Episode 39 - Will Never Win


"Alzen... Aku rasa kalau ini bukan pertarungan di turnamen, kau sudah menang melawanku." kata Leena dengan kepala tertunduk. "Aku dari kecil selalu dituntut untuk jadi yang terbaik. Dengan siapapun lawannya, aku selalu harus jadi yang nomor 1. Meski aku suka berada di puncak, tapi aku lelah melakukannya terus menerus."

Alzen kemudian melihat Leena meneteskan air mata dari kepalanya yang tertunduk. "L-Leena."

"Tapi aku selalu melakukannya dengan cara-cara yang jujur, aku belajar dengan rajin, berlatih dengan giat, bekerja dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar berbuat curang untuk menjadi yang nomor 1. Seperti yang Nicholas lakukan."

"Dasar Brengsek! Aku dengar loh..." kata Nicholas dalam hati, yang panas mendengarnya. “Lagian aku tidak curang, aku hanya terlalu kuat saja.” negitu pikirnya.

"Aku bisa langsung menendangmu jatuh, dan menang seketika," kata Leena. "Tapi nuraniku tak akan puas, meski menang, aku tak akan merasa menang. Aku tak mau melakukan hal itu."

"Sama sepertiku, Leena," jawab Alzen. "Aku juga tak mau menang, tapi berakhir membuatmu tersakiti. Ini bukan berarti bahwa aku meremehkanmu. Tapi karena aku... aku..." wajah Alzen memerah, dan kata-katanya seolah ditahan. Sambil perlahan-lahan bangkit, oleh tubuhnya yang sudah tak memberikan rasa sakit lagi. "Aku... aku..."

"A-Alzen..."

"A... ku... cin-... diripun ragu, apa ada kemungkinan menang melawanmu?"

"Haa? Tunggu-tunggu, kau mau bilang apa tadi?"

"Aku sendiripun ragu."

"Bukan-bukan, kalimat sebelum itu?"

"Yang mana?" wajah Alzen memerah. "Ohh tidak, dia dengar lagi!?' kata Alzen dalam hati.

"Lupakan saja, kau sudah tidak sakit lagi kan?" Leena memasang kuda-kuda pedangnya. "Ayo kita selesaikan ini."

"Sial! sekarang bukan tubuhku yang sakit, melainkan kepalaku." Pikir Alzen. “Aku ini bicara apa barusan sih.” 

"Ini sihir andalanku," kata Leena yang saat ini dikelilingi garis-garis spiral cahaya putih terang. "Kalau kau ingat, mungkin ini sihir yang pertama kali kau lihat, sewaktu bertemu denganku."

"Tentu saja, aku ingat!" jawab Alzen. "Serangan yang mampu mencincang habis, monster gas hitam itu kan?"

"Ohh... kupikir kamu ini pelupa." kata Leena sambil terus memperkuat arus cahaya spiralnya.

"Mana mungkin aku lupa, hal keren yang terjadi dua kali di depan mataku."

Lalu tanpa Leena sadari, kolam-kolam di belakang Alzen sudah bergejolak secara diam-diam. Yang bisa melihat ini, hanyalah penonton yang berada di belakang Alzen, tepatnya Penonton dari kelas Terra. Tapi tak satupun mengetahui tujuannya. Alzen pasti telah merencanakan sesuatu.

"Riak airnya berubah. Apa yang terjadi?" Gunin diam-diam menyadarinya, meski masih tidak tahu akan dibawa kemana. Tapi ia mengerti elemen air hingga ke detail-detail terkecil.

"Terima ini Alzen!" Leena melesat cepat setelah menyelesaikan Casting Time yang ia perlukan. 

"Dancing Blade Illumination !!"

Alzen hanya geleng-geleng kepala, melihat garis-garis cahaya, bergerak lurus ke sana kemari dengan begitu cepat. Tapi raut mukanya tetap tenang. "Tak mungkin yang seperti ini, aku prediksi dan tangkis. Jadinya..."

Tangan Alzen diangkat tinggi-tinggi.

DRUASSSHHH !!

Seluruh air di kolam, ia gerakkan ke atas. Membentuk seperti gelombang air laut yang tingginya mencapai ujung atas Barrier Arena. 

***

Penonton di belakang Alzen-pun, jadi ketutupan. Dan hanya bisa melihat dengan pandangan kabur, karena tertutupi air. Hanya yang berada di depan Alzen yang bisa menyaksikannya dengan jelas.

