Episode 195 - Perlombaan (3)



“Jangan biarkan ia merampas benda pusaka perguruan kita!” 

“Untuk memperoleh mustika itu, para tetua Perguruan Panji Manunggal terdahulu berjuang mati-matian demi menjagal binatang siluman Kasta Emas!” 

“Mustika itu akan sangat bermanfaat bagi kita dalam menekuni jalan keahlian!” 

Bagi ahli Kasta Perunggu, mustika binatang siluman Kasta Emas, sangatlah bermanfaat. Mereka dapat memindahkan sedikit demi sedikit tenaga dalam ke dalam mustika tersebut. Kemudian, tenaga dalam yang telah dikumpulkan dan disimpan dapat digunakan sewaktu-waktu dengan cara memecahkan mustika. Walau hanya sekali pakai, tenaga dalam yang tersimpan pada mustika tersebut berguna demi menyelamatkan jiwa dalam keadaan sangat terdesak. 

Empat remaja segera merangsek cepat. Dua yang diketahui memiliki kesaktian unsur tanah sudah sedari petang tak lagi terlihat batang hidungnya. Anggap saja bahwa mereka telah tersingkir dari perlombaan ini. Sisa empat inilah yang masih berupaya menegakkan nama baik perguruan mereka.

Akan tetapi, secepat apa pun mereka, di kala Bintang Tenggara sudah berada di depan, maka tak banyak harapan yang tersisa. Mereka hanya dapat menelan kekecewaan saat anak remaja tersebut melenting-lenting tinggi ke udara, lalu mengambil mustika binatang siluman Kasta Emas. Semudah memetik mangga. 


“Keparat!” Empu Wacana dari Perguruan Panji Manunggal menghardik berang. “Bapakku merupakan salah satu ahli yang bertarung dengan binatang siluman Kasta Emas demi mendapatkan mustika itu!” 

“Hmph! Jikalau dibiarkan lebih lama, maka ia akan semakin merajalela!” tanggap Maha Guru Sanata. 

“Apakah engkau menyarankan agar kita turun tangan menyingkirkan murid Kasta Perunggu itu…?” Empu Wacana memperoleh celah. 

“Aku tiada menyarankan tindakan yang sedemikian rendah…,” elak Maha Guru Sanata. Hampir saja dirinya mencoreng arang di wajah sendiri. Mana mungkin ahli sekelas Kasta Emas membungkam ahli Kasta Perunggu, di kala murid-murid mereka menang jumlah. Apa kata dunia…?

Walhasil, demi harga diri, kedua ahli Kasta Emas hanya menggeram sebal. 


Bintang Tenggara kembali memacu langkah. Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa bersorai ibarat sepasang pemandu sorak. 

“Semangat! Semangat! Semangat!” jerit Ginseng Perkasa. 

“Garis akhir di depan mata. Raih kemenangan dan taklukkan dunia!” Komodo Nagaradja bertitah penuh wibawa. 

Ketiga-tiga ahli ini sepertinya melupakan satu hal penting, bahwa secara resmi, Bintang Tenggara bukanlah peserta perlombaan. Ia hanya seorang anak remaja yang kebetulan saja melintas. Dilihat dari sudut pandang mana pun, anak remaja tersebut merupakan pengacau di dalam hajatan ahli lain. 

“Jangan hanya bisa berkelit!” 

“Sebagai sesama ahli, hadapi kami selayaknya dalam pertarungan.”

“Kemana harga dirimu sebagai seseorang yang meniti jalan keahlian!” 

Melontar kata-kata mungkin merupakan satu-satunya senjata yang dapat dikerahkan keempat murid malang tersebut. Saat ini, mereka sepenuhnya menyadari bahwa di dalam perlombaan ini, tiada mungkin dapat menyusul si pengacau itu. Segala daya upaya telah diberikan, namun tetap saja tiada dapat mengejar. Siapakah sesungguhnya anak remaja itu!? Dari perguruan mana!? Mengapa mengacau!?

“Hadapi mereka!” sergah Komodo Nagaradja. 

“Teruslah berlar!” dorong Ginseng Perkasa. 

“Hei! Apa maksudmu!?”

“Ini adalah perlombaan, bukan pertarungan!”

“Muridku tiada pernah mundur dari tantangan!”

“Kemenangan sudah di depan mata, untuk apa membuang peluh meladeni ahli lemah!?”

