Episode 202 - Kadatuan Kesembilan


Matahari sebentar lagi tenggelam di ufuk barat. Bintang Tenggara mengekor remaja berwajah tirus, alias Wara. Keduanya menyusuri jalan-jalan besar nan tertata rapi. Gedung-gedung di kiri dan kanan berdiri megah-megah. Ahli yang berlalu-lalang menampilkan kewibawaan tiada tertandingi.

“Wara, diriku memiliki tugas yang perlu ditunaikan,” ujar Bintang Tenggara. 

“Singgahlah sejenak di Kadatuan kami. Setelah memberikan obat kepada Ibunda, diriku akan membantumu,” sahut Wara cepat.

“Hei! Bukankah itu Yang Dipertuan Muda dari Kadatuan Kesembilan…?” Tetiba terdengar suara menegur. Walau, dari nadanya lebih banyak mencibir. 

“Hahaha… mengapakah ia melangkah di jalanan nan kotor…?” 

“Mungkin karena darahnya memang kotor…” 

Gelak tawa pecah seketika. Bintang Tenggara menghentikan langkah. Ia menoleh dan mendapati sebuah kereta kuda nan mewah melintas dari arah belakang. Kereta kuda ini berbeda dengan kereta kuda yang dinaiki gadis berhidung mancung. Walau, kemewahan setara adanya.

Wara tak terlihat peduli. Ia terus memacu langkah. Bintang Tenggara kembali mengekor di belakang. 

“Selamat datang, wahai Yang Dipertuan Muda.” Beberapa pelayan menghentikan kegiatan mereka, lalu menundukkan kepala. 

Menurut penjelasan Wara. Terdapat sembilan Kadatuan atau istana kecil milik bangsawan yang dikenal sebagai Wangsa Syailendra. Mereka ini memiliki wilayah kekuasaan masing-masing, dan bertanggung jawab penuh atas wilayah kekuasaan tersebut. Demikian, mereka mengelola kegiatan ekonomi secara mandiri, mulai dari pertanian sampai perdagangan. 

Bintang Tenggara mengikuti langkah Wara memasuki gerbang dalam istana. Selintas pandang, Bintang Tenggara merasa bahwa kediaman Kadatuan Kesembilan ini tiada dikelola dengan baik. Wilayahnya sangatlah luas, namun jumlah pelayannya sangatlah terbatas. Oleh karena itu, rumput tumbuh di beberapa bagian, lumut menempel di dinding-dinding yang lembab, serta bagian-bagian bangunan yang rusak dibiarkan terbengkalai begitu saja. 

“Hei, Wara… darimana sajakah dikau…?” tetiba terdengar suara menegur malas. 

Bintang Tenggara menoleh, dan mendapati seorang lelaki setengah baya bertubuh tambun sedang berbaring di atas dipan. Sebuah kendi tuak berada di dalam genggamannya. 

“Ayahanda Sulung, diriku baru saja kembali,” sahut Wara cepat. 

Lelaki setengah baya itu bangkit dan duduk tegak. Ia lalu menenggak tuak di dalam kendi sampai tak bersisa setetes pun. 

“Pelayan! Ambilkan satu kendi tuak lagi untukku!” ujarnya garang. 

“Ayahanda Sulung, bagaimanakah keadaan ibunda…?”

“Aku tiada tahu… Pelayan! Mana kendi tuakku! Siapa itu yang bersamamu…?” Lelaki setengah baya ini sudah kelihatan setengah mabuk. 

“Oh… ini adalah seorang teman yang membantuku saat di perjalanan… Namanya Bintang.” 

“Membantumu…?”

“Bintang, perkenalkan ini adalah Ayahanda Sulung Rudra. Beliau adalah kakak dari ibuku…” 

Bintang Tenggara menundukkan kepala… “Salam hormat, Tuan Ahli,” sapanya ramah. 

“Bintang… Hm…? Dimanakah kiranya aku pernah mendengar nama ini….?” Sejenak ia terlihat berpikir. “Pelayan! Mana tuakku!?” 

Seorang pelayan tua melangkah tergopoh, kedua belah tangannya membawa satu kendi tuak. “Datu… Kendi tuak ini adalah yang terakhir…” 

Lelaki setengah baya itu menyambar kendi tuak, lalu segera menenggak isinya tanpa menghiraukan kata-kata si pelayan tua. 

