Episode 31 - Between the Winner and Loser


"Dengan begini!“ teriak Joran yang menggengam Alzen keras-keras untuk dilemparkan ke kolam. “Aku pemenangnya!"  

Dengan tubuh besarnya yang diatas rata-rata manusia normal membuat Alzen jadi terlihat kecil sekali. Karena tinggi Alzen hanya mencapai 2/3 tubuh Joran. Dan mudah sekali baginya untuk mengangkat dan melempar Alzen.

"ALZEN!!" teriak suara seseorang, keras sekali. Namun terdengar familiar di telinga Alzen.

"H-Hael !!?" dalam sekejap Alzen langsung menyadarinya.

"BANGKITLAH!!" sahut Hael keras-keras. “ALZEN!!”

"Celaka!? Apa yang terjadi! Di saat begini, aku malah berhalusinasi." ucap Alzen setelah kesadarannya perlahan pulih.

"HYAAA!" Joran yang sudah mencengkram Alzen, bergegas membanting Alzen ke dasar kolam, tak peduli lagi akan keselamatan lawannya.

"Aku tak tahu harus bagaimana lagi!" Alzen dalam genggaman Joran, dipaksa untuk memutuskan hal penting dalam waktu singkat. "Mau tak mau. Aku harus..."

"Thunder Cutter !!"

Alzen meng-cast sebilah kecil pisau yang terbuat dari listrik biru di tangan kanannya, Lalu ia putar balikan hingga sisi tajamnya berada di bawa genggaman tangan Alzen, dan...

CREEESSSTT!!

Tangan Joran yang besar di tancapkan keras-keras oleh pisau listrik itu.

"Apa ini bisa berhasil?!" Alzen sendiripun ragu, sebilah pisau kecil menembus lapisan Iron Body milik Joran. Tapi ia terus menekan dengan pisau listrik itu. Bentuknya seperti tombak petir Dewa Zeus yang zig-zag, hanya saja lebih kecil... Seukuran pisau biasa.

"GWAAAA! Tanganku! Tanganku. Si-sialan!"

Secara refleks, tangan Joran bergerak untuk melindungi bagian yang terluka, sehingga Alzen di luar perhitungannya sendiri, bisa lepas dari cengkraman Joran.

"Ohogg! Ohogg! Ohogg! Aku diapakan tadi?! Mendadak tubuhku jadi sakit begini." Alzen tersungkur kesakitan dalam tubuh yang dipenuhi darahnya sendiri, tepat di ujung pinggir arena, ia hampir terjatuh. "Tapi setidaknya aku bisa lepas, karena lawanku ini... Tak peduli lagi jika aku mati."

"Lagi-lagi! Kau...!" Joran mulai kehilangan akal sehatnya lebih lagi, tatapannya seperti monster buas yang haus darah. Kepalanya berurat, giginya dikertakan keras sekali dan nafasnya berat.

"Aku selalu mengkombinasikan sihir petir dengan air. Kalau saja aku bisa meng-combo kan Elemen Petir dan Air... segalanya akan jadi lebih mudah." pikir Alzen dalam situasi kritis. " Aku sudah terluka begitu parah, Tak mungkin bisa melancarkan serangan skala besar lagi. Aku lelah dan kapasitas Aura-ku mulai habis.” Alzen mengacak-acak rambutnya karena berpikir keras mencari cara yang lain. 

"BRENGSEK! Berhentilah melarikan diri!"

DRAP! DRAP! DRAP!

Teriak Joran sambil berlari dengan langkah kaki seperti hentakan banteng.

"Bagaimana ini?! Apa aku langgar peraturannya saja! Tapi... Semua akan jadi sia-sia, aku tetap akan kalah juga! Dan Joran akan melaju ke babak berikutnya." Alzen dibuat pusing setengah mati, memikirkan langkah yang menentukan hidup dan mati.

"ALZEN! GUNAKAN ARENA!" teriak Chandra keras-keras.

