Episode 38 - Alzen Vs Leena


"Lambat!" sahut Leena yang sekejap ada di depan Alzen.

Alzen menyilangkan tangannya ke arah depan.

"Aqua Chain !!"

"Apa?" Leena terhimpit sejumlah tentakel air dan tertahan gerakkannya. "Bagaimana bisa!?”

"Hosh... hosh... hampir saja, untung kena..." Alzen sudah berkeringat was-was, kalau-kalau timingnya tidak tepat.

"Gerakkan secepatku tadi? Bisa ditangkapnya?" Leena masih tak percaya, karena untuk pertama kalinya, untuk lawan seumurannya, ada yang bisa lolos dari kecepatan Leena.

***

"Fireball !!" 

Lasius menembakkan sihir pada Alzen.

Alzen reflek menangkis serangannya itu dengan sihir air yang ia gunakan ke Leena tadi. "Seperti ini?"

"Ya... seperti itu. Tapi timingnya harus lebih tepat lagi, tak boleh terlalu lama atau terlalu cepat. Harus cepat! Karena api ini hanya simulasi kecepatan yang dimiliki Leena. Tapi dalam pertarungan sesungguhnya nanti, yang kau tangkap bukan api, tapi manusia yang secepat tembakan api ini."

"Aku mengerti," angguk Alzen. "Ayo kita coba lagi pak!"

***

Di bangku penonton Liquidum.

“Alzen sudah siap dengan gerakan lawannya.” kata Gunin. “Karena sebelum bertanding, tentakel airnya sudah aktif dan disembunyikan di sisi samping bawah kolam yang tak terlihat Leena. Dan tak kusangka, ia gunakan untuk hal ini. Sebagai orang yang punya tiga elemen, tingkat pengusaannya bisa sama dengan orang yang hanya fokus pada satu elemen saja. Alzen, kau betul-betul luar biasa.”

***

"Kau benar-benar luar biasa, Pak Lasius." Dari atas arena, Alzen menatap gurunya yang duduk di bangku penonton dengan tersenyum. Seolah berkata, terima kasih pak, ajaranmu benar-benar bekerja.

Leena menarik pedangnya kembali dan menebas tentakel air ini dengan pedangnya, untuk segera lepas.

"Alzen, kau boleh juga." Puji Leena dengan tersenyum. "Dari semua strategiku, tak terpikir sama sekali kau bisa menahan seranganku."

"Aku sendiripun begitu."

"Ohh jadi yang tadi hanya kebetulan?" Leena mundur beberapa langkah ke belakang, ia memutar tubuhnya. Lalu meng-cast sihir selagi bergerak dengan lincah. 

"Crescent Moon Slash !!"

Tebas Leena secara horizontal, untuk memberikan serangan jarak jauh.

"Water Gate !!"

Alzen langsung melindungi dirinya dengan dinding air yang tebal untuk segera memblokir sisi depannya.

CBLAARRRR !!

“Te-tembus!?”

Sekalipun tebal, dinding air itu tak cukup kuat menahan serangan Leena. Alhasil... gumpalan air yang menyerupai pintu gerbang tebal itu, terbelah dua dan cipratannya menyebar kemana-mana. Yang membuat sekitar Alzen menjadi becek. Untuk menghindar, Alzen reflek menunduk dan menghindari tebasan bulan sabit putih itu.

Ketika serangan Leena melewati Alzen, serangan itu membentur tembok, dan setelahnya,tembok Arena jadi lecet dan retak membentuk garis horizontal, bekasnya seperti disayat pedang raksasa yang bisa menggores batu dengan mudahnya.

“Me-mengerikan,” Alzen melihat bekas serangan itu dengan wajah ungu, ketakutan. “Kalau kena, badanku sudah terbelah dua dong.”

"HYAAA !!" tanpa menunggu lama, Leena langsung berlari cepat, untuk menyerang Alzen yang masih tertunduk takut, seketika menghindari serangannya barusan. Ia menembus Water Gate yang masih aktif begitu saja dan cipratan airnya menyebar kemana-mana sekali lagi. Karena bolume yang harusnya diisi Air, dilintasi Leena dengan seketika.

"Ohh tidak!!? Dia sudah di depanku!?" Alzen tak punya waktu untuk pikir panjang, matanya berputar mencari apa saja untuk dimanfaatkan.

