Episode 12 - Sebelas

Mimpi Petanda


Di suatu tepi pantai Mega Sari berjalan seorang diri, ia tidak mengenakan pakaian tuan putrinya, ia hanya mengenakan kain samping dan kemben batik berwarna cokelat, rambutnya tidak disanggul, rambutnya hanya diikat lalu digelung sedikit, penampilannya saat itu nampak seperti hanya seorang gadis desa biasa. Gadis bermata bulat tajam itu terus berjalan menyusuri bibir pantai, hingga ia melihat Jaka Lelana sedang berdiri seorang diri diatas sebongkah batu karang. Alangkah senangnya Mega Sari melihat pemuda berambut gondrong rapi, berkulit putih, yang mengenakan pakaian ringkas biru tua, dengan ikat kepala batik bermotif khas Mega Mendung, bertubuh tinggi kekar itu, sekilas wajahnya sangat mirip dengan Mega Sari.

Mega Sari lalu berlari menghampiri Jaka “Kang Jaka!” panggilnya dengan berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya.

Jaka menoleh lalu melempar senyumnya dan melambaikan tangannya. “Kang Jaka aku kangen padamu!” teriak Mega Sari sambil terus berlari.

“Aku juga kangen padamu Mega Sari!” balas Jaka yang ikut berlari menghampiri Mega Sari, akan tetapi saat mereka telah dekat, tiba-tiba ada sepasang tangan kokoh yang menarik Mega Sari, ternyata Prabu Kertapati menarik Mega Sari yang membuat gadis itu kaget setengah mati. 

“Mega Sari jangan kau dekati pemuda itu!”

Mega Sari berontak “Tidak Rama Prabu! Hamba mencintai pemuda itu!”

Saat itu tiba-tiba dia melihat ibunya menangis sedu sedan dihadapannya “Anakku jangan! Jangan dekati pemuda itu!” ratap Dewi Nawang Kasih.

“Kenapa Ibu? Kenapa saya tidak boleh mencintai Kang Jaka?!” jerit Mega Sari.

Dewi Nawang kAsih dan Prabu Kertapati tidak menjawabnya, Sang Prabu lalu memanggil prajuritnya, tiba-tiba datanglah empat orang prajurit bertubuh tinggi kekar dengan tampang menyeramkan, mereka langsung menangkap Jaka, pemuda berkulit langsat itu tidak melawan, ia hanya pasrah ketika lengan dan kakinya diikat oleh kedua prajurit itu, sedangkan yang lainnya menodongkan tombak panjangnya, “Kang Jaka kenapa kau tidak melawan?! Ayo lawan supaya kita bisa hidup bersama?!” 

Jaka hanya menggelengkan kepalanya perlahan. “Maaf Mega…”

Mega Sari segera berontak dan berhasil melepaskan diri dari cengkraman ayahnya lalu berlari mengejar Jaka yang digelandang keempat prajurit itu “Kang Jaka! Kang Jaka!” jeritnya.

Emak Inah kelabakan juga menenangkan Gusti Putrinya yang sedang mengigau memanggil-manggil Kang Jakanya itu, “Gusti Putri! Gusti Putri! Bangun!” ucap perempuan tua itu.

Mega Sari pun terbangun dengan tubuh bermandikan peluh, dia lalu mengatur nafasnya yang sesak, tak terasa air matanya pun meleleh dari kedua matanya yang bulat tajam indah itu. “Kang Jaka…,” ratapnya.

“Gusti putri kenapa? Apa Gusti putri bermimpi buruk tentang pemuda yang bernama Jaka itu?” 

“Iya, Mak. Aku bermimpi buruk… Buruk sekali… Aku bermimpi Rama Prabu tidak merestui hubungan kami dan hendak menghukum mati Kang Jaka” jawab Mega Sari sambil menangis sesegukan.

Emak Inah pun membelai bahu Mega Sari “Apa perasaan Gusti putri sebegitu mendalamnya kepada pemuda yang tak jelas asal-usulnya itu?”

Mega Sari mengangguk lemas, Emak Inah menghela nafasnya “Bukankah Emak sudah bilang kalau bibit-bebet-bobot calon jodoh kita harus jelas? Apalagi untuk jodoh seorang tuan putri seperti Gusti Putri Mega Sari”.

Mega Sari menaruh kepalanya di pangkuan Emak Inah “Tapi perasaan ini tak bisa aku bending apalagi aku hilangkan Emak, apalagi wajah kami begitu mirip, bukankah menurut orang tua kalau seseorang memiliki wajah dan fisik yang mirip dengan kita itulah jodoh kita?”

