Episode 203 - Pil Cakar Bima



“Bah! Apa yang dilakukan oleh Yang Dipertuan Muda dari Kadatuan Kesembilan itu…?”

“Apakah derajatnya sudah demikian terpuruk!?” 

“Biarkan saja. Tiada guna bagimu mencibir Kadatuan yang tak lama lagi akan punah…”

Setelah memastikan bahwa memanglah benar Pakis Kadal Hijau yang tumbuh memenuhi lahan pertanian Kadatuan Kesembilan, Bintang Tenggara segera membabat dan memasukkan tumbuhan siluman tersebut ke dalam karung. Dirinya kini menarik sebuah pedati besar yang memuat belasan karung tumbuhan siluman tersebut. Wara, terlihat mendorong pedati dari arah belakang. 

Bintang Tenggara sudah mewanti-wanti agar bangsawan muda itu tiada ikut mendorong gerobak. Meski gerobak penuh terisi, peternak tangguh Bintang Tenggara masih cukup kuat untuk menarik seorang. Akan tetapi, remaja berdarah bangsawan itu bersiteguh untuk membantu. Mana mungkin ia membiarkan tamu Kadatuan Kesembilan menarik pedati seorang diri. 

Hasilnya, cibiran dari segenap ahli yang menyaksikan peristiwa tersebut. 

“Cuih!” Tetiba seseorang meludah tepat di depan kaki Wara. Untunglah tiada mengenai tubuh remaja tersebut. 

“Engkau memalukan sesama keturunan Wangsa Syailendra!” hardik seorang remaja lelaki berusia sepantaran. Ia melangkah turun dari kereta kuda nan mewah. 

Wara tetap mendorong pedati. Ia tiada peduli. 

“Wara! Dengarkan aku!” 

“Buk!” Sebuah formasi segel tetiba mendorong tubuh Wara jauh ke samping. 

“Prana, kumohon…” Wara melangkah ke arah pedati. 

“Sampai kapan kau hendak menurunkan derajatmu sedemikian rendah!?” Remaja lelaki itu demikian berang. Ia kini berdiri di jalan, menghalangi Wara yang hendak kembali mendorong pedati. 

“Prana, diriku perlu membawa pedati ini pulang.” 

Bintang Tenggara mendatangi Wara. Bila dibiarkan lebih lama, maka kegiatan perisakan akan kembali berlangsung. 

“Biarkan saja pelayanmu bekerja seorang diri!” Ia mengacu kepada Bintang Tenggara yang sudah berdiri di samping Wara. 

“Ini adalah temanku… bukan pelayan.”

“Kau sama seperti Ibundamu! Menganggap semua pelayan setara!” hardiknya. “Huh! Ayahandamu memanglah pelayan, akan tetapi darah Wangsa Syailendra mengalir di dalam nadimu!”

“Hei!” sergah Bintang Tenggara. Ia mulai tak rela mendengarkan penghinaan yang demikian merendahkan.

“Siapakah engkau!? Jangan ikut campur!” Remaja yang diketahui bernama Prana berang. Padahal, ia yang mencampuri kegiatan Wara mendorong pedati.

“Prajurit!” Beberapa prajurit yang bersiaga di belakang kereta kuda mewah melangkah maju. Tubuh mereka besar dan kekar. Aura Kasta Perak Tingkat 1 menyibak perkasa. 

Bintang Tenggara bersiaga. Ia bersiaga. Sepertinya pertarungan di tengah jalan raya tak terelakkan. 

“Bawa pedati itu sampai ke Kadatuan Kesembilan!” perintah Prana. 

“Eh…?” Bintang Tenggara terlihat kebingungan. Padahal ia siap bertarung menghadapi prajurit-prajurit itu.

“Wara, kuperingatkan… Sebagai Wangsa Syailendra, kau tiada dapat berlaku sesukamu. Dengan kau merendahkan diri seperti ini, maka akan menyinggung Kadatuan lain. Bukan tak mungkin bagi mereka bertindak dengan menghukum engkau dan Kadatuan Kesembilan!” 

