Episode 72 - “Menghubungkannya dengan...”



“Rini!”

“Ya, apa kau mau pesan yang lain?”

“Enggak. Aku cuma mau tanya, memangnya yang dilakukan oleh Penjaga Keamanan itu apa sih?”

Pertanyaan yang aneh yang ditanyakan oleh Penjaga Keamanan itu sendiri, meskipun begitu Rini tak menganggapnya sulit untuk dimengerti dan dia mencoba menjelaskan dari apa yang dia ingat dari festival tahun lalu.

“Emm, biar kuingat-ingat lagi. Mereka berkeliling, mengawasi sekitarnya, terkadang mereka juga ikut menikmati festival, dan... mm, yah semacam itulah. Tapi apa sih yang harus dijaga di dalam festival yang selalu damai ini?”

Itu terdengar seperti hanya murid biasa dengan beban yang sedikit berbeda dari yang lain. Rian tak bisa memungkiri apa yang dikatakan sahabatnya di akhir kalimat. Meskipun begitu ada satu lubang yang secara tidak sadar tidak diketahui oleh semua orang, dan dia harap anggota Penjaga Keamanan mengetahui hal itu.

“Loh udah mau pergi?”

Di saat Rini telah menjawab pertanyaan Rian, di saat itu juga dia melihat Rian bangkit dari tempat duduknya untuk beranjak pergi dari kafe.

“Ya, soalnya aku gak mau dianggap pemalas karena terus-terusan berada di sini.”

“Hmm, iya juga.”

“Oh iya, kopi itu berapa?”

Rian mendekat pada Rini dan menanyakan harga dari kopi yang disajikan padanya sebelumnya.

“Eh, kan udah kubilang kopi itu gratis untuk mengawali pekerjaanmu. Udah gak usah dipikirin.”

“Tapi kan...”

“Sudahlah!”

Rini yang tak ingin Rian benar-benar membayar kopi yang dia minum mencoba mendorong Rian ke luar kafe. Dan saat dia berhasil melakukannya dia juga menanyakan sesuatu mengenai sahabat perempuannya.

“Oh iya, kudengar Euis jadi ketua panitia drama tahun ini ya?”

“Ya begitulah.”

“Enaknya bisa jadi seseorang di balik layar. Hmm? Apa yang kau tunggu, ayo pergi bertugas sana.”

Rini mengusirnya dengan lembut, bermaksud agar Rian tak lagi mengangkat pembicaraan tentang kopi yang dia minum sebelumnya.

Rian yang telah benar-benar diusir dari kafe berjalan keluar, mengamati keadaan sekitar. Sangat damai dan hanya ada keceriaan dari para penikmat festival. Dia sama sekali tak harus meningkatkan kewaspadaannya di situ, karena semua orang terlihat dan memiliki rasa harus saling menjaga satu sama lain.

Meskipun begitu masih ada satu hal yang menjanggal di hatinya. Dia mengamati sekitar sekali lagi, dan tak menemukan satupun anggota Penjaga Keamanan dari jurusan TKR.

“Ke mana.. mereka semua?”

Dia bertanya pada dirinya sendiri sambil berjalan mengelilingi halaman utama sekolah – lokasi festival diadakan. Dan dia benar-benar tak menemukan, kecuali satu orang di antara mereka. Itu adalah murid laki-laki yang terakhir kali berbicara dengannya.

“Yo, ketua!”

Dia sedang duduk di tengah-tengah halaman utama, yang mana berdiri dengan kokoh pohon jati raksasa yang besarnya tak kalah dengan bangunan di sekitarnya.

“Ada apa, kok situ kelihatan bingung begitu?”

Anggotanya yang memiliki perawakan santai dan sayu itu memegang satu buah permen kapas di tangan kanannya. Duduk dengan menyandarkan tangan kiri ke dinding kecil setinggi satu meter yang melingkari pohon jati.

“Ke mana yang lain?”

“Oh itu, tentu saja ya, mereka sedang melaksanakan tugasnya.”

Mendapati jawaban seperti itu, Rian sekali lagi mengamati sekitarnya. Dan yang dia dapatkan selanjutnya adalah perkataan yang cukup mengejutkan yang menyebut nama sahabatnya.

“Mereka tak sedang berada di sekitar sini. Seperti yang sudah kau rasakan sendiri, halaman utama ini bukanlah tempat yang harus kita jaga dan awasi. Melainkan seluruh sekolah yang mana mungkin saja akan ada beberapa murid yang melakukan sesuatu hal yang aneh. Memang hal yang cukup sulit untuk dilakukan, tapi berkat pengarahan – atau bisa kusebut suruhan dari ketua sebelumnya, hal itu menjadi mungkin untuk dilakukan.”

“Ketua sebelumnya...?”

“Ya, kau pasti tahu siapa bukan.”

Rian tak mungkin tak tahu siapa yang dimaksud oleh seorang di depannya. Hal itu pula membawa suatu perasaan yang membuat wajahnya menjadi khawatir.