“Wara, masihkah dikau dikerjai oleh anak-anak dari Kadatuan lain…? Mengapakah hatimu demikian lemah…?” 

“Ayahanda Sulung, izinkan diriku undur diri karena hendak menjenguk ibunda…” 

Si Ayahanda Sulung tiada menanggapi. Ia kembali menenggak tuak, lalu jatuh tersandar di atas dipan. 

Wara dan Bintang Tenggara tiba di sebuah bangunan nan tak terawat. Melangkah masuk, Bintang Tenggara menyadari bahwa setidaknya keadaan di dalam bersih adanya. Di balik sebuah meja, seorang perempuan dewasa sedang duduk merajut.

“Ibunda, diriku telah kembali.” Wara melangkah sambil mengangkat buntelan kain yang sempat diperebutkan. Seorang pelayan perempuan terlihat sigap menghampiri dan menerima buntelan tersebut. 

“Oh… Wara anakku. Dikau kembali dalam keadaan baik saja… Bunda sudah sangat bersyukur.” 

“Semoga ramuan obat-obatan kali ini dapat menyembuhkan penyakit Ibunda…” Raut wajah Wara terlihat penuh harap. Tak kuasa dirinya menyembunyikan kegundahan di hati.

Sang Ibunda tersenyum. “Sungguh jarang sekali dikau membawa seorang teman. Apakah dikau tak hendak memperkenalkan kepada Ibunda…?” 

“Oh… Ini adalah Bintang. Ia membantu diriku yang mengalami kesulitan saat perjalanan kembali…”

“Bintang…?” perempuan dewasa itu berhenti sejenak, seolah sedang berpikir. “Terima kasih atas bantuan yang dikau berikan kepada Wara.” Ia menebar senyum nan terasa demikian sejuk.

“Puan Ahli, adalah Wara yang lebih banyak membantu diri ini…,” sahut Bintang Tenggara cepat. 

Jawaban Bintang Tenggara kembali ditanggapi dengan senyuman nan begitu teduh. Sungguh perempuan dewasa itu terlihat demikian tabah. 

“Hari telah beranjak malam. Wara, mintalah pelayan menyiapkan kamar untuk tamu kita.”

Demikian, Wara dan Bintang Tenggara meninggalkan perempuan dewasa nan lumpuh itu. Tabir malam mulai menghiasi langit nan gelap. Meski, mengapa langit di wilayah kemaharajaan ini terlihat berbeda, batin Bintang Tenggara. 

“Perempuan itu diracun…,” tetiba Ginseng Perkasa berbisik menggunakan jalinan mata hati.  


Bintang Tenggara sudah terbangun sedari subuh. Meski dikatakan sebagai kamar, sesungguhnya ia menetap di dalam sebuah rumah dengan halaman tersendiri. Walau tiada sepenuhnya terawat, sungguh Kadatuan Kesembilan ini teramat sangat luas. Di dalam satu kompleks, terdapat kediaman-kediaman berbagai ukuran. Belum lagi balai-balai besar nan megah. 

Beberapa pelayan terlihat memulai aktifitas pagi. Memperoleh sedikit petunjuk dari Ginseng Perkasa, Bintang Tenggara tiada dapat menahan diri dari bertanya kepada seorang pelayan. Ia pun segera mengetahui bahwa Ibunda Wara, yang bernama Samara, menderita kelumpuhan sejak belasan tahun silam. Keadaan ini berlangsung tak lama setelah mendiang Ayahanda Wara meninggal dunia. Kala itu, Wara masih sangat kecil.

Bintang Tenggara juga memperoleh banyak informasi lain. Mendiang ayah Wara awalnya merupakan salah satu pelayan di Kadatuan Kesembilan. Beliau hanyalah rakyat jelata. Meski berdarah biru, Ibunda Wara tiada memandang derajat dan tetap menikah dengan lelaki tersebut. 

Kepala keluarga Kadatuan Kesembilan adalah sosok pemabuk yang oleh Wara dipanggil sebagai Ayahanda Sulung dan oleh pelayan disapa sebagai Datu. Ia bernama Rudra dan tiada menikah. Oleh sebab itu, meski berdarah campuran, Wara saat ini menjadi pewaris tunggal Kadatuan Kesembilan. Sesungguhnya Wara memiliki seorang kakak lelaki, namun telah lama meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Tak tahu kini dimana rimbanya.

