Episode 196 - Rajyakarta


“Komodo Nagaradja… apakah dikau menyadari pergeseran posisi tubuh para ahli tadi?”

“Kau hendak menguji kepekaanku, wahai Ginseng Perkasa…?”

“Diriku bertanya… haruskah dikau dipenuhi kecurigaan…?”

“Sepanjang hayatku melanglang buana di dunia persilatan dan kesaktian, hanya terdapat beberapa ahli saja yang memiliki kemampuan bermain dengan dimensi ruang pada tingkat yang sedemikian tinggi.” 

“Senada dengan pemikiranku,” tanggap Ginseng Perkasa. 

“Pergeseran posisi tadi tak hanya terjadi terhadap para ahli di wilayah dimana kita berada, melainkan terhadap satu kota!” 

“Mungkinkah tokoh ‘itu’ yang menjadi penyebabnya…?”

“Siapakah yang Super Guru dan Kakek Gin bicarakan?” Bintang Tenggara menyela dengan polosnya. 

“Jangan ikut campur pembicaraan ahli dewasa…,” sergah Komodo Nagaradja.

“Apakah gadis mungil itu tadi yang menyebabkan keanehan…?” 

“Gadis mungil siapa!?” hardik Komodo Nagaradja.

“Apa yang membuat Nak Bintang sampai berpikiran sedemikan?” lanjut Ginseng Perkasa. 

“Aneh…” Tetiba Maha Guru Segoro Bayu bergumam, setengah berbisik. “Seolah ada yang mengarahkan tubuhku…” 

Bintang Tenggara masih mengekor Maha Guru Segoro Bayu. Sebentar lagi mereka akan tiba di Perguruan Maha Patih. Sepanjang perjalanan, Maha Guru itu tidak sekali pun mempertanyakan perbuatan Bintang Tenggara. Mungkin sudah lumrah terjadi di dalam dunia persilatan dan kesaktian. Atau, kemungkinan besar, dikarenakan benak sang Maha Guru sedang berkutat seputar siapakah gerangan yang demikian digdaya, dapat bertindak tanpa mengungkapkan jati diri…?

“Maksud Maha Guru Segoro Bayu…?” Bintang Tenggara berupaya memecah teka-teki tersebut. 

“Seolah ada yang mengarahkan tubuhku… agar terbang melintas di atas tempat dimana dikau berada. Dan bukan hanya itu, kemungkinan besar langkah Empu Wacana dan Maha Guru Sanata saat hendak menghampiri dirimu, dihambat oleh kemampuan yang sama.” 

“Kemampuan apakah gerangan…?” ujar Bintang Tenggara. 

“Aku tiada mengetahui…” Maha Guru Segoro Bayu menggelengkan kepala. “Baru kali ini aku mengalami keadaan seperti tadi.” 

“Apakah mungkin kemampuan mengendalikan dimensi ruang?”

Maha Guru Segoro Bayu menghentikan langkah. Ia lalu menoleh dan menatap tajam ke arah Bintang Tenggara. “Apa yang membuatmu berpikir sejauh itu? Dari mana datangnya kesimpulan yang sedemikian?”

“Hanyalah sebuah pemikiran yang terlintas di benakku,” tanggap Bintang Tenggara dengan polos. Padahal, sudah jelas perkiraan tersebut ia peroleh karena menguping pembicaraan Ginseng Perkasa dan Komodo Nagaradja. 

“Tiada ahli yang dapat secara leluasa mengendalikan dimensi ruang!” ucap Maha Guru Segoro Bayu serius. Meski, setelah kejadian tadi, terdapat setitik keraguan di dalam benaknya.


“Adik Bintang, kemana sajakah dikau!? Diriku bersama beberapa murid lain sempat menyusuri lereng Gunung Candrageni…” Poniman yang bersiaga di gerbang besar Perguruan Maha Patih terlihat demikian khawatir, sekaligus lega.  

“Diriku sempat tersesat…,” jawab Bintang Tenggara ringan. 

“Tersesat yang membawa berkah…,” sindir Maha Guru Segoro Bayu. 