"Hei apa-apaan nih? Masa Arenanya ditutupin?" protes Bartell.

"Anak tingkat 1? Bisa melakukan sihir sebesar ini?" Lunea ternganga tak percaya.

"Hei Gunin? Kau mau kemana?" tanya seorang anak Liquidum padanya.

"Aku mau pergi,” kata Gunin yang beranjak pergi.

"Hee? Kenapa? Dia hebat kan?"

“Kesal aku menonton anak itu."

“Kesal kenapa?”

"Aku kesal, melihat anak Ignis. Bisa menggunakan sihir air, jauh lebih baik dari seluruh anak Liquidum di angkatan ini."

***

Alzen menurunkan tangannya yang berat, sedikit demi sedikit. Hingga lurus ke depan dan berbarengan dengan jatuhnya gelombang air raksasa itu. "Aku harap setelah ini..."

"TSUNAMI !!"

Gelombang air raksasa itu turun dan menghantam apapun yang ada di depannya. Gerakkan acak dari tebasan Leena, kalah kuat dengan arus tekanan air dalam jumlah besar itu. Leena terdorong hingga ke ujung belakang Arena dan tenggelam, bersamaan dengan kembalinya air itu ke kolam. Seluruh arena menjadi basah dan mengkilap disinari matahari. Air yang hampir mengenai penonton tertahan oleh Barrier tak terlihat, sekalipun masih membuat penonton berlarian panik.

Alzen tak terkena serangan air miliknya sendiri. Karena ia telah mengatur sedemikian rupa, ketika ada air mendekati dirinya, ia akan langsung berubah arah layaknya ada payung sihir yang tak terlihat di atas dirinya.

Sedang Leena, ia terhanyut di kolam, dan...

"Benar-benar sihir yang maha dashyat!” kata komentator sambil geleng-geleng kepala. “Seseorang telah diceburkan ke kolam!" sahut komentator. "SUDAH DIPUTUSKAN !! ALZEN !! PEMENANGNYA !!"

“Tidak mungkin!!?” Nicholas betul-betul kaget dengan hasilnya.

"WOO !! ALZEN! ALZEN! ALZEN!"

Alzen terus berkata-kata dalam hatinya, menyambung kalimat sebelumnya,

"...Kamu mau jadi pacarku."

Lalu tubuh Alzen goyah, perlahan ia jatuh ke lantai dan kembali tak sadarkan diri. Tapi dalam kondisi pingsannya itu, Alzen tersenyum. Senyumnya puas sekali.

"Benar-benar deh anak itu, ternyata dia bisa juga, melakukan sihir air yang kusarankan padanya." Lasius tersenyum lebar, seperti menahan tawa, tangannya dilipat di dada dan berkata. "Dia punya bakat 3 elemen, dan ketiga-tiganya punya tingkat kemahiran yang sama. Pastinya bukan hanya aku yang berpikir begitu. Pak Vlau-pun berkata hal yang sama. Dan kami yakin, di masa depan. Ia bisa jadi penyihir yang mengerikan. Aku harap, aku bisa terus hidup untuk melihat dirinya, kelak ketika ia dewasa nanti.”

***

Seusai pertandingan, Leena kembali duduk di kursinya yang ada di samping kanan Vlaudenxius, sedang Alzen kembali di rawat lagi.

"Wuoaaa!!? Alzen... kau benar-benar menang melawan Leena!?" sapa Chandra dengan bangga yang berlebih-lebihan pada Alzen.

Sementara Alzen yang berbaring kembali di ruang rawatnya, dengan tubuh letih dan semakin memberikan rasa sakit yang berlebih. "Ahh... kebetulan saja kok. Ini semua karena guru membantuku menyusun strategi." katanya dengan wajah yang lemas dan pucat.

"Ahh aku tidak peduli, kau sudah menang! Kau hebat!" pukul Chandra ke pundak Alzen dengan tersenyum senang.

"Adududuh... sakit Chan!?"

"E-Ehh!? Maaf..." ucapnya sambil mengusap-usap pundak Alzen dan menyembuhkannya.

"Selanjutnya giliran Lio ya?" tanya Alzen.

"I-iya..." jawab Chandra ragu-ragu. "Tapi jujur saja, aku tak yakin Lio bisa menang."

"Lohh kenapa?" tanya Alzen dengan polos.