“Hei sudahlah, jangan risau begitu. Lebih baik duduk di sini. Oh iya, situ belum tahu cara kerja tugas ini ya?”

Rian dibuat penasaran oleh pertanyaannya yang satu itu.

“Ya, begitulah, tapi sebelum itu, bisa kutanya hal lain.”

“Ha, apa tuh?”

“Aku belum tahu namamu.”

Lawan bicaranya mendadak menjadi diam, lalu tertawa dengan sedikit lembut yang menandakan sikap kesayuannya.

“Iya-iya, kita sudah bicara sejak awal bertemu. Tapi aku sama sekali belum memberitahu namaku ya. Maaf-maaf.”

Lawan bicaranya berbicara dengan menahan tawa. Dan sebelum mengucapkan namanya, dia lebih dulu mengulurkan tangan yang Rian tahu maksudnya apa.

“Namaku Gugun Setiawan. Salam kenal, Ketua.”

“Riansyah Hasibuan. Salam kenal.”

Mereka berdua berjabat tangan sambil memberitahu nama satu sama lain. Setelah selesai berjabat tangan mereka kembali ke kondisi yang lebih santai. Gugun yang telah menghabiskan permen kapas miliknya membuang gagangnya tepat ke arah keranjang sampai yang berada sedikit jauh dari jaraknya.

“Aahh, iya aku ingat sesuatu. Kalau tidak salah situ adik ipar dari Ibu Afita kan?”

“Ya begitulah, abangku menikahi Kak Afita dua tahun yang lalu.”

“Hmm, enak juga ya punya kerabat yang bisa mengawasimu di sekolah.”

Itu bukanlah apa yang benar-benar dimaksud oleh Gugun, karena memiliki seorang kerabat di dalam sekolah itu berarti kebebasanmu bersikap benar-benar diawasi. Dan untuk orang-orang seperti Gugun yang memiliki sifat nakal tertentu tentu saja bukanlah hal yang baik.

“Ya, begitulah.”

Namun Rian tak merasa harus merasa seperti yang dirasakan oleh orang-orang seperti lawan bicaranya.

“Kau bilang tadi kalian punya cara tersendiri dalam mengawasi seluruh sekolah bukan.”

“Oh iya, tentang itu.”

Gugun menyibakan rambut yang menutupi telinga bagian kirinya, tempat di mana sebuah headset terpasang. Itu bukanlah sekedar headset, karena ada sebuah sambungan yang menyambung ke kerah bajunya.

“Ini adalah alat komunikasi yang diberikan sekolah agar kita dapat menjalani tugas dengan baik. Dan ya, kayanya kau gak dapet ya.”

“Ya, aku sama sekali gak diberi satupun.”

“Hmm, kupikir milikmu seharusnya ada sama ketua yang dulu. Kau yang menggantikannya sekarang kupikir punya.”

Dugaan dari lawan bicaranya mengingatkan Rian akan sesuatu, kalau mereka tak mengetahui alasan kenapa dia bisa berada di situ untuk menggantikan tugas seseorang.

“A, tunggu sebentar. Ada apa?”

Lawan bicaranya tampak sedang menerima komunikasi dari seseorang yang juga memakai alat yang sama. Rian pun membiarkannya berkonsentrasi untuk menerima panggilan.

“Ya, ketua ada sama aku. Memangnya kenapa? Goblok, ya jangan diganggu lah. Iya, tapi dia gak punya alat itu, kenapa katamu? Mana kutahu! Jadi ketua, gimana kau bakal berkolaborasi dengan kami kalau kau gak punya alat ini?”

“Entahlah.”

Merasakan tekanan yang cukup berat datang dari dirinya sendiri, Rian menyandarkan tubuhnya dengan kedua tangan berpegangan pada tembok. Melihat ke arah langit biru yang sangat mendukung jalannya festival.

“Katakan di mana tempat yang tak kalian awasi.”

“Hmm, kupikir hanya satu tempat yang tak pernah kami coba untuk awasi.”

“Di mana itu?”


Rian yang telah mendapatkan tujuan yang akan dia lakukan untuk melaksanakan tugasnya pergi dari festival. Memang hal itu akan membuatnya tak bisa bersenang-senang dalam festival terakhir di mana dia bisa berpartisipasi di dalamnya, meskipun begitu dia sudah cukup senang karena dia bisa menjalankan tugasnya agar semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

Duduk di kursi taman yang mengarah ke arah utara wilayah sekolah, wilayah itulah yang sedang berada dalam pengawasannya. Setelah mendengar dari Gugun kalau saat mereka bertugas dengan Bagas sebelumnya, mereka dilarang untuk pergi ke wilayah utara.

Rian ataupun Gugun sendiri tak mengerti atau diberitahu kenapa mereka tak boleh melakukannya. Apa itu karena keadaan di situ begitu damai dan takkan ada yang terjadi meskipun mereka mengawasinya?

Rian masih mencari jawabannya. Duduk dengan beberapa bekal yang dia dapat di saat dia berjalan menuju ke tempat itu, membawa dua buah buku untuk menghabiskan waktu luangnya, suasananya benar-benar damai. Tak seperti di beberapa tempat tertentu yang bukan lokasi festival.

