Episode 11 - Sebelas


Batang tombak yang pendek Ubandhana tak mampu menembus pertahanan Bondan. Dengan menggunakan pangkal lengan, Bondan mementahkan hantaman tombak Ubandhana. Seketika itu Bondan melakukan serangkaian serangan dengan hantaman siku kiri saling bergantian dengan keris di tangan kanan. 

Pada saat itu Ubandhana terkejut dengan perubahan yang dilakukan Bondan. Dan ia harus menerima akibat yang sama sekali tidak diharapkan. Rahang kirinya terhantam siku kiri Bondan yang kemudian menyusulkan satu tamparan keras melalui ikat kepala yang tergenggam tangan kirinya.

Cairan berwarna merah yang kental mengalir tipis dari sela-sela bibir Ubandhana.

Ken Banawa yang masih terlibat pertarungan sengit dengan Ki Cendhala Geni seperti berada di atas angin. Ki Cendhala Geni alias Ki Cendhala Geni mulai menjadi keteteran dan pertarungan jarak pendek ini menjadi tekanan baginya. Ken Banawa yang memegang pedang sejajar dengan satu bagian menempel erat pada lengannya kian hebat melancarkan serangan. Sabetan dan tusukan pedangnya menjadi susah ditebak. Ken Banawa tidak lagi banyak melakukan tusukan-tusukan secara gencar. Serangan demi serangan disusun bergantian dengan pukulan tangan kiri dan tendangan yang seolah hujan dari berbagai arah. 

Perubahan ini mau tidak mau telah Ki Cendhala Geni segera merubah taktik untuk mengimbangi serangan gencar dan bergelombang Ken Banawa. Dengan memanfaatkan panjang kapaknya, Ki Cendhala Geni mundur beberapa langkah sambil mencoba berusaha melakukan serangan balasan. Mendapatkan kedudukan yang sesuai dengan jangkauan kapaknya, Ki Cendhala Geni melompat agak tinggi dan menerjang Ken Banawa dengan hantaman kapaknya. Tubuh Ki Cendhala Geni melayang lalu menukik deras kemudian melenting ibarat burung camar yang mematuk ikan di tengah samudera. Perubahan jurus ini memberi tekanan pada Ken Banawa. Harapannya untuk dapat memukul mundur Ki Cendhala Geni melalui pertarungan jarak dekat harus menemui jalan buntu. Bagaimanapun juga Ki Cendhala Geni adalah seseorang yang berilmu tinggi dan mempunyai pengalaman sangat luas. Kekuatan dan kecepatannya telah mendapat pengakuan dari orang-orang di dunia olah kanuragan. 

Mentari memantulkan cahayanya di permukaan air laut yang letaknya tak jauh dari rawa-rawa. Cahaya merah keemasan tampak bagaikan bermain diatas gelombang kecil, berkilauan seolah kerlip bintang di malam hari. Begitu indah dan penuh pesona. Perlahan dan penuh kepastian sinarnya merambat halus menyentuh permukaan tanah.

Kedua orang yang sama-sama memiliki ilmu tingkat tinggi sudah tidak berada dalam posisi yang sama secara terus menerus. Ken Banawa membentuk selubung pertahanan yang segera berubah menjadi serangan balik yang mematikan. Ki Cendhala Geni juga menempuh cara yang sama dengan Ken Banawa. Hingga tak lama kemudian kedua tokoh digdaya ini segera terlibat dalam adu serang, saling membeturkan senjata dan terkadang berloncatan menjauhi satu sama lain. 

Kapak Ki Cendhala Geni yang mempunyai sisi tajam pada kedua ujungnya membabat lambung kiri Ken Banawa. Ken Banawa yang mengira arah serangan adalah ke bawah ketiaknya, oleh karena itu dia melakukan tusukan ke pangkal lengan Ki Cendhala Geni. Namun perubahan arah kapak memaksa Ken Banawa mundur setapak sambil memutar tubuhnya lantas dalam keadaan membelakangi Ki Cendhala Geni, Ken Banawa tiba-tiba mematukkan ujung pedangnya ke ulu hati Ki Cendhala Geni.