"C-Chandra?" Tatap Alzen keatas, ke bangku penonton Ignis. "A-Arena?"

Alzen melihat sekelilingnya, melihat apapun yang bisa dimanfaatkannya.

DRAP! DRAP! DRAP!

"Apa maksudnya sih?! Apa yang bisa dimanfaatkan disini? Aku tak begitu mengerti. Tapi... tak ada waktu lagi."

"HYAAA! Enyahlah ALZEN!" Joran datang sambil berlari dan tangan kanannya kini benar-benar telah menjadi besi sungguhan.

"Baiklah kalau begitu, ragu bukan lagi pilihan. Aku bertaruh untuk serangan terakhir ini." Alzen beranjak naik meski tahu rasa sakit yang luar biasa ketika tubuhnya digerakkan.

"Thunder Blade !!"

Alzen kini membuat kumpulan petirnya menjadi sebuah mata pedang besar yang memancar lurus ke atas. Dengan satu ayunan saja, Pedang petir berukuran besar itu akan menjadi serangan yang mematikan.

"HYAAA!!" Joran masih terus melesat tanpa ragu.

"S-sial! Dia masih tak mau berhenti juga." Alzen sudah mulai menangis dan gemetar saking takutnya. "Ohogg! Ohog!" Alzen memuntahkan darah. "Tubuhku menahan beban terlalu berat. Tapi sedikit lagi."

Ketika memuntahkan darah, Thunder Blade Alzen perlahan mulai mengecil dan berkurang tenaganya.

"Celaka!? Aku tak bisa konsentrasi di saat penting begini."

"HYAAA!" Joran kini tinggal 5 langkah lagi untuk menggapai Alzen.

Seketika Alzen tertegun dan melihat sekitarnya, Teman-temannya dan sorak-sorai penonton menjadi bergerak lambat.

"Aku mengerti sekarang..." Tatap Alzen dengan senyum mantap dan percaya diri.

.

.

.

4 langkah lagi...

"Thunder Blade Split !!"

Alzen membelah sebilah pedang listrik besar itu menjadi 2, satu di tangan kiri, satu di tangan kanannya.

.

.

.

3 langkah lagi...

Alzen menancapkan kedua Thunder Blade ke kolam di belakangnya.

.

.

.

2 langkah lagi...

"Electro..."

Kolam air itu kini dialiri listrik biru muda dari satu sumber menghantar ke semua air yang ada di Arena.

.

.

.

1 langkah lagi...

"...Tsuna- !!"

BRUGGHH !!

“Hehehe! Kena kau ALZEN!” Joran berhasil mencekik Alzen dan menjatuhkannya ke tanah.

“Ugghhh!! Ohogg!!” Alzen tidak bisa berkata-kata. “Padahal tinggal sedikit lagi.” pikirnya. Sambil secara diam-diam tangan kanannya bergerak. 

Zrerrrttt!! Zrerrrttt!!

“Huh!?” Joran mendengar suara percikan listrik.

BZZZZZSSSTTTT !!

Kini seluruh air dalam Arena dipenuhi listrik yang sangat berbahaya. Dan semua listrik itu dikontrol oleh Alzen seorang untuk menarget lawan yang sudah sedikit lagi menggapai dirinya.

“Apa!? Kolamnya!?” Joran tak habis pikir, seluruh kolam kini bagai lembah listrik. Percikan-percikannya sangat besar, cepat dan berbahaya.

BZZZZZSSSTTTT !!

"HWAAAAAA !! HWWAAAA !! HWAAAA!!" Joran disengat listrik sebesar itu.

"Aku terpaksa..."

"HWAAAA !! HENTIKAN !! HENTIKAN !!”

“Melakukan ini!”

“AKU MENYERAH !! AKU MENYERAH !! HWAAA !!"

