Episode 197 - Tiga Pelanggaran



?Hamparan rawa-rawa seluas dan sejauh mata memandang. Tumbuhan ekor kucing, rumput purun kudung, paku air, bakung, rumput teki, kelakai, jingah, rukam, kangkung, genjer, dan berbagai jenis bakau. Sebut saja nama-nama tumbuhan yang biasa hidup di wilayah rawa, maka pastilah akan terlihat tumbuh subur di tempat ini. Bahkan lengkungan kaki langit terlihat berwarna kehijauan. 

Suasana siang ini sangatlah teduh, karena matahari terhalang Ibukota Rajyakarta yang melayang tinggi di atas sana. Sungguh cocok untuk berplesir bersama kerabat keluarga, sahabat karib, atau mungkin kekasih hati. 

Seorang anak remaja menggeretakkan gigi. Bahkan setelah sejumlah teleportasi jarak dekat, dirinya masih saja kesulitan melepaskan diri dari pengejaran para ahli di belakang. Selain karena kesemuanya sudah berada pada Kasta Perak sehingga memiliki kecepatan, dirinya tiada dapat berpijak pada tanah untuk berlari. Tanah adalah komoditas mahal dan langka di tempat ini. 

Bintang Tenggara mendongak ke atas. Kali ini sedikit kecewa dengan tindakan terdesak Sang Maha Patih yang mengangkat bongkahan tanah tinggi ke langit sana. Akan tetapi, tentu ia menyadari bahwa tindakan tersebut diperlukan untuk menyelamatkan ibukota baru, sekaligus puluhan juta penghuninya. 

Apa pun itu, Bintang Tenggara menyadari bahwa Mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 9 di ulu hatinya, terus terkuras karena teleportasi jarak dekat dari jurus Silek Linsang Halimun. 

Bintang Tenggara melempar Segel Penempatan. Dalam sekali lempar, ia menebar sembilan segel dengan pola tiga berjajar dan tiga berbanjar. Jarak antara satu Segel Penempatan dengan yang berikutnya terpaut sekira 20 meter. Dengan cara ini, anak remaja tersebut memiliki sejumlah pilihan agar tak disergap oleh lawan yang menyebar dan tiada henti berupaya. 

“Krak!” 

Seorang lawan yang menerkam ke arah Bintang Tenggara tetiba kaku di udara, lalu jatuh tiada berdaya ke rawa-rawa. Selang beberapa detik kemudian, barulah lawan tersebut termegap-megap berupaya meraih udara segar. Ia merupakan salah perompak yang menjadi korban Segel Petir yang ditebar bilamana ada pengejar mendekat. Meski seringkali dapat dihindari, setidaknya tujuan menghambat pergerakan lawan dapat dicapai.

“Cih! Anak ini cukup sulit ditangkap!” 

“Saat ini, regu patroli dari Ibukota pasti telah tiba di gardu jaga gerbang dimensi…”

“Kita tidak punya banyak waktu!” 

Para perompak merangsek serempak. Kesemuanya, terlepas dari apa unsur kesaktian apa yang mereka miliki, menguasai berbagai jurus meringankan tubuh yang sangat baik. Sebagaimana diketahui, ahli Kasta Perak memiliki kemampuan melayang di udara, walau memanglah belum bisa melesat terbang sebagaimana ahli Kasta Emas. Meski demikian, kemampuan melayang yang dikombinasikan dengan jurus meringankan tubuh, menghasilkan gerakan yang sangatlah ringkas. Terlebih lagi mereka telah terlatih sebagai bandit rawa. 

“Apa itu!?” Tetiba Bintang Tenggara menunjuk jauh ke belakang, di kala sedikit lagi hendak kena sergap. 

“Bocah! Kau kira kami siapa!?” 

“Tipuan rendahan!” 

“Eh!?” Salah satu dari anggota perompak yang menoleh ke belakang terpana. 

“Gawat!” 

