Episode 200 - Gerakan Kedua



Bintang Tenggara sudah mulai memahami apa yang terjadi pada diri dan mustika tenaga dalamnya. 

Singkat ceritera, mustika tenaga dalam anak remaja tersebut retak akibat bertarung menghadapi ahli yang jauh lebih tangguh, yaitu Laskar Segantang. Di saat genting, Ginseng Perkasa ‘memaksa’ Komodo Nagaradja menyerahkan Akar Bahar Laksamana. Kini diketahui, Akar Bahar Laksamana hidup dengan menyerap tenaga dalam dari celah mustika nan retak. Keadaan ini membuka peluang baru bagi seorang ahli dalam meniti jalan keahlian. 

Meski demikian, Bintang Tenggara merasa bahwa Akar Bahar Laksamana seolah menghambat pertumbuhan mustika tenaga dalam. Bagaimana tidak, lazimnya seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 9 akan menerobos naik ke Kasta Perak Tingkat 1. Akan tetapi, kini dirinya malah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 10! 

Keadaan yang unik ini dikenal dengan nama Jalan Keahlian Laksamana, sebuah jalan keahlian yang dikatakan berat dan panjang. Benar-benar di luar logika dunia keahlian, pikir Bintang Tenggara. Apakah gerangan kelebihan lain dari Jalan Keahlian Laksamana ini?

Bintang Tenggara melangkah keluar dari dalam goa. Sudah dua pekan waktu yang ia habiskan memulihkan tubuh. Matahari bersinar cemerlang, menerpa wajahnya yang masih sedikit pucat. Ia menghirup udara nan segar, hati dan pikiran lega rasanya.

Anak remaja itu menebar mata hati. Jangkauan indera keenam menyebar lebih jauh. Tubuhnya pun dirasa lebih ringan, namun penuh dengan tenaga. Mungkinkah…  

“Tinju Super Sakti, Gerakan Kedua: Harimau!” 

Di depan mulut goa, Bintang Tenggara tetiba melepas lima tinju beruntun sebanyak dua kali. Runtutan pertama menciptakan gelombang kejut, akan tetapi sebelum gelombang kejut tersebut meledak, ia segera membuat gelombang kejut kedua dengan gerakan tinju kait yang menyapu ke samping. 

“Duar!” 

Suara menggelegar dan membahana tak dapat dihilangkan, karena merupakan dampak samping dari jurus nan maha digdaya. Hanya dalam satu kelebat mata, sederetan pepohonan besar dan tanah di depan goa berhamburan. Luas cakupan kekuatan jurus sekira selebar sepuluh kali sepuluh langkah. Dampak yang dihasilkan ibarat seekor harimau raksasa yang baru usai mencabikkan cakar-cakar nan tajam perkasa! 

Mungkin setara Kasta Perak Tingkat 1…? pikir Bintang Tenggara. Menurut Raja Bangkong IV, Gerakan Kedua dari Tinju Super Sakti setidaknya hanya dapat dirapal oleh ahli yang telah berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Tidak. Kemungkinan lebih digdaya dari itu. 

“Apa yang hendak kau capai dengan berbuat rusuh di pagi-pagi buta seperti ini…,” hardik Komodo Nagaradja, menyembunyikan kebanggaan di hati. 

“Super Guru, diriku merasakan bahwa mustika tenaga dalam di ulu hati berada pada Kasta Perunggu Tingkat 10. Akan tetapi, mengapa bilamana dipantau menggunakan mata hati, tiada berbeda dengan Kasta Perunggu Tingkat 9? Lalu, mengapa pula jumlah tenaga dalam seperti berkali lipat adanya?” 

“Demikianlah kelebihan Akar Bahar Laksamana. Ia menciptakan aura bernuansa hijau yang menyembunyikan kenyataan bahwa dikau berada pada Kasta Perunggu Tingkat 10. Aura yang sama juga menyembunyikan keberadaan dirinya yang tumbuh menempel pada mustika di ulu hati. Anggap saja sebagai cara ia melindungi diri,” sela Ginseng Perkasa. 

“Ahli mana pun akan menganggap engkau tak lebih dari ahli Kasta Perunggu Tingkat 9,” papar Komodo Nagaradja. “Menurut perhitunganku atas Tinju Super Sakti tadi, daya tampung mustika tenaga dalammu setidaknya setara dengan Ahli Kasta Perak Tingkat 3.” 