Terjadi perpecahan di antara dua pendukung Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara menghentikan langkah. Ia menatap tajam ke arah empat pengejar. Lebih dari sehari semalam mereka berlari tiada henti. Dilihat dari cara mereka berlari kini, maka dapat dipastikan bahwa tubuh mereka sudah kelelahan. Kemungkinan hanya tekad di hati saja yang masih tersisa. Benar kata-kata Kakek Gin, bahwa bilamana bertarung, maka Bintang Tenggara tak beda dari seorang perisak yang menginjak-injak ahli nan lemah. 

Jarak yang memisahkan mereka masih cukup jauh. Iseng, Bintang Tenggara mengeluarkan gulungan naskah yang sebelumnya ia ambil. Jurus Guntur Menggelegar adalah sebagaimana yang tertulis sebagai judul. Ia membuka gulungan tersebut, lalu mulai membaca. 

“Swush!” 

Tak lama, Remaja terdepan tiba dan segera menyerang dengan menghunus tombak panjang. Bintang Tenggara berkelit ke samping. Akan tetapi, telah menyambut remaja lain yang menebaskan golok nan garang. 

Bintang Tenggara dipaksa bergerak mundur. Di saat yang bersamaan, dua lawan melompat tinggi. Seorang menusukkan pedang, seorang lagi melepas jurus kesaktian unsur api. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Serangan-serangan lawan hanya menerba bayangan tubuh Bintang Tenggara. Sementara, anak remaja tersebut telah bergeser posisi tubuhnya. Mengandalkan kembangan silat, kemudian Bintang Tenggara bergerak memutar ke arah samping. Tak satu pun serangan murid-murid nan kelelahan dapat mendarat ke sasaran. 

Di saat seperti ini, terbuka banyak kesempatan. Namun demikian, tiada Bintang Tenggara melancarkan serangan balik. 

Keempat lawan kembali menyerang. Memupus permusuhan di antara kedua perguruan, mereka bahu-membahu. Musuh bersama ini haruslah dienyahkan terlebih dahulu sebelum mereka dapat melanjutkan perlombaan demi membuktikan perguruan mana yang lebih baik. 

Serangan-serangan yang tadinya terkoordinasi, lama kelamaan berubah menjadi serangan membabi buta. Kelelahan jiwa dan raga membuat mereka tiada dapat berpikir jernih. Dan yang paling penting, kombinasi kembangan dan bentuk kedua dari silek Linsang Halimun demikian sulit digapai. Walhasil, keempat remaja berhenti menyerang. Napas mereka terengah, mata memerah. 

“Sialan!” 

“Setidaknya habisilah kami!” 

“Perlakukan kami layaknya sesama ahli!”

“Sampai kapan kau hendak menginjak-injak harga diri kami!”

Teriakan-teriakan putus asa terdengar pilu. Bintang Tenggara tiada bermaksud menghina mereka sampai sejauh ini. Dirinya merasa serba salah. Mana mungkin ia menyarangkan serangan terhadap ahli-ahli yang sudah lelah. Dirinya bukanlah Panglima Segantang yang dapat berubah dingin di dalam setiap pertarungan, kemudian membantai lawan tanpa pandang bulu. 

“Bukankah sudah kukatakan untuk segera mengalahkan mereka…?” cibir Komodo Nagaradja. “Sekarang lihatlah apa yang kau lakukan… Kemungkinan mereka akan berhenti meniti jalan keahlian setelah kejadian ini.” 

“Super Guru… Bilamana memang hanya sebatas ini keteguhan hati mereka dalam meniti jalan keahlian, maka cepat atau lambat mereka akan menyerah.” 

“Jangan menjawab!”

“Jangan salahkan diriku bilamana mereka mudah berputus asa.” 

Bintang Tenggara kemudian melengos pergi. Ia mengabaikan jerit iba keempat lawan. Walalupun demikian, dengan tertatih mereka berupaya mengejar anak remaja pengacau tersebut.


Matahari menyapa dari ufuk timur. Sinarnya menegur Gunung Candrageni, kemudian mengusir kabut-kabut tipis yang menggantung. Udara nan dingin berangsur hangat. Pepohonan dan tetumbuhan berseri-seri, kicau burung melantunkan nada nan asri.

Di satu titik di lereng gunung, seorang anak remaja sedikit lagi mencapai garis akhir. Sebentuk kotak imbalan terakhir yang dipersiapkan oleh Perguruan Duta Guntur tergeletak. Akan tetapi, kali ini sebuah formasi segel membentengi jalan setapak. 

Bintang Tenggara menghentikan langkah. Formasi segel dihadapannya cukuplah rumit. Meskipun demikian, ia menebar mata hati dan mengalirkan sedikit tenaga dalam ke ujung jemari. Ia kemudian terlihat memainkan jemari dengan lincahnya.   

