Episode 17 - Masih berlanjut


Sitri mengepakan sayap yang ada di punggungnya dan terbang rendah pada gelapnya langit malam. Setelah sekian lama, akhirnya dia sampai ke tempat tujuannya.

Gerbang raksasa yang juga dikenal sebagai pembatas antara dunia manusia dan neraka, Helx. Di depan gerbang itu berdiri dengan setia seorang iblis, yang terus-menerus menyerang gerbang raksasa itu dengan sebuah tombak.

Pada gerbang raksasa itu juga terlihat sebuah retak kecil akibat serangan dari iblis tersebut. 

Sitri berjalan menuju gerbang itu dengan pedang gram yang berada di genggaman tangan kanannya. Seraya melangkah, dia juga menanamkan energi api birunya ke pedang itu. Dia memiliki energi lebih banyak ketimbang pemimpin pasukan yang lainnya, akan tetapi bukan berarti tidak terbatas.

Dengan menggunakan devil heart, dia melapisi pedang gram itu dengan api biru yang menyala dengan hebatnya. Namun demikian, jiwanya juga sedikit demi sedikit menghilang dari raganya. 

“Lerajie, menyingkir dari sana!” teriak Sitri sambil terus melangkah.

Lerajie menoleh dan melihat Sitri, dia sedikit terkejut dengan penampilan Sitri saat ini. Pakaian yang dipakainya terlihat compang-camping dan membuat dia dapat melihat otot dada Sitri yang sangat proporsional. 

Melihat itu, Lerajie jadi sedikit bernafsu.

Hal itu bukan tanpa sebab, setelah Sitri menggunakan menggunakan devil heart terus menerus, dia tidak bisa lagi mengendalikan kekuatan khususnya, yang dapat membuat seseorang menjadi bernafsu. Jadi, 50% adalah salah kekuatan khusus dari Sitri, dan sisanya karena...

Lerajie juga melihat pedang gram di tangan Sitri, dan tidak bisa tidak terkejut. 

“Sitri, apa yang ingin kau lakukan?” 

“Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan!”

Sitri terbang rendah dan meluncur menuju gerbang itu sambil menghunuskan pedang gram yang di selimuti dengan kobaran api biru. Dentuman keras terdengar dan sebuah ledakan energi membuat apa saja yang berada di sekeliing Sitri terlempar jauh, tak terkecuali Lerajie yang belum pergi menjauh.

Lerajie yang terlempar jauh bangkit, saat dia melihat ke arah gerbang, dia menyaksikan lerajie berhasil membuat lubang pada gerbang itu. Namun, pedang gram telah hancur berkeping-keping.

Tidak lama kemudian, Sitri juga terjatuh. 

Lerajie melihat itu dan dengan cepat berlari mendekati Sitri. Dia duduk di sampingnya sambil melihat tubuh Sitri yang sangat atletis dan nafsunya kembali bangkit. Efek kekuatan khusus Sitri masih ada.

Namun, semua pikiran tentang itu langsung sirna, setelah Lerajie merasakan jiwa Sitri semakin lama semakin redup. Nafasnya sudah tidak beraturan, dan matanya mulai goyah. Dia tidak bisa lagi menahan air mata, karena takut Sitri mungkin akan menghilang.

“Sitri, Sitri, aku mohon, jangan tinggalkan aku.” 

Sitri masih memiliki sedikit kesadarannya, dia melihat wajah Lerajie yang telah basah oleh aliran air mata. Sitri tersenyum lalu sedikit demi sedikit menggerakan tangannya untuk menyeka air mata Lerajie.

Lerajie tidak bisa berkata apa-apa dan terus menangis.

Dengan terbata-bata, Sitri berkata, “Ja-ngan me-nangis, ter-se-nyumlah.” 

“Tapi...”

“A-ku ing-in men-coba mem-bu-ka ger-bang itu, ta-pi ti-dak ber-hasil, ma-af-kan a-ku.”

“Dasar bodoh, tidak apa-apa selama kau masih hidup, kau bisa mencobanya lagi, jadi kau harus terus hidup.” 

“Da-sar e-go-is.”

Namun, semua kadang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Sitri yang sedari tadi menggunakan devil heart telah membakar sebagian besar jiwanya, dan akhirnya dia tidak bisa bertahan lagi.

Meskipun demikian, dia tidak mau hilang begitu saja, dia menanamkan sedikit jiwanya yang masih tersisa ke dalam salah satu kepingan pedang gram yang hancur, dan jatuh bersamaan dengan kepingan pedang itu, ke dunia manusia.