Ki Cendhala Geni dengan cepat membenturkan senjatanya untuk mengubah arah pedang Ken Banawa. Pedang Ken Banawa tergetar hebat dan dia merasakan sedikit rasa sakit pada sikunya. Di pihak lain, Ki Cendhala Geni pun kagum pada kekuatan lawannya dan dia sendiri merasakan kejutan pada pangkal lengannya akibat benturan itu. Pertarungan seimbang dengan penuh kejutan yang mengiris hati betapa beberapa gebrakan yang berujung maut itu hanya dilakukan tak kurang dari sekejap mata. Berlumur debu serta peluh bercampur lumpur kering, tubuh Ki Cendhala Geni yang besar dan penuh otot itu kini berdiri berhadapan dengan Ken Banawa, seorang senopati tangguh Majapahit.

“Ki Cendhala Geni, menyerahlah. Tanganmu sudah banyak berlumur dengan dosa dan darah pembunuhan. Majapahit akan memberimu ampunan bila engkau menyerahkan dirimu sekarang!” seru Ken Banawa lantang.

“Omong kosong! Aku tidak pernah membunuh siapapun dalam hidupku tetapi merekalah yang menyerahkan dirinya untuk mati di tanganku,” sahut Ki Cendhala Geni dengan datar. Tidak dalam nafas tersengal-sengal sebagaimana orang yang telah melakukan pekerjaan berat.

“Mereka semua bukan termasuk orang yang bodoh, Ki Cendhala Geni! Ranggawesi dan Ki Lurah Guritno telah menjadi tumbal keganasan dan keserakahanmu. Engkau berpikir bahwa engkau tidak terkalahkan. Bahkan aku mendengar engkau menyatakan diri sebagai penguasa lereng Merapi,” suara Ken Banawa tergetar hebat. Dia mengenang kematian Ranggawesi, seorang prajurit muda penuh bakat yang bertugas di Sumur Welut. Dia juga membayangkan betapa keluarga Ki Demang kini mengalami penderitaan karena diculiknya Arum Sari oleh Ubandhana yang ternyata merupakan pengikut Ki Cendhala Geni.

Ken Banawa bersiap dengan gerak landasan yang merupakan ciri khasnya untuk bertahan. Tubuh yang direndahkan dengan sedikit menghadap serong ke kanan, posisi siku yang sejajar dan menutup dagunya, pedang Ken Banawa terjulur berada di bagian belakang tangannya dan seolah disembunyikan di belakang punggungnya.

“Boleh jadi aku akan menyerah dan berhenti membunuh orang yang rela untuk mati, namun itu akan kulakukan bila telah selesai menguliti kulit kepalamu dan menempatkan belulangmu di atas daun pintu. Bukankah engkau harus berterima kasih kepadaku, Ken Banawa? Bahwa engkau akan menjadi ungkapan rasa terima kasih dariku. Sampai jumpa di neraka, setan tua!” Satu bentakan Ki Cendhala Geni sangat menusuk jantung mengiringi terkaman maut yang berada di ujung kapaknya. Kapak yang terseret itu memercikkan kilatan api ketika bersentuhan dengan tanah.

“Sampai jumpa di neraka, Ki Cendhala Geni! Akulah yang membakarmu!” Ken Banawa yang tak kalah garangnya.

Keduanya saling melompat dan menerjang, satu dentang keras benturan senjata dari keduanya beberapa kali menimbulkan percikan api. Kapak Ki Cendhala Geni tiba-tiba berpindah dari kanan ke tangan kiri dan secepat itu pula menebas menyilang dari kanan bawah ke kiri atas sisi pertahanan Ken Banawa. Pengalaman Ken Banawa mampu menutup celah lemah itu, tubuhnya bergeser mengikuti pergerakan kapak. Satu langkah bergerak ke kiri lalu berputar cepat dan ayunan pedangnya kini mengancam bagian tengkuk Ki Cendhala Geni. Ki Cendhala Geni menyurutkan tubuhnya ke bawah dan sambil berguling dia menjauh dari ancaman pedang yang menebar aroma maut. Sejurus kemudian, sekali lagi, kedua orang yang kira-kira berusia sebaya ini kembali terlibat saling serang dengan dahsyat.

Sama sekali tidak ada seorang yang menyangka bahwa bentakan Ki Cendhala Geni sanggup merobohkan satu orang dari Kalayudha, kesatuan prajurit yang dipimpin Laksa Jaya. Orang ini seketika seperti terpaku dalam berdirinya ketika auman Ki Cendhala Geni memasuki rongga telinganya. Hal ini tidak dibuang percuma oleh laskar Majapahit yang menjadi lawannya. Tusukan tombak pendeknya menembus dada laskar Laksa Jaya. 

