Episode 23 - Jika Kau Bingung, Bertanyalah!


 Trio anak matematika baru, Ival, Coklat dan Arul beranjak dari tempat tadi. Mereka kini ke mading kampus. Di mading kampus itu ada tiga mahasiswa senior dari mereka, yaitu Tiara, Okta dan juga Nia. Mereka bertiga itu cewek, ya iyalah namanya saja kayak begitu. Coba kalau cowok, ya pasti namanya Tioro, Okto dan Nio.

 Tiara itu mahasiswi terpintar di jurusan matematika. Ya biasalah orang pintar itu bawaannya kalem, pendiam, enggak pecicilan. Ya seperti itu sosok Tiara. Pernah sosok Coklat dijadikan anak pintar yang kalem, pendiam, dan enggak pecicilan tapi Coklat itu enggak pantas kayak begitu.

 Ceritanya begini, anggap aja Coklat itu anak pintar ya walau berat sih untuk mengakuinya. Dia pakai kacamata sambil lagi baca buku yang sampulnya Matematika. Siang itu dia duduk di bawah pohon cemara dekat sekolahnya. Biasakan anak pintar, bawaannya kalem. Pas dia duduk eh datang dua orang cewek duduk bareng Coklat.

 “Coklat, aku enggak ngerti sama pelajaran matriks, ajarin aku dong,” pinta si cewek 1.

 “Oh iya aku juga masih kurang ngerti sama pelajaran limit-limit gitu, ajarin aku ya,” pinta si cewek 2.

 “Payah kalian, masa gitu aja enggak bisa,” kata Coklat songong.

 “Kamu pasti bisa kan?” serentak cewek 1 dan 2.

 “Ya enggak bisalah, kalian aja enggak bisa apalagi aku.” 

 “Lha kamu kan lagi belajar matematika?” kata si cewek 1.

 “Oh ini, ini sampulnya doang buku matematika tapi isinya komik Naruto, hehehe.”

 Tuh kan enggak pantes dia jadi anak pintar.

 Terus Okta, siapa Okta? Okta itu orang, dah tahu tanya. Okta itu temannya Tiara. Okta itu adalah seorang cewek yang berparaskan manis dan imut. Walau dia tidak sepintar Tiara, dia adalah sosok mahasiswi yang dikagumi oleh setiap mahasiswa. Para mahasiswa pasti klepek-klepek kalau melihat Okta lewat di hadapannya, kayak begini ceritanya. Waktu itu Okta lagi jalan di area kampus, dia melewati seorang pria berbadan tinggi. Sontak pria itu langsung klepek-klepek di hadapan Okta. Pria itu terjatuh dan badannya bergetar seraya orang kesetrum dengan posisi terbaring. Tak berselang lama, keluar busa dari mulut pria itu, wah itu bukan klepek-klepek.

 Kita ubah bahasanya yang klepek-klepek jadi terhipnotis. Ya sosok Okta yang cantik mampu membuat para pria di kampus ini terhipnotis olehnya. Pernah Okta duduk satu bangku bersama mahasiswa pria di kampus ini. Pria itu awalnya terkagum dengan kecantikan yang dimiliki Okta namun tak berapa lama.

 “Dalam hitungan tiga anda akan tertidur, satu… dua… tiga…” kata Okta.

 Pria itu pun tertidur sambil menundukkan kepalanya, lalu perlahan-lahan Okta mengambil dompet dari si pria itu. 

 Satu lagi teman mereka yang bernama Nia. Perawakan Nia itu sedikit pendek dari kedua orang tadi. Walau dia pendek, tapi dia tetap cantik kok. Nia itu adalah mahasiswi terpintar kedua setelah Tiara. Di kampus ini dia dijuluki orang pintar yang suka saling berbagi. Pernah ada kejadian salah satu mahasiswa di kampus ini kesurupan, semua mahasiswa yang melihat mahasiswa yang kesurupan itu pada panik. Mereka enggak tahu apa yang harus mereka lakukan, namun tiba-tiba salah satu mahasiswa teringat akan sosok Nia.