Lerajie menangis tersedu-sedu ketika mengetahui jiwa Sitri tidak lagi ada. Sekali lagi, dia kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya. Semua itu terjadi, karena dirinya.

Sementara itu, Solas yang telah kalah dari Sitri akhirnya sadar kembali, dengan terseok-seok dia bangkit dan berjalan dengan matanya yang masih menyimpan sedikit harapan, untuk keselamatan negeri neraka, dari naga terkuat, Fafnir.

Sedangkan itu, di gudang senjata, pemimpin iblis yang datang adalah Idos, Vaberian, dan Sorcas.

Idos adalah iblis dengan kepala singa dan sepasang sayap di pundaknya. Selain itu, dia juga memiliki ekor kelinci yang membuat dia terlihat sedikit menggemaskan. 

Vaberian adalah iblis dengan wujud ayam jantan dan juga memiliki sayap pada punggungnya. Meskipun ayam, tapi dia juga bisa terbang.

Sedangkan Sorcas adalah iblis dengan wujud seorang ksatria gagah. Dia tidak memiliki sayap pada punggungnya, akan tetapi dia bisa terbang juga, menggunakan pusaka yang dia temukan.

Mereka bertiga terlambat, saat mereka datang, Focarol telah dilahap oleh Fafnir. Melihat itu, Sorcas merasa marah dan segera ingin menyerang. Namun, dihentikan oleh Idos.

“Tunggu sebentar!” ucap Idos pada Sorcas yang terlihat sangat kesal karena dihentikan.

“Tunggu apalagi? Kita harus membalaskan dendam Focarol!” teriak Sorcas.

“Kau pikir kau bisa mengalahkan naga itu?” tanya Vaberius pada Sorcas.

“Tentu saja, sepertinya, mungkin, hmm ... bisa jadi.” Jawab Sorcas yang telah sedikit dingin, dia menyadari, kemungkinan besar dia tidak akan bisa mengalahkan naga itu.

“Kita tidak mungkin bisa mengalahkan naga itu jika seperti ini.” Ucap Idos sambil memandang Fafnir yang perkasa, bahkan auranya saja membuat dia sedikit ketakutan.

“Lalu, apa yang harus kita laakukan?” tanya Sorcas.

“Kau sadar kita berada di mana?” tanya Idos.

Setelah mendengar pertanyaan itu, Vaberian segera mengerti lalu berkata, “Benar juga.”

Tapi, tidak untuk Sorcas, “Maksudnya?”

Fafnir yang sedari tadi menyaksikan obrolan tiga pemimpin iblis yang baru datang itu mengambil sebuah kesimpulan, iblis memang bodoh.

“Ini adalah gudang senjata, dengan kata lain, di tempat ini banyak senjata tersimpan.” Jelas Idos pada Sorcas.

Tapi Sorcas hanya menjawab dengan, “Lalu?”

“Kita tidak bisa mengalahkan naga itu dengan senjata kita saat ini, jadi kita harus mencari sebuah senjata yang mungkin dapat mengalahkannya.” Jelas Vaberian.

“Hmm .... jadi begitu.” Ucap Sorcas sambil menganggukan kepalanya.

“Tunggu apalagi, cepat cari senjata di ruangan lain, aku akan menahan dia di sini!” teriak Idos. Dengan begitu, Vaberian dan Sorcas pergi dan mencari senjata.

Saat ini, Fafnir dan Idos hanya berdua. Meskipun dia merasa takut pada naga mengerikan ini, akan tetapi dia tetap mencoba untuk terlihat keren. Singa adalah sang raja rimba. Namun, di hadapan seekor naga, raja rimba bukanlah apa-apa.

“Hahaha, cepat panggil yang lain, semakin banyak yang datang, semakin mudah aku untuk pulih kembali.” Ucap Fafnir dengan sombong. Di matanya, mereka semua yang datang hanyalah makanan agar dia dapat mengisi energinya kembali.

“Kau pikir kau segalanya, ingatlah, di atas langit masih ada langit.” Teriak idos pada Fafnir. Dia memang mengakui bahwa Fafnir sangat kuat, itu terbukti dengan mudahnya dia dapat menelan Focalor, salah seorang pemimpin pasukan, sama seperti diirinya.

“Dalam puncak rantai makanan, naga adalah yang teratas, jadi akulah puncak dari segala langit.” Ucapnya dengan sangat percaya diri.