“Prana…” Kata-kata Wara tertahan. 

“Pikirkan matang-matang sebelum berbuat sesuka jidatmu!” 

Prana memutar tubuh. Ia kembali naik ke dalam kereta kuda nan mewah. 

“Siapakah itu…?” Bintang Tenggara masih kelihatan bingung. 

“Prana dari Kadatuan Kelima,” jawab Wara pelan. “Ia adalah teman masa kecilku…” 

Setibanya di Kadatuan Kesembilan, Bintang Tenggara menarik pedati ke kediaman yang ia tumpangi. Selama sisa hari, ia mengurung diri. Lampu kediaman tersebut bahkan belum padam sampai larut malam. 


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bintang Tenggara melangkah seorang diri ke pasar. Hiruk-pikuk kegiatan ekonomi telah dimulai. Pelbagai barang diperjual-belikan. Saudagar dari seantero wilayah dan negeri terlihat sibuk.

Di depan sebuah gerai terbengkalai, ia kemudian meletakkan meja. Di atas meja tersebut, beberapa kendi tertata rapi dan simetris. Sebuah sepanduk berukuran sedang membentang dan menarik perhatian siapa saja yang melintas. 

                    ‘Ramuan Cakar Bima’ 

‘Resep Rahasia dari Maha Maha Tabib Surgawi’

Sejumlah ahli yang melintas pasti menyempatkan diri membaca spanduk ini. Sungguh menarik perhatian. Bagaimana tidak, siapa yang tiada pernah mengenal nama besar dan agung dari sang Maha Maha Tabib Surgawi!? 

“Adik ahli… Apakah gerangan yang dikau jajakan,” tegur seorang lelaki setengah baya yang kebetulan melintas. 

“Pil untuk menjaga daya tahan tubuh. Sebutir saja diminum pada malam hari, maka akan bermanfaat untuk memulihkan stamina bagi mereka yang kelelahan setelah seharian bekerja di lahan pertanian,” papar Bintang Tenggara. 

“Oh benarkah…?”

“Benar.”

“Apakah maksudmu dengan Resep Rahasia dari Maha Maha Tabib Surgawi…?” seorang lelaki dewasa mendekati, ikut penasaran. 

“Pil ini adalah resep keluarga. Kakekku mengatakan bahwasanya merupakan warisan dari Maha Maha Tabib Surgawi!” 

“Oh? Mungkinkah dikau dikelabui oleh kakekmu sendiri?” Lelaki dewasa itu tersenyum kecut.

“Mungkin saja.” Bintang Tenggara menyibak senyum. “Hari ini harga sebutir pil hanyalah lima keping perunggu.”

“Lima keping perunggu…? Murah sekali…” 

“Lima keping perunggu adalah harga pembuka. Esok akan naik menjadi sepuluh keping perunggu.”

“Hm…” Lelaki dewasa itu terlihat ragu. “Diriku adalah mandor di pertanian. Para petani belakangan ini selalu banyak mengeluh karena kelelahan…” 

“Jikalau tiada mujarab, maka datanglah kembali esok hari. Diriku ada mengembalikan setiap keping perunggu milik Tuan Mandor.” 

Dengan penawaran yang sangat murah, maka si mandor membeli sepuluh butir pil. Sementara itu, si lelaki setengah baya hanya memandangi, dan akhirnya pergi begitu saja. 

Hari jelang siang. Hanya beberapa butir pil lagi yang laku terjual. Itu pun karena dibeli oleh beberapa petani yang kebetulan sedang melintas usai membeli bibit tanaman atau pupuk. Sepertinya mereka kasihan melihat anak remaja yang berjualan itu. 

Namun demikian, setiap yang melintas di depan gerai kecil itu pasti menoleh dan tersenyum membaca hal yang tiada masuk akal. Jikalau benar merupakan resep rahasia Maha Maha Tabib Surgawi, maka tiada mungkin dijual di gerai pinggir jalan. Pastilah sudah menjadi barang mahal yang dijual oleh saudagar-saudagar besar lintas negeri. 