Di kejauhan, empat murid melangkah gontai. Namun, menyadari bahwa si anak remaja entah siapa sedang berdiri di hadapan formasi segel, semangat mereka menggebu. Mereka pun memacu langkah, karena menyadari bahwa lawan tersebut terhalang langkah majunya. Dengan kata lain, mereka dapat membokong dari belakang. Sebuah harapan kembali bersemi. 

“Cring!” 

Formasi segel terurai. Bintang Tenggara meraih kotak, lalu melangkah cepat menuruni lereng gunung. Tiada barang sekali pun ia menoleh ke belakang. Tiada gunanya juga menyaksikan wajah-wajah nan putuh asa. Tiada tega. 

Tak hendak membuang waktu, Bintang Tenggara segera tiba di depan gerbang masuk ke Kota Ahli. Lebih dari dua hari dan dua malam dirinya tanpa sengaja ikut di dalam perlombaan di lereng Gunung Candrageni. Pastilah Kakak Poniman khawatir sekali. Selain itu, ia memiliki tugas untuk menyampaikan gulungan naskah dari Perguruan Gunung Agung kepada Kepala Pengawal Istana Keempat Kerajaan Parang Batu. 

“Hei, kau! Keparat!” tetiba terdengar suara menghardik. 

Bintang Tenggara memutar tubuh. Ia mendapati seorang kakek tua bersama lima remaja melangkah tergopoh di belakangnya. Penampilan para remaja awut-awutan sekali. 

“Kembalikan barang-barang yang kau curi!” Dari arah berlawanan, terdengar pula sergahan berang. 

Bintang Tenggara memutar tubuh. Ia melihat seorang lelaki dewasa melangkah garang. Di balik tubuhnya, lima remaja tak kalah berantakan pula penampilan mereka. 

Tak merasa mengenal kedua tokoh tersebut, Bintang Tenggara melengos pergi. 

“Bangsat!” Empu Wacana sepertinya tak dapat lagi menahan diri lagi. Di tengah jalan di dalam Kota Ahli, ia lalu menghentakkan tenaga dalam. 

Bintang Tenggara tersadar akan bahaya. Ia menyaksikan langsung gerakan ahli yang hendak menghentakkan tenaga dalam ke arahnya. Bukan kali ini ia menyaksikan gelagat seperti itu. Akan tetapi, tiada yang dapat ia lakukan…

“Perisai!” sergah Komodo Nagaradja. 

Spontan Bintang Tenggara mengambil perisai bulat yang menyoren di belakang pundak, dan arahkan untuk membentengi tubuh. Di saat yang sama, Sisik Raja Naga membungkus kedua lengan. 

“Duak!” 

Bintang Tenggara terpental sampai sepuluh langkah ke belakang. Akan tetapi, tiada darah yang mengalir dari sudut bibir, tiada pula tenaga dalam lawan yang menggetarkan mustika di ulu hatinya. Berkat perisai yang kini membentengi di depan dada, ia hanya merasakan sedikit getaran di kedua lengan. Tenaga hentakan lebih dari separuhnya telah diredam oleh perisai dan Sisik Raja Naga. 

“Bangsaaaaaattt!” 

Empu Wacana berang bukan kepalang. Perisai Tunggul Waja, salah satu pusaka kebanggaan perguruannya, diambil dan kini malah dikerahkan untuk meredam hentakan tenaga dalam yang ia kerahkan. Tak pernah terbayang dalam benaknya akan kejadian ini, bahkan di dalam mimpi sekali pun. 

Kini, sejumlah ahli yang kebetulan berlalu-lalang menghentikan langkah. Mereka menonton Bintang Tenggara dan dua kubu di kiri dan kanan anak remaja tersebut 

“Kau terlalu lembek!” ucap Maha Guru Sanata kepada Empu Wacana. Di saat yang sama, petir berkelebat deras dari telapak tangan yang mengarah kepada Bintang Tenggara. 

“Hadapi petir, dengan petir!” sergah Komodo Nagaradja. 

Jurus Guntur Menggelegar!

Bintang Tenggara meniru gerakan lawan. Sontak ia meluruskan lengan, lalu membuka telapak tangan ke arah depan. Kilatan petir terlihat menyambar keluar. Anak remaja tersebut memanglah sempat membaca isi gulungan naskah. Berkat dasar jurus kesaktian unsur petir Asana Vajra, maka tiada terlalu rumit baginya memperoleh pencerahan akan jurus ini. Bila jurus Asana Vajra lebih memanfaatkan petir untuk membungkus lengan dan jemari guna mencakar, serta membungkus kaki demi melesat cepat, maka jurus Guntur Menggelegar melepaskan petir dari telapak tangan. Jarak tempuh petir adalah sekira sepuluh langkah. 

