Episode 69 - “Siapa yang tahu...”



Hari persiapan. 7 hari sebelum diadakannya acara perayaan ulang tahun berdirinya SMK Bidang Karya Bersahadja.

“Bukannya lebih bagus kita bikin sebuah acara pertandingan aja!”

“Acara pertandingan?”

“Ya, yang menang nanti dapat hadiah!”

“Memangnya pertandingan kaya apa?”

“Hmmm, panco.”

“Woi pe’a, itu simple kali namanya!”

“Ehehe...”

“Kalau goblok jangan berlebihan juga kalee!”

“Woi siapa yang ngomong toh!”

Sebuah kericuhan terjadi di sebuah kelas yang untung saja berada cukup ujung dari gedung. Sehingga tak terlalu mengganggu mereka yang berada di sekitar – yang suasananya lebih tenang.

“Sudah-sudah, tenang semuanya! Dan Evan, jangan coba-coba memancing keributan gitu dong.”

“Ya habisnya semua ide pasti selalu yang pernah dilakukan atau pasti akan dilakukan sama kelas-kelas lain.”

“Iya juga sih, tapi ide itu kayanya terlalu gampang dan gak ada menarik-menariknya.”

Memakai kacamata dan rambut terurai sepunggung. Wajahnya terlihat sangat akrab bagi siapapun yang berbicara padanya, bahkan sewaktu meladeni seseorang yang ngawur perkataannya, dia tetap saja tak memberikan perkataan yang melecehkan yang seperti dilakukan oleh teman-temannya yang lain. Itu adalah wakil ketua kelas, salah satu gadis cerdas di kelas.

“Enggak, kalau kau bilang itu gak ada menariknya, itu cuma dari hasil pemikiranmu aja.”

“Maksudmu apa, Riko?”

“Kalau dipandang dari satu sudut aja, memang itu gak menarik. Tapi kalau di lihat dari sisi lain, mungkin ada untungnya juga.”

“Untungnya...?”

“Katakan saja kalau kita mengadakan pertandingan itu nantinya. Dan sewaktu pendaftaran, kita akan beri patokan untuk biayanya. Misalnya satu poin untuk satu peserta. Nah dari poin itu kita bisa bagi berapa persen untuk kita sendiri dan berapa persen untuk diberikan sebagai hadiah para pemenang.”

“Hmm, cukup bagus. Tapi kalau kita memang mengadakan itu nantinya, bukannya kita akan kehilangan waktu dan pekerja yang bisa dimanfaatkan.”

“Nah untuk itu aku punya usulan!”

Sebuah suara lain datang dari seorang murid perempuan.

“Loli, ada apa?”

“Gimana kalau kita masing-masing mengadakan acara tersendiri.”

“Maksudnya?”

“Kita bedakan kelompoknya dari jenis kelamin.”

“Jadi untuk anak perempuan dan laki-laki sendiri begitu..?”

“Woi gak bisa begitu dong!”

Suara yang sebelumnya memberikan usulan pertama untuk wakil ketua terdengar tak setuju.

“Acara pertama aja belum selesai dibicarain masa mau ngomongin acara lain sih!”

“Ya kan udah dibilangin tadi, laki-laki sendiri, perempuan sendiri. Jadi ya pikirin sendiri lah.”

Perkataan yang dikatakan Loli kedengaran seperti memprovokasi pihak laki-laki di dalam kelas. Sehingga terjadilah “Gak bisa gitu dong!” atau “Di urus satu-satu dulu lah!” sebuah ketidaksetujuan dari pihak laki-laki.

“Tolong tenang semua! Ide kamu bagus, Loli, tapi seenggaknya kita harus lebih dulu menyelesaikan usulan yang diberikan Evan.”

“Jadi kamu setuju buat membedakan kelompok?”

“Ya, apa anak perempuan setuju dan mau ikut ambil andil dalam ide itu?”

Jawaban yang diberikan oleh seluruh pihak perempuan di dalam kelas adalah “Tidak” dengan cukup keras.

“Kupikir gak apa-apa kalau mau dibedain nanti. Tapi kalian anak laki-laki bisa mengurus sendiri soal pertandingan itu kan.”

“Heleh soal gampang itu mah.”

“Ya, tinggal suruh yang mau ikut duduk terus panco, gitu aja kok susah.”

Dan jawaban yang terdengar selanjutnya kira-kira sama dengan apa yang dikatakan dua orang pertama. Namun, satu hal yang membuat anak laki-laki diberi julukan berpikiran pendek dipicu oleh pertanyaan si wakil ketua.