“Oh… diriku sampai tiada bisa melelapkan mata…” Poniman merasa bertanggung jawab karena dirinyalah yang mengajak Bintang Tenggara pergi mencari tumbuhan siluman Kantong Semar Merapi ke lereng Gunung Candrageni.

“Maha Guru Segoro Bayu, bolehkah diriku memohon penggunakan gerbang dimensi?” aju Bintang Tenggara. Ia hendak secepatnya bertolak, karena telah banyak membuang waktu di Kota Ahli. 

“Hendak kemana?”

“Sanggar Sarana Sakti di Tanah Pasundan.”

“Baiklah.”


Siang itu juga, Bintang Tenggara mengucapkan perpisahan kepada Poniman dan Maha Guru Segoro Bayu. Gerbang dimensi ruang telah berpendar di atas sebuah prasasti batu di hadapan mereka. 

“Tunggu…,” cegat Maha Guru Segoro Bayu. 

Lelaki dewasa itu kemudian melemparkan sebentuk cincin dengan Batu Biduri Dimensi. Batu Biduri Dimensi biasanya berwarna biru muda, seperti halnya yang diberikan oleh Lampir Marapi beberapa waktu lalu. Akan tetapi, batu yang Bintang Tenggara terima ini warna birunya lebih pekat. 

“Kapasitas ruang penyimpanan di dalam Batu Biduri Dimensi itu lebih luas, sekira dua meter persegi,” ucap Maha Guru Segoro Bayu. 

Bintang Tenggara sepenuhnya mengerti maksud sang Maha Guru. Ia segera menyimpan sebentuk perisai yang masih menyoren di belakang pundak. Akan sangat mencolok membawa-bawa perisai dalam perjalanan. Malah, dapat terkesan seperti seorang pendekar yang meminta ditantang lawan pada setiap pengkolan jalan. 

“Itu adalah Perisai Tunggul Waja. Terbuat dari logam, akan tetapi sangat lemah terhadap api dan petir. Kelebihannya adalah ia dapat meredakan hentakan tenaga dalam.” 

Nada suara Maha Guru Segoro Bayu sedikit berubah saat menyampaikan informasi terakhir tadi. Sebagaimana diketahui, ia juga pernah emosi dan menghentakkan tenaga dalam ke arah Bintang Tenggara. Kala itu, anak remaja tersebut mengambil dan menjadikan hadiah kejuaraan sebagai senjata dalam pertarungan di atas panggung.

“Terima kasih, Yang Terhormat Maha Guru Segoro Bayu.” 

Bintang Tenggara menyematkan cincin tersebut ke jemari. Kini ia mengenakan sebentuk cincin Gundala Si Anak Petir di ibu jari dan cincin Batu Biduri Dimensi di jari manis. Satu lagi cincin Batu Biduri Dimensi pemberian Lampir Marapi, masih berada di dalam dimensi ruang penyimpanan milik Komodo Nagaradja. 

“Kakak Poniman, jikalau ada kesempatan, maka diriku akan kembali dan menemanimu dalam penugasan lain.” Bintang Tenggara tersenyum ramah. 

Di saat Bintang Tenggara melangkah ke dalam gerbang dimensi, sudut matanya tak sengaja menangkap sebuah titik hitam di atas langit nan jauh. Titik hitam tersebut sedang terbang melayang ke arah utara. Entah mengapa, dirinya merasakan semacam perasaan dekat. 

Bilamana Bintang Tenggara dapat mencermati lebih lama atau memiliki kemampuan menebar mata hati sejauh dan sefokus Aji Pamungkas, maka ia akan sangat terkejut. Kenapa? Karena ia akan melihat selembar permadani terbang. Permadani tersebut memuat gambar sebuah matahari dengan delapan sudut. 

Di atas permadani, duduk melipat kaki ke samping, adalah seorang anak gadis nan mungil. Rambutnya tergerai panjang dimainkan angin, pembawaannya setenang gerakan awan di kala hari cerah. Sepasang bola mata bundar nan jernih ikut melepas kepergian Bintang Tenggara. Sebentuk senyum manis menghias bibirnya yang merah. 

Anak gadis kecil itu merupakan sosok yang sama dengan yang tersenyum kepada Bintang Tenggara, sebelum kejadian pergeseran posisi tubuh terjadi. 