Pagi itu, Wara datang membawa khabar tak sedap. “Bintang, menurut warta yang kuperoleh, Kepala Pengawal dari Kerajaan Parang Batu telah meninggalkan wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Sekira sepekan yang lalu…” 

Terlambat, pikir Bintang Tenggara. Dirinya sudah setengah menduga akan kemungkinan ini. Bagaimana tidak, ia menghabiskan waktu terlalu lama untuk tiba di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Perjalanan yang awalnya hanya memerlukan waktu tiga sampai empat hari, malah berlangsung hampir satu purnama. Apa mau dikata, dirinya terjebak dalam perlombaan di lereng Gunung Candrageni dan terluka akibat pertarungan menghadapi Laskar Segantang. 

“Wara, bersediakah bilamana diriku memeriksa keadaan ibundamu. Sedikit banyak, diriku memahami seluk-beluk penyembuhan dan ramuan.” 

Bintang Tenggara menawarkan diri untuk membantu sebisanya. Setidaknya ia hendak membayar keramah-tamahan tuan rumah sebelum meninggalkan Kemaharajaan Cahaya Gemilang. 

“Benarkah…? Sudah sekian banyak tabib dan peramu yang datang dan pergi, akan tetapi belum kunjung dapat menyembuhkan kelumpuhan Ibunda.”


“Nak Bintang,” sapasang Ibunda. “Diriku mengucapkan terima kasih atas bantuan yang hendak dikau berikan.” 

Perempuan dewasa itu terlihat ragu. Akan tetapi, bagaimana mungkin ia menolak uluran tangan dari teman anaknya? Wara tak memiliki banyak teman, sementara anak remaja bernama Bintang tersebut terlihat demikian tulus. Sekedar memeriksa, tentu tiada akan berdampak buruk. Walaupu nantinya tak menghasilkan apa-apa, tidaklah mengapa. Perempuan itu tak menaruh banyak harapan akan kesembuhan. 

“Yang Terhormat Puan Samara, apakah ada gejala-gejala khusus atas penyakit yang selama ini diderita…?” aju Bintang Tenggara. 

“Panggil saja diriku sebagai Ibunda Samara. Kau adalah teman Wara, bukan?” 

“Ibunda Samara, apakah keluhan yang dirasa…?”

“Kejadiannya berlangsung demikian cepat,” papar Ibunda Samara. “Awalnya diriku merasakan nyeri di ulu hati dan tulang belakang. Perlahan namun pasti, mustika tenaga dalam tiada bisa dimanfaatkan. Setelah itu, diriku tak lagi bisa melangkahkan kaki.” 

Simbol lesung batu yang dikelilingi ular berpendar ringan di punggung telapak tangan kanan Bintang Tenggara. Di saat yang sama, simbol tongkat dan ular, pastinya muncul di permukaan lidah anak remaja itu. Entah mengapa, Ginseng Perkasa bahkan sebelum diminta, telah meminjamkan kedua keterampilan khusus miliknya. 

“Nak Bintang, perempuan ini sungguh membutuhkan bantuan kita. Segerakanlah dikau menjilat ketiaknya!” 

“Hei!” Sergah Komodo Nagaradja. “Penyakit cabulmu kambuh!”

“Jilat! Pokoknya jilat!” 

“Keparat!”   

Bintang Tenggara tersenyum kecut, dan seperti biasa mengabaikan pergolakan antara kedua Jenderal Bhayangkara itu. Lagipula, bagaimanakah caranya meminta izin untuk menjilat ketiak seseorang…? Tidak! Bagaimana mungkin pemikiran tersebut bahkan melintas di dalam benak!?

Walhasil, Bintang Tenggara mengayunkan punggung telapak tangannya di sepanjang tulang punggung Ibunda Samara. Meski tiada menyentuh, di dalam benaknya melesat gambaran berbagai jenis bahan dasar pembuatan ramuan, serta teknik dalam meramu. Tentunya, ini adalah pengetahuan tak terbatas tentang ramuan milik si Maha Maha Tabib Surgawi. 

“Wara, dimanakah gerangan tempat untuk berbelanja bahan-bahan meramu…?” aju Bintang Tenggara. 

“Nak Bintang… diperlukan waktu yang lebih lama dan upaya yang lebih berat bilamana memanfaatkan ramuan. Kuyakinkan, dengan menjilat ketiaknya tiga kali sehari selama sepekan, maka kita akan dapat menyembuhkan racun yang mendera…”

“Sudahlah!” bentak Komodo Nagaradja. 