“Hei, Komodo Nagaradja! Mengapa dikau gemar menyela?” 

“Siapa yang terlebih dahulu menyela!? Kurang ajar kau Ginseng Perkasa! Beraninya kau mengganggu kegiatan belajar-mengajar antara murid dan guru di pagi hari nan cerah!” 

“Tak ada yang bisa kau ajarkan terkait Jalan Keahlian Laksamana!”

“Jadi, bagaimana selanjutnya…?” sela Bintang Tenggara, berupaya menengahi bentrokan yang sebentar lagi memuncak. 

“Jalani saja…,” jawab Ginseng Perkasa. 

“Lah? Bukankah engkau mengatakan dibekali pengetahuan tentang Jalan Keahlian Laksamana ini…?” sergah Komodo Nagaradja. 

“Sudah kusampaikan semua yang kuketahui.”

“Hanya sebatas ini!?” Komodo Nagaradja naik darah. 


===


“Kakak Jebat…,” tegur Lamalera. 

“Apa lagi…?” 

“Permadani terbang itu berhenti…”

“Lalu? Kau hendak ikut berhenti…?” Hang Jebat mencibir, lalu melontar pandang tinggi ke arah belakang. Sepertinya si pengejar itu sudah mulai melupakan keberadaan mereka. 

Demikian, Hang Jebat dan Lamalera terus berlari. Selama hampir dua pekan sudah mereka berlari bersama-sama. Keduanya hanya berhenti bilamana perlu mengisi perut atau beristirahat sejenak.

“Kakak Jebat…” 

“Aaaaaaaahhhh…” Hang Jebat mengerang pilu ibarat ditusuk sembilu. Gadis belia itu sangatlah mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaannya tiada bermutu. 

Seperti apa Mayang Tenggara mendidik murid? Payah! 

“Permadani terbang itu.. Permadani terbang itu memutar arah!” 

“Eh…?” Hang Jebat menghentikan langkah, ia pun memastikan. 

“Baiklah… tugasku menyelamatkanmu sudah tuntas. Jangan lupa untuk menyampaikan kepada Mayang Tenggara, betapa ahli nan mulia bernama Hang Jebat telah menyelamatkan engkau. Sekarang pergilah…” 

“Kakak Jebat, kemanakah tujuan Kakak?” Lamalera terlihat penasaran. 

“Hush… Hush…” Hang Jebat menggerak-gerakkan jemari tangan seolah sedang mengusir anak ayam. 

“Jika Kakak berkenan, sudi kiranya mengizinkan diriku perpetualang bersama.” 

“Hush… Hush…”

“Diriku berjanji tak akan membebani Kakak Jebat…”

“Aku sedang mengemban tugas berat. Kau hanya akan menghambat!” Tokoh itu memutar tubuh, dan melenggang pergi begitu saja. 

“Baiklah bila demikian…” Lamalera tetunduk lesu. 

“Hei, Jebat!” sergah kesadaran Tameng. “Kau memerlukan lawan latih tarung untuk mengembalikan kekuatan. Sedangkan kami membutuhkan lawan untuk ditebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!”

“Gadis itu terlalu lemah… sebentar saja akan mati konyol.” 

“Apa pedulimu…?”

“Ehem… Lamalera, namamu bukan?” ujar Hang Jebat sambil memutar tubuh. Wajahnya terlihat sangatlah ramah.  

Lamalera menatap penuh harap. Pupil matanya membesar mirip seekor anak kucing menanti dielus.

“Diriku… mungkin membutuhkan sedikit bantuan....” 

“Kakak Jebat…” 

Wajah Lamalera berubah ceria. Andai saja ia tahu bahwa hari ini, adalah hari permulaan dimana ia menceburkan diri ke dalam neraka dunia….


===


“Memutarbalikkan Fakta!” 

Bintang Tenggara memindahkan jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa dari dalam botol bekas ramuan, ke dalam mustika binatang siluman Kasta Emas. 

“Haaaappph…” Ginseng Perkasa terlihat senang. Sebagaimana Komodo Nagaradja, ia kini dapat menyerap sedikit tenaga alam dan menyimpan ke dalam mustika tenaga dalam dimana ia bernaung.

