Episode 71 - “Mari kita awali dengan...”



“...senyuman, mengerti?”

Dia menatap dengan wajah bertanya pada wali kelasnya.

“Oi, kubilang tersenyum.”

Namun reaksi yang diberikan sama saja. Dia tak ingin menunjukkan ekspresi yang diminta – disuruh oleh wali kelasnya.

“Memangnya hubungan antara keamanan dengan senyum itu apa sih?”

“Kau ini... tentu saja agar orang-orang yang berada di sekelilingmu merasa aman karena kau menunjukkan sikap kalau semuanya akan baik-baik saja.”

“Kalau memang begitu kenapa para pengawal dalam acara-acara penting tak menunjukkan senyum mereka? Bukannya itu malah bakal aneh kelihatannya.”

Elang mengerti kenapa anak didiknya yang satu ini begitu tak inginnya melakukan apa yang dia katakan.

“Iya juga ya, itu karena mereka merasa harus berkonsentrasi dengan apa yang mereka jaga. Hm-hm, kau pikir kondisi kita sama seperti itu!?”

Tetapi karena beberapa alasan, tentu saja dia tak dapat menerima penolakan yang dikatakan Rian. 

“Kita sedang berada dalam festival sekolah tahu. Apa kau pikir keadaan seperti seseorang akan terbunuh bakalan terjadi!?”

Dan dia melakukan argumentasi – meluapkan kekesalannya - yang keras untuk membuat Rian tersadar akan alasannya untuk membuatnya tersenyum. 

“Ya, itu bisa aja terjadi kalau ada gas yang meledup.”

“Jangan pulak kau samakan zaman kita dengan zaman Benjamin. S.”

Kondisi seperti itu telah terjadi dalam waktu yang cukup lama. Di mana Rian meminta saran kepada wali kelasnya untuk bagaimana dia harus melakukan hal yang benar dalam menjaga keamanan.

Hal itu pula membuat Elang kesal karena anak didiknya terus memberikan penolakan halus terhadap saran yang dia berikan.

“Oalah... oi, sudah berapa lama kita melakukan hal konyol ini?”

“Entahlah, mungkin sekitar 10 menit.”

“Lalu apa yang sudah kau dapat dari meminta saran dariku?”

“Entahlah, kurasa aku belum mendapatkan apapun karena aku terus melawan.”

Rasa pusing tiba-tiba saja menyerang kepala Elang. Membuatnya sedikit mengerang dan membuatnya memegangi kepala sambil berbicara. 

“Yahh, bagaimana aku harus bilang. Kupikir kau harus melakukannya seperti biasa.”

“...”

“Kau hanya harus melakukannya. Bukannya itu yang biasa kau lakukan.”

Elang telah memberinya beberapa petunjuk untuk mengerti apa yang dia maksud. Tetapi Rian benar-benar buntu dalam memahami perkataannya.

“Ya, gitulah. Kupikir waktu kita juga gak banyak lagi. Baik kau pikirkan sendiri sambil jalan sana.”

Elang terlihat menyerah padanya, dan dia pun berlalu pergi meninggalkan rasa penasaran yang masih bersarang.

“Oh iya!”

Namun dia masih memiliki sesuatu yang harus dikatakan sebelum benar-benar meninggalkannya.

“Kau diberikan beberapa anak buah oleh ketua TKR kan, maka pergunakanlah mereka!”

Satu hal yang baru saja dia sadari setelah diingatkan oleh sang wali kelas. Itu adalah keberadaan beberapa orang yang akan menemaninya untuk menjaga keamanan. Setelah mengingatkan Rian dengan itu, Elang akhirnya pergi dengan lambaian tangan yang tak membelakanginya.

Saat itu dia baru ingat, ke mana – tepatnya di mana orang-orang yang dikirimkan si ketua TKR untuknya. Dia tak melihatnya di mana pun bahkan setelah terus berlama-lama di gedung satu.

Akan tetapi, bagaimanapun juga itu adalah tugasnya. Meskipun akan sulit untuk memantau, menjaga, melerai jika perlu, menyelesaikan beberapa masalah sosial yang terjadi nantinya. Itu adalah tugas yang telah diembankan padanya

Setelah memutuskan hal itu, dia berjalan menuju lokasi perayaan berada. Sesaat setelah tiba-tiba ponselnya berbunyi.

“Yo, aku lupa mengingatkanmu satu hal lagi. Berhati-hatilah dengan apa yang tak perlu kau perhatikan. Mungkin saja itu bisa membunuhmu.”

