Episode 32 - Duel of Lumen’s


"Majulah!"

Kata mereka bersamaan.

Pertarungan ini akan jadi adu pedang kecepatan tinggi. Keduanya punya kemampuan berpedang yang sama-sama baik. Satu dengan keahlian satu pedang, sedang yang satunya lagi pengguna dua pedang.

Leena dan Sintra melakukan kuda-kuda yang serupa, mereka membungkuk sambil menggenggam pedangnya erat-erat. Dengan tatapan serius mereka meng-cast sihir yang serupa, sihir yang meningkatkan kecepatan dengan bantuan elemen cahaya. 

"Speedy Flash Move !!"

"Speedy Flash Move !!"

BUSSSSTT !!

Sekejap debu-debu di sekeliling mereka terhembus. Di saat bersamaan mereka melompat, melakukan duel di udara.

TRANGG! TRANGG! TRANGG! TRANGG! TRANGG!

***

"Kita ini nonton apa sih?" komentar penonton yang kesulitan melihat mereka beradu dalam kecepatan tinggi.

"Tidak tahu... kita kayak nonton dua garis cahaya saling beradu."

***

TRANGG! TRANGG! TRANGG! TRANGG! TRANGG!

Sampai 10 detik berlalu, mereka berdua masih saling beradu dalam kecepatan tinggi sebelum akhirnya mendarat kembali dengan bertukar posisi dan saling memunggungi satu sama lain dengan kuda-kuda yang masih tetap dijaga. Total ada 141 tebasan, saling beradu satu sama lain tanpa satupun mengenai lawan, baik dari pihak Leena maupun Sintra.

"Hosh... hosh... tak kusangka, aku bisa mengimbangimu sekarang ini. hosh... hosh..." ucap Sintra dengan nafas tersengal-sengal, berkeringat dan terlihat lelah sekali. "Aku yang bertambah kuat atau kamu yang tidak serius?"

Sedang Leena masih berdiri tegak "Tidak.” katanya sambil berbalik badan. “Kamu yang bertambah kuat. Aku berusaha mengenaimu, tapi..."

“Sialan,” ucap Sintra dalam hati dengan wajah kesal. “Dia bahkan tidak kelelahan sama sekali.”

"Tapi apa?!" bentak Sintra. “Kamu sama sekali belum serius!”

Syushhhh...

Sintra melesat untuk menyerang.

TRANNG !!

Mereka beradu pedang sekali, Leena menahan bagian tengah dari dua pedang Sintra yang menyilang.

"Aku tak mampu mengenaimu." Balas Leena dengan menatap ke bawah. “Sungguh.” Ucapnya dengan murung.

***

"Gila! Hebat banget! Sesaat dia berada disana, lalu dalam sekejap sudah berada dekat lawannya." komentar para penonton.

"Sudah masuk Quarter-Final, pesertanya juga makin kuat-kuat."

"Kamu dukung yang mana? Yang rambut hitam apa pirang itu?"

“Dengar-dengar yang rambut pirang itu nomor satunya angkatan ini. Dia sudah jelas akan menang.”

“Haa!? Beneran. Kalau gitu sudah tidak seru dong.”

***

"Sintra, kau benar-benar bertambah kuat." puji Leena.

"Seperti yang kuharapkan dari Leena." balas Sintra tersenyum. "Berhentilah meremehkanku!" sahutnya.

Pedang Leena terbungkus cahaya putih, setelahnya ia bergerak cepat sekali, mengelilingi Sintra yang terus menerus mem-Parry serangan Leena dengan menyilangkan kedua pedangnya.

"Bagaimana ini!? Dia bergerak lebih cepat dari yang kukira!" kata Sintra dalam hati sembari fokus menepis setiap serangannya yang tak tentu arah.

DSINGG !! ... DSINGG !! DSINGG !! DSINGG !! TRANGG !! 

DSINGG !! DSINGG !! DSINGG !! TRANGG !! 

Salah satu pedang Sintra terlempar oleh ayunan pedang Leena.

"Satu tumbang, sisa dua lagi." Leena berhenti sesaat, lalu kembali bergerak dengan cepat .

"Sial! Mana bisa?! Kalau cuma satu pedang..." pikir Sintra.

