Episode 35 - Dream Catcher


Dari akar berduri yang melilit Ranni kini keluar sebuah sosok iblis tengkorak dengan jubah kain seperti Grim Reaper, keluar dan perlahan mencekik Ranni. Mereka saling bertatapan mata dari dekat dan setiap detik-nya, mengisap mental Ranni.

"Tolong... tolong hentikan." Ranni menangis dalam jeratan itu dengan emosi tak berdaya, ingatan-ingatannya diwujudkan begitu nyata dalam pikirannya. Ingatan terburuk yang muncul berulang-ulang dalam potongan-potongan singkat yang berpindah dengan cepat, membuat kepalanya jadi sangat sakit.

"Rupanya baru segini saja, sudah tidak tahan. Tapi tenang, akan kutambah lagi!" Nicholas menguatkan efeknya dan mempercepat proses penyerapan mentalnya. Nicholas yang dikenal tenang dan cool, kini menjadi begitu bengis layaknya seorang pembunuh yang menyiksa korbannya sambil tertawa.

Tiba-tiba sesosok bayangan muncul di belakang Nicholas.

"Eh!?" Ia seakan baru sadar terlambat untuk menghindar, Nicholas ditinju keras-keras di punggungnya dengan api yang menyala-nyala dari sebuah sosok Lasius yang sangat-sangat murka.

Seketika penonton terkejut melihatnya.

"Apa-apaan ini Lasius!!" Marah Volric dari bangku penonton hingga merah mendidih wajahnya.

Beberapa Instruktur lain-pun, ikut merasa keberatan. "Lasius! kita sedang dalam pertandingan. Seorang instruktur tak boleh..."

"Persetan kalian semua!" bentak Lasius di tengah-tengah arena. "Anak ini mau membuat muridku jadi orang gila secara permanen dengan sihir hitamnya. Dan kalian masih lebih mementingkan hal sepele seperti menang kalah di turnamen ini? Jangan bercanda!"

"Brengsek! Sakit tahu!”

Klik!

Lasius memetikan jarinya dan api muncul begitu saja, membakar Nicholas di beberapa bagian kecil tubuhnya.

“AGGHH!! Panas, panas." Nicholas mengusap-usap tubuhnya sambil menggulang-gulingkan tubuhnya.

"Aku kenal kau. Nicholas Obsidus,” murka Lasius pada Nicholas. “Kau memang hebat dan cerdas, tapi kalau sampai sejauh ini. Kau telah melewati batas, kau akan terkena sanksi setelah turnamen hari ini berakhir. Ikut aku ke ruang kepala sekolah sekarang. Kita bicarakan hal ini, bertiga dengan pak Vlau." 

"Hei! Memangnya apa yang salah denganku?!" Nicholas tak terima. "Aku tidak membunuhnya kan? Jadi tidak ada yang aku langgar!"

"Kau masih bisa berkata seperti itu!" Lasius geram sekali. "Makanya aku kesal sekolah ini membiarkan Penyihir Darkness belajar. Kalau sudah terlalu pintar dan kuat. Kalian berakhir jadi penjahat-penjahat besar di dunia."

"Kau bicara hal yang tak semestinya, Lasius." Volric memendam kesalnya namun tak diungkapkan.

"Lasius! Tutup mulutmu!"

"Pertandingan ini selesai!" kata Lasius tegas. "Biarkan anak ini yang jadi pemenangnya. Ini jauh lebih baik daripada membiarkan anak muridku jadi cacat mental untuk selamanya!"

"Ohh? Oke, dan... dan pemenangnya... Nicholas dari Umbra!" sahut komentator menyatakan pemenang, tapi semua penonton tak saling bersahut-sahutan seperti biasanya. Tapi bisik-bisik antar sesama penonton yang tak bisa untuk tidak menanggapi tetap terjadi.

"Hei tidak bisa gitu dong, dia dua kali ikut campur langsung di Arena."

"Masa pertandingan turnamen begini?"

"Tapi ada benarnya juga sih, kalian tidak lihat, anak cewek rambut merah itu seperti diserang habisan-habisan secara mental."