“Hm… Poniman…?” Maha Guru Segoro Bayu menatap curiga setelah Bintang Tenggara melangkah masuk ke dalam lorong gelap. “Kemanakah gerbang dimensi ruang tadi menuju…?”

“Sesuai permintaan adik Bintang Tenggara. Kepada petugas gerbang dimensi, diriku memberitahu bahwa tujuannya adalah… Ibukota Negeri Dua Samudera.” 

“Poniman…” 

Maha Guru Segoro Bayu menghela napas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepala, sebelum tertunduk tiada berdaya. Tak tahu dirinya harus berkata apa, karena antara ‘Sanggar Sarana Sakti’ dengan ‘Ibukota Negeri Dua Samudera’, tak ada satu pun kata dengan tingkat kemiripan yang dapat membuat seseorang tersalah mendengar. 

Bagaimana mungkin Poniman dapat melakukan kesalahan dengan mengirimkan Bintang Tenggara ke Ibukota Negeri Dua Samudera…? sang Maha Guru diam membatin. 

Sungguh sebuah misteri. 


Setelah dilambung-lambungkan di dalam lorong gelap dengan kilatan listrik di beberapa sudut, Bintang Tenggara terlontar keluar dari gerbang dimensi. 

“Byur!” 

Bintang Tenggara tercebur ke dalam air. Setengah tubuhnya basah, karena batas air setinggi perut. Lebih tinggi dari tubuhnya, di sekeliling, adalah semak ilalang yang tumbuh di dalam air tersebut. 

Anak remaja itu tiada sempat melempar Segel Penempatan, karena seharusnya ia tiba di wilayah pegunungan nan sejuk, bukanlah rawa-rawa nan dingin! 

Apakah mungkin diriku tersimpang arah, ataukah memang sejak awal tersalah arah. Bintang Tenggara tiada hendak menduga-duga. 

“Komodo Nagaradja, bukankah tempat ini mengungkit banyak kenangan lama…?” Tetiba Ginseng Perkasa berujar. 

“Hmph!” Lawan bicaranya hanya mendengus. 

“Dimanakah ini…?” aju Bintang Tenggara. 

“Lihatlah ke atas sana!” hardik Komodo Nagaradja. 

Sontak Bintang Tenggara mendongak. Jauh… jauh tinggi di udara, seperti menggantung di langit… adalah seonggok tanah nan maha luas. Saking luas dan besarnya, tanah tersebut seolah mampu menutupi matahari yang seharusnya bersinar cemerlang di siang hari bolong. 

Bintang Tenggara takjub. Awan-awan yang berarakan rendah, membentur tanah tersebut lalu pecah berhamburan. Sungguh perkasa, seolah tiada tara. Kedua mata si anak remaja lalu melihat akar-akar maha besar dan maha panjang yang berjuntai-juntai ke bawah. Beberapa bagian akar, menjanggkar erat sampai ke permukaan bumi di kejauhan. 

“Apakah gerangan…?” Bintang Tenggara bergumam pelan. Lalu melempar Segel Penempatan sebagai tempat berpijak.

“Selamat datang, wahai bocah dusun,” cibir Komodo Nagaradja. “Di bawah bayangan ibukota baru Negeri Dua Samudra… Rajyakarta!”

“Itu… itu adalah kota di atas awan…? Ibukota Rajyakarta!?” Bintang Tenggara tiada mampu menyembunyikan kekagumannya. 

Alkisah, saat Perang Jagat berkecamuk, Sang Maha Patih terpaksa memindahkan pusat pemerintahan dari wilayah pusat Pulau Jumawa Selatan menuju ke wilayah barat. Ia menggantikan pusat pemerintahan yang tadinya terletak di Sastra Wulan dengan kota baru bernama Rajyakarta. 

Malangnya, ibukota baru tersebut menjadi sasaran dan pusat pertempuran puncak. Serangan Kaisar Iblis Darah bersama para pengikutnya menciptakan bencana alam. Hujan lebat turun tiada henti, air bah dari pegunungan mengucur deras, gelombang laut pasang meluap sampai membanjiri permukaan tanah. 