“Tapi bukannya membuat satu orang peserta terus bertanding dengan semua orang yang datang terdengar sangat melelahkan? Dan itu nantinya akan memicu keributan dari pihak peserta yang bertahan lama dan kalah dengan peserta baru yang punya energi baru.”

Hampir seluruh suara yang ribut dengan rencana apa-apa saja yang akan mereka lakukan nantinya menjadi terdiam dengan pernyataan wakil ketua.

“Y-ya, itu bisa di atur nantinya kok. Tenang aja!”

Dan suara yang memenangkan suasana itu berasal dari pemuda yang percaya diri memimpin kelompoknya setelah ketua kelas.

“Aku harap kalian benar-benar bisa melakukannya. Selain Beni yang memiliki urusan sendiri, maka seluruh anak laki-laki terdaftar sebagai panitia dan anggota untuk mengurus “Pertandingan Panco” yang diadakan Kelas XII TKJ.”

Wakil ketua kelas menuliskan laporan ke dalam buku yang selalu dia pegang sejak dimulainya rapat kelas. Dengan isi yang dia katakan sebelumnya.

Duduk di kursi paling belakang dan berada di sudut ruangan. Menatap ke arah langit luar dan terlihat tak memerdulikan suasana di dalam ruangan. Karena apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya membuatnya menghiraukan yang lain dan fokus kepadanya – pemikiran.

---

“Woi, Ceng!”

Sebuah panggilan menghentikan langkah kakinya serentak dengan berpalingnya arah kepala menuju sumber suara.

“Oi, jangan bilang kalau kau bener-bener gak mau berpartisipasi dalam acara kita.”

“..Bukannya aku gak mau sih, tapi kan kau udah tahu aku bakal sibuk di ruang seni nanti, aku gak tahu bisa bantu kalian atau enggak.”

“Ya setidaknya kau bisa bantu pakai otak kek.”

“...Ke kantin aja dulu yuk, kita bicarakan di sana.”

* - Sesampainya di kantin.

“Juadi guitu luoh!...”

“Bisa gak sih kau habiskan dulu makanan di mulutmu baru ngomong.”

Evan yang sejak awal menekan Beni untuk memberikan bantuan untuk teman-temannya yang kelihatannya kesusahan dengan rencana dari acara yang mereka adakan tak bisa menghentikan kehebohannya bahkan sebelum dia menyelesaikan makannya.

“Nah, gini...”

Setelah dia menelan semua makanan yang dia kunyah dan melarutkannya ke dalam tubuh dengan air mineral, barulah dia bisa bicara dengan jelas.

“Kaya yang dikatakan wakil ketua tadi.”

“...”

“Ha, masa kau gak dengerin sih!”

“..Apa itu soal gimana kalian mengurutkan peserta yang ikutan?”

Tiga orang yang ikut dalam membujuk Beni supaya dia membantu terdiam setelah mendengar pertanyaannya. Itu bukan seperti topik yang diangkat oleh wakil ketua, tetapi lebih ke bagaimana Beni menguraikan kekurangan dari rencana mereka.

“Y-ya, gitulah. Jadi bagaimana, apa kau punya usulan?”

Evan hampir kehilangan kata-kata, tetapi pada akhirnya dia merubah itu menjadi apa yang dia maksud untuk ditanyakan pada Beni

“Hmm...”

Sebuah deheman yang panjang yang dilakukan untuk memperlihatkan kalau dia sedang berpikir. 

“Kurasa kalian gak bisa gitu aja membiarkan para peserta duduk dan bertanding.”

Ketiga orang yang datang padanya hanya terdiam dan mencoba mengerti apa yang akan dia katakan sampai akhir.

“Dan juga meja pertandingannya gak boleh cuma satu aja. Kalau kalian mau membiarkan orang lain bertanding dan bukan memberikan sebuah tantangan. Kalian juga harus mencatat nama-nama peserta dan bagaimana kalian mempertandingkan mereka.”

“Apa kita harus pakai sistem eliminasi?”

“Ya, itu terserah kalian.”

Ketiga temannya berpikir dengan otak mereka sendiri. Lalu ketika salah satu memiliki sesuatu untuk dikatakan, Evan menyerobot gilirannya.

“Ah, gitu toh!”

Evan melakukan gerakan menumbuk padi – alu – dengan kedua tangannya setelah dia mengerti apa yang harus dia lakukan.

“Oke, gitu aja Ceng!”

“-O.. oke.”

“Sekarang kita kumpulkan semua laki-laki XII TKJ untuk merencanakan rencana hebat kita!”