"Hosh... hosh... sudah selesai..." pandangan Alzen semakin memudar. "Tapi sesaat... tadi." Ia lemas sekali hingga pandangan matanya gelap semua sebelum akhirnya ia menjatuhkan lututnya ke tanah dalam tubuh yang lelah dan terluka parah. "Aku mendengar suara Hael."

BRUKK !!

Alzen jatuh dengan posisi tubuh tengkurap, dan Joran yang besar itu kini menghitam dengan rambut tajam-tajam akibat disengat listrik yang begitu dahsyatnya.

"Wah gawat! Bagaimana menilainya nih?" Juri kebingungan memutuskan pemenangnya.

"Sungguh pertarungan diluar dugaan yang sangat langka terjadi." ucap Komentator. "Kedua belah pihak sama-sama tak sadarkan diri dan tak satupun yang tercebur di kolam, lagipula. Siapa yang mau masuk ke dalam kolam listrik itu? Hii... Aku sendiri ngeri melihatnya dari sini.”

sambung komentator. "Karena hasilnya membingungkan, Pemenang dan yang kalah atau malah seri. Akan diputuskan nanti setelah para Juri berunding. Tanpa menunggu lama lagi. Arena akan di reset dan kembali seperti semula, Dan silahkan peserta berikutnya memasuki Are-, haa? Kenapa tiba-tiba..." 

Sesaat suasana arena hening sekali.

“WOOOOEEEE !!” tepuk tangan dan sorak-sorai penonton bersamaan.

“ALZEN !!”

“ALZEN !!”

“ALZEN !!”

“Pertarungan selanjut-“

"HUUU!! Komentator bodoh! Apa gak bisa menunggu sebentar dulu? Kedua peserta itu nasibnya gimana?"

Penonton menyoraki para panitia dengan protes.

"Si besar gosong itu, sama si kecil itu apa masih hidup ya... Mereka menyajikan tontonan paling seru, tapi aku tak mau salah satu dari mereka mati!"

"Aku mau lihat si kecil itu langsung. Dia keren! Siapa namanya ya?"

"Bentar-bentar baca dulu... Ohh yang gede namanya Joran, yang kecil namanya Alzen. Wah mulai detik ini aku akan jadi fans-nya Alzen. Woo!"

"Aku juga!"

"Aku juga!"

“Setelah setahun vakum, tahun ini di abad baru, Vheins menyajikan pertarungan yang sangat-sangat memuaskan.”

“Siapa nama si rambut biru itu? Kalau sudah lulus nanti, dia harus masuk Guild kita. Cepat, dia talenta yang baik. Kita harus berinvestasi segera padanya.”

Sementara itu, komentar-komentar peserta turnamen lainnya. Di tengah keramaian penonton.

"Hehe... Dia kan juga superstar." komentar Fhonia di bangku penonton. "Gak heran. Tapi Wihiii !! Superstar nomor tiga menang! Superstar nomor tiga menang!"

"Hehe... aku rasa si Alzen ini akan sampai final." komentar Velizar yang terlihat tersenyum. "Dan akan melawanmu, Nico."

"Huh! Aku akan berterima kasih padanya, karena telah menghabisi Joran lebih dulu." balas Nicholas. "Karena si miskin itu... bukan apa-apa buatku. Yang seorang Putra Obsidus ini."

"Aku ingat! Aku ingat! Dia itu kan yang menyetrum aku beberapa bulan lalu. Ternyata dia kuat, sial!" komentar Sinus

"Tahun ini Ignis yang paling menonjol, Kita kelas Terra, hanya bisa bisa sampai disini." ucap Eriya, Instruktur Terra.

"Tidak! Pemenangnya belum diputuskan, Joran masih berpeluang menang." ucap Bartell menangis, tak menerima Joran diperlakukan seperti itu.

"Bartell." Eriya menepuk pundak Bartell. "Sudahlah..."

"Beruntung sekali dia bisa menggunakan tiga elemen." komentar Sever. "Dan beruntung sekali jurusnya tak di interupsi para Instruktur."