"Ya... kalau begitu sih jangan ikut turnamen, payah... Payah..."

"HUUUUUUUU !!"

Lasius menggendong Ranni yang tak sadarkan diri, keluar dari Arena. Entah efek ingatan berulangnya masih berlangsung atau tidak. Yang jelas wajah sedih Ranni menceritakan semuanya.

"Tunggu dulu! Aku ingin tanya sesuatu!" sahut Nicholas dengan tatapan bencinya ke Lasius.

Lasius berhenti sejenak, untuk mendengar apa yang mau ia bicarakan sambil menoleh ke belakang.

"Aku sangat tersinggung dengan pernyataanmu tadi. Keluargaku melayani negara ini dengan loyalitas tinggi! Dan kau sama ratakan kami dengan penjahat-penjahat di luar sana. Dengan pernyataan semacam itu, kau juga bisa kutuntut nanti!"

Setelah Nicholas berhenti bicara, Lasius berjalan lagi, keluar dan tak menanggapi ancaman Nicholas.

"Hei, keparat! Jawab aku! Hei!"

Dan dengan selesainya pertandingan ini, babak perempat-final... berakhir sampai disini.

***

Seusai pertandingan, 

Alzen masih tak sadarkan diri di ruang perawatannya. Sementara Lio masih diobati, tapi kesadarannya masih utuh, meski ia cukup tersiksa dengan rasa nyeri di seluruh bagian depannya, akibat serangan dari Hael sebelumnya.

Chandra tak bisa berbuat banyak, ia terus menunggu Alzen di bagian depan kamar tempat Alzen dirawat. Menyaksikan satu persatu anak Ignis yang lain pergi dari sana, hingga Chandra sendiri, menunggu kesembuhan Alzen.

Dan Ranni? Ia terserang mentalnya, ia seperti terkena ilusi dan terperangkap dalam dunia masa lalu. Tubuhnya tak sadarkan diri, tapi di alam bawah sadar. Ia seolah kembali ke masa-masa yang ia ingin lupakan dan terasa begitu nyata.

Ranni melihat sesosok api, api yang menjalar besar sekali. Menghanguskan seluruh rumah-rumah di desa saat malam itu. Pohon-pohon dan rumah-rumah kayu, semuanya terlahap api seolah-olah sedang di neraka saja.

Ia sendiri disana, dengan tubuh masa kanak-kanaknya, ia melihat orang-orang di desa itu hangus terbakar hidup-hidup sambil menjerit minta tolong. Namun di tengah-tengah kobaran api itu, ada sesosok bayangan pria. Berdiri tegak di dalam api.

Ingatan tersebut patah-patah dan lompat-lompat dari satu kejadian ke kejadian lainnya. Namun semuanya terjadi berulang-ulang. Yang membuatnya, jadi semakin tak bisa dilupakan.

***

Sedangkan Nicholas yang menyebabkan Ranni jadi seperti itu, kini menghadap Vlaudenxius di depannya dan Lasius di samping kanannya, duduk bertiga di ruang kerja kepala sekolah, yang luas, mewah dan penuh peralatan dan barang-barang sihir. Beberapa rak buku besar dan tinggi berjejer seolah seperti sedang di perpustakaan besar.

"Aku seharusnya tak perlu dipanggil kesini." kesal Nicholas, tak terima diperlakukan seperti ini.

"Aku sudah dengar masalahnya dari Lasius. Kau mempergunakan sihir hitam pada lawan tandingmu, yang seharusnya digunakan untuk menyiksa kriminal secara mental.” kata Vladenxius. “Apa itu benar?"

"..." Nicholas hanya tertunduk diam di hadapan kakek tua seperti Vlaudenxius. Tapi ia tidak menyesal, melainkan kesal.

