Episode 18 - Datang lagi


Solas selesai mengumpulkan kepingan-kepingan pedang gram yang telah hancur, akan tetapi dia tidak bisa mengumpulkan semuanya, karena banyak kepingan yang jatuh di bagian luar gerbang helx. 

Dia menyalakan sebuah api di tangannya. Lalu mulai membakar kepingan pedang gram. Dia ingin menempa kembali pedang tersebut. Namun, karena dia sudah kelelahan dan tidak memiliki banyak energi setelah menggunakan devil heart untuk bertarung dengan Sitri, api yang dia ciptakan tidak cukup kuat untuk melelehkannya dengan sekejap. Namun, dia tidak memiliki banyak waktu tersisa.

“Lerajie! Berhenti menangis dan bantu aku.” Teriak Solas pada Lerajie yang masih terisak sambil memeluk tubuh Sitri.

Lerajie mendongakan kepala dan melihat pada arah suara itu, dia melihat Solas yang sedang membakar kepingan logam di depan gerbang helx. Dia merasa bingung, kenapa dia melakukan hal itu di sini? Apakah dia bodoh?

Solas melihat wajah Lerajie yang habis menangis, dia tidak bisa tidak jijik setelah melihat itu, dalam benaknya dia berpikir, “Inilah kenapa pria tidak mau membuat perempuan menangis.” Bagi Solas, wajah seorang perempuan yang menangis sangat jelek. Mata merah, ada bekas air mata yang mengalir di pipi, dan ingus yang keluar dengan deras dari hidung. 

“Cepat datang kemari dan bantu aku, dan sebaiknya kau buang pengkhianat itu ke kandang monster, dialah dalang dari semua ini.” Ucap Solas lagi.

“Tidak, ini bukan salahnya. Jangan katakan omong kosong seperti itu, atau aku akan membunuhmu!” teriak Lerajie dengan sangat marah. Dia menatap tajam Solas dengan penuh permusuhan.

Solas merasa takjub dengan perubahan emosi Lerajie, padahal sebelumnya dia berada dalam kondisi sedih yang sangat dalam, akan tetapi dengan sangat cepat dia langsung menjadi sangat marah.

“Terserahlah, cepat bantu, aku harus segera menempa pedang ini.” Ucap Solas dengan ketus.

“Lakukan sendiri, jangan libatkan aku dengan hobi bodohmu, aku tidak ada hubungannya dengan semua itu.” Balas Lerajie dengan kesal.

“Tidak ada hubungannya katamu? Ini semua untuk menyegel Fafnir yang sedang mengamuk di gudang senjata. Dan asalkan kau tahu, si pengkhianat itulah yang membebaskannya!” Solas sangat marah, meskipun dia biasa berkepala dingin, akan tetapi ketika menghadapi perempuan ini, entah kenapa dia tidak mampu mengendalikan emosinya.

Lerajie tersentak setelah mendengar apa yang Solas katakan. Dia segera bangkit dan membiarkan tubuh Sitri yang tidak lagi bernyawa di tanah. Berjalan menghampiri Solas lalu mulau membuat api untuk membakar kepingan pedang gram.

Solas telah kembali tenang, dia tidak mengatakan apapun dan hanya fokus untuk membakar kepingan pedang gram dan kepingan pedang buatannya yang telah hancur. Setelah sekian lama, kedua logam mencair.

Di antara kepingan logam panas yang mencair, Solas dan Lerajie, hanya diam, tanpa mengatakan apa-apa, meskipun berada di dekat api yang panas, suasana di sekitar mereka terasa dingin.

Solas mulai menempa kedua pedang itu menjadi satu. Berpacu dengan waktu, untuk membuat kunci kemenangan.

Di dalam gudang senjata, Idos dan Vaberian terpesona dengan kuatnya pertahanan dari sisik Fafnir. Mereka memang berpikir naga itu kuat, tapi ternyata lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Gada besar yang Vaberian gunakan untuk menyerang bahkan tidak mampu untuk menggores sisik naga itu.

Namun, Vaberian tidak menyerah, dia bangkit sambil memegang erat gada pada kedua tangannya. Dengan sayap yang berada di punggungnya, dia terbang cepat menuju Fafnir.

“Matilah!” teriak Vaberian penuh semangat.

Namun, bahkan sebelum dia dapat menyerang, Fafnir mengibaskan sayapnya dan sebuah serangan angin tercipata dan membuat Vaberian terpental jauh. 