 “Wah, Nia kan orang pintar.”

 Mengingat Nia, mahasiswa itu langsung bergegas menemui Nia di kantin kampus.

 “Nia, ada yang kesurupan!”

 “Terus apa hubungannya sama gue?”

 “Lo kan dijuluki orang pintar, ya siapa tahu lo bisa obatin orang itu.”

 “Aduh lo ini, gue pintar di matematika bukan pintar urusan yang begituan.”

 “Waduh gue lupa!” orang itu langsung tepok jidad.  

 ***

 Itulah profil singkat tentang Tiara, Okta dan Nia. Kedatangan Coklat, Ival dan Arul di hadapan mereka membuat Tiara, Okta dan Nia terdiam melihat sosok Arul yang rupawan dan begitu rapih. Ya sosok Arul memang dikenal rapih, kemejanya saja dimasukkan.

 Gila nih cowok ganteng banget, ucap dalam hati Tiara.

 Gila, rapih lagi pasti dia pinter, ucap dalam hati Okta.

 Gila nih cowok, benar-benar gila, ucap dalam hati Nia

 Ternyata bener apa yang diucapin dalam hati Nia. Arul emang gila, buktinya sekarang dia lagi manjat gedung kampus terus loncat dari atas.

 “Aku siap melompaaaaat! Arrrggghhhttt!” teriak Arul.

 “Ganteng-ganteng gila dia,” ujar Tiara sambil geleng-geleng kepala.

 Sebagai anak baru, wajar jika mereka bertiga bertanya kepada seniornya. Bagaimana sistem mata kuliah di kampus ini? Menggunakan sistem paket atau tidak? Seperti apa dengan dosen-dosennya.

 “Saya kan anak baru, saya boleh nanya, Kak?” tanya Coklat.

 “Boleh,” ucap Tiara dengan santai.

 “Kak, kalo di sini itu gimana ya? Bla bla bla?”

 “Oh di sini itu bla bla bla.”

 “Ohh, ngerti enggak lo, Rul, Val?”

 “Engga,” serentak Arul dan Ival.

 “Lha tadikan sudah aku jelaskan, masa kalian enggak ngerti sama sekali?” tanya Tiara.

 “Gimana mau ngerti, Kak? Orang kakaknya aja ngomong bla bla bla gitu,” kata Ival.

 “Hahaha.” 

 Nia dan Okta yang mendengar percakapan mereka pun hanya bisa tutup wajah.

 “Haduh Tir-Tir, lo sama enggak jelasnya kayak mereka,” kata Nia.

 “Malu gue, Tir, punya teman kayak lo,” kata Okta.

 “Kalian ngambil jurusan apa?” tanya Nia.

 “Matematika, Kak,” serentak Coklat, Ival dan Arul.

 “Hahahahahaha.” Kompak Nia, Okta dan Tiara cuma ngakak dengernya.

 “Kenapa, Kak?” tanya Ival.

 “Kalian bertiga ini enggak ada pantas-pantasnya masuk jurusan matematika hahaha, sudahlah daripada kalian mati karena mtk, mendingan kalian pulang aja,” kata Nia.

 “Emang mtk bisa menyebabkan mati, Kak?” tanya Coklat.

 “Bisa.”

 “Lha, lho kok gitu?” ucap serentak Coklat, Ival dan Arul.

 “Bisalah, misalkan kalian belajar matematikanya di rel kereta terus ada keretanya lewat, bught! Ketabrak, akhirnya mati,” kata Nia.

 “Ih serem,” mereka bertiga ketakutan.

 “Terus ada lagi, kalau kalian ngerjain tugas mtk terus tiba-tiba kalian minum pembersih lantai akibatnya bisa menyebabkan kematian,” kata Okta.