Emak Inah mengangguk perlahan “Itu benar Gusti, tapi bukankah masih ada seorang saudara seperguruan Gusti yang bernama Dharmadipa itu? Bukankah dia juga seorang Pangeran walaupun negerinya telah lama hancur? Mohon maafkan Emak, sebaiknya dalam keadaan Gusti yang sekarang, Gusti jangan terlalu berharap, bagaimana kalau Gusti putri melakukan apa yang disarankan Emak kemarin? Gusti kan sudah berhasil menguasai Ilmu Ngareh Jiwa seperti yang diinginkan Gusti Prabu, sekarang saatnya Gusti membuat Gusti Prabu senang dengan melaksanakan tugas-tugas Gusti Putri sebaik-baiknya”.

Mega Sari mengusut air matanya, “Kakang Dharmadipa memang lebih memiliki peluang, aku juga suka padanya, tapi… Oh kenapa aku bisa menyukai dua laki-laki sekaligus dan menginginkan mereka berdua menjadi pendampingku? Ya walaupun sejujurnya aku lebih menyukai Kang Jaka yang berwajah mirip denganku dan perangainya lembut…” 

Mega Sari lalu bangun dan menatap jauh keluar jendela “Emak benar, sebaiknya sekarang aku berusaha dulu untuk menyenangkan hati Ramanda Prabu”, Emak Inah mengangguk sambil tersenyum. Kereta hitam yang membawa mereka pun terus meluncur menembus kegelapan malam.


***


Pada suatu pagi, Jaka melihat Kyai Pamenang yang terus mengobati luka Dharmadipa, sebenarnya Jaka merasa sangat penasaran dengan apa terjadi ketika melihat gurunya datang dengan menggotong tubuh Dharmadipa yang terluka parah, tapi ia tidak berani menanyakannya. Kini ia mencoba memberanikan diri untuk menanyakannya “Apakah lukanya parah sekali guru?” Tanya yang tidak langsung masuk pada persoalan.

Kyai Pamenang mengehela nafas berat. “Iya, lukanya jauh lebih parah dari lukamu Jaka…” 

Kyai Pamenang lalu berhenti sejenak menatap luka didada Dharmadipa, Jaka tak berani membuka mulutnya “Aku terpaksa melakukannya Jaka, dia menyerangku dengan Aji Pukulan Sirna Raga, dengan kekuatan penuh, dengan nafsu membunuh! Dan semuanya berbalik padanya”.

Kyai Pamenang kemudian menaruh dedaunan obat setelah mengoles luka bakar di dada Dharmadipa dengan obat “Tanpa aku sadari, ajian Wahyu Takwa keluar dari tubuhku dan membentengi tubuhku, kemudian… Ahhh… Bagaimanapun dia muridku, anak angkatku yang kukasihi satu-satunya setelah perkawinanku dengan istriku tidak dikaruniai seorang anak… Tapi kelakuannya membuat aku lupa, barangkali aku yang salah, selama ini aku selalu memanjakannya, aku menyayanginya lebih dari yang lain, itu menyebabkan sifat buruknya sewaktu kecil makin parah”, Jaka pun terdiam, dia hanya membantu gurunya mengobati Dharmadipa.

Kyai Pamenang lalu menatap jauh keluar jendela. “Masih segar dalam ingatanku ketika aku pertama kali menemukan Dharmadipa, usianya masih sekitar 5 tahun kala itu, saat itu ia menangis memeluk jenasah ibunya yang telah meninggal, kemudian dengan nekat ia mengambil Keris pusaka milik ayahnya yang telah mati terbunuh prajurit gabungan Islam, matanya tajam menatap penuh dendam pada prajurit-prajurit yang telah membunuh ayah dan ibunya, matanya… 

Pancaran matanya menyala-nyala bagaikan api yang berkobar-kobar membakar kayu dan daun-daun yang kering, rajah Cakra Bisma di keningnya bagaikan bercahaya, saat itulah aku menolongnya, karena kasihan aku membawanya ke padepokan ini untuk kujadikan murid dan kuangkat ia menjadi anakku satu-satunya, aku beri ia ilmu pengetahuan agama Islam dan ilmu kesakitian lainnya, akan tetapi rupanya dendam itu telah terlanjur mengakar mendarah daging di tubuhnya, meskipun kini ia telah memeluk Islam, namun ia belum bisa melupakan dendamnya pada Prajurit-Prajurit Demak, Cirebon, dan Banten yang Islam itu, membuatnya setengah hati untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam… 

Dendam itu pulalah yang membuatnya labil serta senantiasa selalu terbelenggu hawa nafsu sehingga ia selalu melakukan perbuatan yang akan selalu disesalinya kelak… Sebagai orang tua dan gurunya aku selalu menasehatinya agar mengikhlaskan kehilangannya agar dendam yang memenuhi hatinya itu lenyap, tapi entah mengapa ia selalu tidak mengindahkannya, dan memilih untuk menderita sebab hatinya senantiasa selalu berat diliputi bara api dendam dan kebencian!”

