Episode 199 - 10



“Bruk!” 

Seorang gadis belia berambut keriting nan tergerai hitam dan panjang, jatuh terjungkal belasan meter ke belakang. Wajahnya berang sekaligus terkesima. Serangan yang mengandalkan kecepatan serta kepiawaian dalam menikam, digagalkan dengan mudahnya.  

“Siapakah Puan Ahli!? Apakah gerangan yang Puan Ahli kehendaki!?”

Si gadis belia menghardik ke arah lawan. Sulit bagi akal sehatnya menerima bahwasanya lawan tersebut hanyalah seorang anak perempuan kecil berusia tujuh atau delapan tahun. Di saat yang sama, anak perempuan kecil itu memanggul gulungan permadani yang jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. Bahkan dalam keadaan seperti itu, gerakan tubuh mungil seolah tiada dapat disasar.  

Setelah mendapat restu dari Resi Gentayu untuk mengasah kemampuan persilatan dan kesaktian di dunia luar, Lamalera pun segera meninggalkan Perguruan Anantawikramottunggadewa. Ia sepenuhnya menyadari bahwa keahlian tiada akan tumbuh maksimal bilamana hanya mendekam di dalam perguruan. Petualangan mengasah diri perlu dijalani. Kebetulan pula, murid-murid Perguruan Anantawikramottunggadewa memang diwajibkan untuk berpetualang dalam jangka waktu tertentu, dengan catatan merahasiakan jati diri mereka. 

Demikian, Lamalera menempuh perjalanan laut dari wilayah timur Pulau Jumawa Selawan ke arah utara. Atau dengan kata lain, Lamalera bertolak ke Pulau Belantara Pusat. Di wilayah selatan Pulau Belantara Pusat, ia berencana mengunjungi beberapa perguruan demi melakukan tantangan terbuka. Tindakan seperti ini lazim dilakukan oleh banyak ahli yang menyebut diri sebagai pendekar, dalam upaya mengasah kemampuan diri. 

Meskipun demikian, Lamalera tak akan berlama-lama di Pulau Belantara Pusat. Menurut informasi yang ia peroleh, sistem keahlian di wilayah selain selatan Pulau Belantara Pusat, sangatlah berbeda. Dengan kemampuan dirinya saat ini, sangatlah bijak untuk tak memasuki wilayah pedalaman pulau tersebut. Tujuan selanjutnya si gadis belia adalah Pulau Logam Utara. 

Akan tetapi, belum sempat berbuat terlalu banyak di Pulau Belantara Pusat, dirinya diserang oleh ahli nan tak dikenal itu. 

Lamalera terlihat semakin berang di kala si gadis cilik hanya memampangkan deretan gigi putih dan bersih sebagai jawaban. Dua gigi depan sisi atas paling menarik perhatian. Ukurannya lebih besar dari gigi-gigi lain, sehingga terlihat layaknya sepasang gigi kelinci. Lucu dan imut sekali. 

“Aku menginginkan mainan baru. Serahkan tempuling itu,” ujar si gadis cilik. Ia menyodorkan lengan sambil membuka telapak tangan. 

Lamalera terdiam. Lawannya mengetahui bahwa senjata pusaka yang ia miliki adalah sebilah tempuling. Setelah menyaksikan kemampuan yang tiada setara dengan penampilan sebagai gadis cilik, Lamalera sudah menyimpulkan bahwa lawannya tersebut bukanlah sembarang ahli. 

“Puan Ahli,” Lamalera berdiri dengan mengambil postur resmi. “Senjata pusaka ini merupakan pemberian dari seorang guru. Mohon maaf, akan tetapi, selama jiwa ini masih bersatu dengan raga, diriku tiada dapat menyerahkan amanah ini.”

“Aku tahu mengenai senjata itu. Tempuling Malam. Aku menginginkannya.”

Lamalera berupaya menahan keterkejutan di hati. Di saat yang sama, tubuhnya merasakan tekanan yang teramat berat, sehingga memaksa ia untuk kembali memasang kuda-kuda. Bila lawan tersebut demikian memaksa, pertarungan sungguh tak terelakkan. Walau mengetahui bahwa dirinya bukanlah tandingan dari sosok di hadapan, Lamalera menyadari bahwa dirinya harus bertarung sekuat tenaga. Jika berhasil keluar dari kesulitan ini, maka ia akan tumbuh. Bila tidak, maka memang sebatas itulah kemampuan dirinya sebagai seorang ahli. 