Tak jauh dari tempatnya, berdiri dengan kokoh sebuah bangunan tempat jurusan TKJ melakukan praktik pelajaran, Laboratorium Komputer. Memandangnya dengan tenang, Rian hampir mendapatkan sebuah kesimpulan dari apa yang dilarang Bagas sebelumnya.

“Tempat di mana barang-barang yang bila dijumlahkan adalah barang-barang paling mahal diletakkan. Apa itu maksud dari laranganmu, Bagas?”

Kalau persepsi yang dia dapat memang seperti yang dimaksudkan, maka sama sekali takkan sia-sia pengorbanan yang akan dia lakukan. Tak menikmati jalannya festival untuk melindungi hal berharga milik sekolah, menjadi kebanggaan tersendiri baginya.

“Tapi ya, lumayan disayangkan kalau aku benar-benar tak bisa menikmati festival terakhir tahun ini.”

Rian hampir menyayangkan apa yang baru saja dia pikirkan, tetapi dia tak begitu saja menyesali apa yang diperbuatnya. Mengalihkan semua pikiran negatifnya dengan membaca buku, segalanya menjadi lebih tenang. Bahkan sampai dia tak menyadari apa yang terjadi di tempat yang berusaha untuk dia jaga itu.

***

Dua hari telah berlalu semenjak dimulainya festival untuk merayakan hari jadi sekolah. Dan itu adalah hari terakhir, hari ketiga di mana semua orang dapat menikmati jalannya festival.

Meskipun merupakan hari terakhir, justru di hari itulah keadaannya menjadi lebih ramai dari biasanya. Dikarenakan ada beberapa agenda istimewa yang dilaksanakan. Seperti lomba kostum daerah paling indah yang dilaksanakan di ruangan utama sekolah, ataupun konser yang diadakan di pojok gedung dua di halaman utama.

Terlebih lagi di sore hari, akan ada drama istimewa yang dilakukan oleh anak-anak dari klub drama sekolah. Dan yang terakhir adalah, agenda berkumpul bersama satu sekolah di waktu festival telah berakhir yang dilakukan di malam hari.


Di saat matahari hampir berada di ujung horizon yang membuat setengah dari bagian langit berwarna jingga, sebuah kejadian cukup mengerikan terjadi. Asap hitam muncul dari suatu di tempat dari arah utara. Orang-orang yang kebetulan mengarah ke arah tersebut terlambat menyadari asap itu yang dalam beberapa saat saja sudah mengepul menjadi lebih lebat.

Mereka yang pertama kali melihatnya mulai heboh dan penasaran; apakah itu merupakan bagian dari agenda acara sekolah?

Tidak, itu sama sekali bukan suatu agenda acara yang dilaksanakan dalam festival. Seluruh anggota keamanan sangat tahu hal itu, lalu dengan sangat tanggap mereka yang terpencar-pencar berlari dengan kencang menuju tempat kejadia. Menyadari kejanggalan yang mungkin saja melibatkan ketua dari kelompok mereka.


Di dalam gedung satu ruangan utama yang baru saja menyelesaikan salah satu agenda yang dilaksanakan. Semua orang yang belum menyadari kejanggalan tersebut dikagetkan oleh teriakan dari seseorang.

“Woi ada kebakaran di laboratorium komputer!”

Teriakan itu mengagetkan seluruh orang yang ada di dalam ruangan. Bahkan hal itu membuat bulu kuduk dari seorang pemeran di atas panggung berdiri tegak, membuatnya berlari karena mendapatkan firasat yang sangat buruk.


Di dalam laboratorium yang sedang dalam keadaan diselimuti oleh api membara. Seorang murid laki-laki berdiri dengan berpegangan pada dinding yang terbakar. Tangannya diselimuti oleh jas praktikum miliknya agar tangannya tak merasakan panas.

Dibawahnya terduduk dengan lemah dua murid perempuan yang sangat ketakutan dengan apa yang bisa saja terjadi dengan mereka. 

Punggung yang dia jadikan pelindung bagi dirinya dan dua orang dibawahnya telah lumayan parah karena terkena percikan dan beberapa bagian dari kayu yang retak dan terjatuh ke bawah. Nafasnya sangat berat karena menahan panas dan juga rasa sakit.

Kacamata yang dia gunakan juga telah hilang entah ke mana. Menyisakan mata tajam yang menatap perih ke arah dua orang yang dia coba untuk lindungi. Di saat hanya bagian atas dan kiri bangunan saja yang terlihat parah. Mereka berada di ujung kanan ruangan, di mana jendela yang dapat mereka jadikan jalan keluar telah tertutupi oleh kayu yang datang dari atap.

“Ada orang di sana!!?”

Dalam keadaan menahan rasa sakit dan kondisi yang lumayan parah, dia mencoba mencari bantuan dengan berteriak keluar. Meskipun suaranya terasa teredam oleh maraknya api yang berkobar, dia tak menyerah.

“Tolong! Kami terjebak di sini!!”