Siang hari, Bintang Tenggara menutup gerainya. Ia kembali ke lahan pertanian dan membabat Pakis Kadal Hijau. Jelang petang, ia sudah menutup diri sampai tengah malam. 

“Adik Penjaja!” tetiba si mandor yang sehari sebelumnya membeli sepuluh butir pil berteriak. Ia telah menanti di tempat Bintang Tenggara menggelar dagangannya. Kemungkinan sudah berada di situ sedari subuh. 

“Adik! Sungguh mujarab! Semalam diriku meminum sebutir dan memberi sisanya kepada bawahanku. Kami tertidur lelap dan terbangun penuh dengan tenaga!” 

Bintang Tenggara tersenyum. “Apakah Tuan Mandor hendak membeli lagi. Hari ini harga sebutir adalah sepuluh keping perunggu.” 

“Seratus butir!” si Mandor menjerit tanpa ragu. 

Tak lama, sejumlah petani berbondong-bondong mendatangi gerai sederhana itu. Di antara mereka, adalah beberapa petani yang sehari sebelumnya membeli Pil Cakar Bima karena rasa kasihan. Mereka pun turut memborong ramuan itu.

“Adik…,” seorang lelaki dewasa muda menghampiri. 

“Apakah ada yang bisa dibantu…?” Bintang Tenggara tersenyum ramah.

“Diriku hendak bertanya… apakah benar sehari yang lalu adik menjual ramuan kepada seorang mandor…?”

“Benar,” tanggap Bintang Tenggara cepat.

“Mandor itu adalah tetanggaku,” ujarnya ringan. “Bilamana ramuan yang Adik jajakan bermanfaat bagi stamina para petani, bukankah akan berfungsi sama bagi murid-murid perguruan…?”

“Tentu saja,” jawab Bintang Tenggara menyibak senyum.

“Bila demikian, diriku hendak membeli seratus butir. Sebutirnya seharga sepuluh perunggu, jika diriku tak salah dengar.” 

“Seratus butir Pil Cakar Bima. Sepuluh keping perak harga keseluruhannya.” 

“Terima kasih.” 

Tepat di siang hari, Bintang Tenggara kembali menutup gerai. Sebagaimana hari sebelumnya, anak remaja itu bertolak ke lahan pertanian dan membabat Pakis Kadal Hijau. Jelang petang, ia sudah menutup diri sampai tengah malam. 

Pada subuh hari ketiga, tak kurang dari seratus ahli telah mengantri di depan gerai terbengkalai. Tua dan muda. Mereka terdiri dari para petani dan murid-murid perguruan. Ketika Bintang Tenggara tiba, betapa mereka bersorak-sorai.

“50 butir pil ajaib!”

“100 butir!” 

“500 butir!” 

“Mohon maaf,” ujar Bintang Tenggara. “Batas atas sekali pembelian adalah 100 butir Pil Cakar Bima.” 

“Apakah yang terjadi di sini…?” tetiba seorang prajurit patroli membelah kerumunan. 

“Hei! Apakah kau memiliki izin untuk berjualan di tempat ini!?” 

“Hm…?” Bintang Tenggara terlihat bingung.

“Kau memerlukan izin untuk berjualan. Selain itu, barang daganganmu pun patut melalui uji kelayakan!” 

“Benarkah…?” Bintang Tenggara terlihat polos.

“Hei, prajurit! Jangan memotong antrian!” 

“Minggir!” 

“Kalian…”

Kegiatan saling dorong terjadi antara sejumlah petani dan murid perguruan dengan si prajurit. Pada akhirnya, prajurit patroli tersebut terpaksa menyingkir. Massa sudah mulai terlihat beringas.