Tiada sesiapa yang bisa melepaskan diri dari ajal. 


“Cih!” Seorang remaja lelaki berkulit tubuh gelap melangkah geram. “Sia-sia saja waktuku di Tanah Pasundan. Terbuang percuma! Petunjuk dari si bangsat itu hanya menyebutkan tentang Pulau Belantara Pusat… atau Pulau Logam Utara.”

Sepanjang perjalanan tokoh ini hanya menggerutu. Mengutuk kesialan nasib dalam upaya pencarian. “Bebebah! Si bangsat Sangara Santang itu tiada dapat diandalkan! Bila kutahu akan seperti ini, maka lebih baik kubiarkan saja dia diganyang Mayang Tenggara…” 

Wajah remaja lelaki tersebut semakin terlihat kesal. “Apakah ia tiada mengetahui betapa luasnya Pulau Belantara Pusat dan Pulau Logam Utara!?” 

“Hei, lihat itu!” tetiba suara lain menyela. “Ada sepasang ahli yang sedang bertarung! Mari kita campuri urusan mereka. Ayo tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!”

Gelap mata, jiwa Hang Jebat yang merasuki tubuh Arya Pamekasan segera melompat maju. Suasana hatinya sedang kacau, dan oleh karena itu siapa pun yang kurang beruntung akan menjadi lawannya. Pancingan yang datang oleh kesadaran Tameng dari dalam keris Tameng Sari segera ia tangkap! 

“Swush!” Gumpalan asam hitam berbau kemenyan menyibak pekat ketika sesosok tubuh tiba di antara Lamalera dan si gadis cilik. Ia memegang keris besar dangan ujung bercabang seperti lidah ular berbisa. Pembawaannya garang. Kelebat keemasan bermain-main dengan jalinan asap. Sungguh penampilan yang tiada tara. Siapa yang berani berkata-kata… 

“Khikhi… Hik!” 

Tawa melengking khas Hang Jebat tetiba terhenti, karena ia tersedak. Kedua matanya melotot melihat gadis cilik yang tersenyum memaparkan sepasang gigi kelinci. Aura yang dipancarkan oleh gadis tersebut sangatlah tak asing.

Sontak Hang Jebat melompat mundur. Kini, ia berdiri tepat di sebelah seorang gadis yang siap bertarung sampai titik darah penghabisan. Si gadis hanya menatap keheranan. 

“Bangsat! Mimpi apa aku semalam!?” keluh Hang Jebat. “Tameng sedeng! Lihat apa yang telah kau perbuat!? Kita terjebak!” 

“Perhatikan… tubuhnya kembali layaknya anak perempuan kecil. Kemungkinan besar kemampuan bertarungnya hanya setara dengah ahli Kasta Emas…” bisik Tameng waspada. Sebagaimana diketahui, Tameng memiliki anugerah dimana tubuh penggunanya dapat menjadi sekuat ahli Kasta Emas. 

“Benarkah…?”

“Lagipula, sejak kejadian ‘itu’, ingatannya terluka…,” tambah kesadaran Tameng.

“Siapakah Tuan Ahli!?” hardik Lamalera. Tokoh yang baru muncul tersebut terlihat hampir seusia, akan tetapi kasta dan peringkat keahliannya mungkin sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 8. 

“Eh!?” Hang Jebat menoleh ke samping. Baru ia menyadari keberadaan gadis belia yang sedari tadi berdiri berdampingan. Karena tadi terburu dan salah langkah, bahkan ia lalai mengamati keadaaan di sekeliling.

“Tempuling Malam…?” gumam Hang Jebat. “Kau siapanya Mayang Tenggara…?” 

“Hm…?” Lamalera terlihat ragu. Dalam selang waktu yang demikian singkat, terdapat dua ahli yang mengenali senjata pusaka yang sedang ia hunus. Siapakah tokoh ini sampai mengenali Guru Mayang…? gumamnya dalam hati.

“Tiada mengapa…,” bisik Hang Jebat. “Kedatanganku untuk menyelamatkan dikau…” Secepat kilat, si pengacau itu berubah peran menjadi sang juru penyelamat. 

“Benarkah…?” Lamalera terlihat polos. 

“Benar… Siapa namamu…?” 

“Lamalera.” 