Arum Sari yang mengamati pertarungan yang terbagi dalam beberapa lingkaran kecil mulai merasakan penat di matanya. Kecepatan setiap orang dan dentang senjata yang beradu telah melelahkan jiwanya. Segera memejamkan matanya sambil mengingat siapa sosok Patraman dan Laksa Jaya. Benaknya segera melayang ke beberapa purnama yang telah lewat. Diingatnya bahwa Patraman adalah orang Tumapel yang dikirim oleh Adipati Singasari untuk membantu ayahnya dalam mengamankan Wringin Anom dari gangguan para penyamun. Dalam beberapa perjumpaan dengan Patraman, dirinya mendapatkan kesan bahwa pemuda Tumapel ini adalah seorang anak muda yang ambisius dan berwatak keras. Dirinya mendengarkan itu dari percakapan beberapa prajurit yang sedang bertugas di kaputren. Terlebih lagi ketika dia mengenang betapa Patraman melakukan protes titah Sri Jayanegara ketika sang baginda menunjuk Ki Demang sebagai orang tertinggi yang mempunyai wewenang memutuskan segala hal di Wringin Anom. Saat itu Patraman berbicara sambil menunjuk ke arah wajah Ki Demang dalam sebuah sidang di pendapa kademangan.

Menurut Arum Sari, sikap Patraman sama sekali tidak mencerminkan nilai-nlai seorang prajurit, baik itu seorang senopati maupun perwira. Apalagi jika dibandingkan dengan tata moral dan keluhuran yang selama ini telah mereka junjung tinggi. Saat itu dengan kata-kata kasar dan bernada menghina, Patraman benar-benar meremehkan kemampuan Ki Demang yang merupakan pemimpin tertinggi di Kademang Wringin Anom. Namun sejauh itu Arum Sari masih belum mengerti alasan penculikan itu.

Sementara itu di dekat rawa-rawa, Gumilang Prakoso yang bertarung melawan Patraman dan Laksa Jaya benar-benar menunjukkan kemampuan dirinya dalam batas tertinggi. Gendewa yang tadinya tergenggam di tangan kiri secara cepat tergantung di punggungnya tanpa mengurangi daya serang. Sebagai gantinya kini Gumilang memegang sebuah belati sepanjang lengan orang dewasa. Belati pendek itu dengan ganas mematuk-matuk setiap pergelangan tangan lawannya yang mencoba mendekat, sedang pedang Gumilang menggedor pertahanan kedua lawannya tiada henti. Keadaan yang belum begitu terang dengan cahaya matahari rupanya tidak mengurangi Gumilang mencecar Laksa Jaya. Laksa Jaya merupakan orang terlemah jika dibandingkan dengan Patraman, menurut pengamatan Gumilang. Oleh karenanya Gumilang menjadikan Laksa Jaya sebagai tujuan utama dan yang pertama dilumpuhkan. Dia melepaskan Patraman dan tidak memperdulikan serangan Patraman. Meski begitu, usaha Patraman untuk mengalihkan perhatian Gumilang tetap percuma karena putaran pedang Gumilang telah membungkus rapat dirinya ditambah belati yang sering secara tiba-tiba mematuk dirinya ketika berada di belakang Gumilang.

Tusukan pedang berhulu kepala rajawali berhasil ditepis Laksa Laya, namun dengan cepat Gumilang memutar pedang dan hendak membelah kepala Laksa Jaya. Cepat-cepat Laksa Jaya menempatkan pedangnya diatas kepala dengan ditahan kedua tangannya. Namun tenaganya tak mampu membendung Gumilang hingga akhirnya Laksa Jaya jatuh berlutut karena kerasnya hantaman Gumilang.

Patraman yang sedang tidak dalam keadaan terdesak mencoba mengamati sosok penyerangnya itu. Dalam keremangan dia mencoba mengingat karena dia merasa seperti mengenal sosok penyerangnya. Perhatiannya tertuju pada baju yang dipakai oleh Gumilang karena ada beberapa ciri yang sudah dikenalinya. Selain itu gerak olah kanuragan Gumilang juga ada dikenali olehnya meskipun hanya sejumlah kecil. 