Dalam keadaan terjepit, Sang Maha Patih bersama para Jenderal Bhayangkara, dikisahkan mengangkat dan melambungkan ibukota baru. Lalu, bersama-sama mereka merapal sebuah formasi segel abadi yang memungkinkan ibukota tersebut melayang tinggi di langit. 

“Apakah Super Guru dan Kakek Gin ikut serta dalam upaya mengangkat Rajyakarta…?” Bintang Tenggara sungguh penasaran. 

“Waspada!” sergah Komodo Nagaradja.

“Siapa di sana!?” tetiba Bintang Tenggara mendengar suara panggilan tak terlalu jauh dari tempat dimana ia mengamati ibukota baru Negeri Dua Samudera. 

“Serahkan dirimu!” 

Bintang Tenggara kembali melempar beberapa Segel Penempatan sebagai pijakan melompat. Tak jauh, ia menemukan semacam dermaga, atau rumah panggung, atau lebih mirip dengan pendopo di atas rawa. Bentuk nya persegi dengan tiang-tiang penyangga yang tertancap di bawah rawa. Pada sisi atas, terdapat ruang dengan lantai terbuka yang terbuat dari kayu. Kemudian, ada lagi tiang-tiang tanpa dinding yang berfungsi sebagai penyangga atap. Bagian terakhir ini yang terlihat mirip pendopo.  

Segera Bintang Tenggara mengarah ke tempat itu. 

Ketika tiba, Bintang Tenggara mendapati keberadaan sebuah prasasti batu di atas daerah terbuka di depan pendopo. Pastilah prasasti batu tersebut yang terhubung dengan prasasti batu di Perguruan Maha Patih di Kota Ahli. Seharusnya, saat terlontar ke luar dari lorong dimensi ruang tadi, dirinya melompat ke arah tempat ini. 

“Anak… muda…,” tetiba terdengar rintihan dari sela-sela kayu pembatas pendopo. 

Betapa terkejutnya Bintang Tenggara ketika menemukan tubuh sejumlah ahli yang tergeletak tiada berdaya. Enam jumlah mereka. Kesemuanya mengenakan pakaian resmi ibarat prajurit. Tubuh mereka bersimbah darah! 

“Pe… rom… pak…” 

Salah satu tubuh bersimbah darah merintih. Tak lama, sisa napasnya habis, dan ia tergeletak kaku. Bintang Tenggara bahkan belum sempat mendatangi tubuh tersebut demi memberi bantuan. 

Mengamati tempat tersebut, anak remaja itu segera menyimpulkan bahwa dirinya berada di sebuah gardu jaga gerbang dimensi. Siapa pun yang datang berkunjung ke rawa-rawa ini melalui gerbang dimensi ruang, maka akan tiba di gardu jaga ini. 

“Mangsa pertama, sepertinya putra dari keluarga kaya…” 

Sontak Bintang Tenggara menoleh. Di belakang, tak jauh dari tempat dimana ia berdiri, sekelompok ahli telah mengepung dari segala penjuru. Kesemuanya berpakaian serba abu-abu. Wajah mereka tertutup rapat, hanya menyisakan segaris mendatar untuk menampilkan sepasang mata. 

Mereka adalah ahli-ahli yang tadi berteriak ke arah dirinya yang sedang asyik memandangi keajaiban yang menggantung di atas langit! 

“Lihat saja kilau cincin Batu Biduri Dimensi miliknya… pastilah memiliki ruang penampungan yang lebih luas.” 

“Hahaha… harga cincinnya saja sudah cukup mahal, apalagi isinya…” 

“Kasta Perunggu Tingkat 9… Cukup sepadan untuk dijual sebagai budak…” 

“Sergap dia!” 

Sekelompok ahli merangsek maju. Sekitar sepuluh jumlah mereka. Berbagai jenis senjata dikeluarkan. Sepertinya mereka hendak menyelesaikan urusan dengan sangat cepat. Aura yang mereka pancarkan sulit dicerna, kemungkinan besar kesemuanya sudah berada pada Kasta Perak! 

Bintang Tenggara tersudut, padahal belum sepenuhnya memahami situasi yang berlangsung! 