Vaberian merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat serangan itu, dan juga keluar darah dari ujung bibirnya. Dia menyeka darah itu sambil berdiri dengan bertumpu pada gada. Dia menatap Idos dan tidak bisa tidak merasa kagum. Dia hanya terkena satu serangan dari naga itu dan telah terluka cukup parah. Namun, Idos yang sedari tadi menahan naga itu di gudang senjata ini bahkan tidak terluka sedikit pun.

“Kau benar-benar hebat, kau berhasil menahan naga itu tetap di sini bahkan tanpa terluka.” Ucap Vaberian penuh kekaguman.

Idos tertawa kering lalu berkata. “Yah, itu bukan apa-apa.”

“Aku tidak bisa mengalahkan naga itu sendirian, ayo kita serang bersama.” Ucap Vaberian lagi. 

“Ah, baiklah.” Balas Idos lalu mulai berjalan pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Vaberian.

“Mencari senjata, aku tidak membawa senjataku.” Balas Idos lalu keluar dari ruangan itu.

Vaberian tersentak sejenak lalu kembali tenang. Sambil menatap tajam pada Fafnir dia mengacungkan telunjuknya pada naga itu lalu berteriak, “Tunggu saja, sebentar lagi, ketika aku dan Idos menyerangmu bersama-sama, kau pasti akan kalah!”

“Jika memang begitu, sepertinya aku harus menghabisimu sekarang juga.” Fafnir berkata sambil tersenyum jahat. Aura yang sangat menakutkan keluar darinya dan membuat Vaberian mengeluarkan keringat dingin. Dia terlihat seperti ayam yang ketakutan, dalam artian sebenarnya.

“Tunggu, jika kau mengalahkan aku sekarang, ceritanya tidak akan seru.” Vaberian berkata dengan wajah memelas untuk meyakinkan Fafnir. 

“Haha, dasar iblis rendahan, tidak peduli berapa pun, aku tidak akan kalah, karena aku adalah sang naga terkuat, Fafnir.” Fafnir berkata dengan bangga. 

“Kita tunggu saja.” Ucap Vaberian dengan kesal.

Sementara itu, Idos masuk ke ruang senjata yang lain, di sana dia melihat Sorcas yang sedang berdiri menatap sebuah senjata. Dia menghampirinya dan berkata, “Apa yang kau lakukan, cepat pilih dan ayo kita serang naga itu bersama-sama.”

Tanpa menoleh Sorcas langsung berkata, “Tunggu sebentar, aku sedang berpikir. Kau duluan saja.”

“Sial, cepatlah, naga itu lebih kuat dari yang kita bayangkan, mungkin kita bertiga pun tidak mampu mengalahkannya, kecuali menggunakan pedang gram.” Ucap Idos dengan ketus. Dia melihat sekeliling lalu mengambil sebuah pedang raksasa berwarna hitam. Segera, dia menuju ruang senjata tempat di mana Fafnir dan Vaberian berada.

Idos menghampiri Vaberian lalu berkata, “Ayo kita serang bersama-sama.”

“Oke, mari kita buat naga itu menyesal pernah dilahirkan.” Balas Vaberian dengan penuh benci.

Mereka berdua mengepakkan sayap lalu mulai terbang untuk menyerang. Fafnir hanya melihat mereka berdua dengan penuh kebosanan. Kali ini, dia akan membiarkan mereka merasa putus asa, oleh kehebatan sisiknya yang sangat kuat.

Serangan mereka berdua jatuh pada tubuh Idos yang penuh dengan sisik. Namun, tanpa menggoreskan sedikit pun luka, mereka langsung terpental jauh.

“Haha, bagaimana? Apa kalian sudah menyerah?” tanya Fafnir.

“Sial, ayo kita coba serang lagi.” Ucap Vaberian dengan kesal. Dia tahu Fafnir sangat kuat, tapi dia tidak pernah berpikir naga itu sekuat ini, hingga untuk melukainya saja adalah hal yang sangat sulit.

Mereka berdua mulai menyerang, akan tetapi hasilnya tidak berbeda dari sebelumnya. Semua serangan sia-sia di hadapan sisik Fafnir yang sangat tangguh.

Dari arah lain, terdengar langkah kaki mendekat. Tidak lama kemudian sosok Sorcas terlihat. Dia dengan bangga berjalan dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi penuh dengan kesombongan sambil membawa sebuah senjata di tangan kanannya. 