Berdesir hati Patraman dan sedikit dia berharap agar apa yang dia pikirkan tidak pernah terjadi. Pikirannya segera melayang ke belasan tahun silam. Masa-masa dimana hampir semua anak muda para petinggi mendalami ilmu keprajuritan dan olah kanuragan. Kini dia menjadi salah satu pemimpin di Wringin Anom dan dia cukup baik mengenali ciri-ciri pakaian yang dikenakan Gumilang. Hatinya berdesir dan jantungnya berdentang lebih keras karena tanda khusus yang memang hanya dia kenali. Sebuah kenangan bahwa dahulu di masa latihan itu ada seorang anak muda yang mahir menggunakan berbagai macam senjata. Memainkan busur laksana pedang dan belati yang terkadang seperti bergerak laksana patukan ular. Keraguan dan kecemasan kini merayap dalam dada Patraman.

Tatkala ia melihat Laksa Jaya dalam keadaan terdesak, Patraman menerjang Gumilang dari samping kiri. Mata pedangnya seolah mempunyai mata dan begitu cepat hingga seperti puluhan mata pedang sedang memburu Gumilang. Sedikit bergeser ke belakang, Gumilang berhasil menghindari serangan Patraman kemudian dia membelokkan ujung pedangnya ke lambung Patraman. Serangan yang tidak disangka-sangka ini memaksa Patraman untuk surut ke belakang.

Kedudukan yang sedikit berubah itu dimanfaatkan Gumilang segera mengalihkan serangannya ke Laksa Jaya yang baru saja berdiri dan menata ulang gerakannya. Sekejap kemudian Laksa Jaya sudah terdesak hebat. Gulungan pedang Gumilang diselingi sabetan pendek belatinya menjadi sebab keringat dingin mulai membasahi Laksa Jaya. Kedua senjata ini mengepung dari berbagai penjuru dan tidak ada ruang baginya untuk menyelamatkan diri kecuali berharap bantuan Patraman. Kepanikan kini melanda hatinya, Gumilang secara tiba-tiba merubah alur serangannya. Dengan berjalan jongkok secara cepat, belati Gumilang mengejar sepasang kakinya. Di tengah kesibukannya menghindari belati, pedang Gumilang pun tak kalah gesit menyambar bagian atas tubuhnya. Patraman tercekat melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya namun dirinya hanya berputar-putar untuk mencari titik lemah Gumilang. Sabetan pedang Gumilang berhasil dielakkan Laksa Jaya namun kakinya terlambat menghindari dari belati yang mematuk sangat cepat.

Betis Laksa Jaya menganga lebar. Darah segera tersembur keluar menggenangi kain yang membalut kakinya. Belum sampai sekejap mata, Gumilang mengarahkan ujung pedangnya ke leher Laksa Jaya. Sekelebat pedang berhasil membelokkan ujung pedang Gumilang. Pedang yang bergagang keemasan ini segera melanda Gumilang seperti terjangan badai yang menghantam tebing. Demi menjaga jarak dan mengamati lawan barunya, Gumilang bersalto ke belakang. Langkah surut Gumilang ini membawa perang tanding diantara pemuda ini semakin dekat dan berjarak hanya dua tombak dari kereta tempat Arum Sari disekap. Gumilang cepat berpikir bahwa dengan lumpuhnya Laksa Jaya justru akan dapat membawa petaka baru. Karena dia tahu jika lawan yang masih segar ini sedikit lebih tinggi dari Laksa Jaya. Dia bermaksud membawa perang tanding ini lebih dekat dengan Arum Sari agar dia sendiri lebih mudah mengamati situasi yang terjadi di sekitar Arum Sari.

Tatap mata tajam Gumilang segera mengenali siapa yang memegang pedang bergagang keemasan.

“Engkaukah itu Patraman?”

“Benar. Bukankah engkau adalah Gumilang Prakoso? Seorang bintara muda yang banyak digandrungi oleh para gadis di Tumapel? Sungguh sial karena wajahmu akan tersayat dan kulitmu akan teriris tipis oleh pedang ini!”

“Tidak! Tidak! Aku tak takut bualanmu, aku hanya heran mengapa engkau terlibat dalam urusan ini? Sungguh tidak ada kepantasan bagi seorang putra Demang Tumapel berada dalam urusan perempuan! Apakah engkau sudah bertelinga kerbau, Patraman? Apakah engkau sudah tidak peduli dengan kehormatan yang dibangun oleh ayahmu?” Engkau sungguh-sungguh telah gila, Patraman!”