Hari jelang siang. Dagangan Bintang Tenggara ludes terjual. Akan tetapi, siang itu sengaja ia tiada mengunjungi lahan pertanian. Ia segera kembali menuju Kadatuan Kesembilan. 

“Bintang,” tegur Wara. “Dikau memerlukan Sijil Niaga dan Sijil Kelayakan,” ujar Wara pelan. 

Bintang Tenggara hanya tersenyum. Tentu ia mengetahui bahwa Wara mengamati kegiatannya berjualan dari kejauhan. Bangsawan muda tersebut sadar diri untuk tak ikut campur, karena bilamana keberadaannya diketahui malah akan menyulitkan kegiatan berdagang Bintang Tenggara. 

“Apa yang perlu dilakukan untuk menyiapkan Sijil Niaga dan Sijil Kelayakan…?”

“Spada… Spada…” Tetiba terdengar suara memanggil dari luar gerbang Kadatuan Kesembilan.

Seorang pelayan melangkah keluar, lalu bergegas kembali. “Yang Dipertuan Muda, seorang saudagar besar dan seorang pejabat Serikat Peramu hendak bersua.”

“Persilakan mereka ke Balai Utama. Sampaikan kepada Ayahanda Sulung bahwa kita kedatangan tamu.” 

Wara menatap ke arah Bintang Tenggara. Kemungkinan besar kedatangan tamu ini dikarenakan upaya berdagang kawannya itu. 

“Yang Dipertuan Muda, Yang Dipertuan Datu tiada bersedia menemui mereka.” Tak perlu waktu lama bagi si pelayan itu untuk kembali. 

“Ck…” Bintang Tenggara tak dapat menahan diri dari mendecakkan lidah. Apa yang bisa diharapkan dari kepala keluarga pemabuk itu…?


“Yang Dipertuan Muda Kadatuan Kesembilan,” sapa seorang lelaki setengah baya. “Hamba bernama Ogan Rawas, dan merupakan Pejabat Harian Serikat Peramu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

Bintang Tenggara hanya mengintip dari belakang. Ia segera mengenali tokoh tersebut sebagai orang pertama yang mendatangi gerainya di hari pertama berjualan. Saat itu, tokoh tersebut singgah karena penasaran dengan spanduk yang dipajang. Peramu mana yang tak akan terpancing bilamana membaca tulisan Maha Maha Tabib Surgawi?

“Yang Dipertuan Muda Kadatuan Kesembilan,” sapa seorang lelaki dewasa lain. Tubuhnya tambun, kepalanya gundul. “Hamba bernama Malin Kumbang, seorang saudagar.” 

Entah dimana, Bintang Tenggara sepertinya pernah berpapasan dengan tokoh ini. Bilamana ia mengingat dengan seksama, bahwa pada kegiatan Lelang Akbar di Kerajaan Parang Batu, lelaki bernama Malin Kumbang ini seharusnya memenangkan lelang daun Kelor Keris. Akan tetapi, tumbuhan siluman berharga itu disikat oleh Penyamun Halimun, alias Sayu.

“Apakah gerangan yang dapat Kadatuan Kesembilan bantu kepada Tuan sekalian?” Wara menjawab resmi.

“Yang Dipertuan Muda, hamba mendapat kabar berita bahwa seorang tamu di Kadatuan Kesembilan menjajakan ramuan tanpa melalui uji kelayakan, sehingga ia tak memiliki Sijil Kelayakan. Hal ini melanggar aturan di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”  

“Apakah setiap ramuan yang saat ini dijajakan di pasar memiliki Sijil Kelayakan!?” tetiba Malin Kumbang menyela. 

“Hm…?”

“Diriku dapat mengumpulkan setidaknya puluhan saudagar yang tak memiliki Sijil Kelayakan. Jadi, jika dikau datang hanya untuk mempertanyakan hal remeh, maka sebaiknya dipikir-pikir lagi.” 