Idos dan Vaberian menoleh ke arah Sorcas dan tercengang dengan senjata yang dibawa olehnya. Itu adalah sebuah golok berwana hitam di seluruh permukaannya. Pemandangan dari seorang iblis yang terlihat seperti seorang kesatria gagah perkasa tapi membawa golok sangat aneh. Menggelikan.

“Apa yang kau lakukan dengan senjata lemah itu?” tanya Idos dengan ketus.

“Benar, bahkan gada dan pedang raksasa tidak dapat menggores sisiknya, apalagi golok kecil itu.” Sambung Vaberian.

Sorcas memberikan seberkas pandangan pada mereka berdua, lalu tanpa menanggapinya, dia mulai berjalan menghampiri Fafnir.

“Kalian berdua, jangan pernah menilai sesuatu dari luarnya saja, meskipun golok ini kecil, akan tetapi bisa membuat naga itu bertekuk lutut padaku.” Ucap Sorcas dengan penuh percaya diri.

“Haha, dasar iblis bodoh, kau pikir senjata kecil seperti itu mampu untuk membuat aku kalah? Jangan banyak bermimpi.” Cibir Fafnir.

“Benar, golok itu tidak akan ada gunanya.” Ucap Vaberian.

“Jangan banyak bicara, akan segera aku buktikan.” Balas Sorcas dengan cepat. Dia memilihnya bukan dengan alasan yang sangat rumit, dia memilih golok ini karena menurut instingnya. Itu saja.

Namun, tidak jarang instingnya memang benar.

Sorcas melesat menuju Fafnir, dia menusukan goloknya itu ke perut Fafnir, yang juga di tutupi oleh sisik. Namun, golok itu segera hancur setelah berbenturan dengan sisik Fafnir dan Sorcas juga terpental jauh.

“Suduh kuduga.” Ucap Vaberian dengan penuh keprihatinan. 

“Tidak, serangan itu berhasil, lihat naga itu.” Ucap Idos yang sedari tadi terus memperhatikan ekpresi dari Fafnir.

Fafnir terlihat kesakitan, matanya menjadi merah dan darah segar menetes dari sudut bibirnya. Dia mengaum dengan keras dan membuka mulutnya lebar-lebar sambil menciptakan bola api.

“Lihat, senjata ini sangat ampuh bukan?” ujar Sorcas dengan wajah berseri-seri.

“Sial, lelucon bodoh apa ini!” ucap Idos dengan kesal.

Namun, Fafnir yang tampak kesakitan itu segera menembakan bola api dengan liar dan terus-menerus. Vaberian, Idos, dan Sorcas terus bergerak untuk menghindarinya. Namun naas, sebuah bola api mengenai sayap dari Vaberian dan membuat dia terjatuh ke tanah dan menyebabkan dia terluka parah.

Fafnir terus memuntahkan bola api dan menyerang tanpa arah. Sebuah bola api terbang lurus menuju arah Vaberian yang sedang tergeletak tidak berdaya di tanah.

Vaberian melihat bola api itu dan menutup matanya, dia tahu, di tidak akan mampu bertahan dari serangan itu, akan tetapi setelah lama menutup mata, dia masih tidak merasakan serangan itu mengenainya.

Dia membuka matanya dan melihat sosok berdiri di hadapannya dengan gagah berani. Tapi telanjang.

Dia memperhatikan sosok itu dengan penuh saksama dan tidak bisa tidak terkejut. Dia benar-benar telanjang. Baiklah, serius. 

Tidak hanya Sorcas, akan tetapi Vaberian dan Idos juga merasa terkejut dengan kehadiran orang itu yang tiba-tiba muncul dari dalam tubuh Fafnir. Benar, dia adalah Focarol.

Terakhir kali, mereka bertiga melihat dengan mata kepalannya sendiri bahwa Focarol ditelan utuh-utuh oleh Fafnir. Tidak pernah dalam benak mereka berpikir Focarol mampu bertahan hidup. Namun, kenyataan berkata lain.

Dia masih hidup dan lukanya juga telah hilang, beserta semua pakaian di tubuhnya.

“Bagaimana caranya kau masih bisa hidup?” tanya Sorcas penuh kebingungan. 

“Haha, bagaimana mungkin aku akan kalah oleh kadal raksasa in? Aku memang sengaja ditelan olehnya, agar aku bisa menyerangnya dari dalam.” Jawab Focarol yang masih telanjang.

“Dasar iblis rendahan, kau benar-benar licik.” Ucap Fafnir dengan murka.

“Tentu saja, lagi pula aku ini adalah iblis.” Sahut Focarol lalu terbang menuju Fafnir.