Episode 24 - Sadar Dirilah Jika Suaramu Jelek


 Bertempat di aula yang bersebelahan dengan masjid kampus, seluruh peserta momba sudah berkumpul. Saat mereka berkumpul, terlihat ada satu orang berjenis kelamin laki-laki sekitar usia 26 tahunan yang berbadan gemuk memakai kaos berwarna merah muda. Orang itu sedang asyik-asyik sendiri, ketawa sendiri, cengengesan sendiri, guling-gulingan sendiri di atas lantai.

 “Hahahaha, aku lah pemenangnya!” teriak orang itu.

 Para peserta momba yang melihatnya pun merasa aneh ada orang yang bersikap seperti itu, termasuk Coklat, Ival dan Arul.

 “Kenapa tuh orang?” tanya Ival.

 “Ketawa, Val, barusan ketawa. Emang enggak dengar ya?” jawab Coklat.

 “Iya gue tahu itu mah, tapi aneh?”

 “Val, dia pakai baju kok,” jawab Arul.

 “Gue tahu itu mah, Rul!”

 “Lah sudah tahu kok nanya?” tanya Arul.

 “Lo sama saja kayak si Coklat Ayam!”

 “Eh enak aja, gantengan gue daripada dia!”

 “Apa lo bilang?! Gue lebih ganteng dari lo, Rul! Camkan itu!” lantang Coklat.

 “Enggak bisa!”

 Arul tidak terima disamakan dengan Coklat, Coklat pun demikian. Bahkan Coklat merasa dirinya lebih ganteng daripada Arul. Saling tak terima oleh ucapan Ival, mereka berdua ribut. Baght bught baght bught! Lagi-lagi mereka ributin yang enggak penting. Muka mereka pun pada bonyok. Sementara Ival cuma diam jadi penonton, mahasiswa yang lainnya pun sama, mereka anggap itu enggak ada.

 “Aduw sakit!” Coklat merintih.

 “Ternyata ribut itu enggak enak ya, sakit rasanya,” kata Arul.

 Kasihan ya sudah ribut capek-capek, bikin sensasi tapi enggak ada yang merespon. Oleh sebab itu, Arul dan Coklat pun baikan lagi, mereka berdua pun taubat enggak akan ribut-ribut lagi

 “Saya janji, saya tidak akan ribut-ribut lagi kecuali kalau lagi pengin,” ujar Coklat.

 “Saya juga janji, tidak akan mengajak ribut lagi soalnya ribut selalu menolak setiap saya ajak,” janji Arul.

 Usai mereka berdua berjanji, ya walaupun janjinya itu aneh. Mereka berdua pun jadi alim dan sekarang jadi ustadz, lho ngawur ceritanya. Balik lagi ke cerita semula, tadi kan ada orang ketawa-ketawa enggak jelas gitu. Seluruh mahasiswa, baik dari Sabang sampai Marauke, semuanya itu sudah lulus SMA. Ya iyalah sudah pada lulus SMA, lagian juga kenapa bawa-bawa mahasiswa dari Sabang sampai Marauke, berat tahu kalau dibawa-bawa. Cukup mahasiswa yang lagi momba sekarang. 

 Mereka semua menatap aneh orang itu sambil di dalamnya terbuai rasa kagum. Namun rasa kagum mereka itu hanya sesaat karena dua orang petugas dari rumah sakit jiwa langsung saja menangkap orang itu. Dan penonton pun kecewa.

 “Maaf teman-teman semua sudah mengganggu kegiatannya, orang ini agak miring, jadi terpaksa kita tangkap,” ujar petugas RSJ.

 “Lurusin, Pak, kalau lagi miring!” teriak Coklat.

 “Apanya yang dilurusin, De?”

 “Yang miringnya atuh!”

 Pelaksanaan momba pun dimulai, seluruh peserta duduk lesehan di atas lantai aula kampus ini. Semua berkumpul dan duduk sambil menghadap ke depan. Acara diawali dengan sebuah sambitan dari ketua BEM di depan para peserta. Nah loh, karena mau disambit para peserta ramai-ramai berlarian meninggalkan aula ini.