Begitu pesan yang dia terima lewat sms dari wali kelas yang baru saja berbicara dengannya. Sebenarnya tidak masalah untuk memberikan satu atau beberapa hal lagi untuk diingatkan, namun untuk yang satu itu, rasanya terlalu membingungkan.

“Keluar lagi dah kata-kata mutiaramu yang sangat sulit untuk dimengerti.”

Pesan yang diberikan Elang padanya, terkadang tak benar-benar bisa dia mengerti. Apalagi yang bentuknya masih abstrak dan tak ada petunjuk untuk dimengerti maksudnya. Memang benar kalau orang-orang genius cenderung menggunakan kata-kata rumit yang terkadang memiliki beberapa maksud sekaligus di dalamnya, contoh lain ada pada sahabatnya yang menghilang selama hampir tiga bulan.

Walaupun begitu tetap saja, dia berharap kalau mereka bisa berbicara dengan bahasa yang ringan dengan orang-orang bodoh seperti dirinya.

“Yah, walaupun itu membuatku kesal, tapi perkataan kalian selalu mendekati kebenaran yang akan terjadi di waktu yang akan datang.”

Pada akhirnya, dia memilih untuk mempertimbangkan dan terus membawa kata-kata itu di dalam kepalanya. Sebagai sebuah peringatan ataupun pengingat padanya agar terus berhati-hati.

“Woi, Penjahat Berkacamata, lama kali kau!”

Dalam perjalananya menuju lokasi festival, sebuah suara datang dari depan. Berasal dari seorang murid laki-laki dengan pakaian TKR milik mereka – ya, suara itu tak sendirian untuk menyambut kedatangannya.

“Ini nih, orang rajin yang kerajinan, saking kerajinannya sampai tak ingat tugasnya sendiri!”

“Oi, kau juga sok kerajinan. Mentang-mentang dekat dengan ketua kau seenaknya masuk ke grup penjaga keamanan yang baik, tampan, tidak sombong, dan rajin menabung ini.”

“Halah! Tampan apanya, muka kaya baut odong-odong begitu dibilang tampan!”

“Woi, apa katamu!?”

“H-ha, a-apa, ngajak berantem!”

Mereka berjumlah sepuluh, dan dua suara itu berasal dari dua murid laki-laki yang memiliki perbedaan pada tinggi dan wajah mereka. 

Karena dua temannya terus melakukan keributan, salah satu dari mereka yang kelihatan –santai pembawaannya – mencoba melerai.

“Sudah-sudah, kita mau mulai nih. Jadi tenang sedikit.” 

Dan saat itu juga Rian menyapa mereka semua yang membuat suara mereka terdengar bersamaan.

“Maaf aku datang terlambat.”

Meskipun mereka berbicara bersamaan, kelihatannya fokus dari situasi itu terbagi menjadi dua, konflik antara mereka yang akan bertengkar. Dan sisanya yang dengan santai mendengar perkataan Rian.

“Sebelum ke sini aku harus menyelesaikan urusan dengan wali kelasku.”

“Nah, kalau gitu apalagi yang kita tunggu.” 

“Udah gak usah basa-basa lagi lah.” 

“Basa-basi kali.” 

“Hari ini toko mana dulu yang kita kunjungi.” 

“Toko minuman dulu lah, aku haus nih.” 

Di saat mereka mulai berjalan menuju ke halaman utama – berada di tengah-tengah antara tiga bangunan – Rian yang mengikuti mereka dari belakang – tengah karena masih ada satu kelompok yang meneruskan konflik mereka – menyadari sesuatu yang mengganjal.

“Ya, gadis-gadis yang pakai pakaian daerah itu loh.” 

“Itu kan kalau gak salah diadakan oleh kelas satu Keperawatan.” 

“Ya, soalnya mereka kebanyakan cewek, jadi para laki-lakinya yang ada di dapur.”

“Hahaha, jadi dunia terbalik.”

Mereka sama sekali tak membuka pembahasan tentang bagaimana mereka akan menjaga keamanan. Membicarakan tentang bagaimana mereka akan melerai sebuah konflik sosial, atau bagaimana mereka akan menanggapi suatu masalah yang terjadi di tengah-tengah acara.

“Ada apa, ketua?”

Mereka telah sampai di pintu depan festival sekolah, mendekati itu dia yang sebelumnya mencoba melerai perkelahian kedua temannya mendekat dan menyapanya.

“Enggak, aku cuma penasaran-“

“Ketua, pakai ini.”