Dua jurus yang sama bertemu. Petir yang melesat dari telapak tangan Bintang Tenggara memanglah jauh lebih lemah sehingga pupus dengan mudah. Sisa petir dari jurus lawan terus merangsek, akan tetapi sedikit melambat dan arahnya sudah terduga. Memanfaatkan teleportasi jarak dekat, Bintang Tenggara telah menghindar ke samping.

“Keparat!” hardik Maha Guru Sanata. “Kau mempelajari jurus andalan Perguruan Duta Gutur tanpa izin! Kelancanganmu layak diganjar hukuman mati!” 

Bintang Tenggara segera menyadari keadaan yang sedang berlangsung. Kedua ahli ini pastilah tetua dari dua perguruan yang murid-muridnya ia permalukan. 

Di saat yang sama, kedua ahli Kasta Emas sudah tak dapat mengendalikan diri. Empu Wacana dan Maha Guru Sanata segera melesat ke arah Bintang Tenggara. Mereka akan membungkam anak remaja itu dengan tangan mereka sendiri. 

Bintang Tenggara terjepit. Nyawanya berada di ujung tanduk!

Di saat itulah, sudut mata Bintang Tenggara menangkap keberadaan seorang gadis kecil nan mungil. Usianya mungkin hanya tujuh atau delapan tahun. Gadis itu tersenyum, menampilkan deretan gigi nan putih berkilau. Anehnya, gadis mungil tersebut sedang memanggul semacam gulungan tikar nan panjang. Jauh lebih panjang dari tubuhnya sendiri.

Tetiba, dalam sepersekian detik, Bintang Tenggara merasakan bahwa posisi tubuhnya bergeser sedikit. Sesungguhnya bukan hanya dirinya, akan tetapi kedua Ahli Kasta Emas, sepuluh murid di belakang mereka, serta sejumlah khalayak yang asyik menonton pun ikut bergeser. 

Seolah hadir semacam daya tarik nan tak kasat mata… mendera semua di dalam wilayah yang sama!

Akibat dari pergeseran posisi ini, semua ahli di sekitar kehilangan keseimbangan barang sejenak. Empu Wacana dan Maha Guru Sanata menghentikan langkah. Mereka tentunya turut merasakan keanehan ini, namun tiada dapat menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi. Beberapa saat kemudian, mereka kembali menyasar Bintang Tenggara!

“Ehem!” tetiba suara berdehem menggelegar di udara. Di saat yang sama, sesosok ahli melesat turun dan berdiri tepat di hadapan Bintang Tenggara. 

“Apakah yang terjadi!?” Maha Guru Segoro Bayu berujar tegas. Tokoh ini kebetulan sekali baru saja kembali di Kota Ahli. Akibat kejadian aneh yaitu pergeseran posisi, ia melihat kerumunan ahli, lalu mendapati kehadiran Bintang Tenggara. 

“Bocah tengil ini mengambil benda-benda pusaka milik Perguruan Panji Manunggal!” sergah Empu Wacana. 

“Ia mempelajari jurus Perguruan Duta Guntur tanpa izin!” Maha Guru Sanata menimpali. 

“Maksudku, apa yang kini terjadi di dunia persilatan dan kesaktian!? Baru kali ini dalam sepanjang hayatku menyaksikan dua Ahli Kasta Emas hendak menyerang seorang ahli Kasta Perunggu!” 

“Eh…” Empu Wacana terlihat salah tingkah. 

“Ta… tapi…” Maha Guru Sanata menoleh ke kiri dan kanan. Sudah semakin banyak ahli yang mengerubungi mereka. 

“Yang Terhormat Maha Guru Segoro Bayu, beberapa hari lalu diriku menelusuri lereng Gunung Candrageni dalam rangka mencari tumbuhan siluman Kantong Semar Merapi. Di jalan setapak, diriku menemukan beberapa pusaka yang tergeletak tanpa pemilik. Bagaimana mungkin diriku mengabaikan saja?” papar Bintang Tenggara. Wajahnya demikian polos tiada berdosa. 

“Tanpa pemilik dengkulmu!?” hardik Empu Wacana. “Murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Duta Guntur bersama Perguruan Panji Manunggal sedang melakukan latihan bersama!” 

“Pada sepanjang lintasan, kami menyediakan beberapa pusaka perguruan untuk menyemangati latihan mereka tersebut,” timpal Maha Guru Sanata. 