“Kadatuan kita memiliki tempat penyimpanan berbagai ramuan. Apakah yang gerangan dikau butuhkan…?” Meski terdengar ragu, Wara pun menghargai niat baik teman barunya itu. 

“Ibunda Samara, diriku memohon undur diri. Jika tiada halangan berarti, maka diriku akan menyiapkan ramuan untuk membantu penyembuhan.” 

Ibunda Samara tersenyum ramah. Ia menganggukkan kepala pelan. 


Wara mengantarkan Bintang Tenggara ke sebuah bangunan yang terlihat usang, namun kokoh berdiri. Ukurannya cukup besar, dimana aroma berbagai jenis tumbuhan siluman menyibak kental di udara. Seorang kakek berjaga sambil berbenah dan bersih-bersih di depan bangunan itu.   

“Ini adalah Balai Ramuan milik Kadatuan Kesembilan. Silakan masuk dan ambil bahan-bahan dasar apa saja yang dikau perlukan,” ujar Wara ringan. 

“Tiada perlu,” tanggap Bintang Tenggara. Karena keterampilan khusus milik Ginseng Perkasa sedang aktif, maka dirinya sudah dapat mencirikan apa-apa saja bahan dasar ramuan di dalam Balai Ramuan tersebut hanya dari aroma yang menyibak di udara. 

“Ada satu bahan yang kurang. Kita membutuhkan Kembang Tujuh Rupa.”

“Kembang Tujuh Rupa…? Wara menoleh ke arah si kakek penjaga. “Kakek, apakah kita memiliki tumbuhan siluman tersebut…?” 

“Tidak, Tuan Muda. Kita tiada memiliki Kembang Tujuh Rupa.” 

Sontak Wara menoleh ke arah Bintang Tenggara. Bagaimana mungkin anak remaja itu dapat mengetahui isi di dalam Balai Ramuan dimana ratusan bahan dasar ramuan tersimpan…? Dia bahkan belum melangkah ke dalam!

Walhasil, Wara memandu Bintang Tenggara ke salah satu wilayah pasar ramuan yang terletak di Ibukota Minangga Tamwan. Bintang Tenggara menyusuri jalanan yang penuh dengan hiruk-pikuk. Kegiatan perdagangan demikian hidup di siang hari itu. 

“Mohon maaf, kami tidak dapat menjual Kembang Tujuh Rupa ini….”

“Hm…? Mengapa…?” Bintang Tenggara terlihat kebingungan saat berada di dalam salah satu gerai nan besar. 

Si penjaga gerai terlihat salah tingkah. Intinya, ia tiada dapat menjual bahan ramuan dimaksud. Sejumlah pembeli menatap Bintang Tenggara. Sebagian hanya tersenyum ringan, sedangkan beberapa lagi terlihat tak acuh. 

“Ayo kita coba ke gerai lain…,” Wara meninggalkan gerai tersebut. 

Masih terlihat sedikit bingung, Bintang Tenggara mengikuti. 

“Apakah ia tiada menyadari bahwa gerai ini milik Kadatuan Kedua?”

“Mungkin ia tiada mengetahui bahwa hubungan Kadatuan Kedua dan Kadatuan Kesembilan tidaklah akur…?” 

“Apakah permusuhan kedua Kadatuan tersebut masih sedemikian dalam…?” 

“Permusuhan memuncak karena Kadatuan Kesembilan menolak pinangan Kadatuan Kedua puluhan tahun silam…” 

Bintang Tenggara mendengar sekilas bisik-bisik para pengunjung. Permusuhan…? Permusuhan seperti apa yang berlangsung di antara keluarga bangsawan ini?

“Wara, apakah gerangan yang terjadi…?” 

“Persaingan antara Kadatuan,” jawabnya singkat. 

Mendapati reaksi Wara yang dingin, Bintang Tenggara tiada hendak mempertanyakan lebih lanjut. Mereka segera beranjak ke gerai lain. 

“Kami tidak dapat menjual Kembang Tujuh Rupa ini kepada kalian. Silakan angkat kaki dari gerai ini!”

Lagi-lagi Bintang Tenggara memperoleh penolakan. Seberapa besarkah permusuhan di antara Kadatuan sampai mempengaruhi kegiatan jual beli?

