Episode 190 - Keperawanan


“Anakku!” Kedua mata Kakek Kepala Dusun sembab. Tak lagi dapat menahan emosi, ia segera memeluk tubuh anak remaja itu. Kegembiraan hatinya sampai-sampai membuat ia tersedu. 

Seluruh warga Pulau Paus datang mengelilingi mereka. Sebagian besar yang tadinya tak sadar akan keberadaan Bintang Tenggara menatap takjub. Inilah sosok yang tadi menjagal Paus Surai Naga seorang diri. Inilah dia anak remaja dan perkasa dari Dusun Peledang Paus. Inilah dia murid dari perguruan ternama di Pulau Dewa. Inilah dia Bintang Tenggara, Sang Lamafa Muda yang melegenda di wilayah tenggara. 

 “Kakek… dimanakah Bunda Mayang?” aju Bintang Tenggara, setelah kakek tua tersebut dapat mengendalikan diri. 

Bintang Tenggara sesungguhnya telah tiba di Pulau Paus sejak perburuan akan dimulai. Entah mengapa, Panggalih Rantau pergi begitu saja setelah mengantarkan dirinya. Cukup mencurigakan… Namun demikian, putra Mayang Tenggara itu tiada terlalu peduli. Toh, Panggalih Rantau telah bersedia mengantarkan dirinya. 

Kemudian, mengabaikan teriakan baleo, yaitu petanda turun ke laut untuk berburu paus, Bintang Tenggara segera pulang ke gubuk tempat tinggalnya. Keadaan gubuk tersebut rapi tertata. Malah, terlalu rapi untuk ukuran Bunda Mayang yang biasanya selalu sibuk membantu warga dusun. Benaknya mengingat betapa seringnya ia berkemas di gubuk tersebut. 

Akan tetapi, tak ia temukan Bunda Mayang. Mungkin wanita dewasa itu pergi ke pesisir pantai untuk menonton perburuan paus yang sedang berlangsung, pikirnya. Demikian, Bintang Tenggara mencari-cari di pesisir pantai tapi tiada juga menemukan. Bahkan setelah dirinya berhasil memburu paus, Bintang Tenggara tetap tiada melihat batang hidung sang bunda. 

Kakek Kepala Dusun hanya menatap dalam diam. Ia memutar tubuh, lalu memberikan perintah seputar paus yang sudah berhasil dibawa ke pesisir. Ia lalu menitipkan pesan kepada dua kepala dusun lain untuk memimpin kegiatan pembagian. Setelah itu, barukah ia mengajak Bintang Tenggara kembali ke gubuk. 

“Anakku…” Kakek tua itu terlihat kesulitan menyampaikan maksud di hati. 

“Apakah Bunda Mayang telah pergi meninggalkan Pulau Paus…?” sela Bintang Tenggara. Raut wajahnya terlihat sedikit kecewa. 

Lembata Keraf berupaya menahan diri. Ia menatap balik, mencoba mencermati perubahan suasana hati lawan bicaranya. Ia mencari-cari kata-kata yang paling tepat. 

“Ibumu pergi membawa Lamalera…” Akhirnya kakek tua berujar. 

Bintang Tenggara tak terlalu terkejut. Sejak pertama bertemu dengan Lintang Tenggara di dalam dimensi ruang milik Perguruan Gunung Agung, sosok itu sempat menyinggung tentang Bunda Mayang. Jikalau Bunda Mayang bukanlah seorang ahli nan digdaya, maka pastilah Lintang Tenggara bisa datang bertandang ke Pulau Paus kapan saja untuk menculik. 

Selain itu, ada pula Lamalera. Tak diragukan lagi bahwa Bunda Mayang merupakan guru dari gadis tersebut. Kepiawaian Lamalera dalam menggunakan tempuling pastilah didapat dari seorang lamafa sejati. Bukankah Bunda Mayang pernah mengungkapkan bahwa tempuling-tempuling bambu di belakang gubuk adalah miliknya…?

Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang mencuat di dalam benak Bintang Tenggara… Mengapakah Bunda Mayang merahasiakan jati diri dari anaknya sendiri…? 

“Diriku tiada mengetahui mengapa dan kemana ibumu pergi…,” ujar Lembata Keraf, tak ingin keheningan berlanjut semakin lama. 

“Kakek… diriku mengerti,” tanggap Bintang Tenggara tenang. “Diriku sempat bersua Lamalera. Ia kini menjadi Murid Utama di Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura.” 