“Lamalera, dengarkan dengan cermat… Namaku Hang Jebat, dan kita harus bekerja sama bila hendak selamat…” 

“Hang Jebat…” Tetiba si gadis kecil mungil di hadapan berujar ringan. Ia dapat mengenali lawan biacaranya meski Hang Jebat sedang merasuki tubuh ahli lain. “Serahkan Tameng Sari.”

“Apa… apa yang harus kita perbuat…?” Lamalera setengah senang mendapat dukungan yang tiada terduga.

“LARI!” 


===


Bintang Tenggara terbangun. Ia mendapati dirinya lemah dan lemas. Suasana di sekeliling lembab dan gelap. Dingin dan keras. Dengan segenap tenaga ia berupaya beringsut bangun. Akan tetapi, masih terlalu lemah. 

Perlahan ia menebar mata hati dan menggerakkan jemari. Sekeping roti dan sebotol air mencuat keluar dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Cincin ini adalah cincin yang mana memuat Perisai Tunggul Waja. Atau dengan kata lain, cincin Pemberian Maha Guru Segoro Bayu. Sebagaimana diketahui, sang Maha Guru baru kembali dari perjalanan, sehingga masih menyisakan sejumlah perbekalan di dalam cincin itu. 

Bintang Tenggara merasakan kesejukan air, lalu remah-remah roti. Ia mengecap sekenanya, lalu tertidur kembali. 

“Nak Bintang, dengarkan dengan seksama…” 

Bintang Tenggara masih mendapati kesadaranya terombang-ambing di antara dua samudera. Kesadaran… karena ia yakin dan percaya bahwa ini bukanlah tubuh aslinya. 

“Mustika tenaga dalam di ulu hatimu memanglah retak akibat benturan kekuatan di dalam pertarungan terakhir,” ungkap Ginseng Perkasa. “Jarak yang terpaut cukup jauh antara Kasta Perunggu Tingkat 9 dan Kasta Perak Tingkat 5, memang dapat menyebabkan kejadian yang sedemikian.” 

Bintang Tenggara memejamkan mata. Berat sekali rasanya menerima kenyataan pahit ini. Berakhir sudah petualangannya nanti, bersamaan dengan janji-janji yang belum ditunaikan. Bayangan sosok Lintang Tenggara melintas cepat di dalam benaknya. Tokoh tersebut merupakan satu di antara segelintir ahli yang bersedia menyembuhkan mustika retak. Akan tetapi, tumbal yang patut dibayarkan sangatlah mahal. Maha Guru Keempat di Perguruan Gunung Agung mengatakan bahwa Lintang Tenggara mengorbankan jiwa sejumlah ahli untuk mencapai tujuannya. 

“Akan tetapi, di saat dikau kehilangan kesadaran, diriku dan gurumu mengambil sebuah keputusan berat…”

Keputusan seperti apa? Bintang Tenggara membatin. 

“Sebuah keputusan yang akan membuka cakrawala baru bagimu dalam meniti jalan keahlian.”

“Cakrawala baru…?” 

“Waktu masih panjang. Kembalilah beristirahat,” sergah Komodo Nagaradja. Baru kali ini tokoh tersebut membuka mulut.


===


“Kakak Jebat, kemanakah kita akan menghindar?” seorang gadis belia terlihat demikian bimbang. 

“Aku tak tahu… Teruslah berlari!” 

Tinggi di udara, tak jauh di belakang kedua ahli yang melarikan diri, selembar permadani terbang melesat mengikuti. Di sisi atas permadani, seorang gadis cilik terlihat sangat senang sekali. Baginya, seolah mereka sedang bermain kejar-kejaran!

“Kakak Jebat,” Lamalera berupaya mengimbangi kecepatan langkah unsur kesaktian asap dengan kecepatan unsur kesaktian angin. “Bilamana kita bertarung bersama-sama, mungkin saja dapat memperoleh celah.” 

Hang Jebat menyipitkan mata, lalu melirik ke arah gadis nan lugu. Kau sudah gila!? umpatnya dalam hati. 

Bagi Hang Jebat, Lamalera adalah umpan yang dapat dikorbankan kapan saja. Bilamana terdesak, atau bahkan bila terbuka sedikit saja peluang, maka tak akan ragu ia menjorokkan gadis tersebut kepada si pengejar di atas sana. Terserah murid Mayang Tenggara atau bukan… di dalam rimba raya persilatan dan kesaktian, yang cerdas adalah yang bertahan hidup lebih lama. 


===


“Nak Bintang, yang tumbuh di mustika tenaga dalam dikau adalah tumbuhan siluman nan langka bernama Akar Bahar Laksamana.” 