Di kala perhatian gerombolan perompak rawa sedikit teralihkan, Bintang Tenggara segera melakukan teleportasi jarak dekat. Bilamana tersedia kesempatan, segera manfaatkan. Demikian hasil pengalaman melarikan diri yang selama ini mengajarkan kepada dirinya. 

Terlepas dari itu, Bintang Tenggara bertanya-tanya: apakah gerangan yang membuat gerombolan perompak yang mengejar berubah menjadi demikian waspada…?

Di kejauhan, terlihat sesuatu melesat deras membelah rawa. Kecepatannya sungguh luar biasa, sampai-sampai membuat tumbuhan rawa dan air berlumpur di belakang lintasannya terlihat berhamburan tinggi ke udara. Samar-samar, terlihat seseorang yang berdiri ibarat memasang kuda-kuda di atas sesuatu. 

Tak perlu waktu lama bagi siapa pun itu untuk tiba di antara Bintang Tenggara dan gerombolan pengejarnya. Akan tetapi, karena kecepatan yang demikian tinggi, ia melintas melewati mereka. Sontak, Bintang Tenggara melompat mundur demi menghindar dari semburan tumbuhan rawa dan air berlumpur. Beberapa perompak yang terlambat bereaksi, terlihat kuyup dan kotor, dan sebal. 

Menyadari bahwa tak sengaja melewati sasaran, sosok tersebut akhirnya memutar dan kembali dengan kecepatan sedang. Ia pun tiba di antara Bintang Tenggara dan gerombolan perompak. 

Kini, Bintang Tenggara dapat mencermati seorang ahli yang menaiki semacam sampan kecil yang berselancar di atas air. Sesungguhnya, tak layak disebut sebagai sampan, karena tiada memiliki bagian sisi di kiri dan kanan untuk mencegah masuknya air. Diperhatikan dengan seksama lagi, maka benda yang dinaiki itu adalah selembar daun tebal yang berukuran raksasa!

Bintang Tenggara terpana. Akan tetapi, bukan karena ukuran daun nan sebesar sampan. Bukan. Ia terpana karena menyaksikan sosok yang menaikinya. Tubuhnya besar tinggi, kekar berotot. Rambutnya dipangkas cepak ibarat prajurit. Ia bertelanjang dada, dan pada tangan kanan sebuah kampak besar erat digenggam. 

Bukankah tokoh ini mirip dengan seseorang!? batin Bintang Tenggara. Terlalu mirip, malah…

Tokoh tersebut mulai membaca situasi. Ia menatap ke arah Bintang Tenggara, lalu ke arah gerombolan perompak. Dahinya berkerut. 

“Kalian…” Tetiba ia menunjuk kepada gerombolan perompak menggunakan kapak nan besar. 

Gerombolan perompak sontak mundur beberapa langkah. Waspada sekali gelagat mereka. Bukan hanya waspada sesungguhnya… Sorot mata setiap satu dari mereka, terpancar seberkas rasa takut. 

“Kalian…” Ia terlihat sedikit ragu. ”Kalian adalah… pahlawan bertopeng!” 

“Hah!” Bintang Tenggara terkejut bukan kepalang. Pertama, sepintas pandang dari penampilan saja sudah dapat diketahui bahwa sepuluh ahli tersebut merupakan perompak. Kedua, yang mereka kenakan adalah lilitan kain yang membungkus kepala, bukanlah topeng! 

Tak kalah terkejut, adalah gerombolan perompak. Jikalau bukan persoalan hidup dan mati, mungkin kesemuanya akan jatuh terjengkang, meski sedang melayang, saat mendengar disebut sebagai pahlawan bertopeng. Bagaimana mungkin ahli yang paling mereka takuti adalah demikian lugu!?

“Janganlah berpura-pura terkejut, wahai bocah licik!” Ia menyergah kepada Bintang Tenggara. 

“Salah paham!” teriak Bintang Tenggara. Di saat yang sama, ia membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Persediaan tenaga dalam harus segera terisi penuh!