“Lalu, dia datang dan merampas pusaka-pusaka perguruan kami. Tidak hanya satu atau dua, tetapi empat!” Empu Wacana menunjuk geram ke arah Bintang Tenggara. 

“Lalu, hal tersebut mengizinkan kalian, dua ahli Kasta Emas, menyerang seorang ahli Kasta Perunggu!?” sergah Maha Guru Segoro Bayu.

Empu Wacana dan Maha Guru Sanata kehabisan kata-kata. Mereka memutar otak. Bagaimanakah caranya keluar dari permasalahan ini tanpa mencoreng arang di wajah? 

Belum sempat mereka menanggapi, Maha Guru Segoro Bayu berujar lantang. “Kalian tahu siapa anak remaja ini!?” 

Seluruh ahli di wilayah tersebut mulai benar-benar memerhatikan Bintang Tenggara. Sebagian besar mengingat-ingat. 

“Ia adalah Bintang Tenggara,” sambung Maha Guru Segoro Bayu. “Putra Perguruan dari Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa. Sebagaimana diketahui, Perguruan Gunung Agung memiliki hubungan baik dengan Perguruan Maha Patih di Kota Ahli, Sanggar Sarana Sakti di Tanah Pasundan, serta Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura.” 

Terdengar gemuruh ketakjuban dari arah penonton. Sebagian besar dari mereka menyayangkan tindakan emosional kedua perguruan asal Kota Ahli tersebut. Kesepuluh murid yang sempat berhadapan dengan Bintang Tenggara melotot dan terpana, namun seberkas kekaguman merasuki alam bawah sadar mereka. Empu Wacana dan Maha Guru Sanata menganga. 

“Tidak hanya satu atau dua, akan tetapi empat perguruan besar yang akan kalian musuhi bilamana berlaku gegabah terhadapnya!” Maha Guru Segoro Bayu membalikkan kata-kata Empu Wacana. 

“Kami tiada hendak mencelakai dirinya…” Empu Wacana berkelit. “Diriku menghentakkan tenaga dalam hanya sebagai peringatan. Terlepas dari itu, ia tetap melakukan tindakan pencurian!” 

“Hmph!” dengus Maha Guru Segoro Bayu. “Kalian meyelenggarakan latihan di lereng Gunung Candrageni, bukankah demikian? Lalu meletakkan benda-benda pusaka di jalan setapak…?”

“Benar,” sahut Maha Guru Sanata cepat. 

“Mungkin saja aku salah, akan tapi sepanjang pengetahuanku, jalan setapak di lereng Gunung Candrageni merupakan daerah tak bertuan, wilayah umum! Bagaimana mungkin seseorang yang menemukan sesuatu tergeletak di tempat umum, dikatakan sebagai pencuri!? Lain ceriteranya bilamana kalian meletakkan benda-benda pusaka tersebut di dalam wilayah perguruan kalian sendiri!”

“Ta… tapi…” Empu Wacana terbata-bata. 

Maha Guru Sanata baru hendak membuka mulut… 

“Tuduhan pencurian tidak beralasan!” sergah Maha Guru Segoro Bayu layaknya seorang hakim. 

“Kalian, murid-murid yang mengikuti latihan bersama…,” aju Maha Guru Segoro Bayu kepada sepuluh murid dari Perguruan Panji Manunggal dan Perguruan Duta Guntur. “Apakah menurut kalian Bintang Tenggara mencuri!?”

Kesepuluh murid tersebut hanya terdiam. Di hadapan seorang tokoh digdaya dari perguruan terkemuka, tiada mereka dapat membuka mulut. Kesemuanya tertunduk lesu. Mungkin, di dalam hati, mereka berharap agar penghinaan ini agar disudahi secepatnya. Mereka lelah. 

“Bintang Tenggara, mari kita kembali ke Perguruan Maha Patih.” Maha Guru Segoro Bayu melangkah pergi. Bintang Tenggara mengekor. Penghakiman telah selesai. 

“Bagaimana dengan benda-benda pusaka dari perguruan kami!?” sela Empu Wacana. 

“Sekarang sudah diketahui bahwa benda-benda pusaka tersebut adalah milik kami. Bukankah sebaiknya segera dikembalikan…?” tambah Maha Guru Sanata. 

“Aku menerima benda-benda pusaka dari perguruan kalian sebagai ungkapan permintaan maaf,” tutup Maha Guru Segoro Bayu, menjatuhkan hukuman. 



Cuap-cuap: 

Gara-gara liburan akhir pekan kemarin, kondisi tubuh Ahli Karang mengalami dehidrasi, dan kini sedang istirahat penuh. Semoga episode Jumat bisa hadir tepat waktu.