DSINGG !! ... DSINGG !! DSINGG !! DSINGG !! TRANGG !!

 Lalu, Leena berhasil melempar pedang Sintra yang satu lagi. Hingga Sintra hanya menyisakan tangan kosong sekarang.

"Ti, tidak mungkin!?" Sintra langsung dibuat terdiam lemas tak berdaya. “Dia melucuti senjataku dengan sempurna.”

"Dua tumbang,” kata Leena sambil mengayun-ayunkan pedangnya dengan indah, kemudian ia menghunuskan ujung pedangnya ke wajah Sintra. “Tinggal orangnya."

"Aaa... apa!?" lutut Sintra langsung tersungkur di tanah, dibuat tak berdaya, hanya tertunduk lemas dengan wajah penuh keringat ketakutan. "Apa perbedaan kekuatan kita masih sejauh ini?"

Tak lanjut menyerang, Leena malah menyarungkan pedangnya kembali. Seolah dia merasa pertandingan sudah selesai atau ia siap kapanpun meng-counter serangan apapun meski pedangnya masih disarungkan. Leena sekarang berdiri tepat di depan Sintra yang seolah sujud di depannya.

"Kita padahal seumuran, kita juga memiliki kemampuan yang serupa. Tapi... Kenapa? Kenapa perbedaan kemampuan kita... sampai sejauh ini?!" Sintra meneteskan air mata, sampai ia betul-betul menangis. "Kenapa?!"

"Bukan itu masalahnya, Sintra." jawab Leena.

"Jelas itu masalahnya!" bentak Sintra tak terima dengan jawaban Leena barusan. “Apa! Apa yang membuatmu begitu kuat! Apa?! Apa bakat itu benar-benar ada? Apa karena kamu berbakat dan aku tidak. Maka aku tidak akan bisa menang melawanmu. Sekeras apapun aku mencoba!” 

"..." Leena hanya terdiam memandang Sintra dengan wajah gelisah. 

"Apa yang salah? Apa aku kurang latihan? Tapi, tidak... Aku latihan lebih keras darimu, lebih lama darimu dan lebih banyak darimu! Tapi, tetap saja, sampai sekarang ini, sampai waktu yang aku tunggu-tunggu ini. Aku tetap tidak bisa melampauimu. Tidak, bahkan menyamai dirimu saja aku tak bisa. 

"..." Leena masih terdiam.

“Kenapa?!” sahut Sintra. “Kenapa Leena?! Tolong jawab aku!"

"Sudah kubilang, bukan itu masalahnya!" jawab Leena dengan tegas. "Apa kita berteman untuk saling melampaui, satu dengan yang lainnya?! Sebelum aku menjawabmu. Sekarang kau jawab aku."

"Haa?" berbalik Sintra yang terdiam bertanya-tanya.

"Kalau kau tak bisa menang melawanku? Lantas kau dianggap lemah? Logika sempit macam apa itu?!"

"Kau tak mengerti, sejak awal kau lahir sebagai orang berbakat. Dan aku..."

"Bakat?! Bakat kau bilang?" Leena dibuat geram dan berjalan menghampiri Sintra.

"Ya! Kau berbakat, makanya tak perlu kerja keras. Sedangkan aku tidak... makanya aku harus..."

Lalu Leena bicara langsung, tepat di depan wajah Sintra. 

"Kalau aku memang berbakat!” tegasnya. “Aku tak perlu susah-susah berlatih tengah malam di saat orang lain tidur! Aku juga tak perlu capek-capek pergi ke Dungeon seorang diri untuk sekadar latihan melawan para Undead yang setiap saat berkemungkinan untuk menghilangkan nyawaku, tanpa di back-up siapapun!”

“Le-Leena...” Sintra menatapnya dengan perasaan bersalah.

“Kalau aku memang betul-betul berbakat!” sambung Leena dengan tegas. “Aku juga tak perlu berlelah-lelah baca buku-buku tebal yang sama sekali aku tidak suka! Dan lagi aku juga tak perlu setiap hari mempertaruhkan nyawa melawan Boss Monster dalam dungeon yang sangat berbahaya itu!" 

“Lee, Leena... a, aku...” Sintra terbatah-batah.