Di dalam keadaan seperti ini, Bintang Tenggara tiada perlu berpikir dua kali. Ia harus melarikan diri! 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut! 

Setelah teleportasi jarak dekat, supuluh jajar Segel Penempatan telah menanti. Anak remaja tersebut segera melenting-lenting cepat. Di saat yang sama, Bintang Tenggara sepenuhnya menyadari bahwa dirinya akan segera mengalami permasalahan mendasar. Karena sesungguhnya, ia bukanlah berlari, namun melompat-lompat. Kecepatan antara melontar segel penempatan lalu melompat tiada secepat di kala dirinya berlari. 

Selain itu, karena Segel Penempatan bersifat semi transparan, lama-kelamaan lawan akan menyadari dan dapat memperhatikan dengan seksama. Dengan demikian, mereka akan mengetahui kemana arah dirinya akan melompat kemudian. 


“Swush!” 

Tak lama berselang, sekelompok ahli melompat keluar dari gerbang dimensi ruang yang sama dengan Bintang Tenggara. Bedanya, mereka segera mendarat di gardu jaga. Tujuh jumlah mereka. Satu yang paling depan segera memeriksa keadaan. 

“Cih! Kita terlambat!” Seorang lelaki dewasa muda berambut cepak, bertubuh besar, berotot, bertelanjang dada, dan berkeringat… berdiri menatap para prajurit jaga yang telah menghembuskan napas terakhir. Lengan kanannya menggenggam erat gagang kampak nan besar berwarna hitam. 

“Pimpinan… sepertinya para prajurit jaga ini dihabisi oleh para perompak,” ungkap anggota yang tadinya melangkah paling depan kepada si pemimpin regu. Dari gaya berpakaian dan berbicara, kemungkinan mereka adalah regu prajurit dari ibukota di atas langit sana. 

“Biasanya mereka bersiaga di sekitar sini menanti siapa pun yang tiba untuk disergap dan dihabisi!” tambah anggota lain. 

Pimpinan mereka -- yaitu lelaki dewasa muda berambut cepak, bertubuh besar, berotot, bertelanjang dada, dan berkeringat -- merogoh ke dalam tas yang menggantung di belakang pinggang. Ia mengeluarkan semacam bola kristal yang berukuran sekepalan tangan. Di atas telapak tangan terbuka, bola kristal kemudian mendapat aliran tenaga dalam dan tebaran mata hati.

Bola kristal perlahan melayang ringan, berkedip-kedip membiaskan cahaya di wilayah gardu jaga. Setelah beberapa waktu, muncul bayangan di dalam kristal. Pimpinan regu mengamati dengan seksama. Keenam anggota ikut mendekat dan mengerubungi bola kristal.

Terlihat enam prajurit jaga tergeletak tak berdaya… Lalu terlihat pula seorang anak remaja berdiri di gardu jaga, menatap dingin ke arah mayat-mayat yang tergeletak. Anak remaja tersebut melompat pergi! 

Sang pimpinan regu menangkap bola kristal dan menyimpannya kembali. Baginya, informasi yang diperoleh sudah lebih dari cukup. Bola kristal, ternyata, berfungsi untuk mengintip sedikit ke masa lalu dan menampilkan dalam gambaran yang terputus-putus.  

“Kirimkan pesan ke markas utama di Ibukota untuk menjemput mayat para sahabat ini. Setelah itu, segera menyebar dan buru anak remaja itu! Ia adalah pelaku pembunuhan di gardu jaga ini!” perintah lelaki dewasa muda berambut cepak, bertubuh besar, berotot, bertelanjang dada, dan berkeringat. 

“Baik, Pimpinan!” serempak keenam anggota regu menerima mandat. 

Lelaki dewasa muda berambut cepak, bertubuh besar, berotot, bertelanjang dada, dan berkeringat itu lalu mengangkat lengan kanannya tinggi-tinggi. Sebilah kampak besar siap menebas leher siapa pun yang ada di hadapannya! 

“Sampai ke ujung dunia sekali pun, aku, Laskar Segantang… akan memburu pelaku pembunuhan nan keji! Nyawa dibalas nyawa. Kampak Keadilan akan menghakimi!”