Saat itu tiba-tiba Dharmadipa menggeliat-liat, di alam bawah sadarnya ia melihat Mega Sari tersenyum sambil memainkan rambutnya yang indah diatas sebuah gunung, ia lalu memanggil-manggil Dharmadipa “Kakang Dharmadipa, Kakang Dharmadipa ayo kemaarilah!”

Dharmadipa pun segera berlari ke puncak gunung itu. “Mega tunggu aku!”

Tetapi tiba-tiba datanglah Kyai Pamenang menarik tubuhnya dari belakang “Dharmadipa jangan! Jangan kau datangi Mega Sari!”

Dharmadipa terdiam berpikir setelah mendengar ucapan gurunya tersebut, tapi kemudian dilihatnya Mega Sari tersenyum manis sekali melambaikan tangannya “Kakang Dharmadipa, ayo kesini! Akan aku berikan seluruh jiwa ragaku untukmu!”

Dharmadipa pun menepis tangan Kyai Pamenang dan kembali berlari menuju ke puncak dimana Mega Sari berada, “Dharmadipa jangan!” cegah Gurunya sambil mengejar Dharmadipa.

Mega Sari tersenyum lagi pada Dharmadipa “Kakang, kau akan menikmati surga dunia begitu kau bersamaku!”

Kyai Pamenang pun melompat menahan tubuh Dharmadipa dengan sekuat tenaganya “Dharmadipa jangan! Itu godaan hidup!” cegahnya semakin keras.

Dharmadipa pun berbalik dengan marah pada Kyai Pamenang “Diam kau orang tua keparat!”, dia lalu mengeluarkan Aji Pukulan Sirna Raga untuk menyerang Kyai Pamenang, Kyai Pamenang pun terpental jatuh ke jurang setelah terkena pukulan dhasyat tersebut, melihat gurunya jatuh ke jurang, Dharmadipa pun seolah baru tersadar dan berteriak histeris “Guru!”. 

“Guruuuu!!!” teriak Dharmadipa di alam nyata tanpa sadar, Dharmadipa kembali sadar, ia merintih kesakitan dan kemudian membuka matanya, dengan menahan semua rasa sakit yang mendera tubuhnya ia melihat Kyai Pamenang dan Jaka Lelana sedang mengobati lukanya. 

“Dharmadipa! Dharmadipa!” panggil Kyai Pamenang.

Dharmadipa menganggkat kepalanya, ia terbatuk-batuk lalu muntah darah, Kyai Pamenang segera menotok beberapa titik di tubuh Dharmadipa, setelah itu ia mengurut bahu dan dada Dharmadipa, “Kenapa guru masih mau menolongku?”

Kyai Pamenang tersenyum lembut menatap wajah Dharmadipa yang kesakitan “Karena kau muridku… Kau anakku!”

“Tapi saya murid yang jahat… Anak yang durhaka… Saya tidak pantas hidup!” ucap Dharmadipa dengan penuh penyesalan ditengah rasa sakit yang menderanya.

Jaka menatap wajah Kakak seperguruannya dengan penuh rasa prihatin, dia bisa ikut merasakan kesedihan Dharmadipa dan Kyai Pamenang, dua orang yang paling dekat dengan dirinya, “Saya tidak bisa mengerti apa yang ada didalam sini saya, saya selalu kalah melawan hawa nafsu saya, hingga selalu melakukan perbuatan seolah diluar kesadaran saya yang akhirnya ketika saya tersadar kembali saya hanya bisa menyesalinya” lanjut Dharmadipa sambil menunjuk dadanya, ia lalu menangis tersedu-sedu.

Kyai Pamenang tersenyum sambil menyeka darah yang keluar dari mulut Dharmadipa tadi “Hanya orang-orang yang percaya kepada Allah yang mampu menekan hawa nafsunya, banyaklah berdzikir dan sembahyang, bacalah ayat-ayat suci Al-Quran dengan khusyuk, itu akan mencegah Iblis untuk membisikan nafsu kepada Qalbu kita, akan mencegah kita berbuat perbuatan jahat dan tercela”.