“Wahai, para pahlawan bertopeng…” Ia mengabaikan Bintang Tenggara. “Terima kasih diriku ucapkan kepada kalian yang berupaya membekuk buronan itu.” Kini ia bahkan menjura layaknya para pendekar kebanyakan, memberi hormat kepada kesepuluh perompak. 

“Akan tetapi, izinkan diriku mengambil alih tugas membekuk penjahat nan keji ini. Adalah kewajiban sebagai abdi negeri untuk menegakkan keadilan.” Ia mengangkat kampak tinggi ke udara. 

“Laskar Segantang tiada akan lalai melaksanakan tugas, meski harus berkorban jiwa dan raga!” 

“Laskar Segantang…?” gumam Bintang Tenggara gusar. 

Bilamana perkiraan anak remaja tersebut akan jati diri tokoh ini tiada meleset, maka keadaan bisa berubah genting. Di dalam dunia persilatan dan kesaktian, perilaku Panglima Segantang saja sudah sangat membahayakan, apalagi abangnya!

Laskar Segantang melayang ringan. “Daun Selancar… Ragam Tempur!” Terdengar ia berucap pelan. Lembar daun raksasa di bawah kakinya bergetar pelan, seperti baru saja menerima sebuah perintah. 

“Swush!” 

Hanya dengan satu lompatan, Laskar Segantang tiba di hadapan Bintang Tenggara! Di saat yang sama, ia mengepalkan tinju lengan kiri dan melesakkan tepat ke arah dada sasaran!

Bintang Tenggara sudah sepenuhnya dapat menebak bahwa pertarungan satu lawan satu akan segera berlangsung. Dengan mengaktifkan Sisik Raja Naga, anak remaja itu menyilangkan kedua lengan membentengi dada. Di saat tinju mendarat, ia memanfaatkan tenaga pukulan untuk melontarkan diri jauh ke belakang. 

Akan tetapi, di luar perkiraan Bintang Tenggara, di saat Laskar Segantang melompat tadi, Daun Selancar juga mengikuti. Oleh karena itu, di saat tiba di hadapan Bintang Tenggara, lelaki dewasa muda itu sudah disambut oleh benda pusaka miliknya. Kini ia kembali berselancar, dan merangsek deras ke arah si tertuduh pembunuh keji!

Bila dituliskan menggunakan kata-kata, rangkaian kejadian ini seolah biasa-biasa saja. Akan tetapi, pada kenyataannya berlangsung sangatlah cepat sekali. 

Segel Penempatan kembali menyebar. Bintang Tenggara melenting-lenting cepat. Meski demikian, Daun Selancar jauh lebih cepat lagi. Tak berselang lama, Laskar Segantang sudah tiba, dan kini mengayunkan Kampak Keadilan ke arah anak remaja itu. Sungguh serangan nan tak pandang bulu, walau hanya berhadapan dengan ahli Kasta Perunggu. 

“Duak!” 

Perisai Tunggul Waja menahan gempuran Kampak Keadilan. Di saat tubuhnya terguncang, barulah Bintang Tenggara menyadari betapa besarnya bilah kampak tersebut. Lebarnya saja, hampir separuh tinggi tubuh anak remaja tersebut! Kekuatan hantaman pun tiada dapat diungkapkan. Gampangnya, Bintang Tenggara menyadari bahwa ini adalah kali pertama dirinya merasakan kekuatan raga yang sedemikian besar. 

Kekuatan ini berkali lipat dari hantaman parang Panglima Segantang!

Bintang Tenggara kembali melontarkan tubuh dengan memanfaatkan dorongan tebasan kampak. Biasanya, skenario ini membuat dirinya semakin jauh memisahkan jarak dengan lawan. Sudah banyak lawan yang mengutuk kepada taktik ini. Namun demikian, saat ini sia-sia belaka. Kecepatan dan keserasian gerakan Ragam Tempur dari Daun Selancar dengan si pemiliknya sangatlah tinggi. 