"Aku setuju dengan tindakan Lasius, jika berlangsung lebih lama lagi, bisa-bisa Ranni lumpuh secara mental sepenuhnya dan tak bisa disembuhkan.” kata Vladenxius dengan sabar. “Ibarat seperti tubuh hidup tanpa pikiran waras yang hanya terjebak pada masa lalunya itu. Kau benar-benar tak sepatutnya menggunakan sihir seperti itu pada kawan seangkatanmu."

"Aku hanya mencoba mengerahkan seluruh kemampuanku." jawab Nicholas dengan takut-takut.

"Ya, aku mengerti. Kau memang cerdas dan berbakat, seperti kakak-kakakmu yang sudah jadi penyihir hebat di luar sana. Tapi secara akal sehat, kau seharusnya paham. Mana sihir yang boleh dan yang tidak."

"Tapi kalau cuma begitu, aku tak belajar sihir baru dong. Semua sihir kegelapan dasar telah aku kuasai. Aku ingin coba yang lebih kuat."

"Tapi tidak berarti, kawan-kawan seangkatanmu yang jadi kelinci percobaan." balas Vlaudenxius dengan tegas, tapi tidak terkesan marah. "Apa kau menyesali perbuatanmu?"

"Ya... aku menyesal, tak akan kuulangi lagi. Tak akan kupakai selama turnamen ini."

"Bukan selama turnamen saja, sihir seperti Dream Catcher tidak boleh digunakan sembarangan, kau tahu apa efeknya jika tengkorak itu berhasil menghisap sepenuhnya?"

"Ya, seluruh emosinya hilang. Menyisakan manusia dengan satu emosi saja. Yaitu rasa sedih, yang abadi, sampai mati."

"Dan kau menggunakan ini, pada kawan seangkatanmu. Kau sadar kesalahanmu?"

Nicholas mengangguk secara pelan-pelan.

"Oke, aku anggap kau betul-betul menyesalinya. Cukup sekian dariku, ada yang ingin kau sampaikan? Ke aku? Ke pak Lasius?"

"Ada!" jawab Nicholas dengan bersemangat untuk balas dendam. "Guru kelas ignis ini tadi bilang,” katanya sambil menunjuk Lasius. “Penyihir darkness ujung-ujungnya berakhir jadi penjahat besar dunia. Aku sangat tersinggung dengan pernyataan itu. Bisa saja aku..."

"Nicholas," jawab Vlaudenxius perlahan. "Faktanya memang begitu. Kau mau datanya?"

"Haa? Tidak usah, aku hanya ingin menuntut guru yang suka ikut campur ini!"

"Yang dikatakan Pak Lasius memang benar. Penyihir Darkness, banyak yang berakhir jadi penjahat. Banyak, tapi tidak semuanya. Salah satu contoh yang baik, adalah keluargamu. Obsidus."

"Ya! Keluarga kami tidak jadi penjahat kan? Melainkan-"

"Tapi sebagian besar pengguna Dark Element, tidak demikian.” potong Vlaudenxius. “Mereka buta oleh kekuatan yang besar dalam Black Aura, dan malah dikuasai olehnya. Hingga berakhir, jadi penjahat paling jahat di dunia. Karena sifat Dark Element, yang mampu menyerap dan punya efektifitas 2 kali lipat, lebih kuat. Melawan elemen lain, kecuali elemen Cahaya. Sebagai penyihir darkness. Kau paham betul soal ini kan?"

"Aku minta maaf atas pernyataanku tadi." Lasius berinisiatif. "Aku terlalu kesal padamu tadi, hingga mengatakan hal yang bersifat menghakimi begitu. Memang faktanya banyak pengguna Dark Element berakhir jadi penjahat, tapi ada juga. Yang berpihak pada kebaikan. Contohnya seperti keluargamu. Jadi, maafkan aku."

"Hah! Kau pikir maaf sudah cukup?" tanya Nicholas dengan kesal. "Ya... Tapi tidak apa-apa. Lebih baik, daripada tidak sama sekali. Oke, urusanku disini selesai kan? Boleh aku keluar sekarang?"

Vlaudenxius mempersilahkan. Dan Nicholas beranjak pergi. Tapi Vlau dan Lasius masih duduk disana.