 “Selamatkan diri kalian!” teriak salah satu peserta.

 “Lariiiii!”

 “Hahahaha, mau kemana kalian?! Kalian takkan lolos dariku,” ucap ketua BEM sambil bawa pentungan.

 Lagi-lagi cerita ngawur, lagian juga mau apa coba ketua BEM bawa-bawa pentungan. Akhirnya dia mikir sejenak.

 “Oh iya, kenapa gue bawa pentungan? Emang gue hansip apa?”

 Untungnya ketua BEM kita sadar, dan dia pun jadi mualaf, lho kok? Bukan gitu maksudnya!!! Kacau ceritanya, maksudnya itu sambutan bukan sambitan. Ketua BEM yang berjenis kelamin laki-laki ini dan berwajah tampan seperti Onci Ungu, ya walaupun itu enggak sesuai kenyataan tapi biarkanlah, biar dia senang.

 “Horee horee horee!” teriak ketua BEM sambil lompat-lompatan karena senang enggak jelas.

 Ya ampun ketua BEMnya kayak begini, aneh lho orang kayak gini bisa terpilih. 

 Ketua BEM kampus ini pun maju ke depan podium untuk memberi sebuah sambutan, seluruh peserta dan mahasiswa lain memberi aplaus kepadanya, prok prok prok.

 “Prok prok prok, hayo coba jadi apa hayoooo?” kata ketua BEM di depan podium.

 “Jadi gilaaaaa!” teriak para peserta momba.

 “Betuuul.”

 Ya Tuhan semoga saja para pembacanya tidak ikut gila seperti dia.

 Di hari pertama momba ini diawali dengan sambutan dari ketua BEM, kemudian sambutan sambutan dari rektor kampus. Saat rektor kampus maju di depan podium, seluruh mahasiswa terdiam. Semua memasang wajah tegang ketika bapak rektor yang kumisan itu mulai bicara memberi sambutan.

 “Selamat pagi,” ucap bapak rekctor dengan suaranya pelan.

 “Hah?!” sahut peserta.

 “Selamat pagi.” Suaranya masih pelan.

 “Hoh?!” sahut peserta.

 “Selamat pagi.” Suaranya tetep pelan.

 Untuk yang ketiga kalinya tak ada sahutan dari peserta, sang rektor pun senang merasa suaranya sudah tak kecil lagi, namun kesenangan itu hanya sesaat. Ketika dia melihat peserta momba eh semuanya pada tidur pulas, pak rektor pun kecewa.

 “Yahhh kok tidur?” Suaranya tetap kecil sambil memasang muka manyun.

 Di hari pertama momba ini para peserta disuguhkan oleh sambutan-sambutan dan ceramah-ceramah yang bikin mengantuk, akhirnya jam 12 siang pun tiba. Seluruh peserta menyambutnya dengan rasa senang karena jam segitu waktunya istirahat. Ketika jam istirahat tiba seluruh peserta momba dapat makanan gratis yang berupa nasi kotak. 

 ***

 Seusai makan siang seluruh peserta pun merasa kenyang. Kenapa kenyang? Soalnya habis makan, masa begitu saja enggak tahu. Masih di lingkungan kampus, bertempat di bawah pohon mangga, Coklat, Ival dan Arul duduk-duduk di bawahnya, untung saja pohon mangga lagi enggak berbuah, coba kalau lagi berbuah, habis tuh buahnya dipetik sama mereka bertiga. Biasalah jiwa pencuri mereka selalu muncul kalau lihat buah matang di pohon. 

 Di bawah pohon mangga yang sejuk kayak di pantai, mereka bertiga lagi cuci mata.

 “Aduh perih nih mata gueee!” teriak Coklat sambil merem.

 “Sama gue juga, Klaaat!” teriak Ival sambil mengucek-ngucek matanya.

 “Gue juga sama nih perih mata gue kena sabuuun!” teriak Arul sambil colekin sabun ke matanya sendiri.

 Ternyata ada air, sabun sama gayung di dekat mereka. Rupa-rupanya mereka cuci mata pakai air sabun.

