amarah. “Biar ia meminta maaf langsung kepada Samara!” 

Menyaksikan amarah di wajah sang Ayahanda Sulung, Wara tak berani banyak bertanya. Ia segera menggiring kakek tua yang masih menangis tersedu. 

Di hadapan Ibunda Samara, si kakek tua bersimpuh sujud sambil membenturkan kepala ke lantai. Tangisannya menjadi-jadi, kemudian ia meraung-raung pilu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seolah raungan harimau kesakitan. 

Pada akhirnya, Ayahanda Sulung Rudra yang menjelaskan semua kejadian yang telah berlangsung selama ini. Bahwa kakek tua itu menakarkan racun di dalam makanan setiap hari, serta alasan atas tindakannya tersebut. 

“Kakek tua, dimanakah anak dan cucumu berada…?” Ibunda Samara berujar pelan. 

“Hamba bersedia menebus perbuatan hamba selama ini dengan nyawa…,” isak kakek tua itu.” 

Wara pun mulai terisak. Padahal, bukankah seharusnya ia marah…? Mengapa ia turut bersedih…? Kakek tua itu meracuni ibu kandungnya…. Bintang Tenggara tak habis pikir. 

“Katakan dimana mereka!?” hardik Ayahanda Sulung Rudra. 

“Mereka berada di… Kadatuan Ketujuh…”

“Segera bawa mereka diam-diam ke Kadatuan Kesembilan,” ujar Ibunda Samara. “Lebih aman bagi mereka bilamana berada di sini.” 

“Hamba memohon ampun beribu-ribu ampun wahai Yang Dipertuan Tengah…” Si kakek tua kembali menangis tersedu. 

“Sudahlah… diriku sudah memaafkan kekeliruanmu. Seluruh rangkaian kejadian sampai saat ini membawa hikmah tersendiri.” Ibunda Samara menatap dalam ke arah Datu Rudra. Seolah kata-katanya lebih banyak ditujukan kepada kepala keluarga itu.

Permasalahan berakhir cepat. Yang Dipertuan Besar Datu alias Ayahanda Sulung Rudra, mengambil satu kendi tuak sebelum melangkah pergi meninggalkan kediaman Ibunda Samara. Tuak akan mengusir pergi amarah di hatinya. 

Wara mendampingi sang kakek. Ia membantu orang itu bangkit berdiri, lalu mengantarkan keluar. Begitu mudahnya remaja itu memaafkan.

“Ananda Bintang…” Ibunda Samara memanggil di kala Bintang Tenggara pun hendak meninggalkan kediaman perempuan dewasa itu. 

“Tak terkira betapa besarnya rasa terima kasih yang diriku dan Kadatuan Kesembilan haturkan atas kemuliaan hatimu.” 

“Ibunda Samara, dalam sepekan ke depan, kelumpuhan yang selama ini diderita akan benar-benar berangsur pulih.” 

Kata-kata tersebut keluar karena Bintang Tenggara menyadari bahwa dirinya sudah terlampau jauh mencampuri urusan di dalam keluarga Kadatuan Kesembilan ini. Sang kepala keluarga pun sempat mengusir dirinya. Sudah saatnya mempersiapkan diri untuk kembali ke Perguruan Gunung Agung. 

“Ananda Bintang… diriku memiliki sebuah permohonan.”