“Wahai, Saudagar Senjata Malin Kumbang… Hal yang dikau katakan memanglah benar adanya. Kami dari Serikat Peramu pun mempertanyakan mengapa Serikat Dagang membiarkan para saudagar tersebut menjual ramuan tanpa Sijil Kelayakan… Bukankah dikau pun merupakan anggota Serikat Dagang…?” balas Ogan Rawas.

Kedua tokoh saling tatap. Suasana tetiba memanas. Dapat diperkirakan bahwa hubungan antara Serikat Peramu dan Serikat Dagang tiada akur. Dapat diperkirakan pula bahwa kedua tokoh ini datang tiada bersamaan. Hanya kebetulan saja yang mempertemukan mereka. 

“Apakah hamba diperkenankan bersua dengan tamu dari Kadatuan Kesembilan?” Malin Kumbang mengalihkan pembicaraan. 

“Atas keperluan apakah gerangan…?” Wara terdengar sangat berwibawa. Di saat dibutuhkan, ia dapat berperilaku layaknya seorang bangsawan muda. 

“Hamba hendak membeli hak cipta atas ramuan Pil Cakar Bima. Nantinya, hamba juga akan menguruskan Sijil Kelayakan atas ramuan tersebut,” papar Malin Kumbang tanpa berbasa-basi. 

“Omong kosong!” sergah Ogan Rawas. “Kau hanya hendak mencari keuntungan sebanyak-banyaknya!” 

“Diriku adalah seorang saudagar. Keuntungan memanglah tujuan. Apakah ada yang salah…?” 

“Yang Dipertuan Muda Kadatuan Kesembilan, bila diperkenankan, maka hamba akan mendaftarkan Sijil Kelayakan atas Pil Cakar Bima. Hamba hanya membutuhkan keterangan bahan dasar dan cara meramunya saja. Keterangan yang hamba peroleh, nantinya hanya akan dipergunakan untuk pengembangan lebih lanjut.”

“Wahai Tuan Peramu dan Tuan Saudagar, diriku tiada dapat memenuhi kehendak Tuan sekalian. Ramuan itu milik tamu di Kadatuan Kesembilan.”

“Bila demikian, apakah hamba diperkenankan bersua dengan tamu dimaksud…?” Saudagar Senjata Malin Kumbang memanglah jeli. Apa pun yang berpotensi memberi keuntungan, maka ia akan segera menelusuri. 

“Baiklah.” Wara mengangguk ke arah seorang pelayan tua yang menemani sedari tadi. Pelayan itu pun memanggilkan Bintang Tenggara yang memang sejak awal mengintip dari kejauhan. 

“Salam kenal wahai Tuan Saudagar dan Tuan Peramu. Diriku bernama Bintang. Apakah ada yang bisa dibantu?” 

“Wahai Adik Bintang, diriku hendak membeli hak cipta atas ramuan Pil Cakar Bima. Nantinya, hanya Adik Bintang dan diriku yang diperkenankan meramu dan menjual pil tersebut. Berapakah harga yang Adik Bintang ajukan?” 

“Wahai Adik Bintang, diriku hendak mendaftarkan ramuan pil Cakar Bima. Rahasia atas ramuan tersebut akan dijaga oleh Serikat Peramu dan hanya akan digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.” 

Kedua ahli itu berujar di saat yang bersamaan. Bintang Tenggara tak dapat mendengar jelas kata-kata yang saling bertabrakan. Akan tetapi, anak remaja itu sudah dapat menebak maksud dan tujuan keduanya. 

“Tuan Peramu, diriku akan mendaftarkan ramuan Pil Cakar Bima. Tuan Saudagar, diriku pun bersedia menjual hak cipta atas Pil Cakar Bima dimaksud. 

“Hm…?” Keduanya tiada dapat meyembunyikan rasa heran. Segampang itukah?

“Berapakah harga yang Adik Bintang inginkan…?”

“Sepuluh keping emas.”

“Hanya sepuluh keping emas…?” Bagi saudagar besar seperti Malin Kumbang, harga ini teramat murah. 