 “Waw menakutkan,” serentak mereka bertiga.

 Hebat ya senior mereka, sudah memberi penjelasan yang enggak bermutu dan enggak ada hubungannya sama sekali. 

 Saat mereka bertiga masih mengobrol sama para seniornya, tiba-tiba ada pengumuman lewat speaker kampus. Suara yang terdengar seperti suara laki-laki.

 “Cek… cek… tes… tes… satu… dua… tiga....”

 Mendengar suara cek-cek lewat speaker, mereka langsung merespon.

 “Wah ada pengumuman tuh, kira-kira pengumuman apa ya?” kata Tiara.

 “Paling-palingan buat anak baru,” sahut Okta.

 “Tes satu dua tiga, apa kabar yang di sanaaaa? Yang sebelah kiri yok kita nyanyi bareng-bareeeeeng!” suara di speaker.

 “Baiiik, ayo kita lompat-lompataaan!” sahut Coklat.

 “Wah ternyata ada konser ya di sini?” tanya Ival.

 “Haduh, makin parah nih kampus!” Nia tepok jidad.

 Ya sekarang kita serius. Suara lewat speaker itu mengumumkan bahwa seluruh mahasiswa baru harap berkumpul di ruang aula kampus ini. Ketua bidang jurusan akan memberikan arahan dan gambaran umum tentang kampus ini. Coklat, Ival dan Arul langsung bergegas ke ruang aula.

 Mereka pun langsung pamit sama para seniornya. Mereka berlari ke aula kampus. Ketika sebentar lagi sampai di aula, Coklat yang memang buru-buru tak sengaja menabrak cewek salah satu mahasiswi kampus ini. Ya biasakan kayak di FTV-FTVgitu, kalau ada cowok ganteng jalan pasti ada cewek cantik yang ditabrak. Kebetulan buku si cewek itu pun jatuh di lantai.

 “Aduh,” ucap si cewek yang berparas cantik memakai baju merah.

 “Aw,” ucap Coklat juga kesakitan.

 Mereka berdua sudah saling tabrak, wah mereka kayaknya bakal saling mengambil buku yang jatuh nih. Benar banget, si Coklat pun dengan tulus memungut buku si cewek itu. Si cewek kesemsem ketika sama-sama berusaha mengambil bukunya yang terjatuh, cieeeee. Ival dan Arul yang melihat kejadian itu di depan matanya merasa iri.

 “Menang banyak dia,” ucap Ival.

 “Lo mau, Val, kayak gitu, yuk sama gue.”

 “Yuuuk.”

 Merasa iri akhirnya Ival sama Arul mengikuti apa yang diperbuat Coklat. Mereka berdua saling menjauh untuk bersiap-siap saling tabrakan, ya kira-kira jarak mereka berdua 700 km, wah itu mah kejauhan. Jarak Arul dan Ival cukup 10 meter, mereka berdua lari biar saling ketabrak dan bught!

 “Aduh sakit!” serentak Ival dan Arul.

 Lalu keduanya terkapar, mereka pingsan terus Coklat sama cewek tadi cuek dengan apa yang dilakukan Ival dan Arul. Kita kembali ke Coklat, mereka berdua saling pandang-pandangan ketika mengambil buku yang terjatuh itu.

 Anjir, cakep banget nih cewek, untung gue terlanjur barengan ngambil bukunya, ucap dalam hati Coklat.

 Anjir, jelek banget nih cowok, rugi gue udah terlanjur barengan ngambil buku gue, keluh si cewek dalam hati.

 Ternyata Coklat yang berhasil mengambil buku si cewek itu. Coklat lalu berdiri sambil memegangi buku itu.

 “Ini buku kamu ya? Lain kali hati-hati.”

 “Iya, makasih ya hmmm bukunya,” pinta si cewek.

 “Enak aja, ini gue yang dapat!”

 “What?!”