“Kau menyindir tentang yang terjadi padamu ya?” balas Nirn sambil menunggu sebentar. “Huh? Tidak di tanggapi.” Nirn langsung menunduk lesu.

"Auhhh... beda sama kamu, anak itu bisa kontrol sihirnya secara penuh." komentar instruktur Ventus, Aeros. "Seluruh aliran listrik sebesar itu, ia arahkan semuanya pada Joran. Luar biasa! Benar-benar luar biasa menurutku. Masih muda sudah bisa begitu."

"Dia cerdas memanfaatkan lingkungan sekitar. Kalau ini bukan di arena, Joran mungkin tak bisa melakukan banyak." kata Gunin. 

"Hm..." Andini, Instruktur Liquidum tersenyum. "Kau benar Gunin, meski Air tak memiliki daya serang tinggi, tapi barang siapa meremehkan air akan ditenggelamkan olehnya."

"Hah! Setuju. Dan aku harap, suatu hari, aku bisa satu party dengannya."  

"Leena! Leena! Kau mau kemana? Pertandingan sudah mau dimulai." Sahut Lunea, Instruktur Stellar untuk Elemen Cahaya.

"Sebentar, sebentar saja. Pertandingannya masih ditunda kan?" balas Leena sambil bergegas pergi.

***

Sementara itu di ruang penyembuhan. Di sana Alzen dilepas bajunya untuk disembuhkan dengan Healing Magic oleh 5 orang Healer perempuan berpakaian putih, yang mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah Alzen, hingga luka-luka fisik akibat bantingan yang Alzen terima, beregenerasi dengan sangat cepat.

"Dasar Alzen bodoh! Sekarang jadi aku yang khawatir." ucap Chandra. "Kenapa memaksakan banget untuk menang sih?"

"..." Lasius enggan berkomentar, tapi raut wajahnya tak bisa berbohong. Ia pun juga sama khawatirnya.

"Dia melakukan yang terbaik yang ia bisa. Tidak-tidak. Bahkan melampai batas yang ia bisa." komentar Ranni dengan ekspresi kalut. "Kalau aku jadi dia, tak mungkin bisa sejauh itu."

"Kau benar-benar mengerikan Alzen..." komentar Lio. “Raksasapun kamu kalahkan.”?

Lalu Leena datang kesini dengan tergesa-gesa untuk menjenguk Alzen.

"Alzen-Alzen!” kata Leena. “Pak Lasius? Alzen tidak apa-apa kan?"

"Aku tak tahu..."

Mendengar itu Leena palm face dan duduk untuk ikut khawatir. "Tidak mungkin... tidak mungkin Alzen mati kan?"

Lalu semuanya hanya diam menunduk, tak menjawab Leena.

"Mohon kalian semua tenang, atau tunggu diluar. Kami sedang berusaha menyembuhkan anak ini." ucap Suster menyuruh mereka keluar.

***

Di luar ruangan tempat Alzen disembuhkan.

"Loh bukannya pertandingan selanjutnya itu kamu?" tanya Lasius.

"Iya... tapi lagi ditunda sebentar." jawab Leena. "Aku akan segera kembali, sebentar lagi."

"Cih... enak banget Alzen, dikhawatirin cewek secakep Leena. Kampret banget dah! Aku saja tak sampai begitu kemarin. Sebel! Sebel! Sebel!" Chandra jengkel dalam hati.

Tak lama kemudian, puluhan anak-anak remaja yang sebagian besar wanita, datang menjenguk.

"Halo... permisi. Ini ruangan tempat Alzen di rawat?"

"Huh? Kalian siapa?" tanya Lasius heran melihat wajah-wajah baru yang ia tidak kenal.

"Uhm... Kami penonton turnamen barusan." jawab salah satu dari mereka.

Lalu sambung yang lain. "Kami melihat Alzen bertarung mati-matian tadi, dan sejak itu... kami mulai mengangguminya. Bisa dibilang, kami fans-nya Alzen!"