“Serta satu pedati penuh Kembang Tujuh Rupa.” 

“Sepakat!” Saudagar senjata Malin Kumbang menyerahkan sepuluh keping emas. Lalu, ia mengeluarkan sebuah lencana dan menebar jalinan mata hati. Sudah barang tentu ia memberi perintah kepada bawahannya untuk membeli dan mengirimkan satu pedati penuh berisi Kembang Tujuh Rupa. 

Di hadapan saudagar, peramu dan Wara, Bintang Tenggara lalu mengeluarkan sebuah lesung batu, sebotol kecil air, beserta satu ikat daun Pakis Kadal Hijau. Menggunakan jalinan mata hati, ia mengurai dan memisahkan daun dari serbuk spora tumbuhan siluman pakis. Lalu, setetes air dimasukkan ke dalam lesung batu. Perlahan-lahan, serbuk spora Pakis Kadal Hijau, melayang turun ke dalam lesung batu. Sesaat sebelum serbuk spora pakis mencapai permukaan lesung, ia menguapkan setetes air yang telah terlebih dahulu berada di dalam lesung. 

Tindakan tersebut menghasilkan reaksi yang biasa saja, dimana serbuk spora berubah menjadi adonan kecil. Kemudian, Bintang Tenggara mengalirkan sedikit tenaga dalam, dan adonan tersebut pun mengeras. Bentuknya hitam dan bulat, mirip kotoran kambing. 

Bintang Tenggara mengulangi proses yang sama. Demikian, ia telah menghasilan dua butir Pil Cakar Bima.

“Hanya itu…?” sergah Ogan Rawas yang merupakan Pejabat Harian Serikat Peramu. 

Bintang Tenggara menyerahkan sebutir pil kepada Malin Kumbang, serta sebutir lagi kepada Ogan Rawas. 

“Apakah diriku perlu menuliskan petunjuk meramu pil ini di atas kertas…?”

“Tentu saja,” jawab Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Dengan ini, hanya Adik Bintang dan diriku yang diperkenankan meramu pil ini…” Ia pun mengeluarkan selembar kertas perjanjian yang terlihat menyibak formasi segel, lalu menyerahkan kepada Wara sebagai saksi.  

 “Ini… Pil ini…?” Jemari Ogan Rawas bergetar tiada terkendali 

Di hari pertama Bintang Tenggara menjajakan pil, Ogan Rawas hanya mampir karena rasa penasaran. Kala itu, ia pun memandang sebelah mata pil yang diperjualbelikan seorang anak remaja. Akan tetapi, kini, di kala menyentuh dan mencermati dengan seksama, ia mendapati sesuatu yang tak mungkin terjadi.

“Izinkan hamba undur diri!” Ogan Rawas lalu bergegas pergi membawa bersamanya Pil Cakar Bima yang baru saja diramu. 

“Satu pedati Kembang Tujuh Rupa telah tersedia di depan. Silakan Adik Bintang memeriksa.” Setelah mengikat perjanjian dalam bentuk Segel Kesepakatan, Saudagar Senjata Malin Kumbang pun pergi dengan hati senang.


“Bintang, bukankah pil itu akan sangat menguntungkan? Hanya dalam tiga hari, sudah sedemikian banyak pelanggannya.” Wara terlihat penasaran.

Kedua remaja tersebut sedang membawa satu pedati Kembang Tujuh Rupa ke Balai Ramuan. 

“Dengan menjual hak cipta kepada saudagar itu, maka ia akan membuat pil dalam jumlah yang banyak dan murah. Dikau akan kalah bersaing…,” lanjut Wara mencoba memahami keputusan temannya itu.

“Wara, minta kepada para pelayan untuk segera memasang pagar kokoh di sekeliling lahan pertanian milik Kadatuan Kesembilan.”




Catatan:

Nilai tukar:

1 keping perunggu = Rp1.000

100 keping perunggu = 1 keping perak = Rp100.000

100 keping perak = 1 keping emas = Rp10.000.000