Lembata Keraf hampir melenting dari atas dipan tempat ia duduk bersila. Perguruan Anantawikramottunggadewa di Kota Baya-Sura adalah satu lagi perguruan di atas langit nan tinggi. Bahkan dirinya, seorang Kepala Dusun, hanya pernah mendengar selentingan-selentingan tentang perguruan yang sangat menekankan pada pertumbuhan keahlian itu. Andai saja ia tahu bahwa di perguruan tersebut, Lamalera merupakan putri angkat Pendiri Perguruan. 

“Diriku akan memantau persiapan upacara adat. Datanglah ke pesta nanti malam.” Lembata Keraf memutuskan untuk membiarkan anak remaja tersebut beristirahat. Seekor Paus Surai Naga lagi-lagi telah ia persembahkan kepada penduduk seluruh pulau. Sungguh besar bakti seorang anak remaja terhadap pulau kelahirannya. 


Bintang Tenggara melangkah ringan. Ia menuju pesisir pantai, dimana pesta malam ini akan berlangsung ramai. Suasana di Dusun Peledang Paus sangat riuh. Penduduk dari dusun-dusun lain pun datang berbondong membawa segala macam perlengkapan beserta hasil bumi. 

“Tuan Bintang Tenggara…,” sapa beberapa orang ahli. Lelaki yang berdiri paling depan kemungkinan berperan sebagai pimpinan. Ia berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3, dan empat yang lainnya hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 1. 

“Apakah kalian petugas Gardu Jaga dari Kerajaan Parang Batu…?” sahut Bintang Tenggara. 

Sejak beberapa waktu lalu, Lombok Cakranegara telah menempatkan Gardu Jaga di Dusun Peledang Paus. Tentu dikarenan tokoh itu berutang budi kepada Bintang Tenggara yang membawa gulungan naskah Partai Iblis. Tujuan Gardu Jaga tak lain adalah untuk melindungi dusun tersebut dari ancaman berbagai pihak. 

Bintang Tenggara membatin, selama Bunda Mayang berada menetap di dusun, Gardu Jaga ini tiada berguna. Akan tetapi, dengan perginya sang ibunda, Gardu Jaga ini akan sangat bermanfaat bagi penduduk dusun. Selama meniti jalan persilatan dan kesaktian, bukan tak mungkin dirinya menyingung pihak-pihak tertentu… dan bukan tak mungkin pula pihak-pihak tersebut menyerang kampung halamannya. 

“Benar, Tuan.” 

“Mari… Ikutlah dalam semarak pesta malam ini.”

Bintang Tenggara meneruskan langkah. Walau telah menduga, hatinya sedikit lara. Ia berharap dapat bertemu muka dengan sang ibunda untuk melepas rindu. Ia ingin berceritera tentang petualangan yang telah dijalani. Suka dan duka. Ia hendak mengadu tentang si Lintang itu, yang mana mulutnya berbisa dan tindakannya tercela. 

Upacara adat atas keberhasilan perburuan paus baru saja usai. Malam seolah siang. Obor-obor tertancap dan menerangi segala penjuru, dan kesibukan serta semangat warga selayaknya baru memulai hari. Hempasan angin laut di kala malam tiada terasa, karena api unggun yang demikian besar menyala. 

Daging, kulit, lemak, darah, dan tulang paus yang tergeletak di pinggir pantai semuanya bermanfaat. Ada bagian yang langsung diolah sendiri oleh penduduk, ada pula yang dijual ke desa atau kota saat saudagar keliling singgah ke dusun. Berbicara tentang saudagar keliling, pantas saja Panggalih Rantau segera berpamitan. Sepertinya dia telah mengetahui bahwa Bunda Mayang tak berada di dusun, namun tak hendak memikul tanggung jawab menyampaikan hal tersebut anak remaja itu. 

Bintang Tenggara mendekati api unggun. Ia dipersilakan duduk di samping Kepala Dusun. Pembawaannya tenang. Walaupun tiada Bunda Mayang, dusun ini adalah tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Ia mengenal seluruh warganya dan perasaan hangat tetap terasa, bahkan menyaingi api unggun nan menyala perkasa. 

Lembata Keraf, di lain pihak, tak dapat menyembunyikan kemurungan. Ia tak banyak menenggak tuak dan tak menanggapi sebagian pembicaraan yang berlangsung antara para Kepala Dusun lain serta para tetua pulau. Sepertinya ia sangat tak enak hati terhadap Bintang Tenggara, serta merasa bahwa kepergian Mayang Tenggara adalah merupakan kesalahannya. 