“Tapi Van, kita lagi istirahat, pasti mereka masih berkeliaran di sekolah.”

“Kalau gitu kita cari mereka semua!”

“Eh!”

“Let’s go!”

Evan yang terlihat bersemangat menyeret kedua temannya yang tampak tak bisa mengikuti gaya hidupnya yang bersinar terang. Beni hanya melihat hal itu dari kejauhan ketika dia masih tersesat dalam konflik dalam dirinya.

“Dia itu termasuk dalam golongan apa sih, kids zaman now...?”

“Ya, begitulah dia, lentera yang bercahaya paling terang di antara kami semua.”

Bergerak dari tempatnya, Beni mengatakan itu seolah-olah ada seseorang yang berbicara dengannya., atau memang ada dan dia tak menyadarinya setelah dia menjawab.

“Siapa yang kuajak ngomong tadi...”

Sebuah perasaan ngeri tiba-tiba saja menyelimuti, itu bukanlah pertama kalinya dia merasa berbicara dengan orang lain. Tetapi sosok yang berbicara dengannya tak terlihat atau memang dia berbicara dengan apa yang berbicara di dalam otaknya.

Dia berjalan keluar dari kantin, seiringan dengan perasaan ngeri yang seperti ada sesuatu yang mengikutinya. Bulu kuduknya berdiri, namun, tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Dia melihat ke belakang, ke tempat di mana perasaan ngeri barusan berasal.

Tak ada apa-apa atau siapapun yang mengikutinya. Hanya saja beberapa saat kemudian sebuah bayangan hitam lewat di sampingnya. Sontak dia mengikuti arah bayangan itu, dan yang dia dapatkan adalah sosok yang tak asing.

“Beni!”

“E-euis, apa itu kau...?”

“Apa maksud pertanyaanmu itu, apa aku terlihat seperti orang lain di matamu?”

“Enggak, maaf, kayanya aku kurang tidur.”

“Ha! Gawat dong, kamu harus merawat kesehatanmu. Karena sebentar lagi festival akan tiba. Akan gawat kalau kamu gak ikut berkontribusi di dalamnya.”

“Iya, aku tahu. Nah, aku mau pergi mengambil surat izin seperti biasa.”

“Oh, kalau itu datang aja ke beranda depan. Di sana ada Neng Kacamata yang menunggumu.”

Tiba-tiba saja perasaan ngeri yang hilang barusan muncul kembali setelah Euis menyebut siapa yang sedang menunggu Beni. 

“Tunggu, kalian melakukan batu gunting kertas buat menentukan posisi masing-masing kan. Kenapa harus dia lagi sih yang menjaga meja itu.”

“Hahaha, kami tak melakukan batu gunting kertas, Beni. Tapi kami mengambil kertas untuk menentukan posisi masing-masing. Tapi ya, kalau ada seseorang yang dengan senantiasa mengambil pekerjaan membosankan seperti itu, kami takkan menghalanginya.”

Seperti ada sesuatu yang sangat mengganggu di dalam tenggorokannya, Beni mengeluarkan suara geraman dengan nada “ugh” yang sangat panjang. Gerutunya yang tak tertahan itu cukup lucu dilihat oleh Euis.

“Apa segitunya kamu tak menyukai Neng Irene?”

“Ya, bukannya aku gak suka sih, Cuma ngeliat mukanya yang terus menggerutu itu... ugh!”

“Hahaha, aku mengerti perasaanmu. Tapi kalau kau sudah cukup mengenalnya pasti kau akan terbiasa dan takkan terganggu dengan sikapnya yang satu itu.”

Meskipun Euis adalah buktinya, Beni benar-benar sulit mempercayai apa yang barusan diberitahu padanya.

“Ah, uh, ya udahlah.”

“Hahaha, ya, lagipula kamu kan cuma akan berbicara dengannya tak lebih dari tiga menit.”

“Okelah kalo begitu. Ngomong-ngomong kau mau ke mana?”

“Aku mau kembali ke kelas. Aku harus merekrut beberapa orang dari mereka untuk menjadi panitia di pentas seni yang akan datang.”

Kelesuannya memudar dengan cepat ketika dia mendengar apa yang dikatakan sahabatnya.

“Kau jadi panitia pentas seni. Wow.”

“Hehehe, hebat kan. Oh iya, Rian jadi pantia penjaga keamanan loh.”

“Dia...? ya, kupikir gak bakal ada masalah kalau dia yang memegang peran itu.”

“Hmm, siapa yang tahu...”