“Kembang Tujuh Rupa ini berharga 50 keping perak,” jawab seorang penjaga gerai lain. 

“Mengapakah mahal sekali…?” Bintang Tenggara setengah tak percaya. 

“Memang sedemikianlah harga yang pantas…” Si penjaga gerai itu memperlihatkan deretan gigi petanda keserakahan. 

Tak sulit untuk menebak bahwa penjaga gerai ini telah mendengar kabar berita tentang dua anak remaja yang sudah beberapa kali ditolak oleh beberapa gerai sebelumnya. Bintang Tenggara pun segera memahami mengapa Wara tempo hari terpaksa pergi jauh keluar wilayah Kemaharajaan Cahaya Gemilang untuk membeli bahan ramuan bagi sang ibunda.

“Bintang, mohon maaf, akan tetapi diriku tiada memiliki kepingan perak sebanyak itu.” 

“Tiada mengapa,” sahut Bintang Tenggara cepat. 

Dengan tangan hampa, kedua anak remaja pun kembali menuju Kadatuan Kesembilan. 

“Wara, jikalau diriku boleh bertanya, mengapakah Kadatuan Kesembilan sepertinya terpuruk sekali?” 

“Setiap Kadatuan memiliki wilayah kekuasaan masing-masing dan banyak dimanfaatkan sebagai lahan bercocok tanam. Kemudian, Kadatuan juga memiliki gerai-gerai dagang untuk memperjualkan hasil bumi, bahan olahan dan kerajinan tangan. Kegiatan jual beli dapat berlangsung di dalam Kemaharajaan Cahaya Gemilang atau dengan pihak luar seperti kerajaan-kerajaan lain,” papar Wara. 

“Akan tetapi, sebagian besar lahan milik Kadatuan Kesembilan tiada dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam.”

“Mengapakah demikian?”

“Lahan pertanian Kadatuan Kesembilan banyak ditumbuhi gulma.”

“Gulma?”

“Ya. Sejenis tumbuhan yang kehadirannya tiada diinginkan pada lahan pertanian. Gulma menurunkan hasil bercocok tanam. Sudah sekian banyak upaya yang dilakukan untuk membuang gulma tersebut, akan tetapi selalu saja tumbuh kembali.”

“Gulma jenis apa?” Bintang Tenggara memahami bahwa terdapat banyak jenis gulma, mulai dari rumput, ilalang, sampai pakis. 

“Wara… dari mana sajakah dikau…?” Seorang lelaki setengah baya berjalan sempoyongan.

“Ayahanda Sulung…”

“Bagaimana dengan latihanmu…? Janganlah lalai…” Lelaki itu duduk di atas dipan. “Panggilkan pelayan. Mintakan tuak kepadanya.”

“Baik, Ayahanda Sulung…” 

Tak jelas Wara mengiyakan bagian mana… apakah berlatih atau memanggil pelayan untuk memberikan tuak?

Bintang Tenggara merasa jengah melihat gelagat tokoh yang suka mabuk-mabukan ini. Sebagai Datu atau kepala keluarga, bukankah sepantasnya ia bekerja keras untuk memperbaiki nasib Kadatuan Kesembilan? Beberapa hari ini ia hanya bermalas-malasan dan menghamburkan kepingan harta keluarga hanya untuk membeli tuak.


“Bintang, ini adalah lahan milik Kadatuan Kesembilan.”

Matahari baru terbit ketika Bintang Tenggara diajak Wara mengunjungi lahan bercocok tanam pada keesokan harinya. Demikian luas, namun lahan tersebut penuh ditumbuhi oleh tanaman berdaun panjang dan bergerigi. Tumbuh liar, mewabah serta jelas sangat mengganggu pertumbuhan tanaman lain, sehingga layak disebut sebagai gulma. 

“Tumbuhan siluman Pakis Kadal Hijau…,” gumam Ginseng Perkasa. “Kemanakah perginya pengetahuan tentang meramu?” 

Bintang Tenggara segera mengeluarkan kitab ramuan pemberian sang Maha-Maha Tabib Surgawi. Ia mengingat pernah membaca tentang tumbuhan siluman yang dimaksud. 

“Wara, sebagian besar penduduk Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan petani, bukankah demikian…?” Bintang Tenggara tetiba bersemangat. 

“Benar.”