Sementara itu, di ruangan lain, Vaberian dan Sorcas mencari sebuah senjata. Banyak senjata yang terpajang di sana. Hingga membuat Sorcas menjadi kebingungan.

Vaberian melihat sebuha gada. Pada gada itu tercetak lukisan naga dan terlihat sangat kuat. Dalam benaknya, dia membayangkan bagaimana jika gada itu digunakan untuk menyerang Fafnir.

Itu pasti akan sangat efektif. Mengingat ukuran tubuh Fafnir yang besar, meskipun Gada tidak secepat sebuah pedang, dia yakin Fafnir tidak akan bisa menghindarinya. Dibandingkan dengan pedang dan tombak yang terpajang, dia merasa gada adalah pilihan paling masuk akal.

Jadi, Vaberian mengambil gada besar itu dan melihat ke arah Sorcas yang terlihat kebingungan memilih senjata, karena memang, terlalu banyak senjata yang terpajang di sini, dan itu semua terlihat sangat keren di mata Sorcas.

“Hei, cepatlah! Kita tidak boleh membuat Idos menunggu terlalu lama.” Ucap Vaberian pada Sorcas yang masih asik memilih senjata. Sorcas merasa tergganggu dan berkata, “Kau duluan saja, aku masih harus memilih terlebih dahulu.”

“Sialan! Aku pergi dulu, cepat susul aku.” Ucap Vaberian dengan kesal lalu pergi menuju tempat di mana Idos dan Fafnir berada. 

“Baiklah.” Balas Sorcas singkat. Dia memperhatikan sebuah sebuah pedang besar dengan ukiran naga di tepinya, melihatnya dengan saksama lalu menaruhnya kembali, dia merasa naga yang di ukir terlihat jelek. 

Jadi, dia melihat senjata lain lagi, kali ini adalah sebuah tombak bermata tiga. Dia mengangkat tombak itu lalu mencoba memutar-mutarnya, tapi tidak lama kemudian dia taruh kembali. Tombak itu terlalu biasa, dia menginginkan sebuah senjata yang tidak hanya kuat, tapi juga keren.

Namun, dari kebanyakan senjata yang ada di sini hanya terlihat kuat, tapi tidak keren. Tapi Sorcas tidak mau menyerah, dia terus mencari senjata mana yang memenuhi kriterianya. Sorcas memutar bola matanya menuju pojok ruangan, dia melihat sebuah senjata keren, dia tersenyum lalu mengambilnya.

Di lain tempat, Fafnir sedang berdebat dengan Idos, tidak lama kemudian datang Vaberian dengan membawa sebuah gada. Pemandangan dari seorang Iblis yang menyerupai ayam berjalan membawa sebuah gada raksasa, ini sangat menggelikan.

Ketika Fafnir melihat gada itu, dia hanya bisa tertawa, gada itu tidak mungkin bisa menembus pertahanan sisiknya yang sangat kokoh.

“Bagaimana? Kau terluka?” tanya Vaberian dengan rasa khawatir. Menurut Vaberian, meskipun tidak lama, tapi untuk menahan naga mengerikan itu pasti sangat sulit.

Idos bingung harus menjawab apa, karena sedari tadi dia hanya berdebat dengan Fafnir, tanpa ada pertarungan apapun, setelah berpikir sebentar lalu dia menjawab, “Y-ya, aku tidak apa-apa.”

“Seperti yang diharapkan dari Idos, sang iblis raja rimba, kau memang hebat.”

“Eh, y-ya, benar. Lalu bagaimana senjatanya?” tanya Idos, meskipun dia sudah melihat gada yang dibawa oleh Vaberian.

“Lihat, dengan gada ini, aku pasti bisa menghancurkan pertahanan sisik naga itu.” ucap Vaberian lalu mulai terbang menuju Fafnir.

Fafnir melihat serangan dari Vaberian, tapi dia tidak menghindar, dia membiarkan Vaberian menyerangnya. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Vaberian beserta gada itu terpental jauh setelah menyerang Fafnir.

Di lain tempat, Solas kini berada di depan gerbang helx. Di sana dia melihat Lerajie yang sedang menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh Sitri. Ketika dia melihat tubuh Sitri, dia menjadi marah. Tapi, dia langsung meredakan amarahnya ketika menyadari tubuh itu sudah tak lagi bernyawa. 

Solas berjalan mendekati gerbang helx tanpa memperdulikan Lerajie dan Sitri, lalu mengumpulkan sisa kepingan pedang gram yang telah hancur.