"Kalau memang yang seperti itu... ada padaku!” sahutnya dengan nada tinggi. “Ahh... betapa beruntungnya aku. Tinggal tidur dan bermalas-malasan saja setiap hari, toh... aku tetap bertambah kuat tanpa perlu capek-capek berusaha kan? Begitukan? Benar kan, Sintra?! Apa itu caramu memandangku Sintra?! Apa itu yang kamu pikirkan tentang aku?" 

“Ta, tapi...”

“JAWAB AKU!!”

"Ta, tapi...” Sintra meneteskan air mata dan bersujud di depan Leena dengan penuh penyesalan. “Aku tak pernah melihatmu melakukan itu semua. Aku tak tahu, aku benar-benar tidak tahu."

"Apa aku harus memberitahu semua orang bahwa aku belajar tengah malam. Pergi ke dungeon sendirian, baca buku-buku rumit yang aku sama sekali tidak suka.” balas Leena. “Apa aku harus bilang pada semua orang, atas apa yang aku sebutkan tadi?"

"..." Sintra hanya menunduk dengan perasaan menyesal. “Ya... kamu seharusnya mengatakannya. Tapi kenapa? Kenapa kam-”

“Karena tidak akan ada yang peduli!” potongnya. “Orang-orang hanya melihat hasil dan akan selalu melihat hasil. Makanya aku hanya menunjukkan hasil! Tanpa hasil, tidak ada yang peduli tentang apapun yang kamu lakukan!” tegas Leena. “Ketahuilah Sintra, setiap orang terlahir berbeda-beda. Di saat yang sama, mungkin saja ada orang yang ingin melampai dirimu juga. Ada yang ingin menjadi sehebat dirimu, tapi merekapun tidak bisa!"

"Maafkan aku Leena. Aku telah..." Sintra tertunduk, menangis tak berdaya. “Meski kita dekat, tapi aku selalu memandangmu lebih dariku. Dan betul-betul ingin melampauimu! Aku iri padamu. Aku benar-benar iri... tanpa tahu yang sebenarnya, bahwa kau belatih lebih keras dariku.”

“...” Leena tak membalas, ia tetap berdiri di depan yang bersujud.

.

.

.

Suasana hening untuk beberapa detik, lalu...

"Ayo bangkit!” kata Leena. “Kita bertarung sekali lagi! Kau bilang, kesempatan bertarung di arena ini... mungkin hanya sekali kan? Saat kita lulus nanti, mungkin saja kita tidak akan bertemu lagi. Sekarang bangkitlah."

"Ya!" Sintra bangkit sambil mengusap air matanya. 

Sintra bergerak cepat, mengambil kembali kedua pedangnya yang terlempar tadi dan langsung menyerang Leena seketika ia mengambil kedua pedangnya.

DSIINNGG !!

Mereka kembali bertarung, secara bersamaan mereka melompat mundur dengan bantuan elemen cahaya.

"Ini baru Sintra yang ku kenal." ucap Leena tersenyum.

"Sekarang aku tak akan ragu lagi." kata Sintra dengan mantap.

Lalu mereka mundur selangkah sebelum saling beradu serangan terbaiknya.

"Dual Sword – X Slash !!"  

"Crescent Moon Slash !!"  

.

.

.

.

TRANNGG !!

.

.

.

***.

"Hosh... Hosh... Meski begini jadinya. Aku tetap puas." ucap Sintra yang terbaring lelah di lantai batu arena. Tapi lebih dari itu. Ia terbaring dengan senyum lega.

Leena yang masih tetap berdiri menghadap ke belakang dengan senyum. 

"Begitupun aku." Leena menyarungkan pedangnya kembali.

"Sudah! Sudah!” Sintra melambaikan tangannya selagi berbaring. “Juri! Aku tak bisa melanjutkan pertarungan lagi! Aku menyerah!"

"Tapi-tapi, peraturannya."

"Kau tak dengar apa yang aku bilang tadi? Aku tak bisa melanjutkan pertarungan lagi. Aku menyerah!"

"Aaa... A. Oke, baiklah. Dan... Pemenangnya! Leena !!"

Namun sorak-sorai penonton agak kurang antusias.

"Ehh!? Kok gak ada suaranya? Mana suaranya!"

"Huuu!"