Jawaban yang ingin dia berikan terhenti karena seorang anggotanya memberikan sebuah pin yang bertandakan penjaga keamanan milik mereka.

“Oke, ayo senang-senang!” salah satu dari kelompok yang berada di depan meneriaki itu, dan teriakannya disambut keras oleh teman-temannya yang lain.

“Kalian sepertinya sangat santai menghadapi hal seperti ini.”

Lawan bicaranya tertawa kecil yang terdengar cukup halus sebelum membalas. “Memangnya apa yang harus kita khawatirkan? Festival sekolah adalah tempat semua orang untuk bersenang-senang. Merayakan berdirinya sekolah dan bersyukur kalau sekolah bisa sampai sejauh ini.”

Mereka sampai di dalam halaman utama. Suasana sesak, ramainya pembicara, maraknya jual beli jasa dan barang, dan juga tentu saja jumlah stan yang didirikan oleh perorangan atau perkelompok.

“Kalau kau bertanya apa yang harus kita lakukan.. cobalah untuk bersantai dan nikmati suasana ini. Tentu saja kau tak boleh lalai dalam melakukan pekerjaan. Yah, meskipun aku juga gak tahu apa yang harus kita kerjakan nantinya karena sistem sekolah yang telah membuat disiplin murid-muridnya menjadi tinggi.”

Meskipun telah sampai sebanyak itu dia diberitahu tentang bagaimana harus menjalani tugasnya sebagai penjaga keamanan, dia sama sekali tak mendapati petunjuk bagaimana dia harus melakukannya.

“Ya sudah, begitulah, sebenarnya pekerjaan ini tak harus dilakukan berkelompok. Dan sulit juga melakukannya sendirian, tapi ini hanyalah halaman utama, dan mengingat jumlah kita yang cukup banyak, pasti mudah untuk mencari bantuan nantinya.”

Lawan bicaranya pergi menjauh setelah memberikan beberapa nasihat terakhir. Dia juga sebelumnya mendengar beberapa anggotanya mengucapkan salam perpisahan untuk menjalankan tugas mereka, maka saat itu, hanya tinggal dia sendiri yang masih berada di pintu masuk.

“Waah, udah lama gak ke sini, sekarang lihat betapa banyaknya perkembangan yang ada.”

“Iya juga ya, terakhir kali kau melihat sekolah adalah sebelum kau terbawa arus dan pergi entah ke mana.”

“Hahahaha, itu cuma lima tahun yang lalu loh!”

Di saat para penduduk desa, beberapa orang yang dikenal sebagai alumni, ataupun orang-orang asing yang ingin menikmati festival terus berdatangan, dia hanya masih berdiri di tempatnya.

Karena bingung harus melakukan apa, dia menggaruk-garuk lebih dulu kepalanya sebelum berjalan entah ke mana. Sampai dia menemukan sebuah booth yang mana ada seseorang yang dia kenal.

“Selamat datang! Oh, Rian ternyata.”

“Yo!” 

Itu adalah Rini dengan pakaian perawatnya.

“Ayo masuk, apa yang kau tunggu!”

Di bawah stan yang dilindungi oleh atap yang terlihat kokoh. Dan juga dibatasi oleh dinding setinggi satu meter yang terlihat sederhana namun menarik, sebuah cafe sekolah didirikan.

“Eh, tapi aku gak berniat pesan apa-apa.”

“Sudahlah, masuk aja!”

Rian yang awalnya hanya ingin menyapa dan berbincang sedikit dengan Rini, tiba-tiba saja dipaksa untuk masuk dan duduk di sebuah kursi pelanggan.

“Oke, duduk dulu yang tenang ya.”

Dengan halus dia meminta Rian untuk berdiam diri di tempatnya. Sedangkan dia berlari ke dapur untuk mengambil sesuatu. Selang beberapa saat, dia datang dengan nampan yang di atasnya terdapat segelas minuman segar.

“Ini silahkan. Kopi dengan taburan karamel dingin yang menyegarkan. Silahkan dinikmati.”

“Eh, tapi kan aku gak pes-“

“Maaf, tapi aku ada pelanggan.”

Dipersilahkan untuk masuk ke dalam cafe dari kelas sahabatnya. Disuguhkan sebuah minuman yang kelihatannya cukup mahal. Duduk sendirian di meja pelanggan. Itulah yang dia dapatkan dari pekerjaan awalnya sebagai penjaga keamanan. 

Tetapi apa benar-benar begitu cara kerjanya? Dia tak tahu. (Saya juga)