"Kau tahu Lasius, suatu tantangan memiliki murid seperti keluarga Obsidus. Tapi selalu menarik buatku melihat mereka jadi apa di kemudian hari. Kedua kakak Nicholas, sudah jadi Bounty Hunter kelas S yang hebat, sangat-sangat hebat. Tapi, sewaktu mereka masih sekolah disini, Ya... Memang mereka agak merepotkan."

"Ya, masalah dengan orang-orang berbakat. Aku juga jadi merindukan mereka."

***

?Babak Quarter-Final telah berakhir kemarin, banyak yang cidera dan terluka demikian parah, hingga akhirnya keputusan turnamen babak berikutnya, ditunda untuk 1 hari lamanya. Dengan tujuan untuk memberi waktu pemulihan bagi keempat peserta turnamen yang tersisa. Alzen, Leena, Lio dan Nicholas. Mewakili Ignis, Lumen dan Umbra. Peserta yang tersisa untuk pertarungan puncak.

Pihak yang paling banyak menderita luka-luka ada pada peserta kelas Ignis. Alzen masih tak sadarkan diri hingga malam hari sekalipun. Sementara, teman-teman sekelasnya bergantian menunggu, berharap kartu as-nya ini lekas sembuh.

Berbeda dengan Alzen, kesadaran Lio masih utuh. Saat ini, Lio dirawat oleh para healer secara terus menerus hingga regenerasi terhadap lukanya bisa hilang dengan lebih cepat. Meski sihir penyembuhan mampu mengambil alih peran dokter dalam porsi besar, tapi ada beberapa hal yang tak bisa disembuhkan healer biasa, yang utamanya sebatas menyembuhkan luka akibat serangan.

***

Di tempat lain, saat malam hari.

Leena terus melatih dirinya dengan bertarung melawan monster-monster di lapangan rumput luas yang agak jauh dari Vheins. Tempat itu, dikenal dengan nama Cosmo Plains. Yang berada di timur-laut, tepatnya di dekat danau besar benua Azuria ini.

Leena bersedia berlatih keras terlebih dahulu, supaya bisa bertarung secara sungguh-sungguh melawan Alzen nanti. Di bawah sinar bulan yang terang benderang menyinari tempat minim cahaya ini, ia menghabisi para serigala liar yang secara masif menyerangnya dari berbagai arah secara bersamaan.

CREZZZZSSSTT !! CREZZZZSSSTT !! CREZZZZSSSTT !!

"Hosh... hosh... lusa nanti, aku akan melawan Alzen." pikir Leena, sambil sibuk menebas serigala-serigala yang terus berdatangan. "Biar Alzen tak sadarkan diri sekarang. Tak boleh sedikitpun aku lengah padanya. Dia cerdas, memiliki 3 elemen sebagai bakatnya dan sangat tangkas memanfaatkan sekitar."

CREZZZZSSSTT !!

Tebas Leena hingga membelah serigala-serigala itu menjadi dua.

"Mengingat kembali pertandingannya yang lalu-lalu." pikir Leena dengan berbicara sendiri, di tengah mayat-mayat serigala yang telah dikalahkannya. "Sebenarnya, Alzen selalu dapat lawan yang kurang menguntungkan diatas kertas. Tapi ia selalu menang dengan strategi yang baik. Fia, yang adalah Counter-Elementnya. Bisa dikalahkan tanpa keringat. Ya... memang aku tahu betul, anak itu bukan tipe petarung. Melainkan seorang Support. Jadi aku rasa, tak ada pelajaran yang bisa diambil pada pertandingan itu. Support melawan Fighter, satu lawan satu? Mana mungkin menang."