"Kena kau, Alzen!" Leena sudah mengayunkan pedangnya di depan Alzen.

Semua terjadi begitu cepat, Alzen dituntut untuk segera mengambil keputusan. Ia mendapati Water Gate masih menyisa di lantai, meski bentuknya sudah dihancurkan Leena sebelumnya. Tapi sifat air yang selalu berubah bentuk, dimanfaatkan Alzen untuk dibuat dalam wujud lain, secepat yang ia bisa.

"Water Prison !!"

Leena kini terkurung dalam balok air yang besar, melayang-layang di depan Alzen tanpa wadah. "Apa!?" gerakkan Leena tertahan, atau setidaknya melambat. Karena setiap gerakkannya di tahan oleh air yang menenggelamkan dirinya. Leena dan Alzen terkurung bersama-sama dalam balok air.

"Gawat!? Karena tak bisa konsentrasi lebih dulu, aku juga ikut terkurung." pikir Alzen. 

Namun sebagai pengguna sihirnya, Alzen mampu lepas sedikit demi sedikit dan keluar dari balok air itu. 

"Puahhh! Hosh... hosh... Cough! Cough!" Alzen berhasil keluar. “Sesak, capek, takut, aku butuh jeda sebentar. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat.” pikir Alzen.

Sedang Leena, yang masih terkurung dalam balok air itu. Bersikeras bergerak cepat untuk segera lolos dari kurungan itu. Meski dalam kondisi melambat dan nafas yang harus ditahan selama mungkin. Pikiran Leena masih berjalan utuh. 

Leena memandang Alzen dari dalam air itu secara kabur dan berkata dalam hatinya. "Ini juga diluar prediksi-ku. 40% asumsiku, kau akan menggunakan Api atau Petir, Hanya 20% asumsiku, kau menggunakan elemen air. Tapi ternyata itu elemen yang kau gunakan, dan tak satupun yang kau lakukan barusan, masuk dalam perkiraanku. Aku kira kau akan fokus pada menenggelamkanku ke kolam. Tapi kamu malah membuatku tidak bisa bergerak terus menerus. Alzen harus kuakui, kau benar-benar mengagumkan."

"Hosh... hosh..." Alzen masih kesulitan bernafas, setelah tadi terpaksa menghirup air secara tidak sengaja, karena dirinya tak siap untuk ikut terkurung juga. "Jadi inikah yang disebut Power of Kepepet? Semuanya terjadi begitu cepat, sampai-sampai aku tak tahu, aku tadi melakukan apa?"

15 detik sudah, Leena menahan nafas, kini wajahnya mulai pucat dan tubuhnya terasa lemas. Tapi tubuhnya masih terus menerus bergerak, menusuk-nusuk ke atas untuk segera lepas dengan pedangnya yang bercahaya putih. Tanpa penglihatan yang jelas, situasi Leena sungguh dalam keadaan terjepit.

Sementara itu, komentar para penonton.

"KYAA !! ALZEN !!"

"Alzen! Kalahkan dia! Kalahkan dia!"

"Ish... penonton alay ini berisik banget." Chandra terus menutup telinga. "Mereka cuma teriak-teriak, Alzen, Alzen. tanpa tahu apa yang terjadi."

“Dia bahkan bisa menggunakan spell sulit seperti Water Prison dengan tepat.” komentar Gunin.

"Superstar melawan Superstar! Hebat!" komentar Fhonia sambil lompat-lompat kegirangan.

"Aku mau segera turun dan menyetrum wanita jalang itu!" Luiz yang matanya selalu tertutup, tersenyum. Dan senyumnya itu jahat sekali. “Dia sudah basah kan? Hehehe...”

"Tak mungkin," komentar Sintra kesal. "Tak mungkin Leena kalah dengan sihir semacam itu."

"Setelah Joran, sekarang Leena." Bartell geram. "Anak itu selalu ingin jadi pusat perhatian. Dia selalu senang melukai lawannya sampai tak sadarkan diri lalu jadi semakin terkenal karenanya. Dasar manusia busuk! Hei Leena! Cepat keluar dan kalahkan Alzen!"