"Apa serunya pertarungan saudara begini? Lihat saja! Dari awal juga, mereka sudah tak imbang."

"Huuu! Payah!"

"Sintra tak perlu kau dengarkan mereka. Mereka cuma suara Haters yang tak penting. Ayo naiklah." Leena mengulurkan tangan.

Sintra menggapai tangan Leena dan menyesal sekali. "Maafkan aku Leena, telah salah sangka padamu. Tapi aku punya alasannya."

"Tak apa." balas Leena tersenyum. "Aku mengerti kok. Karena waktu dulu, aku juga mirip sepertimu."

"Hee!? Be-benarkah?"

"Dulu, sewaktu aku masih anak-anak, ada orang yang ingin kugapai, tapi lama sekali aku mencoba. Tak pernah ku dapat."

"Sampai sekarang? Meski kau sudah sekuat ini?"

Angguk Leena. "Ya, sampai sekarang. Meski saat ini, aku sudah tak peduli lagi sih. Karena capek tahu, berusaha jadi orang lain. Berusaha melampaui orang lain yang jelas-jelas memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda."

"Hee... benarkah? Aku benar-benar hanya tahu sedikit tentangmu. Siapa orang itu? Bolehkah aku tahu?" Sintra penasaran.

"Ra-ha-si-a."

"Ahh... kenapa sih? Kasih tahu dong."

"Akan kuceritakan kalau aku mau saja. Oke?"

"Ahh... curang."

"Hahaha... biarin."

"Awas ya! Memang sifat kamu dari dulu sih.” Sintra cemberut mengambek,tapi. “Hahahaha!" Ia ikut tertawa.

***

"Apa boleh buat peraturan tetap peraturan." Sahut komentator tak peduli reaksi penonton terhadap perang saudara yang terjadi di pertandingan ini. "Kita langsung sambung ke... Pertarungan Selanjutnya!"

"Lio dari kelas Ignis Vs Hael dari kelas Umbra !!"

Lalu penonton seketika kembali meriah.

"Ignis! Ignis!"

"Umbra! Umbra!"

"Aa... Kalian ini gampang ya..." ucap Komentator dengan suara kecil. "Silahkan kedua peserta memasuki Arena."

***

Lalu di luar ruangan, tempat Alzen di rawat. Suara di Arena terdengar sampai kesini.

"Lio dari kelas Ignis Vs Hael dari kelas Umbra !! Silahkan kedua peserta memasuki Arena."

"Ohh... sudah selesai?" ucap Lasius. “Sekarang giliranmu Lio.”

"Baik!" Lio pemanasan dengan loncat-loncat dan meninju-ninju ke depan. "Akhirnya tiba juga giliranku!"

"Good luck! Lio." Ranni menyemangati. “Habis ini, giliranku.”

"Lawannya siapa sih?" tanya Chandra.

"Anak Umbra yang itu loh, yang langsung menang mengalahkan si biksu botak." jawab Lio.

"Haa? Yang mana?"

"Waktu itu kamu sedang di rawat sehabis melawan Joran. Jadi tidak nonton." sambung Lasius. "Sekarang malah Alzen lagi."

"Ohh begitu, seperti apa orangnya?” tanya Chadra. “Aku mau lihat."

"Ayo Chan, ikut menonton pertandinganku." 

"Ayo,” ia berlari mengikut Lio, tapi Chandra berhenti sejenak untuk bertanya. “Kalian mau nonton juga? Guru? Ranni?" 

"Tidak, aku disini saja." jawab Lasius. "Kalau ada apa-apa, aku jadi bisa segera bertanggung jawab."

"Aku juga, mau tunggu disini." jawab Ranni. “Maaf ya, Lio.”

"Yah... males banget, yang nonton Chandra doang." gerutu Lio.

"Terus kenapa...?" balas Chandra dengan ekspresi mata terbuka setengah. 

"Hahaha! Yaudah, ayo naik-naik." Lio bergegas. 

“Tolong jaga Alzen ya.” Chandra mengikutinya.

***

"Haduh... kenapa akhir-akhir ini pesertanya telat mulu sih?" keluh komentator.

Lalu komentator dibisiki panitia.

"Ohh tidak...” kata komentator dengan gelisah. “Kalau begini jadinya... maka-"