 Ketika mereka masih di bawah pohon mangga, ada cewek pakai kebaya merah dan rambutnya dipilok putih lewat di depan mereka. Nah langsung saja mereka menggodai si cewek yang lewat. 

 “Hy cewek, kenalan dong,” kata Coklat sambil senyum-senyum sendiri.

 Ival enggak mau kalah, dia ngasih pantun buat cewek itu.

 “Kantong plastik isinya lontong, hy cantik kok sombong.”

 Nah Arul enggak mau kalah sama mereka, dia langsung mendekati si cewek sambil memberi bunga ke si cewek.

 “Hy, kamu mau bunga enggak? Aku punya bunga bank lho, lebih tepatnya lagi bunga bank … ke.”

 Pas si cewek menoleh, mereka bertiga pun langsung taubat.

 “Astagfirullah, taubat deh,” serentak bertiga.

 Kenapa mereka berkata kayak gitu ya? Mau tahu jawabannya, saksikan seminggu lagi hanya di tivi kesayangan Anda. 

 Ketika si cewek itu berpaling ke arah mereka, ternyata…

 “Aduh, Cuuu, nenek-nenek kayak gue aja masih digodain, mau dong digodain lagi, hehehe.”

 “Kabuuuur!”

 ***

 Para peserta momba pun sudah menikmati masa istirahatnya, dan mereka sekarang pada balik kandang. Akhirnya kandang-kandang yang dimiliki oleh para peternak berbalik, yang atap jadi bawah dan alasnya jadi atas, namanya juga dibalik. Bukan itu toh, maksudnya mereka semua kembali ke aula selepas masa istirahat.

 Anda masih ingat dengan Mubin? Anda masih ingat tidak? Anda ingat? Anda ingat? Kalau Anda tidak ingat berarti Anda lupa. Ya selepas istirahat, Mubin sekarang duduk bersama Coklat, Ival dan juga Arul di belakang aula. Saat ini, Mubin lagi pamer foto profilnya di facebook.

 “Nih teman-teman, foto aku tuh di depan laptop,” kata Mubin memamerkan poto facebook lewat handphone.

 “Yah palingan nonton bokep tuh,” kata Arul.

 “Assseeeem,” kata Mubin.

 “Astagfirullah, Bin, insyaf,” ucap Coklat sambil menepuk pundak Mubin.

 Mubin hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi, dia cuma bisa bilang iya-iya doang, nah itu bisa berkata-kata! Lagi-lagi dia niat pamer malah gitu nasibnya.

 “Iya iya iya,” ucap Mubin sambil anggukin kepalanya.

 “Aduh, Bin, bagi sini videonya,” lanjut Coklat.

 “Wek!”

 “Bin, itu laptop nyolong dimana?” ujar Ival.

 “Haddduh, ini laptop gueee!!!” teriak Mubin.

 Teriakan Mubin terdengar sampai di telinga para petinggi kampus yang duduk di depan, mulai dari panitia momba, ketua sema, ketua BEM, dosen hingga rektor kampus. Mendengar teriakan itu ketua BEM langsung berdiri dan langsung menunjuk Mubin.

 “Hey, Kamu!” 

 Mubin terkejut dirinya ditunjuk oleh ketua BEM dan anak-anak pun mengarahkan pandangannya ke dia.

 “Saya, Kak?”

 “Iya! Maju ke depan sekarang!”

 Wajah Mubin pun sedikit pucat, dia merasa takut dihukum oleh ketua BEM. Wajahnya tak bisa menyembunyikan ketakutannya, keringat di dahinya mulai bercucuran, jantungnya berdetak kencang.

 “Ayoloh, Bin, dipentilasi lo!” ucap Coklat menakuti.

 “Klat, bukan ventilasi tapi mutasi,” kata Ival yang membetulkan.

 “Aduh lo berdua ini, lo salah, yang bener itu …,” ucap Arul.

 “Ah lo bertiga rempong dah, gue yang dipanggil,” ujar Mubin.