"Ck, ck, ck... Leena... Leena. kau menyedihkan." komentar Nicholas. "Dipojokkan hingga begitu dalam, oleh orang yang kesehatannya tidak dalam kondisi prima sepertinya. Dan lagi, bocah kampung itu, kalau mau melanggar aturan sedikit saja, ia bisa menyetrum Leena seperti yang ia lakukan pada si wanita kekar itu. Dan BOOM! Leena berakhir jadi bangkai hitam. Hahaha!"

"Kalau lawannya saja sudah sekuat ini, Lio nanti gimana ya?" komentar Fia yang terus menerus ketakutan, ia menutup mulutnya untuk segera menutup mata kalau terjadi apa-apa. Meski begitu, matanya tak fokus melihat arena. Melainkan berbelok ke kanan, memandang Lio yang duduk tak tenang di kursi finalis.

***

30 detik sudah, Leena menahan nafasnya, efek pada tubuhnya menjadi semakin membuatnya lemas. Tapi...

CRASSHHTT !!

Pedangnya sudah menembus sisi balok bagian atas, dan sedikit lagi, ia bisa keluar.

"AGGHHH !!" konsentrasi Alzen buyar, mendapati tubuhnya yang belum pulih benar, memberikan rasa sakit pada urat-urat sarafnya. Efeknya, kadar volume Water Prison itu, berkurang hingga separuhnya. Dan kembali menjadi air, tanpa wadah. "Ayo, tahan Alzen. tahan... karena sedikit lagi, kamu bisa menang tanpa harus melukai Leena lebih dari ini." pikir Alzen.

Water Prison yang melemah, hingga kadar volume airnya hilang hampir separuh, membuat Leena tinggal memutar badannya dan seketika lepas dari penjara air berbentuk balok barusan.

"Hosh... hosh... ada apa ini?" Leena terlepas dengan seluruh tubuh dan baju yang basah. "Kau sengaja melemahkan Water Prison-mu karena kau pikir, aku sudah tak sanggup, Haa?!"

"AGGHH !! AGHHH !! Sakit! ... Sakit!!" Alzen berteriak, menerima reaksi tubuhnya yang tak tahan melakukan gerak dan aliran aura yang terus menerus Alzen kerahkan.

"A-Alzen!?" hati Leena merasa iba pada Alzen, yang tertunduk kesakitan, terus memegangi tangannya. Ia seperti melihat Alzen bertarung dengan tubuhnya sendiri. Yang tak mau menuruti perintahnya, melainkan malah memberi rasa sakit yang lebih lagi. "Aku sesaat lupa, kondisi kesehatanmu belum sepenuhnya pulih. Kau tidak sedang meremehkanku."

"Sial! Sial! Sial!" Alzen seolah bergumul dengan dirinya sendiri. "Kalau saja aku bisa tahan sedikit lagi saja. Water Prison akan kugerakkan jatuh ke kolam, lalu pertandingan ini selesai. Tapi kenapa jadi begini?" pikir Alzen.

***

Kembali ke saat pertandingan belum dimulai.

"AGHHH !! Sakit! Sakit!" teriak Alzen.

"Sudah kubilang kan? Kalau kau pakai Aura dalam jumlah besar terlalu lama, tubuhmu tak mampu menahannya dan malah memberikan rasa sakit pada dirimu sendiri."

"Tapi, aku bisa menanganinya. AGHH !!"

"Haduh, kau ini," Lasius menghela nafas. "Bagaimana kalau ini terjadi padamu, dan pada saat itu, Leena memanfaatkan keadaanmu ini dan langsung menceburkanmu ke kolam. Kau kalah dalam sekejap."

"Meski begitu, aku tak menyesal," jawab Alzen yang tersungkur di tanah. "Karena aku telah mencoba. Meski pada akhirnya tak berhasil. Yang penting, aku sudah mencobanya. Mencoba sebaik-baiknya."

"Haa? Kau bisa terima kekalahan seperti itu?"

"Ya, aku lebih bisa menerima aku kalah pada saat itu juga, daripada kalah sebelum bertanding."

"Kau tak terpikir solusinya kah?"

"Tidak satupun."

"Aku punya jawabannya, terserah kau mau pakai atau tidak. Atau lebih tepatnya, apa kau bisa memakainya atau tidak?"

"Apa itu? Beritahu aku, guru." tatap Alzen ke Lasius, menantikan sebuah jawaban.

"Begini..."

***