Sebaris pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh Patraman namun sangat menusuk hatinya. Merah merona karena marah dan malu kini memenuhi setiap garis urat wajah Patraman. Perkembangan dari apa yang telah dia rencanakan sekarang menuju kondisi yang sulit untuk diperkirakan. Situasi yang terjadi di rawa-rawa ini mulai berkembang menjadi sebuah kerugian bagi dirinya.

“Gumilang! Hanya setan yang percaya dengan wibawa. Dan hanya setan pula yang peduli dengan kehormatan. Keduanya adalah omong kosong, sama halnya dengan wujud setan itu sendiri!”

“Kini engkau pun menyalahkan setan? Mengapa tidak engkau akui saja bahwa sebenarnya setan adalah dirimu? Hal itu akan memudahkan bagiku mengakhiri hidupmu,” derai tawa Gumilang terdengar seperti bisa ular yang melumuri jantung Patraman. Sebuah penghinaan yang luar biasa kini dia peroleh dari seorang bintara muda yang pernah menjalani latihan di Dharma Arendra.

Ibhakara yang kemudian memasuki Kahuripan segera mengambil arah menuju kepatihan untuk menemui Ki Cendhala Geni. Karena ia membawa lencana khusus yang dibuat oleh Ki Cendhala Geni maka tanpa kesulitan ia dapat menembus penjagaan para pengawal kepatihan. Sebenarnya Ki Cendhala Geni sedang tidak ingin menerima satu orang pun saat itu, akan tetapi seorang pengawal berkata,”Ki Patih, mungkin saja orang ini dapat membawa berita yang mendahului kedatangan prajurit kotaraja datang kemari.” Ki Cendhala Geni menatap tajam pada pengawal itu sambil mendengus.

“Siapakah nama orang itu?”

“Dia mengaku sebagai Ibhakara, sebuah lencana kepatihan telah ia tunjukkan padaku.”

“Baiklah. Dan sebaiknya kau berkata benar.”

Tak lama kemudian Ibhakara memasuki ruangan dimana Ki Cendhala Geni telah menunggunya.

“Sebaiknya kau berkata dengan benar. Aku tidak ingin mendengar para penjilat memberi kabar bohong yang dapat mengusik ketenanganku,” Ki Cendhala Geni berkata pongah seakan-akan ia telah menjadi seorang patih dalam waktu yang cukup lama. Ibhakara menarik nafas panjang melihat kesan angkuh yang ditunjukkan oleh Ki Patih Kahuripan yang baru menjabat. “Mungkin akan lebih baik kau mati di tangan orang-orang Majapahit, orang tua!” Ibhakara memendam geramnya dalam hati.

Ibhakara lalu secara singkat menceritakan apa saja yang dilihatnya ketika meninggalkan Wringin Anom. Ia mengatakan berita-berita yang didengarnya dari prajurit yang meronda. Sudah barang tentu prajurit peronda tidak menaruh kecurigaan padanya yang saat itu mengenakan pakaian prajurit lengkap dengan lambing Kahuripan.

“Sekarang kau dapat kembali ke barak yang telah kau tempati sebelumnya. Atau kau dapat pergi kemana saja,” Ki Cendhala Geni menanggapi Ibhakara. Ia sudah mengambil keputusan terkait kedatangan pasukan berkuda Ki Nagapati dan kelompok pasukan lainnya yang mulai bergerak menuju Kahuripan.

Terhenyak Ibhakara mendengarnya, pikirnya,”apa aku tidak salah dengar? Mengapa orang tua ini begitu mudah memandang peristiwa penting yang membahayakan nyawanya?”

“Pergilah! Selagi usiamu masih begini muda, pergilah jauh-jauh dari bahaya yang sebentar lagi akan datang menerjang seperti badai di lautan. Dan biarkan aku yang sudah tua ini akan menghadapi kematian dengan kebanggaan dan kehormatan,” kata Ki Cendhala Geni sungguh-sungguh. Ibhakara melihat kesungguhan di wajah Ki Cendhala Geni, lalu,”benar kata orang tua ini. Sebaiknya memang aku keluar dari Kahuripan dan persetan dengan yang lainnya!” desah suara hati Ibhakara.

“Baiklah, Ki Patih. Aku meminta diri,” Ibhakara membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan Ki Cendhala Geni.