"Kau masih gak ngerti juga apa?" balas Chandra dengan nada tinggi. "Dari kalian berempat, Cuma Lio yang bukan siapa-siapa, sedang kalian bertiga adalah pelajar terbaik angkatan kita. Diatas kertas saja, Lio sudah tak mungkin menang."

"Kuncinya ada di strategi." jawab Alzen dengan tatapan serius.

"Haa? Tetap saja aku tidak yakin" balas Chandra yang masih ragu.

Alzen beranjak naik dari ranjangnya. “Aku harus kembali.”

“Loh Alzen? Kenapa? Kamu sedang kesakitan kan?”

“Aku harus melihat pertandingannya aku ingin lihat Lio dan lawannya itu. Karena jika Lio tidak bisa menang. Aku yang harus melawan dia.”

BRUGGH!!

Alzen menutup pintu dengan kasar dan kembali ke bangkunya, bersamaan dengan 4 orang di sampingnya.

“A-Alzen...” 

***

Gulp!

Lio menelan ludah dan mengeluarkan keringat dingin, saking gugupnya ia berdiri diatas arena.

"Baik! Kedua peserta babak ini sudah memasuki Arena. Kita langsung mulai saja!" sahut komentator.

"Nico! Nico! Nico!"

"Nico! Nico! Nico!"

"Nico! Nico! Nico!"

Seluruh sorak sorai penonton, dominan mendukung Nicholas, bukan hanya dari kelas Umbra saja. Melainkan Terra dan beberapa kelas lain, secara terang-terangan buka mulut untuk memberi dukungan. Sementara orang yang mendukung Alzen, tak serta merta ikut mendukung Lio.

"Ya ampun... belum apa-apa saja sudah tekanan mental." kata Lio dengan kepala tertunduk, merasa minder karena ketidak-populerannya begitu drastis. Sesaat ia merasa dijepit oleh ketiga pelajar terbaik di angkatannya, sedang ia merasa. Dirinya bukan siapa-siapa. Dan kegelisahan itu terus terulang-ulang. "Pertandingan belum dimulai saja, aku sudah ragu. Adakah kesempatan menang buatku?"

"L-Lio!” Fia memberanikan diri untuk menyemangati. “Kamu pasti bisa! Jangan takut!"

"Fia!?" Lio terkejut, Fia yang dikenalnya begitu pemalu, berani mengeluarkan suara sampai terdengar olehnya, padahal. Fia duduk di bangku paling belakang saat ini. "Kau sampai..."

"Baik, pertandingan kedua hari ini! Yang sekaligus menjadi akhir dari babak Semi-Final. Akan segera dimulai!" sahut Komentator. "Lio dari Ignis Vs Nicholas dari Umbra !!"

"Nico! Nico! Nico!" sahut penonton dengan tempo yang makin lama makin cepat.

"Lio ya? Kau tahu? Aku tak pernah meremehkan lawan." tatap mata Nicholas di balik kacamatanya yang mengkilap.

"Berisik! Meremehkan atau tidak? Aku tak yakin, punya kesempatan menang sedikitpun. Lagipula raut wajahmu itu betul-betul menyebalkan. Senyum-senyum sendiri seperti kau merencanakan sesuatu yang mengerikan untukku."

"Hahaha! Baguslah kalau kau sadar." sindir Nicholas sambil mengibas rambut hitamnya. "Pecundang tetaplah pecundang, tak perlu susah-susah mencoba menjadi orang hebat. Mundur saja ke belakang dan biarkan aku yang menang. Karena toh aku juga pasti menang."

"Apa katamu?!" Lio langsung dibuat panas. “Tadi katanya tidak pernah meremehkan.” pikir Lio.

"Iya... maksudku, kau sudah sadar. Sadar akan perbedaan kekuatan kita yang begitu terpaut jauh. Baik dari jumlah Aura, tingkat kemahiran menggunakan sihir, dan juga... status sosial." ucap Nicholas dengan penekanan di kata-kata terakhirnya. "Kau sudah tahu itu semua kan?"

"Apa urusannya, status sosial kau bawa-bawa kesini! Hah!"

Nicholas tersenyum puas, seolah umpan-nya berhasil dimakan. "Hoo... Anak Ignis yang satu ini, ternyata mudah terpancing ya?" begitu pikirnya.

“Flame Cloak !!”

BUZZZZSSTT !!

Chandra menyelimuti dirinya dengan kobaran api yang berputar mengelilingnya. Kemudia ia melesat cepat, melancarkan serangan pertamanya.

"Flame Side Kick !!"

DRZZZINGGG !!