Sebagai benda pusaka, Daun Selancar tersebut sudah ibarat kaki tambahan bagi Laskar Segantang. Sungguh gerakannya sangat tangkas dan menutupi kekurangan dalam bertarung di rawa-rawa. 

“Mohon maaf, diriku meremehkan dikau…,” ujar Laskar Segantang. “Selayaknya, diriku wajib bertarung dengan sepenuh hati!” 

Bahaya! batin Bintang Tenggara. Lawan sebentar lagi berubah serius. Dalam keadaan ini, bukanlah murid Komodo Nagaaradja itu tak hendak meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Namun, dirinya yakin dan percaya bahwa tindakan tersebut hanya akan membuang-buang air liur saja. Sosok Laskar Segantang ini dipastikan berkepala batu!

“Kampak Naga, Gerakan Pertama: Cakar Menyayat Rimba!”

Bagus! keluh Bintang Tenggara. Bilamana jurus Kampak Naga ini senada dengan jurus Parang Naga milik Panglima Segantang, maka sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi berikutnya… Tenaga dalam murni akan mengeras, menjadi bilah tambahan bagi senjata tajam yang dikerahkan. Semakin bertambah lebarlah kampak besar itu nanti. 

Benar saja. Lebar bilah mata kampak kini hampir setara dengan tinggi tubuh Bintang Tenggara! 

“Duak!” 

Kembali Bintang Tenggara terlontar jauh. 

“Lawanmu berat. Ia berada pada Kasta Perak Tingkat 5,” gerutu Komodo Nagaradja. “Namun demikian, bukan berarti tiada bisa diimbangi.”

“Maksud Super Guru….?”

“Simpan perisai itu, dan panggil golok Mustika Pencuri Gesit. Manfaatkan jarak, hadapi dari jauh!”  

Kehabisan akal karena menyadari bahwa tiada mungkin melarikan diri dari kecepatan Daun Selancar, Bintang Tenggara menuruti sang Super Guru. Ia segera merapal puisi pemanggilan. Tak lama, sebuah lorong dimensi ruang berpendar. Sebentar lagi, Dewi Anjani akan keluar, kemungkinan besar dengan cara merayap…

“Srek!” 

Tetiba selembar kertas melesat cepat dari balik lorong dimensi ruang. Kertas tersebut lalu melayang-layang ringan dan jatuh di atas telapak tangan Bintang Tenggara. Apakah gerangan…? 

Bintang Tenggara mulai membaca:

‘Sedang berlatih bersama Panglima Segantang di Istana Danau Api. Silakan hubungi kembali dalam waktu setengah jam. (Tertanda: Yang Cantik Jelita Dewi Anjani) (Catatan: Sampaikan salam kecup kepada Komodo Nagaradja)’

Bintang Tenggara meremas kertas berisi pesan tiada bermanfaat tersebut, dan membantingnya ke rawa-rawa. Betapa kesalnya ia. Keadaan ini seolah-olah mengatakan bahwa Panglima Segantang berada di pihak abangnya. Dia sengaja memanggil Dewi Anjani terlebih dahulu, agar aku tiada dapat bertarung menggunakan golok Mustika Pencuri Gesit! 

“Duak! Duak! Duak!” 

Putra kedua Mayang Tenggara itu dipaksa menahan gempuran serangan bertubi-tubi. Ia kembali mengeluarkan Perisai Tunggul Waja. Bila diingat-ingat, beruntung sekali dirinya bepergian bersama Kakak Poniman ke Gunung Candrageni tempo hari. Pencarian Kantung Semar Merapi malah berbuah manis. Andai saja anak remaja itu mengetahui bahwa Poniman jugalah yang tersalah dengar, sehingga tanpa sengaja mengirimkan dirinya ke tempat ini… Bilamana mengetahui, maka kemungkinan ia akan mengutuk seluruh tokoh berambut poni di muka bumi ini.

“Duak! Duak! Duak!” 