Lebih dari tiga pekan waktu berlalu sejak Bintang Tenggara menetap di goa ini. Berdasarkan penjelasan Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa, saat terjatuh ke dalam rawa, dirinya tiada sengaja membentur sebuah prasasti batu yang dulunya berfungsi untuk membuka lorong dimensi ruang. Kebetulan, prasasti batu tersebut masih dapat berfungsi. 

Meskipun demikian, anak remaja itu sama sekali tiada mengetahui dimana lorong dimensi ruang tersebut mengantarkan dirinya. 

“Menurut hematku, setelah mencermati rasi perbintangan, kemungkinan kita berada di Pulau Belantara Pusat,” ujar Ginseng Perkasa. 

“Omong kosong!” sergah Komodo Nagaradja. “Jelas-jelas kita masih berada di wilayah Pulau Jumawa Selatan. 

Bintang Tenggara tak hendak menduga-duga. Beberapa hari dari sekarang, ia akan sepenuhnya pulih dan dapat meninggalkan goa. Ke arah mana? Kemungkinan ke arah utara.  


==


Seorang remaja lelaki terlihat melangkah cepat, sedikit tergopoh. Wajahnya tirus. Tampan, namun sepintas mirip seseorang yang kurang gizi. Sebuah buntelan kain berukuran kecil ditenteng di tangan kanan. Raut wajahnya resah. Sepertinya saat ini ia sedang terburu untuk kembali. 

“Haha… dasar keturunan babu!” 

“Lancang sekali kau menampilkan darah kotormu di hadapan kami!” 

“Tak lama lagi, garis keturunan kalian akan segera punah dari muka bumi ini!”

Tetiba, sekelompok remaja mencegat langkahnya. Lima orang. Mereka mulai mengerubungi. Dilihat dari jenis dan kualitas pakaian yang dikenakan, pastilah remaja-remaja manja dari keluarga kaya. 

Remaja lelaki berwajah tirus terpaksa menghentikan langkah. “Izinkan aku lewat,” gumamnya pelan. 

“Apakah itu yang kau bawa…?” Seorang pencegat terlihat penasaran. 

“Obat-obatan untuk ibuku…”

“Dusta! Pastilah engkau hendak menyeludupkan sesuatu…”

“Serahkan segera…”

“Jangan… Ini…”

“Cepat serahkan!” 

“Duak!” 

Belum sempat remaja lelaki berwajah tirus menanggapi, sebuah formasi segel berpendar, dan ia jatuh terjungkal belasan meter ke belakang. Akibat serangan mendadak tersebut, buntelan obat yang ia bawa terpental cukup jauh, dan terjatuh di dalam semak belukar. 

Menahan sesak, remaja lelaki berwajah tirus segera bangkit. Ia segera berlari menuju ke arah jatuhnya buntelan kain. 

“Brak!” 

Lagi-lagi sebuah formasi segel berpendar, lalu menjegal kedua kakinya. Remaja lelaki berwajah tirus pun jatuh tersungkur. Pakaian dan wajahnya kotor bergelimang tanah. 

“Hahaha….” 

Gelak tawa pecah seketika itu juga. Bukan main senangnya hati para pencegat, alias perisak, menyaksikan korban mereka dalam keadaan yang demikian menyedihkan.

“Ambil buntelan itu!” Tetiba, dari arah belakang mereka, terdengar sergahan perintah. Datangnya dari sebuah kereta kuda nan mewah. Kemungkinan besar, seseorang yang berada di dalam merupakan pimpinan mereka. 

Beberapa remaja dari rombongan pengganggu serta-merta bergerak, ibarat lembu yang dicocok hidungnya. Akan tetapi, langkah mereka terhenti ketika menyaksikan seorang anak remaja melangkah keluar dari balik semak belukar. Ia menenteng sebuah buntelan kain yang sedang diperebutkan. 

“Siapakah engkau…?”

“Dimanakah gerangan ini…?” Bintang Tenggara berujar polos. 




Cuap-cuap:

Episode Bayangan = Bayangkan saja sebagai episode nan panjang. :D 

Episode 200… spesial pendeknya. :p