Tendangan Lio, tertahan oleh sebuah dinding hitam transparan. Di balik dinding itu, Nicholas menatap Lio dengan senyum seperti menahan tawa, memandang rendah Lio lebih-lebih lagi.

"Cih! Barrier hitam ini lagi?!" kesal Lio yang harus menghadapi sihir itu lagi. "Apa kalian harus selalu berlindung di balik perisai itu? Hah!"

"Huh! Kau tak punya otak ya? Barrier ini kan sihir dasar. Semua penyihir manapun bisa melakukan-nya."

"Maksudku..." Lio mengkobarkan api besar di kedua tangannya untuk dikepal. 

"Fire Burst..."

 lalu dihantam keras-keras dengan api yang menyala-nyala. 

"...IMPACT !!"

DUAARRR !!

"Re-retak!? Barrier-ku?" Nicholas tak percaya, untuk lawan yang sebaya dengannya, baru Lio-lah yang bisa menghancurkan Barriernya. Tak siap dengan kemungkinan itu, keseimbangan Nicholas dibuat goyah. "M-mustahil!?"

"Aku sudah muak, melawan penyihir darkness yang selalu berlindung di dalam dinding ini!" sahut Lio dengan tatapan murka, kobaran api di kedua tangannya, membara begitu tinggi hingga melewati ujung rambutnya.

Nicholas yang tersungkur jatuh, hingga duduk di lantai Arena. Dihampiri Lio yang murka, yang dari wajahnya saja sudah menyatakan untuk tidak kenal ampun. "Hei! Tunggu dulu... aku sama sekali..."

"Diam kau!" Lio meninju Nicholas keras-keras dengan kepalan tangan kanan yang berkobar api. Menargetkan tepat di pipi kiri-nya.

DUAZZZSSSTT !!

"UAGGHHHHH !!" Nicholas terlempar jauh hingga mencapai ujung tembok Arena. Namun sebelum mencapai dinding arena, Nicholas langsung membuka Buku Grimoirenya dan meng-cast suatu sihir.

"Shadow Tail !!"

Dari buku sihir, keluar sembilan tentakel berwarna hitam pekat. Sembilan Tentacle itu melebar ke segala arah dan menancap di dasar kolam. Menahan penggunanya agar tidak terjatuh, sambil perlahan-perlahan kembali memasuki arena. Nicholas kini dalam posisi tidur menatap langit, ditopang 9 tentakel hitam itu sebagai pijakan punggungnya.

"Jangan pikir aku akan diam saja!" sahut Lio yang segera melompat tinggi, untuk turun dan melancarkan tinju apinya yang sangat kuat itu. 

"Flame..."

"Tunggu dulu... DASAR SIALAN !!" hati Nicholas dibuat panas, merasa Lio yang dianggapnya bukan apa-apa, bisa melakukan banyak hal padanya. Nicholas mengarahkan tangan kanannya ke atas, ke arah Lio yang tak lama lagi mendarat untuk menyerang dirinya.

"Dark Force !!"

Sesaat terlihat gerakkan turun Lio ditekan oleh sihir Nicholas. Tapi dorongan gravitasi dari jatuhnya Lio, membuat Dark Force itu tak mampu menahan pendaratan Lio yang begitu meresahkan bagi Nicholas.

"Apa!? Tidak mempan!?" Nicholas yang selalu berlagak cool, tak bisa lagi menutupi keresahannya. Dirinya kini dibuat sangat terdesak pada detik-detik pertama pertandingan.

"Mungkin, ini satu-satunya kesempatanku. Untuk bisa menang melawannya." pikir Lio, dalam kemarahannya. "HYAAA !!"

"Black Barrier !!" 

Nicholas meng-cast sihirnya dengan panik dan tergesa-gesa.

DUAZZZSSSTT !!

"Barrier lagi?!" Lio seolah dibuat jengkel, apapun serangannya, selalu tertahan oleh dinding hitam keunguan di depannya ini. "Sial! Memangnya kau tak ada sihir lain apa?! Terpaksa harus kuhancurkan lagi,”

“Fire Burst... IMPACT !!"

DUAARRR !!

Sekali lagi, Barrier Nicholas dihancurkannya.

"Berhasil! Dengan begini... jatuhlah!" Lio langsung melancarkan serangan terkuatnya untuk menjatuhkan Nicholas yang sedikit lagi bisa ditenggelamkan di kolam. "Haa!? Tidak mungkin!? Barriernya, masih ada?!"

***