"Di pertandingan berikutnya, ada Luxis. Pengguna elemen Es. Jika pertarungan itu tidak terikat aturan turnamen, Alzen jelas-jelas kalah. Aku kenal Luxis, dia teman sekelasku selama 3 bulan ini. Meski dia kadang menjadi bodoh karena haus akan popularitas dan hobi cari perhatian yang tak perlu, namun kemampuannya dalam sihir es, terbilang tidak main-main. Dia mampu mengubah iklim keseluruhan arena yang cukup luas, tanpa kehabisan tenaga. Jika dalam pertandingan sungguhan. Aku yakin, Luxis bisa memporakporandakan ratusan tentara yang bukan pengguna aura, seorang diri saja. Tapi Alzen tahu batas dirinya dan akhirnya, Luxis kalah dengan diceburkan di kolam."

"Ahh, itu dia!?" seketika Leena terpikir sesuatu. "Ada kemungkinan Alzen melakukan hal itu lagi, jika tahu lawannya tak bisa dikalahkan. Alzen cenderung fokus ke hal-hal lain yang bisa dimanfaatkan. Dan ia menang dengan memaanfaatkan aturan turnamen dengan baik. Uhm... di sisi lain, ia tidak diuntungkan juga. Mengingat hanya 1 dari 3 elemen yang boleh ia gunakan. Alzen tak bertarung dengan seluruh kemampuannya. Aku penasaran, jika Alzen boleh menggunakan ketiga elemennya sekaligus? Apa Luxis bakal kesulitan?"

"Tapi coba aku ambil kasus berikutnya. Sewaktu ia melawan Joran... sang raksasa wanita dari kelas Terra, yang sepertinya. Tak mungkin bisa dikalahkan manusia normal seperti Alzen. Bahkan aku sendiripun ragu, jika Alzen kalah dan harus aku yang melawan Joran. Tak terpikir olehku soal cara melawannya. Tapi faktanya, dia tetap menang. Terlepas dari apa keputusan juri nanti. Alzen tetap menang meski aturan, hanya memperbolehkan satu elemen saja. Sekalipun bisa memilih elemen lain di babak waktu itu. Tetap saja, sebuah keajaiban. Alzen bisa menang melawan manusia besar seperti Joran." pikir Leena sambil menatap ke bulan sabit.

"Sebentar-sebentar, aku penasaran," pikir Leena. "Di kelas, ia perlu berapa bangku untuk duduk ya?"

"Ahh sudah-sudah," Leena geleng-geleng kepala. "Ngapain aku harus pikirkan hal yang tak perlu seperti itu?"

"Waktu itu, yang benar-benar tak disangka-sangka olehku. Keseluruhan air di kolam, ia manfaatkan sebagai pengganti elemen air yang tak boleh ia gunakan di turnamen. Ia tetap mengikuti aturan dan tidak curang, meski sudah sekarat begitu. Entah idenya muncul dari mana? Yang pasti, dalam pertandingan waktu itu, Joran kalah bukan dengan diceburkan. Tapi diserang dengan sihir yang betul-betul telak melukainya. Sampai-sampai, hingga malam begini, baik Alzen maupun Joran. Tak satupun dikabarkan sudah siuman. Betul-betul pertarungan antara hidup dan mati."

"Dari 3 pertandingan yang sudah ia lakukan, bisa kusimpulkan begini. Pertama, Alzen menang dengan keberuntungan melawan lawan yang lemah. Kedua, Ia menceburkan lawan yang kuat, langsung ke kolam. Dan ketiga, ia menghabisi lawan, langsung dengan serangan kombinasi elemen, memanfaatkan apa yang ada disekitarnya. Dan setahuku, Petir dan Air adalah kombinasi yang sempurna. Tapi aku jadi bertanya-tanya, apa elemen yang akan ia gunakan sewaktu melawanku nanti? Apa aku harus menerka-nerka? Tak mungkin aku tanya Alzen langsung."

"Ahh!" Teriak Leena, mengacak-acak rambutnya. "Alzen! Kau bikin aku pusing, memikirkan kejutan apa yang akan kau berikan nanti."

Terdengar suara laki-laki yang langkah kakinya terdengar jelas, berjalan pelan diatas rerumputan. "Oh, disini kau rupanya?"

“Huh!?” Leena langsung waspada, “Siapa disana!” pedangnya ia genggam erat-erat untuk bertindak secepat mungkin bila ada serangan datang. 

***