“Ceriterakanlah kepada kami, wahai Sang Lamafa Muda, tentang petualanganmu di Pulau Dewa…” Kepala Dusun Tempuling Emas mewakili Lembata Keraf membuka pembicaraan. 

Gemuruh suara hadirin sontak terdengar sahut-menyahut. Sebagian tak mengetahui persis bahwa anak remaja tersebut sudah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. Di dalam benak mereka, adalah seorang ahli digdaya yang duduk di dekat api unggun itu. Siapa pun yang dapat menikam paus seorang diri, adalah seorang lamafa sejati!

Tak seperti biasanya, dimana ia tak terlalu suka berbicara panjang lebar, kali ini Bintang Tenggara membuka ceritera. Berbagai pengalaman dan petualangan ia sampaikan dengan sepenuh hati. Bagian yang paling digemari khalayak adalah perihal sesama murid yang ia temui di Perguruan Gunung Agung. Panglima Segantang, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas yang berasal dari tempat-tempat nan jauh, dimana sebagian besar tempat tersebut tiada pernah terdengar apalagi diketahui oleh penduduk dusun.

Seluruh hadirin dibuat terpana. Mereka tertawa lebar, terkejut kagum, juga terbuai bangga. 

“Lalu… apa yang terjadi dengan Cemeti Adipoday?” Tetiba Lembata Keraf menyergah. Ia turut terbuai dalam ceritera. 

“Tentunya disimpan di dalam salah satu brankas di Perguruan Gunung Agung.” Seorang sesepuh pulau membantu menjawab. 

“Kudengar brankas Perguruan Gunung Agung terdiri dari beberapa tingkatan…,” tanggap seorang Kepala Dusun lain. 

“Benar sekali. Seusai Kejuaran Antar Perguruan di Kota Ahli, kami pun berkesempatan memilih hadiah dari brankas yang dikenal dengan nama Lantai Perak,” papar Bintang Tenggara. 

“Hah! Lantai Perak!?” 

“Tunggu! Kejuaraan apa!? Di kota mana!?”

Sambutan hadirin semakin membahana. Bintang Tenggara pun melanjutkan ceritera tentang Kejuaraan Antar Perguruan di Kota Ahli. Bagaimana ia bersama rekan-rekannya mengungguli perguruan-perguruan digdaya dari berbagai wilayah di Negeri Dua Samudera. Tentang pencapaian tinggi dalam membawa Perguruan Gunung Agung menempati peringkat kedua kejuaraan. 

Orang-orang dewasa mendecak kagum. Para remaja menemukan sosok panutan. Anak-anak tak hendak disuruh pulang, padahal sudah waktunya tidur. 

Terlepas dari itu, tentu Bintang Tenggara menyimpan beberapa ceritera yang tak mungkin disampaikan. Misalnya, tak mungkin ia mengungkapkan tentang Komodo Nagaradja, Dewi Anjani, Pasukan Telik Sandi, Partai Iblis, Kerajaan Siluman Gunung Perahu, bahkan Alas Roban dan Ginseng Perkasa. Terlalu rumit dan mungkin akan sangat sulit dicerna dalam nalar. Seolah kisah yang berasal dari dunia paralel pula nanti dianggap oleh penduduk dusun. Itu pun jikalau mereka mengatahui apa itu dunia paralel. 

Malam semakin larut, namun semangat pendengar tiada surut. Pada akhirnya, Lembata Keraf terpaksa membubarkan kerumunan di dekat api unggun. Pesta tentu saja tetap berlangsung semalam suntuk, akan tetapi bukan tugas Sang Lamafa Muda menjadi juru ceritera. 


Pagi-pagi sekali, Bintang Tenggara mengayuh sebuah peledang. Ia mengarah ke tengah lautan, sampai tak terlihat lagi bayangan perahu kayu itu dari pesisir pantai. Tak perlulah berlarut-larut bersedih atas ketiadaan Bunda Mayang. Sampai batasan tertentu, dirinya sudah menerima bahwa sang bunda sedang bepergian entah kemana. 