 “Iyalah, bukunya kalau sudah di tangan gue berarti gue yang dapat!” 

 “Aarrrrrgggghht!”

 “Ambil kalau bisa wleee.”

 Si cewek enggak terima bukunya diambil sama Coklat, terus dia langsung mengejar si Coklat. 

 “Hebatkan gue baru pertama kali masuk langsung ada cewek yang ngejar-ngejar hahaha,” kata Coklat.

 Sementara Ival sama Arul masih pingsan, ya tepatnya sih pura-pura pingsan, mereka tuh berharap ada cewek yang rela kasih napas buatan. Ketinggian harapannya, lagi pula juga cewek-cewek juga mikir kali.

 Kok engga ada cewek yang mau kasih napas buatan ya? ujar Ival dan Arul dalam hati.  

 ***

 Pukul sembilan pagi, seluruh anak baru berkumpul di aula kampus ini. Ya terserah mau anak baru mahasiswa ini atau anak baru lahir juga enggak apa-apa, yang penting kumpul di aula biar ramai. Tapi jangan dah, nanti enggak muat aulanya. Seluruh mahasiswa baru yang memasuki aula ini langsung berebut kursi, mereka saling senggol-senggolan. Wah kayak lagu dangdut dong, senggol-senggolan ohoy, senggol-senggolan. 

 “Asyeeekk, goyang neeeeng!” teriak Coklat.

 “Goyang terus sampai pagiii!” teriak Ival.

 “Tambah lagi bang sawerannyaa,” kata Sweety sambil joged disawer sama salah satu mahasiswa.

 Anggap saja tadi yang dangdutan enggak ada, kacau kalau ada. Tadi para mahasiswa baru pada berebut kursi ceritanya, mereka enggak peduli satu sama lain, dan akhirnya Coklat, Ival dan Arul dapat bangku paling belakang.

 “Yeeeee kita dapat bangku!” serentak mereka bertiga.

 Coklat, Ival dan Arul senang banget dapat kursi. Mereka lompat-lompatan terus lari-larian sambil bawa kursi keliling kampus. Mereka mulai memamerkan kursinya di kantin kampus kepada pedagang-pedagang.

 “Mba, Mas, nih liat kursi kampus, enggak punya ya kasian deh lo,” kata Coklat.

 “Ngiri ya ngiri ya weee kasian enggak punya,” kata Ival.

 “Pengin tuh yeeeee, beliiiii,” kata Arul.

 Para pedagang hanya bengong melihat tingkah laku mereka bertiga.

 “Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya pedagang 1.

 “Entahlah, saya juga bingung,” jawab pedagang 2.

 “Kalau kamu bingung, kamu tanya,” kata pedagang 1.

 “Ok, terima kasih teman.”

 Pedagang dua pun menuruti apa kata pedagang satu, dia lalu pergi ke pos satpam depan kampus buat nanya sama pak satpam. Sampainya di pos satpam, pedagang dua pun langsung duduk di bangku yang berhadapan dengan pak satpam.

 “Ya ada apa?”

 “Saya bingung, Pak.”

 “Bingung kenapa?”

 “Ya pokoknya saya bingung.”

 “Ya terus?” tanya pak satpam yang juga bingung.

 “Ya pokoknya saya bingung, kata teman saya kalau bingung saya harus tanya, saya tanya bapak supaya enggak bingung lagi.”

 “Bapak ini aneh-aneh saja, tanya enggak jelas bikin saya bingung saja, Pak.”

 “Lha bapak bingung juga, makanya pak kalau bingung itu tanya! Aah,” ucap pedagang dua dan lalu berdiri meninggalkan pak satpam yang masih terlihat bingung.

 “Iya juga sih kalau bingung itu tanya, tapi ah sudah ah saya kok jadi bingung sendiri.”