 Mau enggak mau Mubin pun maju ke depan seorang diri, sepertinya dia akan mendapatkan sebuah hukuman. Wajah Mubin terpampang begitu amat pasrah menerima keadaan. Semua mata peserta momba adalah sepasang, ada yang kiri dan juga ada yang kanan. Hmmm, bukan itu tapi mata dari para peserta merasa iba melihat dia maju sendirian berpeluh rasa takut.

 “Kasihan ya dia,” ujar salah seorang mahasiswi.

 “Aku jadi enggak tega melihatnya,” ujar Wakamiya.

 “Kasihan amat ya dia, tampangnya sudah kusut gitu,” ujar Sweety.

 Sampainya di depan aula, Mubin berdiri di samping ketua BEM. Dia hanya tertunduk menahan rasa malu, padahal dia kan pakai baju lho, kenapa mesti malu coba?

 “Saya perhatikan kamu ini bercanda mulu di belakang.”

 Mubin hanya tertunduk, dia agak malu-malu untuk menjawab.

 “Ih so sweet deh, kakak sudah perhatian sama aku,” jawab Mubin.

 Gubrak! Seluruh mahasiswa yang ada di aula dan ketua BEM langsung tergeletak begitu saja.

 “Apa-apaan ini? Jawabannya kok begitu!” seru ketua BEM.

 Lalu dengan tegasnya ketua BEM itu memberi hukuman kepada Mubin di hadapan para peserta yang lain.

 “Karena kamu sudah bercanda di belakang disaat momba berlangsung maka hukuman yang pantas buat kamu adalah bernyanyi di sini.”

 “Hah nyanyi kak?”

 “Setuju kan yang lain kalo dia nyanyi?”

 “Setujuuuuu!” teriak kompak peserta momba.

 “Selapaaaan!” teriak Coklat.

 “Sembilaaaan!” teriak Arul.

 “Sepuluuuh!” teriak Ival.

 “Sebelas,” kata ketua BEM.

 Hadeh, ketua BEM sama mereka bertiga sama saja.

 Mubin pun mencoba mencari nada yang pas sebelum dia bernyanyi. Dengan napas gugup, dia beranikan diri untuk bernyanyi. Mulai hitungan mundur satu juta, Mubin akan mulai bernyanyi, oh tapi itu kebanyakan kalau satu juta. Mulai hitungan mundur lima saja deh, lima… empat… tiga… dua… satu…. Mubin pun mulai bernyanyi.

 “Aaaaaa suaranya enggak enaaaak!” teriak Coklat sambil tutup telinga.

 “Hey! Kan belum nyanyi!” teriak ketua BEM.

 “Oh iya lupa, maaf-maaf.”

 Dan Mubin pun bernyanyi, ya seperti kata Coklat barusan, emang suara Mubin itu enggak enak didengar. Para mahasiswa pun pada tepar setelah mendengarkan suara yang nyaringnya menyelengik begitu tajam.

 “Aaaaa! Hentikaaan!” teriak para mahasiswa.

 “Yeaaaahhhhhh! Yeaaahhhhhh! Naanaaaanaaananananana!” Mubin lagi nyanyi, enggak tahu nyanyi apa.

 Seluruh mahasiswa pada kesekitan mendengar suara nyanyian dari seorang Mubin, pantas aja wong nyanyinya kayak begitu cuma yeah sama nananana enggak jelas.

 ***

 Keesokan harinya, dihari kedua momba seluruh peserta momba terpaksa dipulangkan lebih cepat. Kok lebih cepat? Itu dikarenakan mereka semua pada geger pantat dan geger kuping gara-gara kelamaan duduk dan gara-gara mendengarkan suara dari Mubin. Mereka satu persatu menaiki bus, eh tunggu kalau dibilangin naik bus nanti pada naik beneran lagi, maksudnya itu memasuki. 

 Seluruh peserta yang dipulangkan itu pada memegangi pantat masing-masing, enggak thau kenapa dipegangin, mungkin takut pantatnya diambil orang kali. Rata-rata pantat mereka pada mengepul keluar asap, lho kok bisa? Ya enggak bisalah.