Sepeninggal Ibhakara, Ki Cendhala Geni segera membenahi dirinya dan berjalan keluar menuju regol halaman kepatihan. Seorang prajurit yang menyapa lalu bertanya tujuannya hanya dijawabnya dengan senyum dan lambaian tangan. Langkah Ki Cendhala Geni semakin jauh meninggalkan regol kepatihan, lalu ia menyelinap di antara iring-iringan orang yang akan melewatkan senja di alun-alun kota. Sekejap kemudian ia melayang melewati dinding kota, kemudian berlari cepat menuju ke timur.

“Ki Srengganan! Kau akan menyesali apa yang akan terjadi nanti malam. Lenyapnya Gajah Mada pada malam kita memasuki kota sudah pasti akan membawa petaka bagi Kahuripan. Dan untuk sementara ini aku biarkan kau menikmati petaka itu sendirian sebagai seorang Bhre Kahuripan,” tawa kecil Ki Cendhala Geni terdengar ketika ia berlari seperti terbang melintasi sawah yang ditumbuhi padi yang masih hijau. Sebenarnya pada malam ia telah memasuki Kahuripan dengan seluruh kawanannya, Ki Cendhala Geni telah mendengar jika seorang perwira berpangkat rendah berhasil keluar dari Kahuripan. Setelah mengetahui nama perwira itu, maka Ki Cendhala Geni pun menyadari bahwa bahaya besar akan menjemputnya bila ia bertahan di Kahuripan. Gajah Mada merupakan satu nama yang dapat menghadangnya selama di Kahuripan dan juga satu-satunya perwira yang tidak mau tunduk pada Ki Srengganan. Maka sepanjang senja kala itu ia nyaris tanpa berhenti pergi meninggalkan Kahuripan menuju tempat dimana Ubandhana akan menemuinya. Demikianlah hingga kemudian Ki Cendhala Geni terlibat pertarungan seperti yang dikisahkan sebelumnya.

Di waktu yang bersamaan dengan perang kecil untuk membebaskan Arum Sari, Kahuripan sedang dalam keadaan mencekam. Gajah Mada yang telah berada di dalam kota segera menemui setiap prajurit yang setia pada Bhre Kahuripan. Beberapa pesan ia berikan kepada mereka. Dalam gelapnya malam dan kesunyian, sejumlah prajurit yang setia mulai bergerak melumpuhkan kawanan Ki Cendhala Geni. Sementara di luar dinding kota, pasukan berkuda Ki Nagapati telah mengepung di sebelah selatan Kahuripan. Beberapa kelompok pasukan lainnya telah bersiaga di bagian yang lain dengan dibantu oleh pengawal-pengawal pedukuhan yang akhirnya menjadi tahu peralihan kekuasaan di kota. Rencana yang disiapkan Gajah Mada telah mempersempit ruang gerak para pemberontak yang terdiri dari kawanan penjahat dan prajurit yang tertipu oleh Ki Srengganan. Di dalam rencana itu, Gajah Mada dan para prajurit yang setia pada Bhre Kahuripan mulai mendesak para pemberontak untuk keluar melalui daerah yang dijaga oleh Ki Nagapati beserta pasukannya. Para prajurit yang mendukung Ki Srengganan telah terkurung dalam barak-barak mereka ketika Gajah Mada dan lurah prajurit lainnya mengubah jadwal ronda dan pengawalan. Dan kawanan yang datang bersama Ki Cendhala Geni dan Ubandhana segera menyerahkan driri ketika menyadari kedua pemimpin mereka telah tidak terlihat bersama mereka. 

Sementara kawanan penyamun sedang diurus oleh Ki Nagapati beserta pasukannya, Gajah Mada yang dibantu oleh Pawagal memasuki keraton Bhre Kahuripan

“Hanya pasukan Ki Nagapati yang dapat memberiku rasa aman,” begitu kata Gajah Mada dalam hatinya. Gajah Mada tidak melupakan bagaimana usaha keras Ki Nagapati untuk meyakinkan rajanya bahwa Lembu Sora dan Gajah Biru tidak bersalah. Pada suatu ketika, Gajah Mada pernah mendengar Dyah Gitarja, Bhre Kahuripan menceritakan upaya Ki Nagapati yang berusaha bertemu dengan Sri Jayanegara untuk terakhir kalinya.