“Akar Bahar Laksamana…?” Bintang Tenggara mengingat bahwa dirinya sempat mendengar Ginseng Perkasa menyebutkan nama tumbuhan siluman tersebut. 

Ginseng perkasa lalu melanjutkan dengan uraian. Akar Bahar Laksamana merupakan tumbuhan siluman yang unik karena ia hanya tumbuh di samudera nan dalam. Untuk dapat tumbuh, ia menyerap tenaga alam murni dari alam sekitar. Bilamana dipindahkan, ia membutuhkan induk semang untuk terus dapat bertahan hidup. Tanpa induk semang, ia hanyalah jalinan akar biasa yang dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai macam ramuan. 

Induk semang yang paling cocok bagi Akar Bahar Laksamana adalah mustika tenaga dalam yang masih muda belia, karena mustika tersebut masih belum terbentuk sempurna. Mustika retak milik Komodo Nagaradja sudah teramat tua, sehingga tiada akan menarik bagi tumbuhan siluman itu. 

Selain itu, masih ada satu syarat lain. Mustika tenaga dalam yang menjadi induk semang haruslah retak, sehingga Akar Bahar Laksamana dapat menyerap inti sari tenaga dalam darinya. 

Bintang Tenggara berupaya mencerna dalam diam. Benaknya mengandai-andai. Bilamana Akar Bahar Laksamana hidup sebagai parasit yang menempel di mustika tenaga dalam, bukankah hal tersebut berarti dirinya akan menghadapi masalah dengan persediaan tenaga dalam?

“Mungkin, menyebut Akar Bahar Laksamana sebagai parasit, bukanlah kata yang tepat,” lanjut Ginseng Perkasa, seolah dapat membaca pikiran anak muda yang masih tergeletak itu. 

“Dirimu dan Akar Bahar Laksamana akan menjalin suatu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara dua makhluk hidup. Akar Bahar Laksamana akan menyerap tenaga dalam sesuai jumlah yang ia perlukan melalui celah retakan. Sebagai gantinya, ia akan melindungi sumber penghidupannya dengan menganugerahkan kemampuan-kemampuan tertentu.” (1)

“Apakah gerangan itu…?” Bintang Tenggara menyadari bahwa ada lagi yang belum diungkapkan oleh Ginseng Perkasa. 

“Jangan banyak tanya!” sela Komodo Nagaradja. “Beristirahatlah. Saat ini adalah masa-masa genting dimana Akar Bahar Laksamana akan menentukan apakah mustika tenaga dalammu cocok atau tidak sebagai induk semang.”


===


“Kakak Jebat, sepertinya ia tiada hendak menyerah. Sudah dua hari dan dua malam kita berlari.” 

Lamalera mendongak jauh ke belakang. Ia masih menyaksikan selembar permadani yang terbang mengikuti. Yang tak ia ketahui, bahwa di sisi atas permadani bermotif mata hari bersudut delapan, seorang gadis cilik sedang terlelap. 

“Jangan berhenti! Hanya dengan berlari kita dapat terhindar dari mala petaka!” keluh Hang Jebat. Sampai berapa lama lagi gadis ini akan mengekor…? Ia mulai merasa terganggu.  

“Tameng,” Hang Jebat menebar jalinan mata hati. “Benarkah ingatannya masih terluka…?”

“Sepertinya…” 

“Apa maksudmu dengan ‘sepertinya’…? Tempo hari kau yakin sekali!” 


===


Bintang Tenggara tiada dapat menghitung hari di dalam tempat nan gelap ini. Yang jelas, ia sudah dapat memastikan bahwa tempat dimana tubuhnya berada merupakan sebuah goa tak berpenghuni. Bagaimanakah sampai ia tiba di tempat ini? Bukankah seharusnya ia terjatuh ke dalam rawa-rawa setelah benturan kekuatan dengan Laskar Segantang?

Penghitungan hari hanya dapat ia lakukan dengan mengira-ngira berapa banyak jatah makanan yang ia habiskan. Masih tersisa cukup banyak persediaan roti dan air di dalam cincin Batu Biduri Dimensi pemberian Maha Guru Segoro Bayu. Sungguh sebuah peruntungan. 

“Nak Bintang, persediaan tenaga dalam yang dikau miliki hampir terkuras. Saat ini, gurumu yang mengalirkan tenaga dalam dari mustika retak miliknya ke dalam mustika retak milikmu. Hal ini perlu dilakukan agar Akar Bahar Laksamana tetap memperoleh gizi dalam bentuk tenaga dalam.” 