Kampak Keadilan menebas membabi-buta. Bintang Tenggara menjadi bulan-bulanan serangan lawan. Ia hanya bisa bertahan. Meski kedua lengan dibalut Sisik Raja Naga dan mengerahkan Perisai Tunggul Waja secara bersamaan, kekuatan lawan terlalu digdaya. Ia merasakan kedua lengannya mulai kelelahan. Setiap pukulan menyebabkan rasa seperti kesemutan yang perih. Semakin lama lagi, maka ia akan kalah, bahkan kemungkinan kehilangan nyawa! 

Laskar Segantang dan Bintang Tenggara telah terpisah jarak sangat jauh dari segerombolan perompak. Grombolan tersebut juga tiada menyusul. Sepertinya, mereka yakin dan percaya telah kehilangan buruan hari ini. Pasrah mereka ketika buruan diambil paksa oleh prajurit bertubuh bongsor tersebut. 

Kemungkinan besar para perompak telah menggulung benang.

“Malang sekali,” gerutu Komodo Nagaradja. 

“Sekarang bagaimana, Super Guru!?” 

“Simpan perisai itu, dan keluarkan Tempuling Raja Naga. Hadapi dari depan!”  

Setelah kehabisan akal, kini Bintang Tenggara kehabisan kata-kata. Ia tiada pasti bahwa pertarungan berat sebelah ini dapat diselesaikan dengan kemenangan dirinya. Bertahan hidup saja, mungkin sudah sebuah keberuntungan. 

Meskipun demikian, Bintang Tenggara tetap mengeluarkan senjata andalannya. 

“Apakah itu!?” hardik Laskar Segantang. “Tempuling!?”

Bintang Tenggara diam mengamati lawan.

“Lancang!” Lawan tersebut kemudian berubah berang. “Tempuling adalah senjata sakral nan mulia milik para lamafa. Engkau hanya akan mencoreng arang di atas nama besar mereka. Hukuman sepuluh kematian pun tiada akan mencukupi demi menebus kejahatan-kejahatan yang engkau perbuat!” 

“Orang gila!” teriak Bintang Tenggara, kini kehabisan kesabaran. “Sejak awal dikau menuduh tanpa bukti!”

“Kau berani bersuara rupanya!?”

“Tahukah dikau siapa diriku ini!?”

“Pembunuh nan keji. Dan kini hendak merusak nama baik para lamafa!”

“Bintang Tenggara! Sang Lamafa Muda! Putra Perguruan dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa! Itulah jati diriku!” 

Akibat perseteruan dengan Maha Guru Sanata dan Empu Wacana, Bintang Tenggara mulai menyadari betapa nama baik sangatlah penting di dalam dunia persilatan dan kesaktian. Betapa Maha Guru Segoro Bayu dapat dengan mudahnya menaklukkan kedua tokoh tersebut, hanya dengan mengungkapkan jati diri. 

“Bintang Tenggara…?” Laskar Segantang tertegun. Ia berupaya mengingat-ingat akan sesuatu. 

“Sudah mengertikah dikau…?” hardik Bintang Tenggara.

“Beberapa pekan lalu pada perkumpulan keluarga, adikku Panglima Segantang banyak berceritera tentang sahabat karibnya yang bernama Bintang Tenggara.” Laskar Segantang menyipitkan mata ke arah Bintang Tenggara. “Sedangkan enggau… Engkau sama sekali tiada menyerupai Bintang Tenggara yang asli!”

“Apa!?” 

“Kejahatanmu bertambah menjadi tiga! Setelah membunuh para prajurit, mencoreng nama baik lamafa, kini engkau mengaku-ngaku sebagai ahli lain!” Laskar Segantang mengangkat kampak dan menggunakannya untuk menunjuk ke arah si anak remaja. 

Bintang Tenggara menganga. Saking lebarnya, dagunya seolah menyentuh perut. Jangankan menanggapi tuduhan akan tiga pelanggaran dari abdi negeri itu, kini bernapas saja sesak rasanya.