Anak remaja tersebut kini berada di batas formasi segel yang memisahkan Pulau Bunga dari dunia luar. Di sekitar tempat tersebut adalah dimana ia keluar dari pulau tempat tubuh Komodo Nagaradja terpenjara. Formasi segel nan besar segera dapat dirasakan oleh indera keenam seorang perapal segel. Meski memiliki pengetahuan yang sangat terbatas akan formasi segel, ia memainkan jemari mencoba membuka celah karena memang di tempat tersebut dirinya pernah menyeruak keluar. 

Kali ini Bintang Tenggara tiada perlu menghenyakkan kunci pembuka segel dengan melancarkan Tinju Super Sakti. Ia hanya menempelkan perlahan, dan serta-merta formasi segel terbuka. 

“Super Guru… seingatku kita meninggalkan permadani terbang di tempat ini…”

“Benar…,” tanggap Komodo Nagaradja. 

“Hm… Pulau Bunga rupanya…,” gumam Ginseng Perkasa. 

Mengabaikan keanehan menghilangnya permadani terbang milik Komodo Nagaradja, Bintang Tenggara segera menuju goa dimana tubuh sang Super Guru berada. Ia melewati Telaga Tiga Pesona. Telaga Merah yang airnya menggelegak panas, Telaga Biru nan dingin membeku, serta Telaga Hijau dengan racun menyegat setajam sembilu.

Di saat itulah ia menayaksikan kejanggalan. Di masing-masing telaga, terdapat bekas jejak-jejak kaki. Jejak tersebut telah mengabur, sehingga tiada diketahui apakah jejak kaki manusia atau binatang siluman. Kemungkinan binatang siluman, batin Bintang Tenggara. Ia pun meneruskan langkah ke arah goa. 

Akan tetapi, betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa tepat di mulut goa, terdapat sisa-sisa kayu yang ditumpuk membentuk lingkaran. Sebagian besar kayu menunjukkan bekas hangus dilahap api. Bintang Tenggara segera mendatangi dan memeriksa. Segera ia menyimpulkan bahwa kayu tersebut merupakan bekas… api unggun! Tak hanya itu, Bintang Tenggara juga menemukan sisa tulang-belulang binatang Siluman Ayam Jengger Merah yang pernah di santap! 

Seseorang pernah mengunjungi Pulau Bunga!

Bintang Tenggara memacu langkah. Ia segera merangsek masuk ke dalam goa. Gelap dan pengap. Segera ia keluarkan beberapa bongkah batu kuarsa… Sinar temaram segera menyibak perlahan, dan memaparkan seonggok tubuh besar yang tergeletak diam. Tubuh siluman Komodo Nagaradja masih persis seperti di kala ia meninggalkan tempat tersebut. 

Bintang Tenggara semakin terperangah, ketika ia menyaksikan jejak langkah tapak sepatu manusia yang mengelilingi tubuh raksasa itu. Kali ini sangat jelas, karena tapak sepati tersebut tak dirusak oleh cuaca. Seseorang pernah masuk ke dalam goa dan mengamati seksama tubuh siluman sempurna itu! 

“Sepertinya, siapa pun itu yang datang bertandang… sudah lama pergi,” gumam Komodo Nagaradja. Sosok tubuh besar berwarna merah lalu menyeruak keluar dari dalam mustika retak. Ini adalah jiwa dan kesadaran Komodo Nagaradja. 

Tidak semudah itu, batin Bintang Tenggara. Di dalam dunia persilatan dan kesaktian, tubuh siluman sempurna adalah komoditas yang teramat langka sehingga berharga mahal. Buktinya, lihatlah Tempuling Raja Naga dan Sisik Raja Naga. Keduanya bisa dikategorikan sebagai senjata dan perisai pusaka. 

Bintang Tenggara mulai menduga-duga akan kemungkinan yang terjadi. Mungkin saja di kala menemukan tubuh ini, si pengunjung masih ragu untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi, bukan tak mungkin ia memutuskan pergi, untuk kemudian kembali bersama ahli-ahli yang lebih piawai. Kekhawatiran dirinya sejak meninggalkan Pulau Bunga, dapat berubah menjadi kenyataan!

“Kakek Gin…” Bintang Tenggara berupaya melupakan kemungkinan terburuk untuk sejenak. Tujuan utama adalah bagi Ginseng Perkasa memeriksa tubuh Komodo Nagaradja. Bila tokoh perkasa ini tak dapat menemukan titik terang akan kondisi tubuh Komodo Nagaradja, maka kemungkinan tak akan ada yang bisa. 