“Super Guru…” 

“Ia sedang berkonsentrasi menyerap tenaga alam…,” jawab Ginseng Perkasa. “Dikau pusatkan perhatian dalam menyembuhkan kondisi tubuh.” 


===


“Kakak Jebat…”

“Apa lagi…?”

“Siapakah sesungguhnya tokoh yang mengejar kita…?” 

“Mengapa kau banyak bertanya…? Pusatkan perhatian untuk terus berlari!” 

Hang Jebat mengingat bahkan dalam keadaan puncak ratusan tahun lalu, kehadiran tokoh di atas sana bisa membuat dirinya terpaku di tempat. Gadis cilik itu bahkan pernah berdiri sejajar dengan Kakak Tuah! Hang Jebat tentu memahami betul hal ini sebagai sesuatu yang mutlak.

“Kakak Jebat, terima kasih karena dikau bersedia menyelamatkan diriku…” 

Hang Jebat menyipitkan mata, lalu melirik ke arah gadis nan lugu. Aku tidak menyelamatkan dirimu. Aku menyelamatkan diriku… ia mengutuk dalam hati. Kau hanyalah nyawa cadangan bagiku. 

“Kakak Jebat…” 

“Ia tiada berasal dari dunia ini…” Tetiba Hang Jebat berucap lirih. 

“Bukan dari dunia ini…?” Lamalera sama sekali tiada memahami. 

“Apakah engkau pernah mendengar tentang dunia lain…? Dunia paralel…?”

 

===


Sepekan tiada terasa waktu berlalu. Bintang Tenggara kini sedang duduk bersila. Tubuhnya sudah semakin membaik. Pikirannya sudah lebih tenteram. Ia berserah diri kepada takdir. Tiada guna menyesali keretakan mustika di ulu hati. Sebaliknya, sebuah kesempatan nan langka akan terbuka lebar. 

Perlahan anak remaja itu mencoba menyerap tenaga alam dengan membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Tenaga alam merangsek deras. Di saat yang sama, Akar Bahar Laksamana bereaksi. Tumbuhan siluman itu berdegup kencang, sembari menyerap setiap aliran tenaga alam yang masuk. 

Biasanya, hanya diperlukan waktu beberapa menit bagi Bintang Tenggara membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk mengisi penuh mustika tenaga dalam. Akan tetapi, kini satu jam telah berlalu dimana Akar Bahar Laksamana dengan rakusnya melahap setiap tetes tenaga dalam yang tersaji. Samar, terlihat bahwa tumbuhan siluman itu semakin gemuk adanya. 

“Akar Bahar Laksamana ini merupakan cabang dari Akar Bahar Laksamana milik Hang Tuah,” tetiba Ginseng Perkasa berujar. “Cukup lama ia mati suri. Bersabarlah sejenak.” 

“Duar!” 

Tetiba Akar Bahar Laksamana menghentakkan tenaga dalam. Bintang Tenggara terkejut, namun berupaya mengendalikan diri dan gejolak tenaga dalam di ulu hatinya. Aura berwarna hijau menyibak dari tubuh anak remaja itu! 

“Hah!” Komodo Nagaradja tiada dapat menyembunyikan keterkejutannya. 

“Hang Tuah menempuh jalan keahlian yang berbeda dari kebanyakan ahli. Jalan keahlian tersebut berkali-kali lipat lebih sulit dan panjang dibandingkan jalan keahlian yang ditekuni oleh kebanyakan ahli.” Ginseng Perkasa berujar penuh percaya diri. “Akan tetapi, imbalan yang diperoleh adalah setimpal adanya.” 

“Muridku… engkau akan akan meniti jalan keahlian yang selama berabad-abad merupakan yang paling digdaya di seantero Negeri Dua Samudera. Mulai saat ini, adalah harapanku agar engkau lebih tekun dalam berlatih,” ujar Komodo Nagaradja bijak. 

“Jalan Keahlian Laksamana... menantang logika dunia persilatan dan keahlian,” sambung Ginseng Perkasa. 

“Muridku, selamat! Dirimu kini berada pada… Kasta Perunggu Tingkat 10!”



Catatan:

(1) Simbiosis mutualisme. 


Kepada sekalian ahli nan jomblo, nantikan kehadirannya pada Sabtu malam pukul 19.00 WIB…