"Benar! Benar! Kami Fans-nya Alzen."

"F-fans?!" balas Chandra dengan alis naik satu.

"Cih... ini benar-benar tak masuk akal." Lasius geleng-geleng kepala.

"Ini sih, sudah terlalu berlebihan." Lio palm face.

"Bo-boleh kami lihat ke dalam?"

"Maaf, kami baru saja diminta untuk menunggu di luar." balas Lasius.

"Yah... sebentar aja deh... Pliss."

"Tidak, kalau kalian fans Alzen. Setidaknya tunggu di luar dulu."

"Baiklah..."

.

.

.

.

.

2 menit kemudian...

"Kita pergi dulu yuk."

"Ngapain tunggu disini, tunggu nanti aja..."

"Yuk! Yuk! Kita balik nonton lagi."

Lalu mereka beranjak pergi.

Kata Chandra dalam hatinya. "Fans macam apa itu!!?"

Lalu Leena yang kalut beranjak naik dari kursinya. "Sayang sekali, aku harus segera kembali. Pertarungan berikutnya akan segera dimulai. Tolong jaga Alzen ya."

"Ya... tidak apa-apa. Serahkan Alzen pada kami." jawab Lasius.

"Terima kasih." jawab Leena dengan senyum dan langkah demi langkah ia kembali ke atas, ke Arena pertandingan.

***

"Si Leena ini! Menjengkelkan sekali sih! Jarang-jarang ada kesempatan kita, untuk Duel di Arena sebesar ini." Gerutu Sintra, yang sudah 5 menit berdiri di Arena. "Dan sekarang mana dia? Apa dia takut sama aku?"

Sintra terus menunggu sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan menyilangkan tangan di dada.

"Mohon maaf para hadirin sekalian." ucap MC. "Pertarungan ini agak sedikit tertunda karena kejadian di pertarungan sebelumnya. Kami mohon maaf sekali lagi atas ketidaknyamanan ini. Tapi kami beri waktu 60 detik lagi, menunggu Leena untuk kembali ke Arena. Jika tidak, maka babak ini akan diundur."

"Tidak perlu!" jawab Leena sambil berjalan keluar, menuju Arena. "Karena aku sudah ada disini."

"Wah! Itu dia, Leena! Dengan begini... pertarungan selanjutnya. Woo, Ini perang saudara namanya. Sintra dari kelas Lumen Vs Leena dari kelas yang sama, Lumen!!"

Akan tetapi, pertandingan ini tak diikuti sahut-sahutan meriah antar pendukung kelas masing-masing seperti sebelum-sebelumnya.

"Huh! Pertandingan penting ini kok sepi sekali? Penonton pada kemana?" ucap Sintra melihat-lihat ke atas dimana banyak kursi kosong karena di tinggal penonton sementara.

"Kau kecewa? Yang menonton kita sedikit?" tanya Leena.

"Tidak... tidak. Jumlah penonton bukan masalah." balas Sintra yang berpura-pura dirinya seolah tak keberatan sama sekali. "Aku rasa, sejak awal sekali kita mengetahui berada di bracket yang sama. Kita berdua sudah tahu, akan ada kemungkinan seperti ini."

"Ya... aku sampai susah tidur karena harus melawanmu. Sahabatku Sintra." ucap Leena yang tegar, menyimpan kegelisahannya dalam-dalam agar tak menganggunya di Arena.

"Meskipun kita sahabat baik. Tak usah segan-segan padaku. Kapan lagi ada kesempatan kita untuk bisa bertarung bersama, di Arena semegah ini." balas Sintra. "Kalau bukan sekarang." ucapnya dengan tersenyum penuh percaya diri, sambil mengeluarkan senjata dual swordnya.

"Begitu juga denganku." Leena mengeluarkan pedangnya. 

“Majulah!”

"Majulah!"

Kata mereka bersamaan.

***