Dharmadipa menatap saya keatas langit-langit balairiung dengan tatapan kosong. “Sudah lama saya tidak pernah melakukannya”

Kyai Pamenang membelai kepala Dharmadipa. “Kenapa?”

Dharmadipa memegang dadanya “Sebab saya masih teringat bagaimana terbunuhnya ayah dan ibu saya dihadapan mata kepala saya sendiri! Nampaknya saya susah sekali mengikhlaskan kepergian mereka, itu juga yang membuat ibadah saya tidak pernah khusyuk”.

Kyai Pamenang menatap lembut mata Dharmadipa, tatapannya terasa sangat menyejukan hati “Dharmadipa… Dengar… Sampai kapan kau akan menaruh dendam yang hanya akan selalu memberatkan hatimu, membuatmu selalu dibelenggu oleh nafsu amarah? Ikhlaskan semuanya anakku, hanya itu satu-satunya cara agar Gusti Allah dapat mendengar semua doa-doamu… Insyaallah hatimu akan menjadi lapang dan kepalamu akan selalu dingin”.

Dharmadipa menghela nafas berat penuh penyesalan “Apa saya masih bisa menjadi orang baik dengan semua dosa yang telah saya lakukan?”

Kyai Pamenang mengangguk “Bisa… Asal kamu benar-benar punya niat, lakukanlah taubat nasuha… Anakku apakah kau ingat dengan cerita Abu Sofyan masuk Islam? Abu Sofyan adalah salah seorang pemimpin kaum Quraisy, ia telah banyak membunuh kaum muslim di Mekkah, tak terhitung perbuatannya yang menyakiti kaum Muslimin, beberapa tahun kemudian saat Kaum Muslim berhasil memenangkan perang dan masuk kembali ke Kota Mekkah, Abu Sofyan memohon ampun pada Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam, saat itu banyak kaum muslim yang mencibirnya, mereka mengira Abu Sofyan terpaksa masuk Islam sebab kalah perang, tapi Rasulullah memaafkan dirinya.

Rasulullah menyambut kehadirannya masuk Islam, bahkan Rasulullah memaafkan serta menyambut istrinya Abu Sofyan yang bernama Himdun yang telah membunuh pamannya Amir Hamzah masuk Islam, bahkan Rasulullah menegaskan bahwa dosa-dosa mereka berdua akan diampuni Allah setelah mereka berhijrah masuk Islam dan melakukan taubat nasuha, kemudian mereka menjadi hamba Allah yang shalih… Anakku, dari kisah tersebut kau mendapatkan contoh yang sangat baik bagaimana Allah akan selalu mengampuni dosa-dosa seluruh umatnya bagaimanapun besarnya dosa kesalahan yang diperbuat oleh umatnya, asalkan orang itu sungguh-sungguh berniat!”

“Oh Gusti…,” ratap Dharmadipa. Kembali ia menangis sesegukan dengan penuh rasa penyesalan.

“Sekarang beristirahatlah Dharmadipa, Jaka akan menjagamu disini, kalau kau mau memanggilku atau membutuhkan sesuatu, katakanlah pada Jaka” ucap Kyai Pamenang, Dharmadipa pun mengangguk lemas, Jaka pun ikut meresapi petuah dari gurunya pada Dharmadipa barusan, sungguh sebuah petuah yang bijak dan menyejukan hati dari gurunya itu.


***


Malam harinya, setelah shalat Isya, Kyai Pamenang dan Nyai Mantili mengumpulkan seluruh murid-muridnya baik pria dan wanita di balairiun padepokan, Dharmadipa yang masih sakit tergeletak di banjar balairiung itu pun ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Kyai Pamenang.

Kyai Pamenag menyapukan pandangannya kepada seluruh murid-muridnya yang duduk di bawah, kemudian ia mulai membuka pembicarannya “Aku melihat ada gejala-gejala yang kurang menyenangkan yang bakal terjadi saat menghadiri pentasbihan Panembahan Yusuf menjadi Sultan Banten kemarin, terutama kalau kecemburuan Mega Mendung kepada Banten yang kian besar menggeser peran Padjadjaran di Bumi Pasundan ini terus menerus dipupuk”

“Apakah kekuatan Mega Mendung sudah menyamai Banten Guru?” tanya Jaka. 