“Hm…” Sosok orang tua berkumis, janggut, alis dan pakaian serba putih, sambil menenteng tongkat, terlihat mengemuka. Wujud ini merupakan jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa yang berdiam di dalam botol kecil. Ia lalu mengamati seonggok tubuh tiada berdaya itu. 

Baik Komodo Nagaradja maupun Ginseng Perkasa, hanyalah merupakan perwujudan saja, tiada memiliki raga. 

“Sederhana…” Ginseng Perkasa berujar sambil memain-mainkan janggut putih nan panjang. Aura yang ia pancarkan layaknya tabib digdaya nan maha mengetahui. 

Raut wajah Bintang Tenggara berubah sedikit lebih lega. Komodo Nagaradja hanya melirik curiga. 

“Segera cari ahli dengan kesaktian unsur logam,” ujar Ginseng Perkasa. “Setidaknya yang sudah berada pada Kasta Emas.” 

“Maksud Kakek Gin…?”

“Minta ahli tersebut membuatkan sebuah wajan raksasa!” 

Bintang Tenggara terpana. 

“Lalu, belilah minyak kelapa sekitar sepuluh tong… dan tepung terigu sebanyak sepuluh karung. Tidak lebih, tidak kurang!” 

Bintang Tenggara mulai merasakan kejangggalan. 

“Ginseng… Perkasa…” Komodo Nagaradja menggeretakkan gigi. Wajahnya berubah berang. 

“Mari kita sajikan… daging komodo goreng tepung!” sergah Ginseng Perkasa. Aura yang ia tampilkan berubah mirip seorang koki handal. Entah dari mana, kakek tua itu telah mengenakan topi menjulang nan berwarna putih. 

“Bangsaaaaat!” Komodo Nagaradja siap mengamuk.

“Kakek Gin… kumohon…” Bintang Tenggara memelas. Ia tak tahu harus berkata apa. 

“Ginseng Perkasa… suatu hari nanti, kau dan aku… Kau dan aku akan bertarung sampai titik darah penghabisan! Akan kau rasakan murka Siluman Super Sakti ini!” 

Untung saja kedua tokoh tersebut tiada memiliki tubuh, karena hanya merupakan jiwa dan kesadaran. Bila tidak, maka akan segera berlangsung pertempuran dahsyat antara dua Jenderal Bhayangkara!

“Hahaha… Kalian berdua terlalu tegang,” gelak Ginseng Perkasa. 

Bintang Tenggara hanya mampu menghela napas panjang. Komodo Nagaradja mendengus. 

“Demi menyembuhkan tubuh yang didera unsur kesaktian racun, haruslah melaksanakan dua tahap. Tahap pertama adalah mencari ahli dengan unsur kesaktian nan langka…”

“Unsur kesaktian apakah itu…?” 

“Unsur kesaktian… putih,” ungkap sang Kakek. 

“Unsur kesaktian putih…?” Benak Bintang Tenggara segera membayangkan sosok Lampir Marapi. Demikian anggun gadis belia itu. 

“Benar. Ahli yang telah membangkitkan unsur kesaktian putih, sampai batasan tertentu, memiliki kemampuan untuk menetralkan unsur kesaktian apa pun.” (1)

“Membangkitkan unsur kesaktian putih… netral…?” ulang Bintang Tenggara. 

“Benar. Prasyarat bagi ahli yang memiliki unsur kesaktian putih untuk membangkitkan kemampuannya… adalah dengan melepas keperjakaan atau keperawanannya.” 

“Hm…?”

“Setelah unsur kesaktian putih menetralkan unsur kesaktian racun di tubuh ini… barulah dapat kita menjalankan tahap kedua, yaitu menyembuhkan cedera yang mendera. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat ramuan pada tahap kedua, hanya bisa dirumuskan setelah tahap pertama berhasil dilaksanakan.” 

Bintang Tenggara membatin. Dirinya tentu mengenal seorang ahli yang memiliki unsur kesaktian putih. Akan tetapi, bagaimanakah caranya meminta Lampir Marapi si Perawan Putih untuk melepas keperawanannya!? 

 


Catatan:

Episode 133 bertajuk ‘Netral’. 


Cuap-cuap:

Setidaknya, karena masalah dengan hosting, jarak antara dua episode ini berdekatan. 

Belum ada Episode Bayangan. Gegara hosting, semalam kehilangan mood menulis. Jadinya agak bermalas-malasan. Haha…