 ***

 Kita kembali ke aula. Di aula ini seluruh anak baru sudah duduk rapih di kursinya masing-masing. Dengan tampang yang masih imut dan cerah, biasalah anak baru wajahnya itu masih cerah-cerah beda sama para seniornya. Ya para seniornya apalagi yang mengambil jurusan matematika, tuh muka sudah pada lecek kebanyakan makan rumus di kampus.

 “Bu, menu hari ini apa?” tanya mahasiswa.

 “Nih, ada kalkulus, ada analisa real, ada program linear, ada juga trigonometri.”

 “Ahhhh tidaaaaaak!” 

 Enggak jelas kan ceritanya, ya emang.

 ***

 Coklat, Ival dan Arul duduk paling belakang. Ya mereka emang kebagiannya di belakang, tahu sendiri kalau orang yang suka duduk di belakang itu image-nya gimana. Saat mereka duduk, bangkunya kasian didudukin. Eh emang gitu kan kalau duduk bangku atau kursinya didudukin masa mau gantian didudukin bangku. Saat mereka duduk, ada salah satu bapak-bapak yang sudah tua masuk ke dalam aula. Bapak-bapak yang sudah tua itu disebut kakek, nah kalau perempuan yang sudah tua disebut nenek, betul tidak? Walah kacau malah kemana tahu ceritanya.

 Bapak-bapak itu adalah seorang laki-laki, gubrak! Penonton bengong. Kapan seriusnya? Ok bapak-bapak itu kemudian duduk di kursi depan yang sudah tersedia. Lalu dia berbicara, anehnya disini ketika dia berbicara entah kenapa suaranya terdengar oleh yang mendengarkan.

 “Selamat pagi para mahasiswa baru,” sambut bapak-bapak itu.

 “Wih hebat ya dia bisa tahu kalau kita mahasiswa baru, Val, Rul!” ucap Coklat terpukau.

 “Hebat orang nih punya indra keenam, bisa nebak gitu dan tebakkannya benar!” kata Ival juga terkagum.

 “Keren, ini baru namanya orang pintar!” ucap Arul juga sama.

 Bapak-bapak itu kemudian berdiri. Ketika dia berdiri, dia tampak tidak sedang duduk, betul kan?

 “Selamat datang di kampus ini buat para mahasiswa baru, perkenalkan nama saya Drs. Hj. Ir. Wakid, S. Pd, M. Pd, M. M, N. N, O. O, P. P sampai Z. Z.”

 Mendengar gelarnya bapak-bapak itu membuat para mahasiswa terkagum-kagum, gelarnya mantap banget sampai Z. Z. apaan tuh Z. Z? Z. Z itu Zuper Zekali.

 “Saya adalah seorang manusia berjenis kelamin laki-laki.”

 Gubrak! Perkenalan selanjutnyak engga berbobot banget.

 Bapak yang bernama Pak Wakid itu menjelaskan tentang kampus ini. Seperti apa jurusannya, sistem perkampusannya, dll. Setelah lama cukup menjelaskan secara rinci perkenalan kampus, ujung-ujungnya membahas momba, yaitu kegiatan masa orientasi mahasiswa baru.

 “Mahasiswa sekalian, untuk minggu depan kalian diwajibkan untuk mengikuti momba.”

 “Pak!” Coklat mengancungkan tangan.

 “Ya ada apa?”

 “Emang mombanya mau pergi kemana? Kok kita harus ikut?”

 “Nah itu sampai sekarang saya masih tidak mengerti, tapi kalian ikut saja dah, ya sekalian Anda-Anda ini mengenal kampus lebih dekat lagi, dan yang terpenting mampu mengenal .…”

 “Mengenal apa, Pak?” lanjut Coklat.

 “Mengenal para mahasiswi-mahasiswi yang cantik-cantik, mau kan-mau kan?”

 “Mau bangget, Paaaaak!” serentak anak laki-laki berteriak keras.

 “Haduh nih si bapak enggak jauh beda sama mereka,” keluh Sweety.