Kyai Pamenang tertawa kecil “Mega Mendung memang telah berkembang pesat sejak Padjadjaran mengalami kemunduran setelah ditinggal oleh Prabu Suriawisesa, setelah berhasil melepaskan diri dari Padjadjaran dan tidak terpengaruh oleh perkembangan Banten. Mega Mendung menjelma menjadi Negara yang besar seolah siap menggantikan peran Padjadjaran, akan tetapi menurut pengelihatanku perkembangan yang pesat ini tidak didukung dengan kemakmuran rakyatnya.

Pajak membumbung tinggi mencekik rakyatnya. Setiap tahun desa-desa di seluruh Mega Mendung harus mengirimkan pemuda-pemuda terbaiknya untuk dijadikan prajurit, para pandai besi dipaksa bekerja sangat keras untuk membuat persenjataan, dan yang paling disesalkan Prabu Kertapati seringkali bersikap tidak adil kepada penduduk-penduduknya yang telah memeluk Islam, para pejabat Istana yang memeluk Islam disingkirkan dengan cara halus, padahal sejak pemerintahan Prabu Wangsareja pendahulu Prabu Kertapati, Mega Mendung telah menerima dan mengizinkan Islam berkembang di wilayahnya, bahkan ia menyekolahkan Mega Sari di Padepokan ini untuk belajar Islam, tapi kebijakan pemerintahannya sanngat bertolak belakang dengan apa yang mereka janjikan dulu.

Pemerintahannya juga sangat memeras negeri-negeri bawahannya yang mereka tundukan melalui perang, pendek kata perkembangan Mega Mendung hanya pesat di bidang kemiliteran saja, sedangkan rakyatnya banyak yang kurang makmur terutama rakyatnya yang Islam banyak menderita, berbeda dengan Banten yang bukan hanya militernya yang berkembang pesat, tapi kemakmuran rakyatnya pun sangat tinggi, hingga tidak salah kalau Banten disebut-sebut sebagai penerus Padjadjaran” jelas Kyai Pamenang.

“Mengapa hal demikian bisa terjadi Guru?” tanya Kadir.

Kyai Pamenang tersenyum menatap Kadir “Wibawa… Pengaruh yang memancar dari Panembahan Yusuf sungguh berbeda dengan dengan Prabu Kertapati yang memerintah negeranya dengan tangan besi, senang mengobarkan perang, dan bertindak tidak adil pada rakyatnya… Sementara Banten sejak jaman Sultan Hassanudin sangat asih kepada seluruh rakyatnya, mereka tidak membeda-bedakan agama rakyatnya, semuanya mendapatkan perlakuan sama, bahkan kepada kaum pemeluk ajaran leluhur pun Sultan tidak mau menganggunya, mereka bebas menjalankan ibadahnya masing-masing, hingga hasil bumi mereka berlimpah ruah, perdagangan mereka sangat maju, rakyat makmur, negerinya Gemah Ripah Repeh Loh jinawi”.

“Mengapa Prabu Kertapati berlaku demikian guru?” tanya Jaka.

“Dendam dan iri hati… Nafsunya untuk menguasai tahta Padjadjaran, itulah yang membuatnya menerapkan kebijakan pemerintahannya seperti sekarang ini, sedangkan wibawa, pengaruh, dan kecerdasan yang memancar dari Panembahan Yusuf, putra sulung Almarhum Sultan Hassanudin, apa yang sudah ia lakukan dari sejak sebelum menjadi Sultan sampai sekarang ia menjadi Sultan sangat cerdas dan mampu meraih hati seluruh rakyatnya, berbeda dengan Prabu Kertapati yang sepak terjangnya selalu membuat rakyatnya kalut dan ketakutan” jawab sang Kyai.

Dia lalu menatap seluruh muridnya. “Aku tidak mengatakan bahwa pemerintahan Mega Mendung telah kehilangan kewibawaannya atau Wahyu Keratonnya lenyap, akan tetapi kalau Prabu Kertapati ataupun penerusnya kelak masih menerapkan pemerintahannya seperti yang sekarang ini, maka bukan tidak mungkin kalau semua rakyatnya dan negeri-negeri bawahannya yang telah mereka tundukan melalui peperangan akan berpaling dan memihak Banten, kalau sampai itu terjadi, peperangan pasti tidak bisa dihindarkan”.

Seluruh murid-murid termasuk Dharmadipa yang tergeletak di banjar merenung mendengarnya, Sang Kyai pun melanjutkan “Kenapa hal ini aku sampaikan kepada kalian? Agar kalian bisa menentukan sikap!”

Jaka segera mengajukan pertanyaannya lagi, “Maaf guru kalau sampai peperangan itu terjadi, pihak mana yang harus kita pilih?”